Anda di halaman 1dari 10

KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA BEKAS SC

1. Batasan : Kehamilan dengan riwayat kehamilan yang lalu dengan SC 2. Klasifikasi : 1. Jenis SC yang lalu : - SCTP - Klasik (korporal) 2. Jumlah SC yang lalu : - kurang dari 1 tahun SC - 2 kali bekas SC SC 3. Diagnosis : Dari anamnesis dan pemeriksaan diketahui yang bersangkutan pernah mengalami SC sebelumnya. 4. Pengelolaan : Kala I 1. Ketuban (+) a. Fase laten dengan partogram) - Bila pembukaan lengkap pimpin mengedan - Bila pembukaan belum lengkap, ketuban dipecahkan, tunggu 2 jam lagi. Bila tidak ada kemajuan SC. His jelek : - tunggu 6 jam, nilai his. Bila his menjadi baik 1.a. His baik : - tunggu sampai diperkirakan pembukaan lengkap (sesuai Bila indikasi SC yang lalu adalah sebab yang tetap seperti panggul sempit, maka persalinan dilakukan SC primer. Bila diketahui SC yang lalu korporal SC primer Bila SC sudah dilakukan sebanyak 2 kali SC primer

Pada persalinan :

134

- His tidak baik, pecahkan ketuban, tunggu lagi 6 jam. Bila ada krmajuan nyata dan pembukaan masih belum lengkap (dari SC. - Bila tidak ada kemajuan yang nyata SC b. Fase aktif - Bila pembukaan diperkirakan lengkap (sesuai His baik : - tunggu pembukaan lengkap partogram), tapi ternyata belum lengkap, ketuban dipecahkan, tunggu lagi 2 jam. Berikan Pethidin atau Valium 1 mg. - Bila tetap belum lengkap SC. His jelek : Ketuban dipecahkan, tunggu 2 jam dan nilai his. Bila his menjadi baik, lihat atas. Bila his tetap jelek SC 2. Ketuban (-) Fase laten His Baik : - Tunggu pembukaan lengkap - Bila kemajuan nyata, bisa ditunggu 2 jam lagi. Pembukaan masih tetap belum lengkap SC - Bila tidak ada kemajuan nyata langsung SC His jelek : - tunggu 2 jam, nilai hisnya - His menjadi baik, lihat di atas (2b) - His tetap jelek S C Kala II Pimpin mengedan selama jam Bila tidak ada kemajuan, bisa dipimpin lagi jam lagi Bila posisi menguntungkan bisa langsung dilakukan 3 menjadi hampir lengkap), bisa ditunggu lagi selama 1-2 jam. Bila masih belum lengkap

ekstraksi forcep atau vakum.

135

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN


1. Batasan : Perdarahan pasca persalinan adalah perdarahan yang > 500 ml yang terjadi setelah bayi lahir. 2. Klasifikasi : a. Perdarahan pasca persalinan dini yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir. b. Perdarahan pasca persalinan nifas yaitu perdarahan yang terjadi pada masa nifas (puerperium), tidak termasuk 24 jam pertama setelah bayi lahir. A. Perdarahan pasca persalinan dini Kriteria diagnosa Perdarahan banyak Pucat, mungkin ada tanda-tanda syok, tekanan darah

rendah, denyut nadi cepat dan kecil serta ekstremitas yang dingin, tampak keluar darah dari vagina terus menerus. Pemeriksaan obstetri mungkin kontraksi uterus lembek, uterus membesar, bila ada atonia rahim. Bila kontraksi baik mungkin ada perlukaan jalan lahir. Pemeriksaan dengan spekulum, untuk mengetahui asal Pemeriksaan dalam dilakukan bila keadaan telah perdarahan dan perlukaan jalan lahir. diperbaiki, dapat diketahui kontraksi uterus, sisa plasenta. Pemeriksaan Penunjang : Hb, hematokrit Faktor pembekuan darah

136

Masa pembekuan darah Masa perdarahan Trombosit Fibrinogen Terapi : Segera setelah diketahui perdarahan pasca persalinan,

tentukan ada syok atau tidak, bila ada segera berikan transfusi darah, infus cairan, kontrol perdarahan dan berikan oksigen. Bila syok tidak ada, atau keadaan umum telah optimal, segera lakukan pemeriksaaan untuk mencari etiologi. a. Atonia uteri Masase uterus dan berikan oksitosin dan ergometrin intravena, atau prostaglandin parenteral, bila ada perbaikkan dan perdarahan berhenti, oksitosin atau prostaglandin perinfus diteruskan. Bila tidak ada perbaikkan dilakukan kompresi bimanual. Bila tetap tidak berhasil, lakukan laparotomi, kalau mungkin lakukan ligasi Arteri uterina atau hipogastrika (khusus untuk penderita yang belum punya anak), bila tidak mungkin lakukan histerektomi. b. Luka jalan lahir Segera lakukan reparasi c. Retensio plasenta/sisa plasenta Bila plasenta belum lahir, lahirkan plasenta dengan tarikan pada tali pusat/bimanual dalam narkose, bila tidak berhasil dan sangkaan plasenta akreta, lakukan histerektomi. Bila hanya sisa plasenta, lakukan pengeluaran dengan digital atau kuretese. Infus oksitosin diteruskan. d. Gangguan perdarahan Transfusi darah segar, kontrol DIC dengan heparin atas konsultasi dengan penyakit dalam.

137

6-7 hari

Penyulit: Syok irreversible DIC Sindrom Seehan Lama Perawatan :

Patologi anatomi :

Uterus ynag diangkat (bila ada sangkaan plasenta akreta) A. 1. 2. Perdarahan pada masa nifas Kriteria Diagnosis : Perdarahan berulang dan tetap Pemeriksaan fisik, kadang-kadang penderita febris, nadi Pemeriksaan obstetric, fundus uteri masih tinggi

cepat dan syok (subinvolusi) Uterus lembek dan nyeri tekan bila ada infeksi, tampak Mungkin ada sisa plasenta dalam cavum uteri. Pemeriksaan penunjang : Hb, Ht, Lekosit USG untuk melihat sisa plasenta Terapi : Perdarahan minimal, cukup tirah baring, uterotonika dan bila tanda-tanda infeksi beri antibiotika Transfusi darah bila Hb < 8 gr% perdarahan pervaginam.

138

3.

Perdarahan

banyak

terus

menerus,

berikan

transfusi darah dan antibiotika. Kemudian lakukan kuretase dan bila tidak berhasil, lakukan penatalaksanaan atonia uteri. Penyulit : Syok irreversible Lama Perawatan :

Bila dapat diatasi selama 5-6 hari Bila dilakukan tindakan operatif 7-10 hari Patologi Anatomi :

Bila sangkaan adanya plasenta acreta.

139

INFEKSI PUERPURALIS
1. Definisi : Demam dalam nifas = morbiditas nifas, ditandai dengan meningkatnya suhu 38C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam waktu 10 hari pertama pasca persalinan kecuali 24 jam pertama pasca persalinan. 2. a. b. c. d. e. f. g. h. 3. A. B Antibiotik untuk bakteri aerob dan anaerob Penicillin dan streptomisin Clindamisin dan kanamisin/gentamisin dan ampisilin Selanjutnya pemberian tergantung hasil kultur dan Kultur bakteri aerob dan anaerob dari bahan yang berasal Faktor-faktor pembekuan darah USG bila dicurigai adanya abses dari serviks, uterus dan darah Faktor predisposisi : Partus lama KPSW Persalinan traumatis Pelepasan plasenta secara manual Persalinan dengan SC Infeksi intrauterine Kateterisasi kandung kencing Bladder atoni Penatalaksanaan :

resistensi test.

140

C Jika tidak ada perbaikkan dalam waktu 72 jam, pertimbangkan kemungkinan thrombophlebitis pelvic, abses dan septic emboli. D Septik emboli walaupun jarang terjadi tetapi merupakan komplikasi yang paling berbahaya, hal ini perlu dipertimbangkan jika tidak ada respon terhadap pemberian antibiotik dan adanya nyeri dada akut/manifestasi paru lainnya. E Setiap abses harus dilakukan insisi dan drainase/eksisi. Jika abses Douglas, lakukan kolpotomi posterior disertai pemasangan drain. Jika abses terdapat intra abdomen, lakukan laparotomi. Jika uterus terlibat dan merupakan focus infeksi, terutama pada kasus persalinan dengan SC dan terdapat dehisensi luka, lakukan histerektomi. F Septik syok ditandai dengan suhu tinggi, status kardiovaskuler tidak stabil, penurunan WBC Pengobatan : rawat ICU, O2, Penggantian cairan, transfusi darah, antibiotik, kortikosteroid, vasopresor/digitalis serta antikoagulan jika diperlukan. G Infeksi yang meliputi desidua, miometrium dan jaringan Gejala : suhu 38C , menggigil, nyeri abdomen atau Pengobatan : Antibiotik spectrum luas, uterotonika, kultur parametrium nyeri penekanan, lochia berbau, lekositosis 15000-30000 dan resistensi test, posisi Fowler. Kuretase dilakukan hari ke 5-7.

141

INFEKSI PUERPURALIS Demam, menggigil, nyeri, factor predisposisi (+) Anamnesis Pemeriksaan fisik untuk menentukan lokasi Lokasi tidak dapat ditentukan Infeksi tidak dapat ditentukan Terapi simptomatis Di luar pelvik Dalam pelvik Kultur G B Lokasi dapat ditentukan A

- Endometritis - Miometritis - Parametritis - Salpingitis

UTI Mastitis Bronkhopneumoni Vulvitis Emboli paru Terapi local Pelvic peritonitis Abses D Trombophlebitis pelvic Bed rest C

142

Abses pelvic Drainase dan debridement Septik syok

E F

143