Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Belajar secara umum adalah proses menemukan suatu pengetahuan yang baru atau mempernaharui pengetahuan yang ada. Belajar dapat dilakukan dimana saja dan dengan siapa saja. Belajar dalam konteks formal merupakan proses yang terjadi antara pendidik dan peserta didik dijenjang pendidikan formal yang dilakukan dengan metode-metode yang ditentukan sesuai dengan kurikulum yang berlaku disuatu wilayah. Dalam memposisikan proses peserta belajar didik mengajar sebagai para insan pendidik yang harus hendaknya dihargai

kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Oleh karena itu, dalam proses pembelajaran perlu adanya suasana yang terbuka, akrab dan saling menghargai. Sebaliknyaperlu menghindari suasana belajar yang kaku, penuh dengan ketegangan dan sarat dengan perintah dan instruksi yang membuat peserta didik menjadi pasif,tidak bergairah, cepat bosan dan mengalami kebosanan (Dasim Budimansyah,2002 Dalam Asri Erawati 2008). Dalam melakukan proses belajar mengajar guru dapat memilih berbagai metode atau menggabungkan satu metode dengan metode lainnya agar kekurangan suatu metode dapat ditutupi dengan metode lainnya mengingat, terdapat banyak metode yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuanpembelajaran, waktu yang tersedia, jumlah siswa, mata pelajaran, fasilitas dan kondisi siswa. Kebanyakan guru menggunakan metode ceramah dalam penyampaian informasi dalam proses belajar mengajar. Namun metode ini memiliki kelemahan dalam mengidentifikasikan kemampuan siswa secara individual. Untuk mengatasi kelemahan penggunaan metode ceramah yang digunakan suatu bentuk pembelajaran yang mampu melayani perbedaan individual siswa. Secara aktif dalam proses belajar mengajar, yaitu metode

pembelajaran kooperatif problem solving. Metode kooperatif dan metode problem solving setiap siswa dituntut untuk bekerja secara kelompok guna menyelesaikan maslah yang diberikan secara sistematis berdasarkan tahap yang telah ditentukan. B. Tujuan Penulisan makalah ini ditujukan untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran problem solving, mengetahui karakteristiknya, kelemahan dan kelebihannya serta kendala-kendala yang dihadapi bila menggunakan metode pembelajaran problem solving. C. Manfaat 1. Dapat menambah wawasan tentang efektivitas penggunaan pembelajaran problem solving untuk meningkatkan hasil belajar siswa. 2. Dapat digunakan sebagai referensi bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. 3. Sebagai bahan pertimbangan bagi penulisan yang akan datang.

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Istilah problem solving sering digunakan dalam berbagai bidang ilmu dan memiliki pengertian yang berbeda-beda pula. Problem solving yaitu seorang individu yang dihadapkan dengan suatu persoalan yang mendesak perlu dilakukan pemecahan masalah atau dicarikan solusinya dengan memikir. Pengertian Metode Pembelajaran Problem solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaaian secara ilmiah.metode ini tidak mengharapakan siswa hanya sekedar mendengarkan,mencatat,kemudian menghafal materi pelajaran akan tetapi melalui metode problem dan solving data siswa dan aktif akhirnya berpikir,berkomunikasi,mencari mengolah

menyimpulkan.Sanjaya wijaya(2008). Menurut Suharno,dkk (2006) metode problem solving adalah suatu cara mengajar yang memberikan kesempatan pada semua siswa untuk menganalisis dan melakukan sintesa dalam kesaatuan struktur atau situasi dimana masalah itu beradadan atas inisiatif itu sendiri. Menurut Zuhairni(1997:110) menngungkapakan bahwa metode pemecahan masalah atau problem solving merupakan suatu metode dalam pendidikan dan pengajaran yang sejalan,untuk melatih siswa menghadapi masalah dari yang paling sederhana sampai yang paling rumit.
B. Metode problem solving

Pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah

pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah merupakan suatu metode pengajaran yang mendorong siswa untuk mencari dan memecahkan persoalan - persoalan. Adakalanya manusia memecahkan masalah secara instinktif ( naluriah ) maupun dengan kebiasaan, yang mana pemecahan tersebut biasanya dilakukan oleh binatang. Pemecahan secara instinktif merupakan bentuk tingkah laku yang tidak dipelajari, seringkali berfaedah dalam situasi yang luarbiasa. Misalnya seseorang yang dalam keadaan terjepit karena bahaya yang datangnya tak disangka, maka secara spontan mungkin ia melompati pagar atau selokan dan berhasil, yang seandainya dalam keadaan biasa hal itu tak mungkin dilakukan. Dalam situasi yang problematis, baik manusia maupun binatang, dapat menggunakan cara "coba-coba salah", mencoba lagi ( trial and error ) untuk memecahkan masalahnya. Akan tetapi taraf problem solving pada manusia lebih tinggi karena manusia sanggup memecahkan masalah dengan rasio (akal), disamping memiliki bahasa. Oleh karena itu manusia dapat memperluas pemecahan masalahnya di luar situasi konkret.
C. Karekteristik Metode Pembelajaran Problem Solving

Metode pembelajaran problem solving dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan pada proses penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah terdapat 3 ciri utama dari metode problem solving.:
a)

Metode problem solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran. Artinya dalam implementasi problem solving ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.

b)

Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah metode ini menempatkan masalah sebagai kunci dari proses pembelajaran.

c)

Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah.

Sanjaya Wina (2008) mengungkapkan bahwa metode problem solving dapat diterapkan: a) Manakala guru menginginkan agar siswa tidak hanya sekedar memngingat materi pelajaran,akan tetapi menguasai dan memahaminya secara penuh. b) Apabila guru bermaksud untuk mengembangkan keterampilan berpikir rasional siswa,yaitu kemampuan menganalisis situasi,menerapkan pengetahuan yang mereka miliki dalam situasi baru,mengenal adanya perbedaan antara fakta dan pendapat,serta mengembangkan kemampuan dalam membuat judgement secara objektif . c) Manakala guru menginginkan kemampuan siswa untuk memecahkan masalah serta membuat tantangan intelektual siswa. d) Jika guru ingin mendorong siswa untuk lebih bertanggung jawab. e) Jika guru ingin agar siswa memahami hubungan antara apa yang dipelajari dengan kenyataan dalam kehidupannya.
D. Kelebihan dan Kekurangan Metode Problem Solving

Salah satu tujuan pembelajaran adalah untuk menghasildkan siswa yang tidak hanya memiliki keahlian kognitif dan afektif saja melainkan seorang siswa juga dituntunt untuk cakap dalam mengembangkan psikomotorik, tujuan tersebut tidak dari proses untuk memecahkan masalah.,dan di dlm memecahkan masalah tersebut haruslah menghadirkan metode yaitu yang disebut metode problem solving yang menekankan untuk berpikir kritis dan kreatif guna mencapai tujuan, namin demikian suatu metode tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan. a) Kelebihan Melatih siswa untuk mendesain siatu penemuan Berpikir dan bertindak kreatif Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis Mengidentifikasi dan melakukan penyelodikan Lebih relevan dengan kehidupan

Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan Tidak semua pokok bahasan sulit untuk menerapkan metode pembelajaran ini Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran lain Membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama Memerlukan alat yang mahal

b) Kekurangan

E. Tujuan Pembelajaran Problem Solving

Tujuan pembelajaran problem solving berhasil tidaknya suatu pengajaran bergantung kepada suatu tujuan yang hendak dicapai. Tujuan dari pembelajaran problem solving adalah seperti apa yang dikemukakan oleh Hudojo (2003:155), yaitu sebagai berikut. 1) 2) 3) 4) Siswa menjadi terampil menyeleksi informasi yang relevan kemudian menganalisisnya dan akhirnya meneliti kembali hasilnya. Kepuasan intelektual akan timbul dari dalam sebagai hadiah intrinsik bagi siswa. Potensi intelektual siswa meningkat. Siswa belajar bagaimana melakukan penemuan dengan melalui proses melakukan penemuan.
F.

Langkah-Langkah Problem Solving Adapun tiga langkah problem solving adalah : a) Mengidentifikasi masalah secara tepat Secara konseptual suatu masalah (M) didefinisikan sebagai kesenjangan atau gap antara nerja actual dan targetkinerja (T ) yang

diharapkan, sehingga secara simbolik dapat dituliskan bersamaan; M=T A.berdasarkan konsep seorang problem solver yang professional harus

terlebih dahulu nanpu mengetahui berapa atau pada tingkat mana kinerja aktual saat ini, dan berapa atau tingkat mana kinerja serta kita harus mampu mendefinisikan secara tegas apa masalah utama kita kemudian menetapkan pada tingkat mana kinerja actual kita sekarang dan kapan waktu pencapain target kinerja itu.
b) Menentukan sumber dan akar penyebab dari masalah

Suatu solusi masalah yang efektif, apabila kita berhasil menemukan sumber-sumber dan akar-akar dari masalah itu, kemudian mengambil tindakan untuk menghilangkan masalah-masalah tersebut. c) Solusi masalah secara efektif dan efisien Adapun langkah-langkah Solusi masalah yang efektif dan efisien yaitu: 1. Mendefinisikan secara tertulis mendefinisikan : a) akar penyebab dari masalah itu, b) penyebabpenyebab yang tidak dapat dikendalikan, namun dapat diperkirakan.
3. Setiap akar penyebab dari masalah dimasuskkan ke dalam diagram 2. Membangun diagram sebab akibat yang dimodifikasi untuk

sebab akibat, sedangkan penyebab yang tidak dapat diperkirakan, didaftarkan pada sebab akibat itu secara tersendiri.
4. Mendefiisikan

tindakan

atau

solusi

yang

efektif

melalui

memperhatikan dan mempertimbangkan : a)pencegahan terulang atau muncul kembali penyebab penyebab itu, b) tindakan yang diambil harus ada di bawah pengendalian kita, dan c) memenuhi tujuan dan target kinerja yang ditetapkan.
5. Menerapkan atau melakukan implementasi atau tindakan-tindakan

yang diajukan (Vincent Gasper sz, dan Qruztyann.blogs.friendster. com).

Adapun langkah-langkah lain yaitu menurut konsep Dewey yang merupakan berpikir itu menjadi dasar untuk problem solving adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. Adanya kesulitan yang dirasakan atau kesadaran akan adanya masalah. Masalah itu diperjelas dan dibatasi. Mencari informasi atau data dan kemudian data itu diorganisasikan atau diklasifikasikan. Mencari hubungan-hubungan untuk merumuskan hipotesa-hipotesa kemudian hipotesa-hipotesa dinilai, diuji agar dapat ditentukan untuk diterima atau ditolak. 5. Penerapan pemecahan terhadap masalah yang dihadapi sekaligus berlaku sebagai pengujian kebenaran pemecahan tersebut untuk dapat sampai kepada kesimpulan. Selain di atas menurut Dewey langkah-langkah dalam problem solving yaitu sebagai berikut: kesadaran akan adanya masalah, merumuskan masalah, mencari data dan merumuskan hipotesa-hipotesa itu dan kemudian menerima hipotesa yang benar. Tetapi problem solving itu tidak selalu mengikuti urutan yang teratur, melainkan dapat meloncatmeloncat antara macam-macam lankah tersebut, lebih-lebih apabila orang berusaha memecahkan masalah yang kompleks. Misalnya: masalahmasalah pendidikan telah dikenal orang bertahun-tahun yang lalu, dan telah banyak hipotesa pemecahan dirumuskan dan dicoba. Tetapi, orang masih berusaha merunuskan masalah-masalah itu secara lebih tepat dan mengusahan pengerjaan pemecahan masalah yang lain agar dapat ditemukan pemecahan yang lebih baik. Metode problem solving ini menekankan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. kelebihan metode ini mendorong siswa untuk berpikir secara ilmiah, praktis, intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri, menumbuhkan sikap objektif, jujur dan terbuka. Sedangkan kelemahannya memerlukan waktu yang cukup lama, tidak

semua materi pelajaran mengandung masalah memerlukan perencanaan yang teratur dan matang, dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif. Sedangkan Kenedy seperti dikutip oleh Lovitt (1989 : 279) menyarankan empat langkah proses pemecahan masalah matematika yaitu dengan :

Memahami masalah Merencanakan pemecahan masalah Melaksanakan pemecahan masalah, dan Memeriksa kembali Bagi anak berkesulitan belajar dan bahkan juga bagi anak yang

tidak berkesulitan belajar, menyelesaikan soal bukan pekerjaan yang mudah. Di samping itu, anak juga tidak terlatih untuk menyelesaikan masalah matematika secara lebih sistematis. Oleh karena itu pendekatan pemecahan masalah dengan memanfaatkan alat peraga dengan langkahlangkah yang telah dikemukakan tampaknya lebih baik untuk digunakan baik bagi anak berkesulitan belajar maupun yang tidak berkesulitan belajar.

BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Metode pembelajaran problem solving merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses penyelesaaian secara ilmiah. Metode ini tidak mengharapakan siswa hanya sekedar mendengarkan ,mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran akan tetapi melalui metode problem solving siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkan. Adapun tujuan utama penggunaan metode problem solving dalam kegiatan belajar mengajar yaitu : Mengembangkan kemampuan berfikir, terutama dalam mencari sebab akibat dan tujuan suatu permasalahan. Memberikan pengetahuan dan kecakapan praktis yang bernilai atau bermanfaat bagi keperluan kehidupan sehari-hari. Belajar bertindak dalam situasi baru. Belajar bekerja sistematis dalam memecahkan masalah. Belajar berbasis masalah, atau yang lebih popular dengan problem solving. Metode problem solving ini lebih menekan pada penemuan dan pemecahan masalah secara berkelanjutan. kelebihan metode ini mendorong siswa untuk berpikir secara ilmiah, praktis, intuitif dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri, menumbuhkan sikap objektif, jujur dan terbuka. Tetapi metode ini memiliki kelemahan yang memerlukan waktu yang cukup lama, tidak semua materi pelajaran mengandung masalah memerlukan perencanaan yang teratur dan matang, dan tidak efektif jika terdapat beberapa siswa yang pasif. B. SARAN Dalam menerapkan metode pembelajaran problem solving pendidik tetap harus mengadakan pengamatan selama proses belajar agar tidak terjadinya kesesatan dalam belajar dan sebaiknya pendidik tidak hanya terpaku pada satu metode agar hasil dari proses belajar mengajar menjadi lebih maksimal.

10