Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktiI secara sosial dan ekonomi (Pasal 1 UU
No 23/1992 tentang Kesehatan) karena itu kesehatan merupakan dasar dari diakuinya
derajat kemanusiaan. Menurut deIinisi WHO, kesehatan mencakup Iisik, mental
(penghargaan dan martabat) dan sosial (jaminan hukum, adat istiadat dan sebagainya)
secara lengkap, tidak hanya berarti tidak adanya penyakit atau tubuh yang lemah.
Tanpa kesehatan, seseorang menjadi tidak sederajat secara kondisional. Tanpa
kesehatan, seseorang tidak akan mampu memperoleh hak-hak lainnya. Sehingga
kesehatan menjadi salah satu ukuran selain tingkat pendidikan dan ekonomi, yang
menentukan mutu dari sumber daya manusia (Human Development Index).
1,2
Hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia telah diakui dan diatur dalam
berbagai instrumen internasional maupun nasional. Dengan melihat dan
memperhatikan instrumen tersebut, maka sesungguhnya tiap gangguan, intervensi
atau ketidak-adilan, ketidak-acuhan, apapun bentuknya yang mengakibatkan ketidak-
sehatan tubuh manusia, kejiwaannya, lingkungan alam dan lingkungan sosialnya,
pengaturan dan hukumnya, serta ketidak-adilan dalam manajemen sosial yang mereka
terima, adalah merupakan pelanggaran hak mereka, hak-hak manusia.
1
Dokter sebagai salah satu komponen utama pemberi layanan kesehatan kepada
masyarakat memiliki peran penting karena terkait langsung dengan mutu pelayanan
kesehatan sesuai dengan kompetensi dan pendidikan yang dimilikinya. Dokter juga
memiliki karakteristik yang khas dengan adanya pembenaran hukum, yaitu
diperkenannya melakukan intervensi terhadap tubuh manusia dan lingkungannya
yang apabila hal itu dilakukan oleh tenaga lain dapat digolongkan sebagai tindakan
pidana.
1
Peranan yang dilakukan oleh dokter dalam hal ini bisa berupa terapi, ikut
mencegah pelanggaran HAM, dan turut serta menegakkan hukum. Peran dokter

dalam penegakan hukum adalah dengan mendokumentasikan bukti medis


pelanggaran HAM dan melaporkannya kepada yang berwenang.
1

1.2 Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui peranan dokter dalam
penegakan HAM bidang kesehatan.

1.3 Metode Penulisan
Makalah ini disusun berdasarkan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada
beberapa literatur.

BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

2.1 Hak atas Kesehatan
Hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia telah diakui dan diatur dalam
berbagai instrumen internasional maupun nasional. Jaminan pengakuan hak atas
kesehatan tersebut secara eksplisit dapat dilihat dari beberapa instrumen sebagai
berikut
1
.
a. Instrumen Internasional
1. Pasal 25 &niversal Declaration of Human Rights (&DHR)
3

Pasal 25 (1), Standar Hidup yang Layak dan Jaminan Perlindungan
Kesehatan:
'Setiap orang berhak atas hidup yang memadai untuk kesehatan,
kesejahteraan diri dan keluarganya, termasuk atas pangan, pakaian,
perumahan dan perawatan kesehatan, serta pelayanan sosial yang diperlukan,
dan berhak atas jaminan pada saat pengangguran, menderita sakit, cacat,
menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut atau keadaan lainnya yang
mengakibatkannya kekurangan naIkah yang berada diluar kekuasaannnya.

Pasal 6 dan 7 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)
4

Pasal 6

(1)Setiap manusia memiliki hak yang melekat untuk hidup. Hak ini harus
dilindungi oleh hukum. Tidak seorang pun boleh sewenangwenang
dirampas hidupnya.
(2)Di negara-negara yang belum menghapuskan hukuman mati, hukuman
mati dapat diterapkan hanya untuk kejahatan yang paling serius sesuai
dengan hukum yang berlaku pada saat kejahatan tersebut dan tidak
bertentangan dengan ketentuan Kovenan dan Konvensi tentang
Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida. Hukuman ini hanya

dapat dilakukan berdasarkan keputusan akhir yang dijatuhkan oleh


pengadilan yang berwenang.
(3)Ketika perampasan kehidupan merupakan kejahatan genosida, dapat
dipahami bahwa tidak satupun dalam pasal ini yang memberikan
kewenangan setiap negara pada Kovenan ini, untuk mengurangi dengan
cara apapun dari kewajiban diasumsikan berdasarkan ketentuan dalam
Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida.
(4)Siapapun dihukum mati berhak untuk mencari pengampunan atau
pergantian kalimat. Amnesti, pengampunan atau pergantian dari hukuman
mati dapat diberikan dalam semua kasus.
(5)Hukuman mati tidak akan dijatuhkan untuk kejahatan yang dilakukan oleh
orang dibawah usia delapan belas tahun dan tidak harus dilakukan pada
wanita hamil.
(6)Tidak ada dalam pasal ini harus dipanggil untuk menunda atau mencegah
penghapusan hukuman mati oleh negara pada Kovenan ini.

Pasal 7
Tidak seorangpun dapat dikenai penyiksaan atau perlakuan kejam, yang tidak
manusiawi atau merendahkan atau hukuman. Secara khusus, tak seorang pun
akan dikenakan tanpa persetujuan bebas untuk eksperimen medis atau ilmiah.

3 Pasal 12 International Covenant on Economic, Social and Cultural Right
(ICESCR)
5

Pasal 12
(1)Negara-negara pada Kovenan ini mengakui hak setiap orang untuk
menikmati standar tertinggi dari kesehatan Iisik dan mental.
(2)Langkah-langkah yang akan diambil oleh negara pada Kovenan ini untuk
mencapai realisasi penuh hak ini harus termasuk yang dibutuhkan untuk:
(a) Ketentuan untuk pengurangan tingkat kelahiran-mati dan kematian
bayi dan untuk sehat perkembangan anak;

(b)Perbaikan semua aspek kesehatan lingkungan dan industri;


(c) Pencegahan, pengobatan dan pengendalian epidemi, endemi, penyakit
akibat kerjadan lainnya;
(d)Penciptaan kondisi-kondisi yang akan menjamin semua pelayanan dan
perhatian medis dalam kejadian sakit.

4 Pasal 5 International Convention on the Elimination of All Forms of Racial
Discrimination (ICERD)
6
.
Pasal 5
Sesuai dengan kewajiban-kewajiban mendasar yang diatur dalam pasal 2
Konvensi ini, negara dapat melarang dan menghapuskan diskriminasi rasial
dalam segala bentuknya dan untuk menjamin hak setiap orang, tanpa
membedakan ras, warna kulit, atau asal-usul kebangsaan atau etnis, atas
persamaan di muka hukum, terutama dalam penikmatan hak-hak berikut:
(1) Hak atas perlakuan yang sama sebelum pengadilan dan semua organ tubuh
lainnya menjalankan keadilan;
(2) Hak untuk keamanan pribadi dan perlindungan oleh negara dari kekerasan
atau membahayakan tubuh, apakah ditimbulkan oleh pejabat pemerintah atau
oleh kelompok individu atau lembaga;
(3)Hak-hak politik, khususnya hak untuk berpartisipasi dalam pemilihan
umum-untuk memilih dan untuk berdiri untuk pemilihan berdasarkan hak
pilih universal dan sama, untuk mengambil bagian dalam Pemerintah serta
dalam pelaksanaan urusan publik di tingkat manapun dan memiliki akses yang
sama ke pelayanan publik;
(4)Hak-hak sipil lainnya, khususnya:
(a) Hak untuk kebebasan bergerak dan bertempat tinggal dalam
perbatasan negara;
(b)Hak untuk meninggalkan negara manapun, termasuk negara sendiri,
dan kembali ke negara asing;
(c) Hak untuk kebangsaan;

(d)Hak untuk menikah dan pilihan pasangan;


(e) Hak untuk memiliki properti sendiri serta dalam hubungannya dengan
orang lain;
(I) Hak untuk mewarisi;
(g) Hak untuk kebebasan berpikir, hati nurani dan agama;
(h) Hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi;
(i) Hak atas kebebasan berkumpul secara damai dan berserikat;
(j) Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya, khususnya:
(k) Hak untuk bekerja, bebas untuk memilih pekerjaan, untuk kondisi
kerja yang adil dan menguntungkan, untuk perlindungan terhadap
pengangguran, atas upah yang sama untuk pekerjaan yang sama, atas
pengupahan yang adil dan menguntungkan;
(l) Hak untuk membentuk dan bergabung dengan serikat buruh;
(m)Hak untuk perumahan;
(n) Hak untuk kesehatan masyarakat, perawatan medis, jaminan sosial
dan pelayanan sosial;
(o) Hak untuk pendidikan dan pelatihan;
(p) Hak untuk berpartisipasi yang sama dalam kegiatan kebudayaan;
(q) Hak untuk mengakses setiap tempat atau layanan yang ditujukan
untuk digunakan oleh masyarakat umum, seperti hotel transportasi,
restoran, kaIe, bioskop dan taman.

5 Pasal 11, 12 dan 14 Convention on the Elimination of All Forms of
Discrimination against Women (Womens Convention)
7

Pasal 11
(1)Negara harus mengambil semua langkah yang tepat untuk menghapus
diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang pekerjaan, untuk
menjamin, atas dasar kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak-hak yang
sama :
(a) Hak untuk bekerja sebagai hak asasi semua manusia;

(b)Hak untuk kesempatan kerja yang sama, termasuk penerapan kriteria


yang sama untuk pemilihan dalam hal pekerjaan;
(c) Hak untuk memilih dengan bebas proIesi dan pekerjaan, hak untuk
promosi, keamanan kerja dan semua tunjangan dan kondisi pelayanan
dan hak untuk menerima pelatihan kejuruan dan pelatihan ulang,
termasuk magang, pelatihan kejuruan lanjutan dan pelatihan berulang.
(d)Hak untuk upah yang sama, termasuk tunjangan, dan perlakuan yang
sama dalam hal pekerjaan nilai yang sama, serta kesetaraan perlakuan
dalam evaluasi tentang kualitas pekerjaan;
(e) Hak atas jaminan sosial, khususnya dalam hal pensiun, pengangguran,
cacat sakit, dan usia tua dan ketidakmampuan lain untuk bekerja, serta
hak untuk cuti dengan bayaran;
(I) Hak untuk perlindungan kesehatan dan keamanan dalam kondisi kerja,
termasuk penjagaan Iungsi reproduksi.
(2)Dalam rangka untuk mencegah diskriminasi terhadap perempuan atas
dasar perkawinan atau kehamilan dan untuk menjamin hak eIektiI mereka
untuk bekerja, negara harus mengambil langkah yang tepat:
(a) Untuk melarang, dengan dikenakan sanksi pemecatan atas dasar
kehamilan atau cuti hamil dan diskriminasi dalam pemberhentian atas
dasar status perkawinan;
(b) Untuk memperkenalkan cuti hamil yang dibayar atau dengan
tunjangan sosial yang sebanding tanpa kehilangan mantan
kerja, senioritas atau tunjangan sosial;
(c) Untuk menganjurkan pengadaan pelayanan sosial yang mendukung
diperlukan untuk memungkinkan orang tua untuk
menggabungkan kewajiban-kewajiban keluarga dengan tanggung
jawab pekerjaan dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat,
khususnya dengan meningkatkan pembentukan dan pengembangan
suatu jaringan Iasilitas penitipan anak;

(d) Untuk memberikan perlindungan khusus bagi perempuan selama


kehamilan pada jenis pekerjaan terbukti berbahaya bagi mereka.
(3)Undang-undang perlindungan yang berkaitan dengan masalah tercakup
dalam artikel ini harus ditinjau secara periodik diterang pengetahuan
ilmiah dan teknologi dan harus direvisi, dicabut atau diperluas bila perlu.

Pasal 12
1. Negara harus mengambil semua langkah yang tepat untuk menghapus
diskriminasi terhadap perempuan dalam bidang perawatan kesehatan
dalam rangka untuk menjamin, atas dasar persamaan antara pria dan
wanita, akses ke perawatan kesehatan jasa, termasuk yang terkait dengan
keluarga berencana.
2. Menyimpang dari ketentuan ayat I pasal ini, negara harus menjamin bagi
perempuan sesuai layanan dalam hubungannya dengan kehamilan,
persalinan dan periode pasca-persalinan, pemberian layanan gratis di mana
nutrisi yang diperlukan, serta cukup selama masa kehamilan dan
menyusui.

Pasal 14
1. Negara wajib memperhatikan masalah-masalah khusus yang dihadapi oleh
perempuan pedesaan dan peran signiIikan yang dimainkan perempuan
pedesaan dalam kelangsungan hidup ekonomi keluarga mereka, termasuk
pekerjaan mereka di non-moneter sektor ekonomi, dan harus mengambil
semua langkah yang tepat untuk menjamin penerapan ketentuan-ketentuan
Konvensi ini bagi perempuan di daerah pedesaan.
2. Negara harus mengambil semua langkah yang tepat untuk menghapus
diskriminasi terhadap perempuan di pedesaan daerah dalam rangka untuk
menjamin, atas dasar persamaan antara pria dan wanita, bahwa mereka
berpartisipasi dalam dan memperoleh manIaat dari pembangunan pedesaan
dan, khususnya, wajib menjamin bagi perempuan tersebut hak:

a. Untuk berpartisipasi dalam perluasan dan implementasi perencanaan


pembangunan di segala tingkat;
b. UUntuk memiliki akses ke Iasilitas pelayanan kesehatan yang memadai,
termasuk inIormasi, penyuluhan dan pelayanan dalam keluargan
berencana;
c. Untuk mendapatkan manIaat langsung dari program jaminan sosial;
d. Untuk memperoleh segala jenis pelatihan dan pendidikan, Iormal dan
non-Iormal, termasuk yang berkaitan dengan keaksaraan Iungsional,
serta, antara lain, manIaat semua pelayanan masyarakat dan penyuluhan,
dalam rangka untuk meningkatkan kemampuan teknis mereka;
e. Untuk membentuk kelompok-kelompok swadaya dan koperasi untuk
mendapatkan akses yang sama terhadap ekonomi peluang melalui
pekerjaan atau bekerja sendiri;
I. Untuk berpartisipasi dalam semua kegiatan masyarakat;
g. Untuk memiliki akses kredit dan pinjaman pertanian, Iasilitas
pemasaran, teknologi tepat guna dan perlakuan yang sama di tanah dan
reIormasi agraria serta dalam skema tanah pemukiman;
h. Untuk menikmati kondisi hidup yang memadai, terutama yang
berhubungan dengan perumahan, listrik sanitasi, dan pasokan air,
transportasi dan komunikasi.

6 Pasal 1 Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading
Treatment or Punishment (Torture Convention, or CAT)
8

1. Untuk tujuan Konvensi ini, istilah "penyiksaan" berarti setiap perbuatan
di mana sakit yang parah atau penderitaan, apakah Iisik atau mental, yang
sengaja ditimpakan pada seseorang untuk tujuan seperti mendapatkan
sesuatu darinya atau orang ketiga mengenai inIormasi atau pengakuan,
menghukum karena tindakannya atau seseorang telah melakukan atau
dicurigai telah melakukan, atau mengintimidasi atau memaksanya atau
untuk setiap alasan yang berdasarkan diskriminasi jenis apapun, ketika

rasa sakit atau penderitaan yang ditimbulkan oleh atau atas hasutan atau
dengan persetujuan atau persetujuan dari pejabat publik atau orang lain
yang bertindak dalam kapasitas resmi. Ini tidak termasuk rasa sakit atau
penderitaan yang timbul hanya dari insidental sanksi hukum.
2. Pasal ini tidak mengurangi berlakunya perangkat internasional atau
peraturan perundang-undangan nasional yang mengandung atau dapat
memuat ketentuan penerapan yang lebih luas.

7 Pasal 24 Convention on the Rights of the Child (Childrens Convention, or
CRC)
9

1. Negara mengakui hak anak untuk menikmati standar kesehatan tertinggi
dan Iasilitas untuk pengobatan penyakit dan rehabilitasi kesehatan.
Negara harus berusaha menjamin bahwa tidak ada anak yang dirampas
haknya atas akses ke pelayanan perawatan kesehatan tersebut.
2. Negara harus mengejar pelaksanaan hak ini sepenuhnya dan terutama,
harus mengambil tindakan yang tepat:
a. Mengurangi kematian bayi dan anak;
b. Menjamin penyediaan bantuan kesehatan yang diperlukan dan
perawatan kesehatan untuk semua anak dengan penekanan pada
pengembangan perawatan kesehatan primer;
c. Untuk memerangi penyakit dan kekurangan gizi, termasuk dalam
kerangka pelayanan kesehatan dasar, penerapan teknologi yang
tersedia dan melalui penyediaan pangan bergizi yang memadai dan
air minum bersih dengan mempertimbangkan bahaya dan risiko
pencemaran lingkungan;
d. Menjamin perawatan kesehatan pra-natal dan post natal untuk para
ibu;
e. Untuk memastikan bahwa semua segmen masyarakat, terutama orang
tua dan anak, diinIormasikan mempunyai akses terhadap pendidikan
dan didukung dalam penggunaan pengetahuan dasar tentang

kesehatan dan gizi anak, keuntungan dari menyusui, kebersihan


lingkungan dan pencegahan kecelakaan;
I. Mengembangkan perawatan kesehatan yang preventiI, bimbingan
bagi orang tua dan keluarga berencana dan layanan pendidikan.
3. Negara harus mengambil semua langkah yang eIektiI dan tepat dengan
tujuan untuk menghapuskan praktek-praktek tradisional yang merugikan
kesehatan anak.
4. Negara berusaha meningkatkan dan mendorong kerja sama internasional
dengan tujuan untuk mencapai realisasi penuh hak yang diakui dalam
pasal ini. Dalam hal ini, perhatian khusus harus diberikan mengenai
kebutuhan negara-negara berkembang.

b. Instrumen Nasional
1. Amandemen- II Pasal 28 H ayat (1) UUD 1945
BAB XA/ Pasal 28 H:
i. Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan
mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak
memperoleh pelayanan kesehatan
ii. Setiap orang berhak mendapat kemudahan dan perlakuan khusus untuk
memperoleh kesempatan dan manIaat yang sama guna mencapai
persamaan dan keadilan
iii. Setiap orang berhak atas jaminan sosial yang memungkinkan
pengembangan dirinya secara utuh sebagai manusia yang bermartabat

2. Pasal 9 UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
1. Setiap orang berhak untuk hidup, mempertahankan hidup, dan
meningkatkan taraI kehidupannya
2. Setiap orang berhak hidup tentram, aman, damai, bahagia, sejahtera, lahir
dan batin
3. Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat


3. Pasal 4 UU Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan
Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam memperoleh derajat kesehatan
yang optimal.
2


Hak atas kesehatan bukanlah berarti hak agar setiap orang untuk menjadi sehat,
atau pemerintah harus menyediakan sarana pelayanan kesehatan yang mahal di luar
kesanggupan pemerintah. Tetapi lebih menuntut agar pemerintah dan pejabat publik
dapat membuat berbagai kebijakan dan rencana kerja yang mengarah kepada tersedia
dan terjangkaunya sarana pelayanan kesehatan untuk semua dalam kemungkinan
waktu yang secepatnya. Dalam Pasal 12 ayat (1) International Covenant on
Economic, Social and Cultural Right (ICESCR) hak atas kesehatan dijelaskan sebagai
'hak setiap orang untuk menikmati standar tertinggi yang dapat dicapai atas
kesehatan Iisik dan mental tidak mencakup area pelayanan kesehatan. Sebaliknya,
dari sejarah perancangan dan makna gramatikal pasal 12 ayat (2) yang menyatakan
bahwa langkah-langkah yang akan diambil oleh negara pada kovenan ini guna
mencapai perwujudan hak ini sepenuhnya, harus meliputi hal-hal yang diperlukan
untuk mengupayakan
1,5
:
a. Ketentuan-ketentuan untuk pengurangan tingkat kelahiran-mati dan kematian
anak serta perkembangan anak yang sehat;
b. Perbaikan semua aspek kesehatan lingkungan dan industri;
c. Pencegahan, pengobatan dan pengendalian segala penyakit menular, endemik,
penyakit lainnya yang berhubungan dengan pekerjaan;
d. Penciptaan kondisi-kondisi yang akan menjamin semua pelayanan dan perhatian
medis dalam hal sakitnya seseorang.
Sehingga hak atas kesehatan mencakup wilayah yang luas dari Iaktor ekonomi
dan sosial yang berpengaruh pada penciptaan kondisi dimana masyarakat dapat
mencapai kehidupan yang sehat, juga mencakup Iaktor-Iaktor penentu kesehatan
seperti makanan dan nutrisi, tempat tinggal, akses terhadap air minum yang sehat dan

sanitasi yang memadai, kondisi kerja yang sehat dan aman serta lingkungan yang
sehat.
1,10
Antara Hak Asasi Manusia dan Kesehatan terdapat hubungan yang saling
mempengaruhi. Seringkali akibat dari pelanggaran HAM adalah gangguan terhadap
kesehatan demikian pula sebaliknya, pelanggaran terhadap hak atas kesehatan juga
merupakan pelanggaran terhadap HAM. Hubungan tersebut dapat dilihat pada
Gambar 1.


ambar 1. Hubungan antara Kesehatan dan Hak Asasi Manusia.

Lingkaran kanan bawah dari lingkaran hubungan antara HAM dan Kesehatan
merupakan akibat tidak terpenuhi atau gagalnya pemerintah dalam memenuhi
kewajibannya. Sementara itu, lingkaran atas erat kaitannya dengan hak atas kesehatan
yang terlanggar oleh praktik-praktik kekerasan, yang menjadi bagian dari
pelanggaran hak sipil dan politik. Untuk lingkaran kiri bawah menggambarkan
hubungan antara HAM dan Kesehatan yang terjadi akibat kondisi masyarakat yang
rentan.

Sementara itu juga terdapat beberapa aspek yang tidak dapat diarahkan secara
sendiri dalam hubungan antara negara dan individu. Secara khusus, kesehatan yang
baik tidaklah dapat dijamin oleh negara, dan tidak juga negara menyediakan
perlindungan terhadap setiap kemungkinan penyebab penyakit manusia. Oleh karena
itu, Iaktor genetik, kerentanan individu terhadap penyakit dan adopsi gaya hidup yang
tidak sehat atau beresiko, mempunyai peranan yang sangat penting terhadap
kesehatan seseorang. Sehingga, Hak Atas Kesehatan harus dipahami sebagai hak atas
pemenuhan berbagai Iasilitas, pelayanan dan kondisi-kondisi yang penting bagi
terealisasinya standar kesehatan yang memadai dan terjangkau.
1

2.2 Isu Pokok Hak Atas Kesehatan
Pengertian kesehatan sangat luas dan merupakan konsep yang subjektiI, serta
dipengaruhi oleh berbagai Iaktor, seperti Iaktor-Iaktor geograIis, budaya dan
sosioekonomi. Oleh karena itu sulit untuk menentukan tentang apa saja yang
termasuk ke dalam hak atas kesehatan. Untuk itu para ahli, aktivis dan badan-badan
PBB mencoba membuat rincian mengenai core content hak atas kesehatan. Core
content terdiri dari seperangkat unsur-unsur yang harus dijamin oleh negara dalam
keadaan apapun, tanpa mempertimbangkan ketersediaan sumber daya, yang terdiri
dari:
1
1. Perawatan kesehatan
a. Perawatan kesehatan ibu dan anak, termasuk keluarga berencana;
b. Imunisasi;
c. Tindakan yang layak untuk penyakit-penyakit biasa (common disease) dan
kecelakaan;
d. Penyediaan obat-obatan yang pokok (essential drugs).
2. Prakondisi dasar untuk kesehatan:
a. Pendidikan untuk menangani masalah kesehatan termasuk metode-metode
untuk mencegah dan mengedalikannya;
b. Promosi penyediaan makanan dan nutrisi yang tepat;
c. Penyediaan air bersih dan sanitasi dasar.

Jika melihat hubungan antara kesehatan dan HAM, kategorisasi unsur-unsur di


atas belum sepenuhnya dapat menjawab permasalahan. Untuk itu Iaktor-Iaktor yang
berhubungan dengan kesehatan yang termasuk dalam hak-hak asasi manusia yang
lain, tidak perlu ditambahkan ke dalam hak atas kesehatan.
Sementara itu, hak atas standar kesehatan tertinggi yang dapat dijangkau sesuai
bunyi pasal 12 ayat (2) International Covenant on Economic, Social and Cultural
Right (ICESCR) memberikan contoh umum dan spesiIik berbagai langkah-langkah
yang muncul dari adanya deIinisi yang luas dari hak atas kesehatan dalam pasal 12
ayat (1) sehingga dapat dapat menggambarkan isi dari hak atas tersebut, yaitu:
1,5

1. Hak ibu, hak anak dan kesehatan reproduksi
a. Mengurangi angka kematian bayi dan anak di bawah usia 5 tahun;
b. Pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi;
c. Akses terhadap Keluarga Berencana (KB);
d. Perawatan sebelum dan sesudah melahirkan;
e. Pelayanan gawat darurat dalam bidang obstetri (kebidanan);
I. Akses dan sumber daya yang dibutuhkan sehubungan dengan kesehatan
reproduksi.
2. Hak atas lingkungan alam dan tempat kerja yang sehat dan aman
a. Tindakan preventiI terhadap kecelakaan kerja dan penyakit;
b. Air minum yang sehat dan aman serta sanitasi dasar;
c. Pencegahan dan menurunkan kerentanan masyarakat dari substansi yang
membahayakan seperti radiasi, zat kimia berbahaya, kondisi lingkungan yang
membahayakan;
d. Industri yang higienis;
e. Lingkungan kerja yang sehat dan higienis;
I. Perumahan yang sehat dan memadai;
g. Persediaan makanan dan nutrisi yang cukup;
h. Tidak mendorong penyalahgunaan alkohol, tembakau, obat-obatan dan
substansi yang berbahaya lainnya.
3. Hak pencegahan, penanggulangan dan pemeriksaan penyakit

a. Pencegahan dan penanggulangan serta pengawasan penyakit epidemik dan


endemik, penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan;
b. Pembentukan program pencegahan dan pendidikan bagi tingkah laku yang
berkaitan dengan kesehatan seperti penyakit menular seksual (PMS),
HIV/AIDS, penyakit yang berhubungan dengan kesehatan seksual dan
reproduksi;
c. Promosi mengenai Iaktor sosial yang berpengaruh pada kesehatan, misalnya
lingkungan yang aman, pendidikan, pertumbuhan ekonomi dan kesetaraan
gender;
d. Hak atas perawatan;
e. Bantuan bencana alam dan bantuan kemanusiaan dalam situasi darurat;
I. Pengendalian penyakit dengan menyediakan teknologi, menggunakan dan
meningkatkan ketahanan epidemi serta imunisasi.
4. Hak atas Iasilitas kesehatan, barang dan jasa
a. Menjamin adanya pelayanan medis yang mencakup upaya promotiI, preventiI,
kuratiI dan rehabilitatiI baik Iisik maupun mental;
b. Penyediaan obat-obatan yang esensial;
c. Pengobatan atau perawatan mental yang tepat;
d. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam upaya kesehatan seperti
organisasi bidang kesehatan, sistem asuransi, secara khusus partisipasi dalam
keputusan politik di level komunitas tertentu dan negara.
5. Topik khusus dan penerapan yang lebih luas
a. Non diskriminasi dan perlakuan yang sama;
b. PerspektiI gender;
c. Kesehatan anak dan remaja, orang tua, penyandang cacat dan masyarakat
adat.
Untuk itu badan kesehatan dunia WHO telah membuat indikator-indikator
kesehatan untuk menilai pelaksanaan pembangunan dan pemenuhan hak atas
kesehatan tersebut. Indonesia juga terikat dengan komitmen tersebut dan hal tersebut

telah diadopsi dengan menetapkan 50 indikator kesehatan yang akan dicapai pada
tahun 2010.
1


2.3 Implementasi Hak Atas Kesehatan Dalam Konteks HAM
Dalam upaya untuk menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan
memenuhi (to fulfil) sebagai kewajiban negara mengimplementasikan norma-norma
HAM pada hak atas kesehatan harus memenuhi prinsip-prinsip:
1

1. Ketersediaan pelayanan kesehatan, dimana negara diharuskan memiiki sejumlah
pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk;
2. Aksesibilitas. Fasilitas kesehatan, barang dan jasa, harus dapat diakses oleh tiap
orang tanpa diskriminasi dalam jurisdiksi negara. Aksesibilitas memiliki empat
dimensi yang saling terkait yaitu tidak diskriminatiI, terjangkau secara Iisik,
terjangkau secara ekonomi dan akses inIormasi untuk mencari, menerima dan
atau menyebarkan inIormasi dan ide mengenai masalah-masalah kesehatan.
3. Penerimaan. Segala Iasilitas kesehatan, barang dan pelayanan harus diterima oleh
etika medis dan sesuai secara budaya, misalnya menghormati kebudayaan
individu-individu, keariIan lokal, kaum minoritas, kelompok dan masyarakat,
sensitiI terhadap jender dan persyaratan siklus hidup. Juga dirancang untuk
penghormatan kerahasiaan status kesehatan dan peningkatan status kesehatan bagi
mereka yang memerlukan.
4. Kualitas. Selain secara budaya diterima, Iasilitas kesehatan, barang, dan jasa
harus secara ilmu dan secara medis sesuai serta dalam kualitas yang baik. Hal ini
mensyaratkan antara lain, personil yang secara medis berkemampuan, obat-obatan
dan perlengkapan rumah sakit yang secara ilmu diakui dan tidak kadaluarsa, air
minum aman dan dapat diminum, serta sanitasi memadai.

Sementara itu dalam kerangka 3 bentuk kewajiban negara untuk memenuhi hak
atas kesehatan dapat dijabarkan sebagai berikut:
1
1. Menghormati hak atas kesehatan

Dalam konteks ini hal yang menjadi perhatian utama bagi negara adalah
tindakan atau kebijakan 'apa yang tidak akan dilakukan atau 'apa yang akan
dihindari. Negara wajib untuk menahan diri serta tidak melakukan tindakan-
tindakan yang akan berdampak negatiI pada kesehatan, antara lain : menghindari
kebijakan limitasi akses pelayanan kesehatan, menghindari diskriminasi, tidak
menyembunyikan atau misrepresentasikan inIormasi kesehatan yang penting, tidak
menerima komitmen internasional tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap
hak atas kesehatan, tidak menghalangi praktek pengobatan tradisional yang aman,
tidak mendistribusikan obat yang tidak aman.

2. Melindungi hak atas kesehatan
Kewajiban utama negara adalah melakukan langkah-langkah di bidang
legislasi ataupun tindakan lainnya yang menjamin persamaan akses terhadap jasa
kesehatan yang disediakan pihak ketiga. Membuat legislasi, standar, peraturan
serta panduan untuk melindungi : tenaga kerja, masyarakat serta lingkungan.
Mengontrol dan mengatur pemasaran, pendistribusian substansi yang berbahaya
bagi kesehatan seperti tembakau, alkohol dan lain-lain, mengontrol praktek
pengobatan tradisional yang diketahui berbahaya bagi kesehatan.

3. Memenuhi hak atas kesehatan
Dalam hal ini adalah yang harus dilakukan oleh pemerintah seperti
menyediakan Iasilitas dan pelayanan kesehatan, makanan yang cukup, inIormasi
dan pendidikan yang berhubungan dengan kesehatan, pelayanan pra kondisi
kesehatan serta Iaktor sosial yang berpengaruh pada kesehatan seperti : kesetaraan
gender, kesetaraan akses untuk bekerja, hak anak untuk mendapatkan identitas,
pendidikan, bebas dari kekerasan, eksploitasi, kejahatan seksual yang berdampak
pada kesehatan.
Dalam rangka memenuhi hak atas kesehatan negara harus mengambil
langkah-langkah baik secara individual, bantuan dan kerja sama internasional,
khususnya di bidang ekonomi dan teknis sepanjang tersedia sumber dayanya,

untuk secara progresiI mencapai perwujudan penuh dari hak atas kesehatan
sebagaimana mandat dari pasal 2 ayat (1) International Covenant on Economic,
Social and Cultural Right (ICESCR).

2.4 Hak dan Kewajiban Dokter dan Pasien
Hak pasien sebenarnya merupakan hak yang asasi yang bersumber dari hak
dasar individu dalam bidang kesehatan, the right of self determination. Dalam
hubungan dokter pasien, secara relatiI pasien berada dalam posisi yang lemah.
Kekurang mampuan pasien untuk membela kepentingannya dalam situasi pelayanan
kesehatan, menyebabkan timbulnya hak-hak pasien dalam menghadapi para
proIesional kesehatan terabaikan. Hubungan antara dokter dengan pasien, sekarang
adalah partner dan kedudukan keduanya secara hukum adalah sama. Pasien
mempunyai hak dan kewajiban tertentu, demikian pula dokternya. Secara umum
pasien berhak atas pelanyanan yang manusiawi dan perawatan yang bermutu.
10
Undang-undang praktek kedokteran RI nomor 29 tahun 2004 mengatur hak dan
kewajiban dokter dan pasien:
12
Hak dokter
1. Memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai
dengan standar proIesi dan standar prosedur operasional.
2. Memberikan pelayanan medis menurut standar proIesi dan standar prosedur
operasional.
3. Memperoleh inIormasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan keluarganya
4. Menerima imbalan.

Kewajiban dokter
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar proIesi dan standar
prosedur operasional.
2. Merujuk pasien ke dokter yang mempunyai keahlian atau kemampuan lebih
baik apabila tidak mampu melakukan pemeriksaan atau pengobatan.

3. Merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan


setelah pasien meninggal dunia.
4. Melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia
yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melaksanakannya.
5. Menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran.

Hak Pasien
Adalah hak-hak pribadi yang dimiliki manusia sebagai pasien :
1. Hak memperoleh inIormasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di
rumah sakit.
2. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur.
3. Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan
standar proIesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi.
4. Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar proIesi
keperawatan.
5. Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya
dan sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit.
6. Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan
pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar.
7. Hak atas second opinion / meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.
8. Hak atas privacy dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data
medisnya kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku.
9. Hak untuk memperoleh inIormasi / penjelasan secara lengkap tentang
tindakan medik yang akan dilakukan terhadap dirinya.
10.Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh
dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya.
11.Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan
mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah
memperoleh inIormasi yang jelas tentang penyakitnya.

12.Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribadat dan atau
masalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang kematian).
13.Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu
ketertiban & ketenangan umum / pasien lainnya.
14.Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit.
15.Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit
terhadap dirinya.
16.Hak menerima atau menolak bimbingan moril maupun spiritual.
17.Hak transparansi biaya pengobatan / tindakan medis yang akan dilakukan
terhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran).

2.5 Peran Dokter dalam Penegakan HAM bidang Kesehatan
12
1.Terapi dan rehabilitasi
O Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar proIesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien
Di dalam memberikan pelayanannya seorang dokter harus dapat
memberikan pelayanan kepada pasien sesuai dengan standar proIesi dan
standar prosedur operasional (sesuai dengan Undang Undang No. 29
Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Pasal 50), adapun standar prosedur
operasional seorang dokter sebelum melakukan tindakan medis terhadap
pasien adalah:
a. Memberikan keterangan yang sebenar benarnya tentang hasil
diagnosa dan hasil setelah di lakukannya suatu tindakan medis kepada
pasien.
b. Melakukan tindakan medis terhadap pasien sesuai dengan kemampuan
yang telah di berikan selama pendidikan.
O InIormasi jelas dan lengkap

Sebelum tindakan atau upaya medis di lakukan terhadap pasien, pesien


sebelumnya berhak mendapatkan penjelasan tentang kondisi yang di alami
tentang kesehatannya, serta tindakan medis apa yang akan di lakukan atau di
ambil oleh dokter dalam upaya menyembuhkan pasien, termasuk lama
tindakan medis yang akan di lakukan, dan hasil serta dampak dari tindakan
medis yang akan di ambil tersebut. Salah satu hal penting yang tidak boleh
di lupakan dalam rangka memperoleh penjelasan tentang tindakan medis
yang akan di lakukan adalah pemberian inIormasi terlebih dahulu kepada
pasien. Hal hal yang perlu di sampaikan dan di inIormasikan kepada pasien
adalah:
a. Alasan perlunya di lakukan tindakan medis terhadap pasien yang
bersangkutan.
b. Lamanya proses upaya medis yang akan di lakukan.
c. Resiko dari tindakan medis yang akan di lakukan terhadap pasien.
d. Dampak susulan pasca tindakan medis dan keuntungan terapi medis
yang akan di lakukan.
e. Masih ada tindakan medis alternatiI atau tidak.
I. Kerugian yang akan di alami, jika menolak tindakan medis tersebut.
InIormasi tersebut cukup di sampaikan secara lisan dengan
memperhatikan tingkat pendidikan dari pihak pasien. Tentunya dalam
penyampaian ini di perlukan seni tersendiri agar yang bersangkutan mampu
memahami dan kemudian menyetujuinya, sebab pemberian inIormasi akan
menjadi sia- sia jika pada akhirnya pihak pasien menolak tindakan medis
yang akan di lakukan oleh dokter. Dokter baru dapat menjalankan dan
melaksanakan terapi medis setelah mendapatkan persetujuan dari pihak
pasien atau keluarganya.

O Terapi Iisik dan psikik serentak


Selain mengobati Iisik pasien, dokter juga harus melakukan terapi
terhadap psikis pasien. Setelah melakukan terapi terhadap pasien, seorang
dokter juga berperan penting dalam rehabilitasi pasien. Rehabilitasi yang
akan dijalani oleh pasien adalah:
1.1 Rehabilitasi Psikis
Dalam melakukan rehabilitas ini, harus diperhatikan dampak jangka
pendek dan jangka panjang yang akan dijalani oleh pasien. Kejadian-
kejadian yang sudah menimpa pasien akan menimbulkan dampak
kognitiI dan emosional pada pasien, seperti gelisah, dan depresi.
1.2 Rehabilitasi Somatis
Tujuan dilakukan rehabilitasi ini setelah dilakukan terapi pada pasien
adalah agar Iungsi Iisik penderita benar-benar mendekati Iungsi Iisik
sebelum sakit. Suksesnya rehabilitasi ini juga akan membuat kualitas
hidup pasien kembali normal dan tetap produktiI.
1.3 Rehabilitasi Sosial
Tujuan dilakukannya rehabilitasi sosial adalah agar pasien dapat
kembali ke masyarakat. Keberhasilan rehabilitasi sosial ini tergantung
kepada situasi politik dan status politik korban, keadaan sosial-
ekonomi dan adanya kompensasi Iinansial, dan pendampingan yang
holistik. Pendekatan spiritual juga dapat dilakukan pada rehabilitasi ini
agar tujuan dilakukannya kegiatan ini bisa dicapai dengan maksimal.
1.4 Rehabilitasi Yuridis
Rehabilitasi yuridis dilakukan agar pasien mendapatkan kepastian
hukum untuk mendapatkan pengakuan bahwa telah terjadi pelanggaran
HAM terhadap dia. Jika telah didapatkan pengakuan, hukuman yang
setimpal akan didapatkan oleh pelaku pelanggaran HAM tersebut.

2.Cegah pelanggaran HAM

Pelanggaran terhadap HAM dapat memunculkan masalah kesehatan yang


serius, seperti kasus KDRT, penganiayaan terhadap istri atau anak,
pemerkosaan, dan perbudakan. Karena hak atas kesehatan termasuk hak asasi
manusia yang telah diatur oleh berbagai macam instrumen internasional
maupun nasional, maka tindakan-tindakan yang menyebabkan gangguan
Iungsi tubuh dan kesehatan pada korban, dianggap telah melanggar hak
korban.
Selain itu, kebijakan dan program kesehatan juga bisa memunculkan
pelanggaran HAM, misalnya Program Askeskin yg kurang dimonitor secara
baik sehingga akses masyarakat miskin terhadap kesehatan menjadi sulit dan
terdiskriminasi. Hal ini bisa menyebabkan tidak terpenuhinya hak kesehatan
banyak orang.
Oleh karena itu, peran dokter yang diharapkan adalah berani bicara dan
berani menentang apapun hal yang bisa menyebabkan orang tidak
mendapatkan haknya, seperti berani menentang perbudakan di wilayah yang
masih menggunakan sistem perbudakan dan berani bicara di instansi-instansi
pemerintahan untuk memperbaiki sistem pelayanan kesehatan. Dokter juga
harus mendukung sejawatnya yang berani menentang pelanggaran HAM,
karena ancaman-ancaman pasti akan datang kepada siapapun yang berani
melawan keputusan dan kebijakan yang sudah lama berjalan, walaupun
kebijakan tersebut telah merugikan banyak pihak, sebagaimana tertuang di
Declaration of Tokyo 1975.

3.Turut menegakkan hukum (dokumentasi, keterangan medik)
Dokter memiliki peran yang sangat besar dalam menegakkan hukum.
Pendokumentasian bukti medis pelanggaran HAM merupakan hal yang sangat
penting dalam penegakkan HAM. Pembuktian medis dilakukan dengan
dokumentasi Iorensik. Dengan ini, dokter bisa menghubungkan temuan
dengan aduan, tentang ada atau tidaknya penyiksaan dan cara penyiksaannya.

Keterangan medis dilaporkan kepada yang berwenang dan dokter tidak


boleh menghilangkan atau memalsukan bukti yang ditemukan pada
pemeriksaan. Jika dokter ketahuan memalsukan bukti, maka dokter bisa
dianggap menghambat penegakan HAM. Keterangan medis yang disampaikan
adalah semua temuan dan interpretasinya.
Berdasarkan Declaration of Tokyo (1975), tertulis peranan dokter dalam
menegakkan HAM. Isi deklarasi tersebut dituangkan dalam pernyataan di bawah
ini:
13
Dokter tidak akan memberikan tempat, instrumen, bahan atau pengetahuan
untuk memIasilitasi praktek penyiksaan atau bentuk lain dari perlakuan kejam, tidak
manusiawi atau merendahkan atau untuk mengurangi kemampuan korban untuk
menolak pengobatan tersebut.
Dokter tidak akan hadir selama prosedur selama penyiksaan atau bentuk lain
dari perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan yang digunakan atau
terancam.
Seorang dokter harus memiliki independensi klinis dalam memutuskan atas
perawatan yang lengkap kepada orang-orang sebagai tanggung jawab medis. Peran
Iundamental dokter adalah untuk meringankan penderitaan sesama manusia, dan
tidak ada motiI apakah pribadi, kolektiI atau politik yang akan menguasainya ini.
Dimana seorang tahanan menolak makanan dan dianggap oleh dokter sebagai
mampu membentuk penilaian terganggu dan rasional mengenai konsekuensi dari
penolakan sukarela seperti makanan, dia tidak akan tidak diberi makan artiIisial.
Keputusan untuk kapasitas tahanan untuk membentuk penilaian semacam itu harus
dikonIirmasi oleh setidaknya satu dokter independen lain. Konsekuensi penolakan
makanan akan dijelaskan oleh dokter untuk tahanan.
Asosiasi Medis Dunia akan mendukung, dan harus mendorong masyarakat
internasional, asosiasi medis nasional dan sesama dokter untuk mendukung dokter
dan keluarganya dalam menghadapi ancaman atau pembalasan dendam akibat dari

penolakan untuk membenarkan penggunaan penyiksaan atau bentuk lainnya dari


perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Hak atas kesehatan sebagai hak asasi manusia telah diakui dan diatur dalam
berbagai instrumen internasional maupun nasional. Dengan melihat dan
memperhatikan instrumen tersebut, maka sesungguhnya tiap gangguan, intervensi
atau ketidak-adilan, ketidak-acuhan, apapun bentuknya yang mengakibatkan ketidak-
sehatan tubuh manusia, kejiwaannya, lingkungan alam dan lingkungan sosialnya,
pengaturan dan hukumnya, serta ketidak-adilan dalam manajemen sosial yang mereka
terima, adalah merupakan pelanggaran hak mereka, hak-hak manusia
Dokter sebagai salah satu komponen utama pemberi layanan kesehatan kepada
masyarakat memiliki peran penting karena terkait langsung dengan mutu pelayanan
kesehatan sesuai dengan kompetensi dan pendidikan yang dimilikinya. Peranan yang
dilakukan oleh dokter dalam hal ini bisa berupa terapi, ikut mencegah pelanggaran
HAM, dan turut serta menegakkan hukum. Peran dokter dalam penegakan hukum
adalah dengan mendokumentasikan bukti medis pelanggaran HAM dan
melaporkannya kepada yang berwenang.

3.2 Saran
Dokter harus berperan serta secara aktiI dalam meningkatkan kepedulian,
monitoring serta menegakkan hak azasi manusia di bidang kesehatan yang
diharapkan dapat berdampak positiI dalam pembangunan masyarakat Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

1. AIandi, Dedi, 2008. Jurnal Ilmu Kedokteran, MARET 2008, JILID 2 Nomor
1. ISSN 1978-662X. Diakses dari : dediafandistaffunriacid//Hak-atas-
kesehatan-dalam-perspective Tanggal akses 12 Oktober 2011.
2. Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.
3. Universal Declaration oI Human Right, 1948. Diakses dari:
www.unhchr.ch/udhr/index.htm. Tanggal akses 12 Oktober 2011. Undang-
4. International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR), 1966. Diakses
dari : www.ohchr.org/english/law/ccpr.htm. Tanggal akses 12 Oktober 2011.
5. International Covenant on Economic, Social and Cultural Right (ICESCR),
1966. Diakses dari : www.ohchr.org/english/law/ccpr.htm. Tanggal akses 12
Oktober 2011
6. International Convention on the Elimination oI All Forms oI Racial
Discrimination (ICERD), 1965.
Diakses dari : www.ohchr.org/english/law/cerd.htm. Tanggal akses 12
Oktober 2011.
7. Convention on the Elimination oI All Forms oI Discrimination against
Women, 1979. Diakses dari : www.ohchr.org/english/law/cedaw.htm.
Tanggal akses 12 Oktober 2011.
8. Convention against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading
Treatment or Punishment (Torture Convention, or CAT), 1984. Diakses dari :
www.ohchr.org/english/law/cat.htm. Tanggal akses 12 Oktober 2011.
9. Convention on the Rights oI the Child (Children`s Convention, or CRC),
1989. Diakses dari : www.ohchr.org/english/law/crc.htm. Tanggal akses 12
Oktober 2011.
10.Sunarto, 2009. Ham dan Pelayanan Kesehatan. Diakses dari :
medicine.uii.ac.id/index.php/Download-document/33-HAM-dan-
Kesehatan.htm. Tanggal akses 13 Oktober 2011.
11.Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

12.Bahan kuliah yang berjudul 'Peranan Dokter Dalam Penegakan Hak Asasi
Manusia oleh Budi Sampurna.
13.Declaration OI Tokyo (1975). Diakses dari :
www.cirp.org/library/ethics/tokyo/ Tanggal akses : 14 Oktober 2011.