Anda di halaman 1dari 3
Gamelan Soepra berbeda dengan gamelan jawa. Letak perbedaannya adalah pada nadanya. Menurut Jubing Kristianto, Alumnus SMA Kolese Loyola dalam blognya, Gamelan Soepra adalah seperangkat gamelan lengkap yang dibuat khusus hingga memiliki titi laras diatonik, bukan pentatonik, hingga bisa memainkan lagu-lagu modern dari berbagai aliran. Sedangkan Gamelan Jawa bernada pentatonis. Gamelan Soepra bernada diatonik karena menggunakan deretan not tangga nada dengan 12 nada dalam satu oktaf yang terdiri dari C, C#, D, D#, E, F, F#, G, G#, A, A#, B. Sedangkan pentatonis adalah aturan nada yang terdiri dari lima jenis bunyi. Kelima jenis bunyi itu terdiri pelog (C, E, F, G, B) atau slendro (C, D, E, G, A). Gamelan Soepra awal mulanya hanya dimainkan pada saat karnaval saja. Sejak tampil di hadapan Bung Karno pada tahun 1965, Gamelan Soepra lebih dikenal banyak orang. Beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1988, Gamelan Soepra tampil di Candi Borobudur pada saat menyambut Ratu Juliana beserta suaminya dalam pertukaran pelajar Indonesia-Perancis. Presiden RI Megawati Soekarno Putri pun pernah melihat langsung pertunjukkan Gamelan Soepra pada perayaan Natal Nasional di Jakarta tanggal 27 Desember 2003. Di Tribun Jabar - Metro Bandung, Gamelan Soepra pernah menghibur penontonnya dalam konser pada tanggal 5 April 2005. “Saya tampil sebagai bintang tamu dan juga berkolaborasi dengan gamelan. Bintang tamu lainnya adalah Rifky AFI”, ujar Jubing ketika tampil berkolaborasi dengan Gamelan Soepra tanggal 3 Mei 2008 di SMA Kolese Loyola Semarang. Selain event-event luar, Gamelan Soepra sering menjadi bintang pada saat acara-acara intern SMA Kolese Loyola. Nilai di Balik Gamelan Soepra Gamelan Soepra merupakan salah satu ciri khas dari SMA Kolese Loyola. Saat ini Gamelan Soepra merupakan salah satu ekstrakurikuler di SMA tersebut. Banyak hal yang didapat ketika belajar gamelan ini tidak hanya sekedar memukul alat musik saja tetapi hal lain dapat ditemukan di sini. Seperti yang diungkapkan oleh Nadia Yudissa yang pernah menjadi anggota Gamelan Soepra, “Kalau yang kasat mata kita diajari untuk bermain musik dengan gamelan ini. Tetapi untuk moral lesson, saya belajar untuk lebih sabar, membantu teman jika ada teman yang kurang bisa sebagai salah satu bentuk peduli dengan teman (compassion)”. Senada dengan hal itu, Maria Maureen yang merupakan anggota Gamelan Soepra menambahkan, “Kita diajari untuk kompak dan mengerti satu dengan yang lain agar dalam memainkan Gamelan Soepra ini terdengar sempurna”. SMA Kolese Loyola merupakan institusi pendidikan dengan menonjolkan sisi pendidikan yang humanis. Pendidikan Humanis merupakan pendidikan dengan menggali seluruh potensi peserta didiknya dengan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. Melalui Gamelan Soepra, SMA Kolese Loyola dapat mendidik karakter peserta didik menjadi karakter humanis, menjadikan pribadi-pribadi yang unggul dan matang. “Filosofi Gamelan Soepra lebih terarah pada kecintaan akan budaya setempat yang terbuka pada budaya global sehingga memungkinkan siswa-siswi SMA Kolese Loyola menerima keunikan masing-masing dan berekspresi kreatif yang membebaskan”, ujar Pater Leonardus E.B. Winandoko, SJ, M.Ed, selaku Kepala SMA Kolese Loyola. Gamelan Soepra secara kasat mata menonjolkan aspek psikomotor peserta didik dalam hal bermain musik. Namun, di sisi lain aspek afektif siswa terlihat dalam proses belajar pada saat bermain Gamelan Soepra. Pada saat belajar memainkan Gamelan ini, peserta didik diajarkan untuk saling pengertian, saling menghargai, saling memberitahu jika teman-teman di sekitarnya kurang tepat dalam memainkan alat musiknya. Kekompakan dan kebersamaan juga ditanamkan dalam proses belajar Gamelan Soepra. Selain hal itu, dalam proses belajar Gamelan Soepra, peserta didik ditanamkan rasa memiliki terhadap kebudayaan bangsanya sendiri. Dalam aspek kognitif pun sudah tersentuh ketika peserta didik menghafalkan tangga-tangga nada yang ada dalam sebuah lagu yang akan dimainkan. Permainan Gamelan Soepra menuntut kreativitas dalam mengaransemen lagu-lagu yang akan dimainkan. Hal ini senada dengan yang diungkapkan Iwan Santoso pelatih Gamelan Soepra, “Untuk saat ini sudah ada string section, menunjukkan bahwa Gamelan Soepra yang merupakan tangga nada diatonik bisa berpadu dengan alat musik lainnya sehingga genre lagu yang dibawakan bisa lebih bervariasi”. Kreativitas ini juga tercermin dari kolaborasi alat-alat musik yang ada dalam soepra. Dalam memainkannya perlu semangat yang mencerminkan kekuatan kebersamaan antar pemain sehingga menghasilkan suara yang indah. Loyalitas yang tinggi pun diperlukan dalam memainkan Gamelan Soepra ini sebagai bentuk cintanya kepada budaya sendiri yang membedakan dengan yang lain. Pendidikan karakter peserta didik yang tertera dalam pendidikan humanis tidak hanya dilakukan dengan pendidikan formal di dalam kelas saja. Pendidikan dapat di luar kelas dan dilakukan melalui cara yang berbeda. Dengan adanya contoh dari Gamelan Soepra ini kita belajar bahwa pendidikan seni memiliki banyak nilai, baik dalam hal keterampilan, pengetahuan, maupun karakter pribadi bagi para siswa yang memainkannya. Gamelan supra sebagai musik pendidikan Di dalam pendidikan, musik menduduki posisi tertinggi. Karena tidak ada satu pun disiplin yang dapat merasuk ke dalam jiwa dan menyertai dengan kemampuan bertahap melebihi irama dan melodi. (Plato) KETIKA setiap sekolah yang ada di Indonesia ini berlomba- lomba mencari bentuk pendidikan, SMA Kolese Loyola Semarang hadir dengan pendidikan humanis yang mendidik manusia secara menyeluruh. Proses pendidikan yang berjalan tidak hanya mengembangkan sisi intelektual saja tetapi juga seni, khususnya tertuang dalam musik. Di Kolese Loyola, seni musik gamelan supra (SoegijaPranata), yang awalnya disebut sebagai gamelan kromatik diatonis, hasil perpaduan musik Timur dan Barat, digunakan sebagai sarana untuk pendidikan. Gagasan penciptaan dan pengembangan gamelan supra muncul tahun 1957 sebagai sarana untuk pendidikan karakter Ignatian tidak lepas dari sosok P Henricus Constant van Deinse SJ yang seorang pastur ordo Jesuit yang humanis. "Sebagai seorang musikus, keunggulan Pater Van Diense, tidak disangsikan lagi. Di SMA Kolese Loyola, ia mengembangkan pendidikan musik, salah satunya adalah gamelan supra. Baginya, musik adalah luar biasa. Musik bisa menghibur, mengobati, dan memotivasi," ujar Romo Leonardus EB Winandoko SJ Med, Kepala SMA Kolose Loyola. Oleh karenanya, Pater Van Diense SJ, secara kreatif dan kontekstual mengembangkan musik supaya musik menjadi lebih menyenangkan dan menggembirakan. Musik yang menyenangkan dan menggembirakan memberi semangat hidup bagi para pemainnya. Ia mengembangkan gamelan sebagai sarana pendidikan di SMA Kolese Loyola ini. Gamelan Jawa yang pentatonik disulap dengan kreativitasnya menjadi gamelan supra yang diatonik sehingga tidak hanya dapat memainkan gendhing- gendhing karawitan Jawa tetapi juga dapat memainkan berbagai macam jenis lagu. Pendeknya, gamelan supra tidak hanya mampu memainkan musik-musik gaya Jawa yang nota bene bernotasi pentatonis tapi juga mampu memainkan berbagai macam musik lain seperti pop, Jazz, bahkan klasik yang bernotasi diatonis. Diakui banyak ahli bahwa musik pada dasarnya mempunyai pengaruh besar terhadap hidup manusia. "Di dalam kelas, musik memberikan kesempatan berinteraksi sosial secara total dalam lingkungan yang tidak menakutkan, musik dapat meningkatkan semangat hidup, musik dapat meningkatkan rasa harga diri, percaya diri, dan menanamkan harapan dalam setiap kesempatan, " ujar Romo Winandoko lagi. Hal inilah yang dilakukan oleh Pater van Diense SJ dengan gamelan supra. Ia menggunakan gamelan yang bercirikan kebersamaan satu team ini sebagai sarana untuk menerjemahkan semangat Ignatian dalam membentuk karakter Ignatian para pemainnya. Pada tahun-tahun awal pendiriannya, gamelan pendidikan ini sering dimainkan dalam pawai atau karnaval di dalam maupun di luar kota Semarang. Supra memikat hati masyarakat berkat kekhasan yang dimiliki. Dalam setiap HUT Kolese Loyola, supra ditampilkan sebagai maskotnya. Pada tahun 1974 (HUT ke-25) dan 1984 (HUT ke-35), Supra Page 13 tampil di GOR Semarang (kini Mal Ciputra). Pada Ultah Loyola ke-30 dan 33, supra ditampilkan di Wisma Pancasila (kini Plasa Simpanglima). Tiga even besar lainnya adalah tampilan supra pada saat kunjungan Ratu Juliana ke Indonesia pada tahun 1988 di Candi Borobudur, saat perayaan Natal Nasional di Jakarta, dan yang terakhir tampil di tengah-tengah warga Bandung pada tahun 2005. Kini, pada tahun 2009, gamelan supra tengah bersiap tampil dalam pembukaan Loyola Education Fair (LEF) yang berlangsung 5-6 September 2009. Kegiatan ini sendiri termasuk salah satu agenda menyongsong HUT Kolese Loyola yang akan dilaksanakan Desember mendatang. LEF 2009 sendiri hadir dengan memadukan wawasan mengenai perguruan tinggi dalam negeri dan juga pendidikan tinggi di luar negeri. Hal ini menjadi tanda bahwa Loyola dengan gamelan supra serta LEF 2009 mengajak setiap orang untuk terbuka terhadap wawasan yang lebih luas. "Gamelan supra menawarkan kecintaan terhadap budaya lokal dan sekaligus mampu berdialog dengan budaya lain," tambah Romo Winandoko. Tahun terus menerus berganti, tetapi semangat pendidikan musik yang diwariskan Pater van Deinse masih terus membara dalam setiap jiwa yang ada di SMA Kolese Loyola. Kini dalam asuhan Wastu, gamelan supra mencoba dipadukan dengan musik band, yang menjadi salah satu simbol kaum muda. Gamelan tidak hanya berhenti pada dua atau tiga generasi setelah van Deinse. Tetapi gamelan juga bisa menjadi jiwa anak muda saat ini. Gamelan supra tetap exist sebagai sarana untuk membangun karakter individu yang lebih disiplin dan terbuka wawasan budaya. "Individu yang tidak hanya mengembangkan seluruh potensi bakat kemampuannya, tetapi juga yang sanggup untuk hidup bersama dan bagi yang lain. Be men and women with and for others," tandas Romo Winandoko.