Anda di halaman 1dari 7
TUGAS INDIVIDU SEJARAH TERBENTUKNYA TIAP SILA DALAM PANCASILA Disusun Oleh : Istianah Maryam Jamilah (11/315747/KH/7098) FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS GAJAH MADA YOGYAKARTA 2011 PENDAHULUAN Lahirnya sila-sila yang terkandung dalam pancasila berasal dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia sejak sebelum merdeka hingga merdeka. Sila sila yang terkandung merupakan nilainilai cerminan hidup bangsa Indonesia dan tujuan hidup bangsa Indonesia. Sejak masa kerajaan, penjajahan hinggi pra dan pasca kemerdekaan. Lahirnya pancasila memang merupakan ideologi yang paling sesuai dengan bangsa Indonesia karena latar belakang sejarahnya. Bangsa Indonesia memiliki latar belakang sejarang yang luar biasa sejak Kerajaan Hindu-Budha, penjajahan Portugis, Penjajahan Belanda, Penjajahan Inggris, dan Penjajahan Jepang membuat karakter bangsa Indonesia special dibanding negara-negara Asia lainya. Kelahiran pancasila adalah sesuatu yang luar biasa buah pemikiran anak bangsa. Setiap sila yang terkandung dalam pancasila memiliki sejarah yang berbeda sesuai dengan latar belakangnya. Kehadiran sila ke-1, ke-2, ke-3, ke-4, dan ke-5 tidak semerta-merta dibuat oleh „’the founding fathers‟‟ atau para pendiri Negara Indonesia tetapi merupakan kepribadian bangsa yang berasal dari proses panjang negara Indonesia. Perumusan Pancasila melalui tahap yang panjang dimulai ketika siding BPUPKI oleh M.Yamin dan Ir. Soekarno dalam pidatonya mencetuskan 5 azas yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila, kemudian pada sidang PPKI di dapatkanlah kata mufakat untuk menentukan Pancasila yang sebenarnya, kemudian setelah itu ada perubahan khususnya di sila pertama yang agak menuai kontroversi. Namun setelah dilakukan pembicaraan yang mendalam ditemukanlah kata sepakat untuk merevisi sila pertama dan jadilah pancasila yang sampai sekarang masih diakui keberadaanya di Indonesia. I. SILA KE- 1 KETUHANAN YANG MAHA ESA Lambang Sila ke-1 ‘’Bintang’’ Asal mula munculnya sila pertama berawal dari mayoritas bangsa Indonesia telah memeluk Agama. Dimulai dari kerajaan Hindu yang pertama di Kutai, Kalimantan Timur kemudian kerajaan Sriwijaya yang beragama Budha. Berdasarkan sejarah Hindu dan Budha masuk ke Indonesia sekitar abad kedua dan abad keempat masehi oleh pedagang dari India yang datang ke Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Dengan banyaknya kerajaan-kerajaan kaya yang berlatar belakang agama Hindu dan Budha maka penyebaran agama ini menjadi sangat pesat. Pada abad ke-7 pedagang Arab, Persia, dan India masuk ke wilayah Indonesia dan menyebarkan agama Islam. Proses Islamisasi pelalui perdagangan sangatlah efef dari cara-cara lainnya (Badrika, 2006). Karena syarat masuk Islam sangatlah mudah dan lebih fleksibel dalam peribadatannya agama Islam sangat cepat berkembang dan menyebar keseluruh pelosok negeri selain itu.. Kehadiran kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia juga memperkuat agama Islam. Pada masa penjajahan Portugis tahun 1512 agama Katolik masuk ke Indonesia, menyebar ke daerah Flores, Sulawesi dan Indonesia Timur. Pada tahun 1596, Belanda masuk ke Indonesia dan membawa agama Kristen Protestan. Dari sejarah tersebut munculah 5 agama besar yang diakui di Indonesia yaitu Hindu, Budha, Islam, Katolik, dan Kristen Protestan. Dengan begitu bangsa Indonesia menyatakann kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Karena memang sejarah Indonesia yang menyebabkan timbulnya agama-agama itu munculah kepribadian bangsa yang percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaanya masing-masing. Karena adanya perbedaan 5 agama ini manusia Indonesia dituntut untuk dapat menerima pluralitas, menjaga kerukunan dan memiliki sikap saling hormat-menghormati antar umat beragama. Hal ini adalah cerminan sekaligus tujuan masa depan bangsa Indonesia yaitu menciptakan Negara yang bertakwa dan rukun. Lima Dasar oleh Muhammad Yamin, yang berpidato pada tanggal 29 Mei 1945 menuliskan Peri ketuhanan sebagai cikal bakal sila pertama Ini. Kemudian Panca Sila oleh Soekarno yang dikemukakan pada tanggal 1 Juni 1945 dalam pidato spontannya yang kemudian dikenal dengan judul "Lahirnya Pancasila" memasukkan unsur ketuhanan dalam pidatonya. Pada Piagam Jakarta Sila Pertama tercantum dengan kalimat ‟‟ Ke Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari'at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Namun, wakil-wakil dari Indonesia daerah Kaigun (Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan), diantaranya A. A. Maramis, Mr., menemui Sukarno menyatakan keberatan dengan rumusan “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk ikut disahkan menjadi bagian dasar negara. Untuk menjaga integrasi bangsa yang baru diproklamasikan, Sukarno segera menghubungi Hatta dan berdua menemui wakil-wakil golongan Islam. Semula, wakil golongan Islam, diantaranya Teuku Moh Hasan, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Ki Bagus Hadikusumo, keberatan dengan usul penghapusan itu. Setelah diadakan konsultasi mendalam akhirnya mereka menyetujui penggantian rumusan “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan rumusan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sebuah “emergency exit” yang hanya bersifat sementara dan demi keutuhan Indonesia yang di umumkan pada sidang PPKI dan bertahan menjadi Sila Pertama Pancasila yang telah disahkan. I wayan Badrika Sejarah Untuk SMA kelas XI Erlangga Jakarta 2006 II. SILA KE-2 KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB Lambang sila ke-2 ‘’Rantai’’ Masyarakat Indonesia yang heterogen dari berbagai jenis kalangan, suku, ras dan budayanya tentu memiliki banyak perbedaan. Namun manusia Indonesia harus menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, keadilan dan adab berbangsa dan bernegara. Dijajah oleh Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang membuat Indonesia selalu mendambakan kemanusiaan yang adil dan beradab. Di perlakukan buruk selama beratus-ratus tahun, dipaksa kerja Rodi, Romusha, Jugun Lanfu, Tanam paksa yang menginjak-injak peri kemanusiaan membuat bangsa Indonesia bercita cita menciptakan negara yang menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab. Masa lalu yang kelam inilah menjadi rintisan bahwa masyarakat Indonesia harus mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia, saling mencintai sesama manusia, tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain, dan berani membela kebenaran dan keadilan Menurut sidang BPUPKI, Soekarno mencetuskan sila ini „‟Internasionalisme dan peri kemanusiaan‟‟ lalu semakin berkembang pada Piagam Jakarta menjadi „‟Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab‟‟ yang kemudian disahkan pada siding PPKI menjadi sila kedua yaitu „‟Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab‟‟. III. SILA ke 3 PERSATUAN INDONESIA Lambang Sila ke-3 ‘’Pohon Beringin’’ Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau, suku, agama, ras dan budayanya sangat rentan dengan perpecahan. Adanya banyak kepentingan golongan mengakibatkan seringnya terjadi kesalahpahaman dan perselisihan. Pada masa Pra-Kemerdekaan masyarakat di seluruh Indonesia bersatu padu tidak membedakan latar belakang berusaha merebut kemerdekaan dari tangan Jepang Belanda. Sehingga Indonesia bisa mencapai kemerdekaan. Tanpa adanya persatuan dan kesatuan maka negara Indonesia tidak akan terbentuk dan rakyat Indonesia tidak akan dapat merebut kemerdekaan dari para penjajah. Sila ini juga merupakan cita-cita dan landasan hidup bangsa yaitu Menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan, dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi atau golongan, cinta tanah air, dan Bhinneka Tunggal Ika.. Pda siding BPUPKI sila ini tercantum dengan nama „‟Kebangsaan Indonesia‟‟ kemudian pada Piagam Jakarta diganti dengan „‟ Persatuan Indonesia‟‟ yang disahkan pada sidang PPKI dan menjadi sila ke-3 Pancasila. IV. SILA ke 4 KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN / PERWAKILAN Lambang Sila Ke-4 ‘’Kepala Banteng’’ Perjuangan bangsa Indonesia awalnya bermula dengan cara perang dan fisik, dengan „‟bambu runcing‟‟ rakyat Indonesia berjuang mewujudkan kemerdekaan dan mengusir penjajah. Namun hal ini tidak berhasil, justru karena pemuda-pemuda Indonesia yang bermusyawarah dan mendirikan organisasi-organisasi yang bersifat pendidikan, politik, agama dan kedaerahan mewujudkan musyawarah dimana Rakyat Indonesia harus mendapatkan Kemerdekaan. Para cendekiawan muda melakukan musyawarah-musyawarah melalui jalan diplomasi dengan pemerintah Belanda. Jumlah penduduk yang sangat banyak dengan keberagamanya yang ada di Indonesia juga menyebabkan akan timbulnya banyak permasalahan dan perbedaan pendapat. Untuk itu „‟the founding fathers‟‟ mencetuskan bahwa dalam pengambilan keputusan haruslah melalui permusyawaratan untuk mencapai kata mufakat agar tidak terjadi pertikaian. Pada sidang BPUPKI sila ini tercantum dengan „‟Mufakat atau demokrasi‟‟, kemudian pada Piagam Jakarta yaitu ‟‟Kerakyatan Yang Di pimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan V. SILA KE-5 KEADILAN SOSIAL BAGI SELURUH RAKYAT INDONESIA Lambang Sila Ke-5 „‟Padi dan Kapas‟‟ Pada masa penjajahan Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang Indonesia hidup dalam ketidakadilan, hak-hak sosial bangsa Indonesia di injak-injak oleh para penjajah. Sehingga para pendiri negara ini menginginkan adanya keadilan social yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia. Keadilan sosial tersebut antara lain adalah mengembangkan perbuatanperbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotongroyong, bersikap adil, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak-hak orang lain, dan Bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial. Pada Sidang BPUPKI sila ini masuk dalam butir ke-empat yaitu „‟ Kesejahteraan Sosial‟‟ lalu pada Piagam Jakarta diubah dengan kalimat „‟Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia‟‟ dan menjadi sila kelima.