Anda di halaman 1dari 4

Aku Ingin Seperti Aisyah!! Khansa menatapku sambil mengulum senyum.

Gerak-geriknya mencurigakan, seperti ada yang ia sembunyikan. Sebuah rahasia besar kah? Aku begitu penasaran dengan sikapnya yang tidak biasa ini. Walau baru sekitar dua minggu aku di sini, tapi aku telah menganggapnya seperti adikku sendiri. Adik kecil yang manis dan menggemaskan. Lalu Khansa mendekati ranjangku di mana aku sedang berbaring penuh luka yang disebabkan oleh Tentara Israel yang tidak berperikemanusiaan. Mereka sama sekali tidak mempedulikan peraturan yang ada. Sama sekali tidak menghargai kode etik pers! Aku ini wartawan tapi tetap saja menjadi sasaran mereka. Beruntungnya diriku, alhamdulilah, berkat pertolongan Khansa dan kakaknya, Hilal. Dan disinilah aku sekarang, di gubuk mungil yang ditingali oleh Ummu Hilal, Hilal, dan Khansa. Hilal adalah kakak laki-laki Khansa yang berumur du belas tahun, sedangka Khansa baru berusia tujuh tahun. Abi mereka telah syahid tiga tahun yang lalu, di bawah popor senapan para tentara itu. “Kaifa Haaluka, Kak Fadhil?” “Alhamdulillah, Khansa. Hanya saja, luka-luka ini begitu lama keringnya. Tetapi sangat jauh lebih baik dibandingkan pertama kali aku di sini ditambah melihat senyuman adik kecil kakak ini. Ada apa ya hari ini? Khansa terlihat begitu bahagia, limaadza yaa Khansa Jamiilah?” “Maafi, Kak! Hanya...ah, kakak kan tahu aku sudah tujuh tahun!!” “Lalu?” aku menelengkan kepalaku hingga bisa menatap Khansa lebih jelas. Senyumnya yang sedari tadi dikulum berubah dengan senyuman lebar yang penuh dengan keceriaan. Ahh...begitu jarang aku melihat senyuman seperti itu dari wajah anak-anak di bumi Palestina ini. Kebanyakan dari mereka menampakkan mimik sedih atau begitu serius dengan tekad menggebu-gebu. Mungkin hal itu disebabkan oleh teror-teror yang terus membayangi kanan, kiri, depan dan belakang. Berjalan-jalan di gang sempit pun menjadi sebuah ketakutan. Permainan melempar batu pada tank-tank Tentara Israel adalah permainan favorit mereka. Bahkan ketika liburan sekolah tiba, mereka melewati perbatasan-perbatasan demi menyelundupkan senjata-senjata ke dalam tubuh mereka. Ke dalam tubuh itu adalah benar-benar ke dalam tubuh. “Kak? Kakak kok melamun? Tidak mau mendengar cerita Khansa?” “Eh, oh, iya...coba ceritakan mengapa Khansa sangat bahagia hari ini.” Kataku sambil menepis bayangan di kepalaku pada wajah ceria gadis kecil di hadapanku ini.

. Kebahagiaan akan selalu ada walau konflik dan teror mengintai di belakang punggung mereka.boleh aku ikut denganmu?” “Tidak. Mi!” “Ya. jangan lupa Ummi!!” “Kholas yaa jamiilah. “Ummi.ah bisakah kau bayangkan... walau nyeri masih terasa di sekitar dada dan perutku yang terkena peluru. Rasanya kemerdekaan yang didambakan anak-anak serta warga Palestina ini tidak dimanfaatkan baik oleh pemuda-pemuda di * “Ummi.... tidak! Kau di rumah saja.” Ummu Hilal pergi. “Na’am ya binti. Seruan-seruan Khansa pada Umminya menyemarakkan suasana pagi. Mereka hanya bermain-main di sekolah bahkan mereka terkadang membolos dan berbohong kepada orangtuanya. Pagi ini gubuk mungil yang kutempati ini begitu ramai. Betapa sekolah sangat diinginkannya. kau harus menjaganya. ana saadzhab ilal madrasah” berulang-ulang sambil tertawa senang. Ummi akan ke pasar membeli keperluan-keperluan sekolah Khansa yang akan bersekolah beberapa hari lagi.. .. Aku jadi teringat anak-anak di negeriku. “Sekolah. assalamu’alaikum. Lalu ia menyanyikan kata-kata: “ana saadrus.“Satu minggu lagi liburan sekolah akan usai!! Tahu umurku. Aku hanya tersenyum melihat drama romantis itu di hadapanku. buku sekolah!!” seru Khansa bersemangat...” “Alat tulis. Barangkali Kak Fadhil membutuhkan sesuatu. tanganku yang patah sedikit lebih baik..sekolah.” jawab Ummi sabar. Alhamdulillah hari ini aku sudah dapat berdiri dan menggerakkan kakiku.baiklah Ummi.. Kak?!!!” negeriku.buku sekolah...” “Hupff.” “Wa’alaikumsalam. Aku akan segera menghubungi teman-teman di Mesir sana setelah aku lebih pulih. Kak?” “Tujuh tahun?” “Yep!” “Apa artinya itu?” “Tahun ini aku sekolah!! Ana saadzhab ilal madrasah ma’a akhi Hilal!!!” Seru Khansa sambil melompat-lompat girang.... Hati-hati ya. pintu menutup dan Khansa menari-nari riang..

impian akan tercapai karena Allah mendengar doamu yang sangat menginginkan impian itu. Fadhil. anakku. Mungkin dia telah berangkat terlebih dulu. Jangan menangis. Tak ingin mengganggu mereka. Ia telah menyusul ayahmu. padat. ‘afwan kami harus meninggalkanmu sendiri di rumah kami. Madrasah. ayo kita juga berangkat. Assalamu’alaikum. sebuah kalimat dari sebuah novel yang menggugahku untuk menjadi seorang wartawan di daerah konflik dan disinilah aku walau dengan tubuh lemah. Beringsut ke ranjangku dan duduk di sana.” “Ya sudahlah.. Syahid lebih mulia daripada hidup dalam kenistaan. Hilal syahid.” “Tidak apa-apa.” “Syukron. aku mengetahui bahwa sekolah tempat Hilal bersekolah . “Apa yang terjadi. Saya akan menjaga rumah Anda. Dan mendengar jawaban itu. Sesuatu pasti telah terjadi. “Madrasah. Ummi. Tapi percayalah. Hal-hal ini mungkin dikarenakan karena memang ada yang lebih mendesak atau ada sesuatu hal yang menghalang-halangi terkabulnya impian besar itu.” aku mendengar Khansa tak henti menyenandungkan kata itu dengan riang gembira. Ummi?” “Hilal syahid. Khansa?” “Ma’aroftu ya Ummi. Khansa dan Ummu Hilal pergi.” Ummu Hilal terus menghibur putrinya. pasti ia sangat senang. Madrasah. Mereka pulang sangat cepat. kau tahu itu. sayang.. tidak sampai satu jam mereka pergi. Tapi terkadang impian yang akan tercapai lalu tertunda dengan tiba-tiba akan membuat sakit yang amat sangat. “Dimana Hilal? Dimana abangmu itu.” Singkat.” “Wa’alaikumsalam. * “Apa yang terjadi?” tanyaku refleks dan kaget ketika melihat airmata dan isakan Khansa serta wajah Ummu Hilal yang mendung. seperti tanpa beban.* Terkadang impian besar kita harus menunggu terlebih dulu.. Jangan menangis lagi. Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu.. Hilal bagaikan seorang kakak sekaligus ayah baginya. Dari pembicaraan ibu dan anak itu. Membiarkan mereka bebas melepas dukanya. aku tak berani bertanya lagi. “Jangan sedih. dan jelas.” Jawabku. Fadhil kau memang sangat baik. Khansa memang sangat dekat dengan Hilal. berbanding terbalik dengan keadaan sebenarnya terjadi.

Aku ketinggalan. Sebuah tekad kuat telah menancap di hatinya.” “Kau masih bersemangat sekolah?” “Tentu saja. telah hancur itu. mereka teringat akan Hilal dan ketika mereka kembali ke sekolah itu. Tentara Israel itu akan ku buat malu!!!” wajah lucu Khansa berubah. sebuah tekad dan janji terucap di hatiku. Segera. tak ada apa-apa disana. Kak. Kak!” “Ah ya. mengapa kau sangat bersemangat bersekolah? Ini yang selalu ingin kutanyakan pada adik kecilku ini. bagaimana dengan sekolahmu?” “Mungkin harus menunggu satu tahun lagi.” “Kata Abi dulu. kami harus sekolah karena sekolah akan membawa kemerdekaan untuk negeri ini. Rasulullah bahkan mewajibkan kita untuk belajar. aku akan membawa negeriku ke kemerdekaan!! Tunggu saja. Depok.dan Khansa akan mendaftar itu dibom di depan mata mereka. Hanya puing-puing dan asap tebal menyelimuti bangunan yang * “Kau masih sedih?” “Tentu saja. setelah aku sembuh. Mereka berlari menyelamatkan diri dan ketika di pertengahan jalan. tapi aku harus kuat. tak terkecuali dia laki-laki atau perempuan. Lalu setelah aku sepintar dia. Sekolah-sekolah di tempat lain telah penuh. Aku akan membawa teman-temanku ke sini dan membangun sebuah sekolah untuk mereka. Lalu. 8 Januari 2009 .” “Jadi.” “Hanya itu??” “Aku ingin seperti Aisyah binti Abu Bakar!!! Ia adalah muslimah yang sangat pintar.