Anda di halaman 1dari 18

IMPLEMENTASI ETIKA DALAM PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK DI INDONESIA A.

Pendahuluan Dewasa ini administrasi publik menghadapi tantangan yang cukup pelik sebagai akibat dari adanya tuntutan masyarakat yang semakin beragam, sementara itu sumber daya yang dimiliki sangat terbatas baik dalam jumlah maupun kualitasnya. Oleh sebab itu administrasi publik dituntut untuk mampu menjawab berbagai tantangan dari persoalanpersoalan yang ada dengan menempuh beragam cara yang dapat dilakukannya. Salah satu cara yang dapat ditempuh guna menjawab tantangan itu adalah dengan melakukan reformasi administrasi publik. Reformasi administrasi publik dilakukan pada berbagai aspek yang melingkupinya. Salah satu aspek yang penting diperhatikan dalam proses reformasi administrasi publik adalah aspek etika dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat atau yang lebih dikenal sebagai etika dalam pelayanan publik. Etika dalam pelayanan publik bagi aparatur pemerintah baik di pusat maupun di daerah sering kurang tersentuh dalam kajian-kajian bidang administrasi publik yang dilakukan selama ini, padahal kinerja pelayanan publik sangat ditentukan oleh etika para aparatur yang melaksanakan pelayanan tersebut. Bila aparatur pemerintah memahami dan menerapkan etika dalam memberikan pelayanan secara benar maka kinerja pelayanan diharapkan akan meningkat dan memenuhi keinginan masyarakat yang dilayani. Sebaliknya, apabila etika tersebut tidak dipahami dan dilaksanakan secara benar maka kinerja pelayanan menjadi buruk dan akan timbul banyak komplain dari masyarakat yang dilayani.

1

yang seharusnya terbuka. yaitu suatu aturan. profesional dan akuntabel.Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kinerja pelayanan publik yang diberikan oleh aparatur pemerintah pusat dan daerah kepada masyarakat belum berakar pada normanorma etika yang benar. prinsip-prinsip moral dan nilai tersebut biasanya diwujudkan dalam bentuk suatu kode etik (code of ethic). Berdasarkan uraian pada latarbelakang mengenai kondisi kinerja pelayanan publik di pusat dan daerah maka dapat dirumuskan permasalahan yang dibahas adalah: Bagaimanakah implementasi etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh aparatur pemerintah di pusat dan di daerah saat ini? B. Fenomena lain yang terlihatdi lapangan menunjukkan bahwa pola pelayanan aparat pemerintah cenderung sentralistik dan didominasi pendekatan kekuasaan. sosial. sehingga kurang peka terhadap perkembangan ekonomi. Secara konkrit. Dalam arti yang sempit. Prinsip-prinsip tersebut kemudian diakui dan diterima oleh individu atau suatu kelompok sosial sebagai sesuatu yang mengatur dan mengendalikan tingkah laku serta menentukan hal yang baik dan hal yang buruk untuk dilakukan. pelayanan publik adalah suatu tindakan pemberian barang dan jasa kepada masyarakat oleh pemerintah dalam rangka tanggung 2 . Kerangka konseptual Secara umum etika diartikan sebagai suatu susunan prinsip-prinsip moral dan nilai. 2005). budaya dan politik masyarakat. sistematau standar yang memuat prinsip-prinsip mengelolamoralitas dan tingkah laku yang diterima (accepted conduct) dalam suatu lingkungan masyarakat(LAN. Etika Pelayanan Publik memiliki dua arti yaitu: arti sempit dan arti luas. Menurut Keban (2005:2-3). Implikasi dari ketidakhadiran (absence) etika dalam pelayanan publik yang paling dirasakan masyarakat adalah perilaku aparatur yang diskriminatif dan tidak efisien.

berdasarkan jenis dan intensitas kebutuhan masyarakat. dan proses manajemen dimanfaatkan untuk menyukseskan pemberian pelayanan publik. konsep pelayanan publik (public service) identik dengan public administration yaitu berkorban atas nama orang lain dalam mencapai kepentingan publik (J. Barang dan jasa yang terbaik adalah yang memenuhi apa yang dijanjikan atau apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. baik diberikan secara langsung maupun melalui kemitraan dengan swasta dan masyarakat. 1988). pendidikan. Dalam arti yang luas. Tujuan pelayanan publik adalah menyediakan barang dan jasa yang terbaik bagi masyarakat. transportasi. Telah disadari oleh berbagai pihak 3 . kesehatan. Dengan demikian pelayanan publik yang terbaik adalah yang memberikan kepuasan terhadap publik. air bersih. Pelayanan publik ini dapat dilihat sehari-hari di bidang administrasi. kalau perlu melebihi harapan publik. Dalam konteks ini pelayanan publik lebih dititik beratkan kepada bagaimana elemen-elemen administrasi publik seperti policy making. perumahan. Berdasarkan konsep etika dan pelayanan publik di atas maka yang dimaksudkan dengan etika pelayanan publik (delivery system) yang didasarkan atas serangkaian tuntutan perilaku (rules of conduct) atau kode etik yang mengatur hal-hal yang “baik” yang harus dilakukan atau sebaliknya yang “tidak baik” agar dihindarkan. Perry. Isu tentang etika dalam pelayanan publik di Indonesia kurang dibahas secara luas dan tuntas sebagaimana terdapat di negara maju. atau moral atau right rules of conduct (aturan berperilaku yang benar) yang seharusnya dipatuhi oleh pemberi pelayanan publik atau administrator publik (Denhardt. desain organisasi. etika diartikan sebagai filsafat dan professional standard (kode etik). dan sebagainya. bank. kemampuan masyarakat dan pasar. keamanan. 1989: 625).L. telekomunikasi.jawabnya kepada publik. pemerintah merupakan pihak provider yang memberi tanggung jawab. Konsep ini lebih menekankan bagaimana pelayanan publik berhasil diberikan melalui suatu delivery system yang sehat. Dalam dunia adiministrasi publik atau pelayanan publik.

dalam literature tentang pelayanan publik dan adminidtrasi publik. Misalnya. etika merupakan salah satu elemen yang sangat menentukan kepuasan publik yang dilayani sekaligus keberhasilan organisasi pelayanan publik itu sendiri. Padahal. desain struktur organisasi pelayanan. sampai pada manajemen pelayanan untuk mencapai tujuan akhir dari pelayanan tersebut. tidak mudah pula mencapai kedewasaan dan otonomi beretika karena penuh dengan dilemma. kebebasan (liberty). dengan menggunakan nilai-nilai moral yang berlaku umum (six great ideas) seperti nilai kebenaran (truth). dapat dipastikan bahwa pelanggaran moral atau etika dalam pelayanan publik di Indonesia akan terus meningkat. pusat perhatian ditujukan kepada aktor yang terlibat dalam setiap fase. dan keadilan (justice). Elemen itu harus diperhatikan dalam setiap fase pelayanan publik mulai dari penyusunan kebijakan pelayanan. dan dusta atau tidak dalam melaporkan hasil manajemen pelayanan. Dalam rangka menjelaskan mengenai kaitan antara etika dengan pelayanan publik Keban (2005:3) menyatakan bahwa: saran klasik di tahun 1900 sampai 1929 untuk memisahkan 4 . termasuk kepentingan aktor-aktor tersebut – apakah para aktor telah benar-benar mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan-kepentingan yang lain. Karena itu. kebaikan (goodness). Sementara itu. kesetaraan (equality).bahwa salah satu kelemahan dasar dalam pelayanan publik di Indonesia adalah masalah moralitas. Etika sering dilihat sebagai suatu elemen yang kurang berkaitan dengan dunia pelayanan publik. adil atau tidak adil dalam menempatkan orang dalam unit dan jabatan yang tersedia. perbuatan melanggar moral atau etika sulit ditelusuri dan dipersoalkan karena adanya kebiasaan masyarakat kita melarang orang “membuka rahasia” atau mengancam mereka yang mengadu. dapat dinilai apakah para actor tersebut jujur atau tidak dalam penyusunan kebijakan. kita juga menghadapi tantangan ke depan semakin berat karena standar penilaian etika pelayanan terus berubah sesuai dengan perkembangan paradigmanya. Dalam konteks ini. Dalam pelayanan publik. Secara substantive.

dan harus mengambil keputusan politik secara tepat mengenai siapa mendapat apa. berapa banyak. 1995: 400). khususnya terhadap kontribusinya terhadap public interest atau kepentingan umum (Henry. Desakan untuk memberi perhatian kepada aspek kemanusiaan dalam organisasi (organizational 5 . Padahal. tidak ada “otonomi dalam beretika”. Berdasarkan pendapat tersebut di atas diketahui bahwa alasan mendasar mengapa pelayanan publik harus diberikan adalah adanya publik interest atas kepentingan publik yang harus dipenuhi oleh pemerintah kepada pemerintahlah yang memiliki “tanggung jawab” atau responsibility. Penilaian keberhasilan seorang administrator atau aparat pemerintah tidak semata didasarkan pada pencapaian criteria efisiensi. Dalam memberikan pelayanan ini pemerintah diharapkan secara profesional melaksanakannya. kenyataan menunjukan bahwa pemerintah tidak memiliki tuntunan atau pegangan kode etik atau moral secara memadai. kapan. dsb. ekonomi dan prinsip-prinsip administrasi lainnya. tidak selamanya benar. Asumsi bahwa semua aparat pemerintah adalah pihak yang telah teruji pasti selalu membela kepentingan publik atau masyarakatnya. Akan tetapi kritik bermunculan menetang ajaran dikotomi administrasi – politik pada tahun 1930-an. sehingga perhatian mulai ditujukan kepada keterlibatan para administrator dalam keputusan-keputusan publik atau kebijakan publik. Alasan lain lebih berkenaan dengan lingkungan di dalam birokrasi yang memberikan pelayanan itu sendiri. Birokrat dalam hal ini tidak memiliki “independensi” dalam bertindak etis.administrasi dari politik (dikotomi) menunjukan bahwa administrator sungguh-sungguh netral. partai bahkan sturktur yang lebih tinggi justru mendikte perilaku seorang birokrat atau aparat pemerintahan. Banyak kasus membuktikan bahwa kepentingan pribadi. kelompok. bebas dari pengaruh politik ketika melakukan pelayanan publik. Sejak saat ini mata publik mulai memberikan perhatian khusus terhadap “permainan etika” yang dilakukan oleh para birokrat pemerintahan. keluarga. atau dengan kata lain. tetapi juga criteria moralitas. dimana.

humanism) telah disampaikan oleh Denhardt. dan khususnya terhadap anggota masyarakat yang paling tidak beruntung. Dan 6 . telah dianjurkan agar manager harus bersikap etis. Dalam literature tentang aliran human relations dan human resources. yaitu memperlakukan manusia atau organisasi secara manusiawi. Kebijakan affirmative action dalam hal ini merupakan terobosan yang bernada etika karena akan memberi ruang yang lebih luas bagai kaum minoritas. Alasannya adalah bahwa perhatian terhadap manusia (concern for people) dan pengembangannya sangat relevan dengan upaya peningkatan produktivitas. Pelayanan publik tidak sesederhana sebagaimana dibayangkan. Ini merupakan suatu pilihan moral (moral choice) yang diambil oleh seorang birokrat pemerintah berdasarkan prinsip justice – as – fairness sesuai dengan pendapat John Rawls yaitu bahwa distribusi kekayaan. kepuasan dan pengembangan kelembagaan. Kebijakan mengutamakan “putera daerah” merupakan salah satu contoh yang popular saat ini. Mempekerjakan pegawai negeri dengan menggunakan prinsip “kesesuaian antara orang dengan pekerjaannya” merupakan prinsip yang perlu dipertanyakan secara etis. dimana calon yang dipekerjakan hanya berasal dari daerah tertentu yang related lebih maju. karena prinsip itu akan menghasilkan ketidakadilan. Alasan berikut berkenaan dengan karakteristik masyarakat publik yang terkadang begitu variatif sehingga membutuhkan perhatian khusus. otoritas. atau dengan kata lain begitu kompleksitas sifatnya baik berkenaan dengan nilai pemberian pelayanan publik itu sendiri. tidak berdaya. miskin. dan kesempatan sosial akan terasa adil bila hasilnya memberikan kompensasi keuntungan kepada setiap orang. dan sebagainya . untuk menjadi pegawai atau menduduki posisi tertentu. Alasan penting lainnya adalah peluang untuk melakukan tindakan yang bertentangan dengan etika yang berlaku dalam pemberian pelayanan publik sangat besar. Kompleksitas dan ketidakmenentuan ini mendorong pemberi pelayanan publik mengambil langkah-langkah professional yang didasarkan kepada “keleluasaan bertindak” (discretion).

mulai dari kelemahan aturan hukum dan perundang-undangan. informasi. formalisasi. 7 . globalisasi yang tidak terkendali. SDM. pembenahan moralitas yang terjadi selama ini masih sebatas lips service tidak menyentuh sungguh-sungguh substansi pembenahan moral itu sendiri. semua pelanggaran moral dan etika ini telah diungkapkan sebagai salah satu penyebab melemahnya pemerintahan. proses manajemen pelayanan publik yang penuh rekayasa dan kamuflase (mulai dari perencanaan teknis. dan kegiatan yang tidak didasarkan atas kenyataan). nilai-nilai sosial budaya yang kurang mendukung. sejarah dan latar belakang kenegaraan. Karena itu pembenahan moral merupakan “beban besar” di masa mendatang dan apabila tidak diperhatikan secara serius maka proses “pembusukan” terus terjadi dan dapat berdampak pada disintegrasi bangsa. dan sebagainya). yang semuanya itu tidak dapat disangkal. Bagi Indonesia. kedewasaan dalam berpolitik. diskresi otoritas) yang sangat bias terhadap kepentingan tertentu. sikap mental manusia. Implementasi etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh aparatur pemerintah di pusat maupun di daerah saat ini Uraian mengenai etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik dalam makalah ini membahas beberapa faktor diantaranya: (1) Faktor kelemahan yang mempengaruhi implementasi etika dalam pelayanan publik di Indonesia saat ini. Alasan utama yang menimbulkan tragedy tersebut sangat kompleks. dan sebagainya. Dalam pemberian pelayanan publik khususnya di Indonesia. desain organisasi pelayanan publik (pengaturan struktur. sistem pemerintahan. pelanggaran moral dan etika dapat diamati mulai dari proses kebijakan publik (pengusulan program. C. pengelolaan keuangan.keleluasaan inilah yang sering menjerumuskan pemberi pelayanan publik atau aparat pemerintah untuk bertindak tidak sesuai dengan kode etik atau tuntunan perilaku yang ada. dan (2) Kondisi implementasi etika dalam pelayanan publik di Pusat dan di Daerah. proyek.

a. dalam praktek penyelenggaraan pelayanan publik di instansi-instansi pemerintah khususnya yang menyelenggarakan pelayanan secara langsung kepada masyarakat baik individu maupun badan. keyakinan agama dan nilainilai kemanusiaan yang kuat. Petugas yang memiliki sikap absolutis ini akan bersikap tegas dan cenderung kaku (tidak memiliki toleransi terhadap penyimpangan terhadap prosedur yang berlaku dan menyalahi nilai-nilai universal yang diyakininya). Faktor kelemahan yang mempengaruhi Implementasi Etika dalam Pelayanan Publik di Indonesia Saat Ini Faktor-faktor kelemahan yang mempengaruhi implementasi etika dalam pelayanan publik pada instansi-instansi pemerintah di Indonesia dapat diidentifikasi sebagai berikut: Pertama. Dengan demikian akan terjadi kecenderungan untuk mengambil keputusan yang dianggapnya benar pada saat melaksanakan tugasnya sesuai dengan kondisi yang ada akan lebih sering terjadi. Petugas yang termasuk kelompok ini adalah petugas yang memiliki keyakinan profesi. petugas-petugas pemberi pelayanan memiliki dua sikap yang berbeda. Sikap realistis muncul pada petugas yang memiliki keyakinan yang berbeda dengan keyakinan absolutis. Petugas yang memiliki sikap seperti ini akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya berdasarkan nilai-nilai yang diyakininya baik dan bersifat umum. Hal inilah yang membuka celah terjadinya 8 . Dengan kata lain bahwa kebenaran itu memiliki konsekuensi yang baik berdasarkan kenyataan lapangan. Kedua. yaitu sikap yang absolutis dan sikap yang realitis. Mereka beranggapan bahwa kebenaran itu bersifat relatif sesuai dengan kondisi yang ada. Petugas yang memiliki keyakinan seperti ini beranggapan bahwa norma yang bersifat universal itu belum tentu baik apabila tidak sesuai dengan kondisi yang ada. Sikap absolutis muncul berkaitan dengan keyakinan petugas yang bersangkutan bahwa dalam pelayanan publik dikenal norma-norma yang bersifat absolute yang cenderung diterima semua tempat dan bersifat universal (universal rules).

Etika pelayanan publik terdiri atas empat tingkatan. belum ada kebenaran yang hakiki terhadap etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik baik bagi petugas pemberi layanan maupun masyarakat sebagai penerima layanan. yaitu: a) etika individu. Ketiga. adat istiadat. budaya. dan pengalaman masa lalu. Etika individu atau moral pribadi yaitu etika yang memberikan tuntunan mengenai baik atau buruk yang dipengaruh orang tua. Keempat. terjadi tumpang tindih terhadap implementasi keempat tingkatan etika dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik kepada masyarakat. Padahal dapat saja ”kebenaran dalam beretika” tersebut melanggar rasa keadilan terhadap anggota masyarakat yang lain atau bahkan masyarakat penerima layanan secara umum. Kondisi ini muncul karena pelanggaran ”etika” hanya memiliki sanksi sosial saja yang sering kali tidak efektif untuk mengubah tingkah laku melanggar dari petugas pemberi layanan ataupun masyarakat penerima layanan. Etika profesi adalah serangkaian norma atau aturan yang menuntun perilaku kalangan profesi tertentu 9 . Kebenaran dalam beretika dalam penyelenggaraan pelayanan publik masih dipengaruhi sikap yang didasarkan pada keyakinan pemberi pelayanan terhadap etika pelayanan publik dan keyakinan masyarakat penerima layanan publik.”kerjasama” yang menguntungkan dengan ”penerima layanan” apabila petugas tidak memperhatikan aturan main yang berlaku. Biasanya etika ini terbentuk sebelum menjadi pegawai negeri (petugas penyelenggara pelayanan publik). Apabila kedua kepentingan terakomodasi dalam proses pelayanan maka pelayanan tersebut dianggap telah memenuhi ”kebenaran etika”. Kondisi ini dapat diketahui dari kenyataan di lapangan bahwa ”kebenaran dalam beretika” tergantung dari kepentingan petugas dan kepentingan individu masyarakat penerima layanan. b) etika profesi. dan d) etika sosial. keyakinan agama. c) etika organisasi.

Etika organisasi adalah serangkaian aturan dan norma yang bersifat formal dan tidak formal yang menuntun perilaku dan tindakan anggota organisasi yang bersangkutan. Pegawai negeri sebagai petugas penyelenggara pelayanan publik juga merupakan anggota masyarakat yang tidak akan lepas dari pengaruh kehidupan masyarakat disekelilingnya yang dapat berupa budaya. Apabila kondisi berbeda maka penentuan prioritas keempat tingkatan etika pelayanan publik pun akan berbeda yang mengakibatkan keputusan yang diambil akan berbeda pula. Etika sosial adalah norma-norma yang menuntun perilaku dan tindakan anggota masyarakat agar keutuhan kelompok dan anggota masyarakat selalu terjaga atau terpelihara.salah satunya adalah pegawai negeri yang menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat. 10 . tradisi. Etika organisasi akan mewarnai perilaku yang dimiliki pegawai negeri yang merupakan anggota organisasi tempat ia bekerja. Pegawai negeri sebagai penyelenggara pelayanan publik juga terikat dengan organisasi tempat bekerja. Misalnya. Etika ini terbentuk pada saat menjalankan atau menduduki jabatan tertentu atau dengan kata lain terbentuk pada saat menjadi pegawai negeri. pola pikir. sebaliknya bila yang dihadapi adalah atasannya yang menjadi penerima layanan tentu etika organisasi akan lebih dominan. petugas pelayanan publik menghadapi saudaranya yang menjadi penerima layanan tentu etika individu akan lebih dominan. Faktor penerapan keempat tingkatan etika pelayanan publik tersebut seringkali menimbulkan kebingungan para petugas penyelenggara pelayanan publik. Kondisi seperti inilah yang selalu ”menghantui” petugas penyelenggara pelayanan publik pada saat bertugas. Kebingungan itu menyangkut penentuan prioritas keempat tingkatan etika tersebut dalam penyelenggaraan pelayanan disesuaikan dengan kondisi saat pelayanan tersebut berlangsung. Etika sosial akan mempengaruhi petugas penyelenggara pelayanan publik baik disadari ataupun tidak.

profesi apoteker. misalnya pelayanan di bidang kesehatan menyangkut profesi dokter dan profesi perawat (tenaga medis). Misalkan keputusan pelayanan kesehatan di suatu Puskesmas identik dengan keputusan Kepala Puskesmas yang bersangkutan. dan profesi lainnya. akuntan.Kelima. Petugas penyelenggara pelayanan publik tidak terlepas dari pengaruh etika organisasi tempat mereka bekerja. Keputusan mengenai etika yang diberlakukan di dalam suatu institusi pelayanan publik tergantung pada atasan yang berwenang. Dalam organisasi formal aturan yang berlaku adalah keputusan pejabat yang berwenang. Dengan demikian maka etika penyelenggaraan pelayanan publik merupakan perwujudan dari keputusan pejabat yang berwenang. pengacara. Kondisi Implementasi Etika dalam Pelayanan Publik di Pusat dan di Daerah Dengan bertitik tolak pada faktor yang mempengaruhi implementasi etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik maka dapat dirumuskan analisis kondisi implementasi etika dalam pelayanan publik di pusat dan di daerah adalah sebagai berikut: Pertama. Padahal etika penyelenggaraan pelayanan merupakan manifestasi dari aturan organisasi yang berlaku. dalam penyelenggaraan pelayanan publik masih belum didukung dengan kode etik profesi yang memadai. Meskipun secara umum para petugas penyelenggara pelayanan publik sebagai pegawai negeri telah memiliki kode etik pegawai negeri. Oleh sebab itu maka keputusankeputusan yang diambil oleh petugas penyelenggara pelayanan identik dengan keputusan pejabat yang berwenang. b. Penyelenggaraan pelayanan publik mencakup berbagai profesi sesuai dengan jenis pelayanan. Berdasarkan pengamatan hasil telaah literatur dan pengamatan lapangan diketahui bahwa masih terbatasnya kode etik profesi yang dimiliki oleh petugas yang melaksanakan pelayanan publik atau dengan kata lain masih banyak profesi yang belum memiliki kode etik dan hanya beberapa profesi yang memiliki kode etik seperti dokter. Kode etik pegawai negeri 11 .

memiliki sifat yang umum (general) sehingga belum dapat dijadikan acuan bagi petugas penyelenggara pelayanan yang memiliki profesi yang khusus (khas) yang bersifat teknis. etika organisasi dan etika profesi. menjalankan tugas/profesinya. Etika profesional berlaku dalam suatu kerangka yang diterima oleh semua yang secara hukum atau secara moral mengikat mereka dalam kelompok profesi yang bersangkutan. termasuk di dalamnya sistem insentif . dipatuhi dan dijadikan pedoman. disinsentif dan sanksisanksi berdasarkan aturan. Ketiga macam etika tersebut idealnya dapat diikuti. Oleh sebab itu kode etik pegawai negeri perlu didukung dengan kode etik profesi. referensi seseorang dalam melakukan hubungan dengan orang lain dalam organisasi. pegangan. Tak jauh berbeda kondisi yang ada saat ini adalah PNS belum memiliki code of conduct dan tak diikuti dengan glorifikasi (keakuan) atau sejenis dengan otoriter dalam demokrasi. Etika organisasi berfungsi menetapkan parameter dan merinci kewajiban-kewajiban organisasi itu sendiri serta menggariskan konteks tempat keputusan-keputusan etika perorangan itu dibentuk. Berkaitan dengan etika. Etika individu menentukan baik atau buruk perilaku orang perorangan dalam hubungannya dengan orang lain. di Indonesia. Etika organisasi sebagai aturan yang dicerminkan dalam struktur organisasi dan fungsi-fungsi serta prosedur. Sementara itu terkait dengan 12 . baik di pusat maupun di daerah tidak ada atau kurangnya kode etik yang menjadi dasar birokrasi/aparatur untuk bekerja dalam rangka pelayanan pada masyarakat etika yang perlu diterapkan dalam berorganisasi adalah etika individu. Bagi pegawai perlu diberikan ”bekal etika” (etika profesi) bagi para petugas yang melaksanakan pelayanan publik disamping aturan teknis dalam penyelenggaraan tugas pelayanan yang menjadi tanggung jawabnya. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa narasumber di lokasi penelitian menekankan pentingnya kode etik profesi dalam rangka mendukung penyelenggaraan pelayanan publik. Aparat terhanyut dalam ”the shadow of system” (kekuatan sistem bayangan) yang mengikis budaya positif yang dimiliki aparatur yang bersangkutan.

1 Tahun 1995 tentang Perbaikan dan Peningkatan Mutu Pelayanan Aparatur Pemerintah kepada Masyarakat dan KepmenPAN No. Kendala yang ditemui adalah kebijakan tersebut belum sepenuhnya ditindaklanjuti dengan kebijakan yang bersifat operasional oleh aparat baik di tingkat pusat maupun di daerah. Etika tata pemerintahan yang baik (termasuk di dalamnya etika pelayanan publik) tidak selalu di”positifkan” (dijadikan aturan hukum yang memuat sanksi bagi yang melanggar). Ada beberapa kalangan yang selalu mengkaitkan antara etika dengan hukum (etika diidentikkan dengan hukum). Tetapi ada kalangan yang membedakan antara etika dengan hukum. Meskipun kebijakan pelayanan publik telah diterbitkan seperti Inpres No. Nara sumber dari Papua 13 . 63/KEP/M. Kedua. Bukti di lapangan menunjukkan bahwa terdapat variasi bentuk dan muatan kebijakan mengenai pelayanan publik. Kalangan ini berpendapat bahwa norma bukan hukum dan norma tidak memiliki sanksi hukum.PAN/7/2003 Tanggal 10 Juli 2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik namun belum terlaksana dengan baik di lapangan. Lebih-lebih belum ada kesepahaman apakah kebijakan etika pelayanan publik dibuat dalam format hukum positif atau tidak. Padahal yang terpenting adalah pengimplementasiannya di lapangan.etika profesi. ada beberapa kalangan yang masih memiliki sikap yang menyakini bahwa meskipun belum ada kode etik petugas penyelenggara pelayanan publik (kode etik profesi) tetapi pelayanan publik masih dapat dilaksanakan dengan rambu-rambu nilai-nilai agama dan nilai-nilai Pancasila. Belum terimplementasikan secara optimal kebijakan pelayanan publik yang memuat kode etik penyelenggaraan pelayanan publik. Kalangan yang terakhir berpendapat bahwa etika merupakan sesuatu yang melekat dari diri seseorang bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar (norma). Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketidakadaan kode etik menciptakan peluang bagi petugas untuk mengabaikan etika pelayanan publik atau dengan kata lain tidak ada alat kontrol perilaku petugas penyelenggara pelayanan publik.

Tradisi inilah yang menyebabkan pegawai tidak dapat berkinerja dengan baik dan bahkan menimbulkan prilaku yang menyimpang atau sering disebut sebagai pathologi birokrasi. 2) pendapatan. Aspek eksternal menyangkut kondisi lingkungan aparat yang terdiri dari: 1) tradisi dan budaya. sedangkan etika merupakan norma dalam memberikan pelayanaan (norma melayani). Ketiga.menyatakan bahwa etika memiliki batas berupa ruang dan waktu. artinya apabila aturan dilaksanakan secara baik maka akan diberikan penghargaan terhadap aparat yang bersangkutan. Etika dalam penyelenggaraan 14 . Etika sebagai norma hukum tidak mengedepan unsur sanksi hukum yang bersifat nasional. berdasarkan hasil pengamatan di lapangan diketahui bahwa kesadaran untuk beretika dalam penyelenggaraan pelayanan publik oleh petugas penyelenggara dan oleh masyarakat penerima pelayanan publik masih rendah. yaitu: aspek internal dan aspek eksternal. Pada saat rekruitmen pegawai biasanya didasarkan pada upaya untuk mengisi pekerjaan yang lowong dalam rangka mengurangi pengangguran. Mereka masih cenderung berorientasi pada kepentingan pribadi (kepentingan sendiri). Disamping masih kurangnya pemahaman mereka terhadap etika pelayanan publik. Sanksi yang diberlakukan bersifat sanksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat. Aturan dalam pelayanan publik membawa konsekuensi pada kontraprestasi. Tradisi dan budaya ini tumbuh dalam birokrasi tempat aparat itu bekerja sejak rekruitmen awal. Etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik di tingkat nasional (bersifat universal) sedangkan perbedaan yang muncul merupakan dimensi kultural yang ada pada lokasi penyelenggaraan pelayanan. Memang pada kenyataannya sanksi sosial yang diberikan pada pelanggaran etika belum tersosialisasikan dengan baik dan tak mampu memberikan dampak menghukum yang efektif. Aspek internal menyangkut kondisi individual aparat yang bersangkutan. dan 3) kualitas pegawai yang bersangkutan. Tradisi dan budaya aparat dipengaruhi oleh kondisi tempat bekerja. Etika dalam pelayanan publik menyangkut dua aspek utama.

menaruh perhatian. keramahan. kejujuran. ketabahan. Untuk itu diperlukan nilai-nilai bersifat universal yang mengakomodasi nilai-nilai budaya lokal yang positif agar mampu mendekatkan aparatur daerah terhadap perilaku positif yang sehari-hari mereka hadapi dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang akhirnya akan membangkitkan kesadaran beretika.pelayanan publik terdiri dari dua kelompok. kebenaran. respek. cepat tanggap. Sistem kehidupan bermasyarakat menciptakan budaya. Dalam perkembangan selanjutnya etnis-etnis tertentu mengagungkan suatu sistem nilai tertentu yang mempengaruhi proses penyelenggaraan pemerintahan yang adakalanya tidak bersifat “fair”. Selanjutnya dalam rangka peningkatan kesadaran aparatur daerah dalam penyelenggaraan etika dalam pelayanan publik dapat ditempuh dengan meningkatkan kedewasaan aparatur daerah dalam beretika. bekerja profesional. dan 3) iklim yang mendukung akuntabilitas. Etika birokrasi terbentuk karena adanya proses interaksi organisasi sedangkan etika individu terbentuk karena pengaruh keluarga dan dogma yang dimiliki oleh pegawai yang bersangkutan. Etika dalam penyelenggaraan pelayanan publik akan dipatuhi oleh aparat yang memiliki kesempatan untuk mempraktekkannya dalam kesehariannya sebagai seorang aparatur yang menyelenggarakan pelayanan kepada masyarakat. 2) daya tanggap yang dimiliki pegawai. mengutamakan kepentingan publik di atas kepentingan lain. pengembangan profesionalisme. komunikasi terbuka dan transparansi. Kesempatan yang dimiliki adalah kondisi yang mendukung bagi aparat yang bersangkutan menerapkan etika yaitu: 1) kinerja yang memadai. Secara umum nilai-nilai universal yang dapat dikembangkan adalah: integritas. kreativitas. daerah sebagai sistem nilai yang terbentuk dari keterpaduan antara norma-norma yang telah ada dalam masyarakat dan norma baru yang mempengaruhinya seperti norma-norma agama yang berkembang di daerah tersebut. 15 . yaitu: etika birokrasi dan etika individu.

Pegawai negeri sebagai salah satu penyelenggara pelayanan publik dan sekaligus anggota organisasi pemerintah (birokrasi) tidak dapat lepas dari kepentingan organisasi yang merupakan manifestasi dari keputusan pimpinan yang berwenang dari organisasi yang bersangkutan. Belum ada ukuran yang jelas dan pasti dalam menilai etika pelayanan publik. contoh konkritnya adalah nilai moralitas terhadap uang. Keempat. Disamping itu adanya ego sektoral dari institusi tertentu yang menganggap bahwa satu institusi lebih baik dari institusi yang lain dalam proses penyelenggaraan pelayanan publik. Hal ini disebabkan oleh ketidakadaan/keterbatasan nilai etika yang dimiliki. penggunaan keleluasaan untuk kepentingan publik. beri perlindungan terhadap informasi yang sepatutnya dirahasiakan. Dari masing-masing daerah kajian belum ditemukan ukuran yang jelas dan pasti terhadap etika pelayanan publik.dedikasi. kentalnya pengaruh budaya feodalistik yang masih ada pada sebagian masyarakat. kasih sayang. Karena tidak adanya ukutan yang jelas dan pasti dari etika pelayanan publik yang diberikan maka petugas akan cenderung mengutamakan (mengamankan) keputusan pimpinan organisasi. 16 . Kuatnya “imperatif” terhadap kekuasaan yang berarti bahwa etika pelayanan publik merupakan manifestasi dari perintah atasan kepada bawahan bukan merupakan kesadaran dari aparat yang bersangkutan. Disamping itu adanya kecenderungan mengutamakan kepentingan tertentu tanpa memperhatikan konteks (kondisi yang ada) pelayanan publik yang diberikan. Fenomena yang lain adalah adanya ikatan etnis lokal yang kuat menyebabkan penyelenggaraan pelayanan publik lebih mengutamakan etnis tertentu.

Berdasarkan pembahasan mengenai Implementasi Etika dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Indonesia dapat dirumuskan rerkomendasi yang sekiranya dapat dijadikan bahan masukan dan pertimbangan bagi pengambil kebijakan khususnya dalam menentukan kebijakan implementasi etika dalam pelayanan publik. pemerintah perlu menetapkan kebijakan mengenai etika pelayanan publik secara terintegrasi dan lebih operasional yang mampu menciptakan kesepahaman dari aparatur pemerintah pusat dan daerah mengenai bentuk kebijakan etika pelayanan publik serta berlaku bagi aparat yang langsung berhubungan dengan masyarakat dan tidak berlaku bagi aparat yang tidak langsung berhubungan dengan masyarakat. Kedua. Pemerintah perlu menyusun dan mensosialisasikan strategi pengembangan etika pelayanan publik yang dapat mengakomodasi muatan budaya lokal daerah dan melibatkan seluruh stakeholders pelayanan publik yang ada. Penyusun kebijakan perlu mengakomodasi nilai-nilai etika pelayanan publik dalam setiap produk kebijakan penyelenggaraan negara yang ditetapkan khususnya yang menyangkut sumber daya aparatur. Ketiga. Kedua. Belum ada strategi implementasi yang baku dan memadai dalam pengembangan etika pelayanan publik sehingga etika pelayanan publik yang ada belum mendukung peningkatan kinerja aparatur di pusat dan di daerah. penyelenggaraan pelayanan publik baik di pusat maupun di daerah masih belum menerapkan nilai-nilai etika disebabkan adanya pemahaman yang beragam. Adapun rekomendasi dapat dirumuskan sebagai berikut: Pertama. Penutup Setelah pembahasan mengenai Implementasi Etika dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Indonesia dapat disimpulkan bahwa: Pertama. dan bersifat tidak mengikat. 17 . bertentangan dengan nilai budaya lokal.D. tidak didukung kebijakan yang memadai.

18 .