Anda di halaman 1dari 2

BRAJA GUNA I Empu yang terkenal pada zaman Kerajaan Kartasura, samapai jaman Surakarta awal.

Banyak ahli keris yang mengatakan bahwa empu ini berasal dari Madura. Keris dan tombak buatannya terkenal amat kuat, dapat menembus perisai pelindung badan pada peperangan. Ciri keris buatan Brajaguna I , bilahnya agak panjang jika dibanding dengan keris Mataram lainnya, tetapi tebalnya sekitar dua kali lipat keris lainnya. Bilah ini selalu berbentuk Ngadal Meteng/Nglimpa Bentuk ganjanya agak melengkung, sirah cecaknya tidak begitu meruncing pada ujungnya. Gulu meled dan wetengannya berukuran sedang. Pamornya rumit, lembut dan biasannya merata di seluruh permukaan bilah. Menancapnya pamor pada permukaan bilah kuat dan pandes. Kalau membuat pamor miring , rapi sekali , jalur-jalur garis pamornya tak ada yang bertindihan satu sama lain. Ia membuat hampir semua motif pamor . Kembang Kacangnya bentuknya seperti gelung wayang. Jalen dan lambe gajahnya berukuran sedang. Sogokannya makin menyempit ke arah ujung. Blumbangannya dangkal. Kalau tanpa kembang kacang, gandiknya agak miring. Keris karya Brajaguna I berpenampilan keras, gagah dan meyakinkan. BRAJAGUNA II Empu terkenal pada jaman Surakarta pemerintahan Sunan PakuBuana IV. Ciri kerisnya mirip dengan karya Brajaguna I .Perbedaan yang utama hanya terletak pada ukuran panjang bilahnya. Keris buatan Brajaguna II ukuran bilahnya lebih pendek. BRAJAGUNA III Empu terkenal pada jaman Surakarta pemerintahan Sunan Pakubuana V . Bentuk kerisnya mirip dengan buatan Brajaguna II . Perbedaanya hanyalah pada bagian Ganjanya. Ganja buatan Brajaguna III lebih lebar dan lebih panjang dibanding buatan Brajaguna I dan Brajaguna II. Nggih Ki JD, memang sepertinya mPu Brojoguno yang turun Madura ini telah memberikan warna baru bagi seni tempa dan pembuatan keris di era Surakarta Paku Buwana (PB). Tapi sepertinya memang selalu ada perubahan pada langgam, tempa serta garap di setiap perubahan tampuk pemerintahan. Seakan2 para Nata jaman dulu juga ingin menunjukkan eksistensinya, salah satunya melalui gaya Tosan Aji yang dikembangkan leh para mPu pada masanya masing2. Dari keris2 Mataram yang pola tempanya lembut dengan pamor yang kalem (walaupun miring), berubah menjadi tempa yang lebih berkualitas dengan kadar baja lebih banyak dan disertai dengan penerapan pamor yang relatif lebih "berani". Paduan dari gaya Madura-Singosari didemonstrasikan dengan perpaduan gaya Mataram, menjadikan keris mPu Brojoguno waktu itu menjadi berbeda dari keris2 pendahulunya. Mungkin berbeda dengan keris Jogjakarta Hamengku Buwono (HB) yang mengadopsi langgam keris Mataram-Majapahit yang lebih luwes. Memang gaya Mataram Amangkurat dan atau Mataram Surakarta awal masih sedikit terbawa, tetapi dengan beberapa perubahan seperti lebih tebal dan bhirawa serta pamor yang cerah. Walau terkesan gagah, tetapi bentuknya tetap luwes. Bangkekan dan wilah yang anggodhong puhong diterapkan secara tepat (presisi dengan perhitungan khusus). Tekstur pamor yang ngawat-kilap tapi nyuntra diterapkan sangat hati2 dengan material pamor yang berkualitas (meteorite). Untuk selanjutnya, edisi keris mPu Brojoguno ini diteruskan oleh trah Brojo lainnya, seperti Brojo Setama, Brojo Sentika dsb. Tetap, dengan karakter pamor yang mubyar dan kerisnya terkesan gagah (apalagi untuk keris tangguh Surakarta Mangkubumen). Hanya saja untuk era PB VI, bentuk bilah keris sepertinya lebih melebar, sedangkan pada era PB VII kembali mengecil. Kemudian di era PB IX kembali lebih besar walaupun tidak sebesar keris era PB VI. Di era mPu Singowidjojo (PB IX akhir - PB XI awal), bentuk keris kembali besar dan terkesan kokoh serta tempa y ang sangat berkualitas. Jadi di era PB pun juga mengalami beberapa kali perubahan struktur keris & Tosan Aji pada

tentu akan mengalami banyak perubahan sehingga kadang susah ditangguh Aspek perhitungan keris era PB ini memang sangat khas sehingga keris baru yang berusaha nge-blak pun akan susah mengikuti. tempa kurang padat dan material pamor jika mengkilap. Tambahan. tidak cekung. Pada keris buatan baru yang mutrani (meniru/menjiplak) keris PB. Mohon maaf beberapa koleksi teman saya masukkan sebagai ilustrasi pembelajaran bersama. Ini terutama bisa dilihat di material besi-baja dan pamor. Ada yang ringan tetapi itu karena ada kruwingan yang dalam sehingga keris lebih tipis. Untuk itu harus titen & titis dalam mengamati keris. Dan mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan pemahaman. akan sangat mengkilap. kruwingannya cenderung membentuk cekungan karena dibentuk dengan menggunakan gerinda kecil (alat cun/tune) yang bentuknya bulat. Nuwun. Dan masih banyak kekurangan yang bisa ditemui jika kita membandingan antara keris PB yang asli dengan keris baru yang mutrani keris PB. MH.lembut) karena menggunakan bahan meteorite. Ini yang utama. lha apalagi keris tangguh Majapahit yang eranya 300 tahunan. tetapi tetap "relatif" ringan dibandingkan ukurannya. untuk penyebutan keris Brojoguno ini ada 2 kemungkinan. Keris buatan baru besinya cenderung mentah. Monggo para pinisepuh yang lain menambahkan.umumnya. Selain itu Lis dan Kruwingan keris PB cenderung nyaping. Berat (tantingan) keris PB. Berbeda dengan keris buatan baru yang relatif lebih berat. Pertama adalah keris yang dibuat oleh mPu Brojoguno (keris/tumbak Tangguh Surakarta Paku Buwana). Semoga ada manfaatnya. tidak pandang dari tangguh manapun. tetapi kebanyakan dari tangguh Madura Pamekasan dan Sumenep. Berbeda dengan keris PB/HB yang mengkilap tetapi tetap nyutra (seperti sutra . Padahal era ini hanya berjalan sekitar 1 abad (100 tahun). sedangkan kedua adalah istilah "pasar perkerisan" yang digunakan untuk menyebut keris atau tumbak yang bisa nembus/menancap pada besi atau uang logam. . garap kaku. Berikut ini tambahan foto untuk keris tangguh Surakarta Paku Buwana. walau terkesan besar dan kokoh.