Anda di halaman 1dari 6

Pemodelan Paralel Load Flow Untuk Sistem Tenaga Listrik

Yulianta Siregar1, Adi Soeprijanto2 dan Mauridhi Hery Purnomo3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, ITS, Surabaya, Indonesia Julianta_S@elect-eng.its.ac.id 2 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, ITS, Surabaya, Indonesia adisup@ee.its.ac.id 3 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, ITS, Surabaya, Indonesia hery@ee.its.ac.id
1

Abstrak. Dalam penelitian ini paralel load flow ditujukan untuk mempercepat perhitungan load flow. Paralel load flow menerapkan paralel mesin dengan beberapa prosesor pada pusat kontrol sistem. Algoritma paralel load flow dikembangkan untuk mengatasi ketidaksamaan komputer yang heterogen dan kemungkinan keterlambatan data. Dikembangkan suatu perhitungan terdistribusi asynchronous yang dapat menyesuaikan keterlambatan data pada komunikasi data antara pusat kontrol di beberapa bagian wilayah. Diaplikasikan pada sistem IEEE 14 Bus dan 16 Bus yang akan dibagi menjadi 2 (dua) wilayah komputasi. Pada penelitian ini dikembangkan paralel load flow dengan metode Newton-Raphson. Pemodelan paralel load flow menggunakan software MATLAB. Kata kunci: paralel load flow, asynchronous, newton-rapshon, matlab

1. Pendahuluan
Studi aliran daya (load flow) adalah studi yang dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai aliran daya atau tegangan sistem. Informasi ini sangat dibutuhkan guna mengevaluasi unjuk kerja sistem tenaga dan menganalisis kondisi pembangkitan maupun pembebanan. Load flow menghasilkan informasi aliran daya dalam kondisi normal [1-3]. Program load flow merupakan instrumen dasar dan penting untuk analisis operasi power sistem, optimasi dan kontrol. Operator sistem menggunakan hasil load flow untuk memonitor dan mengontrol operasi power sistem, untuk dapat diaplikasikan ke power sistem area luas diperlukan metoda yang lebih cepat. Perhitungan load flow yang tidak diparalelkan akan terjadi kesulitan saat implementasi pada sistem area luas yang mengakibatkan keterlambatan dalam perhitungan load flow. Untuk mengatasi hal tersebut, maka dikembangkan paralel load flow dengan menggunakan metode Newton-Raphson dalam penelitian ini [4-7]. Pada penelitian ini Sistem IEEE 14 bus dan 16 bus akan menjadi 2 (dua) wilayah komputasi, masingmasing wilayah dilakukan perhitungan load flow secara paralel dengan memperhatikan komunikasi data pada daerah perbatasan (boundary area). Hasil dari perhitungan load flow berbasis paralel per-wilayah digunakan sebagai data untuk pembagian pembebanan dari masingmasing wilayah. Perhitungan aliran daya dikirimkan ke masing-masing wilayah komputasi. Perlakuan khusus ditujukan untuk pengiriman data pada daerah-daerah perbatasan. Parallel load flow disimulasikan dengan menggunakan software MATLAB.

2. Studi aliran daya


Masalah aliran daya mencakup perhitungan aliran dan tegangan sistem pada terminal tertentu atau bus tertentu. Representasi fasa tunggal selalu dilakukan karena sistem dianggap seimbang Didalam studi aliran daya, bus-bus dibagi dalam 3 (tiga) bagian, yaitu [1-3] : 1) Slack bus atau swing bus atau bus referensi 1.1) Terhubung dengan generator. 1.2) V dan 0 dari generator diketahui dan tetap. 1.3) P dan Q dihitung. 1.4) Mencatu rugi-rugi daya dan beban yang tidak dapat disuplai oleh generator lain.

BSS_276_1_1 - 6

1.5) Slack bus berfungsi untuk menyuplai kekurangan daya real P dan daya reaktif Q pada sistem 2) Voltage controlled bus atau bus generator (PV Bus). 2.1) Terhubung dengan generator. 2.2) P dan V dari generator diketahui dan tetap. 2.3) dan Q dari daya reaktif generator dihitung. 3) Load bus atau bus beban (PQ Bus). 3.1) Terhubung dengan beban. 3.2) P dan Q dari beban diketahui dan tetap. 3.3) V dan (sudut fasa) tegangan dihitung. 3. Model paralel load flow Paralel load flow yang dikembangkan ditujukan untuk mempercepat perhitungan load flow pada sistem area luas. Sistem transmisi dibagi menjadi 2 (dua) wilayah dengan mengambil data dari IEEE 14 bus dan 16 bus dimana dimisalkan sebuah saluran transimisi yang menghubungkan kedua wilayah tersebut, masing-masing wilayah dilakukan perhitungan load flow secara paralel dengan memperhatikan komunikasi data pada daerah perbatasan (boundary area). Hasil dari perhitungan load flow berbasis paralel per-wilayah digunakan sebagai data untuk pembagian pembebanan dari masingmasing wilayah. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan dari solusi paralel, tetapi yang lebih penting adalah sebagai berikut [4]: 1) Keseimbangan beban diantara mengambil bagian pada prosesor. 2) Performance dari prosesor . 3) Kecepatan dari komunikasi data antara prosesor. Masing-masing wilayah harus berkomunikasi dengan wilayah yang lain didalam menukarkan informasi dari setiap iterasi. Seperti pada Gambar 1 :

Gambar 1. Pemodelan sistem paralel load flow

Waktu tunda untuk komunikasi data antar komputer sulit untuk di ramalkan, untuk menghindari suatu ketidaksinkronan yang tinggi maka karakteristik jaringan komunikasi di sistem distribusi harus diperhatikan. Karakterisrik algoritma asynchronous dari paralel load flow adalah [4] : 1) Komputer lokal tidak perlu menunggu selagi data nya bisa bermanfaat. 2) Komputer yang bagus dapat menghitung lebih cepat dan melaksanakan lebih banyak iterasi dibanding yang lain. 3) Beberapa komputer membutuhkan komunikasi yang lebih sering dengan komputer yang lain sehingga penundaan waktu akan menjadi lebih lama. Algoritma Asynchronous muncul untuk menawarkan beberapa keuntungan. Pertama dapat mengurangi ketidaksinkronan dan berpotensi mempercepat melalui algoritma synchronous di berbagai keadaan. Ke dua mempunyai suatu implementasi fleksibilitas yang lebih besar dan toleransi untuk perubahan data selagi melaksanakan algoritma [5-7]. 4. Simulasi dan hasil Simulasi dilakukan untuk menguji model yang telah dirancang dengan menggunakan program MATLAB. Langkah langkah simulasi berdasarkan pada Gambar 2. Data-data yang diperlukan adalah data pembangkit, data beban dan data saluran transmisi di jaringan transmisi IEEE 14 bus dan 16 bus seperti pada Tabel berikut.

BSS_276_1_2 - 6

Gambar 2. Flowchart simulasi

Tabel 1. Data pembangkit dan data beban pada wilayah 1 (IEEE 14 bus)

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Kode Bus Slack Generator Generator Beban Beban Generator Beban Generator Beban Beban Beban Beban Beban Beban

Tegangan Mangnitudo Sudut 1.060 0 1.045 -4.98 1.010 -12.72 1.019 -10.33 1.020 -8.78 1.070 -14.22 1.062 -13.37 1.090 -13.36 1.056 -14.94 1.051 -15.10 1.057 -14.79 1.055 -15.07 1.050 -15.16 1.036 -16.04

Beban MW MVAR 0 0 21.7 12.7 94.2 19.0 47.8 -3.9 7.6 1.6 11.2 7.5 0 0 0 0 29.5 16.6 9.0 5.8 3.5 1.8 6.1 1.6 13.5 5.8 14.9 5.0

MW 232.4 40 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Generator MVAR Qmin Qmax -16.9 0 0 42.4 0 0 23.4 0 0 0 0 0 0 0 0 12.2 0 0 0 0 0 17.4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Tabel 2. Data saluran transmisi pada wilayah 1(IEEE 14 bus)

i-j 1-2 1-5 2-3 2-4 2-5 3-4 4-5

R 0.01938 0.05403 0.04699 0.05811 0.05695 0.06701 0.01335

X 0.05917 0.22304 0.19797 0.17632 0.17388 0.17103 0.04211

B 0.0528 0.0492 0.0492 0.0340 0.0346 0.0128 0

Page 3 / 6

4-7 4-9 5-6 6-11 6-12 6-13 7-8 7-9 9-10 9-14 10-11 12-13 13-14

0 0 0 0.09498 0.12291 0.06615 0 0 0.03181 0.12711 0.08205 0.22092 0.17093

0.20912 0.55618 0.25202 0.19890 0.2581 0.13027 0.17615 0.11001 0.08450 0.27038 0.19207 0.19988 0.34802

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Tabel 3. Data pembangkit dan data beban pada Wilayah 2 (16 bus)

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Kode Bus Slack Beban Beban Beban Generator Beban Beban Generator Beban Beban Generator Beban Generator Beban Beban Beban

Tegangan Mangnitudo Sudut 1.060 0 1.043 0 1.000 0 1.060 0 1.010 0 1.000 0 1.000 0 1.010 0 1.000 0 1.000 0 1.082 0 1.000 0 1.071 0 1.000 0 1.000 0 1.000 0

Beban MW MVAR 0 0 21.7 12.7 2.4 1.2 7.6 1.6 94.2 19.0 0 0 22.8 10.9 30.0 30.0 0 0 5.8 2.0 0 0 11.2 7.5 0 0 6.2 1.6 8.2 2.5 3.5 1.8

MW 0 40 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Generator MVAR Qmin Qmax 0 0 0 0 -40 50 0 0 0 0 0 0 0 -40 40 12.2 0 0 0 0 0 0 -30 40 0 0 0 0 0 0 0 -6 24 0 0 0 0 -6 24 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Tabel 4. Data saluran transmisi pada wilayah 2 (16 bus)

i-j 1-2 1-3 2-4 3-4 2-5 2-6 4-6 5-7 6-7 6-8 6-9 6-10 9-11

R 0.0192 0.0452 0.0570 0.0132 0.0472 0.0581 0.0119 0,0460 0,0267 0.0120 0 0 0

X 0.0575 0.1852 0.1737 0.0379 0.1983 0.1763 0.0414 0.1160 0.0820 0.0420 0.2080 0.5560 0.2080

B 0.0264 0.0204 0.0184 0.0042 0.0209 0.0187 0.0045 0.0102 0.0085 0.0045 0 0 0

BSS_276_1_4 - 6

9-10 4-12 12-13 12-14 12-15 12-16 14-15

0 0 0 0.1231 0.0662 0.0945 0.2210

0.1100 0.2560 0.1400 0.2559 0.1304 0.1987 0.1997

0 0 0 0 0 0 0

Hasil simulasi dari paralel laod flow pada wilayah 1 seperti pada Tabel 5, Dapat dilihat total generator (MW/MVAR) lebih besar dari total beban. Dimana menunjukkan daya yang disuplai pada beban terpenuhi dengan total loses jaringan yang kecil.
Tabel 5. Hasil simulasi pada wilayah 1 (IEEE 14 bus)

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

Tegangan Mangnitudo Sudut 1.060 0 1.045 -4.95 1.010 -12.61 1.028 -10.38 1.035 -8.97 1.070 -14.88 1.046 -13.46 1.090 -13.46 1.029 -15.08 1.028 -15.33 1.045 -15.22 1.053 -15.72 1.046 -15.74 1.018 -16.40 1.018 -16.40 Total Total loses

Beban MW MVAR 0 0 21.7 12.7 94.2 19.0 47.8 -3.9 7.6 1.6 11.2 7.5 0 0 0 0 29.5 16.6 9.0 5.8 3.5 1.8 6.1 1.6 13.5 5.8 14.9 5.0 0 0 262.5 75.3 Line loss MW MVAR 10.03 5.3

Generator MW MVAR 232.533 -29.37 40 18.98 0 15.87 0 0 0 0 0 47.74 0 0 0 27.37 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 272.53 80.60

Injeksi MVAR 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hasil simulasi dari paralel laod flow pada wilayah 2 seperti pada Tabel 6, Dapat dilihat total generator (MW/MVAR) lebih besar dari total beban. Dimana menunjukkan daya yang disuplai pada beban terpenuhi tetapi dijumpain total loses jaringan yang besar.
Tabel 6. Hasil simulasi pembangkit dan beban pada wilayah 2 (16 bus)

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Tegangan Mangnitudo Sudut 1.060 0 1.003 -5.52 0.940 -8.80 0.915 -10.73 0.960 -15.25 0.950 -11.73 0.946 -13.77 0.960 -12.17

Beban MW MVAR 0 0 21.7 12.7 2.4 1.2 7.6 1.6 94.2 19.0 0 0 22.8 10.9 30.0 30.0

Generator MW MVAR 289.3 95.23 40 30.97 0 0 0 0 0 38.91 0 12.2 0 0 0 0

Injeksi MVAR 0 0 0 0 0 0 0 0

BSS_276_1_5 - 6

9 10 11 12 13 14 15 16 17

1.033 1.039 1.082 0.700 1.021 0.684 0.686 0.015 0 Total Total loses

-12.17 -12.39 -12.17 -37.70 -37.70 -39.11 -38.90 -66.83 408.22

0 0 5.8 2.0 0 0 11.2 7.5 0 0 6.2 1.6 8.2 2.5 3.5 1.8 0 0 213.6 90.80 Line loss MW MVAR 115.7 395.27

0 0 0 0 0 0 0 0 0 329.30

61.14 0 0 25.62 0 234.2 0 0 0 486.07

0 19 0 0 0 0 0 0 0 19

5. Kesimpulan Berdasarkan hasil simulasi pada wilayah 1 dan wilayh 2 dengan paralel load flow dapat disimpulkan bahwa perhitungan load flow dapat diselesaikan dengan cepat dan konvergen, tetapi lebih dapat dirasakan dengan area yang lebih luas. Ucapan Terima Kasih Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada Dr. Ir. Adi Soeprijanto, MT yang selama ini telah memberi bimbingan kepada penulis. Tidak lupa, penulis menghaturkan banyak terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Mauridhi Hery P, M.Eng. Penulis juga sangat berterima kasih kepada rekan-rekan di laboratorium simulasi ITS yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian makalah ini. Daftar pustaka [1] Hadi Saadat, (2004), Power Sistem Analysis, Second Edition, McGraw-Hill International Edition.,Singapore. [2] Lynn Powell, (2005), Power Sistem Load Flow Analysis, McGraw-Hill International Edition [3] John J.Grainger and William D.Stevenson.Jr, (1994), Power Sistem Analysis, Mc Graw-Hill International Editions. [4] Mohammad Shahidehpour and Yaoyu Wang, (2003), Communication and Control in Electric Power Sistems, Applications of Paralel and Distributed Processing, IEEE Press Power Engineering Series, John Wiley & Sons,Inc.,New Jersey. [5] Shin-Der Chen, Jiann-Fuh Chen (2005), A Novel Approach Based On Global Positioning Sistem For Paralel Load Flow Analysis, Elsevier Electrical Power and Energy Systems 27, hal. 53-59. [6] M. Amano, A. 1. ZeEeviC, D. D. siljak (1996), An Improved Block-Paralel Newton Method Via Epsilon Decompositions For Load-Flow Calculations, IEEE Transactions on Power Systems 11, No. 3, hal 1519-1527 [7] Xiaofang Wang, Sotirios G. Ziavras, Chika Nwankpa, Jeremy Johson, Prawat Nagvajara (2006), Paralel Solution of Newtons Power Flow Equations on Configurable Chips, Elsevier Electrical Power and Energy Systems

BSS_276_1_6 - 6