Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pendidikan pembangunan tenaga nasional kesehatan dibidang merupakan kesehatan bagian yang integral dari untuk

diarahkan

mendukung upaya pencapaian derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Dalam kaitan ini pendidikan tenaga kesehatan diselenggarakan untuk memperoleh tenaga kesehatan yang bermutu sehingga mampu

mengembangkan tugas untuk mewujudkan perubahan, pertrumbuhan dan pembaharuan dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat. Salah satu institusi yang menghasilkan tenaga kesehatan khususnya di bidang farmasi adalah Sekolah Menengah Kejuruan Farmasi Yamasi untuk menghasilkan tenaga kesehatan di bidang farmasi tingkat menengah yang mampu bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan secara terpadu. Oleh karena itu, tenaga kesehatan di bidang farmasi haruslah memiliki keterampilan, terlatih dan mampu mengembangkan diri secara professional berdasarkan nilai-nilai yang dapat menunjang upaya bidang kesehatan. Untuk menghasilkan tenaga kesehatan di bidang farmasi tersebut, maka penyelenggaraan pendidikan terutama proses belajar mengajar ditingkatkan baik dari kualitas maupun kuantitas. pembangunan di

Salah satu upaya yang dilakukan diantaranya adalah dengan memberikan pengalaman kerja kepada peserta didik melalui latihan kerja yang disebut Praktek Kerja Lapangan (PKL). Bahwa latihan keterampilan yang diberikan secara intensif di laboratorium sekolah hanyalah keterampilan untuk meracik obat untuk bekerja di laboratorium farmasi dan untuk mengenal obat serta alat kesehatan dalam jumlah yang terbatas. Keterampilan lain misalnya pengenalan obat, penyuluhan obat, penerapan sikap yang baik sebagai tenaga kesehatan, kemampuan untuk bekerja sama dengan tenaga kesehatan yang lain dan cara mengenal, menghadapi, memahami dan memecahkan masalah yang terjadi di lapangan, tidaklah diberikan disekolah secara khusus. Untuk itu Praktek Kerja Lapangan merupakan cara terbaik untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama mengikuti pendidikan. Pelaksanaan Praktek kerja Lapangan merupakan sarana pengenalan lapangan kerja bagi peserta didik karena dapat melihat, menerima dan menyerap teknologi kesehatan yang ada di masyarakat. Disisi lain Praktek Kerja Lapangan juga dapat digunakan sebagai sarana informasi terhadap dunia pendidikan kesehatan, sehingga penyelenggara pendidikan masyarakat. dapat mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan

B. Pengertian

Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah proses belajar mengajar yang merupakan informasi bagi kami sehingga dapat melihat, mengetahui, menerima dan menyerap teknologi cara pengadaan, penyimpanan,

penyaluran, sediaan farmasi sehingga kami mendapat pengalaman yang nyata dan langsung dari PBF. C. Tujuan Pelaksanaan Program PKL Dengan adanya Praktek Kerja Lapangan, diharapkan dapat menghasilkan tenaga kesehatan di bidang farmasi tingkat menengah yang dapat bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan. Pelaksanaan PKL pada prinsipnya mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan keterampilan yang membentuk kemampuan peserta didik sebagai bakat untuk memasuki lapangan kerja sesuai dengan kebutuhan program pendidikan yang ditetapkan. 2. Mengenai kegiatan-kegiatan penyelenggaraan program kesehatan masyarakat secara menyeluruh baik ditinjau dari aspek administrasi, teknis maupun sosial budaya. 3. Memberi kesempatan kerja yang nyata dan langsung secara terpadu dalam melaksanakan kegiatan kesehatan di bidang farmasi di Rumah Sakit, Puskesmas, PBF, PBAK, BPOM, Gudang Farmasi dan penyuluhan kepada masyarakat.

4. Menumbuh

kembangkan

dan

memantapkan

sikap

etis,

profesionalisme dan nasionalisme yang diperlukan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja sesuai dengan bidangnya. 5. Memberi kesempatan peserta didik untuk memasyarakatkan diri pada suasana atau iklim lingkungan kerja yang sebenarnya. 6. Meningkatkan, memperluas dan memantapkan proses penyerapan teknologi baru dari lapangan kerja ke sekolah dan sebaliknya. 7. Memperoleh masukan dan umpan balik, guna memperbaiki dan mengembangkan serta meningkatkan penyelenggaraan pendidikan Sekolah Menengah Farmasi. 8. Memberikan kesempatan penempatan kerja kepada peserta didik. Dari tujuan diatas diharapkan akan tercapai oleh peserta didik setelah melaksanakan PKL sebagai bekal dalam pengabdian diri di masyarakat. D. Tujuan Pembuatan Laporan Salah satu tugas yang harus dilakukan oleh peserta PKL setelah melaksanakan kegiatan PKL adalah membuat laporan yang memuat tentang uraian PKL. Pembuatan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) mempunyai tujuan antara lain : 1. Peserta PKL akan mampu memahami, memantapkan dan

mengembangkan pelajaran yang telah diperoleh di sekolah dan diterapkan di lapangan kerja.

2. Peserta PKL mampu mencari alternatif pemecahan masalah yang ditemukan di lapangan. 3. Mengumpulkan data guna kepentingan institusi pendidikan maupun peserta didik yang bersangkutan. 4. Menambah perbendaharaan perpustakaan sekolah untuk menunjang peningkatan pengetahuan peserta didik angkatan berikutnya.

BAB II URAIAN UMUM


A. Pegertian Tentang Pedagang Besar Farmasi Menurut Permenkes No. 918/Menkes/Per/V/1993 yang dimaksud dengan Pedagang Besar Farmasi (PBF) adalah Badan hukum berbentuk Perseroan Terbatas atau koperasi yang memiliki izin untuk pengadaan , penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 1992. Pedagang Besar Farmasi adalah sarana pelayanan kesehatan penunjang yang berfungsi menyalurkan sediaan farmasi dan alat kesehatan kepada sarana pelayanan kesehatan yang membutuhkannya. B. Tugas dan Fungsi Pedagang Besar Farmasi Suatu Pedagang Besar Farmasi mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut : a. PBF dan setiap cabangnya berkewajiban mengedarkan, menyimpan dan menyalurkan perbekalan farmasi yang memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan. b. PBF melaksanakan pengadaan obat, bahan obat dan alat kesehatan dari sumber yang sah berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku c. Menyalurkan obat generik dan obat generik berlogo

C. Persyaratan Pedagang Besar Farmasi Pedagang Besar Farmasi harus memenuhi syarat : 1. Dilakukan oleh badan hukum, Perseroan Terbatas, koperasi, perusahaan nasionalmaupun perusahaan patungan antara penanam modal asing yang telah memperoleh izin usaha industrial farmasi di Indonesia dengan perusahaan nasional. 2. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) 3. Memiliki asisten apoteker atau apoteker yang bekerj penuh. 4. Anggota direksi tidak pernah terlibat pelanggaran ketentuan aerundang-udangan di bidang farmasi. 5. Memenuhi persyaratan teknis 6. Memiliki izin PBF dari pemerintah (dalam hal ini BPOM)
D. Perizinan Pedagang Besar Farmasi

a. Wewenang pemberian izin Izin usaha PBF diberikan oleh Menteri Kesehatan, Menteri Kesehatan melimpahkan wewenang pemberian izin ke Badan POM Izin usaha PBF berlaku untuk seterusnya selama PBF yang bersangkutan masih aktif melakukan kegiatan usahanya dan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia Untuk memperoleh izin usaha PBF tidak dipungut biaya dalam bentuk apapun

b. Tata cara memperoleh izin Permohonan izin usaha PBF diajukan kepada Badan POM dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan setempat setelah PBF yang bersangkutan siap melakukan kegiatan Selambat-lambatnya enam hari kerja setelah menerima hasil pemeriksaan, kepala dinas kesehatan wajib melaporkan kepada Badan POM Depkes RI di Jakarta Selambat-lambatnya enam hari kerja setelah menerima hasil pemeriksaan, kepala Dinas Kesehatan setempat Dalam hal pemeiksaan setempat tersebut diatas tidak dilaksanakan tepat pada waktunya, yang bersangkutan dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan, kemudian disampaikan kepada Badan POM dengan tembusan Kepala Dinas Kesempatan Setempat Dalam jangka waktu dua belas hari kerja setelah menerima hasil pemeriksaan atau pernyataan dari bersangkutan. Badan POM mengeluarkan izin usaha PBF atau menundanya. Penundaan izin usaha PBF apabila pemohon belum memiliki atau memenuhi salah satu hal sebagai nerikut : 1. Persyaratan admistratif 2. NPWP 3. Penanggung jawab yang bekerja penuh

4. Bangunan dan sarana untuk melaksanakan pengelolaan, pengadaan, penyimpanan dan penyaluran perbekalan farmasi. Sehubungan dengan penundaan tersebut diatas, maka pemohon yang bersangkutan diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya satu bulan sejak menerima surat penundaan. Apabila kesempatan izin melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi tidak dilaksanakan, maka permohonan izin usaha PBF yang bersangkutan ditolak. E. Penyaluran Perbekalan Farmasi a. PBF hanya melaksanakan penyaluran obat keras kepada : 1. Pedagang Besar Farmasi lainnya. 2. Apotek 3. Institusi yang diizinkan oleh Menteri Kesehatan. Penyaluran tersebut dilakukan berdasarkan surat pesanan yang telah ditanda tangani oleh Asisten Apoteker atau Apoteker Penanggung Jawab unit yang diizinkan oleh Menteri Kesehatan. b. PBF wajib membukukan dengan lengkap setiap pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi sehingga dapat di pertanggung jawabkan setiap saat dilakukan pemeriksaan. Pembukuan itu sendiri meliputi : Surat pesanan Faktur penerimaan

Faktur pengiriman dan penyerahan Kartu persediaan di Gudang maupun di kantor PBF

c. PBF Dilarang : 1. Menjual perbekalan farmasi secara ecera eceran di tempat kerjanya atau di tempat lain 2. Melayani resep dokter 3. Melakukan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran narkotika tanpa izin khusus menteri kesehatan 4. Menyalurkan obat-obat ke pihak yang tidak berhak F. Informasi PBF a. PBF dan setiap cabangnya wajib menyampaikan laporan secar berkala sekali tiga bulan mengenai usaha yang meliputi jumlah penerimaan dan penyaluran masing-masing jenis obat kepada Badan POM dan tembusan Kepala Dinas Kesehatan setempat. b. PBF yang menyalurkan narkotika dan psikotropika wajib menyampaikan laporan penyaluran narkotika dan psikotropika sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, di samping laporan berkala tersebut di atas G. Pencabutan Izin Usaha PBF a. Pencabutan izin usaha PBF beserta cabangnya dicabut dalam hal : 1. Tidak mempekerjakan Apoteker atau Asisten Apoteker penanggung jawab memiliki surat izin kerja atau 2. Tidak aktif lagi dalam penyaluran obat selama satu tahun atau

10

3. Tidak lagi memenuhi persyaratan usaha sebagai mana ditetapkan dalam peraturan, atau 4. Tidak lagi menyampaikan informasi PBF tiga kali berturut-turut 5. Tidak melaksanakan ketentuan tentang tata cara penyaluran perbekalan farmasi sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. b. Pelaksanaan pencabutan izin usaha PBF, dilakukan setelah dikeluarkan : 1. Peringatan secara serius dari PBF yang bersangkutan sebanyak tiga kali berturut-turut dengan renggang waktu masing-masing dua bulan 2. Pembekuan izin PBF untuk jangka waktu enam bulan sejak dikeluarkannya penetapan pembekuan kegiatan PBF. Dalam hal pembekuan izin PBF, dapat dicairkan kembali apabila PBF yang bersangkutan telah membuktikan memenuhi seluruh persyaratan sesuia ketentuan yang berlaku. Setiap pembekuan atau pencabutan izin PBF berlaku juga untuk seluruh cabangnya c. Pejabat yang berwenang untuk memberikan peringatan, melakukan pembekuan izin dan pencabutan izin PBF adalah Badan POM, Depkes, kecuali untuk PBF yang sudah tidak aktif lagi melakukan kegiatan selama satu tahun.

11

H. Pembinaan Terhadap PBF Pembinaan terhadap PBF dalam melakukan tugas fungsinya dilakukan oleh Badan POM, Depkes. Pembinaan meliputi pelaksanaan kebijakan umum dibidang pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran perbekalan farmasi yang ditetapkan oleh menteri kesehatan. Izin PBF berlaku pula bagi gudang atau tempat penyimpanan peralatan, perlengkapan, bahan baku, obat jadi, dan alat kesehatan yang dikuasai oleh PBF untuk keperluan kegiatan usahanya. I. Ketentuan Pidana Pelanggaran terhadap ketentuan PBF yang bersangkutan dapat dikenakan sanksi pidana berdasarkan: 1. UU No 22 Tahun 1997 Tentang Narkotika 2. UU No 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika 3. Ordonantie obat keras No. 419 Tahun 1949 4. UU No. 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan serta peraturan perundang-undangan lainnya Di samping itu dapat pula dikenakan sanksi administrasi berupa pencabutan izin usaha.

12

BAB III URAIAN KHUSUS

A. Sejarah PT. Kebayoran Pharma PT. Kebayoran Pharma Makassar berdiri sejak tanggal 21 Januari 1942 dan mempunyai kantor pusat yang berada di Jakarta. Saat ini PT. Kebayoran Phama mempunyai 23 cabang di seluruh Indonesia, sedangkan Makassar sendiri merupakan kantor cabang yang ke 11. Sejak berdirinya PT. Kebayoran Pharma cabang Makassar pada tahun 1972. PT. Kebayoran Pharma telah beberapa kali berganti kepala cabang. Sedangkan kepala cabang yang saat ini memimpin PT. Kebayoran Pharma cabang Makassar adalah Bapak Kristian Yedianto, SE. beberapa kepala cabang yang pernah menjabat di Makassar yaitu : 1. Bapak Eddy Kartawijaya 2. Bapak Hendra Siswandi 3. Bapak Agustinus Ung 4. Bapak Bambang A. Prabowo 5. Bapak Sigit St. Sadono 6. Bapak Herly, SE 7. Bapak Edison, SE 8. Bapak Priyo Utomo, SE

13

B. Susunan Organisasi PT. Kebayoran Pharma Pedagang Besar Farmasi merupakan salah satu sarana pelayanan kesehatan yang menyangkut aspek kefarmasian, untuk itu Pedagang Besar Farmasi harus mempunyai struktur yang baik atau uraian kerja yang jelas, sehingga wewenang dan tanggung jawab dari setiap karyawan tidak hanya terletak pada satu individu saja. Dan juga supaya terbentuknya suatu kerjasama yang baik antar bagiannya. Dalam pelaksanaan tugasnya PT. Kebayoran Pharma dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu : 1. PT. Kebayoran Pharma Cabang Makassar dipimpin oleh Kepala Cabang 2. Salesman 3. Bagian computer 4. Bagian keuangan, terdiri dari beberapa bagian, yaitu : Administrati piutang Administrasi keuangan Administrasi pajak

5. Asisten Apoteker yang dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh :

Bagian Logistik Administrasi Gudang Bagian Ekspedisi Lope dan driver (Sopir)

14

C. Tata Kerja di PT. Kebayoran Pharma 1. Tugas Kepala Gudang : Mengkordinir dan mengontrol semua bagian Menjaga hubungan baik dengan langganan Menjaga hubungan baik dengan para wakil prinsipal

2. Tugas Salesman : Mencari order ke langganan, yaitu : 1. Apotek 2. Rumah Sakit 3. Toko Obat 4. Pedagang Besar Farmasi Membuat laporan penjualan harian Membantu dalam hal penagihan kepada langganan Membantu dalam hal pengiriman barang ke langganan

3. Tugas Bagian Komputer : Membuat faktur sesuai surat pesanan dari pelanggan Mengimput pelunasan piutang Membuat laporan penjualan Memfile dokumen-dokumen yang menyangkut tugas dari bagian komputer. 4. Tugas Bagian Keuangan : Mencatat pembukuan keuangan perusahaan Membuat laporan keuangan
15

Mencatat kartu piutang Membuat laporan perpajakan PPN dan PPH 21 kepada PT. Kebayoran Pharma Pusat atau setempat

5. Tugas Asisten Apoteker : Membuat laporan untuk pendistribusian dalam dan luar kota kepada Badan POM Jakarta dengan Tembusan Dinas Kesehatan dan Badan POM setempat Membuat surat-surat penting yang menyangkut tentang hal pendistribusian obat. Mengeluarkan barang dan memotong kartu stok Memfile kartu register dan surat pesanan dari langganan

6. Tugas Bagian Logistik : Menyiapkan barang dan memotong kartu stok Membuat surat pesanan barang ke PT. Kebayoran Pharma Mencocokkan kartu stok dengan fisik barang Memfile dokumen yang menyangkut tugas tersebut diatas

7. Tugas Collector : Melakukan penagihan ke setiap pelanggan Membuat laporan daftar penerimaan kas

8. Tugas Lopper :

Melaksanakan pengiriman barang dari ke pelanggan sesuai dengan surat pesanan yang tercantum di dalam faktur.

16

D. Pengelolaan Perbekalan Farmasi Di PT. Kebayoran Pharma 1. Pengadaan Perencanaan pengadaan barang didasarkan atas kemampuan bagian penjualan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan seperti penumpukan barang digudang. Perencanaan pengadaan perbekalan farmasi dikerjakan berdasarkan analisa data yang akurat dan sistemik. Ada beberapa proses dari pengadaan meliputi kegiatan : Pemesanan Penerimaan Penyimpanan

Pemesanan hanya dilakukan dari sumber yang resmi yang dapat dipertanggung jawabkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku. Penyimpanan dilakukan untuk memelihara keadaan kartu stock supaya dapat memberikan pelayanan yang teratur dan berkesinambungan. Pengadaan barang dari pusat didasarkan oleh permintaan PT. Kebayoran Pharma Cabang Makassar yang sebelumnya mengirimkan surat permohonan permintaan barang. Jumlah atau banyaknya pengiriman ini di ketahui dari data pelaporan yang dilakukan dengan menggunakan sistem komputerisasi. Pengadaan barang oleh kantor pusat juga harus memperhatikan kondisi gudang yang dapat menampung barang. Pengiriman barang

17

oleh kantor pusat dilakukan melalui laut, kecuali ada hal-hal tertentu maka pengiriman dilakukan melalui udara. 2. Penyimpanan setelah barang diterima dan diperiksa, maka barang tersebut dimasukkan kedalam gudang untuk disusun menurut jenis pabrik dan urutan nomor. Penyimpanan barang dilakukan dengan memperhatikan beberapa kemungkinan, agar barang tersebut tidak mengalami perubahan atau kerusakan secara fisik maupun kimia. Dan pada penyimpanan perlu juga dilakukan penyimpanan khusus pada berbagai sediaan obat tertentu seperti injeksi dan infuse di lakukan penyimpanan pada suhu yang sesuai yaitu pada ruangan ber ac dan di dalam kulkas, dan juga harus diperhatikan barang tersebut berada pada ruangan yang terlindung dari cahaya matahari lansung Perubahan jumlah obat yang keluar atau masuk dilakukan oleh bagian gudang menurut jenis barang, yang kemudian di catat pada kartu stock setiap ada penerimaan atau pengeluaran barang untuk memudahkan dalam pengawasan. 3. Pengeluaran dan penyimpanan Pengiriman barang oleh kantor pusat disertai dengan daftar barang dan jumlah barang yang dikirim pada setiap kemasan yang masuk ke gudang diperiksa oleh kepala gudang untuk memeriksa kondisi barang dan menyesuaikan dengan yang tercantum dalam daftar, meliputi : Kebenaran jumlah kemasan

18

Kebenaran jumlah satuan dalam setiap kemasan Jangka waktu kadaluarsa

Obat-obatan didistribusikan oleh PT. Kebayoran Pharma adalah merupakan hasil yang diproduksi dari 12 pabrik, yaitu :

PT. Pratama Nirmala ( Fahrenheit ) PT. Molex Ayus PT. Nicholas Laboratories PT. Pembangunan PT. Margana SI PT. IkaPharmindo PT. Rohto Laboratories Indonesia PT. Trisan Lovina PT. Global Multi Fharmalab PT. Kinocare Erakosmetindo PT. Yarindo Pharmatama

Sedangkan untuk jenis obat keras tertentu yang didistribusikan oleh PT. Kebayoran Pharma hanya berjumlah 9 macam, yaitu : a. Renaquil Tablet b. Renagas Tablet c. Trazep d. Zolmia Tablet e. Piptal Pediatrik
19

f. Neurindo g. Anesfar Injeksi Sistem pengeluaran atau penjualan di PT. Kebayoran Pharma berdasarkan system FIFO (First In First Out). Setiap penjualan atau pengeluaran harus didertai dengan surat pesanan yang kemudian akan dibuatkan faktur yang terdiri dari 6 rangkap, yaitu : a. Arsip Komputer b. Arsip Gudang c. Pemesanan d. Register + SP + TT e. Asli Untuk Penagihan f. Arsip Keuangan :1 :1 :1 :1 :1 :1

Faktur yang di buat diserahkan ke bagian gudang agar mengeluarkan barang sesuai faktur tersebut, kemudian dikirim atau diserahkan kepada pemesan. Untuk luar profinsi, pendistribusian OKT ( Obat Keras Terbatas) surat pesanan yang bersangkutan harus di legalisir oleh Kakanwil setempat kemudian dikirim ke PT. Kebayoran Pharma Makassar untuk dibuatkan faktur dan harus dilegalisir oleh Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan. Setelah melalui proses di atas, barulah pesanan yang bersangkutan dapat dikirim. Sedangkan untuk jenis yang bukan OKT, surat pesanan yang bersangkutan dilegalisir oleh Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan,

20

kemudian dikirimkan tembusan kepada Badan POM setempat. Dalam hal ini juga disertai foty copy surat pesanan dan foto copy faktur. 4. Pengembalian Obat Kadaluarsa Dari Cabang Ke PT. Kebayoran Pharma a. PT. Molex Ayus Bulan kadaluarsa dan selambat-lambatnya satu bulan setelah kadaluarsa. b. PT. Pratama Nirmala Pada bulan kadaluarsa dan selambat-lambatnya 2 bulan setelah kadaluarsa c. PT. Rohto Laboratories, Inc Pada bulan kadaluarsa selambat-lambatnya 1 bulan setelah satu bulan kadaluarsa dan apabila kemasan rusak, kotor, atau bocor dapat di ganti oleh pabrik. d. PT. Nicholas Laboratories Indonesia Pada bulan kadaluarsa dan selambat-lambatnya 2 bulan setelah kadaluarsa. Barang rusak bukan karena kadaluarsa lewat dari 5 tahun produksi tidak dapat diganti, cara menghitung tahun produksi terlampir. Untuk obat dalam kemasan strip bila isi tidak utuh tidak dapat diganti, misalnya 1 strip berisi 10 tablet, tidak boleh diklaim kalau isi kurang dari 10 tablet. Cara membaca nomor batch ada terlampir pada brosur obat atau pada kemasan obat yang sudah terlampir.

21

e. PT. IkaPharmindo Putramas

Harus dua bulan sebelum kadaluarsa, lewat dari ketentuan tersebut klaim tidak akan diganti oleh pabrik. f. PT. Global Multi Pharmalab Pada bulan kadaluarsa dan selambat-lambatnya 1 bulan setelah kadaluarsa. Cara membaca nomor batch terlampir pada brosur atau kemasan obat tersebut. Adapun prosedur pengembalian obat dari langganan ke PT. Kebayoran Pharma Makassar : 1. PT. Molex Ayus ( selambat-lambatnya pada bulan kadaluarsa ) 2. PT. Fahrenheit ( selambat-lambatnya 1 bulan setelah kadaluarsa ) 3. PT. Rohto ( selambat-lambatnya pada bulan kadaluarsa ) 4. PT. Nicholas Selambat-lambatnya satu bulan setelah kadaluarsa Barang rusak bukan karena kadaluarsa lewat dari 5 tahun produksi tidak dapat diganti 5. PT. Rohto Indonesia Satu bulan sebelum kadaluarsa dan harus masih dalam keadaan yang utuh, misalnya : 1 box isi 100 tablet, maka tidak dapat diklaim jika isi kurang dari 100 tablet
6. PT. IkaPharmindo Putra Mas

Selambat-lambatnya 3 bulan sebelum kadaluarsa 7. PT. Global Multi Pharmalab

22

Selambat lambatnya pada bulan kadaluarsa 8. PT. Mega Produk Selambat-lambatnya tiga bulan sebelum kadaluarsa. 9. PT. Yarindo Farmatama, Sido Muncul, Kinocare dan Mergana Satwika Isthi Selambat-lambatnya pada bulan kadaluarsa. Setiap retur barang harus disertai retur faktur PT. Kebayoran Pharma, tanpa copy faktur tidak dapat di layani retur barang tersebut.

5.Pelaporan Dalam melaksanakan pengelolahan perbekalan farmasi pada suatu PBF wajib membuat laporan tentang pengadaan dan penyaluran barannya Macam-macam yang akan dibuat di PT. Kebayoran Pharma : Laporan triwulan di buat 3 bulan dimana semua obat dilaporkan termasuk OKT. Laporan ini di buat sebanyak 3 rangkap dengan tujuan untuk : 1. Badan Besar POM 2. Badan POM setempat 3. Arsip
Laporan khusus psikotropika dibuat tiap bulan. Laporan ini dibuat

sebanyak 4 rangkap dengan tujuan untuk :

23

1. Menteri Kesehatan 2. Dinas Kesehatan 3. Badan POM depkes 4. Arsip

24

BAB IV PEMBAHASAN

1. Masalah Yang Ditemukan


a. Terjadinya kekosongan barang di gudang, hal ini menjadi salah

satu masalah yang ditemukan di PBF Kebayorang apabila stock barang tidak tersedia, hal ini mengakibatkan banyak permintaan barang yang tidak diberikan, hal ini juga dapat membuat pelanggan tidak puas dengan permintaannya yang tidak terpenuhi tersebut, bila terus menerus seperti ini pelanggan akan mudah beralih ke PBF lain.
b. Terjadinya keterlambatan barang yang datang, keterlambatan

barang masuk juga mempengaruhi keadaan stock barang di gudang, keterlambatan ini akan mengakibatkan kekosongan stock meskipun hanya bersifat sementara namun hal ini juga berpengaruh besar terhadap kepuasan pelanggan. 2. Alternatif Pemecahan Masalah a. Masalah ini dapat di atasi dengan beberapa alternatif antara lain : jika barang di gudang telah menipis, maka segera di buat surat pesanan ke PBF Pusat agar segera mengirimkan barang tersebut. b. Pending layanan.jika cito diusahakan segera

25

c. Pemesanan barang dilakukan lebih cepat agar pengiriman dari PBF Pusat tidak terlambat. Sehingga barang dapat di sediakan pada saat yang dibutuhkan. d. Masalah ini dapat diatasi dengan memberikan pengertian kepada the teller.

BAB V PENUTUP
1. Kesimpulan Pernan Asisten Apoteker Di PBF antara lain: Membuat laporan untuk pendistribusian dalam dan luar kota kepada Badan POM Jakarta dengan Tembusan Dinas Kesehatan dan Badan POM setempat Membuat surat-surat penting yang menyangkut tentang hal pendistribusian obat. Mengeluarkan barang dan memotong kartu stok Memfile kartu register dan surat pesanan dari langganan
26

2. Saran Pelaksanaan PKL harus ditambah waktunya jangan hanya 10 hari saja dikarenakan banyaknya kegiatan di lahan yang belum terpraktikkan oleh siswa karena keterbatasan waktu yang diberikan seperti kami tidak sempat melakukan kegiatan yang dinamakan stock of name yang dilakukan pada awal bulan berhubung waktu PKL kami laksanakan pada pertengahan bulan.

27

DAFTAR PUSTAKA

1. Tim Pelaksana PKL. 2009. Buku Panduan Pelaksanaan PKL SMK

Yamasi Prodi Farmasi Makassar. Makassar.


2. Ratminah.dkk. 2002. Undang-Undang Kesehatan Jilid I (Untuk Kelas I)

cetakan ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan.

28

L A M P I R A N

DAFTAR ISI
29

LEMBAR PENGESAHAN.I KATA PENGANTAR.ii DAFTAR ISI..iii BAB 1 PENDAHULUAN00

a. Latar belakang00 b. Pengertian PKL..00 c. Tujuan pelaksanaan PKL.00 d. Tujuan Pembuatan Laporan00 BAB II URAIAN UMUM

a. Pengertian Pedagang Besar Farmasi..00 b. Tugas dan fungsi PBF..00 c. Persyaratan PBF.00 d. Perizinan PBF.00 e. Penyaluran perbakalan Farmasi di PBF00 f. Informasi PBF.00 g. Pencabutan Izin Usaha PBF.00 h. Pembinaan terhadap PBF.00 i. Ketentuan pidana.00 BAB III URAIAN KHUSUS a. Sejarah PT kebayoran Pharma.00 b. Sususnan Organisasi PT. Kebayoran Pharma..00 c. Tata kerja di PT kebayoran Pharma00 d. Pengelolaan perbekalan farmasi.00 BAB IV PEMBAHASAN
30

a. Masalah yang Ditemukan..00 b. Alternatif Penyelesaian Masalah00 BAB V KESIMPULAN a. Kesimpulan00 b. Saran.00 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN.

31