Anda di halaman 1dari 5

Hasil pengamatan ,58.

:2,33:2
NO Karakteristik Genoitip 3 Genotip 4 Genotip 5
1 Warna Batang Hijau garis ungu Hijau Hijau garis ungu
2 Bentuk batang Cylindrical Cylindrical Cylindrical
3 Bulu pada batang Jarang Jarang Jarang
4 Tipe pertumbuhan tanaman Intermediate Intermediate Erect
5 Warna daun Hijau tua Hijau Hijau tua
6 Bentuk daun Lonceolate Lonceolate Lonceolate
7 Jumlah bunga peraxil Satu Satu Satu
8 Posisi bunga Intermediate Pendant Pendant
9 Warna mahkota Putih Putih Putih
10 Warna semburat mahkota Putih Ungu Putih
11 Bentuk mahkota bunga Rotate Rotate Rotate
12 Warna anter Ungu Ungu Ungu
13 Warna tangkai sari Kuning Kuning Kuning
14 Bentuk tepi kelopak Dentate Dentate Dentate
15 Bentuk buah Elongate Elongate Elongate
16 Bentuk pangkal buah Obtuse Obtuse Obtuse
17 Lekukan pangkal buah Tidak Ada Tidak ada Ada
18 Bentuk ujung buah Point Point Point
19 Struktur ujung buah Tidak Ada Tidak ada Ada
20 Permukaan kulit buah Semiwrinkled Semiwrinkled Wrinkled
AMA : RHOMA ISTIKHORI
IM :1006121809
PRODI : AGROTEKOLOGI
PRAKTIKUM : PEMULIAA TAAMA

1. Kleistogami (cleistogamie yaitu proses penyerbukan bunga yang terjadi ketika bunga
masih kuncup / Penyerbukan tertutup.
2.Kasmogami (chasmogamie yaitu proses penyerbukan bunga yang terjadi ketika bunga
telah mekar / Penyerbukan terbuka.
3. Diogamie (dichogamie merupakan proses masaknya putik dan serbuk sari secara tidak
bersamaan.
4. Herkogami (herkogamie bunga dimana letak kepala sari dan putik saling berjauhan
sehingga sulit mengalami penyerbukan sendiri
5. Heterostili (heterostylie merupakan bunga yang memiliki panjang putik dan benang sari
berbeda-beda.
6. AnemoIili (anemophilie merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh angin.
7. EntomoIili (enthomophilie merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh serangga.
8. OrnitoIili (ornithophilie merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh burung.
9. KiropteroIili (chiropterophilie merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh
kelelawar.


!NINGKATAN !#ODUKTIVITAS CABAI
abai merah Capsicum annum) merupakan salah satu jenis sayuran penting yang bernilai
ekonomis tinggi dan cocok untuk dikembangkan di daerah tropika seperti di Indonesia. abai
sebagian besar digunakan untuk konsumsi rumah tangga dan sebagiannya untuk ekspor dalam
bentuk kering, saus, tepung dan lainnya. Pada saat tertentu, kebutuhan cabai sangat tinggi
sehingga produksi nasional tidak mampu memenuhi permintaan yang selalu bertambah
dari tahun ke tahun (Suharsono, et al., 2009.
Produksi cabai di Indonesia sangat IluktuatiI dari tahun ke tahun, sedangkan konsumsi per kapita
cenderung meningkat. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian
(2008 rata-rata produksi cabai besar dan cabai rawit pada tahun 2007 berturut-turut adalah
676.828 ton dan 451.965 ton. Pada tahun yang sama konsumsi cabai merah, cabai hijau dan
cabai rawit di Indonesia berturut-turut adalah 1.47 kg/kapita/tahun, 0.3 kg/kapita/tahun dan 1.51
kg/kapita/tahun. Volume ekspor cabai pada tahun 2006 sebesar 8.005 ton, sedangkan untuk
volume impor sebesar 11.886 ton. Diperkirakan permintaan terhadap sayuran khususnya cabai
dari tahun ke tahun terus meningkat berkorelasi dengan meningkatnya jumlah penduduk serta
berkembangnya industri makanan dan obat.
Peningkatan produktivitas cabai di Indonesia perlu diakukan untuk memenuhi kebutuhan cabai
yang semakin meningkat. Salah satu alternatiI untuk meningkatkan produktivitas cabai adalah
dengan menggunakan varietas unggul, salah satunya dengan varietas hibrida melalui program
pemuliaan. Varietas hibrida merupakan generasi pertama atau F1. Produktivitas varietas hibrida
lebih tinggi dibandingkan dengan varietas open polinated (OP. Peningkatan hasil hibrida cabai
dapat mencapai 61 lebih tinggi dari tetuanya (Kalloo, 1986.
Berbagai varietas hibrida saat ini telah digunakan oleh banyak petani, akan tetapi sebagian benih
varietas tersebut merupakan benih impor. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura (2008,
kebutuhan benih cabai tahun 2007 sebanyak 30 ton, dan rata-rata jumlah impor benih cabai
mencapai 30 dari ketersediaan benih. Untuk itu maka perakitan varietas hibrida dalam negeri
perlu dilakukukan agar mampu menghasilkan varietas unggul baru yang sesuai dengan kondisi
wilayah di Indonesia serta memiliki karakter yang sesuai dengan keinginan konsumen.
Program pembentukan varietas hibrida cabai telah dilakukan sejak tahun 2003 oleh Bagian
Genetika dan Pemuliaan Tanaman IPB. Pada saat ini proses perakitan varietas hibrida telah
sampai pada tahap persiapan pelepasan. Hasil perakitan perlu dievaluasi untuk mengetahui
produktivitas dan adaptabilitas calon varietas tersebut. Suatu varietas baru yang akan dilepas
harus menunjukkan keunggulan dibandingkan varietas yang telah ada. Menurut Direktorat
Jenderal Hortikultura (2008, uji daya hasil perlu dilakukan untuk mengetahui siIat-siIat unggul
calon varietas hibrida tersebut.

SUMBER:
http://research.mercubuana.ac.id/proceeding/AALISIS-VARIETAS-DA-POLYBAG.pdI