Anda di halaman 1dari 8

Andistya Oktaning Listra (0910210022) REFERENSI BUKU : M.L.Jhigan.1994. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta : PT.

Raja Grafindo Persada

Model Mahalanobis (1952)


Mahalanobis mengembangkan model satu sektor yang didasarkan pada variabel pendapatan nasional dan investasi. Model tersebut pada tahun 1953 dikembangkan menjadi model dua sektor, di mana keseluruhan output netto perekonomian dianggap diproduksi oleh dua sektor, yaitu sektor barang modal dan barang konsumsi. Kemudian pada tahun 1955, dikembangkan lagi menjadi model empat sektor. a. Model dua sektor Mahalanobis memandang perekonomian menjadi dua sektor. k, proporsi investasi netto yang dipergunakan di dalam sektor barang modal dan c, proporsi investasi netto yang dipergunakan dalam sektor barang konsumen.

k + c = 1

....... (1)

Lebih jauh, investasi netto (I) dapat dibagi menjadi dua bagian di sembarang waktu (t):

kIt untuk menaikkan kapasitas produksi sektor barang modal dan cIt untuk menaikkan
kapasitas produksi sektor barang konsumsi. Dengan jalan ini maka:

I t = kIt + cIt

.(2)

Dengan k dan c masing-masing sebagai rasio output modal dari sektor barang modal dan sektor barang konsumsi, dan sebagai koefisien produktivitas total, maka dapat dinyatakan = kk + cc k + c

Tetapi k + c = I = kk + cc Yt = It + Ct .......(3) Persamaan penunjuk pendapatan bagi keseluruhan perekonomian adalah:

Sekarang, jika pendapatan nasional berubah, investasi dan konsumsi juga berubah. Perubahan dalam investasi tergantung pada investasi tahun sebelumnya (It-1) dan begitu juga konsumsi tergantung pada konsumsi tahun sebelumnya (Ct-1). Jadi, kenaikan investasi dalam periode t adalah It = It-It-1 dan kenaikan dalam konsumsi adalah Ct - Ct-1. Sebenarnya kenaikan di kedua sektor itu berkaitan dengan hubungan antara kapasitas produktif investasi di sektor barang modal (kIk) dengan rasio output modalnya (k), sehingga: It = (I + k k)It-1 ......(4)

Hubungan Antara Model Dua Sektor Mahalanobis Dengan Model Domar Mahalanobis membangun model dua sektornya berdasarkan model Domar. Oleh karena itu, kedua model tersebut mempunyai hubungan yang erat. Pertama, kita ketengahkan model Domar dengan menggunakan parameter model Mahalanobis. Persamaan ekuilibrium untuk menentukan investasi di dalam model Domar adalah I = Y, di mana I adalah investasi, adalah rasio tabungan pendapatan, dan Y adalah pendapatan nasional. Pertumbuhan investasi dalam periode t adalah It = Yt Persamaan model Domar dan Mahalanobis, yaitu adanya konsep keterlambatan waktu (time lag). Akhirnya, kesimpulan kedua model itu adalah sama, yaitu investasi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan laju tabungan marginal. Walaupun terdapat kesamaan, namun ada pula beberapa perbedaan di antara kedua model. Model domar adalah model satu sektor, sedangkan model Mahalanobis adalah model dua sektor. Mahalanobis membagi perekonomian menjadi sektor barang modal dan sektor barang konsumen. Sedang Domar, menganggap perekonomian sebagai satu sektor. b. Model empat sektor Model Mahalanobis bukanlah suatu model pertumbuhan dalam arti sebenarnya. Lebih baik disebut sebagai suatu model alokasi. Karena keanggotaannya di bidang perencanaan. Mahalanobis mengetahui bahwa dana maksimal yang tersedia bagi investasi netto selama pelita II akan rata-rata sebesar Rs 5,600 (dibuktikan berdasarkan hasil pemecahan angka atas modelnya yang disajikan pada tabel 1.1 dan 1.2) dan tujuannya adalah untuk menyediakan kesempatan kerja tambahan kepada 10-12 juta penduduk. Dengan jumlah sebesar ini, dia menambahkan bahwa kenaikan akan pendapatan sebesar 5% per tahun selama periode Pelita tersebut.

penduduk. Selanjutnya diperkirakan, sepertiga barang dan dua pertiganya untuk investasi pada tiga sektor ekonomi lainnya. Dia menuangkan semua data ini kedalam sistem persamaan simultan sederhana berikut ini dan mendapatkan kesimpulan yang akhirnya menjadi dasar pelita II bagi India. Profesor Mahalanobis memberikan pemecahan dengan angka atas modelnya seperti di bawah ini dimana: A (investasi total) (kenaikan presentase dalm pendapatan nasional) N (pekerjaan total yang harus diciptakan) k (proporsi investasi di dalam industri barang investasi) Nilai sektoral dari , , adalah : Tabel 1.1 Sektor Barang investasi Barang konsumsi pabrik (C1) Industri kecil dan rumah tangga (C2) Jasa (C3) k 1 2 3 = 0,33 = 0,17 = 0,21 = 0,29 k 0,20 1 0,35 2 1,25 3 0,45 = = = = Parameter k 1 2 3 = Rs 20.000 = Rs 8.750 = Rs 2.500 = Rs 3.750 = Rs 5.600 crore = 5 persen/tahun = 11 juta = 1/3 (atau 0,33)

Berdasarkan data data yang ada itu, jumlah investasi di sektor k adalah k.A = crore; kenaikan pendapatan sebagai hasil investasi ini masuk Ek = kk = = Rs 370 crore, sedang kenaikan lapangan kerja di sektor k adalah hasil dari n k = kA/ k = = 0,9 juta. Begitu juga alokasi kenaikn pendapatan, lapangan kerja yang

tercipta dan investasi untuk sektor lain selama periode 5 tahun rencana dalam angka yang dibulatkan, jika dihitung dengan bantuan persamaan simultan ialah:

Tabel 1.2 Sektor Investasi (A) (N) k (C1) (C2) (C3) (Rs crore) k = 0,33 1 = 0,17 2 = 0,21 3 = 0,29 k 1 2 3 (Rs crore) = 0,20 = 0,35 = 1,25 = 0,45 k 1 2 3 (Rs crore) = Rs 20.000 = Rs 8.750 = Rs 2.500 = Rs 3.750 Kenaikan dalam Pendapatan (E) Lapangan Kerja

Model Mahalanobis menggangap ekonomi terdiri dari empat sektor, yaitu (M.L.Jhigan, 1994:396): 1. Sektor barang investasi (k) 2. Sektor pabrik yang memproduksi barang konsumsi (C1) 3. Sektor rumah tangga atau usaha kecil yang memproduksi barang konsumsi (termasuk produk pertanian) (C2) 4. Sektor penghasil jasa (kesehatan, pendidikan, dan sebagainya) (C3) Tanda k, C1, C2, dan C3 ini masing-masing untuk menggambarkan industri yang memproduksi barang investasi, barang konsumsi (pabrik maupun rumah tangga), dan jasa. Untuk masing-masing dari keempat sektor ini diperkenalkan tiga parameter (beta), untuk rasio-rasio pendapatan netto yang tercipta lantaran investasi atau rasio output modal. (theta) untuk investasi netto yang diperlukan oleh tiap orang yang bekerja atau rasio buruh modal. (lamda) untuk proporsi investasi yang dialokasikan ke masing-masing sektor atau rasio alokasi. Selanjutnya, A untuk jumlah investasi yang harus dilakukan selama jangka waktu perencanaan lima tahun, E untuk kenaikan total pendapatan dan N untuk kenaikan total pekerjaan selama jangka waktu perencanaan. Berdasarkan rasio-rasio parametrik itu (, , dan ) dan jumlah total yang harus diinvestasikan, dapat diperoleh perkiraan mengenai pendapatan total (E) dan pekerjaan (N) yang tercipta di berbagai sektor perekonomian selama periode perencanaan tersebut. A, E, clan, N merupakan kondisi perbatasan (boundary conditions), dan ketiganya bersifat konstan. Tetapi dalam waktu yang sama, ketiganya merupakan variabel-

variabel target yang harus dicapai selama jangka waktu rencana, di mana ketiganya merupakan variabel instrumen. dan merupakan parameter struktural yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan dianggap konstan selama jangka waktu rencana. adalah parameter alokasi yang merupakan pilihan bagi para perencana dalam batasan waktu tertentu. Di dalam model Mahalanobis, parameter (rasio) alokasi k untuk sektor barang investasi adalah tertentu (given) dan rasio-rasio lainnya untuk ketiga sektor lain (1, 2, dan 3) diperoleh sebagai pemecahan terhadap serentetan persamaan serentak yang telah disebutkan di atas. Misalnya, seperti dijelaskan Mahalanobis "laju kenaikan pendapatan atau pekerjaan yang tercipta mungkin dapat dianggap sebagai variabel yang nilainya dapat ditetapkan sesuai keinginan. Model tersebut kemudian akan memungkinkan kita untuk mengkaji, dengan bantuan perkiraan angka dari parameter yang bermacam-macam itu, sebagaimana alokasi rasio , yaitu proporsi investasi total yang ditanam di berbagai sektor, harus dipilih sehingga tujuan yang dicita-citakan dapat tercapai" (M.L.Jhigan, 1994:398). Dengan demikian, model Mahalanobis dapat disimpulkan sebagai berikut: Di dalam jangka waktu tertentu, dalam usaha mencapai suatu laju pertumbuhan ekonomi tertentu, jumlah keseluruhan yang diinvestasikan dibagi-bagi sedemikian rupa sehingga pembagian itu dapat menuju ke arah laju pertumbuhan yang diinginkan. Tetapi, karena laju pertumbuhan yang dicita-citakan itu harus cukup tinggi, maka laju itu dapat dicapai dengan memperluas sektor k dan dengan ini menghasilkan jumlah barang investasi yang lebih besar. Tetapi, investasi dalam sektor k dirancang untuk mendorong kenaikan daya beli dan menciptakan permintaan barang konnsumsi yang cenderung memerlukan sedikit saja modal, tetapi banyak buruh. Kritik Terhadap Teori Mahalanobis Pemecahan model Mahalanobis tersebut di atas dan penerapan praktisnya di India dalam bentuk pelita II membuktikan bahwa model tersebut memiliki faedah tinggi sebagai suatu instrumen perencanaan pembangunan. Namun demikian, model ini memiliki keterbatasan dan kelemahan, yaitu (Alak Ghosh, New Horizons in Planning, halaman 41 42; lihat juga S. Tsuru,

Some Theoritical Doubts on the Plan-Frame, Economic Weekly, Januari 1957, Nomer Tahunan; dan A.Mitra, A Note on Mahalanobis Model, Economic Weekly, 16 Maret 1957; P.N Mathur, A Note on Planning in India, IEJ, 4 November 1957): 1. Gagal memecahkan fungsi kesejahteraan tertentu. Model ini pada hakekatnya merupakan model operasional. Seperti telah dijelaskan, model ini sampai kepada suatu pemecahan optimal dan keberbagairagaman pemecahan dalam kaitannya dengan suatu preferensi atau tungsi kesejahteraan yang telah ditentukan. Padahal fungsi itu tidak menunjuk suatu fungsi kesejahteraan tertentu (yang pasti). Padahal, tanpa itu tidaklah mungkin untuk sampai kepada alokasi sumber secara optimal.
2.

Nilai k Arbiter. Mahalanobis mengasumsikan nilai k = I/3, tetapi tanpa memberikan alasan kuat untuk itu. Sehingga bersifat arbiter dan tidak mungkin membantu para perencana agar sampai kepada pemecahan yang benar mengenai alokasi investasi yang paling optimal di berbagai sektor perekonomian.

3.

Tekniknya tidak cocok untuk perekonomian terbuka. Karena investasi merupakan satu-satunya dana yang homogen, yang dipergunakan untuk satu jenis barang investasi. Padahal barang investasi mempunyai jenis yang heterogen (dalam perekonomian terbuka).

4.

Penawaran produk pertanian tidak elastis tak terbatas. Karena asumsinya produk pertanian bersifat elastis tak terbatas. Asumsi ini dapat dipertahankan karena penawaran produk pertanian ternyata tidak berhasil memenuhi permintaan bahan makanan dan bahan mentah yang meningkat.

5.

Penawaran buruh juga elastis tak terbatas. Asumsi ini tidak benar, meskipun negara terbelakang menghadapi masalah pengangguran dan setengah pengangguran. Apa yang diperlukan bagi struktur produktif bukanlah sekedar buruh saja, tetapi buruh yang terlatih dan terdidik serta manajemen.

6.

Teknik produksi tidak konstan. Dalam kenyataan, perubahan teknotogi selain terjadi dalam proses pembangunan. Nilai parameter struktural bersifat arbiter. Lagi pula, asumsi bahwa rasio modal output dan rasio modal buruh bersifat independen adalah tidak realistis, parameter ini mungkin berubah dalam pembangunan.

7.

8.

Tidak berbicara mengenai investasi dalam perekonomian campuran. Model mahalanobis lebih jauh tidak berhasil membimbing para perencana di dalam memutuskan peranan investasi di sektor swasta dan sektor public. Model ini bungkam di soal sektor swasta dan sektor publik. Model ini bungkam soal penting mengenai perencanaan pembangunan ini di dalam negara demokratis dengan perekonomian campuran.

9.

Mengabaikan harga faktor. Cacat lain model ini ialah bahwa Mahalanobis mengabaikan pola harga factor pada waktu menetapkan target berdasarkan model ini. Model tertutup. Model ini terbatas untuk suatu perekonomian tertutup. Mahalanobis menganggap bahwa di situ tidak aka nada impor atau ekspor barang barang investasi. Jadi ia mengabaikan dampak perdagangan luar negeri pada variabel veriabel modelnya dan menghilangkannya sebagai unsure realitas.

10.

11.

Mengabaikan fungsi permintaan. Model Mahalanobis memusatkan diri semata mata pada fungsi penawaran dan sama sekali mengabaikan fungsi permintaan. Ini merupakan asumsi yang tidak sesuai dengan kenyataan dan membuat model ini cenderung tidak lengkap. Secara actual, banyak pertimbangan penting yang berkaitan dengan kekuatan pasar, lingkungan psikologi, semangat rakyat, dan munculnya titik titik tekanan tertentu yang tidak bisa tidak pasti muncul di dalam proses perencanaan pembangunan di suatu negara terbelakang. Model mahalanobis sama sekali mengabaikan masalah masalah penting ini demi penyederhanaan matematis.

12.

Kegagalan menghubungkan keputusan investasi dengan laju tabungan yang diperlukan. Menurut Prof. K.N Raj, salah satu kelemahan model Mahalanobis ialah kegagalannya mengaitkan keputusan investasi dengan laju tabungan yang diperlukan. Keperluan akan laju tabungan marginal yang tinggi merupakan pertimbangan utama bagi teknik produksi padat modal.

13.

Gagal menjelaskan masalah pemilihan teknik. Prof. Raj lebih jauh menunjukkan bahwa dari sudut teoritis, model Mahalanobis tidak berhasil menjelaskan secara memuaskan persoalan pemilihan teknik. Ia bertanya, jika sektor C dibagi menurut teknik produksi, mengapa sektor K tidak juga dibagi dengan cara yang sama? Bahkan di dalam pabrik alat alat mesin pun sedikit banyak terdapat teknik teknik padat modal. Kasus teknik padat karya seharusnya mendapat sorotan lebih tajam.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa dari kelemahan parktis dalam teoritis ini, model Mahalanobis bersifat membantu (instrumental) dalam menempatkan perekonomian pada lintasan yang benar di dalam perencanaan pembangunan Repelita Kedua dan melincinkan jalan bagi rencana lebih berani berikutnya.