Anda di halaman 1dari 17

PKL: Salah Satu Penggerak Ekonomi di Sektor Informal Indonesia yang Memberdayakan Unskilled Workers

Andistya Oktaning Listra NIM / Absen : 0910210022 / 39 Ekonomi Pembangunan

Universitas Brawijaya Malang

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Konsep Sektor Informal dan Latar Belakang Peningkatan Jumlah PKL

di Indonesia Istilah sektor informal pertama kali dilontarkan oleh Keith Hart (1971) dengan menggambarkan sektor informal sebagai bagian angkatan kerja kota yang berada diluar pasar tenaga terorganisasi. Menurut pendapat Damsar (1997: 158-159), ciri-ciri dinamis dari konsep sektor informal yang diajukan Hart menjadi hilang ketika telah dilembagakan dalam birokrasi ILO. Informalitas didefinisikan ulang sebagai sesuatu yang sinonim dengan kemiskinan. Sektor informal menunjukkan kepada cara perkotaan melakukan sesuatu dengan dicirikan dengan: a) Mudah memasukinya dalam arti keahlian, modal, dan organisasi; b) Perusahaan milik keluarga; c) Beroperasi pada skala kecil; d) Intentif tenaga kerja dalam produksi dan menggunakan teknologi sederhana; dan e) Pasar yang tidak diatur dan berkompetitif Secara umum diketahui bahwa sektor informal rawan penggusuran, obyek pengejaran SATPOL PP dan TIBUM, yang menjalankan tugas menegakkan aturan bagi mereka. Sering pula mereka dianggap sebagai biang kemacetan lalu-lintas, dan pencemar lingkungan. Namun bila dicermati mendalam, ternyata banyak hal menarik produk mereka ternyata dipasarkan tidak saja di dalam negeri, namun juga ke luar negeri. Rasanya banyak yang menyadari bahwa sektor informal pernah menunjukkan peran penting sebagai penyerap tenaga kerja PHK besar-besaran di masa krisis ekonomi 1997 di Indonesia.

2|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Di balik penampakannya yang terlihat terbelakang, sektor kekenyalan dan kemampuan menyerap luberan tenaga kerja. ini telah menempatkannya sebagai

informal Kekuatan

mempunyai dua dimensi kekuatan. Pertama, sektor informal mempunyai sektor ekonomi yang berfungsi

sebagai katup pengaman dalam struktur perekonomian negara. Sektor informal juga dipandang dapat berfungsi efisien menggantikan fungsi produksi-konsumsi sehari-hari sektor formal, terutama untuk memenuhi kebutuhan golongan bawah. Kedua, sektor sektor informal masyarakat

mempunyai kemampuan meredam gejolak kegelisahan dan ketidakpuasan angkatan kerja yang tidak tertampung di formal . Meskipun kemampuannya. Sebagai stabilisator politik ini pada kenyataannya lebih untuk memenuhi kepentingan pemerintah dan kaum kapitalis yaitu untuk melestarikan kelancaran investasi dan akumulasi modal di sektor formal . Salah satu fenomena sektor informal yang menjadi sorotan di wilayah perkotaan adalah adanya pedagang kaki lima (PKL). Pedagang kaki lima (PKL) merupakan fenomena yang umum ditemui di perkotaan di Indonesia. Pertumbuhan PKL terkait dengan pertumbuhan penduduk, angkatan kerja dan lapangan kerja di sektor formal, karena pada umumnya sektor informal terjadi akibat ketidakmampuan sektor formal dalam menyerap tenaga kerja dan juga pertumbuhan PKL berimplikasi terhadap permasalahan ruang tempat berusaha. Hasil penelitian dapat terungkap bahwa jumlah PKL sejak krisis ekonomi mengalami peningkatan dari 2.600 menjadi 4000 PKL, dan jumlah ini didukung oleh pengangguran dan korban PHK, karena sulit mencari pekerjaan sesuai dengan pendidikan dan ketrampilan yang seadanya. Daerah dimana mereka tinggal juga tidak menjanjikan kehidupan yang layak. Kendala yang dihadapi pemerintah daerah: ketidakmampuan pemerintah daerah membuka lahan kerja, menyediakan lahan khusus yang strategis bagi PKL, kesalahan tata kota yang semrawut, kemampuan petugas dalam melaksanakan Perda tentang PKL yang belum memadai, ketakutan petugas dalam menghadapi karakter PKL terutama migran Madura dan ketakutan menghadapi massa yang mengenggap petugas tidak reformis.

3|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Perkembangan sektor informal itu sendiri juga dipengaruhi arus migrasi desa-kota yang besar dimana hanya sebagian kecil yang terserap disektor industri modern kota, hal ini dikarenakan keterbatasan sektor industri modern dan tidak semua migran memiliki skill atau kemampuan untuk masuk kesektor industri modern tersebut. Akibatnya, para migran yang tidak dapat masuk ke sektor industri modern lebih memilih sektor informal yang relatif mudah untuk dimasuki. Agar tetap dapat bertahan hidup (survive ), para migran yang tinggal dikota melakukan aktifitas-aktifitas informal (baik yang sah dan tidak sah) sebagai sumber mata pencaharian mereka. Salah satu sektor informal yang banyak diminati para pengangguran (selain yang sudah lama bekerja di sektor ini) yaitu pedagang kaki lima (PKL). Kelompok PKL sebagai bagian dari kelompok usaha kecil adalah kelompok usaha yang tak terpisahkan dari aset pembangunan nasional yang berbasis kerakyatan, jelas merupakan bagian integral dunia usaha nasional yang mempunyai kedudukan, potensi dan peranan yang sangat strategis dalam turut mewujudkan tujuan pembangunan nasional pada umumnya dan tujuan pembangunan ekonomi pada khususnya. Pedagang kaki lima ini timbul juga dari adanya suatu kondisi pembangunan perekonomian dan pendidikan yang tidak merata di Indonesia. PKL ini juga timbul dari akibat dari tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi rakyat kecil yang tidak memiliki kemampuan dalam berproduksi.
1.2 Tujuan

Makalah ini membahas sektor informal secara spesifik terutama dalam spesialisasi bidang pekerjaan seperti PKL (pedagang kaki lima) dimana kita dapat ketahui bahwa pangsa PKL di Indonesia begitu besar namun keberadaannya yang kurang sekali diperhatikan oleh pemerintah. Adapun tujuannya, yaitu: 1) memahami pengertian sektor informal dan hal yang melatar belakangi perkembangan sektor informal di Indonesia khususnya PKL dimana menjadi katub pengaman atas high unemployment rate bagi tenaga kerja tidak terampil (unskilled workers); 2) Mengetahui posisi PKL dalam

4|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

pergerakan ekonomi di Indonesia, perlindungan hak hak mereka melalui regulasi pemerintah, positif dan negative keberadaannya; 3) Menciptakan kesadaran bahwa keberadaan PKL membawa pengaruh besar pada tingkat kesejahteraan di Indonesia selain dari sektor formal.

BAB II PERMASALAHAN 2.1 Peningkatan Sektor Informal sebagai Pelarian Rakyat Miskin dalam Keterbatasan Bila ditilik lebih dekat timbulnya pedagang kaki lima ini tidak terlepas dari empat dimensi yang disampaikan oleh Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah (Depkimpraswil) yaitu dimensi politik, kemiskinan timbul karena ketidakberdayaan masyarakat dalam mengakses sumberdaya, termasuk akses informasi. Masyarakat tidak memiliki wadah organisasi yang dapat dijadikan sarana memperjuangkan aspirasinya, sehingga mereka tersingkir dari proses pengambilan keputusan penting yang menyangkut diri mereka. Dari sudut dimensi sosial diyakini bahwa masyarakat miskin sering tidak terintegrasi dalam institusi sosial yang ada, sehingga menimbulkan rendahnya kualitas manusia dan etos kerja mereka. Dari dimensi ekonomi, kemiskinan timbul karena rendahnya penghasilan sehingga mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka secara layak. Dari dimensi aset, kemiskinan tidak dapat dipisahkan dari rendahnya kepemilikan atas sumberdaya, termasuk aset kualitas sumberdaya manusia, peralatan kerja, modal, dan sebagainya (Depkimpraswil, 2002). Kemajuan perekonomian sebuah negara dapat pula ditandai dengan adanya transformasi ke arah penurunan pekerja kasar (blue collar) yang

5|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

merepresentasikan pekerja sektor informal. Pekerja blue collar dapat dimaknai sebagai pekerja pada pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik, pada kelompok lapangan usaha di Indonesia biasanya dimasukkan kedalam jenis pekerjaan di sektor usaha pertanian, kehutanan, perburuan, perikanan, tenaga produksi, alat angkut dan pekerja kasar. Disisi lain, pekerja manajerial (white collar) yang merepresentasikan pekerja sektor formal terdiri dari tenaga professional, teknisi dan sejenisnya, tenaga kepemimpinan dan ketatalaksanaan, tenaga tata usaha dan sejenisnya, tenaga usaha penjualan, tenaga usaha jasa. Pada beberapa tahun terakhir tercermin adanya kecenderungan penurunan peran pekerja blue collar dan sedikit peningkatan pekerja white collar. Ini merupakan sinyal kemajuan perekonomian dan juga kemajuan pendidikan karena pekerja white collar secara umum membutuhkan tingkat pendidikan yang memadai. Dalam analisis pembagian pekerja menjadi pekerja sektor formal dan pekerja sektor informal sering terkendala dengan data yang tersedia. Tidak adanya keseragaman secara internasional tentang definisi sektor informal dan ketersediaan data yang ada di Indonesia, pengertian pekerja sektor informal dalam analisis ini didekati dengan status pekerjaan. Pekerja informal adalah mereka yang berusaha sendiri, berusaha sendiri dibantu buruh tidak tetap/buruh tidak dibayar, pekerja bebas dan pekerja keluarga/tak dibayar namun rata rata dalam hal intelektualitas sangatlah minim. Gambaran sektor formal-informal juga dapat menjadi sinyal

perekonomian negara. Semakin maju perekonomian, semakin besar peranan sektor formal. Sampai dengan Agustus 2008, sektor informal masih mendominasi kondisi ketenagakerjaan di Indonesia dengan kontribusi sekitar 65,92 persen pekerja laki-laki dan 73,54 persen pekerja perempuan menurut tabel. Sebagian orang menyebut sektor informal sebagai sektor penyelamat. Elastisitas sector informal dalam menyerap tenaga kerja menjadikan sektor ini selalu bergairah meskipun nilai tambah yang diciptakannya mungkin tidak sebesar nilai tambah sektor formal.

6|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Perekonomian di negara berkembang bahkan di beberapa negara maju adalah fenomena jumlah dan tingginya peningkatan penduduk yang bekerja di sektor informal. Hal ini didorong oleh tingkat urbanisasi yang tinggi dimana penawaran pasar tenaga kerja mampu direspon oleh permintaan tenaga kerja sektor informal. Pengelompokkan definisi formal dan informal menurut Hendri Saparini dan M. Chatib Basri dari Universitas Indonesia menyebutkan bahwa tenaga kerja sektor informal adalah tenaga kerja yang bekerja pada segala jenis pekerjaan tanpa ada perlindungan negara dan atas usaha tersebut tidak dikenakan pajak. Sektor informal memiliki peran yang besar di negara-negara sedang berkembang (NSB) termasuk Indonesia. Sektor informal adalah sektor yang tidak terorganisasi (unorganized), tidak teratur (unregulated), dan kebanyakan legal tetapi tidak terdaftar (unregistered). Di NSB, sekitar 30-70 % populasi tenaga kerja di perkotaan bekerja di sector informal. Demikian yang disampaikan oleh Tri Widodo, SE. Mec.Dev saat Diskusi yang digelar Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PSEKP) dengan topik Sektor Informal Yogyakarta pada hari Selasa 7 Maret 2005. Secara tidak langsung sektor informal adalah media pembangun menuju perbaikan kualitas kehidupan bangsa secara bertahap. Pembangunan dapat juga diartikan sebagai suatu proses perubahan yang berlangsung secara sadar, terencana dan berkelanjutan dengan sasaran utamanya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat suatu bangsa. Ini berarti bahwa pembangunan senantiasa beranjak dari suatu keadaan atau kondisi kehidupan yang kurang baik menuju suatu

7|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

kehidupan yang lebih baik dalam rangka mencapai tujuan nasional suatu bangsa (Tjokroamidjojo& Mustopadidjaya, 1988; Siagian, 1985). 2.2 Minimnya Sensitifitas Pemerintah terhadap PKL sebagai Sektor Informal yang Menyokong Perekonomian Rakyat Miskin Minimnya sensitifitas pemerintah terhadap PKL cukup visible dalam pandangan mata kita, terutama perlakuan kasar mereka melalui SATPOL PP dan TIBUM yang sebenarnya menimbulkan konflik status sosial. Akibatnya terjadilah perlawanan PKL yang menyebabkan ketidakteraturan tata kota terutama di lokasi Public Space. Ketidakteraturan tersebut mengakibatkan Public Space kelihatan kumuh sehingga tidak nyaman lagi untuk bersantai ataupun berkomunikasi. Oleh karena itu yang harus dilakukan oleh pemerintah kota adalah relokasi bagi para pedagang kaki lima. Pemerintah harus menyedikan tempat yang dapat digunakan mereka untuk berjualan dimana sewanya dibebankan dengan biaya yang sangat terjangkau. Hal tersebut ditujukan agar pedagang kaki lima tidak mengganggu kepentingan umum karena berjualan dilokasi Public Space dan juga merasa tidak terbebani dengan beban sewa yang mahal. Relokalisasi dapat menumbuhkan perasaan aman bagi pedagang karena mereka tidak perlu khawatir ditertibkan oleh aparat pemerintah. Adapun tanggung jawab pemerintah untuk memproteksi pedagang kaki lima atas imbalan dan kontribusi yang telah diberikan oleh sektor informal. Proteksi tersebut ditujukan agar pedagang kaki lima tidak kalah bersaing dengan pedagang besar yang telah memiliki nama, karena bila mereka sampai kalah bersaing dan harus gulung tikar, itu berarti akan terjadi pengurangan kesempatan kerja. Sayangnya, permasalahan PKL tidak hanya terbatas pada lingkup tersebut, mereka juga dipusingkan dengan keberadaan preman pasar. Dari interaksi dengan para preman inilah (bahkan dengan oknum Dinas Pengelola Pasar) sebenarnya proses marginalisasi PKL itu terjadi. Para preman ini berfungsi sebagai pengatur para pedagang kaki lima (PKL) Preman ini juga
8|
Tema: Sektor Tenaga Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

berkuasa dalam memperjual belikan stan yang ada di badan jalan. Disamping itu, para preman ini juga berhak menarik setoran harian kepada para PKL yang berjualan. Bagi para PKL ini, keberadaan preman ini serba dilematis. Di satu sisi terasa merugikan karena melakukan pemerasan, tetapi di sisi yang lain preman ini dibutuhkan, terutama dalam memperoleh tempat berjualan, mendapatkan rasa aman dari gangguan pemeras lainnya, serta mendapatkan informasi, mengenai ada tidaknya penertiban PKL yang dilakukan oleh Pemerintah Kota. Menurut Bagong Suyanto (2003 : vii) para preman pasar ini ia sebut dengan istilah Patron yang sewaktu-waktu dapat memberikan perlindungan, tetapi sekaligus pula sebagai pihak yang mengeksploitasi ketidak berdayaan para pelaku sektor informal ini. Dalam kondisi dilematis seperti ini, pihak Polisi maupun Satpol PP Kota tidak dapat berbuat banyak. Disamping jumlah aparat yang terbatas, mereka juga telah mendapatkan upeti dari PKL. Lebih dari itu, para Polisi dan Satpol PP hanya akan melakukan penertiban PKL jika ada dana khusus operasional yang dianggarkan untuk itu. Tanpa dana operasi semacam itu, aparat tidak akan pernah bergerak secara maksimal.
2.3 Masalah Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Melindungi Hak Sektor

Informal PKL Berdasarkan berbagai ciri, masalah dan kegagalan kebijakan/program pemerintah daerah dalam menangani PKL tersebut, dikomendasikan model pengembangan sektor informal PKL melalui kerjasama PKL, pihak swasta, dan pemerintah daerah. Inisiatif pembentukan organisasi dalam suatu lokasi usaha datang dari PKL sendiri. Pemberian modal dari pihak swasta dan/atau pemerintah daerah bisa dilakukan melalui organisasi PKL (koperasi, kelompok dagang, dsb) atau secara terpisah kepada PKL yang tidak bergabung ke dalam wadah ini. Kemudian melalui kebijakan PEMDA memberikan perlindungan, pembinaan, dan bimbingan kepada setiap PKL (anggota maupun non-anggota).

9|

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Kebijakan yang kondusif menjadi dasar utama agar model pengembangan sektor informal PKL bisa mencapai tujuan yang diharapkan. Dalam hal ini terbagi atas dua level kebijakan yaitu di tingkat makro dan mikro. Kebijakan makro dapat berupa pengakuan dan perlindungan PEMDA terhadap keberadaan sektor ini diperkotaan. Hal yang mendesak untuk dilakukan adalah merubah iklim kebijakan pemerintah daerah dari yang bersifat elitis menjadi non-elitis kerakyatan. Kebijakan non-elitis dapat diwujudkan dengan dimantapkannya aspek hukum perlindungan bagi keberadaan PKL, perbaikan kelembagaan dan administrasi ke arah non-birokratis dan mempermudah akses PKL terhadap sumber-sumber ekonomi yang tersedia. Di tingkat mikro diperlukan upaya untuk mengkaitkan produktivitas dan tingkat pendapatan usaha PKL. Cara yang dapat ditempuh: (1) peningkatan efisensi ekonomi dari usaha PKL, (2) peningkatan produksi usaha dagang, (3) meningkatkan usaha PKL yang kurang potensial menjadi usaha yang lebih ekonomis potensial.

BAB III KAJIAN TEORITIK DAN PEMBAHASAN 3.1 PKL sebagai Penggerak Ekonomi di Sektor Informal Indonesia Menurut laporan yang disusun oleh World Bank pada tahun 1993, sektor formal terhitung kurang dari 32% dari populasi tenaga kerja, sementara 68% bekerja di sektor informal (Frank Weibe, 199 dalam Sektor Informal yang Terorganisasi, Haryo Winarso dan Gede Budi). Peran sektor informal di perkotaan sangat strategis sebagai katub pengaman pengangguran karena tidak dapat tertampung pada sektor formal.

10 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Pedagang kaki lima sebagai bagian sektor informal perkotaan, istilah pedagang kaki lima konon berasal dari jaman pemerintahan Rafles, Gubernur Jenderal pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu dari kata five feet yang berarti jalur pejalan kaki di pinggir jalan selebar 5 (lima) kaki. Ruang tersebut digunakan untuk kegiatan berjualan pedagang kecil sehingga disebut dengan pedagang kaki lima (dalam Widjajanti, 2000:28). Kemudian muncul beberapa ahli yang mengemukakan defenisi dari pedagang kaki lima diantaranya menurut McGee (1977:28) menyebutkan PKL sebagai hawkers adalah orangorang yang menawarkan barang-barang atau jasa untuk dijual. Menurut Mulyanto (2007), PKL adalah termasuk usaha kecil yang berorientasi pada laba (profit) layaknya sebuah kewirausahaan (entrepreneurship). PKL mempunyai cara tersendiri dalam mengelola usahanya agar mendapatkan keuntungan. PKL menjadi manajer tunggal yang menangani usahanya mulai dari perencanaan usaha, menggerakkan usaha sekaligus mengontrol atau mengendalikan usahanya, padahal fungsi-fungsi manajemen tersebut jarang atau tidak pernah mereka dapatkan dari pendidikan formal. Berikut ini dapat dilihat dampak positif dari adanya PKL (disarikan dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan oleh Rajab, 2002, dan IPGI, 2001)

Dampak Positif : 1. PKL menjadi katup pengaman bagi masyarakat perekonomian lemah baik sebagai profesi maupun bagi konsumen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, terutama akibat krisis ekonomi 2. PKL menyediakan kebutuhan barang dan jasa yang relatif murah bagi masyarakat yang berpenghasilan menengah ke bawah

11 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

3. Jumlah yang besar, ragam bentuk usaha dan keunikan merupakan

potensi yang besar untuk menghias wajah kota, apabila ditata dan diatur dengan baik.
4. PKL dapat memberikan rasa aman yang menjadi barrier untuk

keamanan

aktivitas pedagang formal karena kontiunitas kegiatannya

hampir 24 jam.
5. PKL tidak dapat dipisahkan dari unsur budaya dan eksistensinya tidak

dapat dihapuskan.
6. PKL menyimpan potensi pariwisata yang cukup besar.

Berdasarkan dampak yang ditimbulkannya tersebut, Dampak positif terlihat dari segi sosial dan ekonomi karena keberadaan PKL menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi kota karena sektor informal memiliki karakteristik efisien dan ekonomis. Menurut Sethurahman selaku koordinator penelitian sektor informal yang dilakukan ILO di delapan negara berkembang, karena kemampuan menciptakan surplus bagi investasi dan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan usaha-usaha sektor informal bersifat subsisten dan modal yang digunakan kebanyakan berasal dari usaha sendiri. Modal ini sama sekali tidak menghabiskan sumber daya ekonomi yang besar. Dalam hal ini, eksistensi PKL perlu dipertahankan, hanya saja perlu diupayakan meminimalkan dampak negatif yang ditimbulkannya. Oleh karena itu, langkah yang dapat dilakukan adalah menertibkan PKL sehingga fungsinya dalam aspek ekonomi dapat berjalan namun tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kualitas ruang perkotaan. Usaha kecil telah membuktikan dan menjadi tangan yang tersembunyi (invisible hand) bagi perekonomian Indonesia keluar dari badai krisis. Jika dikaji lebih mendalam, setidaknya usaha kecil terutama sektor informal (sebut PKL) mempunyai tiga peran besar dalam proses pembangunan, mulai dari bidang ekonomi, pariwisata dan pendidikan.

12 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

3.2

Pemberdayaan Unskilled Workers dalam Kegiatan Usaha PKL Langkah utama yang dapat ditempuh untuk memberdayakan keberadaan PKL ini adalah perlu adanya pengakuan secara resmi terhadap keberadaan sektor informal (PKL) dalam rencana tata ruang kota. Hal ini perlu karena rencana tata ruang kota akan dapat menciptakan penciptaan lingkungan yang aman, nyaman, serasi dan efisien. Hanya saja untuk mewujudkan hal tersebut perlu diperhatikan terhadap hal-hal antara lain : 1. Perlu dicermati tentang paradigma PKL, selain itu juga perlu dicermati pula mengenai konsep tentang masyarakat marjinal yang berkaitan dengan usaha PKL. Hal ini akan berkaiatan dengan karakteristik masyarakat PKL terhadap rencana tata ruang. 2. Sudah menjadi fakta kenyataan bahwa PKL adalah sesuatu yang luar biasa, sehingga perlu adanya pengaturan secara formal, mengingat usaha PKL sifatnya sudah menjadi bidang pekerjaan walaupun masih dikategorikan sebagai sektor informal dan mengingat lokasi PKL menempati bagian kota yang secara visual mencolok mata dan berlokasi pada tempat yang strategis dan bernilai lahan tinggi 3. Perlu adanya ketegasan mengenai peruntukkan atau fungsi ruang kota, apakah ruang tersebut sebagai ruang publik (jalan, ruang terbuka hijau) atau fungsi lainnya, sehingga perlu dicermati kembali konsep keadilan dan keseimbangan antara kepentingan publik (umum) dan kepentingan privat (individu) dalam hal haknya masing-masing terhadap ruang publik kota. 4. Selain penataan fisik kota juga perlu didukung oleh aturan-aturan main yang jelas berupa peraturan perencanaan, pengelolaan, pemanfaatan dan pemeliharaan ruang secara benar dan adil bagi semua pihak.

3.3

PKL Sang Pengembang Wirausaha di Indonesia

13 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Dari sisi ekonomi, usaha kecil termasuk didalamnya sektor informal (sebut PKL) berperan dalam penumbuhan jiwa kewirausahaan. Menurut Kasali (2005), manfaat yang dapat diperoleh dari tumbuhnya jiwa wirausaha di masyarakat (1) mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka banyak lapangan kerja, (2) tumbuhnya kreativitas dan inovasi baru dalam melakukan usaha, (3) meningkatkan kualitas kompetisi yang berujung pada nilai tambah masyarakat, (4) menurunkan biaya dan waktu yang timbul akibat ketidak pastian dan (5) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pemikiran Rochdale , jika suatu negara ingin tumbuh dengan cepat, maka salah satu yang harus mendapat prioritas pengembangan adalah tumbuhnya jiwa wirausaha di masyarakat. PKL sudah teruji sebagai bibit entrepreneur untuk diberdayakan menjadi unit usaha baru yang tangguh. Berbagai hasil studi sudah membuktikannya seperti yang ditunjukkan Tabel di bawah ini bahwa PKL tetap bekerja denganwaktu berjualan yang tidak berubah(88,0%), pendapatan bersih ratarata per bulan yang diperoleh juga tidak mengalami perubahan (66,5%). Sementara itu taksiran nilai barang dagangan dan peralatan juga tidak mengalami perubahan (80,5%). Tidak berubahnya pendapatan bersih rata-rata per bulan

14 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa sektor informal adalah sektor yang paling mudah dimasuki oleh kalangan menengah kebawah dengan tingkat pendidikan rendah, hal ini dikarenakan biayanya yang murah dimana pengelolaannya tidak membutuhkan jenjang akademik yang tinggi layaknya pekerjaan yang biasanya ditawarkan pada sektor formal. Selain itu dalam membangun suatu usaha di sektor informal seperti urusan perizinan, pajak, dan hukum tidak serumit sektor formal yang dibangun berdasarkan modal yang tinggi. Namun karena minimnya akomodasi inilah pemerintah kurang memperhatikan nasib mereka. Realitasnya adalah nasib para PKL yang ditegangkan oleh penertiban bahkan penggusuran secara membabi buta oleh SATPOL PP dan TIBUM. Padahal keberadaan mereka sangat berguna dalam membatasi jumlah penggangguran di Indonesia. Minimnya sensitifitas pemerintah terhadap PKL yang tercermin dalam kebijakannya yang seringkali menghambat perkembangan mereka. Keberadaan PKL sebagai sektor informal yang kumuh selalu dianggap penyakit oleh suatu negara terutama dalam mempertimbangkan ketertiban mereka di lokasi. Belum lagi pemenuhan hak hak mereka untuk dilindungi terutama dari preman pasar yang kerapkali memeras namun di sisi lain para PKL juga berlindung dari para preman ketika dihadapkan dalam kondisi kritis yaitu saat penertiban atau penggusuran. Seharusnya sebelum melakukan hal itu pemerintah mempertimbangkannya terlebih dahulu dengan solusi yang lebih baik seperti realokasi tempat berjualan yaitu dengan penyediaan tempat yang layak bagi PKL dengan beban sewa yang ringan. Hal yang perlu diperhatikan bahwa perkembangan di suatu negara terkadang ditandai oleh pertumbuhan di sektor informal bukan di sektor formal. Seperti peningkatan jumlah PKL yang berpengaruh besar terhadap kemandirian ekonomi yaitu penciptaan lapangan kerja sendiri melalui wirausaha kecil kecilan. Disinilah

15 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

terlihat peran PKL sebagai katub pengaman ketenagakerjaan, terbukti ketika krisi moneter di Indonesia tahun 1997 mereka yang menjadi korban PHK dapat bertahan dengan menggeluti profesi baru di sektor informal. DAFTAR PUSTAKA Santoso, Slamet. Konsep Sektor Informal : Pedagang Kaki Lima. www. Google.com, tanggal 23 Oktober 2010, Ponorogo

Alisjahbana. Pedagang Kaki Lima Versus Kebijakan Pemkot Surabaya. www. Google.com, tanggal 23 Oktober 2010, Surabaya

Eksu, Pedagang Kaki Lima dalam Program Pembangunan Perkotaan. www. Google.com, tanggal 23 Oktober 2010 , Jakarta

Rukmana, Deden. Pedagang Kaki Lima dan Informalitas Perkotaan, www. Google.com. tanggal 23 Oktober 2010, Jakarta

Wijaya, Hesti. Sektor Informal : Katup Pengaman dan Penyelamat yang Terabaikan. www. Google.com, tanggal 23 oktober 2010, Malang

Masykur Riyadi, Dedi. Peran Sektor Informal sebagai Katup Pengaman Masalah Ketenagakerjaan. www. Scribd.com, tanggal 23 oktober 2010

Suadah. Problematika Pertumbuhan Sektor Informal di Kodia Malang. www. Google.com, tanggal 23 oktober 2010, Malang : JIPTUMM - Universitas Komputer Indonesia

Ferry, Yohanes. Ekonomi Informal. www. Scribd.com, tanggal 23 Oktober 2010, Jakarta

16 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)

Teakoes. Sektor Informal : Permasalahan Dan Upaya Mengatasinya. www. Scribd.com, tanggal 23 oktober 2010

Kadir, Ishak. Studi Karakteristik Penggunaan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Kawasan Eks Pasar Lawata. www.Scribd.com, tanggal 24 oktober 2010

17 |

Tema:

Sektor Tenaga

Informal Sebagai Katub Pengaman Bagi Penyerapan Kerja Tidak Terampil (Unskilled Workers)