Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN KASUS

POMFOLIKS
Pembimbing : dr Penyaji : Sri Wahyuni Ade Irma Ririn Gurriannisha Ofia Vincentia 070100076 070100054 070100108 070100178

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RSUP. H. ADAM MALIK

2011
POMFOLIKS PENDAHULUAN Pomfoliks atau dermatitis dishidrosis merupakan dermatitis tipe vesikular pada jari, telapak tangan dan kaki. Penyakit ini merupakan dermatosis yang dapat dalam keadaan akut, rekuren, dan kronik, yang dikarakteristikan dengan adanya vesikel tapioca-like yang gatal dengan onset tibatiba, dan pada keadaan lanjut dapat ditemukan fisura dan likenifikasi. Penggunaan istilah dermatitis dishidrosis pada penyakit ini sebenarnya tidak tepat karena dishidrosis mengindikasikan adanya gangguan pada kelenjar keringat yang tidak dijumpai pada penyakit ini. Pengunaan istilah tersebut didasarkan oleh gejala klinis berupa telapak tangan yang berkeringat.(1,2) Prevalensi pomfoliks di Amerika Serikat adalah 5% dari seluruh penyakit eksema pada tangan. Insidensi puncak penyakit ini terjadi pada pasien usia 20-40 tahun, tetapi penyakit ini juga dapat terjadi pada usia remaja ataupun pada usia lebih tua. Berdasarkan beberapa penelitian penyakit ini lebih sering terkena pada wanita dibandingkan pria dengan perbandingan 2 : 1. Mortalitas tidak pernah dilaporkan sehubungan dengan pomfoliks tetapi dalam keadaan berat penyakit ini dapat menganggu aktivitas. Suatu penelitian di Turki menunjukkan adanya prevalensi pomfoliks yang lebih tinggi pada musim panas. (2) Mekanisme mengenai terjadinya pomfoliks atau dermatitis dishidrosis sendiri masih belum jelas. Hipotesis paling awal mengemukakan bahwa lesi-lesi vesikel yang timbul pada dermatitis dishidrosis disebabkan oleh ekskresi keringat yang berlebihan (excessive sweating). Namun sekarang hipotesis ini sudah tidak digunakan lagi karena lesi-lesi vesikular yang timbul pada dermatitis dishidrosis tidak berkaitan dengan saluran kelenjar keringat. Walaupun demikian, hiperhidrosis (keringat berlebihan) merupakan salah satu tanda yang terlihat secara khas pada 40% penderita dermatitis dishidrosis (istilah dishidrosis datang dari gejala berkeringat banyak/salah berkeringat). (3) Dermatitis dishidrosis dikaitkan dengan riwayat atopi, dimana sekitar 50 % penderita dermatitis dishidrosis juga menderita dermatitis atopik. (3) Faktor- faktor eksogen seperti: (1) kontak terhadap nikel, balsam, kobalt, (2) sensitivitas terhadap besi yang teringesti, (3) infeksi oleh dermatofita dan (4) infeksi bakteri juga dapat memicu dermatitis dishidrosis. Antigen-antigen ini dapat bertidak sebagai hapten dengan afinitas spesifik terhadap protein di stratum lusidum daerah palmar dan plantar. Ingesti ion metal seperti kobalt akan menginduksi hipersensitivitas tipe 1 dan 4, serta mengaktivasi limfosit T melalui
2

jalur independen antigen leukosit. Pengikatan hapten tersebut terhadap reseptor jaringan dapat menginisiasi munculnya vesikel-vesikel di daerah palmar/plantar. (3) Diagnosa pomfoliks ditegakkan berdasarkan anamnesis dan gambaran ruam, dimana penyakit ini terjadi selama beberapa minggu dengan gejala adanya rasa gatal pada vesikel baru dan rasa nyeri pada fisura dan lesi sekunder akibat infeksi. Gambaran ruam pada onset awal adalah vesikel berukuran kecil (1 mm), tampak seperti tapioca-like dengan susunan clusters. Bulla kadangkadang dapat dijumpai. Pada onset lanjut, dijumpai papul, likenifikasi, fisura yang nyeri, dan erosi akibat pecahnya vesikel. Lesi sekunder akibat infeksi dikarakteristikkan dengan pustul, krusta, selulitis, limfangitis, dan limfadenopati yang sangat nyeri. Distribusi dari ruam adalah 80 % pada tangan dan kaki, dimana tempat predileksi dimulai dari bagian lateral jari-jari, telapak tangan, telapak kaki dan pada keadaan lanjut pada bagian dorsal jari-jari.(1) Berdasarkan gambaran klinis, pomfoliks dapat didiagnosis banding dengan dermatitis kontak alergi yang biasanya mengenai permukaan dorsal bukannya permukaan volar, dan dengan dermatofitosis yang dapat dibedakan dengan pemeriksaan KOH akar vesikel dan pembiakan yang tepat. Selain itu, pomfoliks juga dapat didiagnosis banding dengan tinea pedis bulosa dan skabies. (4) Untuk penatalaksanaan pomfoliks, pengobatan yang diberikan dimulai dengan kompres dingin yang dapat membantu mengeringkan vesikel dan bula, diikuti dengan pemberiaan kortikosteroid topikal potensi tinggi (contoh: clobetasol propionate). Pada kasus yang sulit disembuhkan, penggunaan steroid sistemik dapat menjadi lini selanjutnya (prednison). Berdasarkan dua penelitian sebelumnya, dilaporkan bahwa penggunaan imunosupresan dapat membantu keberhasilan pengobatan (metotreksat, mofetil mikofenolat). Pada bulan Maret tahun 2005, FDA (Food and Drug administration) menyatakan penggunaan pimecrolimus (calcineurin inhibitor) tidak dianjurkan karena dapat berpotensi menyebabkan kanker. Penggunaan pimecrolimus hanya pada pasien dengan kegagalan pengobatan dengan obat-obat lain. Pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan jika dicurigai adanya infeksi.
(2,4)

Selain pemberian obat-obatan, pasien harus

diberitahu akan kemungkinan kambuh dan harus melindungi tangan dan kakinya dari keringat yang berlebihan, bahan kimia, sabun keras, dan perubahan cuaca. (4) Pomfoliks merupakan penyakit yang sering kambuh tetapi dapat terjadi remisi spontan dalam 23 minggu. Interval serangan bisa terjadi dalam minggu atau bulan. Pada beberapa orang pomfoliks dapat menjadi kronik. (1)

LAPORAN KASUS Seorang anak laki-laki, berusia 11 tahun, pekerjaan pelajar, suku batak, datang berobat Ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik pada tanggal 30 Mei 2011 dengan keluhan utama bintil-bintil kecil merah disertai rasa gatal pada tangan dan kaki sejak 1 minggu yang lalu. Seminggu yang lalu, lesi berupa bintil-bintil kecil pasien mengeluh rasa gatal. Os menggaruk karena tidak tahan dengan rasa gatal tersebut, akibatnya bintil bintil tersebut menjadi lecet. Keluhan ini telah dialami pasien sejak 2 tahun yang lalu, sifatnya hilang timbul. Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien. Pasien memiliki riwayat alergi terhadap debu. Pada pemeriksaan fisik ditemukan keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, dengan tekanan darah 110/70 mmHg, frekuensi nadi 72 x/menit, frekuensi pernapasan 20x/menit dan suhu tubuh 36,5 C. Berdasarkan pemeriksaan dermatologis, pada regio palma manus, regio ante brachii, regio malleoulus medialis, dan regio dorsum pedis terdapat papul dan pustul, multipel, milier, diseminata, tersebar secara diskret, sebagian telah pecah dan meninggalkan erosi, ekskoriasi, krusta, dan skuama. Pasien didiagnosa sementara dengan pomfoliks. Pasien didiagnosa banding dengan pomfoliks dengan infeksi sekunder, dermatitis kontak alergi dengan infeksi sekunder, dan skabies. Diagnosis kerja adalah pomfoliks dengan infeksi sekunder. Pasien selanjutnya diberi pengobatan berupa krim yang dioleskan untuk papul dan pustul dengan asam fusidat/hidrokortison 2 kali setelah mandi dan mebhydroline sirup 1 kali sehari diminum pada malam hari. Pasien di anjurkan untuk kontrol setelah satu minggu dari kunjungan awal. Prognosis quo ad vitam bonam, quo ad fuctionam bonam, dan dubia ad sanactionam bonam.

Pasien saat pertama kali datang sebelum pengobatan, adanya papul dan pustul, multipel, milier, tersebar secara diskret, sebagian telah pecah dan meninggalkan erosi, ekskoriasi, krusta, dan skuama pada regio palma manus, regio antebrachii, regio malleoulus medialis, dan regio dorsum 5 pedis.

DISKUSI Pomfoliks atau dermatitis dishidrosis merupakan dermatitis tipe vesikular pada jari, telapak tangan dan kaki. Penyakit ini merupakan dermatosis yang dapat dalam keadaan akut, rekuren, dan kronik, yang dikarakteristikan dengan adanya vesikel tapioca-like yang gatal dengan onset tibatiba, dan pada keadaan lanjut dapat ditemukan fisura dan likenifikasi. (1) Pada kasus ini, diagnosis pomfoliks ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan dermatologis. Berdasarkan anamnesis, didapatkan seorang anak laki-laki berusia 11 tahun dengan keluhan timbulnya bintil-bintil kecil merah yang terasa gatal pada tangan dan kaki sejak seminggu yang lalu. Os menggaruk karena tidak tahan dengan rasa gatal tersebut, akibatnya bintil bintil tersebut menjadi lecet. Pasien memiliki riwayat alergi terhadap debu. Keluhan ini telah dialami pasien sejak 2 tahun yang lalu, sifatnya hilang timbul. Pada beberapa literatur dijumpai bahwa pomfoliks lebih sering dijumpai pada wanita daripada pria dengan insidensi puncak pada usia 20 40 tahun.(1,2) Hal ini tidak sesuai dengan kasus ini dimana pasien berjenis kelamin pria dan berusia 11 tahun. Tetapi berdasarkan literatur lain oleh Sadegh Amini dijumpai bahwa angka kejadian pomfoliks pada pria dan wanita adalah sama dan pomfoliks dapat mengenai usia 4 76 tahun.(3) Pada kasus, keluhan utama pasien adalah bintil-bintil kecil merah yang terasa gatal pada tangan dan kaki sejak seminggu yang lalu dan hal ini telah dialami pasien sejak 2 tahun yang lalu dan bersifat hilang timbul. Berdasarkan literatur, pomfoliks merupakan penyakit yang dapat akut, kronik, maupun rekuren, pada kasus ini dijumpai adanya pomfoliks rekuren. (1) Dari pemeriksaan dermatologis dijumpai adanya papul dan pustul, multipel, milier, tersebar secara diskret, sebagian telah pecah dan meninggalkan erosi, ekskoriasi, krusta, dan skuama pada regio palma manus, regio antebrachii, regio malleoulus medialis, dan regio dorsum pedis. Berdasarkan kepustakaan, gambaran ruam pomfoliks pada onset awal adalah vesikel berukuran kecil (1 mm), tampak seperti tapioca-like dengan susunan clusters. Pada onset lanjut, dijumpai papul, likenifikasi, fisura yang nyeri, dan erosi akibat pecahnya vesikel. Lesi sekunder akibat infeksi dikarakteristikkan dengan pustul, krusta, selulitis, limfangitis, dan limfadenopati yang sangat nyeri. Pada pasien ini dijumpai adanya papul, pustul, erosi, ekskoriasi, dan skuama. Adanya pustul pada kasus ini menunjukkan adanya infeksi sekunder. Sebanyak 80% tempat predileksi pomfoliks adalah tangan dan kaki, dimulai dari bagian lateral jari-jari, telapak tangan, telapak kaki dan pada keadaan lanjut pada bagian dorsal jari-jari. Hal ini sejalan dengan kasus dimana dijumpai ruam pada telapak tangan, tetapi pada kasus ini dijumpai adanya lesi yang terletak di dorsum pedis yang biasanya jarang pada pomfoliks. (1)
6

Pasien didiagnosis banding dengan dermatitis kontak alergi dengan infeksi sekunder. Diagnosis kontak alergi dapat disingkirkan karena biasanya dermatitis kontak alergi mengenai permukaan dorsal bukannya permukaan volar. Sedangkan diagnosis banding skabies dapat disingkarkan karena dari anamnesis diketahui bahwa hanya pasien yang mengalami gejala-gejala tersebut, dimana skabies biasanya menyerang manusia secara kelompok. (4) Pada pasien ini diberikan penatalaksanaan berupa pengobatan topikal dan sistemik. Pengobatan sistemik yang diberikan adalah mebhydroline yang merupakan antihistamin karena pasien lesi yang timbul disertai rasa gatal yang mengganggu. Pada pasien ini juga diberikan asam fusidat/hidrokortison secara topikal yang merupakan gabungan antara antibiotik dengan kortikosteroid topikal sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa pengobatan yang diberikan pada pomfoliks adalah kortikosteroid topikal potensi tinggi dan pemberian antibiotik dapat dipertimbangkan jika dicurigai adanya infeksi.(2) Secara keseluruhan prognosis dari pomfoliks adalah baik. Pomfoliks merupakan penyakit yang sering kambuh tetapi dapat terjadi remisi spontan dalam 2-3 minggu dengan interval serangan bisa terjadi dalam minggu atau bulan. Pada beberapa orang pomfoliks dapat menjadi kronik. (1)

DAFTAR PUSTAKA

1. Fitzpatrick TB, Johnson RA, Wolff K, Suurmond D. Color atlas and synopsis of Clinical Dermatology. New York. United States of America: Mc Graw-Hill Medical Publishing Division; 2008.
2. Janniger, Camila K. Pediatric Dyshidrotic Eczema. Diunduh dari:

http://emedicine.medscape.com/article/910946-overview. Updated terakhir tanggal 11 Agustus 2010


3. Amini, Sadegh dan Dirk. Dyshidrotic Eczema. Diunduh dari:

http://emedicine.medscape.com/article/122527-overview. Updated terakhir tanggal 28 Mei 2011


4. Lane, Al dan Gary L. Darmstadt. Eksema. Dalam: Waldo E.Nelson, Richard E. Behrman,

Robert M Kliegman, Ann M. Arvin, editor. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ke-15. Jakarta: EGC. h.2261.