Anda di halaman 1dari 14

Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan

1. Aliran Esensialisme
Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada
zaman Renaisance dengan cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan
aliran ini lebih Ileksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan
dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada
nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-
nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas (Zuhairini, 1991: 21).
Idealisme, sebagai IilsaIat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individu dengan
menitikberatkan pada aku. Menurut idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar
memahami akunya sendiri, kemudian ke luar untuk memahami dunia objektiI. Dari
mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut Immanuel Kant, segala pengetahuan
yang dicapai manusia melalui indera memerlukan unsure apriori, yang tidak didahului oleh
pengalaman lebih dahulu.
Bila orang berhadapan dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi
bentuk, ruang, dan ikatan waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia
sebelum ada pengalaman atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah buikanlah budi pada
benda, tetapi benda-benda itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur
dalam ruang dan waktu. Dengan mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat
dideIinisikan sebagai substansi spiritual yang membina dan menciptakan diri sendiri
(Poedjawijatna, 1983: 120-121).
Roose L. Iinney, seorang ahli sosiologi dan IilosoI , menerangkan tentang hakikat
social dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental adalah keadaan ruhani yang pasiI, hal
ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima apa saja Yng telah ditentukan dan
diatur oleh alam social. Jadi, belajar adalah menerima dan mengenal secara sungguh-
sungguh nilai-nilai social angkatan baru yang timbul untuk ditambah, dikurangi dan
diteruskan pada angkatan berikutnya.

2. Aliran Neothonisme
Neothonisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses
mengembalikan keadaan sekarang. Neothonisme memberikan sumbangan yang
berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang
(Muhammad Noor Syam, 1986: 154). Dari pendapat ini diketahui bahwa Neothonisme
merupakan hasil pemikiran yang memberikan kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap
tegas dan lurus. Karena itulah, Neothonisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan
arah arsah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari IilsaIat, khususnya IilsaIat
pendidikan.
Menurut Neothonisme, ilmu pengetahuan merupakan IilsaIat yang tertinggi, karena dengan
ilmu pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktiI. Jadi, dengan berpikir maka
kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip
pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan
memahami Iactor-Iaktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan
penyelesaian masalahnya.
Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan karya-karya yang menjadi
landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini merupakan buah pikiran besar
pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh zaman telah dicatat menonjol
seperti bahasa, sastra, sejarah, IilsaIat, politik, ekonomi, matematika, ilmu pengetahuan
alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan sumbangan kepadaperkembangan
zaman dulu.
Tugas utama pendidiakn adalah mempersiapkan anak didik kea rah kematangan. Matang
dalam arti hiodup akalnya. Jadi, akl inilah yang perlu mendapat tuntunan kea rah
kematangan tersebut. Sekolah rendah memberikan pendidikan dan pengetahuan serba
dasar. Dengan pengetahuan yang tradisional seperti membaca, menulis, dan berhitung,
anak didik memperoleh dasar penting bagi pengetahuan-pengetahuan yang lain.
Sekolah, sebagai tempat utama dalam pendidikan, mempesiapkan anak didik ke arah
kematangan akal dengan memberikan pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah
memberikan pendidikan dan pengajaran (pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata
lain, keberhasilan anak dalam nidang akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti
orang yang telah mendidik dan mengajarkan.

3. Aliran Rekonstruksionisme
Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti menyusun
kembali. Dalam konteks IilsaIat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan suatu aliran
yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliran
rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran Neothonisme, yaitu berawal
dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985: 340), kedua aliran
tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempumyai
kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan kesimpangsiuran.
Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan
tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya intelektual dan spiritual
yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali manusia dengan nilai dan
norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru
dalam pengawasan umat manusia.
Di samping itu, aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan
suatu dunia yang diatur dan diperintah oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang
dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori,
tetapi mesti diwujudkan menjadi kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas
kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan
warna kulit,, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan

4. Aliran Filsafat Idealisme
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme
merupakan suatu aliran ilmu IilsaIat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah
gambaran asli yang semata-mata bersiIat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli
(cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa
dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta
menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak
mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya
dapat dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari
dunia idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah
hakikat murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat
mutlak, tidak bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan
dunia yang tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh
yang dikatakan dunia idea.
Plato yang memiliki IilsaIat beraliran idealisme yang realistis mengemukakan bahwa jalan
untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah menentukan kedudukan yang pasti
bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas masin-masing dalam masyarakat
sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan dan kebijaksanaan yang cukup
dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan ke bawah. Misalnya, dari atas
ke bawah, dimulai dari raja, IilosoI, perwira, prajurit sampai kepada pekerja dan budak.
Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah bertahun-tahun mengalami
pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan siIat superioritasnya dalam melawan
berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup menurut kebenaran tertinggi.
Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal dengan istilah ide, Plato
mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu, sedangkan ide tertinggi adalah
kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam menjadi contoh bagi
pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui jalan yang pasti,
sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur, mengklasiIikasikan dan
menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari.
Kadangkala dunia idea adalah pekerjaan norahi yang berupa angan-angan untuk
mewujudkan cita-cita yang arealnya merupakan lapangan metaIisis di luar alam yang
nyata. Menurut Berguseon, rohani merupakan sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang
lebih jauh jangkauannya, yaitu intuisi dengan melihat kenyataan bukan sebagai materi
yang beku maupun dunia luar yang tak dapat dikenal, melainkan dunia daya hidup yang
kreatiI (Peursen, 1978:36). Aliran idealisme kenyataannya sangat identik dengan alam dan
lingkungan sehingga melahirkan dua macam realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang
dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam lingkungan ini seperti ada yang datang dan
pergi, ada yang hidup dan ada yang demikian seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati,
yang merupakan siIat yang kekal dan sempurna (idea), gagasan dan pikiran yang utuh di
dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli, kemudian kemutlakan dan kesejatian
kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena idea merupakan wujud yang hakiki.
Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea,
dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata
seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan
tumpuan yang paling akhir dari idea adalah ,rche yang merupakan tempat kembali
kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, ,rche, siIatnya kekal dan sedikit
pun tidak mengalami perubahan.
Inti yang terpenting dari ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih
berharga dan lebih tinggi dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Roh itu
pada dasarnya dianggap suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi
disebut sebagai penjelmaan dari roh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan
secara alami pikiran yang keadaannya secara metaIisis yang baru berupa gerakan-gerakan
rohaniah dan dimensi gerakan tersebut untuk menemukan hakikat yang mutlak dan murni
pada kehidupan manusia. Demikian juga hasil adaptasi individu dengan individu lainnya.
Oleh karena itu, adanya hubungan rohani yang akhirnya membentuk kebudayaan dan
peradaban baru (Bakry, 1992:56). Maka apabila kita menganalisa pelbagai macam
pendapat tentang isi aliran idealisme, yang pada dasarnya membicarakan tentang alam
pikiran rohani yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita, di mana manusia
berpikir bahwa sumber pengetahuan terletak pada kenyataan rohani sehingga kepuasaan
hanya bisa dicapai dan dirasakan dengan memiliki nilai-nilai kerohanian yang dalam
idealisme disebut dengan idea.
Memang para IilosoI ideal memulai sistematika berpikir mereka dengan pandangan yang
Iundamental bahwa realitas yang tertinggi adalah alam pikiran (Ali, 1991:63). Sehingga,
rohani dan sukma merupakan tumpuan bagi pelaksanaan dari paham ini. Karena itu alam
nyata tidak mutlak bagi aliran idealisme. Namun pada porsinya, para IilosoI idealisme
mengetengahkan berbagai macam pandangan tentang hakikat alam yang sebenarnya adalah
idea. Idea ini digali dari bentuk-bentuk di luar benda yang nyata sehingga yang kelihatan
apa di balik nyata dan usaha-usaha yang dilakukan pada dasarnya adalah untuk mengenal
alam raya. Walaupun katakanlah idealisme dipandang lebih luas dari aliran yang lain
karena pada prinsipnya aliran ini dapat menjangkau hal-ihwal yang sangat pelik yang
kadang-kadang tidak mungkin dapat atau diubah oleh materi, Sebagaimana Phidom
mengetengahkan, dua prinsip pengenalan dengan memungkinkan alat-alat inderawi yang
diIungsikan di sini adalah jiwa atau sukma. Dengan demikian, dunia pun terbagi dua yaitu
dunia nyata dengan dunia tidak nyata, dunia kelihatan -or,ton genos) dan dunia yang
tidak kelihatan cosmos neotos). Bagian ini menjadi sasaran studi bagi aliran IilsaIat
idealisme (Van der Viej, 2988:19).
Plato dalam mencari jalan melalui teori aplikasi di mana pengenalan terhadap idea bisa
diterapkan pada alam nyata seperti yang ada di hadapan manusia. Sedangkan pengenalan
alam nyata belum tentu bisa mengetahui apa di balik alam nyata. Memang kenyataannya
sukar membatasi unsur-unsur yang ada dalam ajaran idealisme khususnya dengan Plato. Ini
disebabkan aliran Platonisme ini bersiIat lebih banyak membahas tentang hakikat sesuatu
daripada menampilkannya dan mencari dalil dan keterangan hakikat itu sendiri. Oleh
karena itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu bersiIat dinamis dan tetap berlanjut
tanpa akhir. Tetapi betapa pun adanya buah pikiran Plato itu maka ahli sejarah IilsaIat tetap
memberikan tempat terhormat bagi sebagian pendapat dan buah pikirannya yang pokok
dan utama.
Antara lain Betran Russel berkata: Adapun buah pikiran penting yang dibicarakan oleh
IilsaIat Plato adalah: kota utama yang merupakan idea yang belum pernah dikenal dan
dikemukakan orang sebelumnya. Yang kedua, pendapatnya tentang idea yang merupakan
buah pikiran utama yang mencoba memecahkan persoalan-persoalan menyeluruh
persoalan itu yang sampai sekarang belum terpecahkan. Yang ketiga, pembahasan dan dalil
yang dikemukakannya tentang keabadian. Yang keempat, buah pikiran tentang
alam/cosmos, yang kelima, pandangannya tentang ilmu pengetahuan (Ali, 1990:28).
5. Aliran Realisme
Aliran Realisme adalah aliran IilsaIat yang memandang realitas sebagai dualitas. Aliran
realisme memandang dunia ini mempunyai hakikat realitas yang terdiri dari dunia Iisik dan
dunia rohani. Hal ini berbeda dengan IilsaIat aliran idealisme yang bersiIat monistis yang
memandang hakikat dunia pada dunia spiritual semata. Dan juga berbeda dari aliran
materialisme yang memandang hakikat kenyataan adalah kenyatan yang bersiIat Iisik
semata. Realisme membagi realistas menjadi dua bagian yaitu subjek yang menyadari dan
mengetahui di satu pihak dan yang kedua adanya realita di luar manusia yang dapat
dijadikan objek pengetahuan manusia.
Aliran realisme mempunyai berbagai macam bentuk yaitu realisme rasional, realisme
naturalis dan realisme kritis. Realisme rasional juga masih terbagi dua yaitu realisme klasik
dan realisme religius. Realisme klasik pertama kali dikembangkan oleh Aristoteles. Berikut
ini kita bahas pendidikan menurut aliran realisme

Konsep Pendidikan
Berikut ini kita akan membahasa konsep pendidikan mengenai pengertian pendidikan dan
gambaran pendidikan menurut masing-masing bentuk aliran realisme.
1. Realisme Rasional
Realisme klasik berpandangan bahwa manusia sebenarnya memiliki ciri rasional. Dengan
demikian manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Eksistensi Tuhan merupakan
penyebab pertama dan utama realistas alam semesta. Memperhatikan intelektual adalah
penting bukan saja sebagai tujuan melainkan sebagai alat untuk memecahkan masalah.
Menurut realisme klasik pengalaman manusia penting bagi pendidikan. Menurut
Aristoteles, terdapat aturan moral universal yang diperoleh dengan akal dan mengikat
manusia sebagai mahluk rasional. Manusia sempurna menurutnya adalah manusia
sempurna yang mengambil jalan tengah. Konsep pendidikan pada anak bahwa anak harus
diajarkan ukuran moral yang absolut dan universal karena baik dan benar adalah untuk
seluruh umat manusia. Kebiasaan baik harus dipelajari karena kebaikan tidak datang
dengan sendirinya
Sedangkan menurut realisme religius bahwa kenyataan itu dipandang berbentuk natural
dan supernatural. Pandangan IilsaIat ini menitik beratkan pada hakikat kebenaran dan
kebaikan. Pendidikan merupakan suatu proses untuk meningkatkan diri guna mencapai
kebenaran abadi. Kebenaran bukan dibuat melainkan sudah ditentukan dan belajar harus
mencerminkan kebenaran itu. Menurut Cornerius pendidikan harus universal, seragam dan
merupakan suatu kewajiban dimulai dengan pendidikan yang lebih rendah.

2. Realisme Natural
Menurut realisme natural pengetahuan yang diakui adalah pengetahuan yang diperoleh
melalui pengalaman empiris dengan jalan observasi atau pengamatan indera. Para pengikut
realisme natural mengikuti teori pengatahuan empirisme yang mengatakan pengalaman
merupakan Iaktor Iundamental dalam pengetahuan dan merupakan sumber pengetahuan
manusia.
Pendidikan berkaitan dengan dunia di sini dan sekarang. Dunia diatur oleh hukum alam.
Pendidikan menurut aliran realisme natural haruslah ilimiah dan yang menjadi objeknya
adalah kenyataan dalam alam.

3. Realisme kritis.
Menurut pandangan Breed IilsaIat pendidikan hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip
demokrasi. Pendidikan sebagai pertumbuhan harus diartikan sebagai pengarah terhadap
tuntunan sosial dan individual. Menurut Imanuel Kant , pengetahuan mulai dari
pengalaman namun tidak semiuanua dari pengalaman. !r,n t,np, s ,/,,h osong /,n
t,ngg,p,n t,np, onseps ,/,,h -ut,.

Menurut Henderson ke semua bentuk aliran realisme pendidikan menyetujui bahwa
a. Proses pendidikan berpusat pada tugas mengembangkan laki-laki dan wanita menjadi
hebat
b. Tugas manusia di dunia adalah memajukan keadilan dan kesejahteraan umum
c. Tujuan akhir pendidikan adalah memecahkan masalah-masalah pendidikan.

6. Pragmatisme
Pragmatisme berasal dari dua kata yaitu pragma dan isme. Pragam berasal dari bahasa
Yunani yang berarti tindakan atau action. Sedangkan pengertian isme sama dengan
pengertian isme isme yang lainnya yang merujuk pada cara berpikir atau suatu aliran
berpikir. Dengan demikian IilsaIat pragmatisme beranggapan bahwa Iikiran itu mengikuti
tindakan.
Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu
bekerja. Ini berararti pragmatisme dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang makna
kebenaran atau theory oI thurth. Hal ini dapat kita lihat dalam buku William James yang
berjudul The Meaning oI Thurth. Menurut James kebenaran adalah sesuatu yang terjadi
pada ide. Menurutnya kebenaran adalah sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak. Dengan
demikian kebenaran adalah sesuatu yang bersiIat relatiI. Hal ini dapat dijelaskan melalui
sebuah contoh. Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori maka kebenaran teori masih
bersiIat relatiI sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.
Dalam The Meaning oI The Truth (1909), James menjelaskan metode berpikir yang
mendasari pandangannya di atas. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga
aspek. Pertama, kebenaran itu merupakan suatu postulat, yakni semua hal yang di satu sisi
dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman, sedang di sisi lain, siap diuji
dengan perdebatan. Kedua, kebenaran merupakan suatu pernyataan Iakta, artinya ada
sangkut pautnya dengan pengalaman. Ketiga, kebenaran itu merupakan kesimpulan yang
telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan Iakta. Yang lebih menarik lagi adalah
pragmatisme menjadikan konsekuensi konsekuensi praktis sebagai standar untuk
menentukan nilai dan kebenaran. Meurut aliran ini hakikat dari realiatas adalah segala
sesuatu yang dialami oleh manusia. Ia berpendapat bahwa inti dari realiatas adalah
pengalam yang dialami manusia. Ini yang kemudian menjadi penyebab bahwa
pragmatisme lebih memperhatikan hal yang bersiIat keaktualan sehingga berimplikasi pada
penentuan nilai dan kebenaran. Dengan demikian nilai dan kebenaran dapat ditentukan
dengan melihat realitas yang terjadi di lapangan dan tidak lagi melihat Iaktor Iaktor lain
semisal dosa atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang dikataka James, 'Dunia nyata
adalah dunia pengalaman manusia.

Implikasi Terhadap Pendidikan
1. Tujuan Pendidikan
FilsuI paragmatisme berpendapat bahwa pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang
bagaimana berIikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam
masyarakat. Sekolah harus bertujuan untuk mengembangkan pengalaman-pengalaman
yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada kehidupan yang baik. Tujuan-tujuan
pendidikan tersebut meliputi
Kesehatan yang baik
Keterapilan-keterampian dan kejujuran dalam bekerja
Minat dan hobi untuk kehidupan yag menyenangkan
Persiapan untuk menjadi orang tua
Kemampuan untuk bertransaksi secara eIektiI dengan masalah-masalah sosial
Tambahan tujuan khusus pendidikan di atas yaitu untuk pemahaman tentang pentingnya
demokrasi. Menurut pragmatisme pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan
pengalaman untuk menemukan/memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan peribadi dan
kehidupan sosial.
2. Kurikulum
Menurut para IilsuI paragmatisme, tradisis demokrasi adalah tradisi memperbaiki diri
sendiri (a selI-correcting trdition). Pendidikan berIokus pada kehidupan yang aik pada
masa sekarang dan masa yang akan datang. Kurikilum pendidikan pragmatisme 'berisi
pengalaman-pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.
Adapun kurikulum tersebut akan berubah
3. Metode Pendidikan
Ajaran pragmatisme lebih mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah
(pro-em so;ng metho/) serta metode penyelidikan dan penemuan (nqur ,n/ /sco;ery
metho/). Dalam praktiknya (mengajar), metode ini membutuhkan guru yang memiliki siIat
pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing, berpandangan terbuka, antusias,
kreatiI, sadar bermasyarakat, siap siaga, sabar, bekerjasama, dan bersungguh-sungguh agar
belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita-citakan
dapat tercapai.
4. Peranan Guru dan Siswa
Dalam pembelajaran, peranan guru bukan 'menuangkan pengetahuanya kepada siswa.
Setiap apa yang dipelajari oleh siswa haruslah sesuai dengan kebutuhan, minat dan
masalah pribadinya. Pragmatisme menghendaki agar siswa dalam menghadapi suatu
pemasalahan, hendaknya dapat merekonstruksi lingkungan untuk memecahkan kebutuhan
yang dirasakannya. Untuk membantu siswa guru harus berperan:
a. Menyediakan berbagai pengalaman yang akan memuculkan motivasi. Field trips, Iilm-
Iilm, catatan-catatan, dan tamu ahli merupakan contoh-contoh aktivitas yang dirancang
untuk memunculkan minat siswa.
b. Membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesiIik
c. Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas guna
memecahkan suatu masalah
d. Membantu para siswa dalam mengumpulkan inIormasi berkenaan dengan masalah.
e. Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah dipelajari, bagaimana mereka
mempelajarinya, dan inIormasi baru yang ditemukan oleh setiap siswa.
Edward J. Power (1982) menyimpulkan pandangan pragmatisme bahwa 'Siswa merupakan
organisme rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh, sedangkan guru
berperan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu
jauh atas minat dan kebutuhan siswa. Callahan dan Clark menyimpulkan bahwa orientasi
pendidikan pragmatisme adalah progresivisme. Artinya, pendidikan pragmatisme menolak
segala bentuk Iormalisme yang berlebihan dan membosankan dari pendidikan sekolah
yang tradisional. Anti terhadap otoritarianisme dan absolutisme dalam berbagai bidang
kehidupan.

7. Esensialisme
Eksistensialisme adalah aliran IilsaIat yang pahamnya berpusat pada manusia individu
yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam
mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui
mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa
kebenaran bersiIat relatiI, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan
sesuatu yang menurutnya benar.
Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam IilsaIat, khususnya tradisi IilsaIat
Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an manusia, dan keber-Ada-an itu
dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang berhubungan dengan eksistensialisme
adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan itu? bagaimanakah manusia yang bebas
itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu kebebasan, eksistensialisme menolak
mentah-mentah bentuk determinasi terhadap kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri.
Dalam studi seo,h,n fs,f,t eksistensialisme paling dikenal hadir lewat Jean-Paul
Sartre, yang terkenal dengan diktumnya "hum,n s con/emne/ to -e free", manusia
dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah kemudian manusia bertindak.
Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi kebebasan eksistensialis adalah,
sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau "dalam istilah orde baru", apakah
eksistensialisme mengenal "kebebasan yang bertanggung jawab"? Bagi eksistensialis,
ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan dari kebebasan
dari setiap individu adalah kebebasan individu lain.
Namun, menjadi eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-
yang-lain, sadar bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali
manusia, tetapi bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi
dari eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan
tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau
tidak mau kita akan terjun ke berbagai proIesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis
dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi
dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.
Kaum eksistensialis menyarankan kita untuk membiarkan apa pun yang akan kita kaji.
Baik itu benda, perasaaan, pikiran, atau bahkan eksistensi manusia itu sendiri untuk
menampakkan dirinya pada kita. Hal ini dapat dilakukan dengan membuka diri terhadap
pengalaman, dengan menerimanya, walaupun tidak sesuai dengan IilsaIat, teori, atau
keyakinan kita.
|1|


Dasar Filosofis filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialime dalam melakukan gerakan pendidikan bertumpu pada mazhab IilsaIat
idealisme dan realisme, meskipun kaum idealisme dan kaum realisme berbeda pandangan
IilsaIatnya, mereka sepaham bahwa : :
a. Hakikat yang mereka anut makna pendidikan bahwa anak harus menggunakan
kebebasannya, dan ia memerlukan disiplin orang dewasa untuk membantu dirinya
sebelum sendiri dapat mendisiplinkan dirinya.
b. Manusia dalam memilih suatu kebenaran untuk dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya
mengandung makna pendidikan bahwa generasi perlu belajar untuk mengembangkan
diri setinggi-tingginya dan kesejahteraan sosial.

Karakteristik Filsafat Pendidikan Esensialisme
Ciri-ciri IilsaIat pendidikan esensialisme yang disarikan oleh Welli am.c.Bagley
adalah sebagai berikut :
1. Minat-minat yang kuat dan tahan lama sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal
yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam jiwa.
2. Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat
dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada
spesies manusia.
3. Mendisiplin diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakkan disiplin adalah
suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Di kalangan individu
maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai
melalui perjuangan tidak pernah merupakan pemberian.
4. Esensialisme menawarkan teori yang kokoh kuat tentang pendidikan, sedangkan
sekolah-sekolah pesaingnya (progressive) memberikan sebuah teori yang lemah.

Teori Pendidikan Esensialisme
1. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan esensialisme adalah menyampaikan warisan budaya dan sejarah
melalui suatu inti pengetahuan yang telah terhimpun, dasar bertahan sepanjang waktu
untuk diketahui oleh semua orang. Pengetahuan ini diikuti oleh keterampilan, sikap,
dan nilai-nilai yang tepat untuk membentuk unsur-unsur yang inti (esensiliasme),
sebuah pendidikan sehingga pendidikan bertujuan mencapai standart akademik yang
tinggi, pengembangan intelek atau kecerdasan.
2. Metode pendidikan
a. Pendidikan berpusat pada guru (teacher centered)
b. Umumnya diyakini bahwa pelajar tidak betul-betul mengetahui apa yang diinginkan,
dan mereka harus dipaksa belajar.
c. Metode utama adalah latihan mental, misalnya melalui diskusi dan pemberian tugas,
penguasaan pengetahuan, misalnya melalui penyampaian inIormasi dan membaca.
3. Pelajar
Siswa adalah mahluk rasional dalam kekuasaan Iakta & keterampilan-keterampilan
pokok yang siap melakukan latihan-latihan intelektiI atau berIikir.

4. Pengajar
1. Peranan guru kuat dalam mempengaruhi & menguasai kegiatan kegiatan di kelas.
2. Guru berperan sebagai sebuah contoh dalam pengawasan nilai-nilai dan penguasaan
pengetahuan atau gagasan.

8. Neothonisme
Neothonisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua
puluh. Neothonisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu.
Neothonisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresiI. Neothonisme
menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru.
Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur ke belakang,
dengan menggunakan kembali nilai nilai atau prinsip prinsip umum yang telah menjadi
pandangan hidup yang kuat, kukuh pada zaman kuno dan abad pertengahan.

Pandangan Neothonisme tentang pendidikan
Kaum Neothonis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh
kekacauan serta mambahayakan tidak ada satu pun yang lebih bermanIaat daripada
kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik. Mohammad Noor
Syam (1984) mengemukakan pandangan perenialis, bahwa pendidikan harus lebih banyak
mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh.
Neothonisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan
keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal.
Beberapa pandangan tokoh Neothonisme terhadap pendidikan:
1. Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya naIsu, kemauan,
dan akal (Plato)
2. Perkemhangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan IilsaIat sebagai
alat untuk mencapainya ( Aristoteles)
3. Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi
aktiI atau nyata. (Thomas Aquinas)

Tokoh-tokoh Neothonisme
1. !,to. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas
normative dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan
2. rstotees. Ia menganggap penting pembentukan kebiasaan pada tingkat pendidikan
usia muda dalam menanamkan kesadaran menurut aturan moral
3. %hom,s qun,s. Thomas berpendapat pendidikan adalah menuntun kemampuan-
kemampuan yang masih tidur menjadi aktiI atau nyata tergantung pada kesadaran tiap-
tiap individu. Seorang guru bertugad untuk menolong membangkitkan potensi yang
masih tersembunyi dari anak agar menjadi aktiI dan nyata


LANDASAN DAN ASAS-ASAS PENDIDIKAN SERTA PENERAPANNYA

Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis-sistemik selalu bertolak darisejumlah
landasan serta pengindahan sejumlah asas-asas tertentu. Landasan dan asas tersebut sangat
penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan manusia dan
masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan
IilosoIis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam
menentukan tujuan pendidikan. Selanjutnya landasan ilmiah dan teknologi akan
mendorong pendidikan untuk mnjemput masa depan.
Landasan dan asas pendidikan, serta beberapa hal yang berkaitan dengan penerapannya.
Landasan-landasan pendidikan tersebut adalah fosofs, utur,, psoogs, sert, m,h
/,n tenoog. Sedangkan asas yang dikalia adalah asas %ut Wur H,n/,y,n, -e,,r
sep,n,ng h,y,t, em,n/r,n /,,m -e,,r.
A. LANDASAN PENDIDIKAN
1.Landasan Filososfis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Landasan IilosoIis bersumber dari pandangan-pandanagan dalam IilsaIat
pendidikan, meyangkut keyakianan terhadap hakekat manusia, keyakinan
tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih
baik dijalankan. Aliran IilsaIat yang kita kenal sampai saat ini adalah /e,sme,
Re,sme, !eren,sme, Esens,sme, !r,gm,tsme /,n !rogres;sme /,n
Estens,sme
1. Esensialisme
Esensialisme adalah mashab pendidikan yang mengutamakan pelajaran
teoretik (liberal arts) atau bahan ajar esensial.
2. Perenialisme
Perensialisme adalah aliran pendidikan yang megutamakan bahan ajaran
konstan (perenial) yakni kebenaran, keindahan, cinta kepada kebaikan
universal
3. Pragmatisme dan Progresifme
Prakmatisme adalah aliran IilsaIat yang memandang segala sesuatu dari nilai
kegunaan praktis, di bidang pendidikan, aliran ini melahirkan progresivisme
yang menentang pendidikan tradisional.
4. Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme adalah mazhab IilsaIat pendidikan yang menempatkan
sekolah/lembaga pendidikan sebagai pelopor perubahan masyarakat.
b. Pancasila sebagai Landasan Filosofis Sistem Pendidkan Nasional
Pasal 2 UU RI No.2 Tahun 1989 menetapkan bahwa pendidikan nasional
berdasarkan pancasila dan UUD 1945. sedangkan Ketetapan MPR RI No.
II/MPR/1978 tentang P4 menegaskan pula bahwa Pancasila adalah jiwa seluruh
rakyat indonesia, kepribadian bangsa Indonesia, pandangan hidup bangsa
Indonesia, dan dasar negara Indonesia.

2.Landasan Sosiolagis
a. Pengertian Landasan Sosiologis
Dasar sosiolagis berkenaan dengan perkembangan, kebutuhan dan karakteristik
masayarakat.Sosiologi pendidikan merupakan analisi ilmiah tentang proses
sosial dan pola-pola interaksi sosial di dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup
yang dipelajari oleh sosiolagi pendidikan meliputi empat bidang:

1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek masyarakat lain.
2. hubunan kemanusiaan.
3. Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya.
4. Sekolah dalam komunitas,yang mempelajari pola interaksi antara sekolah
dengan kelompok sosial lain di dalam komunitasnya.
b. Masyarakat indonesia sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan
Nasional
Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah mempengaruhi
sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan
akan pendidikan semakin meningkat dan komplek.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan
dengan perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan
KeBhineka tunggal Ika-an, baik melalui kegiatan jalur sekolah (umpamanya
dengan pelajaran PPKn, Sejarah Perjuangan Bangsa, dan muatan lokal), maupun
jalur pendidikan luar sekolah (penataran P4, pemasyarakatan P4 nonpenataran)

3.Landasan Kultural
a. Pengertian Landasan Kultural
Kebudayaan dan pendidikan mempunyai hubungan timbal balik, sebab
kebudayaan dapat dilestarikan/ dikembangkan dengan jalur mewariskan
kebudayaan dari generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik
secara Iormal maupun inIormal.
Anggota masyarakat berusaha melakukan perubahan-perubahan yang sesuai
denga perkembangan zaman sehingga terbentuklah pola tingkah laku, nlai-nilai,
dan norma-norma baru sesuai dengan tuntutan masyarakat. Usaha-usaha menuju
pola-pola ini disebut transIormasi kebudayaan. Lembaga sosial yang lazim
digunakan sebagai alat transmisi dan transIormasi kebudayaan adalah lembaga
pendidikan, utamanya sekolah dan keluarga.
b. Kebudayaan sebagai Landasan Sistem Pendidkan Nasional
Pelestarian dan pengembangan kekayaan yang unik di setiap daerah itu melalui
upaya pendidikan sebagai wujud dari kebineka tunggal ikaan masyarakat dan
bangsa Indonesia. Hal ini harsulah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan
kesatuan dan persatuan bangsa dan negara indonesia sebagai sisi ketunggal-
ikaan.

4.Landasan Psikologis
a. Pengertian Landasan Filosofis
Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan
anak. Pemahaman etrhadap peserta didik, utamanya yang berkaitan dengan
aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh
karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan
penerapannya dalam bidang pendidikan.
Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada
setiap peserta didik, sekalipun mereka memiliki kesamaan. Penyusunan
kurikulum perlu berhati-hati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar
yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan
belajar yang digariskan.



b. Perkembangan Peserta Didik sebagai Landasan Psikologis
Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk
memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang
tepat dalam membantu proses tumbuh kembang itu secara eIektiI dan eIisien.

5. Landasan Ilmiah dan Teknologis
a. Pengertian Landasan IPTEK
Kebutuhan pendidikan yang mendesak cenderung memaksa tenaga pendidik
untuk mengadopsinya teknologi dari berbagai bidang teknologi ke dalam
penyelenggaraan pendidikan. Pendidikan yang berkaitan erat dengan proses
penyaluran pengetahuan haruslah mendapat perhatian yang proporsional dalam
bahan ajaran, dengan demikian pendidikan bukan hanya berperan dalam
pewarisan IPTEK tetapi juga ikut menyiapkan manusia yang sadar IPTEK dan
calon pakar IPTEK itu. Selanjutnya pendidikan akan dapat mewujudkan
Iungsinya dalam pelestarian dan pengembangan iptek tersebut.
b. Perkembangan IPTEK sebagai Landasan Ilmiah
Iptek merupakan salah satu hasil pemikiran manusia untuk mencapai kehidupan
yang lebih baik, yang dimualai pada permulaan kehidupan manusia. Lembaga
pendidikan, utamanya pendidikan jalur sekolah harus mampu mengakomodasi
dan mengantisipasi perkembangan iptek. Bahan ajar sejogjanya hasil
perkembangan iptek mutahir, baik yang berkaitan dengan hasil perolehan
inIormasi maupun cara memproleh inIormasi itu dan manIaatnya bagi
masyarakat

B. ASAS-ASAS POKOK PENDIDIKAN
Asas pendidikan merupakan sesuatu kebenaran yang menjadi dasar atau tumpuan
berpikir, baik pada tahap perancangan maupun pelaksanaan pendidikan. Khusu s di
Indonesia, terdapat beberapa asas pendidikan yang memberi arah dalam merancang
dan melaksanakan pendidikan itu. Diantara asas tersebut adalah s,s %ut Wur
H,n/,y,n, s,s Be,,r Sep,n,ng H,y,t, /,n ,s,s Kem,n/r,n /,,m -e,,r.
1. Asas Tut Wuri Handayani
Sebagai asas pertama, tut wuri handayani merupakan inti dari sitem Among
perguruan. Asas yang dikumandangkan oleh Ki Hajar Dwantara ini kemudian
dikembangkan oleh Drs. R.M.P. Sostrokartono dengan menambahkan dua
semboyan lagi, yaitu Ing Ngarso Sung Sung Tulodo dan Ing Madyo Mangun
Karso.
Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yaitu:
O Ing Ngarso Sung Tulodo ( jika di depan memberi contoh)
O Ing Madyo Mangun Karso (jika ditengah-tengah memberi dukungan dan
semangat)
O Tut Wuri Handayani (jika di belakang memberi dorongan)

2. Asas Belajar Sepanjang Hayat
Asas belajar sepanjang hayat (liIe long learning) merupakan sudut pandang dari sisi
lain terhadap pendidikan seumur hidup (liIe long education). Kurikulum yang dapat
meracang dan diimplementasikan dengan memperhatikan dua dimensi yaitu
dimensi vertikal dan horisontal.
O Dimensi vertikal dari kurikulum sekolah meliputi keterkaitan dan
kesinambungan antar tingkatan persekolahan dan keterkaitan dengan kehidupan
peserta didik di masa depan.
O Dimensi horisontal dari kurikulum sekolah yaitu katerkaitan antara pengalaman
belajar di sekolah dengan pengalaman di luar sekolah.

3. Asas Kemandirian dalam Belajar
Dalam kegiatan belajar mengajar, sedini mungkin dikembangkan kemandirian
dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu
suiap untuk ulur tangan bila diperlukan.
Perwujudan asas kemandirian dalam belajar akan menempatkan guru dalamperan
utama sebagai Iasilitator dan motiIator. Salah satu pendekatan yang memberikan
peluang dalam melatih kemandirian belajar peserta didik adalah sitem CBSA (Cara
Belajar Siwa AktiI).

TUGAS

PENGANTAR PENDIDIKAN





















NAMA : OKBEN Y. TUNMUNI
NIM : 1511124
KELAS : D
SMTR : I




1URUSAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN ARTHA WACANA
KUPANG
2011