P. 1
Cerpen Bahasa Indonesia

Cerpen Bahasa Indonesia

|Views: 2,937|Likes:
Dipublikasikan oleh Vickymonster Victoria Rahman

More info:

Published by: Vickymonster Victoria Rahman on Nov 02, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/25/2015

pdf

text

original

*

Aku ingin kembali ke tiga tahun yang lalu ketika semuanya adalah kehidupan.
Kehidupan nyata yang waras, menurutku. Dan kini, aku hanya bisa menunggu kapan Tuhan
akan mengirimkan lentera itu ke dalam gelapku .

*
'Hei, sedang apa?¨ seseorang dari kamar ganti menepuk pundakku pelan. Itu Hyuk
Jae. Dia adalah sahabatku semenjak aku pindah ke kota besar ini.
'Ah, kau ini mengagetkanku saja, Hyuk' kataku sembari meninju bahunya.
'Apa yang kau lamunkan, huh?¨
'Bukan apa-apa, aku hanya ingin pulang saja ke Mokpo. Aku rindu Ayah, Ibu dan
Donghwa. Ibu juga sedang sakit, aku ingin menjenguknya¨ kataku sembari menerawang.
'Sudahlah, Donghae. Jika kau terus seperti ini kau akan sakit. Kita akan menghadapi
ujian semester. Jika pikiranmu terbagi, bagaimana nilaimu nanti. Kau bisa melewati ujian
dulu, setelah semuanya selesai, kau bisa saja pulang ke Mokpo. Apa salahnya menunggu
sedikit lebih lama?¨ Hyukjae menepuk bahuku.
Begitulah Hyukjae, ia selalu tahu kapan ia harus angkat bicara. Ya, ia sahabatku.

*
Aku ingin menghirup udara kebebasan lagi. Aku ingin melihat langit yang biru.
Bukan langit dari balik jendela yang seakan memenjarakanku dari dunia luar. Bukan lagi titik
hujan yang aku lihat tampias di kaca jendela. Bukan juga matahari yang semu
kehangatannya, atau cahayanya yang merambat lewat jendela itu. Dan bukan senja yang aku
lihat dalam lukisan, melainkan kenyataan yang senyata-nyatanya ingin aku lihat.
Andai Tuhan ada di depanku sekarang, aku ingin sekali menyerahkan surat yang
sudah aku tulis tiga tahun yang lalu padaNya ; aku ingin seorang teman.

*
'Sudah berapa burung kertas yang kau dapatkan, Sayang?¨
'Baru 715 buah, Bu¨
'Wow, sudah banyak! Kau hebat, Saehee¨ kataku menyemangatinya. Tetapi ia
terdiam setelah mendengar kata-kataku tadi.
'Ibu .¨
'Kenapa, Saehee?¨ aku duduk di sisinya sembari mengusap rambut hitamnya.
'Aku kembali berpikir tentang hal itu, Ibu. Kapan aku bisa menyelesaikan ini semua?
Aku takut tidak bisa menyelesaikannya. Padahal kalau aku bisa menyelesaikannya aku ingin
meminta satu permintaan¨ katanya sembari menundukkan kepalanya. Malaikat kecilku mulai
kehilangan cahaya hidupnya. Tuhan, apa Kau tega melihatnya seperti ini? Ia sungguh
mengharapkanMu untuk mendengarkannya. Apa salahnya hingga ia menderita seperti ini,
Tuhan? Akankah kau mendengarkan doanya, satu kali saja?
'Kau pasti bisa, Sayang. Saehee yang aku kenal tidak akan menyerah bukan, ketika
ada sesuatu yang menghalanginya? Ia tidak akan menyerahkan masa depannya pada nasib. Ia
akan menentukan takdirnya sendiri, dengan tangannya sendiri. Bahkan seribu burung kertas
pun tak akan menghalanginya jika ia sudah membulatkan tekadnya¨ hatiku perih ketika
mengatakannya. Aku mengutip apa yang pernah ia katakan dulu.
'Itu dulu, Ibu. Kini keadaanku berbeda. Aku lemah. Aku tidak punya teman. Saehee
juga jelek. Dan Saehee tidak punya waktu yang lama untuk tinggal bersama Ibu dan Kakak¨
ia meneteskan air matanya. Hatiku makin perih mendengar kata-katanya. Aku ingin sekali
berbuat sesuatu yang bisa membuatnya melupakan apa yang sedang ia hadapi saat ini. Andai,
andai saja ada cara untuk bisa mengembalikan senyumnya yang dulu, pasti aku akan
melakukan apapun untuk itu.

*
Tuhan, semalam aku memimpikan seseorang. Ia memberikan seekor kupu-kupu putih
dan setoples kunang-kunang padaku. Ia juga tersenyum padaku. Siapa lelaki itu, Tuhan? Aku
ingin mengenalnya. Aku rasa ia anak yang baik. Ia berdiri di samping kotak pos. Tunggu, apa
itu kotak pos yang sama dengan yang berada di pantai?
Tuhan, apa yang ingin Kau sampaikan padaku?

*
Akhirnya setelah sekian lama aku ingin kembali pulang ke kampung halamanku, aku
bisa juga menjejakan lagi kakiku di tempat ini. Kini aku sedang bersama para teman lamaku.
Mereka tak banyak berubah dari yang terakhir kali aku lihat. Dan tempat ini, ia juga tidak
banyak berubah dari beberapa tahun lalu ketika terakhir kali aku meninggalkannya. Banyak
yang aku rindukan dari tempat ini. Terutama Ayah dan kotak pos yang ada di pinggir
pantaisebuah legenda yang sering Ayah ceritakan padaku.
'Donghae, tolong ambilkan bolanya!¨
Aku berlari menghampiri bola yang menggelinding masuk menuju ke halaman rumah
orang yang pagarnya terbuka. Bola itu berhenti menggelinding tepat di bawah sebuah jendela.
'Permisi, ada orang? MaaI, aku hendak mengambil bola yang menggelinding¨
Tak ada yang menjawab. Aku pikir tak ada orang di rumah itu. Mungkin rumah itu
sedang ditinggalkan pemiliknya. Jadi, dengan perasaan takut-takut-nekat, aku memasuki
rumah itu.
Aku memasuki halaman rumah orang itu, pagarnya terbuka. Aneh. Tapi aku tetap
masuk ke sana untuk mengambil bola. Ketika aku menegakkan badanku .ARRRGGGHH!!!
Aku melihat seseorang menatapku dari jendela. Hampir saja jantungku lepas dari tempatnya.
Aku kira hantu. Aku segera membungkukkan tubuhku, minta maaI karena masuk tanpa izin.
Tapi di luar dugaanku, ia tersenyum. Wanita berambut hitam panjang dengan baju bunga-
bunga itu sepertinya memperhatikanku sedaritadi. Ia mengatakan sesuatu padaku tapi aku tak
bisa mendengarnya dari balik jendela. Jendela itu tertutup, hingga suaranya tidak terdengar.
'Buka saja jendelanya¨ kataku sembari menunjuk jendela. Ia menggeleng lalu
memberikan isyarat padaku agar aku menunggunya sebentar. Ia ternyata menuliskan sesuatu
di sebuah kertas.
Teman. Ia menuliskan sebuah kata. Teman?
'Iya, aku teman. Aku bukan penjahat¨ kataku dengan isyarat tanganku. Wanita itu
mengangguk.
Aku tahu. Ia menulis lagi. Aku tersenyum. Siapa namamu?
'Donghae, Lee Donghae¨
Ia tidak mengerti. Aku kebingungan harus menulis di mana. Tiba-tiba aku memiliki
ide. Aku mendekati kaca lalu menghembuskan naIasku yang menghasilkan titik-titik uap di
kaca lalu menuliskan namaku.
AKU LEE DONGHAE. KAU? Setelah membaca tulisanku, ia segera menuliskan
sesuatu.
Kim Saehee.
Aku menghembuskan naIas lalu menulis lagi. NAMAMU CANTIK, SEPERTI ORANG
YANG MEMILIKI NAMA ITU .)
Ia tersenyum, lebih manis dari senyumnya yang pertama kulihat. Terima kasih.
Tiba-tiba .
'Hei, Donghae! Lama sekali kau. Kami menunggumu!¨
'Iya, aku segera ke sana!!¨ teriakku. Aku cepat-cepat menuliskan sesuatu lagi. AKU
HARUS PERGI SEKARANG.
Kenapa? Aku melihat wajahnya melukiskan kekecewaan.
BESOK AKU AKAN MENEMUIMU LAGI. Ia tidak menulis lagi. Ia tersenyum
padaku.

*
Teman. Inikah rasanya memiliki teman? Kau bisa tersenyum tulus untuknya tanpa
beban. Lalu apalagi yang kau inginkan bila kesenangan itu telah kau dapatkan? Tidak ada.
Karena teman adalah kebahagiaan itu sendiri. Tuhan

*
Keesokan harinya, aku melewati rumah Saehee. Tapi lagi-lagi, aku tidak melihat ada
tanda-tanda kehidupan di rumah itu. Tidak juga di kamar tempat Saehee berada. Hm,
mungkin lain kali, pikirku. Tapi tiba-tiba aku menghentikan langkahku. Aku merasa aku
harus melirik sekali lagi ke jendela kamar Saehee. Dan aku melihat sesuatu di sana .
Donghae, kapan kau datang? Aku menunggumu. Tulisan itu tepat berada di jendela. Rasanya
tulisan itu belum ada tadi. Tapi aku tersenyum. Aku membuka pagar rumah Saehee lalu
berlari kecil ke depan jendela kamar Saehee. Aku mengetuk jendelanya. Tirainya bergoyang,
lalu aku melihatnya dari balik tirai itu, lagi-lagi tersenyum padaku. Aku balas tersenyum.
Kenapa baru datang?
Aku mengeluarkan note kecil dan pensil untuk menulis. Aku sudah
mempersiapkannya untuk ini. Aku sudah berjanji pada Saehee untuk menemuinya hari ini.
Jadi, untuk bisa berkomunikasi dengannya, aku harus membawa alat tulis (rasanya seperti
akan pergi sekolah.)
MAAF, TADI AKU LIHAT TIDAK ADA ORANG. AKU PIKIR KAU PERGI.
Ia menggeleng lalu menulis. Aku tidak pergi dan tak akan pernah pergi dari kamar
ini.
Aku mengangkatkan alisku. KENAPA?
Karena penyakitku.
SAKIT APA?
Tidak tahu.
PASTI MENYEDIHKAN TIDAK BISA KELUAR RUMAH.
Tidak , karena sekarang aku memiliki teman sepertimu.
Aku tersenyum. Saehee adalah anak yang menyenangkan. Aku sudah nyaman berada
di dekatnya (meski dihalangi oleh sebuah tembok dengan jendela yang tidak bisa terbuka)
ketika pertama kali berbicara dengannya.
PASTI JUGA KESEPIAN.
Tidak.
KARENA ADA AKU?
Iya.
Lagi-lagi aku tersenyum dibuatnya.
KAPAN KAU AKAN SEMBUH?
Secepatnya.
CEPAT SEMBUH YA. AKU AKAN MENUNJUKKAN SESUATU
Apa?
KAU AKAN TAHU KETIKA KAU KELUAR DARI BENTENG PERTAHANANMU INI
Ah, curang.
Dan begitulah pembicaraan kami. Aku belum pernah melakukan pembicaraan seperti
ini. Aku seperti berbicara pada seorang tahanan, padahal anak itu anak yang baik. Tapi
kenapa ia tidak diperbolehkan untuk menghirup udara yang sama dengan yang aku hirup saat
ini? Sepertinya ia kesepian.

*
'Donghae, kau akan tinggal berapa lama? Apa selama liburan semestermu?¨
'Iya, Kak. Aku di sini selama liburan semester¨
'Ngomong-ngomong, beberapa hari ini kau tampak sedikit aneh, Donghae. Ada apa
denganmu?¨
'Benarkah? Apa yang berubah?¨
'Aha.. ada apa, Donghae?¨ Donghwa masuk ke dalam, mengambilkan minum
untukku dan untuknya. Jarang-jarang kami bisa duduk bersama seperti ini. Sembari
menunggunya, aku memikirkan jawaban untuk pertanyaannya itu.
'Jadi?¨ lanjutnya, menagih jawaban.
'Aku bahkan tak tahu aku ini kenapa, Kak¨
'Apa? Bagaimana bisa?¨ Donghwa mencibir sembari meninju bahuku.
'Hm, bagaimana ya, aku sendiri tak tahu apa yang terjadi padaku. Ohya, memang aku
ini aneh kenapa?¨
'Tunggu, Donghae. Aku ingat kau pernah seperti ini.. Sebentar¨ Donghwa sepertinya
mencoba mengingat-ingat sesuatu,'Ahya, kau bersikap seperti ini ketika kau sedang
menyukai seorang wanita. SKAKMAT!' ia heboh sendiri.
'Hei, tahu dari mana? Itu masih perkiraanmu saja¨
'Hahahah, memang apa yang salah kalau adikku jatuh cinta, hah?¨ Donghwa
menggodaku.
'Sudahlah, Kak. Aku lelah, aku tidur duluan ya. Selamat malam¨
'Curang kau, Donghae. Kau lari dari pertanyaanku¨ katanya sembari tersenyum.
Mungkin merasa menang karena telah membuatku malu setengah mati.
*
Aku membaringkan tubuhku di ranjangkuranjang lamakulalu menatap
pemandangan malam di luar jendela. Rasanya hampa. Semua yang ada di sini.. rasanya tak
senyata dengan yang aku lihat di luar sana. Aku menyentuh kaca jendela yang dirambati
cahaya rembulan malam itu. Apa seperti ini yang Saehee rasakan selama ini? Aku tidak
pernah merasakan ini sebelumnya. Perasaan terkungkung oleh istana yang kau pikir adalah
tempat teramanmu dari dunia luar. Padahal, sekejam-kejamnya dunia di luar sana, alam selalu
menjaga kita, mengajarkan kita akan sesuatu yang tak akan kita temukan di dalam rumah.
Kapan aku bisa menunfukkanmu wangi kebebasan itu, Saehee?

Tak terasa persahabatan itu mulai terjalin antara aku dan Saehee. Ia anak yang baik,
pintar dan... cantik. Meski ia hidup di balik jendela itu, tapi ia tetap mengikuti apa yang
terjadi di dunia luar. Ia pernah bercerita padaku tentang kapal karam dan kotak surat yang ada
di pantai. Legenda ituaku tak menyangka ia mempercayai legenda itu. Ia ingin sekali
mengirimkan sebuah surat yang ia tulis untuk orang yang amat ia cintai tapi tak pernah
sempat dan tak pernah bisa untuk ia lakukan. Saehee sangatlah lemah, aku tahu dari gerak-
geriknya. Tetapi, ia sering memaksakan diri untuk bicara denganku setiap ada kesempatan.
Ketika aku tidak bisa datang ke rumahnya, karena suatu hal, aku menyempatkan diri untuk
melewati jalan di depan rumahnya; untuk melihat kamar di mana biasanya Saehee menatap
jalanan dengan tatapan kosongnya. Tapi aku tidak pernah melihat Saehee duduk di tempat
biasanya, di belakang jendela itu untuk melihat dunia luar kecuali ketika aku datang. Apa
kedatanganku mengganggunya? Mungkin dari kemarin aku terus mengganggu istirahatnya.
Tapi aku berjanji minggu ini adalah minggu terakhir aku mengganggunya karena aku akan
kembali ke asrama.

*
Beri aku waktu sedikit lagi, Tuhan. Teman. Aku sudah lama tidak mengenal kata itu.
Aku ingat kata-katanya waktu itu...
Kau ingin apa?`
Tidak ada. Aku tidak ingin apa-apa selain TEMAN`
Ucapkan syukur karena Tuhan telah mengirimkanku ke depanmu`
Kau tahu?Kini aku bahagia. Ada kau di sisiku sekarang`
Bisa safa kau, Saehee. Hei, apa tidak ada yang kau inginkan selain itu?
Hm . mungkin satu hal. Aku ingin melihat seribu camar menghampiriku,
menghilangkan segala beban yang aku punya .`
Kau yakin ada seribu?`
Aku tidak tahu, Dongahe`
Aku pikir lebih. Percayalah, tak hanya manusia, laut pun bahkan akan terpikat
olehmu, Saehee. Kalau laut safa bisa terpikat, apalagi camar yang bersandar pada laut itu
sendiri?`
Dan aku ingat, waktu itu aku tertawa.

*
'Donghae...¨
'Huh?¨ aku menengok ke arah Changwan yang menatapku lekat.
'Kau kenapa?¨
'Apa yang kenapa?¨
'Aku perhatikan, kau berbeda belakangan ini¨
'Berbeda apanya?¨aku meneruskan menyikat bola-bola yang kotor.
'Hm . kau sedang jatuh cinta?¨ katanya. Aku terhenti,'Donghae?¨ tanyanya.
'Ah, maaI. Kau bilang apa tadi?¨
'Kau jatuh cinta?¨
'Kau tahu, kau bukanlah satu-satunya orang yang berkata seperti itu¨ kataku
tersenyum sinis pada diriku sendiri.
'Tapi, kau terlihat aneh belakangan ini. Ketika sedang bermain, kau sering kehilangan
konsentrasimu. Begitu juga ketika kita sedang berbicara, kau seringkali kehilangan arah
pembicaraan kita. Kau juga jadi lebih sering menyendiri ketimbang menghabiskan waktu
bersama dengan kami. Bahkan, aku tak jarang memergokimu tersenyum sendiri. Tanda-tanda
itu...apalagi kalau bukan jatuh cinta?¨
'Bisa saja kau, Changwan¨ kataku sembari terkekeh.
'Aku serius. Ngomong-ngomong, siapa wanita beruntung itu?¨
'Hm, sepertinya aku harus menyerah¨ aku menghembuskan naIasku,¨Ia seorang gadis
manis yang tinggal di sebuah kamar yang jendelanya tidak pernah terbuka¨
'Siapa?¨
'Namanya Kim Saehee. Ia anak yang baik juga pintar. Aku sering menemukannya
bertingkah amat polos, mungkin karena ia terjaga dari pergaulan di luar dunianya itu. Meski
mempunyai dunia lain di dalam kamarnya, tapi ia tetap tahu apa yang terjadi di luar
kamarnya itu. Aku kagum sekali padanya, Changwan¨ kataku. Tanpa aku sadar, aku
membeberkan semuanya pada Changwan. Dan ternyata, tak hanya Changwan yang
mendengar pengakuanku itu tapi teman-temanku yang lain juga mendengarkannya. Rupanya
mereka menguping pembicaraan kami sedari tadi. Sial.
'Hoaaaaahhh, teman kita sedang jatuh cinta!!!¨ Jin Hoo berteriak.
' K-kalian?¨ aku kaget.
'Lho? Ada kalian?¨ Changwan ikut-ikutan heran tapi tidak sepanik diriku.
'Wah, Donghae . kau tidak memberitahu pada kami ya masalahmu itu. Pantas saja
dari kemarin kau terlihat seperti orang sinting¨ Jun menepuk bahuku.
'Di pojok. Tersenyum sendiri. Tertawa sendiri. Mengerikan¨ kata Jungsu
menambahkan dengan gaya dramatisnya.
'Hahaha, sudahlah kawan. Biarkan teman kita ini sedang jatuh cinta¨ kata Changwan
meredakan keriuhan yang lain.
'Waktumu di sini kan tinggal sebentar lagi. Apa salahnya kau mencoba
peruntunganmu dengan menyatakan cinta padanya¨ Jungsu menepuk bahuku, mencoba
memberikan ide gila yang tidak pernah aku pikir sebelumnya. Tapi sialnya, yang lain
mengiyakan.
*
Aku menemukan benang merah dari semua yang sempat aku alami. Aku telah
melihatmu sedari dulu. Sedari kau tak mengenal siapa itu aku.
Andai suatu hari nanti kau pergi meninggalkanku, aku ingin meminta maaf padamu.
KENAPA KAU YANG MEMINTA MAAF?
Aku melakukannya karena aku ingin
AKU BINGUNG, SAEHEE.
Tidak usah kau pikirkan, Donghae. Tapi berfanfilah satu hal padaku..
APA?
Kau akan hidup bahagia dengan wanita yang kau cintai.
Aku lihat ia terdiam setelah membaca apa yang aku tulis. Lalu ia tersenyum.
TAUKAH KAU SESUATU?
Apa?
AKU BAHAGIA BERSAMAMU, SAEHEE
Ia tersenyum jahil. Sedangkan aku? Dengan sukses aku dibuatnya malu. Aku merasakan
sesuatu menembus segala waktu yang telah hangus. Aku menemukan lentera itu. Lentera
terakhir yang sedari dulu ada di dekatku, namun tak pernah aku lihat. Tapi, ketika aku sudah
menemukannya, nyala lentera itu kian meredup.
DAN BERJANJILAH JUGA PADAKU SAEHEE.
Apa?
Aku melihatnya menulis dengan cepat, namun lama sekali. Wajahnya yang serius sekali itu
terlihat lucu sekali.
KAU AKAN HIDUP LEBIH LAMA DARI YANG KAU PIKIRKAN. KAU AKAN
HIDUP LEBIH BAHAGIA LAGI DARI TIGA TAHUN YANG LALU. KAU AKAN
MENGHIRUP UDARA KEBEBASAN LAGI SUATU HARI BERSAMAKU.
BERJANJILAH UNTUK ITU SAEHEE .
Mataku serasa pedas sekali. Jantungku berdegup kencang (bahkan aku sempat lupa bahwa
aku ini masih mempunyai jantung). Sesuatu menusuk dadaku, tepat pada bagian yang selama
ini aku kosongkan dari hal lain selain sebuah kebahagiaan.
SAEHEE?
Donghae mengetuk jendela. Ia melihat perubahan pada wajahku.
KAU BAIK-BAIK SAJA?
Tidak apa-apa, aku hanya terharu, Donghae. Terima kasih.
*
Beberapa hari ini, Saehee tidak pernah menampakkan dirinya lagi. Aku sudah
mengetuk jendelanya berkali-kali tapi tak pernah membawa hasil apa-apa. Tak ada sosok
dirinya yang datang dari balik tirai hijau kuningnya. Padahal, ini adalah hari-hari terakhirku
di sini. Aku ingin mengucapkan sesuatu padanya. Aku juga ingin meminta maaI karena tidak
bisa menemaninya terus di sini.
Sempat terbesit perasaan curiga yang berlebihan hingga timbul amarah yang tak jelas
datang dari mana. Marah karena ia tak menyapaku lagi. Marah karena ia tak lagi mau
berbicara denganku dan marah karena aku tidak bisa bersama dengannya lebih lama lagi.

*
Terimakasih untuk waktu yang kau berikan untukku yang sebenarnya tak pernah kau
tahu siapa aku ini. Walau begitu, kau tetap lelaki yang baik. Sahabatku di sisa hidupku,
Donghae.
Laut`
Kenapa dengan laut?`
Itu arti namamu kan, Donghae?`
Iya, kenapa memang?`
Tidak. Sudah lama aku tidak menfefakkan kakiku di pasir pantai. Aku rindu dengan
fefakan kaki yang tertinggal di pasir, burung camar, ombak yang membisikkan ketentraman
dan kehangatan matahari yang aku dapat ketika aku datang di kala fafar atau senfa hari`
Kau mau pergi ke laut?`
Bisakah kau mengantarku ke sana?`
Tentu. Kenapa tidak? Kita masukkan suratmu bersama-sama ke sana. Aku fuga
ingin mengirimkan suratku ke sana. Kita kirimkan bersama`

Tapi, aku tak perlu apapun lagi, ketika kau datang. Ketentraman dan kehangatan yang
laut berikan sudah ada padamu. Jadi aku tak perlu berjalan jauh untuk itu. Karena laut`, salah
satu tempat dimana kehidupan berawal, ia ada di depanku. Bahkan bisa tersenyum untukku.
Terimakasih, Donghae.

*
Aku sudah sampai di depan rumah Saehee. Kali ini aku tidak akan mengetuk
jendelanya, melainkan pintu rumahnya. Aku memberanikan diri untuk itu. Ini demi Saehee,
aku harus bertemu dengannya langsung, aku harus mengkonIirmasi langsung padanya perihal
beberapa hari belakangan ini. Aku mengatur naIasku yang tak menentu. Degupan jantungku
juga semakin cepat berdetak. Tanganku mulai berkeringat. Tapi akhirnya tanganku mengetuk
pintu bercat putih itu. Aku mengetuk tiga kali, tapi tak ada sahutan sang empunya dari dalam.
Aku mengetuk lagi lalu pintu terbuka. Seseorang menatapku sinis dari dalam.
'Permisi, Bibi. Apa Saehee-nya ada?¨ aku merasa sedikit takut karena wajah Bibi itu
galak sekali, seperti ingin mencabik-cabikku.
'Sebaiknya kau pergi dari sini, sekaranga juga!¨ suaranya pelan namun intonasinya
tegas.
'Tapi, saya ingin bertemu Saehee. Sebentar saja¨
'Keluar!!!¨
'Bibi, maaIkan saya. Tapi kenapa saya tidak diperbolehkan untuk bertemu Saehee?¨
BRAAKKK!!!!
Pintu ditutup tepat di depan wajahku. Tapi hatiku berkata lain. Aku merasakan
sesuatu yang aneh telah terjadi. Aku mengetuk pintunya lagi.
'Bibi! Saya ingin bertemu dengannya!! Saya ingin berpamitan padanya. Kenapa saya
tidak diperbolehkan bertemu dengannya? Saya temannya. Kenapa saya tidak diperbolehkan
untuk menjenguknya untuk yang terakhir kalinya?!¨
Tiba-tiba pintu terbuka. Bibi itu lagi. Ia menatapku nanar. Matanya seperti
memberikan makna lain kali ini.
'Masuklah¨ suaranya melemah. Aku pun menurut dan duduk di ruang tamu.
'Kau.. Lee Donghae?¨ tanyanya dengan suara yang sedikit serak. Aku mengangguk
pelan.
'Kau teman Saehee?¨ tanyanya dengan wajahnya yang sama tegasnya dengan yang
pertama kali aku lihat tadi. Sekali lagi aku mengangguk.
'Apa tujuanmu datang ke sini?¨
'Aku ingin meminta maaI padanya dan ingin berpamitan. Aku harus kembali ke
Seoul¨
'Boleh aku tahu, sejak kapan kalian berteman?¨
'Sebulan yang lalu, tepatnya¨
Aku melihat Bibi itu mulai berkaca-kaca. Sepertinya ia sedang mencoba untuk
menguatkan diri dari sesuatu yang sedang memaksanya untuk menangis.
'Sayangnya, kau tidak tahu satu hal, Nak¨
'Apa itu?¨
'Ketahuilah .¨ air mata bibi itu mulai menetes. Dan di setiap kata-kata yang bergulir
itu semakin membuat matanya basah.
Aku mengikuti bibi itu ke suatu ruangan. Kemudian sampailah kami di depan pintu
bercat putih. Di sana aku menemukan sebuah tulisan; KIM SAE HEE!!! SEMANGAT!!
Aku cinta kau! -Kim Kibum
Bibi itu membuka pintu kamar. KLEKK. Suara derit pintu terbuka pun terdengar. Di
jejakan pertamaku di kamar itu, aku merasakan sesuatu yang lain. Aku merasakan Saehee di
sini, tapi nyatanya tak ada siapapun kecuali aku dan bibi itu. Aku melempar pandanganku ke
jendela tempat Saehee biasa duduk dan bercerita tentang semua yang ia pikirkan padaku. Di
sana . tempat pertama aku menuliskan namaku.
'Jangan kau sentuh apapun!¨ bibi itu kembali menatapku tajam, namun kini sorot
matanya berbeda. Sepertinya ia sudah tak tahan menahan semuanya sendiri.
'Ini untuk apa? Kenapa banyak sekali?¨ aku mengambil sebuah burung lipat dari
dalam kotak kardus yang penuh dengan burung lipat warna-warni.
'Dulu, ia selalu percaya kalau seribu burung kertas bisa mengabulkan permintaannya¨
'Apa yang ia inginkan, Bi?¨
'Seorang teman¨ bibi itu mulai terisak. Ia terduduk di sisi ranjang kamar itu.
Sedangkan aku segera menaruh burung lipat itu ke tempat awalnya.
'MaaI, Bi .¨
'Saehee . ia adalah peri kecilku. Ia putriku yang paling baik. Ia anak yang baik. Ia
selalu menurut padaku. Tapi..kenapa Tuhan mengambilnya dariku, kenapa?!¨
'Bibi, percayalah.. Saehee bahagia dianugerahi Ibu sepertimu. Ia bangga padamu. Ia
sangat menyayangimu¨
'Kenapa harus anakku yang mengalami ini semua?¨ bibi makin terisak.
'Karena Saehee adalah wanita yang baik. Tuhan sudah sangat menyayanginya. Tuhan
ingin Saehee ada di sisinya. Ia ingin menjaga Saehee untukmu, Bi. Percayalah, Saehee sudah
tenang di sana' aku berusaha menegarkan diriku sendiri ketika mengatakan kata-kata itu.

*
Di tempat lain, ombak lautan membuas seakan mengamuk pada karang yang tak
pernah membalas amarahnya. Camar beterbangan di atas lautan. Dan di sebuah kotak surat di
pinggiran pantai, sebuah surat tergeletak di sana.

Dear Tuhan,
Ini aku, Saehee. Aku sudah menemukan fawaban dari mimpiku dan alasan mengapa aku fadi
tiba-tiba menyukai lautan, tiga tahun yang lalu.
Aku sudah menemuinya. Ia memberikan kupu-kupu putih dan setoples kunang-kunang
padaku. Ia sudah memberikannya, Tuhan. Kini aku bisa sebebas yang aku inginkan. Aku fuga
mempunyai lentera untuk menerangi falanku di kala gelap.
Kini aku tak perlu membayangkan seribu camar mengelilingiku, tapi aku melihatnya di
depan mataku. Mereka sedang bernyanyi di pinggiran karang. Indah.
Waktu yang Kau berikan sangat cukup untukku.
Dan terimakasih sudah meminfamkan seorang sahabat padaku, Tuhan.

Kim Saehee

*
Aku membawa sekardus burung lipat ke lapangan. Langkahku gontai. Aku tak
percaya ini semua. Saehee . ia sudah pergi sebulan yang lalu, tepat ketika kau datang.
Rasanya seperti diterjang seribu badai dan guntur menyambarku. Saehee sudah pergi. Lalu,
selama ini aku .
Dari kejauhan kawan-kawanku menghampiri. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi
padaku. Dan aku pun menceritakan apa yang terjadi.

Hari terakhir di Mokpo
Tiba-tiba saja angin bertiup begitu kencang, hingga hampir menerbangkan seribu burung lipat
itu. Burung-burung itu seperti terbang. Mungkin ingin mencari sang empunya. Namun tiba-tiba
selembar kertas mendarat di atas burung-burung lipat itu. Aku membaca tulisan di kertas itu :
Kau akan hidup bahagia dengan wanita yang kau cintai
Aku tertegun membaca kata-kata itu. Tulisan itu . aku mengenalnya. Kata-kata itu juga.
Saehee, kaukah itu?
Kau tahu? Kini aku bahagia. Ada kau di sisiku sekarang
Selembar kertas lain menghampiriku. Aku jatuh terduduk di depan nisannya. Aku tak kuat,
aku sudah lama berpura-pura menjadi yang paling kuat. Aku lelah. Izinkan aku untuk menangis,
Saehee. Aku hanya manusia biasa yang bisa menangis. Aku merindukanmu. Aku belum sempat
mengatakan apa yang aku rasakan padamu. Kau belum mendengar pengakuanku, Saehee.

Aku kembali ke kehidupan awalku. Ke kehidupan nyata yang aku punya. Aku tak pernah
menyangka aku akan mengalami hal-hal yang tak pernah bisa aku cerna dengan akal sehatku. Tapi itu
bagian dari kehidupan nyataku juga.
Di sini, aku mungkin jauh dari tempat peristirahatannya. Juga jauh dari laut yang
mengantarkannya padaku. Tapi angin selalu menghembuskan kata-katanya padaku.
Dear,
Aku tak tahu siapa dirimu sebenarnya. Aku hanya melihatmu dalam mimpiku.
Kau memberikan seekor kupu-kupu putih serta setoples kunang-kunang padaku. Apa
maksudmu? Tuhan tidak pernah menfawab arti mimpiku itu.
Dan kenapa kotak surat di sisi kapal karam itu fuga ada di mimpiku? Apa kau mengirimkan
sesuatu padaku di sana?
Aku ingin mengenalmu lebih fauh. Ohya, aku hampir lupa. Jika kau tahu fawabannya tolong
beritahu aku . Kenapa aku fadi tiba-tiba menyukai laut, ya?
Aku menunggu fawabanmu.

Kim Saehee

Aku melipat kertas surat itu. Tersenyum. Lalu menaruhnya di laci kamarku.

.3.5.35.3...3 20.:99/. 9:49.33.2. :9.2. .-078.8090.3907./.3.3807-:-:7:3079.32.3.380047:5: :5:5:9 /.0 9443.39.390.7.7.9/.58.3.:03.9: -: .39025. :9/.3-. :7.3 .9./05..39.3 802.2.3.079.:90...-07:-.:.38073.20302-...3/:: 5.3$./.3803:23.:   73.2-.203008..:5...7.3.3 . 203.9:507239..3: .3-078.:20225..803/7 ./73. -..3/.5.803/7 /03.9:.305..9/.2.9/.548.93 3/.8:3: 203..7.3203.349.3.5:.  .9.3.3 .:..7-0-07..  . .3.:203/03.3.3/4./.3.. 5.3.:  43.. 80-:.9.5.5:3:39:9:    %:.-. !.9..3./.3 .907803:25.808:.203008.33./.5:3.. .203008.3.8.. :02.:80/.93 3.548 %:3: .8050793  %:.902.380/.3203039:.25.:3302-.8.000 :.:39:93.2.003/..7..802-.3-4..3.33.8 5:39.5.3.7. .7203:3/:.30.9808:.33.:2033.7.33.5.3203./.202-:.89-8..5. $..9.3.93.9: %:.....203/079.:.3/.333.3:-07-0/.5:3.3.3..:73/:.:3. :3380....90...33802:./.:09.:.33.3.:.38...: $.8.. ./3.2.3 $..3 :3.3...8050793.93 .:8.:33 20239.3.38094508:3.5.9:50709..2../.3 09.20:5.33.: .33.3.2030908...8.:39:-8.2.3.-07:-.-:.3./5. 0.320307.3-07.3./..35073../.5.8.. .35./03..3808047.89.0.-8.93 %07:9.9:2.-07579039../.:/9025..25:3.3..9.:.202-:.9:..9:.9:./.3.3 $.7.. :203:95.3.9.-:/..3../.72..3::39:203/03.25349.39. -07-:..9 .3507203/03.20..00 .:.5./.202-07.:2:. .8.0009/.93.8:/.9.5.2.3/::  9:/:: -: 30.80. %:.3-8.:  070.2030..902.3.3: 3320303.320307.548. .-07/7/8..: -8.3.79025. .000./537 5.3.33./. 8. %:.8- ..35..39.5.  .:02-.907.9../:53.:-8.5.:-8..7... .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->