Anda di halaman 1dari 10

Prihatin Tragedi Tanjung Priok

Rabu, 14 April 2010 19:24 WIB KITA tidak habis mengerti atas tragedi yang terjadi di Tanjung Priok. Bentrokan antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan masyarakat sampai menyebabkan beberapa korban tewas dan sedikitnya 80 orang lainnya luka-luka. Bagaimana sebuah upaya pembebasan lahan bisa berakibat fatal seperti itu. Bukan hanya bentrokan yang brutal kita saksikan, tetapi peristiwa kekerasan yang dipertontonkan sungguh sangat tidak berperikemanusiaan. Kita ingin mengritik secara keras perilaku yang diperlihatkan Satpol PP. Mereka sama sekali tidak memperlihatkan dirinya sebagai aparat pemerintah daerah yang seharusnya mengayomi warganya. Perilaku kekerasan sepertinya menjadi bagian keseharian mereka. Bukan di Koja saja mereka memperlihatkan sikap pamer kekuasaannya, tetapi dalam tindak tanduk seharihari mereka selalu mempertontonkan sikapnya yang menyakiti hati warga. Tidak ada hari dari tindakan mereka yang tidak diwarnai aksi kekerasan. Kita lihat sikap yang mereka pertontonkan sehari sebelumnya ketika mengusir secara kasar warga China Benteng di Tangerang. Tindakan brutal yang dilakukan Satpol PP di Koja sungguh tidak bisa kita benarkan. Mereka boleh kesal dan marah atas tindakan warga yang melawan dan bahkan melukai mereka. Namun ketika mereka menyeret warga--apalagi yang usianya masih muda-tanpa henti-hentinya mereka pukuli, merupakan tindakan yang tidak berperikemanusiaan. Apa yang terjadi di Koja merupakan cerminan dari kegagalan Gubernur DKI Jakarta untuk membina aparat Satpol PP. Bagaimana aparat Pemda itu bisa terus menerus menunjukkan perilaku yang sarat dengan kekerasan. Ketika hal itu terjadi di zaman Orde Baru, kita bisa memahami karena sistem politik yang berlaku adalah sistem otoriter yang cenderung represif. Ketika kemudian kita melakukan reformasi dan mengubah sistem politik menjadi demokrasi, maka sikap dan perilaku kita haruslah berubah. Sistem demokrasi sangatlah mengharamkan adanya kekerasan. Segala macam persoalan harus dilakukan dengan cara negosiasi dan hukum. Tidak boleh lagi ada kekerasan yang dipakai untuk menyelesaikan perbedaan. Cara negosiasi dan persuasi itulah yang seharusnya dipakai ketika hendak membebaskan lahan milik PT Pelindo di Koja. Kalau pun tahu bahwa pembebasan itu menjadi sensitif karena ada makam Mbak Priok, seharusnya dicari cara untuk bernegosiasi dengan pemuka masyarakat.

Satpol PP terlalu biasa untuk memaksakan kehendak. Mereka terlalu terbiasa untuk menggunakan kekuasaan dalam menjalankan tugasnya. Mereka selalu merasa bahwa dengan kekuatannya tidak ada yang pernah menghalangi mereka. Apa yang dipertontonkan Satpol PP di Koja harus dimintai pertanggungjawabannya. Gubernur DKI Jakarta merupakan pihak yang paling harus bertanggung jawab, karena membiarkan kekerasan terjadi begitu telanjang. Satu yang kita khawatirkan, kekerasan yang dipertontonkan begitu telanjang akan memancing kemarahan masyarakat. Kejadian di Koja akan mudah menjadi pemicu pelampiasan kekecewaan atas kehidupan yang semakin mengimpit. Kita pernah mengalami pengalaman pahit seperti ini di tahun 1998. Kita tentunya tidak ingin peristiwa kecil sampai merusak seluruh Jakarta. Kita sudah melihat bagaimana warga kemudian kehilangan rasa hormatnya kepada aparat. Mereka berani untuk melawan dan bahkan merebut peralatan yang dipegang aparat. Mereka bahkan merusak dan membakari kendaraan milik Satpol PP. Kerusuhan yang terjadi di Koja sepantasnya membuat pimpinan nasional untuk turun tangan. Kekerasan yang dipertontonkan tidak bisa lagi ditolerir. Tindakan brutal dari Satpol PP sungguh merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Jangan salah bahwa kejadian itu terjadi di ibu kota negara. Di depan mata para petinggi Republik ini. Aneh apabila itu tidak memantik rasa prihatin. Ini sungguh-sungguh merupakan pelanggaran kemanusiaan yang sangat bertentangan dengan sistem demokrasi yang sedang kita bangun. Satpol PP telah mencoreng demokrasi yang sudah susah payah kita tegakkan. Mereka jauh dari sikap menghormati nilai kemanusiaan dan sepantasnya mereka untuk dihukum. Tanpa itu mereka akan terus memperlihatkan sikap brutal yang hanya menyakiti hati warga.

Pengamat: Kasus Tanjung Priok Akibat Kekeliruan Pendekatan


Yogyakarta (ANTARA News) - Pengamat sosial politik dari Universitas Gadjah Mada Arie Sudjito MSi menilai tindak kekerasan sehingga terjadi bentrokan antara warga dan aparat di Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (14/4), akibat kekeliruan dalam pendekatan terhadap masyarakat. "Bentrokan itu merupakan akumulasi dari dampak penerapan pendekatan keamanan yang lebih dominan dalam kebijakan pembangunan," katanya di Yogyakarta, Kamis. Menurut dia, pola seperti itu semestinya tidak dipakai, dan lebih mengedepankan pendekatan melalui diplomasi. "Selama ini banyak penggusuran yang menimbulkan perlawanan akibat kekeliruan dalam pendekatan," katanya. Ia mengatakan eksekusi hanya bagian kecil dari pendekatan tersebut, sehingga yang lebih utama adalah diplomasi dengan masyarakat, baik itu menyangkut kebijakan yang berpihak kepada mereka, dan tata ruang, maupun diplomasi melalui tokoh agama serta tokoh masyarakat. "Sekarang sudah saatnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polri mengkaji ulang praktik penegakan hukum dengan cara seperti itu," katanya. Sebab, kata dia, apabila dalam penegakan hukum aparat keliru dalam melangkah, akan menyulut kemarahan masyarakat. Sedangkan dari pihak masyarakat, menurut Arie saat ini sedang mengalami frustasi, sehingga sangat berpotensi terprovokasi. "Bentrok seperti di Tanjung Priok bisa terjadi di mana pun apabila tidak ada koreksi dan perbaikan dari kedua pihak," katanya. Ia berharap kejadian tersebut menjadi akhir dari pendekatan keamanan yang dilakukan aparat, karena jika masih dilakukan cara seperti itu, kemungkinan akan kembali jatuh korban di kalangan masyarakat, Satpol PP, Polri maupun pihak lain. Menurut dia, masyarakat saat ini mudah marah, karena ada gejala ruang dialog mereka semakin sempit. Arie menilai adanya pengelompokan dan degradasi sosial di kota besar seperti di Jakarta, rentan terjadi konflik dan tindak kekerasan, terutama terkait dengan kebijakan pemerintah dalam pembangunan.

Tanjung Priok, Berdarah Lagi !!!!

By Iwan Sulistyo, 15/04/2010 03:34 Tanjung Priok berdarah lagi, setelah kasus Tanjung Priok pada tahun 1984 menelan banyak korban, kini Tanjung Priok kembali membara dan darah tertumpah lagi. Kemarin tanggal 14 April 2010 peristiwa serupa berulang di kawasan yang sama di Tanjung Priok. Polisi dan warga berperang dari pagi sampai sore dengan keganasan dan kebencian yang mengerikan. Puluhan orang terluka dan banyak kendaraan polisi dibakar massa. Kerusuhan malah meluas sampai ke Rumah Sakit Koja. Pemicunya sama, yaitu persinggungan dengan keyakinan agama. Di tahun 1984, kerusuhan berdarah dipicu oleh kemarahan warga terhadap seorang aparat yang memasuki masjid tanpa membuka alas kaki. Sementara perang kemarin dipicu oleh perlawanan warga kepada ribuan satpol pamong praja yang hendak memasuki kompleks makam Mbah Priok yang selama ini diyakini keramat. Kompleks itu berada dalam lahan milik PT Pelindo II. Mbak Priok adalah nama lain dari Habib Hassan bin Muhamad al Hadad, penyiar Islam dari Sumatera yang pertama kali menamakan kawasan di utara Jakarta itu sebagai Tanjung Priok. Ketika peristiwa Tanjung Priok meledak tahun 1984, publik tidak banyak yang tahu. Pers yang terkontrol ketat tidak menyiarkan peristiwa itu apa adanya. Kemarin, Perang Tanjung Priok, menjadi tontonan. Inilah perang yang terjadi di masa demokrasi dan kebebasan. Publik menyaksikan betapa negara, dengan segala kelengkapan dan kewenangan ternyata tidak mencintai rakyatnya. Di sisi yang lain, publik pun bisa menyaksikan betapa warga negara telah memiliki kebringasan yang mengerikan juga. Mereka bisa memamerkan senjata tajam dan segala peralatan perang yang mungkin dipergunakan sebagai senjata, termasuk meledakan bom molotov. Apa yang menyebabkan negara dan rakyatnya sendiri terlibat pertarungan berdarah yang mengerikan layaknya seperti musuh di medan perang? Ini semuanya terjadi karena beberapa sebab. Pertama, tidak terlihat peningkatan yang sungguh-sungguh pada komitmen negara mencintai rakyatnya. Negara, bila terjadi konflik kepentingan dengan warga lebih cenderung memperlakukan rakyat sebagai musuh yang harus disingkirkan. Kedua, betapa buruknya negara menjalankan resolusi problem. Makam Mbah Priok itu, menurut keterangan Wakil Gubernur DKI Prijanto, tidak digusur tetapi hendak direnovasi sebagai tempat kramat. Tetapi niat baik itu tidak dipahami karena komunikasi yang buruk.

Ketiga, terjadi distrust yang parah terhadap peraturan karena semakin hari semakin jelas bahwa penegakan hukum di negeri ini sangatlah manipulatif. Mafia hukum yang terbongkar belakangan ini bisa menjelaskan betapa meluasnya manipulasi itu. Lalu, yang tidak kalah pentingnya adalah buruknya civic education. Negara lalai mendidik warga agar memiliki disiplin. Termasuk lembaga-lembaga pendidikan. Dan, yang juga lalai menjalankan civic education adalah partai politik.

11 Tokoh Tanjung Priok Kutuk Tindakan Satpol PP


Kamis, 15 April 2010 - 20:00 WIB | More JAKARTA (Pos Kota) Pasca kerusuhan penertiban makam Mbah Priuk atau yang dikenal Habib Hasan Al Haddad, Rabu (14/4) lalu, disesalkan oleh 12 tokoh masyarakat Tanjung Priok. Untuk itu, sebelas tokoh Tanjung Priok yakni Saiful Anwar, TB Romli, H, Masnyur, Yapto Sendra, H Abdul Gani, Syukur Achmi, H. Amir R Tanjung, Yusron JB, Saleh Masyhall, Andi Sabarudin, dan H Adbul Muin mengutuk tindakan anarkis yang dilakukan anggota Satpol PP. Salah satu tokoh, Sabri Saiman, mengatakan aksi kerusuhan Priok jilid II tersebut, sebagai kekecewaan masyarakat Tanjung Priok. Selain itu juga, pihaknya pun meminta agar tidak memanfaatkan anak-anak dalam tragedi tersebut dari pihak lainnya. Sebab peristiwa berdarah tangung Priok jilid II, telah menelan korban yang sangat banyak, dan tidak semata-mata urusan Mbah Priuk. Namun adalah akumulasi ketidakpuasan masyarakat Jakarta Utara terhadap praktek Tata Kelola Pelabuhan Tanjung Priok dan perusahaan konglomorasi lainnya. Tokoh masyarakat Tanjung Priok pun, mendesak Gubernur DKI Jakarta, Menteri BUMN termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menijau ulang Implementasi Tata Kelola Pemerintahaan dan Tata Kelola Perusahaan. Baik itu BUMN, BUMD dan Swasta Nasional lainnya dengan mempertimbangkan Sotonomi daerah dan potensi ekonomi kerakyatan sesuai dengan pasal 33 dan 34 UUD 1945. Sabri pun meminta kepada Fauzi Bowo selaku Gubernur DKI Jakarta, untuk segera menertibkan seluruh aparat Pemda yang terlibat secara brutal dan tidak manusiawi. Sebab Komnas HAM, melihat adanya pelanggaran berat yang terjadi dalam peristiwa tersebut. Bahkan tokoh masyarakat Tanjung Priok, menghimbau kepada seluruh Warga

Tanjung Priok, dan Jakarta Utara untuk tidak terprovokasi dan fitnah hasutan dan kpentingan jangka pendek oleh orang lain. Ditambahkan Amir Tanjung selaku tokoh Paguyuban Banten, jangan ada lagi tragedi Tanjung Priok jilid III. Sebab, menurutnya ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan tragedi tersebut. Seharusnya pihak pemerintah memperhatikan akumulasi kekecewaan masyarakat Tanjung Priok yang memang kebanyakan hidup digaris kemiskinan, tandasnya.

Tanjung Priuk Berdarah, 144 Korban Luka, 3 Tewas 70 Kendaraan Dibakar


Posted in Berita Utama by Redaksi on April 16th, 2010 Jakarta (SIB) Kerusuhan berdarah akhirnya pecah akibat warga tetap bersikeras mempertahankan Makam Mbah Priuk. Aksi brutal dipertontonkan ribuan Sat-pol PP dan polisi melawan warga, korban pun bergelimpangan. Tak kurang dari 144 orang terluka, 3 tewas dan 70 kendaraan jadi abu dibakar massa, dan sejumlah gedung rusak. Tanjung Priok jadi lautan api. Sekitar 3.000 petugas gabungan Satpol Polisi Pamong Praja (PP) dan polisi diturunkan ke lokasi untuk memaksa warga keluar dari lokasi makam membuat situasi mencekam. Perang terbuka akhirnya pecah setelah warga setempat yang dibantu sejumlah anggota ormas melakukan perlawanan. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Wahyono menyebutkan tak ada korban yang tewas. Namun, di lapangan anggota Satpol PP, Warsito Supeno, tewas dibantai massa. Tubuhnya dibiarkan terkapar bersimbah darah sebelum akhirnya disembunyikan di balik kontainer di kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, dan tewas. Korban lainnya, anggota Satpol DKI Jakarta Ahmad Tajudin dan Israel Jaya Mangunsong. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Pk. 23.00 langsung memberi keterangan. Saya minta hentikan cara-cara kekerasan, utamakan tindakan persuasif. Saya minta status quo dan setelah segala sesuatu dapat dikelola maka dibicarakan secara baik, katanya. Ia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban, serta memerintahkan Pemprov DKI untuk menanggung biaya pengobatan. Sampai Rabu malam situasi masih mencekam, bahkan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Menhum HAM Patrialis Akbar meninjau lokasi hanya beberapa menit. Banyak pihak yang menyayangkan aksi kekerasan yang mestinya bisa diantisipasi tanpa perlu tindakan persuasif. Apa tidak ada cara lain? Kami berharap masalah makam Mbah Priuk dibicarakan ulang dengan melibatkan tokoh agama dan masyarakat, kata Ketua Umum PBNU KH Said

Aqil Siraj. Begitu pula Guru Besar Psikologi Islam, Achmad Mubarok mengatakan aparat salah dalam pendekatan kepada masyarakat. Seharusnya pihak terkait mengadakan dialog dulu dengan tokoh masyarakat setempat, ujarnya. Aksi anarkis massa dinilai Mubarok merupakan akumulasi dari kekecewaan warga. Persoalan makam Mbah Priuk yang berlarut-larut membuat warga melampiaskan kemarahannya. Tindakan kekerasan aparat menjadi pemicu kemarahan warga dan melawan dengan cara kekerasan pula. alat berat dihadang Dari tiga becko yang dikerahkan, hanya satu yang difungsikan. Tapi laju alat berat itu berhasil dihentikan setelah sempat meruntuhkan sebagian tembok arae makam. Warga yang bertahan diarea makam makin marah. Apalagi warga setempat mendapat bantuan personil dari sejumlah ormas. Senandung salawatan dan dzikir melecut semangat mereka yang mulai berani keluar dari area makam. Dua pemuda penghuni lahan makam nyaris mati konyol ketika dipergoki melintas keluar area. Itu dia orang yang buntungi teman kita, teriak satu petugas. Mereka mengejar dua pemuda itu dan langsung menjadi bulan-bulanan. Polisi yang mem-backup Satpol PP sempat berselisih dan nyaris bentrok lantaran Satpol PP tak mau menghentikan aksi kekerasan. Kedua pemuda itu diselamatkan polisi. Menjelang tengah hari kondisi mulai mereda, namun situasi kembali tegang setelah kehadiran tiga orang anggota DPRD yang sempat dilempari batu oleh petugas Satpol PP. Kami menyesalkan tindakan petugas tersebut, ujar Wanda Hamidah, salah satu anggota DPRD yang datang meninjau lokasi. lautan api Seiring dengan kian banyaknya massa yang datang, situasi makin tak terkendali. Ribuan orang mencoba masuk ke lokasi makam, dihalau aparat kepolisian yang mulai mengambil alih pengamanan. Hal itu memicu emosi warga, antara petugas dan warga sama-sama beringas. Bahkan seorang bocah belasan tahun menangis histeris dengan tubuh berlumuran darah dan pakaian terkoyak akibat digebuki petugas. Korban pun bergelimpangan baik dari kubu Satpol PP, polisi serta warga. Petugas Satpol PP banyak yang kena bacok, kepala bocor, begitu pula polisi. Sementara dari pihak warga luka kena pukulan bahkan diinjak-injak petugas. Darah berceceran di sekitar Jalan Dabo, dekat pintu masuk TPK (Terminal Peti Kemas) Koja. Sejumlah kendaraan milik petugas tak luput jadi sasaran. Kendaraan operasional itu dibakar setelah digulingkan. Tercatat 70 kendaraan yang dibakar massa, termasuk mobil patroli Satpol PP dan water Cannon milik polisi. Kawasan itu berubah menjadi lautan api. Beberapa sepeda motor juga dibakar. Banyaknya jumlah massa membuat petugas kewalahan. Bahkan Kasat Reskrim Polres Jakut, Kompol Susatyo Purnomo menerima bogem mentah dari warga saat mencoba menghalau massa yang ingin merusak mobil Satpol PP. Tembakan gas air mata beruntun dilontarkan petugas berkali-kali tak digubris. Justru mereka kian beringas. Bentrokan pun kian meluas hingga keluar dari area TPK Koja. Warga melakukan sweping, sasarannya adalah petugas Satpol PP. Puluhan petugas terjebak dan terkurung, di area pelabuhan. Dua petugas yang bersembunyi di gudang milik Pelindo digebuki hingga klenger. Puluhan petugas Satpol yang terkurung di dalam area makam akhirnya dievakuasi melalui jalur laut, tadi malam. Sementara RSUD Koja yang lokasinya persis berseberangan, kewalahan menerima

pasien. seharusnya dialog Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) meminta Pemda DKI Jakarta menghentikan upaya pengosongan lahan di makam Mbah Priok yang dikeramatkan masyarakat. Pembda harus mencari solusi secara damai, kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj. Said Aqil meminta semua pihak untuk menahan diri. Pemerintah hendaknya lebih bijaksana, jangan sampai menegakkan peraturan dengan cara kekerasan. Hal yang sama juga disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah Yunan Yusuf. Dia minta semua pihak duduk bersama dan mencari solusi. Dari data yang diperoleh, kata kapolda, tercatat 144 korban, terdiri dari 10 anggota polisi, 69 petugas Satpol PP dan 53 warga. pembongkaran ditunda Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto, menyatakan pembongkaran bangunan-bangunan yang berada di sekitar di Makam Dobo, Tanjung Priok, Jakarta Utara akan ditunda. Pembongkaran bangunan-bangunan yang berada disekitar makam akan diberhentikan dan petugas harus mundur. Untuk esksekusi sementara harus ditunda sampai permasalahan ini selesai, kata Prijanto yang datang ke Kantor Walikota Jakarta Utara, Rabu petang. 26 tahun silam Peristiwa berdarah yang terkenal dengan Tragedi Tanjung Priok juga pernah terjadi 26 tahun silam. Catatan sejarah menyebutkan, September 1984 tentara menyerang dan menembaki sebuah kelompok pengajian pimpinan Amir Biki di Jalan Yos Sudarso Tanjung Priok. Ratusan orang bergelimpangan bermandi darah. 7 Mobil Satpol PP Dibakar, Tak Ada Petugas Keamanan Terlihat Tujuh mobil milik Satpol PP dibakar massa. Mobil yang terparkir di halaman RSUD Koja ditarik keluar dan dibakar di jalan. Namun sama sekali tidak ada petugas keamanan yang tampak. Mereka memang sengaja ingin membakar Satpol PP, kata petugas PMI Sulistyo Widodo saat dihubungi detikcom, Kamis (15/4). Tidak nampak petugas keamanan. Meski sebelumnya sempat terlihat petugas TNI dan Polri, namun saat pembakaran kendaraan dilakukan sama sekali tidak terlihat. Satpam rumah sakit saja dilawan, mereka massa berkumpul di halaman, terang Sulistyo. Kondisi di ruas Jl Dobo, Koja, Jakarta Utara pukul 00.50 WIB masih mencekam. Lalu lintas tampak tersendat. Sesekali kendaraan melintas. 5 Mobil Satpol PP Dibakar Massa Massa di depan RS Koja semakin beringas. Mereka membakar 5 mobil dinas Satpol PP. Pantauan detikcom, Kamis (15/4), mobil yang dibakar adalah 4 mobil patrolik dan sebuah mobil Ford Escape milik komandan Satpol PP. Massa mengeluarkan mobil tersebut dari halaman RS Koja dan membakarnya di jalan. Api dan ledakan pun terlihat jelas. Semakin besar nyala api, massa semakin bersorak sorai. Kemaran massa dipicu dengan ditemukannya 3 botol minuman keras berjenis Chivas regal di dalam sebuah mobil milik Satpol PP. Massa Kembali Bakar 1 Mobil Satpol PP, 4 Lainnya Dirusak

Massa kembali anarkis. Ratusan orang kembali melakukan tindakan kekerasan. Kali ini sasarannya mobil Satpol PP. Ada 5 mobil Satpol PP, 1 sudah dibakar dan 4 lainnya dirusak, kata petugas PMI Sulistyo Widodo di lokasi di depan RSUD Koja, Jakarta Utara, Kamis (15/4) dini hari. Massa sudah tidak bisa dikendalikan. Petugas keamanan pun tidak tampak terlihat. Warga yang berkumpul di lokasi semakin banyak. Tidak ada yang terluka. Kami stanby, terang Sulistyo.

Tugas sosiologi
Kasus Tanjung Priuk
Oleh:

Yondra agus
Class:x.2
SMA Muhammadiyah

Padang Panjang

Tahun ajaran

2009/2010