Anda di halaman 1dari 17

Siapa yang Yang tak mengenal Wakatobi?

Nama WAKATOBI Merupakan Akronim Nama Empat Pulau Terbesar di Kepulauan Sulawesi Tenggara Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko, yang di kenal dengan nama Kepulauan tukang besi yang menjadi sebuah atraksi menarik taman nasional dengan total area 1,39 juta ha itu. Taman Nasional Wakatobi memiliki potensi sumberdaya alam laut yang bernilai tinggi baik jenis dan keunikannya, dengan panorama bawah laut yang menakjubkan. Secara umum perairan lautnya mempunyai konfigurasi dari mulai datar sampai melandai kearah laut, dan beberapa daerah perairan terdapat yang bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, bagian terdalam mencapai 1.044 meter dengan dasar perairan sebagian besar berpasir dan berkarang,tagline Wakatobi adalah Surga Nyata Bawah Laut di Segitiga Karang Dunia .Angin laut berhembus menerpa raga. Daun nyiur menari menghibur mata. Hamparan laut yang biru sungguh mempesona. Damai seketika menyapa sukma. Sementara keajaiban bawah lautnya jauh melebihi Karibian maupun Laut Merah. Keindahan bawah laut Karibian hanya menyuguhkan 50 spesies sementara Laut Merah hanya sanggup mempetontonkan 300 spesies. Sementara di laut ini, berkat anugerah Tuhan, 750 spesies dapat disaksikan.

Dari tepi pantai yang menghadap ke Laut Banda, nampak dua pulau yang tak berpenghuni dan menambah nuansa keindahanan. Dari pulau yang lebih besar, terdapat lobang kecil yang elok dipandang mata. Hampir mirip dengan Karang Bolong di Pantai Anyer, Banten, namun berada di tengah laut. Di pulau inilah, kalau beruntung, ikan lumba-lumba dapat disaksikan sambil menunggu matahari terbenam yang memukau. Kecuali bulan September, lumba-lumba akan menyapa tiap hari dengak jarak 15 meter dari tepi pantai. Itulah yang terasa dan terlihat ketika berada di Pantai Patuno, Pulau Wangwangi, kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tidak heran, dengan keindahan yang mengagumkan, Pantai Patuno juga masuk dalam jajaran pantai yang diburu para wistawan.

Sumber: http://id.shvoong.com/travel/destination/2175728-kepulauanwakatobi/#ixzz1aQtoeAfI

Kabupaten Wakatobi adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Wangi-Wangi, dibentuk berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 2003 tanggal 18 Desember 2003. Luas wilayah 823 km dan pada tahun 2003 berpenduduk 91.497 jiwa, terdiri dari laki-laki 44.843 jiwa dan perempuan 46.654 jiwa.

Wakatobi juga merupakan nama kawasan taman nasional yang ditetapkan pada tahun 1996, dengan total area 1,39 juta ha, menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang; yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. PDRB Kabupaten Wakatobi berdasarkan harga berlaku pada tahun 2003 sebesar Rp. 179.774,04 juta, sedikit lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp. 160.473,67 juta. Berdasarkan harga berlaku, PDRB Perkapita Kabupaten Wakatobi pada tahun 2002 adalah sebesar 1.833.775,23 rupiah, menjadi 2.026.993,35 rupiah pada tahun 2003 atau naik sebesar 10,54 persen.

Keadaan Wilayah Letak GeografisKabupaten Wakatobi terletak di kepulauan jazirah Tenggara Pulau Sulawesi. Dan bila ditinjau dari peta Provinsi Sulawesi Tenggara secara geografis terletak dibagian selatan garis katulistiwa, memanjang dari utara ke selatan diantara 5.00 - 6.25 LS (sepanjang 160 km ) dan membentang dari barat ke timur diantara 123.34 124.64 BT (sepanjang 120 km ).Luas WilayahLuas wilayah daratan 823 km dan wilayah perairan laut diperkirakan seluas 18.377,31 km, berbatasan dengan:Sebelah Utara : Kabupaten Buton dan Kabupaten Buton UtaraSebelah Timur : Laut BandaSebelah Selatan : Laut FloresSebelah Barat : Kabupaten ButonIklimKeadaan musim pada umumnya sama seperti daerahdaerah lain di Indonesia dimana mempunyai 2 musim yakni musim hujan dan musim kemarau. Wilayah daratan Kabupaten Wakatobi mempunyai ketinggian umumnya dibawah 1.000 m dari permukaan laut dan berada disekitar daerah katulistiwa, sehingga daerah ini beriklim tropis.

Pemerintahan Kabupaten Wakatobi, saat ini dipimpin oleh Bupati Ir. Hugua.Wilayah AdministrasiWilayah administrasi untuk keadaan tahun 2003 terdiri

dari 5 Kecamatan yaituKecamatan BinongkoKecamatan Kaledupa Kecamatan TomiaKecamatan Wangi-WangiKecamatan Wangi-Wangi SelatanLiya Togo, Kecamatan LiyaTogo, Kecamatan Tomia UtaraTimu, Wakatobi,Kecamatan TimuPemerintahan DesaKabupaten Wakatobi terdiri dari 61 Desa/Kelurahan yaitu 45 Desa dan 16 Kelurahan. Dari 61 Desa/Kelurahan pada tahun 2003 tersebut, 10 desa telah mencapai desa Swasembada atau 15,63 %, 16 Desa Swakarya atau 25,00 % dan 38 desa Swadaya atau 59,38 %.Dewan Perwakilan Rakyat DaerahKomposisi perolehan kursi di DPRD Kabupaten Wakatobi hasil Pemilu 2004 berdasarkan partai peserta pemilu dan daerah pemilihan, dimana partai Golkar mendapat kursi terbanyak dengan mendapatkan 4 kursi disusul oleh PBB, PPP, PAN, PNBK, PBR dan PDIP dengan 2 kursi, selanjutnya Partai Merdeka, PKB, Partai Patriot Pancasila dan Partai Demokrat masing-masing 1 kursi dari 20 kursi di DPRD.

Penduduk dan Tenaga Kerja Jumlah PendudukJumlah penduduk menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2000 berjumlah 87.793 jiwa yang terdiri dari laki-laki 42.620 jiwa dan perempuan 45.173 jiwa. Tiga tahun kemudian tahun 2003 diadakan pendaftaran pemilih dan pendataan penduduk berkelanjutan yang disingkat P4B secara sensus, dengan hasil jumlah penduduk sebanyak 91.497 jiwa atau selama tiga tahun naik sejumlah 3.704 jiwa atau sekitar 1,41 persen per tahun.Persebaran PendudukJumlah penduduk berada di Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, 23,37 % berada di Kecamatan Wangi-Wangi, 19,05 % berada di Kecamatan Kaledupa, 17,86 % berada di Kecamatan Tomia dan 15,01 berada di Kecamatan Binongko.Jumlah penduduk bila dibandingkan dengan luas wilayah, maka kecamatan yang paling padat penduduknya adalah Kecamatan Kaledupa 166 jiwa/Km, menyusul Kecamatan Tomia 141 jiwa/Km, kemudian Kecamatan Wangi-Wangi Selatan 109 jiwa/Km.Struktur Umur, Jenis Kelamin, dan SukuKeadaan struktur penduduk pada tahun 2003, 34,55 % atau 31.610 jiwa adalah tergolong usia muda yang berusia 15 tahun kebawah,Rasio jenis kelamin di Kabupaten Wakatobi pada tahun 2003 sebesar 96,12.Terdapat 8 suku bangsa yang mendiami daerah Kabupaten Wakatobi, dengan data tahun 2000 sebanyak 87.793, suku bangsa yang terbanyak adalah Wakatobi 91,33 %, Bajau

7,92 %, dan suku lainnya jumlahnya dibawah 1 %.Ketenagakerjaan Penduduk usia kerja sebanyak 70.343 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 23.981 jiwa atau 34,09 % dan perempuan sebanyak 36,362 jiwa atau 65,91 %. Terdapat angkatan kerja 40.395 jiwa terdiri dari yang bekerja 37.678 jiwa atau 93,27 % atau 53,56 % terhadap penduduk usia kerja dan pengangguran terbuka sebanyak 6,73 %. Bukan angkatan kerja sebanyak 29.408 jiwa atau 41,81 % dari usia kerja yang terdiri dari sekolah 15.740 jiwa atau 53,52 %, mengurus rumah tangga dan lainnya sebesar 13.668 jiwa atau 46,48 %.Bila dilihat menurut lapangan usaha maka yang paling banyak menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian dengan jumlah 43,609 jiwa atau 61,99 %, kemudian sektor perdagangan 15.635 jiwa atau 17,02 % disusul sektor jasa, industri dan transportasi.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Wakatobi

Sumber Gambar: http://epress.an

Bupati Wakatobi Ir Hugua Raih Leadership MDGs Award 2009

Ir Hugua; meski memimpin kabupaten yang baru berusia enam tahun, ternyata berhasil menggondol Leadership MDGs (Millennium Development Goals) Award 2009. Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Koordinator bidang Kesra berkerjasama dengan LeadershipPark Institute kepada sejumlah kepala daerah lainnya (dua orang gubernur, sembilan bupati dan delapan walikota). Menko Kesra Agung Laksono menyerahkan penghargaan tersebut, Rabu (23/12), di Auditorium TVRI, Jakarta.

Hugua -- empat tahun menjadi bupati-- merasa bangga, bahwa sepak terjangnya membangun Wakatobi ternyata membawa hasil. Saya, seluruh aparat dan rakyat tidak sia-sia, katanya ketika dimintai komentarnya oleh wartawan usai penyerahan penghargaan. Delapan sasaran MDGs meliputi pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrim, pemerataan pendidikan dasar, mendukung persamaan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak, menuingkatkan kesehatan ibu, perlawanan terhadap HIV, AIDS, malarian dan penyakit lainnya, menjamin daya dukung lingkungan hidup dan mengebangkan kemitraan global untuk pembangunan. Ternyata Hugua dengan cerdas dan manis bisa memanfaatkan kemampuan pribadi, potensi alam dan kemampuan sumberdaya manusia daerah, semua elemen masyarakat Wakatobi untuk menyelesaikan tantangan sasaran MDGs tersebut. Dengan bertolak dari kebudayaan daerah, visi global, MDGs dijadikan semangat untuk mengubah standar lokal menjadi standar global. Spirit inilah yang dijadikan landasan Hugua untuk membangun daerah berpenduduk sekitar 100.600 jiwa tersebut. Hugua yang mengibaratkan pemerintah pusat sebagai garuda besar dan pemerintah daerah sebagai garuda kecil (bertolak dari lambang Garuda Pancasila) , mengatakan pemerintah pusat harus memperhatikan dan bagaimana menjadikan agar garuda-garuda kecil tersebut benar-benar gemuk, dan bukan justru sebaliknya, garuda besar yang gemuk. Garuda-garuda kecil harus kuat, sehingga paradigma daerah berubah menjadi paradigma global, kilahnya. Tak heran bila Perserikatan Bangsa-Bangsa pun memberi penghargaan kepada kabupaten yang kaya dengan jenis terumbu karang ini. Maklum Hugua bisa menurunkan angka kemiskinan hingga 7,0%, sukses dalam program wajib belajar 12 tahun dan rakyatnya terjamin kesehatannya. Betapa tidak, di Wakatobi perbandingan antara dokter dan penduduk 1 : 2.700. Artinya seorang dokter melayani sekitar 2.700 penduduk. Fasilitas puskesmas, puskesmas pembantu maupun posyandu lumayan

memadai, katanya. Meski demikian Hugua mengakui masih ada kendala, yakni para ibu hamil maupun yang akan melahirkan masih banyak yang mengandalkan para dukun. Kami tidak melarang, namun para ibu tersebut setelah pergi dukun diharapkan juga ke bidan atau dokter. Jadi jangan melarang mereka pergi ke duku. Ke dukun silakan, tapi setelah itu silakan juga ke bidan atau dokter, katanya. Penghargaan di WOC Tak kalah pentingnya tentu masalah lingkungan yang selalu dijaga, sehingga pembangunan yang berwawasan lingkungan berjalan lumintu. Dan ini tergambarkan pada upaya pemerintah kabupaten menjaga keberadaan terumbu karang yang beraneka ragam yang memiliki ratusan spesies Pada acara World Ocean Conference (WOC) atau dikenal Konferensi Kelautan Dunia yang berlangsung pada pertengahan Mei di Manado (Sulawesi Utara), Bupati Wakatobi Hugua menerima penghargaan bersama tujuh gubernur, dan beberapa bupati dan walikota. Mereka dianugerahi oleh World Wildlife Fund (WWF). Hugua mengungkapkan dirinya bersyukur karena mendapat penghargaan sebagai bupati yang berkomitmen dalam pembangunan kerakyatan berbasis lingkungan. Hal ini merupakan suatu hal yang luar biasa bagi pemerintah Wakatobi. Salah satu yang ikut dipertahankan kelestariannya di perairan Wakatobi adalah populasi penyu dan keanekaragaman terumbu karang. Hal ini diungkapkan berdasarkan hasil pendataan WWF di Wakatobi yang dilakukan dalam kurung waktu satu tahun terakhir dan menunjukkan populasi penyu bertelur di daerah pulau-pulau penghuni bertambah 400 persen. Inilah salah satu kerja keras warga Wakatobi dalam rangka mempertahankan kelestarian populasi penyu di Wakatobi, kata Hugua. (heru)

Sumber : http://www.menkokesra.go.id/content/view/13817/39/ Sumber Gambar: http://matanews.com/wp-content/uploads/Bupati-WakatobiHugua.jpg u.edu.au/apem/boats/images/map-2-2.jpg

Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, akan segera ditetapkan oleh PBB sebagai Cagar Biosfer Dunia September 2011 mendatang. Penetapan itu akan diumumkan melalui International Confrence (konfrensi dunia) yang diselenggarakan oleh PBB melalui lembaga UNESCO. Demikian dikemukakan Ir. Hugua dikediamannya di Kendari Senin (27/6), disela-sela persiapan menjelang pelantikannya bersama pasangannya H. Arhawi, sebagai Bupati dan wakil Bupati Wakatobi terpilih periode 2011-2016 di Gedung DPRD Sultra, Selasa (28/6/2011). Alasan terpilihnya Wakatobi sebagai Cagar Biosfer Dunia kata Hugua, karena keaslian Sumberdaya Alamnya yang terjaga dan mampu dimanfaatkan secara maksimal untuk kepentingan dan kesejahteraan masyarakatnya. Disamping itu pula, perairan laut Wakatobi memiliki keragaman jenis terumbu karang yang cukup tinggi, yakni sekitar 90 persen dari seluruh jenis terumbu karang di dunia. ini menjadi perhatian penting bagi pemerintah dan masyarakat Wakatobi sendiri baik dalam hal pelestariannya maupun pemanfaatannya demi kesejahteraan bersama,ujarnya. Rencananya usai pelantikan 18 Juni besok, Hugua akan langsung bertolak ke Eropa untuk menghadiri penyerahan piagam penghargaan penetapan Wakatobi sebagai Cagar Biosfir Dunia dari badan dunia PBB. [Ino]

Raih 6 Penghargaan - Bupati Wakatobi

Patut Dicontoh
Sungguh patut dicontoh prestasi Bupati Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Hugua dalam memimpin dan memajukan daerahnya. Kerja keras yang dilakukannya akhirnya berbuah manis, dimana Wakatobi menerima enam penghargaan sepanjang 2009, atau sejak daerah itu menjadi otonomi dalam empat tahun terakhir. Hugua mengatakan, enam penghargaan tersebut adalah dari Menparpostel sebagai daerah destinasi unik karena keindahan taman lautnya, dari Manteri Pekerjaan Umum sebagai bentuk penghargaan kabupaten yang sudah menetapkan tata ruang secara berkelanjutan. Penghargaan lain adalah MDG`s Award dari PBB dan Metro TV terkait keberhasilan daerah itu dalam delapan cakupan kehidupan yang berkaitan dengan indeks pengembangan manusia di antaranya kemiskinan, kesehatan dan pendidikan. Selain itu, penghargaan Leadership Milenium Development Goals (MDGs) Award 2009 dari Menkokesra dan penghargaan Icon dari majalah Gatra. Menurut Bupati, pemberian penghargaan itu sebagai wujud keberhasilan dari semua elemen masyarakat Wakatobi dari berbagai aspek pembangunan dan pemerintahan, mulai dari penataan birokrasi, pembangunan fisik, sosial budaya, agama dan kemasyarakatan. Program Penghargaan itu merupakan bentuk penilaian baik dari pemerintah pusat maupun dari berbagai lembaga nonpemerintah yang tidak mengikat. Ini merupakan satu kesyukuran sekaligus kebanggaan tersendiri. Apalagi Wakatobi baru mekar empat tahun terakhir, katanya di Kendari, Selasa. Masyarakat Wakatobi patut bersyukur bahwa dalam satu tahun terakhir ini pemerintah sudah mendapat lima penghargaan. Khusus di Sultra merupakan daerah penerima penghargaan terbanyak dari 10 kabupaten dan dua kota di Sultra.

Ia mengatakan, pada akhir tahun 2009, pihaknya kembali akan menerima penghargaan Icon Gatra. Penghargaan Icon Gatra itu menetapkan dua bupati dan satu gubernur, kata Hugua, namun tidak menyebutkan siapa bupati dan gubernur yang dimaksud.(*an/z)

Sumber : http://matanews.com/2009/12/29/bupati-wakatobi-patut-dicontoh/ 29 Desember 2009

Unggulan utama di kabupaten ini adalah terumbu karang,pantai yang indah, dan hasil-hasil perikanan seperti ikan tuna, tongkol, ikan kecil lainnya, rumput laut, dan hasil-hasil lainnya seperti udang, lepiting, lobster, teripang laut, siripikan hiu, cumi-cumi, dan lain-lain. Oleh karena itu Pemda menitikberatkan pembangunan dan perhatiannya pada sektor pariwisata dan perikanan.

Wakatobi: Surga di Atas dan di Bawah

Ketika mendapatkan tawaran pertama kali untuk mengerjakan proyek di Kabupaten Wakatobi, yang terlintas dalam ingatanku adalah Nadine Candrawinata, mantan Puteri Indonesia itu. Saya tidak tahu di mana itu Wakatobi. Aku hanya sering mendengar di berita-berita infotainment kalau Nadine sering menyelam disana, dan merupakan duta wisata disana. Parah benar diriku ini. Solusinya, aku bertanya kepada Mbah google, di mana Wakatobi itu, dan bagaimana bisa mencapai ke sana. Dalam beberapa detik, muncul ribuan link ke Wakatobi. Sakti sekali Si Mbah yang satu ini. Lebih sakti dari Mama Laurent. Nah, ternyata, Wakatobi itu adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Terletak di Laut Banda, Wakatobi dulunya hanya kecamatan di Kabupaten Buton sebelum mekar pada Desember 2003. Ir. Hugua menjadi bupati pertama yang dipilih melalui Pilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 2006 yang lalu. Hugua adalah orang asli Wakatobi, tepatnya dari Pulau Tomia. Wakatobi sendiri merupakan akronim dari empat pulau besar yang ada disana. Yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Sebuah kombinasi yang unik, yang membuat saya berpikir juga kalau Wakatobi itu ada di Jepang! Tiap pulau ini punya ciri khas yang menonjol. Misalnya, Wangi-Wangi maju sebagai pusat ekonomi, Kaledupa dan Tomia sebagai pusat pendidikan, dan Binongko sebagai pusat penyebaran agama Islam. Wakatobi sendiri sebenarnya memiliki 142 pulau, tapi yang dihuni 7

pulau saja. Jadi, 97 persen wilayah kabupaten ini adalah lautan. Daratan hanya 3 persen saja. Dulunya, kawasan ini dikenal dengan nama Kepulauan Tukang Besi. Di dalam beberapa peta, masih ada sisa penyebutan Kepulauan Tukang Besi. Meskipun sebenarnya yang menjadi daerah penghasil alat-alat dari besi itu hanya ada di Pulau Binongko. Tapi konon, alat-alat dari besi yang dihasilkan oleh pulau ini memang ciamik. Dari peralatan-peralatan besi yang paling besar sampai dengan yang paling kecil. Tampak di internet indahnya pemandangan pantai dan bawah lautnya. Memang, Wakatobi termasuk dalam jalur segitiga karang dunia (world coral triangle). Di dunia ini adalah 6 negara yang masuk dalam segitiga emas ini. Terbentang dari Thailand, Malaysia, Philiphina, Indonesia (Bunaken, Wakatobi, Bali, dan Lombok), Timor Leste, Papua Nugini dan berakhir di Solomon. Dan, Wakatobi, tepat berada di jantungnya. Berdasarkan data dari Operational Wallacea (Opwal), Wakatobi memiliki 750 species coral dari 850 yang ada di dunia. Lebih banyak dari koleksi di Karibia yang hanya 650 species. Tak heran, kalau keindahan dunia bawah laut di Wakatobi akan setimpal dengan pemandangan di atas lautnya. Belum lagi kekayaan budaya.Tiap pulau memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana bisa pergi ke sana. Dari hasil googling, hanya ada dua cara. Yaitu, naik kapal dan pesawat. Kalau naik kapal, bisa dari Makassar-Bau-Bau-Wakatobi atau KendariBau-Bau-Wakatobi (lebih tepatnya Pulau Wangi-Wangi). Kalau naik pesawat (Merpati) dari Bali. Langsung saja aku telepon kantor Merpati di Surabaya. Kata Mbak operator, Wakatobi itu di mana ya, Mbak? Kok saya belum pernah mendengarnya aku masih ngeyel. Aku tidak percaya si Mbak tidak tahu produk yang dijualnya. Lha, aku jelaskan kepada Si Mbak, kalau aku dapat info di internet, bla bla bla Si Mbak tetap ngeyel juga. Aku malah mau ditawarin tiket mau Biak!. Waduh, jauh bangetttt bedanya. Biak dengan Wakatobi. Ketika aku bertemu dengan Hugua, bupati Wakatobi, beberapa saat

setelah itu, aku jadi tahu, kalau Merpati terbang ke sana itu hanya uji coba. Pesawat uji coba memang menggunakan Merpati Airlines. Para penumpang ujicoba pesawat ini adalah para orang-orang tua, diajak keliling-keliling pulau Wangi-Wangi. So, pilihannya hanya dengan kapal laut. Kalau diperinci perjalanan dari Makassar ke Bau-Bau selama 12 jam, disambung dari Bau-Bau ke Wakatobi selama tujuh jam. Itupuan dengan catatan kalau ombak laut sedang tenang dan bersahabat. Kalau tidak, belum bisa dipastikan berapa lama waktu yang kita butuhkan. Ombak Laut Banda tidak pernah bisa diprediksi. Bisa mencapai 6 meter atau 7 meter. Aku ngeri membayangkan itu. Bukan apa-apa, karena aku tidak bisa berenang. Memalukan ya? Kalau memang tidak ada pilihan lain, aku sudah siap-siap membeli baju pelampung. Tapi ketakutan ini tidak bisa menghilangkan rasa excited. Penasaran bercampur takut. Semuanya bercampur menjadi satu, dan membuat perutku mules. Tapi, ya namanya adrenalin. Terpacu terus. Lalu, datanglah kabar baik itu, dari seorang rekan di Kendari, Pak Ruslan. Kata Pak Ruslan, sekarang ada pesawat yang kesana. Maskapainya bernama Susi Air. Maskapai milik Susi Pudjiastuti, pengusaha perikanan asal Pantai Pangandaran, Jawa Barat. Kepada Susi Air, pemda menggunakan sistem charteran. Karena itu tidak heran, kalau di tiket kita, akan tertera Pemerintah Kabupaten Wakatobi. Untuk charter ini, pemda mengalokasikan anggaran sebesar Rp. 1,2 milyar setahunnya. Kenapa harus charter? Karena, bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi belum mengantongi ijin operasional dari Departemen Perhubungan (Dephub). Karena itu, pesawat komersil belum bisa operasi. Hanya pesawat charter yang boleh mendarat di sini. Penerbangan ke Wakatobi launching pada Juli 2009. Selama satu minggu, pesawat ini terbang tiap hari. Sehari sebanyak dua kali. Pagi dan sore. Kalau pagi terbang jam 08.30, dan kalau sore jam 15.30. Baru baliknya membawa penumpang dari Wakatobi ke Kendari. Di

Kendari, hanya satu agen travel yang menjual tiket Susi Air ini. Yaitu, Patapulo di depan mall Mandonga, Kendari. Harga tiket, kalau kita beli lebih dari lima tiket, bisa mendapatkan harga sekitar Rp. 500 ribu untuk yang dari Kendari. Tetapi, kalau dari Wakatobi orang yang bukan penduduk Wakatobi, harus membayar Rp. 700 ribu. Sebab, subsidi hanya diperuntukkan bagi orang Wakatobi. Dengan adanya penerbangan kesana, aku jadi tenang dan semakin bersemangat pergi kesana.

Pulau Wangi-Wangi: Pusat Ekonomi Pesawat yang kami tumpangi, Susi Air menggunakan jenis Cesna 208 B Grand Caravan. Pesawat ini diisi 12 orang penumpang. Di kalangan orang Wakatobi sering muncul gurauan penamaan pesawat ini. DC 12 (dibaca: diisi 12). Pesawat ini terbang rendah sekali di atas Laut Banda. Saya tidak tahu berapa ketinggiannya, mungkin sekitar 7.500 di atas permukaan laut (DPL). Pesawat ini dikemudikan oleh pilot dan copilot import. Mereka cakep-cakep. Ada yang bilang mereka dari Italia. Ya, dengan adanya dua mas-mas ini, penerbangan semakin menyenangkan. Kalau dalam penerbangan apapun, biasanya aku sudah tidur sebelum take off, dalam penerbangan ini, tidak sekejap pun bisa memejamkan mata. Selain karena pemandangan alam begitu indah dengan Laut Banda dan pulau-pulau kecil di bawah sana, juga karena mas-mas cakep ini. Dari atas, aku bisa melihat kapal-kapal cepat yang melintas di Laut Banda. Melihat hutan-hutan tropis di bawah sana. Ada yang hutannya masih tebal, tetapi ada juga beberapa yang gundul. Kadang, terlihat pulau-pulau berpenghuni. Tapi masih sangat jarang-jarang penduduknya. Kadang, pulau-pulau kosong. Hanya ada pulau, dan hamparan pasir putih. Dari atas, terlihat warna biru dan hijaunya laut di bawah sana. Masih sangat bersih.

Membuatku merasa sangat sentimentil. Overwhelmed.

Dalam satu perjalanan pulang, aku melihat sinar surya senja melimpahi Laut Banda. Begitu indah. Aku jadi teringat pelajaran Geografi jaman sekolah dulu. Tentang luasnya Indonesiaku. Tentang kenapa kepulauan terbesar di dunia ini dinamakan Indonesia. Tentang pulau-pulaunya. Tentang laut-lautnya. Huhg, jadi sedikit sentimentil pokoknya. Dibutuhkan penerbangan selama 40 menit dari Bandara Wolter Monginsidi di Kendari sampai dengan bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi. Pulau ini merupakan pusat pemerintahan Wakatobi. Ketika mendekati Wangi-Wangi, nampak dari atas atol yang membelit pulau ini. Konon, dengan adanya atol ini bisa menyelamatkan WangiWangi seandainya terjadi gempa tektonik di bawah laut dan terjadi tsunami. Bandara Matahora belum selesai proses pembangunannya. Masih ada satu bangunan kecil bergenting dicat biru yang merupakan pusat semua kegiatan di bandara itu. Ya ruang tunggu, ya counter check in. Masih ada satu maskapai disana. Ya, Susi Air itu tadi. Pembangunan bandara ini adalah upaya untuk membuka keterisolasian daerah ini. Bagaimanapun bagusnya objek wisata di kabupaten ini, kalau aksesnya sulit, akan sangat susah untuk mengundang wisatawan agar mau datang. Tidak semua orang mau menempuh perjalanan laut yang sangat panjang. Ini terkait dengan visi dan misi bupati untuk fokus terhadap pembangunan sektor perikanan dan kelautan dan pariwisata. Bagi daerah yang masih sangat muda (6 tahun), adalah sebuah prestasi menakjubkan bisa membangun bandara. Jarak antara bandara dengan pusat pemerintahan di Wanci kurang lebih 30 kilometer. Jalan-jalan protokol mulai dibangun. Belum sepenuhnya selesai semua. Masih banyak tumpukan material di jalanjalan. Selain pusat pemerintahan, Wangi-Wangi juga merupakan pusat perkembangan ekonomi dibandingkan dengan tiga pulau besar lainnya. Pulau Kaledupa dan Tomia maju di bidang pendidikan. Sedangkan, Binongko yang merupakan pulau besar terjauh, terkenal dengan

tempat persebaran agama Islam. Di Wakatobi, Islam adalah agama yang dipeluk oleh penduduk asli. Belum ada bangunan gereja atau tempat ibadah lainnya. Hanya masjid. Dari sejarahnya, Wangi-Wangi memang didatangi para nelayan terlebih dahulu. Menurut cerita masyarakat setempat, para nelayan dari Ambon atau tempat lainnya di perairan Banda, sebelum mereka ke Buton, terlebih dahulu singgah di pulau ini. Mereka menjemur ikanikan hasil tangkapannya dan mengeringkannya disini. Tidak ketinggalan, rempah-rempah. Udara Wangi-Wangi sangat panas. Tanahnya terdiri karang dan kapur kars. Di sepanjang jalan, hanya ada tanaman mete dan ubi kayu. Ada istilah, kalau di Wangi-Wangi ini, tumbuhan bukan ditanam di tanah, tetapi di karang. Tanah-tanah ada di atas bebatuan. Tanah-tanah ini terbentuk dari tumbuhan-tumbuhan yang jatuh ke atas bebatuan, menjadi humus dan kemudian menjadi tanah. Desa pertama yang dijumpai menuju Wanci adalah Desa Matahora. Tetapi, desa ini tidak terlalu panjang. Wilayah Matahora tidak terlalu panjang di jalan protokol karena lebih masuk ke dalam, ke pinggiran pantai. Ada dua daerah pantai disini. Yaitu di Matahora sendiri, dan di Dusun Sousu. Kemudian disusul Longa. Rumah-rumah di Longa berderet dengan rapi dan teratur. Rumah-rumah saling berhadapan satu sama lain. Rumah dari batu bata semua. Pagar-pagar juga dibuat seragam. Tidak nampak rumah panggung di desa ini. Kalau di desa Matahora, pagarnya dari batako, di Longa pagar-pagar rumah penduduk dari bambu. Melihat keseragaman pagar ini mengingatkan aku pada desa-desa di Jawa pada dekade 80-an. Di mana rumah-rumah dan pagar-pagar masih sangat seragam. Perjalanan ke Wanci dibutuhkan waktu sekitar 20 menit. Itu karena jalan yang belum semuanya bagus. Di sepanjang jalan ini, dilalui juga beberapa desa, seperti Patuno, Waetuna dan Waha. Patuno dan Waetuna merupakan desa-desa penghasil ikan tuna di Wangi-Wangi. Selain itu, Waetuna dan Paetuna dikenal dengan pantainya yang

indah. Desa terakhir sebelum memasuki Wanci adalah Waha. Di perbatasan kedua desa, ada sebuah tugu. Tugu itu, sekaligus menandai mulai adanya coverage jaringan Telkomsel! Tak heran, setelah tugu ini, ada spanduk Telkomsel. Sementara itu, Waha sampai dengan Matahora dikenal dengan nama WTS alias Wilayah Tanpa Signal. Sebenarnya, di beberapa desa sebelum Waha, yang bisa coverage-nya adalah Indosat. Mereka memanfaatkan BTS yang ada di Pulau Kaledupa. Selain infrastruktur jalan yang masih semuanya belum diaspal, masih ada kendala transportasi. Angkutan kota atau biasa disebut dengan pete-pete, baru ada dari Longa. Sementara dari bandara belum ada transporasi ke arah kota. Tapi, biasanya, orang akan dengan senang hati memberikan tumpangan dari bandara sampai dengan Wanci. Di Wanci, mulai terlihat aktivitas ekonomi yang menggeliat. Pasar sentral ada di tempat ini. Selain itu, kantor-kantor pemerintah, kantor pos, bank, kantor polisi, dan sebagainya. Hotel-hotel sudah mulai bermunculan di Wanci. Ini merupakan pengaruh geliat wisata di Wakatobi. Hotel yang bisa ditemui antara lain Hotel Wakatobi, Hotel Azziziyah, Hotel Ratna, dan sebagainya. Mulai muncul juga restoran-restoran. Seperti restoran Wisata. Rental kendaraan juga tersedia. Kalau mobil berkisar antara Rp. 300 ribu sampai dengan Rp. 600 ribu. Bisa juga menyewa sepeda motor. Per hari Rp. 40 ribu. Di Wangi-Wangi, objek wisata selain pantai adalah adanya beberapa diving spots dan benteng Liya Togo di Desa Liya Togo. Tempat ini merupakan peninggalan masa Kesultanan Buton. Ini merupakan daerah keraton. Yang terbentang mulai dari Liya Timi. Dari Liya Timi, mulai terasa daerah keratonnya. Menjelang masuk ke Liya Togo, mulai berjajar rumah panggung dari kayu dengan arsitektur yang agak unik. Benteng ini melingkupi desa. Di dalam benteng, terdapat beberapa peninggalan bersejarah juga. Seperti misalnya, Masjid Al Mubaraq ataupun makam ulama di dekat masjid.

Masjid Al Mubaraq batu pertamanya diletakkan pada 1548, delapan tahun setelah didirikannya Kesulatanan Buton. Kalau dilihat sekilas, masjid ini memang telah dibangun dari tembok. Tapi, sebenarnya masjid ini baru saja direnovasi bagian atasnya. Yang masih dibiarkan peninggalan dari masa kesultanan adalah pondasinya. Kalau diamati dengan mendalam, pondasi masjid ini dibangun dengan begitu kuat. Dari batuan barang. Di depan masjid teronggok bekas meriam jaman dulu. Dua kali mengunjungi Wakatobi, hanya sempat singgah di dua pulau saja. Yaitu Wangi-Wangi dan Kaledupa. Tidak sempat juga singgah di Pulau Hoga, padahal hanya 15 menit naik kapal nelayan dari Kaledupa. Tidak sempat juga untuk merasakan menyelam atau sekedar snorkeling. Jadi, aku tidak bisa membuktikan indahnya surga bawah laut. Hanya tahu surga atas lautnya saja.

Sumber : Hariatni Novitasar http://baltyra.com/2009/10/27/anak-negeri-wakatobi/ 27 Oktober 2009 Posted by Akang at 10:44 AM