Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG TAMAN NASIONAL ALAS PURWO

BRYOPHYTA





Disusun oleh
Kelompok 3:
Aji Dharma R.
Aditya Kurniawan
Restu Nugraha
M. Bustomi
Dinia Rizqi D.
Improatul Khasanah
Nida AsIi
Ilham Rizky Isnain
SholiIatul Liliana
LutIiatun Izatun
Roudlotul Jannah
Dharma Asih P















JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Kingdom plantae meliputi organisme multiseluler yang telah terdiIerensiasi,
eukariotik dan sel-selnya memiliki dinding sel selulosa. Hampir seluruh anggota plantae
sel-selnya mempunyai kloroIil sehingga bersiIat autotroI atau dapat menyusun makanan
sendiri. Plantae meliputi lumut, tumbuhan paku, dan tumbuhan biji. Bryophyta, berasal
dari bahasa yunani yang berarti tumbuhan lumut. Secara umum lumut berwarna hijau,
karena mempunyai sel-sel dengan plastid yang menghasilkan kloroIil a dan b, dengan
demikian lumut bersiIat autotroI. Tubuh lumut dapat dibedakan antara sporoIit dan
gametoIitnya (Shaw dan GoIIinet, 2000).
Menurut Campbell dkk. (2000) dan Konkrat dkk. (2007), tumbuhan lumut di muka
bumi terdiri tidak kurang 25.000 jenis. Tumbuhan lumut mempunyai susunan tubuhnya
lebih kompleks dibanding dengan Thallophyta. Lumut merupakan organism bersel banyak
dan bentuk tubuhnya pipih, melekat pada substrat dengan ketinggian 1-2 cm sampai ada
yang 20cm. Dinding selnya terbentuk dari selulosa dan tidak memiliki jaringan yang
diperkuat oleh lignin seperti jaringan penguat pada tumbuhan tingkat tinggi. Sudah
mempunyai rhi:oid dan daun tetapi belum mempunyai akar, batang dan daun yang sejati.
Rhi:oid berIungsi untuk melekatkan pada substrat dan menyerap zat zat makanan dan
air. Tumbuhan lumut, tidak mempunyai pembuluh angkut sehingga proses pengangkutan
di dalam tubuhnya menggunakan sel sel parenkim. Habitatnya di tempat lembab dan
basah, kecuali Sphagnum yang dapat hidup di dalam air. Penyebaran lumut bersiIat
kosmopolit (di mana saja ada, dari daerah tropic sampai tundra atau kutub).
Cara reproduksi tumbuhan lumut dengan menghasilkan spora, lumut dapat juga
bereproduksi secara vegetative dengan menghasilkan kuncup eram, umbi, tunas dan
bagian tubuh yang dipotong. Reproduksi generative dengan menghasilkan anteridium dan
arkegonium. Sperma bergerak ke ovum secara kemotaksis karena pengaruh gula dan
protein yang dihasilkan arkegonium. Daur hidup lumut mengalami pergantian keturunan
antara Iase vegetative dan Iase generative. Tumbuhan lumut penghasil gamet disebut
gametoIit, tumbuhan lumut penghasil spora disebut sporoIit. GametoIit lebih menonjol
disbanding sporoIit. GametoIit merupakan turunan vegetative yang melekat pada substrat
dengan menggunakan rhi:oid. SporoIit merupakan turunan generative berupa badan
penghasil spora. SporoIit itu tumbuh pada gametoIit bersiIat parasit, mempunyai habitat di
darat yang lembab, ada pula yang hidup sebagai epiIit (Campbell dkk., 2000).
Lumut merupakan salah satu divisi yang penting untuk dipelajari karena memiliki
banyak potensi yang dapat dimanIaatkan untuk kepentingan dalam pendekatan biologis
maupun ekonomis. Oleh karenanya, identiIikasi lumut sangat penting dilakukan untuk
mengelola dan menjaga kelestarian lumut. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi
dilaksanakannya praktikum lapang sistematika tumbuhan 2 di Taman Nasional Alas
Purwo ini.

1.2Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk mengenal beberapa spesies
dari beberapa kelas pada divisi Bryophyta dan mampu mendeskripsikan spesies yang
ditemukan serta menggolongkan ke dalam kelas yang tepat.
BAB II
METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Bryophyta ini dilaksanakan tanggal 21-22 Mei 2011 pada pukul 08.00-
14.00 WIB, di Taman Nasional Alas Purwo.

2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum lapang ini meliputi lembar pengamatan,
kamera, kertas koran yang telah dibentuk seperti amplop, plastik klip berukuran sedang,
dan etiket. Bahan yang digunakan adalah Bryophyta yang ada di sekitar hutan Taman
Nasional Alas Purwo.

2.3 Cara Kerja
Spesimen yang ditemukan diamati kemudian didokumentasikan. Ciri-ciri
morIologinya dicatat pada lembar pengamatan beserta tempat ditemukannya. Spesimen
diambil sedikit dengan menggunakan alat (gunting) untuk dijadikan herbarium kering.
Spesimen yang telah diambil disimpan di dalam kertas koran. Etiket diisi sesuai
keterangan yang siperlukan kemudian ditempel pada depan kertas koran. Stelah ditempel
dengan etiket yang berisi keterangan tentang spesimen, kertas koran tersebut dimasukkan
ke dalam plastik klip.


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Lumut Daun
3.1.1 Lumut Daun Spesies 1

Gambar 1. Lumut daun spesies 1

Berdasarkan pengamatan, lumut daun spesies 1 memiliki warna hijau. Lumut
ini memiliki struktur tubuh menyerupai tumbuhan tingkat tinggi yaitu memiliki
struktur yang menyerupai akar, batang, dan daun. Hanya saja ukurannya sangat
kecil. Lumut ini ditemukan di tanah sekitan hutan TN Alas Purwo dengan udara
yang bersih dan lembab.

3.1.2 Lumut Daun Spesies 2

Gambar 2. Lumut daun spesies 2

Berdasarkan pengamatan, lumut daun spesies 2 memiliki struktur tubuh yang
hampir sama dengan lumut daun spesies 1. Menyerupai tumbuhan tingkat tinggi
yaitu memiliki struktur yang menyerupai akar, batang, dan daun serta berukuran
sangat kecil. Perbedaannya dengan lumut daun spesies 1 adalah ukuranya lebih
tinggi, bergerombol lebih lebat, dan strukturnya terlihat lebih jelas. Disamping itu,
komuni lumut ini sebagian besar berwana coklat kehijauan. Lumut ini ditemukan di
atas bebatuan di sekitar hutan TN Alas Purwo dengan udara yang bersih dan
lembab.

3.1.3 Lumut Daun Spesies 3

Gambar 3. Lumut tanduk spesies 3

Berdasarkan pengamatan, lumut daun spesies 3 berwarna hijau dan memiliki
struktur tubuh yang hampir sama dengan lumut daun spesies 2 dan 1. Menyerupai
tumbuhan tingkat tinggi yaitu memiliki struktur yang menyerupai akar, batang, dan
daun serta berukuran sangat kecil. Perbedaannya dengan lumut daun spesies 2 dan
1 adalah arah tumbuhnya berbaring, struktur yang menyerupai daun terlihat sangat
jelas, dan keseluruhannya menyerupai benang yang menempel pada permukaan
tanah yaitu ketika ditarik akan tertarik memanjang seperti yang terlihat dalam
gambar. Lumut ini ditemukan di atas tanah di dalam hutan TN Alas Purwo dengan
udara yang bersih dan lembab.


Gambar 4. !olytrichum commune Gambar 5. Sphagnum fimbriatum

Menurut Tuba dkk. (2011), lumut daun banyak terdapat di tempat-tempat yang
lembab, mempunyai struktur seperti akar yang disebut rizoid dan struktur seperti daun.
Siklus hidup lumut daun mengalami pergantian antara generasi hapoid dengan diploid.
SporoIit pada umumnya lebih kecil, berumur pendek dan hidup tergantung pada
gametoIit. Contoh lumut daun antara lain: !olytricum commune, !ogonatum cirratum,
Aerobrysis longissima, dan Sphagnum fimbriatum. Ciri-ciri lumut daun antara lain:
1. Tubuhnya mempunyai struktur yang mirip batang, daun dan akar, tetapi tidak
mempunyai sel/jaringan dan Iungsi seperti pada tumbuhan tingkat tinggi. Kumpulan
lumut ini membentuk hamparan hijau yang luas yang mempunyai siIat seperti karet
busa sehingga mampu menyerap dan menahan air.
2. GametoIit dibedakan dengan dibedakan dengan dua tingkatan, yaitu protonema yang
bertalus berbentuk benang dan gametoIora yang berupa tumbuhan lumut. Fotositesis
lebih banyak terjadi pada bagian gametoIora.
3. SporoIitnya terdiri dari bagian seta, apoIiksis, kotak spora, gigi peristom dan kaliptra.
4. Spora terdiri atas dua lapisan, yaitu endospora dan eksospora, habitatnya pada tempat
yang lembab.
Spesies yang berperan cukup besar adalah Sphagnum sp. Spesies ini selain dapat
digunakan untuk pengganti kapas atau pembalut, ternyata di alam merupakan komponen
pokok pembentuk gambut. Tanah gambut merupakan gudang penyimpan CO
2
.
Konsentrasi CO
2
tinggi dapat menstabilkan konsentrasi CO
2
di atmosIer (Hodgetts,
2000).
KlasiIikasi lumut daun (!olytrichum sp.) adalah sebagai berikut (Shaw dan
GoIIinet, 2000) :
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Kelas : Bryopsida
Ordo : Polytrichales
Famili : Polytrichaceae
Genus : !olutrichum
Spesies : !olytrichum sp.



3.2 Lumut Tanduk
3.2.1 Lumut Tanduk Spesies 1

Gambar 6. Lumut tanduk spesies 1

Berdasarkan pengamatan, lumut tanduk spesies 1 berwarna hijau. Lumut ini
memiliki struktur dasar berupa lembaran berwana hijau kemudian di atasnya
muncul bagian memanjang dengan ujung seperti tanduk. Ditemukan menempel
pada pohon dalam hutan TN Alas Purwo dengan udara yang bersih dan lembab.

3.2.2 Lumut Tanduk Spesies 2

Gambar 7. Lumut tanduk spesies 2

Berdasarkan pengamatan, lumut tanduk spesies 2 berwarna hijau kecoklatan.
Lumut ini memiliki struktur dasar berupa lembaran berwana hijau kemudian di
atasnya muncul bagian memanjang dengan ujung seperti tanduk yang hampir sama
dengan lumut tanduk spesies 1. Hanya saja lumut tanduk spesies 2 ini memiliki
tekstur yang lebih halus. Terlihat seperti serabut-serabut halus. Ditemukan
menempel pada batu dalam hutan TN Alas Purwo dengan udara yang bersih dan
lembab.


Gambar 8. Anthoceros laevis Gambar 9. Anthoceros agretis

Menurut Tuba dkk. (2011), lumut tanduk mempunyai gametoIit seperti lumut hati,
perbedaannya adalah terletak pada sporoIit lumut ini mempunyai kapsul memanjang yang
tumbuh seperti tanduk dari gametoIit, Masing-masing mempunyai kloroplas tunggal yang
berukuran besar, lebih besar dari kebanyakan tumbuhan lumut. Contoh lumut tanduk
adalah Anthoceros laevis, Anthoceros agretis. Ciri ciri lumut tanduk antara lain:
1. Tubuhnya mirip lumut hati, tetapi berbeda pada sporoIitnya. SporoIit pada lumut ini
membentuk kapsul memanjang yang tumbuh seperti tanduk
2. Berdasarkan analisis asam nukleat, ternyata lumut ini berkerabatan paling dekat
dengan tumbuhan berpembuluh dibanding dari kelas lain pada tumbuhan lumut
3. GametoIit berupa talus yang lebar dan tipis dengan tepi yang berlekuk
4. Rhizoid berada pada bagian ventral
5. Habitatnya di daerah yang mempunyai kelembapan tinggi.
KlasiIikasi lumut tanduk (Anthoceros sp.) adalah sebagai berikut (Shaw dan
GoIIinet, 2000):
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Kelas : Antheceroptopsida
Ordo : Anthecerotales
Famili : Anthecerotaceae
Genus : Anthoceros
Spesies : Anthoceros sp.

3.3 Lumut hati

Gambar 10. archantia polymorpha Gambar 11. !orella platyphylla

Menurut Campbell dkk. (2000) dan Hodgetts (2000), lumut hati memiliki tubuh
terbagi menjadi dua lobus sehingga tampak seperti lobus pada hati. Siklus hidup lumut ini
mirip dengan lumut daun. Di dalam spongaria terdapat sel yang berbentuk gulungan
disebut elatera. Elatera akan terlepas saat kapsul terbuka, sehingga membantu
memencarkan spora. Lumut ini juga dapat melakukan reproduksi dengan cara aseksual
dengan sel yang disebut gemma, yang merupakan struktur seperti mangkok dipermukaan
gametoIit. Contoh lumut hati adalah archantia polymorpha dan !orella. Ciri ciri dari
lumut hati antara lain:
1. Tubuhnya masih berupa talus dan mempunyai rhizoid. Talusnya terbagi menjadi
beberapa lobus seperti bentuk hati hewan
2. GametoIitnya membentuk anteridium dan arkegonium yang berbentuk seperti paying.
Anteridium mempunyai ukuran yang lebih kecil dan tudungnya berlekuk lebih dangkal
sedangkan arkegonium ukurannya lebih besar dan tudungnya berlekuk lebih dalam
3. SporoIit pertumbuhannya terbatas karena tidak mempunyai jaringan meristematik
4. Berkembangbiak secara generatiI dengan oogami dan secara vegetative dengan
Iragmentasi, tunas dan kuncup eram
5. Habitatnya di tempat lembab
KlasiIikasi lumut hati (archantia sp.) adalah sebagai berikut (Shaw dan GoIIinet,
2000):
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Kelas : Hepaticopsida
Ordo : Marchantiales
Famili : Marchantiaceae
Genus : archantia
Spesies : archantia sp.
Pada praktikum ini, spesies lumut hati tidak dapat ditemukan. Hal tersebut
disebabkan karena beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, spesies tersebut
berada pada hutan yang lebih dalam, yang memiliki tingkat kelembaban lebih tinggi.
Kemungkinan kedua adalah ketidaktelitian praktikan dalam melakukan pencarian dan
penagamatan spesies.


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa secara umum lumut
berwarna hijau karena mengandung kloroIil sehingga bersiIat autrotoI dan hidup pada
daerah yang lembab. Lumut daun memiliki stuktur yang menyerupai akar dan daun yang
berukuran sangat kecil. Lumut tanduk memiliki gametoIit ssperti lumut hati sedangkan
sporoIitnya menyerupai tanduk. Lumut hati memiliki tubuh terbagi menjadi dua lobus
sehingga tampak seperti lobus pada hati.


4.2 Saran
Disarankan untuk praktikum lapang selanjutnya agar praktikan tidak hanya
melakukan pengamatan di tepi hutan saja, namun meluaskan sudut pandang ke tanah dan
bebatuan di dalam hutan agar spesimen yang ditemukan lebih beragam.


DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., J.B. Reece, dan L.G. Mitchell. 2000. Biologi Jilid 2 Edisi 5. Erlangga.
Jakarta
Hodgetts, N.G. 2000. Mosses, Liverworts, and Hornworts: Status Survey and Conservation
Action Plan Ior Bryophytes. IUCN. USA
Konrat, M.V., A.J. Shaw, dan K.S. Renzaglia. 2007. Bryophytes: The Closest Living
Relatives oI Early Land Plants. Magnolia Press. London
Shaw, A.J., dan B. GoIIinet. 2000. Bryophyte Biology. Cambridge University Press.
Cambridge
Tuba, Z., N.G. Slack, dan L.R. Stark. 2011. Bryophyte Ecology and Climate Change.
Cambridge University Press. Cambridge