Anda di halaman 1dari 136

303.000/XII.3/2008

303.000/XII.3/2008 Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Badan Pemeriksa Keuangan Republik

Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Petunjuk Teknis Pemeriksaan Atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia 2008

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia

2008

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

KEDUDUKAN JUKNIS PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

UUD 1945 Peraturan Per-UU-an Pemeriksaan Keuangan Negara PPededoommanan UUmmumum SPKN Kode Etik PMP JuJuklaklakk
UUD 1945
Peraturan Per-UU-an Pemeriksaan Keuangan Negara
PPededoommanan UUmmumum
SPKN
Kode Etik
PMP
JuJuklaklakk
200
300
100
Pem eriksaan Kinerja
Pem eriksaan Keuangan
Pemeriksaan D engan Tujuan
Tertentu
400
Sistem Peyakinan Mutu
500
Penatalaksanaan Kertas Kerja Pem eriksaan
600
Pem eriksaan Berperspektif Lingkungan Hidup
JuJuknknisis
100.001
200.001
301.000
Pemahaman dan Penilaian SPI
Pemeriksaan Keuangan
Penentuan Area Kunci
Pemeriksaan Investigatif
302.001
100.002
200.002
Pemahaman dan Penilaian
Risiko Pemeriksaan
Penentuan Kriteria
Pemeriksaan Kepatuhan
Pengelolaan Limbah RSUP/
RSUD
302.002
100.003
201.000
Penetapan Batas Materialitas
Pemeriksaan Keuangan
PemeriksaanKinerja Kegiatan
Rehabilitasi Hutan dan Lahan
(RHL)
Pemeriksaan Kepatuhan
Pengendalian Pencemaran
Udara
100.004
303.000
Penentuan Metode Uji Petik
Pemeriksaan Keuangan
Pemeriksaan Pengadaan
202.000
Barang dan Jasa
PemeriksaanKinerja
Pengelolaan Hutan
101.000
304.000
Pemeriksaan LKPP dan LKKL
Pemeriksaan Subsidi Listrik
203.000
102.000
PemeriksaanKinerja
Pengelolaan dan
Pengendalian Limbah Industri
305.000
Pemeriksaan LKPD
Pemeriksaan Subsidi Pangan
103.000
306.000
Pemeriksaan atas Laporan
Pemeriksaan PNBPdan PAD
Keuangan Bank Indonesia
Pertambangan
400 .001
Reviu Pem eriksaan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Lampiran

DAFTAR ISI

Halaman

Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor …./K/…./ DAFTAR ISI DAFTAR LAMPIRAN /…. i iii
Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Nomor …./K/…./
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
/….
i
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1
A.
Latar Belakang
1
B.
Maksud dan Tujuan
1
C.
Lingkup Pembahasan Juknis
2
D.
Dasar Hukum Penyusunan Juknis
2
E.
BAB II
Sistematika Penulisan
GAMBARAN UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
2
3
A.
Pengertian Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
3
B.
Dasar Hukum Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
10
C.
Etika dan Prinsip Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
10
D.
Proses Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
11
E.
Permasalahan dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
15
BAB III PETUNJUK PEMERIKSAAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
17
A.
Petunjuk Umum
17
B.
Petunjuk Perencanaan Pemeriksaaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
18
C.
Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
21
D.
BAB IV
Petunjuk Pelaporan Hasil Pemeriksaaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU
23
26
A.
Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu
26
B.
Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu
26
C.
Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu
28
D.
Pendokumentasian Pengendalian dan Penjaminan Mutu
29

BAB V

PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

29

A. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan

29

B. Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut

29

C. Reviu atas Jawaban/Keterangan Manajemen Entitas

30

D. Pelaporan atas Pemantauan Tindak Lanjut

30

E. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaaan

30

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Lampiran

BAB VI

PENUTUP

31

A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

31

B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

31

C. Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

31

REFERENSI Daftar Singkatan Dan Akronim Daftar Istilah (Glosarium) Lampiran Tim Penyusun

Singkatan Dan Akronim Daftar Istilah (Glosarium) Lampiran Tim Penyusun Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan ii

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Lampiran

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran III.1 : Pemahaman Tujuan dan Harapan Penugasan Lampiran III.2 : Pemahaman Entitas Lampiran III.3
Lampiran III.1
:
Pemahaman Tujuan dan Harapan Penugasan
Lampiran III.2
:
Pemahaman Entitas
Lampiran III.3
:
Identifikasi Resiko
Lampiran III.4
:
Pengujian Ketaatan SPI
Lampiran III.5
:
Penetapan Kriteria Pemeriksaan
Lampiran III.6
:
Titik Kritis dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Lampiran III.7
:
Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan
Lampiran III.8
:
Pengujian Terinci Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
Lampiran IV.1
:
Review Sheet
Lampiran IV.2
:
Laporan Perkembangan Pelaksanaan Pemeriksaan
Lampiran IV.3
:
Lembar Kendali Penyelesaian Laporan (LKPL)
Lampiran IV.4
:
Checklist Penjaminan Mutu Pemeriksaan
Lampiran V.1
:
Pemantauan Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Lampiran

Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Daftar Lampiran Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan iv

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

BAB I
BAB I

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab I

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

01 Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, salah satu lingkup pemeriksaan BPK adalah melaksanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dengan prosedur eksaminasi seperti pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah.

Latar belakang

pemeriksaan

barang/jasa

pemerintah

Latar belakang pemeriksaan barang/jasa pemerintah 02 Pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan bagian dari

02 Pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan aset (manajemen aset) yang dilakukan untuk menyediakan kebutuhan barang dan jasa guna menunjang kelancaran dan keberhasilan pelaksanaan tugas pemerintahan di tingkat pusat dan daerah termasuk Badan Usaha Milik Negara/Daerah dan Badan Hukum Milik Negara, dengan menggunakan APBN dan APBD khususnya anggaran yang menjadi beban keuangan negara/daerah.

03 Pemeriksaan terhadap kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah dilakukan oleh BPK dalam kaitannya dengan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan negara. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK-RI, pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah rawan terhadap tindak pidana korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menimbulkan indikasi kerugian negara yang cukup signifikan.

04 Hal tersebut diatas menjadi tuntutan bagi BPK selaku pemeriksa keuangan negara untuk mewaspadai segala bentuk perbuatan yang merugikan negara. Terkait dengan itu, perlu diuji apakah peraturan dan ketentuan pengadaan barang/jasa pemerintah sudah dipatuhi sehingga pengadaan barang/jasa pemerintah terlaksana secara ekonomis dan efisien.

05 Pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah yang dilakukan sampai saat ini masih menggunakan Pedoman Umum Pemeriksaan atas Barang dan Jasa yang ditetapkan dengan SK Sekjen BPK RI No. 63/SK/VIII- VIII.3/4/2001 tanggal 19 April 2001. Sesuai dengan situasi yang berkembang, pedoman tersebut sudah tidak sesuai lagi dengan peraturan dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku saat ini. Sehingga dipandang perlu untuk menyempurnakan pedoman tersebut sesuai dengan perubahan peraturan perundangan-undangan yang berlaku dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah.

B.

Maksud dan Tujuan

06 Maksud penyusunan petunjuk teknis pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah ini adalah untuk memberikan pedoman yang mutakhir bagi pemeriksa dalam penyusunan program pemeriksaan dan pelaksanaan pemeriksaan di lapangan sehingga terdapat kesamaan tindakan dan diperoleh mutu pemeriksaan yang tinggi. Tujuan penyusunan petunjuk teknis tersebut adalah untuk:

1. pemahaman atas pemeriksaan pengadaan barang/jasa

Menyamakan

pemerintah;

Juknis ini

bermaksud

memberikan

pedoman bagi

pemeriksa.

2. Memberikan pedoman kepada pemeriksa dalam melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan hasil pemeriksaan;

3. Mengefektifkan pelaksanaan pemeriksaan agar mencapai hasil

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab I

pemeriksaan yang optimal sesuai dengan standar pemeriksaan.

C. Lingkup Pembahasan Juknis

07 Petunjuk teknis pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah ini digunakan dalam rangka pemeriksaan atas:

1. Pengadaan barang/jasa pemerintah dengan lingkup kebijakan dan kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah yang menggunakan sumber dana APBN dan APBD.

2. Pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri (PHLN) yang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa pemerintah dari pemberi pinjaman/hibah bersangkutan.

Lingkup

Pembahasan

Juknis

pinjaman/hibah bersangkutan. Lingkup Pembahasan Juknis Dasar Hukum Penyusunan Juknis 3. Pengadaan barang/jasa

Dasar Hukum

Penyusunan Juknis

3. Pengadaan barang/jasa pemerintah untuk investasi di lingkup BI, BHMN, BUMN, BUMD yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD.

D.

Dasar Hukum Penyusunan Juknis

08

Dasar hukum penyusunan juknis ini adalah:

1. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4400);

2. Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 4654);

3. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 4707); 4. Surat Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 31/SK/I- VIII.3/8/2006 tanggal 31 Agustus 2006 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan, Keputusan, dan Naskah Dinas Pada Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia;

5. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 39/K/I-VIII.3/7/2007 tanggal 13 Juli 2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia;

6. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1/K/I-XIII.2/2/2008 tanggal 19 Februari 2008 tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan.

E. Sistematika Penulisan

09 Petunjuk teknis ini disusun menurut sistematika sebagai berikut:

Bab I

:

Pendahuluan

Bab II

:

Gambaran Umum Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab III

:

Petunjuk Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab IV

:

Pengendalian dan Penjaminan Mutu

Bab V

:

Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan

Bab VI

:

Penutup

Sistematika

penulisan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab I

Referensi

Lampiran-Lampiran

Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Bab I Referensi Lampiran-Lampiran Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

BAB II
BAB II

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

BAB II

GAMBARAN UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

A. Pengertian Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

01 Pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan bagian dari kegiatan pengelolaan barang milik negara/daerah sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 yang merupakan dasar pelaksanaan pengelolaan barang milik negara/daerah. Ruang lingkup pengelolaan barang milik negara/daerah meliputi semua aktivitas yang berkaitan dengan barang milik negara/daerah terdiri dari perencanaan kebutuhan dan penganggaran, pengadaan, penggunaan, pemanfaatan, pengamanan dan pemeliharaan, penilaian, penghapusan, pemindahtanganan, penatausahaan, pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

Pengadaan

barang/jasa

pemerintah

bagian dari

pengelolaan

Barang adalah benda dalam berbagai bentuk dan uraian, yang meliputi bahan baku, barang setengah jadi,
Barang adalah benda dalam berbagai bentuk dan uraian, yang meliputi
bahan baku, barang setengah jadi, dan barang jadi/peralatan, yang
spesifikasinya ditetapkan oleh pejabat pembuat komitmen sesuai penugasan
Kuasa Pengguna Anggaran.
Jasa Pemborongan adalah layanan pekerjaan pelaksanaan konstruksi atau
wujud fisik lainnya yang perencanaan teknis dan spesifikasinya ditetapkan
Pejabat Pembuat Komitmen sesuai penugasan Kuasa Pengguna Anggaran
dan proses serta pelaksanaannya diawasi oleh Pejabat Pembuat Komitmen.
Jasa Konsultansi adalah layanan jasa keahlian profesional dalam berbagai
bidang meliputi jasa perencanaan konstruksi, jasa pengawasan konstruksi,
dan jasa pelayanan profesi lainnya, dalam rangka mencapai sasaran tertentu
yang keluarannya berbentuk piranti lunak yang disusun secara sistematis
berdasarkan kerangka acuan kerja yang ditetapkan Pejabat Pembuat
Komitmen sesuai penugasan Kuasa Pengguna Anggaran.
Jasa lainnya, adalah segala pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain jasa
konsultansi, jasa pemborongan, dan pemasokan barang.

barang milik

Negara/Daerah

02 Pengadaan barang/jasa pemerintah adalah kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dibiayai dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.

Definisi

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

03 Pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi beberapa jenis pengadaan, yaitu:

Jenis pengadaan

barang, jasa pemborongan, jasa konsultansi dan jasa lainnya yang pengertiannya sebagai berikut:

1.

barang/jasa

pemerintah

2.

3.

4.

04 Pihak-pihak yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah adalah :

1. Pengguna Anggaran (PA) Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah;

2. Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Kuasa Pengguna Anggaran adalah pejabat yang ditunjuk oleh Pengguna Anggaran untuk menggunakan anggaran Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah;

3. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Pejabat Pembuat Komitmen adalah pejabat yang diangkat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran/Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI)/Pemimpin Badan Hukum Milik Negara (BHMN)/Direksi Badan Usaha Milik Negara (BUMN)/Direksi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) sebagai

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

pemilik pekerjaan, yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa;

4. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Di pemerintah daerah, pejabat Pengguna Anggaran atau Kuasa Pengguna anggaran dapat menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan. PPTK adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya.

5. Panitia Pengadaan Panitia pengadaan adalah tim yang diangkat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran/Dewan Gubernur BI/Pimpinan BHMN/Direksi BUMN/Direksi BUMD, untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa.

05

6. Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) Unit Layanan Pengadaan (Procurement Unit) adalah satu unit yang terdiri dari pegawai-pegawai yang telah memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa pemerintah, yang dibentuk oleh Pengguna Anggaran/Gubernur/Bupati/Walikota/Dewan Gubernur BI/Pimpinan BHMN/Direksi BUMN/Direksi BUMD yang bertugas secara khusus untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa di lingkungan Departemen/Lembaga/Sekretariat Lembaga Tinggi Negara/Pemerintah Daerah/Komisi/BI/BHMN/BUMN/BUMD.

7. Pejabat Pengadaan Pejabat Pengadaan adalah 1 (satu) orang yang diangkat Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran/Dewan Gubernur BI/Pimpinan BHMN/Direksi BUMN/Direksi BUMD untuk melaksanakan pengadaan barang/jasa dengan nilai sampai dengan Rp 50.000.000 (Lima puluh juta rupiah);

8. Penyedia Barang/Jasa Penyedia barang/jasa adalah badan usaha/orang perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/layanan jasa.

Beberapa pengertian mengenai cara pelaksanaan berdasarkan jenis pengadaan barang/jasa pemerintah pemborongan/jasa lainnya dan jasa konsultansi, adalah sebagai berikut:

1.

Pengadaan barang/jasa pemerintah pemborongan/jasa lainnya Pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya pada
Pengadaan barang/jasa pemerintah pemborongan/jasa lainnya
Pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya pada prinsipnya
dilakukan melalui pelelangan umum, dimana pemilihan penyedia
barang/jasa ini dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara luas
sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau satu surat kabar
provinsi.
Selain metoda pelelangan umum, pemilihan penyedia barang/jasa
pemborongan/jasa lainnya dapat juga dilakukan sebagai berikut:
a.

Pelelangan Terbatas Dalam hal jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pelelangan terbatas dan diumumkan secara luas sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau satu surat kabar provinsi dengan mencantumkan penyedia barang/jasa yang mampu, guna memberi kesempatan kepada penyedia barang/jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi;

b. Pemilihan langsung Dalam hal metoda pelelangan umum atau pelelangan terbatas dinilai tidak efisien dari segi biaya pelelangan, maka pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan metoda pemilihan langsung, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan dengan membandingkan

Pemilihan

penyedia

barang/jasa

pemborongan/ jasa

lainnya

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

2.

sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui internet;

Penunjukan langsung Dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus, pemilihan penyedia barang/jasa dapat dilakukan dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. Kriteria penunjukan langsung dalam keadaan tertentu dan dalam keadaan khusus yang ditentukan dalam Keputusan Presiden (Keppres) No. 80 Tahun 2003 telah mengalami perubahan beberapa kali, terakhir dengan Peraturan Presiden (Perpres) No. 95 Tahun 2007 (sampai dengan 20 Oktober 2008).

c.

Pengadaan jasa konsultansi Pemilihan penyedia jasa konsultansi pada prinsipnya harus dilakukan melalui seleksi umum.
Pengadaan jasa konsultansi
Pemilihan penyedia jasa konsultansi pada prinsipnya harus dilakukan
melalui seleksi umum. Seleksi umum merupakan metoda pemilihan
penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek (short-list) pesertanya dipilih
melalui proses prakualifikasi yang diumumkan secara luas sekurang-
kurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau satu surat kabar provinsi.
Selain metoda seleksi umum, pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat juga
dilakukan sebagai berikut:
a.
Seleksi terbatas
Merupakan metoda pemilihan penyedia jasa konsultansi untuk pekerjaan
yang kompleks dan diyakini jumlah penyedia jasa yang mampu
melaksanakan pekerjaan tersebut jumlahnya terbatas, dan diumumkan
secara luas sekurang-kurangnya di satu surat kabar nasional dan/atau
satu surat kabar provinsi dengan mencantumkan penyedia jasa yang
mampu guna memberikan kesempatan kepada penyedia jasa lainnya
yang memenuhi kualifikasi;
b.
Seleksi langsung
Dalam hal metoda seleksi umum atau seleksi terbatas dinilai tidak
efisien dari segi biaya seleksi, maka pemilihan penyedia jasa konsultansi
dapat dilakukan dengan seleksi langsung, yaitu: metoda pemilihan
penyedia jasa konsultansi yang daftar pendek pesertanya ditentukan
melalui proses prakualifikasi terhadap penyedia jasa konsultansi yang
dipilih langsung dan diumumkan sekurang-kurangnya di papan
pengumuman resmi untuk penerangan umum dan diupayakan
diumumkan di website pengadaan nasional;
c.
Penunjukan langsung
Dalam keadaan tertentu dan khusus, pemilihan penyedia jasa konsultansi
dapat dilakukan dengan menunjuk satu penyedia jasa konsultansi yang
memenuhi kualifikasi dan dilakukan negosiasi baik dari segi teknis
maupun biaya sehingga diperoleh biaya yang wajar dan secara teknis
dapat dipertanggungjawabkan.
Kriteria penunjukan langsung dalam keadaan tertentu dan dalam
keadaan khusus yang ditentukan dalam Keppres No. 80 Tahun 2003
telah mengalami perubahan beberapa kali, terakhir dengan Perpres No
95 Tahun 2007 (sampai dengan 20 Oktober 2008).

Pemilihan

Penyedia Jasa

Konsultansi

06 Keadaan tertentu dan keadaan khusus antara lain penanganan darurat untuk pertahanan negara, keamanan dan keselamatan masyarakat yang pelaksanaan pekerjaannya tidak dapat ditunda/harus dilakukan segera, termasuk penanganan darurat akibat bencana alam serta tindakan darurat untuk pencegahan bencana

Kriteria

penunjukan

langsung untuk

penanganan

darurat

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

dan/atau kerusakan infrastruktur yang apabila tidak segera dilaksanakan dipastikan dapat membahayakan keselamatan masyarakat. Penanganan darurat bukan dalam bentuk bangunan/konstruksi yang permanen, akan tetapi dalam bentuk bangunan/konstruksi sementara, yang dicontohkan sebagai berikut:

1. Penyediaan karung pasir yang digunakan sebagai tanggul pencegah banjir;

2. Pembangunan jembatan kayu yang digunakan sebagai pengganti jembatan permanen yang rusak akibat banjir;

07 Dalam pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dan jasa konsultansi dapat dipilih salah 1 (satu) dari 3 (tiga) metoda penyampaian dokumen penawaran berdasarkan jenis barang/jasa yang akan diadakan meliputi:

Metoda Satu Sampul Penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi, teknis dan penawaran harga yang dimasukkan dalam 1 (satu) sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan. Metoda ini lebih tepat digunakan untuk pekerjaan pengadaan barang/jasa pemerintah lainnya yang bersifat sederhana dan spesifikasi teknisnya jelas atau pengadaan dengan standar harga yang telah ditetapkan pemerintah atau pengadaan barang/jasa yang spesifikasi teknis atau volumenya dapat dinyatakan secara jelas dalam dokumen pengadaan.

Metoda penyampaian dokumen penawaran penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya dan jasa konsultansi

1.

Metoda Dua Sampul Penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul
Metoda Dua Sampul
Penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis
dimasukkan dalam sampul tertutup I, sedangkan harga penawaran
dimasukkan dalam sampul tertutup II, selanjutnya sampul I dan sampul II
dimasukkan ke dalam I (satu) sampul (sampul tertutup) dan disampaikan
kepada panitia/pejabat pengadaan.
Metoda ini untuk pengadaan yang memerlukan evaluasi teknis yang lebih
mendalam terhadap penawaran yang disampaikan oleh para penyedia
barang/jasa dan lebih tepat digunakan untuk pengadaan peralatan dan mesin
yang tidak sederhana.
Metoda Dua tahap
Penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis
dimasukkan dalam sampul tertutup I, sedangkan harga penawaran
dimasukkan dalam sampul tertutup II, yang penyampaianya dilakukan dalam
2 (dua) tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda.
Metoda ini digunakan untuk pengadaan barang/jasa yang menggunakan
teknologi tinggi, kompleks dan resiko tinggi dan/atau yang mengutamakan
tercapainya kriteria kinerja tertentu dari keseluruhan sistem termasuk
pertimbangan kemudahan atau efisiensi pengoperasian dan pemeliharaan
peralatannya dan/atau yang mempunyai alternatif penggunaan sistem dan
desain penerapan teknologi yang berbeda serta yang memerlukan
penyesuaian kriteria teknis untuk menyetarakan spesifikasi teknis di antara
penawar sesuai yang disyaratkan pada dokumen pengadaan.

2.

3.

08 Metoda evaluasi penawaran dalam pemilihan penyedia barang/jasa

pemborongan/jasa lainnya dapat dipilih salah 1 (satu) dari 3 (tiga) metoda evaluasi penawaran yang meliputi :

1. Sistem Gugur Evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi, persyaratan teknis dan kewajaran harga, terhadap penyedia barang/jasa yang tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan gugur. Metoda ini digunakan pada hampir seluruh pengadaan barang/jasa

Metoda evaluasi

penawaran

penyedia

barang/jasa

pemborongan/jasa

lainnya

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

09

pemerintah pemborongan/jasa lainnya.

2. Sistem Nilai Evaluasi penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. Metoda ini digunakan untuk pengadaan barang/jasa pemerintah pemborongan/jasa lainnya yang memperhitungkan keunggulan teknis sepadan dengan harganya, mengingat penawaran sangat dipengaruhi dengan kualitas teknisnya.

3. Sistem Penilaian Biaya Selama Umur Ekonomis Evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai pada unsur- unsur teknis dan harga yang dinilai menurut umur ekonomis barang yang ditawarkan berdasarkan kriteria dan nilai yang ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, kemudian nilai unsur tersebut dikonversi ke dalam satuan mata uang tertentu, dan dibandingkan dengan jumlah nilai setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya. Metoda ini digunakan untuk pengadaan barang/peralatan yang memperhitungkan umur ekonomis, harga, biaya operasi dan pemeliharaan, dalam jangka waktu operasi tertentu.

Metoda Evaluasi Kualitas Evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis terbaik, dilanjutkan
Metoda Evaluasi Kualitas
Evaluasi penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis
terbaik, dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya.
Metoda ini digunakan untuk pengadaan jasa konsultansi yang kompleks dan
menggunakan teknologi yang tinggi.
Metoda Evaluasi Kualitas dan Biaya
Evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan nilai kombinasi terbaik
dari penawaran teknis dan biaya terkoreksi dilanjutkan dengan klarifikasi
dan negosiasi teknis serta biaya.
Metoda ini digunakan untuk pekerjaan yang lingkup, keluaran, waktu
penugasan, dan hal-hal lain dapat diperkirakan dengan baik dalam Kerangka
Acuan Kerja (KAK), serta besarnya biaya dapat ditentukan dengan tepat.
Metoda Evaluasi Pagu Anggaran
Evaluasi pengadaan jasa konsultansi berdasarkan kualitas penawaran teknis
terbaik dari peserta yang penawaran biaya terkoreksinya lebih kecil atau
sama dengan pagu anggaran, dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi
teknis serta biaya.
Metoda ini digunakan untuk pekerjaan sederhana dan dapat didefinisikan
dan diperinci dengan tepat, meliputi: waktu penugasan, kebutuhan tenaga
ahli dan input lainnya serta anggarannya tidak melampaui pagu tertentu.

Dalam pemilihan penyedia jasa konsultansi dapat dipilih salah 1 (satu) dari 5

Metoda evaluasi

(lima) metoda evaluasi penawaran berdasarkan jenis jasa konsultansi yang akan diadakan dan harus dicantumkan dalam dokumen seleksi yaitu:

1.

penyedia jasa

konsultansi

2.

3.

4.

5.

Metoda Evaluasi Biaya Terendah Evaluasi pengadaan barang/jasa pemerintah konsultansi berdasarkan penawaran biaya terkoreksinya terendah dari konsultan yang nilai penawaran teknisnya di atas ambang batas persyaratan teknis yang telah ditentukan, dilanjutkan dengan klarifikasi dan negosiasi teknis serta biaya. Metoda ini digunakan untuk pekerjaan yang bersifat sederhana dan standar.

Metoda Evaluasi Penunjukan Langsung Evaluasi terhadap hanya satu penawaran jasa konsultansi berdasarkan kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar setelah dilakukan klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya. Metoda ini digunakan untuk evaluasi hanya satu penawaran berdasarkan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

kualitas teknis yang dapat dipertanggungjawabkan dan biaya yang wajar.

10 Pengadaan secara swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri. Swakelola dapat dilaksanakan oleh PPK/PA/KPA, instansi pemerintah lain, atau kelompok masyarakat/Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) penerima hibah. Pekerjaan yang dapat dilaksanakan dengan swakelola adalah:

1. Pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan teknis sumber daya manusia instansi pemerintah yang bersangkutan dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok PPK; dan/atau;

2. Pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi masyarakat setempat; dan/atau;

3. Pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh penyedia barang/jasa; dan/atau

Swakelola

4.

5.

6.

7.

8.

Pekerjaan yang secara rinci/detail tidak dapat dihitung/ditentukan terlebih dahulu, sehingga apabila dilaksanakan oleh
Pekerjaan yang secara rinci/detail tidak dapat dihitung/ditentukan terlebih
dahulu, sehingga apabila dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa akan
menanggung resiko yang besar;dan/atau
Penyelenggaraan diklat, kursus, penataran, seminar, lokakarya atau
penyuluhan; dan/atau
Pekerjaan untuk proyek percontohan (pilot project) yang bersifat khusus
untuk pengembangan teknologi/metoda kerja yang belum dapat
dilaksanakan oleh penyedia barang /jasa;dan/atau
Pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data, perumusan kebijakan
pemerintah, pengujian di laboratorium, pengembangan sistem dan penelitian
oleh perguruan tinggi/lembaga ilmiah pemerintah;
Pekerjaan yang bersifat rahasia bagi instansi PPK yang bersangkutan.
www.adb.org/documents/guidelines;
www.jbic.or.id\id\pdf\procurement_guidelines;
Web.worldbank.org;
www.ifad.org.

11 Keppres No.80 Tahun 2003 mengenai pengadaan barang/jasa pemerintah juga berlaku untuk pengadaan barang/jasa pemerintah yang sebagian atau seluruhnya dibiayai dari PHLN sepanjang sesuai atau tidak bertentangan dengan pedoman dan ketentuan pengadaan barang/jasa pemerintah dari pemberi pinjaman/hibah. Beberapa Guidelines for Procurement dari beberapa lembaga pemberi pinjaman/hibah dapat di akses pada alamat berikut:

1.

2.

3.

4.

5.

Pengadaan

barang/jasa

pemerintah yang

dibiayai

pinjaman/hibah

12 Untuk meningkatkan transparansi dan percepatan, pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilakukan dengan pengadaan elektronik (e-procurement). E- procurement adalah pengadaan barang/jasa pemerintah yang menggunakan sarana elektronik (internet, Electronic Data Interchange dan e-mail) yang tujuannya adalah memudahkan sourcing, proses pengadaan,dan pembayaran; komunikasi on-line antara pembeli dan penyedia barang/jasa; mengurangi biaya proses dan administrasi pengadaan; menghemat biaya dan mempercepat proses. E-procurement merupakan salah satu bentuk transaksi elektronik dan merupakan perbuatan hukum sehingga dokumen elektronik dan atau hasil cetakannya dapat dijadikan sebagai alat bukti hukum yang sah. Secara nasional, terdapat Lembaga Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) yang menyediakan pelayanan pengadaan secara elektronik, akan tetapi e-procurement masih dalam tahap pengembangan aplikasi, meski demikian langkah-langkah yang diterapkan dalam pelaksanaan e–procurement tetap mengacu kepada Keppres 80 tahun 2003 dan perubahannya. Sebagai salah satu bentuk perlindungan keamanan dalam penggunaan aplikasi,

E-procurement

merupakan

penggadaan

barang/jasa

pemerintah

menggunakan

sarana eletronik

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

para pengguna aplikasi (baik pihak yang memerlukan barang/jasa, dan penyedia barang/jasa) mempunyai password dan account tersendiri untuk dapat mengakses aplikasi e-procurement.

account tersendiri untuk dapat mengakses aplikasi e-procurement. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan hal 9

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

13 Bentuk perikatan antara PPK/PA/KPA dengan penyedia barang/jasa menurut Keppres Nomor 80 Tahun 2003 dapat dibedakan sebagai berikut:

1.

Berdasarkan bentuk imbalan, sebagai berikut:

Bentuk perikatan

dalam kontrak

pengadaan

barang/jasa

Berdasarkan

bentuk imbalan

a.

Kontrak lumpsum Kontrak lumpsum adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemerintah atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu, dengan jumlah harga yang pasti dan tetap, dan semua resiko yang mungkin terjadi dalam proses penyelesaian pekerjaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia barang/jasa. Sistem ini lebih tepat digunakan untuk pembelian barang dengan contoh yang jelas, atau untuk jenis pekerjaan borongan yang perhitungan volumenya untuk masing-masing unsur/jenis pekerjaan sudah dapat diketahui dengan pasti berdasarkan gambar rencana dan spesifikasi teknisnya;

b. Kontrak harga satuan (unit price) Kontrak harga satuan (unit price)adalah kontrak pengadaan barang/jasa pemerintah
b. Kontrak harga satuan (unit price)
Kontrak harga satuan (unit price)adalah kontrak pengadaan barang/jasa
pemerintah atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu
tertentu, berdasarkan harga satuan yang pasti dan tetap untuk setiap
satuan/unsur pekerjaan dengan spesifikasi teknis tertentu, yang volume
pekerjaannya masih bersifat perkiraan sementara, sedangkan
pembayarannya didasarkan pada hasil pengukuran bersama atas volume
pekerjaan yang benar-benar telah dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa;
c. Kontrak gabungan lumpsum dan harga satuan
Kontrak gabungan lumpsum dan harga satuan adalah kontrak yang
merupakan gabungan lumpsum dan harga satuan dalam satu pekerjaan
yang diperjanjikan.;
d. Kontrak terima jadi (turn key)
Kontrak terima jadi (turn key) adalah kontrak pengadaan barang/jasa
pemerintah pemborong atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas
waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh
bangunan/konstruksi, peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya
dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah
ditetapkan.
Sistem ini lebih tepat digunakan untuk membeli suatu barang atau industri
jadi yang hanya diperlukan sekali saja, dan tidak mengutamakan
kepentingan untuk alih teknologi selanjutnya;
e. Kontrak Persentase
Kontrak Persentase adalah kontrak pelaksanaan jasa konsultansi dibidang
konstruksi atau pekerjaan pemborong tertentu, dimana konsultan yang
bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase tertentu dari
nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut;
Berdasarkan jangka waktu pelaksanaan, sebagai berikut:

a. Kontrak Tahun Tunggal Kontrak Tahun Tunggal adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa 1 (satu) tahun anggaran;

b. Kontrak Tahun Jamak Kontrak Tahun Jamak adalah kontrak pelaksanaan pekerjaan yang mengikat dana anggaran untuk masa lebih dari 1 (satu) tahun anggaran yang dilakukan atas persetujuan oleh Menteri Keuangan untuk pengadaan yang dibiayai APBN, Gubernur untuk pengadaan yang dibiayai APBD Propinsi, Bupati/Walikota untuk pengadaan yang dibiayai APBD Kabupaten/Kota, Kepala Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias Provinsi Sumatera Utara untuk

pengadaan yang dibiayai APBN dalam rangka kegiatan rehabilitasi dan

Badan Pemeriksa Keuangan

2.

Berdasarkan

jangka waktu

pelaksanaan

Direktorat Litbang

hal 10

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

B . Dasar Hukum Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

14 Pengadaan barang/jasa pemerintah diatur dalam beberapa peraturan perundang- undangan dan atau ketentuan sebagai berikut:

1. Undang-Undang 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Keppres 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/ jasa pemerintah beserta perubahannya yaitu:

2.

Dasar hukum

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

a. Keppres No.61 Tahun 2004;

No. 32 Tahun 2005;

b. Pepres

c. Perpres No.70 Tahun 2005;

d.

Perpres No. 8 Tahun 2006;

e. Perpres No.79 Tahun 2006; f. Perpres No. 85 Tahun 2006; g. Perpres No. 95
e. Perpres No.79 Tahun 2006;
f. Perpres No. 85 Tahun 2006;
g. Perpres No. 95 Tahun 2007.
Naskah Perjanjian Pinjaman/Hibah Luar Negeri (NPPHLN) dan kredit
ekspor atau kerja sama perdagangan.
SE Bersama BAPPENAS dan Departemen Keuangan No. 1203/D.II/03/200
SE-38/A/2000
tanggal …. tentang Petunjuk Penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB)
untuk jasa konsultansi
Aturan perundang-undangan yang berlaku pada departemen terkait.
Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggungjawab untuk
mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan
barang/jasa;
Bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran, serta menjaga
kerahasiaan dokumen pengadaan barang/jasa pemerintah yang seharusnya
dirahasiakan untuk mencegah terjadinya penyimpangan dalam pengadaan
barang/jasa pemerintah;
Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk
mencegah dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat;
Menerima dan bertanggugjawab atas segala keputusan yang ditetapkan
sesuai dengan kesepakatan para pihak;
Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak
yang terkait, langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan
barang/jasa pemerintah (conflict of interest);

3.

4.

5.

C

. Etika dan Prinsip Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

15 Dalam melaksanakan pengadaan barang/jasa pemerintah ada etika yang harus dipatuhi oleh pelaksana yang mengadakan pengadaan barang/jasa pemerintah, etika tersebut adalah sebagai berikut:

1.

2.

Etika pengadaan

barang/jasa

pemerintah

3.

4.

5.

6. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara dalam pengadaan barang/jasa pemerintah;

7. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan negara;

8. Tidak menerima, tidak menawarkan, atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah atau imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa pemerintah.

16 Pengadaan barang/jasa harus dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip yang dipraktikkan secara internasional yaitu prinsip efisien, efektif, terbuka dan

Prinsip-prinsip

pengadaan

barang/jasa

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

bersaing, transparan, adil/tidak diskriminasi dan akuntabel. Pengertian masing-masing prinsip tersebut, sebagai berikut:

pemerintah

1.

Efisien Pengadaan barang/jasa pemerintah harus diusahakan dengan menggunakan dana dan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran yang ditetapkan dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat dipertanggungjawabkan;

Efektif Pengadaan barang/jasa pemerintah harus sesuai dengan dengan kebutuhan yang telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai dengan yang ditetapkan;

Terbuka dan bersaing Pengadaan barang/jasa pemerintah harus terbuka bagi penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan, dilakukan melalui persaingan yang sehat di antara para penyedia barang/jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan;

2.

3.

Transparan Semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa pemerintah, termasuk syarat teknis administrasi
Transparan
Semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/jasa
pemerintah, termasuk syarat teknis administrasi pengadaan, tata cara
evaluasi, hasil evaluasi, serta penetapan calon penyedia barang/jasa yang
berminat maupun masyarakat luas pada umumnya;
Adil/tidak diskriminatif
Memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon penyedia barang/jasa
dan tidak mengarah untuk memberikan keuntungan kepada pihak tertentu
dengan cara dan/atau alasan apapun;
Akuntabel
Pengadaan barang/jasa pemerintah harus mencapai sasaran baik fisik,
keuangan maupun manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum
pemerintahan dan pelayanan masyarakat sesuai dengan prinsip-prinsip dan
ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang/jasa pemerintah.

4.

5.

6.

D . Proses Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

17 Proses Pengadaan adalah rangkaian kegiatan untuk mencapai kesepakatan harga dan kesepakatan lainnya dalam rangka memperoleh layanan jasa konsultansi, layanan jasa pemborongan/barang/jasa lainnya. Kesepakatan-kesepakatan tersebut, dituangkan ke dalam dokumen perjanjian yang lazimnya disebut kontrak.

Definisi proses

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

18 Secara umum proses pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dikelompokkan dalam dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Proses pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dilihat dalam bagan alur pada gambar berikut :

Tahap pengadaan

barang/jasa

pemerintah

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

19

TAHAP PROSES PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

PERSIAPAN PELAKSANAAN M eren can aka n Membentuk M en etap kan Sistem M en
PERSIAPAN
PELAKSANAAN
M eren can aka n
Membentuk
M en etap kan Sistem
M en yu su n Jad w al
M
en yu su n D o ku men
M elaks an aka n
M el ak sa n aka n
M en yu su n H PS/OE
M en yu su n K o n trak
Pen g ad aa n
Pan i ti a
Pen g ad aa n
Pen g ad aan
Pen g ad aa n
Pen g ad aa n
Kontrak
1 . Pem buatanjadw al
1.
Dokumen
kontrak
1. Pan itia
1 .Pem b u atan /
1 . M er en ca n aka n
Pemak etan
Peke rjaa n
1.D o ku men
1. Pakta I n teg r i tas
1.M eto d e
Pem ilih an
1.
Pen an d atan g an an
dise suaika n dengan
harus
berbahasa
Pen g ad aa n
p
en yu su n an H PS
Pen ye d ia B aran g/
p
en g ad aa n
ko n tr ak
w ak tu yg
Indonesia
d ian g kat o leh PA/
o
leh p an i ti a p erso n el
Ja
d
isiap kan o leh
sa diperluka n
&
KPA
yg mem ah ami d an
Pan itia
d an
d i
m em perhatika n
d isah ka n o leh PPK
2.Pen g u mu man
alokas i waktu yang
sah kan o leh
PPK
2.
Kontrak
>
Rp
50
p
en g ad aa n
d i su r at
2.
Pel ak sa n aan
diperluka n untuk
milyar
perlu
2.
M
er en can ak an
kab ar p ro p in si d an
tiap
tahapan
Kontrak Barang/
2.
M eto d e
pertimbangan
ahli
Jad wal
Pel ak sa n aan
2.
U
n su r Pan itia:
prose s
pengadaan
atau su rat ka b ar
Jas a
Pen yam p ai an
2.Sudah harus
hukum kontrak
n
as io n al
-
Perso n il
yan g
d o ku men
2.Nilai jaminan
d
i p er h i tu n g kan
Pek er jaan
p
ah am
tatac ar a
p en awar an
penawaran
2.Jadw al pengadaa n
p
en g g u n aa n
p
en g ad aan
ditetapkan
m
ulai
dari
3.
Jangka
waktu
p
r o d u ksi d alam
-
Su b stan si
Panitia(1- 3%)
pengum uman s /d
negeri
3.M en g h ap u ska n
pelaksanaan tidak
p
eker jaa n
penunjukan
3. M eto d e eva lu asi
seg men tasi
boleh
melampaui
th
3.
B
iaya Pen g ad aa n
-
B id an g
lai n
yan g
penye dia
barang /
3.Dokumen Lelang /
p en awar an
anggaran
d
ip erlu kan
jasa
RKS
4.Memperluas kompetisi
4. Pel ak sa n a
Pen g ad aa n
4 . Untuk
kontrak
yang
4. Jen is K o n trak
pelaksanaan
pekerjaannya
melampaui
akhir
th
5.
M en g u mu mka n
anggaran perlu
izin
p
ak et
multiyear
dari
p
en g ad aa n
Menkeu
cq.
DJ
Anggaran
5 . Masa
boleh
pemeliharaan
melampaui
tahun anggaran
a. Perencanaan Pengadaan barang/jasa pemerintah
Perencanaan pengadaan barang /jasa pemerintah merupakan tahap awal
kegiatan yang peranannya sangat strategik dan menentukan. Kegiatan ini
bertujuan untuk mempersiapkan secara detail mengenai hal sebagai
berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
Merencanakan Pemaketan Pekerjaan
Merencanakan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan
Biaya Pengadaan
Pelaksana Pengadaan
Mengumumkan Paket-Paket Pengadaan
b. Pembentukan Panitia Pengadaan atau Penunjukan Pejabat Pengadaan
Panitia pengadaan/pejabat pengadaan merupakan unsur pelaksana
pengadaan yang personilnya harus memahami tatacara pengadaan,
substansi pekerjaan dan bidang lain yang diperlukan. Panitia
pengadaan/pejabat pengadaan diangkat oleh PA/KPA.
c. Penetapan sistem pengadaan yang dilaksanakan penyedia barang/jasa
dengan mempertimbangkan jenis, sifat, dan nilai barang/jasa serta
kondisi lokasi, kepentingan masyarakat dan jumlah penyedia barang/jasa
yang ada, panitia/pejabat pengadaan bersama dengan PPK terlebih dahulu
harus menetapkan sistem pengadaan yang meliputi sebagai berikut:

Dari bagan alur tersebut, proses pengadaan barang/jasa pemerintah dapat dijabarkan secara rinci berikut ini:

1. Tahap persiapan pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi kegiatan:

1)

2)

3)

4)

Metode pemilihan penyedia barang/jasa Metode penyampaian dokumen penawaran Metode evaluasi penawaran Jenis Kontrak

Persiapan

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

d. Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan Penyusunan jadwal pelaksanaan pengadaan disesuaikan dengan waktu yg diperlukan & memperhatikan alokasi waktu yang diperlukan untuk tiap tahapan proses pengadaan. Jadwal pengadaan mulai dari pengumuman s/d penunjukan penyedia barang/jasa.

e. Penyusunan Harga Perhitungan Sendiri (HPS) Penyusunan HPS oleh panitia/ personel yg memahami dan disahkan oleh PPK dan harus diperhitungkan penggunaan produksi dalam negeri

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

f. Penyusunan Dokumen Pengadaan barang/jasa pemerintah Dokumen pengadaan disiapkan oleh Panitia dan di sahkan oleh PPK. Nilai jaminan penawaran ditetapkan Panitia (1% - 3%). Dokumen pengadaan untuk penyedia barang/jasa meliputi undangan,

petunjuk/instruksi kepada peserta lelang, syarat umum kontrak, syarat khusus kontrak, daftar kuantitas dan harga, spesifikasi teknis dan gambar, bentuk penawaran, bentuk kontrak, bentuk surat jaminan penawaran, bentuk surat jaminan pelaksanaan dan bentuk surat jaminan uang muka. Dokumen pengadaan untuk jasa konsultansi terdiri dari:

20

1)

Dokumen pemilihan penyedia jasa yang meliputi :

a) Surat Undangan;

b) KAK yang sudah disetujui PPK;

c) Rencana kerja dan syarat; Konsep kontrak;

d)

2) Dokumen prakualifikasi yang berupa formulir isian yang memuat data administrasi keuangan, personil dan pengalaman
2)
Dokumen prakualifikasi yang berupa formulir isian yang memuat data
administrasi keuangan, personil dan pengalaman kerja.
a. Pemilihan penyedia barang/jasa
Pemilihan penyedia barang/jasa pemborongan/jasa lainnya pada
prinsipnya dilakukan melalui Pelelangan Umum. Selain pelelangan umum,
pemilihan penyedia barang/jasa pemerintah dapat juga dilakukan melalui
Pelelangan Terbatas, Pemilihan Langsung dan Penunjukan Langsung,
dengan rincian tahapan sebagai berikut:
1)
Pelelangan Umum
a) Pengumuman dan Pendaftaran Peserta;
Panitia/Pejabat pengadaan harus mengumumkan secara luas
melalui media cetak, papan pengumuman resmi dan bila
memungkinkan melalui media elektronik.
b) Pasca Kualifikasi dan Prakualifikasi;
Penilaian kualifikasi atas kompetensi dan kemampuan usaha
peserta lelang dilakukan dengan Pasca Kualifikasi, untuk
pekerjaan yang kompleks dapat dilakukan dengan Prakualifiaksi.
c) Penyusunan Daftar Peserta Lelang, Penyampaian Undangan dan
Pengambilan Dokumen Pemilihan Penyedia Barang/Jasa;
Daftar peserta lelang yang disahkan oleh PPK harus diundang
untuk mengambil dokumen pemilihan penyedia barang/jasa dan
hanya penyedia barang/jasa yang diundang sebagai peserta lelang
yang diperkenankan memasukkan penawaran.
d) Penjelasan Lelang;
Penjelasan lelang dihadiri oleh para penyedia barang/jasa yang
terdaftar dalam daftar peserta lelang. Bila diperlukan
panitia/pejabat pengadaan dapat memberikan penjelasan dengan
melakukan peninjauan lapangan. Berita Acara Penjelasan (BAP)
harus ditandatangani oleh panitia/pejabat pengadaan dan minimal
1 (satu) wakil peserta yang hadir.

Penyampaian dan Pembukaan Dokumen Lelang; Metoda penyampaian dokumen penawaran yang akan digunakan harus dijelaskan pada waktu penjelasan. Pada akhir batas waktu penyampaian dokumen penawaran, panitia/pejabat pengadaan menolak dokumen penawaran yang terlambat dan/atau tambahan dokumen penawaran yang masuk. Saat pembukaan, panitia harus meminta kesediaan sekurang-kurangnya 2 (dua) wakil dari peserta lelang yang hadir sebagai saksi.

f) Evaluasi Penawaran; Evaluasi dilakukan terhadap semua penawaran masuk yang meliputi evaluasi administrasi, teknis dan harga.

g) Pembuktian Kualifikasi;

e)

2. Tahap pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah meliputi kegiatan:

Tahap Pelaksanaan

Pengadaan

barang/jasa

pemerintah

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

Pada penyedia barang/jasa yang diusulkan sebagai pemenang dan pemenang cadangan dilakukan verifikasi data dan informasi dengan meminta asli dokumen yang sah dan bila diperlukan dilakukan konfirmasi dengan pihak terkait.

h) Pembuatan Berita Acara Hasil Lelang; Panita/Pejabat Pengadaan membuat kesimpulan dari hasil evaluasi administrasi, teknis dan harga dalam Berita Acara Hasil Pelelangan (BAHP). BAHP memuat hasil pelaksanaan pelelangan dan bersifat rahasia sampai penandatanganan kontrak.

i) Penetapan Pemenang Lelang; Panitia/Pejabat Pengadaan membuat dan menyampaiakan laporan kepada PPK untuk menetapkan pemenang. Laporan disertai usulan calon pemenang lelang yang menguntungkan bagi negara.

Pengumuman Pemenang Lelang; Pemenang lelang diumumkan dan diberitahukan oleh panitia/pejabat pengadaan pada peserta selambat-lambatnya 2 (dua) hari kerja setelah diterima surat penetapan penyedia barang/jasa dari pejabat berwenang. Sanggahan Peserta Lelang dan Pengaduan Masyarakat; Keberatan atas penetapan pemenang lelang diberi kesempatan mengajukan sanggahan secara tertulis selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja setelah pengumuman pemenang lelang. Sanggahan disampaikan kepada pejabat yang menetapkan pemenang lelang disertai bukti penyimpangan dan untuk yang disampaikan bukan pada pejabat berwenang yang menetapkan pemenang dianggap sebagai pengaduan dan tetap harus ditindaklanjuti. Panitia/pejabat pengadaan wajib menyampaikan bahan-bahan yang berkaitan dengan sanggahan kepada pejabat berwenang dan memberikan jawaban sanggahan.

j)

k) l) m) n) Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa; Pejabat Pembuat Komitmen mengeluarkan Surat Penunjukan
k)
l)
m)
n)
Penerbitan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa;
Pejabat Pembuat Komitmen mengeluarkan Surat Penunjukan
Penyedia Barang/Jasa (SPPBJ) sebagai pelaksana pekerjaan yang
dilelangkan.
Pelelangan Gagal dan Pelelangan Ulang;
Pelelangan dapat dinyatakan gagal dengan beberapa kondisi
diantaranya penawaran yang masuk kurang dari 3 (tiga) atau
pelelangan tidak sesuai dengan ketentuan. Dalam hal pelelangan
dinyatakan gagal, PPK memerintahkan pelelangan ulang dengan
beberapa prosedur.
Penandatanganan Kontrak.
Setelah SPPBJ terbit, PPK menyiapkan dan menandatangani
kontrak pelaksanaan.
2)

3)

Pelelangan Terbatas Pada prinsipnya sama dengan pelelangan umum kecuali dalam pengumuman dicantumkan kriteria peserta dan nama penyedia barang/jasa yang diundang. Pemilihan Langsung

a) Penetapan Calon Peserta; Panitia/pejabat pengadaan wajib melakukan prakualifikasi dan harus diumumkan.

b) Undangan, Permintaan Penawaran dan Evaluasi; Panitia/pejabat pengadaan mengundang sebanyak-banyaknya calon peserta yang lulus prakualifikasi dan menyusun penawaran sebagai dasar melakukan klarifikasi serta negosiasi. Berita acara klarifikasi dan negosiasi dijadikan dasar panitia/pejabat pengadaan membuat surat usulan penetapan penyedia barang/jasa pada pejabat berwenang.

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

c) Penetapan Pemenang; Berdasarkan usulan dari panitia/pejabat pengadaan, pejabat yang berwenang menetapkan pemenang pemilihan langsung.

d) Sanggahan dan Pengaduan; Mekanisme dan prosedur sanggarahan dan pengaduan mengikuti ketentuan seperti yang ditetapkan pada proses pelelangan.

e) Penunjukan Pemenang; PPK menerbitkan surat penunjukan penyedia barang/jasa untuk melaksanakan pekerjaan

f) Penandatanganan Kontrak. PPK menyiapkan dan menandatangani kontrak pelaksanaan pekerjaan.

Penunjukan Langsung

a)

Penilaian Kualifikasi; Panitia/pejabat pengadaan melakukan prakualifikasi terhadap penyedia barang/jasa yang akan ditunjuk untuk pekerjaan kompleks. Permintaan Penawaran dan Negosiasi Harga; Panitia /pejabat pengadaan mengundang penyedia barang/jasa untuk mengajukan penawaran secara tertulis dan melakukan evaluasi, klarifikasi, negosiasi teknis dan harga, serta membuat berita acara hasil evaluasi, klarifikasi dan negosiasi. Penetapan Penunjukan Langsung; Panitia/pejabat pengadaan mengusulkan hasil evaluasi, klarifikasi dan negosiasi kepada pejabat yang berwenang untuk ditetapkan. Penunjukan Penyedia Barang/Jasa; Berdasarkan surat penetapan, panitia/pejabat pengadaan mengumumkan di papan pengumuman resmi dan PPK menerbitkan SPPBJ pada penyedia barang/jasa yang ditunjuk.

4)

b) c) d) e) Pengaduan; Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan apabila dalam proses penunjukan langsung dipandang
b)
c)
d)
e)
Pengaduan;
Masyarakat dapat menyampaikan pengaduan apabila dalam proses
penunjukan langsung dipandang tidak transparan, tidak adil dan
terdapat indikasi KKN.
f)
Penandatanganan Kontrak.
Penandatanganan kontrak mengikuti ketentuan sebagaimana diatur
dalam proses pelelangan.
b.
Penyusunan dan penandatanganan kontrak
Kegiatan terakhir pada proses pelelangan adalah penandatanganan kontrak
pekerjaan, yang meliputi nilai pekerjaan, hak dan kewajiban kedua belah
pihak, serta waktu pelaksanaan pekerjaan yang ditentukan secara pasti.
Penandatanganan kontrak selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja
terhitung sejak diterbitkan surat keputusan penetapan penyedia
barang/jasa.
c.
Pelaksanaan kontrak/penyerahan barang/jasa
Setelah penandatangan kontrak, PPK segera melakukan pemeriksaan
lapangan bersama dengan penyedia barang/jasa dan membuat berita acara
keadaan lapangan/serah terima lapangan. Barang/jasa yang diserahkan
harus sesuai dengan spesifikasi yang tertuang dalam dokumen lelang.
Penyerahan dapat dilakukan secara bertahap atau menyeluruh dan diakhiri
dengan penyerahan final setelah masa pemeliharaan selesai.

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

E . Permasalahan Dalam Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

E . Permasalahan Dalam Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

21 Pada umumnya permasalahan dalam pelaksanaan proses pengadaan barang/jasa pemerintah pemerintah disebabkan karena KKN. Pengadaan barang/jasa Pemerintah di sektor publik yang menimbulkan kerugian keuangan negara dapat disebabkan oleh 10 bentuk KKN, yaitu:

Pemberian suap/sogok (Bribery) Merupakan pemberian dalam bentuk uang, barang, fasilitas dan janji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu perbuatan yang akan berakibat menguntungkan terhadap diri sendiri atau pihak lain, yang berhubungan dengan jabatan yang dipegangnya pada saat itu.

Penggelapan (Embezzlement) Merupakan perbuatan mengambil tanpa hak oleh seorang yang telah mendapat kewenangan dari pejabat publik maupun swasta untuk mengawasi dan bertanggungjawab penuh terhadap barang milik negara.

Permasalahan

umum dalam

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

1.

2.

Pemalsuan (Fraud) Suatu tindakan atau perilaku mengelabui orang lain atau organisasi untuk keuntungan dan kepentingan
Pemalsuan (Fraud)
Suatu tindakan atau perilaku mengelabui orang lain atau organisasi untuk
keuntungan dan kepentingan dirinya sendiri maupun orang lain.
Pemerasan (Extortion)
Memaksa seseorang untuk membayar atau memberikan sejumlah uang atau
barang, atau bentuk lain, sebagai ganti dari seorang pejabat publik untuk
berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Perbuatan tersebut dapat diikuti dengan
ancaman fisik ataupun kekerasan.
Penyalahgunaan Jabatan atau Wewenang (Abuse of Discretion)
Mempergunakan kewenangan yang dimiliki untuk melakukan tindakan
yang memihak atau pilih kasih kepada kelompok atau perorangan,
sementara bersikap diskriminatif terhadap kelompok atau perorangan
lainnya.
Pertentangan Kepentingan/Memiliki Usaha Sendiri (Internal Trading)
Melakukan transaksi publik dengan menggunakan perusahaan milik pribadi
atau keluarga, dengan cara mempergunakan kesempatan dan jabatan yang
dimilikinya untuk memenangkan kontrak pemerintah.
Pilih kasih (Favouritism)
Memberikan pelayanan yang berbeda berdasarkan alasan hubungan
keluarga, afiliasi partai politik, suku, agama dan golongan, yang bukan
kepada alasan obyektif seperti kemampuan, kualitas, rendahnya harga, dan
profesionalisme kerja.
Menerima komisi (Commission)
Pejabat publik menerima sesuatu yang bernilai dalam bentuk uang, saham,
fasilitas, barang, dan lain-lain sebagai syarat untuk memperoleh pekerjaan
atau hubungan bisnis dengan pemerintah.

Nepotisme (Nepotism) Berupa tindakan untuk mendahulukan sanak keluarga, kawan dekat, anggota partai politik yang sepaham, dalam penunjukan atau pengangkatan staf, panitia pelelangan, atau pemilihan pemenang lelang.

Kontribusi atau sumbangan ilegal (Illegal Contribution) Hal ini terjadi apabila partai politik atau pemerintah yang sedang berkuasa menerima sejumlah dana sebagai suatu kontribusi dari hasil yang dibebankan kepada kontrak pemerintah.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab II

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Bab II Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan hal 18

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

BAB III
BAB III

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

BAB III PETUNJUK PEMERIKSAAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

A. Petunjuk Umum

01

02

03

04

Dasar Hukum Pemeriksaan

Pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah merupakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dengan prosedur eksaminasi yang mengacu kepada:

1. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 4286);

2. Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 4355);

3. Undang-Undang No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 4400);

4.

Petunjuk umum

pemeriksaan atas

adalah Standar
adalah Standar

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

Undang-Undang No. 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 4654);

Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 4707);

Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1/K/I-XIII.2/2/2008 tanggal 19 Februari 2008 tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan.

Standar

pemeriksaan

adalah standar

yang ditetapkan

BPK

Panduan

Manajemen

Pemeriksaan yang

ditetapkan BPK

Tahapan

pemeriksaan

pengadaan

barang/jasa

pemerintah

5.

6.

Standar Pemeriksaan Standar pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah

Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh Badan Badan

Pemeriksa Keuangan yang mengatur Standar Umum, Standar Pelaksanaan Pemeriksaan dan Standar Pelaporan.

Panduan Manajemen Pemeriksaan Panduan Manajemen Pemeriksaan (PMP) atas Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah adalah PMP yang ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang mengatur Perencanaan Pemeriksaan, Pelaksanaan Pemeriksaankerjaan, Pelaporan Hasil Pemeriksaan, Pemantauan Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan dan Evaluasi Pemeriksaan.

Metodologi Pemeriksaan Metodologi yang digunakan dalam pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah secara ringkas meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan yang meliputi 11 langkah. Di dalam proses pemeriksaan tersebut, ukuran atau kriteria yang digunakan adalah standar pemeriksaan, PMP serta tujuan dan harapan penugasan. Di dalam proses tersebut, supervisi serta pengendalian dan penjaminan mutu pemeriksaan dilakukan sepanjang proses tersebut. Secara ringkas, metodologi pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah sebagai berikut:

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

Ukuran Kinerja Pemeriksaan - Standar Pemeriksaan - Panduan Manajemen Pemeriksaan - Tujuan dan Harapan Penugasan
Ukuran Kinerja Pemeriksaan
- Standar Pemeriksaan
- Panduan Manajemen Pemeriksaan
- Tujuan dan Harapan Penugasan
PERENCANAAN
PELAKSANAAN
PELAPORAN
1. Pemahaman
Tujuan dan
6. Pengumpulan
9. Penyusunan
Harapan
dan Analisis bukti
Konsep LHP
Penugasan
2. Pemahaman
Entitas
10. Perolehan
7. Penyusunan
Tanggapan dan
3.
Penilaian Risiko
Temuan
Tindakan perbaikan
dan SPI
Pemeriksaan
yang direncanakan
4. Penetapan
Kriteria
Pemeriksaan
8. Penyampaian
11. Penyusunan
Temuan
dan Penyampaian
5.
Penyusunan P2
Pemeriksaan
LHP
dan PKP
kepada Entitas
DOKUMENTASI
KOMUNIKASI
SUPERVISI-KENDALI DAN KEYAKINAN MUTU
05 Lingkup Pemeriksaan
Lingkup
6 Lingkup
pemeriksaan
pengadaan
barang/jasa
pemerintah
meliputi
(1)
Pemeriksaan
Perencanaan
dan
prosesPersiapan
pengadaan
barang/jasa
pemerintah
(2)
Perencanaan dan prosesPelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintahtanah
(3)
Sistem
Pengendalian
Iintern
pengadaan
barang/jasa
dan
tanah.(4)
Kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang terkait dengan
prosedur pengadaan barang/jasa pemerintah.(4) Pengendalian intern pengadaan
barang/jasa dan tanah.
06 Waktu Pemeriksaan
Waktu
7 Pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan sesuai dengan
Rencana Kerja Pemeriksaan (RKP) dengan mengacu pada PMP dan harapan
penugasan. Jangka waktu tersebut meliputi pemeriksaan lapangan sampai
dengan penyampaian pelaporan hasil pemeriksaan kepada entitas, DPR/DPD
dan /DPRDPemerintah.
Pemeriksaan
B. Petunjuk Perencanaan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah
PERENCANAAN
07

08

Perencanaan pemeriksaan terdiri atas 5 (lima) langkah yaitu: 1. Pemahaman Tujuan dan Harapan Penugasan, 2. Pemahaman Kegiatan Pengadaan Barang/Jasa (entitas), 3. Penilaian Risiko dan SPI, 4. Penetapan Kriteria Pemeriksaan, dan 5. Penyusunan Program Pemeriksaan dan Program Kerja Perorangan

1. Pemahaman Tujuan Pemeriksaan dan Harapan Penugasan Tujuan pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah adalah untuk meyakinkan bahwa pengadaan tersebut telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan menilai apakah:

a. Apakah penyusunan rencana kebutuhan barang/jasa didasarkan pada

1. Pemahaman

Tujuan dan

Harapan

Penugasan

2. Pemahaman

Entitas

3. Penilaian Risiko dan SPI

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

kebutuhan riil entitas dengan mempertimbangkan program-program yang ingin dicapai;

b. Apakah penyusunan anggaran telah mempertimbangkan rencana

kebutuhan barang yang telah disusun;

4. Penetapan

Kriteria

Pemeriksaan

c. Apakah proses pengadaan barang/jasa telah sesuai dengan pedoman pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah;

d. Apakah penyedia telah memenuhi kewajibannya untuk menyerahkan

barang/jasa kepada pemerintah sesuai dengan kontrak/perjanjian, baik dari aspek kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan;

Apakah barang/jasa hasil pengadaan telah dimanfaatkan pemerintah sesuai dengan tujuan pengadaannya. Dalam rangka pencapaian tujuan, penugasan atas pemeriksaan dengan tujuan tertentu memiliki harapan-harapan dari pemberi tugas. Pemeriksa harus memperoleh harapan-harapan penugasan secara tertulis dari pemberi tugas melalui suatu komunikasi yang intensif. Hal ini untuk menghindari harapan- harapan yang tidak dapat dipenuhi oleh pemeriksa. Harapan dari pemberi tugas tersebut harus didokumentasikan. Dokumentasi atas harapan penugasan menjadi salah satu dasar dalam penyusunan program pemeriksaan dan penentuan kebutuhan pemeriksa. Format pemahaman tujuan dan harapan penugasan dapat dilihat pada lampiran III.1.

e.

5. Penyusunan P2 dan PKP

dilihat pada lampiran III.1 . e. 5. Penyusunan P2 dan PKP 09 2. Pemahaman atas kegiatan

09 2. Pemahaman atas kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah (entitas) Pemahaman kegiatan pengadaan barang/jasa pemerintah yang diperiksa dapat dilakukan dengan perolehan data dan informasi dari laporan hasil pemeriksaan sebelumnya, Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP) sebelumnya, hasil komunikasi dengan pemeriksa sebelumnya dan database entitas pemeriksaan mengenai (1) tujuan entitas/program/kegiatan, (2) aktivitas utama entitas/program/kegiatan, (3) sistem akuntansi entitas, (4) prosedur

pelaksanaan dan pengawasan aktivitas, (5) sumber daya yang digunakan untuk melaksanakan aktivitas, dan (6) hasil pemeriksaan dan studi lain yang sebelumnya telah dilaksanakan berkaitan dengan pengadaan barang/jasa

pemerintah.

Pemeriksa harus memperoleh informasi tindak lanjut yang telah dilakukan berkaitan dengan temuan dan rekomendasi yang signifikan dari entitas yang diperiksa atas pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja, pemeriksaan dengan tujuan tertentu atau studi lain yang sebelumnya telah dilaksanakan berkaitan dengan hal yang diperiksa. Informasi yang diperoleh digunakan untuk menentukan: (1) periode pemeriksaan sebelumnya yang harus diperhitungkan, (2) lingkup pekerjaan yang diperlukan untuk memahami tindak lanjut temuan signifikan, dan (3) pengaruh periode dan lingkup pekerjaan tersebut terhadap penilaian risiko dan prosedur pemeriksaan dalam perencanaan pemeriksaan. Pemahaman pemeriksa atas entitas harus didokumentasikan dalam KKP. Contoh dokumentasi pemahaman pemeriksa atas entitas dapat dilihat pada Lampiran III.2.

10 3.

Penilaian Resiko dan SPI

Penilaian risiko dan SPI untuk menentukan area-area yang berisiko tinggi yang akan dijadikan fokus pemeriksaan. Langkah-langkah dalam penilaian risiko adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi risiko yang dihadapi entitas serta dampak risiko tersebut terhadap pencapaian tujuan entitas. Langkah ini di dokumentasikan dalam kertas kerja yang dapat dilihat pada lampiran

III.3;

b. Mempertimbangkan pengaruh peraturan perundangan dan risiko kecurangan yang mungkin terjadi;

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

c. Memastikan apakah entitas telah memiliki sistem pengendalian yang memadai untuk mengidentifikasi dan memitigasi risiko-risiko yang tersebut. Jika entitas diketahui memiliki sistem pengendalian yang lemah, maka pemeriksa dapat: (1) menghentikan pengujian SPI dan membuat simpulan atas SPI atau (2) melakukan pengujian substantif dengan memperluas lingkup pemeriksaan dan pengumpulan bukti. Langkah ini di dokumentasikan dalam kertas kerja yang dapat dilihat pada lampiran III.4.;

11 4.

d. Menentukan fokus pemeriksaan yang memiliki potensi risiko tinggi

untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut setelah mempertimbangkan point a,b,c tersebut di atas yang berpengaruh terhadap pengadaan barang/jasa pemerintah. Untuk menentukan area kunci, pemeriksa melakukan penilaian (pemahaman dan pengujian) SPI terhadap potensi risiko dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah secara uji petik berdasarkan tingkat risiko. Penilaian sistem pengendalian intern dilakukan berdasarkan pemahaman atas sistem pengendalian intern yang dapat membantu pemeriksa untuk (1) Mengidentifikasi unsur-unsur pengendalian (pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan); (2) Mengidentifikasi dampak penting; (3) Mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi risiko terjadinya dampak penting; (4) Mendesain pengujian sistem pengendalian intern, dan (5) Mendesain prosedur pengujian terinci.

Reviu dokumen baik dokumen eksternal maupun dokumen internal untuk memastikan bahwa SPI yang dirancang sudah
Reviu dokumen baik dokumen eksternal maupun dokumen internal
untuk memastikan bahwa SPI yang dirancang sudah memadai.
Dokumen eksternal mencakup antara lain surat atau memorandum yang
diterima oleh entitas, faktur (invoice) dari penyedia barang/jasa,
leasing, kontrak, laporan pemeriksaan internal dan eksternal, serta
konfirmasi pihak ketiga. Dokumen internal bersumber dari dalam
organisasi entitas, mencakup antara lain catatan akuntansi, fotokopi
surat keluar, deskripsi tugas, rencana, anggaran, laporan dan
memorandum internal, rangkuman kinerja, dan prosedur dan kebijakan
internal;
Diskusi dengan pimpinan/manajemen entitas dan/atau komite audit
entitas;
Diskusi dengan personil satuan kerja pengawas intern dan membaca
laporan pemeriksaan intern;
Observasi Fisik, yaitu mengamati dan mencatat berbagai situasi dalam
proses pengadaan barang/jasa pemerintah;

Langkah-langkah penilaian SPI

a.

b.

c.

d.

Pengujian Pengendalian, yaitu melakukan pengujian terhadap pengendalian dengan memastikan apakah pengendalian telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Langkah dalam penilaian risiko dan penilaian SPI dapat dilakukan melalui pemeriksaan pendahuluan. Pemeriksa melakukan penentuan materialitas dan penentuan uji petik dengan mengacu pada juknis terkait. Berdasarkan langkah-langkah dalam penilaian risiko dan SPI, pemeriksa mengetahui area-area berisiko yang akan dijadikan sebagai fokus pemeriksaan. Seluruh langkah didokumentasikan dalam formulir penilaian risiko dan SPI. Formulir tersebut dapat dilihat pada lampiran III.3.

Penetapan Kriteria Pemeriksaan Penetapan kriteria dalam pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah pemerintah diperlukan sebagai alat komunikasi dalam tim pemeriksa

e.

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

mengenai sifat pemeriksaan dan alat komunikasi dengan entitas yang diperiksa, juga sebagai penghubung antara tujuan pemeriksaan dengan program pemeriksaan, dasar penyusunan prosedur pemeriksaan, pengumpulan data dan temuan pemeriksaan. Langkah penentuan kriteria pemeriksaan yang ada dalam pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Menentukan jenis dan sumber penentuan kriteria seperti dasar hukum yang berlaku, tujuan pengadaan barang/jasa pemerintah yang dikerjakan, dll;

b. Menentukan teknik pengembangan kriteria.

Seluruh langkah dalam penetapan kriteria didokumentasikan dalam formulir penetapan kriteria. Formulir tersebut dapat dilihat pada lampiran III.5.

12 5. Penyusunan Program Pemeriksaan (P2) dan Program Kerja Perorangan (PKP) Berdasarkan persiapan pemeriksaan
12
5.
Penyusunan
Program
Pemeriksaan
(P2)
dan
Program
Kerja
Perorangan (PKP)
Berdasarkan persiapan pemeriksaan di atas, program pemeriksaan disusun
untuk mempermudah dan memperlancar pemeriksa dalam pelaksanaan tugas
pemeriksaan, sedangkan PKP disusun untuk pembagian tugas anggota tim
agar lebih fokus dan alokasi tanggung jawab dalam rangka pelaksanaan
tugas pemeriksaan jelas.
Program pemeriksaan mengungkapkan antara lain
a.
Dasar Hukum Pemeriksaan,
b.
Standar Pemeriksaan,
c.
Tujuan Pemeriksaan,
d.
Entitas yang Diperiksa,
e.
Lingkup Pemeriksaan,
f.
Hasil Pemahaman Sistem Pengendalian Intern,
g.
Sasaran Pemeriksaan,
h.
Kriteria Pemeriksaan,
i.
Alasan Pemeriksaan,
j.
Metoda Pemeriksaan,
k.
Petunjuk Pemeriksaan,
l.
Jangka Waktu Pemeriksaan,
m.
Susunan Tim dan Rincian Biaya Pemeriksaan,
n.
Kerangka Laporan Hasil Pemeriksaan,
o.
Waktu Penyampaian dan Distribusi Laporan Hasil Pemeriksaan.
Tahapan pada proses pengadaan barang/jasa pemerintah indikasi
penyimpangan yang perlu diperhatikan dalam menyusun program
pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah, dapat dilihat pada lampiran
III.6.
Bentuk P2 dan PKP mengacu pada PMP dapat dilihat pada lampiran
III.7

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah PELAKSANAAN

PELAKSANAAN

C. Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah PELAKSANAAN

13 Pelaksanaan pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah pemerintah meliputi 3 (tiga) langkah, yaitu: (1) Pengumpulan dan Analisis Bukti, (2) Penyusunan Temuan Pemeriksaan, dan (3) Penyampaian Temuan Pemeriksaan Kepada Entitas yang Diperiksa. Dalam tahap ini, temuan pemeriksaan belum merupakan laporan pemeriksaan melainkan berupa kumpulan permasalahan yang ditemukan selama pelaksanaan pemeriksaan. Permasalahan ini akan dianalisa untuk memperoleh simpulan yang memadai atas asersi yang diuji.

14 1.

Pengumpulan dan Analisis Bukti

6. Pengumpulan

dan analisis bukti

7. Penyusunan

Temuan

Pemeriksaan

8. Penyampaian

Temuan

Pemeriksaan

kepada Entitas

Pengumpulan dan analisis bukti dilakukan guna mengetahui kesesuaian suatu program, kegiatan, atau hal lain yang dilakukan oleh entitas yang diperiksa terhadap kriteria yang ditetapkan, dengan tujuan untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti pemeriksaan sebagai pendukung temuan dan simpulan pemeriksaan.

sebagai pendukung temuan dan simpulan pemeriksaan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan dan

Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengumpulan dan analisis bukti adalah:

a. Pengumpulan Bukti Pemeriksaan dilakukan dengan 1) Reviu Dokumen (Document Review), 2) Wawancara dan 3) Observasi Fisik, observasi fisik dilakukan untuk menentukan keberadaan atau kondisi aset fisik. Observasi langsung juga mencatat berbagai situasi dan kegiatan terinci yang dilakukan oleh staf entitas dan apakah kegiatan tersebut sesuai dengan wewenang yang dimiliki.

b. Analisis Bukti Pemeriksaan, mempertimbangkan Jenis dan sumber bukti yang diuji, serta Waktu dan biaya yang diperlukan untuk menguji bukti. Langkah yang dilakukan dalam pengujian bukti adalah membandingkan hasil pengujian bukti-bukti pemeriksaan dengan kriteria pemeriksaan, dan jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi dan kriteria, pemeriksa dapat menggunakan model analisis sebab akibat (causalitas analysis) untuk mengidentifikasi bukti tersebut. c. Penyusunan Kertas Kerja Pemeriksaan, langkah-langkah dalam pelaksanaan pemeriksaan harus didokumentasikan bentuk KKP. Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan pelaksanaan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup untuk menjadi bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan pemeriksa dan menggambarkan catatan penting mengenai kegiatan yang dilaksanakan oleh pemeriksa sesuai dengan standar. Secara rinci dapat dilihat pada petunjuk pelaksanaan KKP. Apabila dalam pengujian analitis pemeriksa menemukan indikasi kecurangan dan penyimpangan dari ketentuan peraturan perundang- undangan yang secara material mempengaruhi hal yang diperiksa, pemeriksa harus menerapkan prosedur tambahan untuk memastikan bahwa kecurangan dan/atau penyimpangan tersebut telah terjadi dan menentukan dampaknya terhadap hal yang diperiksa. Rincian pengujian terinci atas pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah pemerintah dapat dilihat pada lampiran III.8

Penyusunan Temuan Pemeriksaan Konsep Temuan Pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah pemerintah merupakan kumpulan indikasi permasalahan yang ditemukan oleh pemeriksa selama proses pemeriksaan sebagai hasil pengumpulan dan pengujian bukti di lapangan dan perlu dikomunikasikan kepada entitas yang

15 2.

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

16 3.

diperiksa.

sebagai berikut:

Penyusunan

temuan pemeriksaan

dilakukan

dengan

langkah

a. Analisis hasil pengujian bukti untuk mengidentifikasi adanya perbedaan yang signifikan antara kondisi dan kriteria.

b. Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kondisi dengan kriteria, identifikasikan dampak yang ditimbulkan dari perbedaan untuk mengetahui akibat dan sebab dari perbedaan tersebut

c. Unsur sebab tidak wajib muncul, namun jika unsur sebab akan

dimunculkan, unsur sebab tersebut harus merupakan unsur sebab yang berkaitan erat dengan akibat.

d. Susun unsur-unsur temuan pemeriksaan tersebut sehingga menjadi suatu temuan pemeriksaan.

Konsep temuan pemeriksaan disusun oleh anggota tim atau ketua tim pemeriksa pada saat pemeriksaan berlangsung di lokasi entitas yang diperiksa. Khusus untuk konsep temuan pemeriksaan yang disusun oleh anggota tim pemeriksa, konsep tersebut harus mendapatkan koreksi/persetujuan dari ketua tim pemeriksa. Seluruh langkah dalam Penyusunan Temuan Pemeriksaan didokumentasikan dalam suatu Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP).

didokumentasikan dalam suatu Kertas Kerja Pemeriksaan (KKP). Penyampaian Temuan Pemeriksaan Kepada Entitas Konsep Temuan

Penyampaian Temuan Pemeriksaan Kepada Entitas Konsep Temuan Pemeriksaan disampaikan ketua tim pemeriksa kepada entitas atau penanggung jawab kegiatan entitas yang bersangkutan, penyampaian konsep temuan pemeriksaan ini harus diberi ‘watermark’ dengan kata KONSEP. Ketua tim menyampaikan temuan pemeriksaan kepada pejabat entitas yang berwenang. Penyampaian temuan pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah tersebut merupakan akhir dari pekerjaan lapangan pemeriksaan. Hal ini merupakan batas tanggung jawab pemeriksa terhadap program/kegiatan yang diperiksa. Pemeriksa tidak dibebani tanggung jawab atas suatu kondisi yang terjadi setelah tanggal pekerjaan lapangan tersebut. Tanggal penyampaian temuan pemeriksaan tersebut merupakan tanggal laporan hasil pemeriksaan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

D. Petunjuk Pelaporan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

D. Petunjuk Pelaporan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

D. Petunjuk Pelaporan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah PELAPORAN

PELAPORAN

D. Petunjuk Pelaporan Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah PELAPORAN

17 Hasil pelaksanaan pemeriksaan yang dilakukan oleh pemeriksa dituangkan secara tertulis ke dalam suatu bentuk laporan yang disebut dengan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). Pelaporan hasil pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah pemerintah meliputi 3 (tiga) kegiatan, yaitu: 1. Penyusunan Konsep LHP, 2. Perolehan Tanggapan dan Tindakan Perbaikan yang Direncanakan, dan 3. Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian LHP.

Penyusunan Konsep Laporan Hasil Pemeriksaan.

Konsep laporan hasil pemeriksaan disusun oleh ketua tim pemeriksa dan disupervisi oleh pengendali teknis. Konsep LHP disusun berdasarkan temuan pemeriksaan yang merupakan jawaban dari tujuan pemeriksaan. Konsep LHP mengacu pada format dan tata cara penyusunan yang disajikan dalam juklak pelaporan pemeriksaan. Hal penting untuk diperhatikan adalah adanya ‘time gap’ antara penyampaian TP dengan penyampaian LHP maka dimungkinkan bahwa temuan yang sudah disampaikan dalam TP dapat saja tidak disajikan dalam LHP jika manajemen entitas yang diperiksa dapat memberikan bukti yang kemudian dapat diyakini oleh pemeriksa. Konsep LHP dibahas secara berjenjang mulai dari ketua tim pemeriksaan hingga penanggung jawab dengan tujuan (1) penjaminan mutu LHP agar sesuai standar dan prosedur pemeriksaan serta (2) menentukan simpulan yang akan dimuat dalam LHP. Keseluruhan hasil pemeriksaan tersebut dilengkapi dengan tanggapan dari pejabat entitas yang berwenang dan simpulan terhadap temuan pemeriksaan yang termuat di dalam konsep hasil pemeriksaan tersebut. Pengendali teknis menyampaikan konsep LHP yang telah dianalisis dan direviu kepada penanggung jawab. Penanggung jawab mengidentifikasi unsur LHP yang merupakan informasi rahasia dan indikasi Tindak Pidana Korupsi (TPK). Sesuai SPKN dan ketentuan yang berlaku, informasi rahasia tidak dapat diungkapkan dalam LHP. Namun, LHP harus mengungkapkan sifat informasi yang tidak dilaporkan dan ketentuan perundang-undangan yang menyebabkan tidak dilaporkannya informasi tersebut. Penanggung jawab menyampaikan konsep LHP yang telah dianalisis dan direviu kepada Tortama/Kalan, termasuk informasi rahasia dan indikasi TPK. Laporan Hasil Pemeriksaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang merupakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu terdiri dari:

09.

Penyusunan

Konsep LHP

10. Perolehan

Tanggapan dan

Tindakan Perbaikan

yang Direncanakan

18 1.

11. Penyusunan Konsep Akhir dan Penyampaian LHP a. Simpulan Hasil Pemeriksaan atas hal yang diuji
11. Penyusunan
Konsep Akhir dan
Penyampaian LHP
a. Simpulan Hasil Pemeriksaan atas hal yang diuji dan temuan pemeriksa
atas pengujian bukti-bukti selama pelaksanaan pemeriksaan.
b.
Temuan ketidakpatuhan terhadap peraturan perundangan yang
mengungkapkan yang akan mempengaruhi simpulan pemeriksaan.
c.

Simpulan mengenai kelemahan SPI yang ditemukan selama proses pemeriksaan

Laporan Hasil Pemeriksaan yang berupa hasil pemeriksaan harus memuat hal-hal berikut:

a. Pernyataan bahwa pemeriksaan dilakukan sesuai dengan Standar Pemeriksaan. Pemeriksa dalam menjalankan tugas pemeriksaannya diwajibkan untuk mengikuti standar pemeriksaan yang ada. Dalam pelaksanaan pemeriksaan keuangan negara, pemeriksa BPK dan/atau yang berkerja untuk dan atas nama BPK berpegang pada SPKN.

b. Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan. Suatu laporan hasil pemerikaan harus memuat tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan. Pemeriksa harus menjelaskan alasan mengapa suatu

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

19

20

2.

3.

entitas diperiksa, apa yang diharapkan tercapai dari pelaksanaan pemeriksaan, apa yang diperiksa, dan bagaimana cara pemeriksaan itu dilakukan.

c. Hasil temuan berupa temuan pemeriksaan dan simpulan. Salah satu bagian pokok dari LHP merupakan temuan pemeriksaan yang merupakan ‘potret’ kenyataan yang ditemui pemeriksa dalam melaksanakan suatu pemeriksaan kinerja. Selain itu LHP juga harus memuat suatu simpulan pemeriksaan.

d. Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab atas hasil pemeriksaan. Tanggapan tertulis dan resmi harus didapatkan pemeriksa atas temuan, simpulan dan pemeriksaan.

e. Tindakan perbaikan yang direncanakan entitas. Pemeriksa harus memperoleh tindakan perbaikan yang direncakan entitas atas temuan dan simpulan pemeriksa. Tindakan tersebut harus diungkapkan dalam laporan.

f. Pelaporan informasi rahasia bila ada. Berdasarkan ketentuan perundangan dimungkinkan beberapa informasi yang bersifat
f. Pelaporan informasi rahasia bila ada. Berdasarkan ketentuan
perundangan dimungkinkan beberapa informasi yang bersifat rahasia
tidak diungkapkan dalam LHP.
Perolehan Tanggapan dan Tindakan Perbaikan yang Direncanakan.
Konsep LHP yang telah disetujui penanggung jawab selanjutnya dibahas
bersama dengan manajemen entitas yang diperiksa untuk memperoleh
tanggapan dan rencana perbaikan yang akan dilakukan, secara resmi dan
tertulis. Tujuan pembahasan adalah untuk membicarakan simpulan hasil
pemeriksaan secara menyeluruh dan kemungkinan tindakan perbaikan yang
direncanakan oleh manajemen entitas. Hasil pembahasan Konsep LHP
harus dituangkan dalam Risalah Pembahasan Konsep LHP yang
ditandatangani oleh kedua belah pihak dan harus didokumentasikan.
Pemeriksa harus meminta tanggapan tertulis dari pimpinan atau pejabat
yang bertanggung jawab dalam entitas yang diperiksa mengenai temuan
dan simpulan serta tindakan perbaikan yang direncanakan. Dalam hal
terdapat temuan yang bersifat kecurangan, pemeriksa diperkenankan untuk
tidak meminta tanggapan dari pejabat entitas yang berwenang dengan
pertimbangan bahwa permintaan tanggapan tersebut akan mengganggu
proses penyidikan di masa yang akan datang dan untuk temuan yang berupa
kerugian negara, pemeriksa harus memasukkan tindakan otomatis dari
auditee sebagai tindak lanjut atas temuan tersebut.
Penyusunan
Konsep
Akhir dan Penyampaian Laporan
Hasil

Pemeriksaan. Penyusunan LHP diawali dengan mengevaluasi tanggapan yang berupa suatu janji atau rencana untuk tindakan perbaikan tidak boleh diterima sebagai alasan untuk menghilangkan temuan yang signifikan atau simpulan yang diambil. Setelah ada kesesuaian antara tanggapan dengan konsep LHP, LHP Final yang telah disusun kemudian direviu dan ditandatangani oleh penanggung jawab dan harus dilengkapi dengan tanggapan yang berupa tindakan perbaikan yang direncanakan dari pejabat entitas yang bertanggung jawab.

LHP Final yang telah ditandatangani oleh penanggung jawab didistribusikan kepada pihak yang secara resmi berkepentingan atau pihak yang telah disepakati sebagai penerima laporan antara lain:

a. Lembaga Perwakilan: DPR/DPD atau DPRD.

b. Entitas yang diperiksa.

c. bertanggung

Pihak

yang

jawab

untuk

melakukan

tindak

lanjut

pemeriksaan.

 

d. Pihak lain yang diberi wewenang untuk menerima LHP sesuai dengan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab III

ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

e. Pimpinan Departemen/Lembaga Negara yang terkait dengan entitas yang diperiksa.

f. Dan pihak terkait lainnya yang telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

telah ditentukan sebelumnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan hal 26

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

BAB IV
BAB IV

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab IV

BAB IV PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU

A. Dasar Pengendalian dan Penjaminan Mutu

01 Standar Pemeriksaan Keuangan Negara dalam pernyataan standar umum keempat mensyaratkan bagi setiap organisasi pemeriksa yang melaksanakan pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai, dan sistem pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang berkompeten.

Terkait dengan hal tersebut maka dalam rangka pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah dibutuhkan adanya pengendalian mutu dan penjaminan mutu.

SPKN sebagai standar umum

Ketua Tim melakukan pengendalian mutu/supervisi atas anggota tim pada saat pelaksanaan pekerjaan lapangan dengan
Ketua Tim melakukan pengendalian mutu/supervisi atas anggota tim
pada saat pelaksanaan pekerjaan lapangan dengan mendasarkan pada
PKP.
Pengendali Teknis melakukan pengendalian mutu/supervisi atas
Ketua Tim.
Penanggung Jawab melakukan pengendalian mutu/supervisi atas
Pengendali Teknis.

B.

Pengertian Pengendalian dan Penjaminan Mutu

02

Pengendalian mutu merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa proses pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan pemeriksaan dan harapan penugasan pemeriksaan, serta telah memenuhi SPKN.

Pengertian

pengendalian dan

penjaminan mutu

Sedangkan penjaminan mutu merupakan tindakan untuk memastikan bahwa proses pengendalian mutu telah dilaksanakan.

C.

Proses Pengendalian dan Penjaminan Mutu

03 1. Proses Pengendalian Mutu

Proses pengendalian

Pengendalian mutu dilaksanakan melalui dua bentuk pengendalian, yaitu (1) pengendalian mutu oleh tim secara berjenjang dan (2) pengendalian mutu oleh penanggung jawab penugasan.

mutu

04 Penanggung jawab penugasan bertanggung jawab untuk memastikan

bahwa seluruh proses pengendalian mutu oleh Tim telah dilaksanakan. Proses supervisi meliputi:

a.

b.

c.

05 Pengendalian mutu/supervisi oleh ketua tim, pengendali teknis, dan penanggung jawab meliputi pemberian saran bagi tim pemeriksa apabila menemukan kendala dalam pemeriksaan dan pemantauan implementasi metodologi pemeriksaan. Sebagai contoh adalah pemberian pendapat mengenai kriteria pemeriksaan yang dapat dipakai untuk suatu indikasi temuan pemeriksaan tertentu, penambahan langkah-langkah prosedur pemeriksaan, pemberian saran terkait dengan temuan pemeriksaan berdasarkan pengalaman profesionalismenya, dan sebagainya. Contoh laporan reviu sheet dapat dilihat di lampiran IV.1

06 Penjaminan mutu oleh Tim merupakan proses supervisi yang dilakukan secara berjenjang oleh Kasub Tim/Ketua Tim, Pengendali Teknis dan Penanggung Jawab Tim.

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab IV

Dengan demikian, dalam supervisi perlu ditekankan: a. pemenuhan tujuan dan harapan penugasan, b. pelaksanaan program pemeriksaan, serta c. penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan.

Pelaksanaan supervisi secara berjenjang tersebut dilakukan dengan mengisi laporan perkembangan pelaksanaan pemeriksaan. Laporan perkembangan tersebut antara lain mengungkapkan kesesuaian atau pencapaian pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan dan harapan penugasan serta program pemeriksaan. Contoh laporan perkembangan pelaksanaan pemeriksaan dapat dilihat di Lampiran IV.2

Untuk menjamin kesimpulan yang sama terhadap permasalahan yang sama, orang yang melakukan supervisi tersebut mengikuti konsolidasi pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan.

07 Supervisi Pemenuhan Tujuan dan Harapan Penugasan Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan dilakukan untuk melihat apakah pelaksanaan pemeriksaan dan hasil pemeriksaan dapat atau telah memenuhi harapan penugasan.

a.

pemeriksaan dapat atau telah memenuhi harapan penugasan. a. Ketua tim pemeriksaan bertanggung jawab untuk melakukan

Ketua tim pemeriksaan bertanggung jawab untuk melakukan supervisi atas pekerjaan pemeriksa dengan melakukan reviu pelaksanaan pemenuhan tujuan dan harapan penugasan.

Pengendali teknis melakukan supervisi atas pemenuhan tujuan dan harapan penugasan atas kegiatan supervisi ketua tim. Hal ini dilakukan dengan merviu kertas kerja anggota tim pemeriksaan dan secara uji petik melakukan reviu kegiatan anggota tim tersebut. Selanjutnya penanggung jawab melakukan supervisi kegiatan pengendali teknis.

Pengendali teknis dan atau penanggung jawab menggunakan program pemeriksaan dan formulir harapan penugasan sebagai kriteria penilaian. Apabila terjadi penyimpangan dari tujuan dan harapan penugasan, pengendali teknis dan atau penanggung jawab menanyakan latar belakang, alasan, dan sebabnya, serta mengambil kesimpulan apakah menerima penyimpangan tersebut atau tidak. Untuk menjamin agar penilaian masing-masing orang yang melakukan supervisi bisa seragam terhadap kriteria supervisi, orang yang melakukan supervisi tersebut harus menggunakan harapan penugasan sebagai acuan. Hasil supervisi dituangkan dalam KKP yang sesuai dengan pengungkapan persetujuan atau catatan disertai paraf dan tanggal.

Supervisi pemenuhan tujuan dan harapan penugasan dilaksanakan

08 Supervisi Pelaksanaan Program Pemeriksaan Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan dilakukan oleh ketua tim dengan membubuhkan tickmark atau catatan dengan paraf dan tanggal pada program pemeriksaan yang dijadikan KKP. Supervisi juga dilakukan terhadap substansi yang dihasilkan dalam pelaksanaan pemeriksaan.

Pengendali teknis menguji hasil supervisi yang dilakukan oleh ketua tim terhadap pelaksanaan program pemeriksaan serta mereviu secara uji petik atas langkah pemeriksaan dalam program pemeriksaan tersebut dan melihat hasil pemeriksaan apakah telah sesuai dengan program pemeriksaan. Hasil supervisi pengendali teknis diungkapkan dalam program pemeriksaan yang akan dijadikan KKP (yang telah disupervisi ketua tim pemeriksaan) dengan membubuhkan catatan dan paraf serta tanggal supervisi dilakukan.

b.

Supervisi pelaksanaan program pemeriksaan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Bab IV

Penanggung jawab mereviu pekerjaan pengendali teknis atas supervisi program pemeriksaan dan melakukan reviu secara uji petik hasil supervisi tersebut. Hasil supervisi diungkapkan dengan membuat catatan, paraf, dan tanggal pelaksanaan supervisi dalam program pemeriksaan yang telah diberikan catatan oleh pengendali teknis dan ketua tim. Apabila catatan-catatan tersebut tidak dapat atau tidak mungkin dilaksanakan, maka akan didiskusikan dengan pemberi catatan untuk memperoleh keputusan selanjutnya yang diparaf oleh pemberi catatan.

Supevisi Penyusunan dan Substansi Laporan Hasil Pemeriksaan. Ketua tim melakukan supervisi proses penyusunan dan bertanggung jawab atas susbstansi konsep laporan hasil pemeriksaan atas pengadan barang dan jasa pemerintah. Supervisi tersebut meliputi (1) kesesuaian dengan standar, pedoman, petunjuk pelaksanaan, dan petunjuk teknis yang terkait; (2) materi laporan; (3) keakuratan angka; (4) tata bahasa; dan (5) waktu pelaporan. Hasil supervisi berupa persetujuan atau catatan di dalam konsep laporan hasil pemeriksaan yang disertai dengan paraf dan tanggal. Pengendali teknis dan atau penanggung jawab melakukan supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan pengadaan barang/jasa pemerintah baik melalui catatan dalam konsep laporan tersebut atau dalam pemberian pendapat atau arahan dalam pemantauan laporan tersebut. Catatan atas konsep laporan harus diparaf dan diberi tanggal. Untuk pendapat atau arahan, maka ketua tim pemeriksa bertanggung jawab menyusun risalah pemantauan yang diparaf oleh pengendali teknis dan penanggung jawab. Untuk mengendalikan mutu pelaporan digunakan Lembar Kendali Penyelesaian Laporan (LKPL) yang digunakan untuk memonitor ketepatan waktu penyelesaian laporan pemeriksaan. Bentuk LKPL dimuat dalam Lampiran IV.3. LKPL ditempatkan pada map yang menjadi sampul pengantar berkas LHP beserta konsep surat keluar.

09 c.

Supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan

Supervisi penyusunan dan substansi laporan hasil pemeriksaan Proses penjaminan mutu 10 2. Proses Penjaminan Mutu

Proses penjaminan

mutu

10 2. Proses Penjaminan Mutu Penjaminan mutu dilaksanakan oleh penanggung jawab penugasan, selain itu penjaminan mutu dapat dilakukan oleh unit kerja pengawasan internal BPK-RI dan pihak lain yang berkompeten. Penanggung jawab penugasan bertanggungjawab untuk memastikan bahwa seluruh proses pengendalian mutu oleh tim telah dilaksanakan. Unit kerja pengawasan internal BPK-RI dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan pemeriksaan oleh tim untuk memastikan bahwa pemeriksaan telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan dan telah memenuhi persyaratan yang dimuat dalam SPKN. Pihak lain yang berkompeten dapat melakukan reviu atas desain pengendalian mutu dan pelaksanaan pengendalian mutu yang dikembangkan oleh BPK-RI. Pelaksanaan reviu pengendalian mutu oleh organisasi pemeriksa ekstern yang berkompeten tersebut harus memenuhi persyaratan yang dimuat dalam SPKN.

D.Pendokumentasian Pengendalian dan Penjaminan Mutu

11 Proses pengendalian dan penjaminan mutu harus didokumentasikan untuk memudahkan dalam proses reviu oleh pihak lain yang berkompeten. Contoh check list pengendalian mutu dan penjaminan mutu dapat dilihat pada Lampiran IV.4

Pendokumentasian proses pengendalian dan penjaminan mutu

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

BAB V
BAB V

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab V

BAB V PEMANTAUAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

A. Tindak Lanjut Laporan Hasil Pemeriksaan

01 Tindak lanjut hasil pemeriksaan dilakukan oleh manajemen entitas yang diperiksa. Entitas menindaklanjuti laporan hasil pemeriksaan BPK atas pengadaan barang/jasa pemerintah dan memberikan jawaban/keterangan mengenai tindak lanjut tersebut paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak laporan hasil pemeriksaan tersebut diterima.

Tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan

tersebut diterima. Tindak lanjut laporan hasil pemeriksaan Pemberitahuan tertulis tentang kewajiban tindak lanjut 02

Pemberitahuan

tertulis tentang

kewajiban tindak

lanjut

02 Pemeriksa memantau tindak lanjut hasil pemeriksaan. Pemantauan tersebut dilakukan setelah pemeriksa memperoleh laporan perkembangan tindak lanjut hasil pemeriksaan dari entitas. Selama temuan belum ditindaklanjuti maka pemeriksa perlu terus memantau tindak lanjut. Hasil pemantauan setelah menerima jawaban/ keterangan tersebut disampaikan kepada DPR, DPD dan DPRD. Hasil pemantauan dalam pemeriksaan digunakan untuk pengembangan prosedur pemeriksaan selanjutnya.

03 Pemantauan tindak lanjut tersebut dapat dilakukan dengan kegiatan, antara lain: (1) memberitahukan secara tertulis kewajiban tindak lanjut tersebut kepada manajemen entitas yang diperiksa, (2) mereviu atas jawaban/keterangan dari manajemen entitas yang diperiksa, (3) melaporkan pemantauan tindak lanjut, dan (4) melakukan pemantauan tindak lanjut pada saat pemeriksaan.

B.

Pemberitahuan Tertulis tentang Kewajiban Tindak Lanjut

04 Pemberitahuan tertulis tentang kewajiban tindak lanjut merupakan informasi kepada pejabat berwenang untuk melakukan penjelasan tindak lanjut hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan sesuai dengan Pasal 20 UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemberitahuan tersebut dilakukan dengan menyampaikan surat dari Auditor Utama Keuangan Negara kepada pemerintah pusat dan Kepala Perwakilan BPK-RI kepada pemerintah daerah mengenai kewajiban memberikan penjelasan/keterangan tindak lanjut hasil pemeriksaan.

05 Pemberitahuan tertulis tersebut dapat dilakukan melalui surat pengantar penyampaian laporan hasil pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah dalam satu paragraf akhir surat atau melalui surat terpisah setelah penyampaian laporan hasil pemeriksaan dimaksud.

C.

Reviu atas Jawaban/Keterangan Manajemen Entitas

06 Reviu atas jawaban/keterangan manajemen entitas dilakukan tim pemeriksa untuk melihat kesesuaian pelaksanaan tindak lanjut dengan simpulan/rekomendasi BPK dalam laporan hasil pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa pemerintah. Kesimpulan reviu tersebut antara lain (1) telah sesuai dengan rekomendasi, (2) belum sesuai dengan rekomendasi, dan (3) belum ditindaklanjuti.

07 Hasil reviu tersebut disampaikan ketua tim kepada pengendali teknis dan atau penanggung jawab untuk direviu dan disetujui.

Reviu atas

jawaban/keterangan

manajemen entitas

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab V

D.

Pelaporan atas Pemantauan Tindak Lanjut

08 Hasil pemantauan tindak lanjut tersebut dituangkan dalam laporan hasil pemantauan tindak lanjut dengan kesimpulan: (1) selesai sesuai dengan rekomendasi, (2) belum selesai sesuai rekomendasi, atau (3) belum ditindaklanjuti. Laporan Pemantauan Tindak Lanjut untuk tingkat pusat ditandatangani oleh Anggota Pembina Utama BPK yang sesuai dengan kewenangannya untuk disampaikan kepada DPR dan DPD. Sedangkan untuk tingkat daerah, Kepala Perwakilan menyampaikan laporan pemantauan tersebut yang telah ditandatanganinya kepada DPRD.

Laporan hasil

pemantauan tindak

lanjut.

Bentuk laporan pemantauan tindak lanjut dapat dilihat pada Lampiran V.1.

E. Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan 09 Pemeriksa wajib melakukan pemantauan atas tindak lanjut
E.
Pemantauan Tindak Lanjut Pada Saat Pemeriksaan
09
Pemeriksa wajib melakukan pemantauan atas tindak lanjut yang dilakukan
oleh manajemen entitas terhadap laporan hasil pemeriksaan atas pengadaan
barang/jasa pemerintah yang telah dilakukan sebelumnya.
Pemantauan atas
tindak lanjut

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab V

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Bab V Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan hal 31

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

BAB VI
BAB VI

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab VI

BAB VI

PENUTUP

A. Pemberlakuan Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

01 Petunjuk teknis pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah ini mulai berlaku saat ditetapkan oleh Ketua BPK.

Pemberlakuan juknis

B. Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 02 Pemutakhiran Petunjuk Teknis
B.
Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah
02 Pemutakhiran Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah dapat berupa perubahan petunjuk teknis dimaksud atau
penjelasan atas substansi petunjuk teknis tersebut.
Pemutakhiran juknis
pemeriksaan atas
pengadaan
barang/jasa
pemerintah.
03 Perubahan atas petunjuk teknis ini akan disampaikan secara resmi melalui
surat keputusan tentang perubahan petunjuk teknis dimaksud.
04 Penjelasan atas substansi petunjuk teknis atas Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah disampaikan secara tertulis oleh tim pemantauan pada Sub
Direktorat Penelitian dan Pengembangan Pemeriksaan Dengan Tujuan
Tertentu, Direktorat Penelitian dan Pengembangan, Direktorat Utama
Perencanaan, Evaluasi, Pengembangan, Pendidikan dan Pelatihan
Pemeriksaan Keuangan Negara Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia.
C.
Pemantauan Petunjuk Teknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah
05
Petunjuk teknis ini merupakan dokumen yang dapat berubah sesuai dengan
perubahan peraturan perundang-undangan, standar pemeriksaan, dan kondisi
lain. Oleh karena itu, pemantauan atas juknis ini akan dilakukan oleh tim
pemantauan juknis pemeriksaan. Selain itu, masukan atau pertanyaan terkait
dengan petunjuk teknis ini dapat disampaikan kepada:
Pemantuan juknis
pemeriksaan atas
pengadaan
barang/jasa
pemerintah
Subdit. Litbang PDTT
Ditama Revbangdiklat
Email: litbangpdtt@bpk.go.id
Ditetapkan di
:
Jakarta
Pada tanggal
:
2008
Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 2008 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KETUA, Anwar
Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 2008 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KETUA, Anwar

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KETUA,

Anwar Nasution

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Bab VI

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Bab VI Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 32

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Referensi

REFERENSI

1. UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

2. Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah beserta perubahan-perubahannya

3. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 1 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

4. Keputusan BPK RI Nomor 1/K/1-XIII.2/2/2008 tentang Panduan Manajemen Pemeriksaan Panduan Manajemen Pemeriksaan tahun 2008.

5. Keputusan BPK RI Nomor 09/K/1-XIII.2/7/2008 Petunjuk Pelaksanaan Tatacara Penyusunan atau Penyempurnaan Pedoman Pemeriksaan dan Non Pemeriksaan tahun 2008.

Pedoman Pemeriksaan dan Non Pemeriksaan tahun 2008. 6. Peraturan Menteri Keuangan No.82/PMK.01/2008 Perubahan

6. Peraturan Menteri Keuangan No.82/PMK.01/2008 Perubahan Permenkeu No.42/KMK.01/2008 tentang Pengadaan Barang/Jasa secara Elektronik di Departemen Keuangan.

7. Modul Lokakarya Kiat-Kiat Menghadapi Audit BPK Dalam Proses Pengadaan Barang dan Jasa yang Aman serta Konstitusional oleh Haqq Quality Training Center tahun 2007.

8. Modul Diklat Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah oleh Pusdiklat BPK RI tahun 2008.

9. Modul Workshop Fraud Audit Procurement oleh Lembaga Pengembangan Fraud Auditing tahun

2008.

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Daftar Singkatan dan Akronim

DAFTAR SINGKATAN DAN AKRONIM

APBD : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah APBN : Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara BAHP
APBD
:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
APBN
:
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
BAHP
:
Berita Acara Hasil Pelelangan
BAP
:
Berita Acara Penjelasan
BAPP
:
Berita Acara Penyerahan Pekerjaan
BHMN
:
Badan Hukum Milik Negara
BI
:
Bank Indonesia
BOQ
:
Bill Of Quantity
BUMD
:
Badan Usaha Milik Daerah
BUMN
:
Badan Usaha Milik Negara
DO
:
Delivery Order
HPS
:
Harga Perhitungan Sendiri
KAK
:
Kerangka Acuan Kerja
KKN
:
Kolusi Korupsi Nepotisme
KKP
:
Kertas Kerja Pemeriksaan
KPA
:
Kuasa Pengguna Anggaran
LHP
:
Laporan Hasil Pemeriksaan
LKPL
:
Lembar Kendali Penyelesaian Laporan
LPSE
:
Lembaga Pengadaan Secara Elektronik
P2
:
Program Pemeriksaan
PA
:
Pengguna Anggaran
PHLN
:
Pinjaman/Hibah Luar Negeri
PKP
:
Program Kerja Perorangan
PMP
:
Panduan Manajemen Pemeriksaan
PPK
:
Pejabat Pembuat Komitmen
RKP
:
Rencana Kerja Pemeriksaan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Daftar Singkatan dan Akronim

SPI

:

Sistem Pengendalian Intern

SPKN

:

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara

SPPBJ

:

Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa

TP

:

Temuan Pemeriksaan

TPK

:

Tindak Pidana Korupsi

TP : Temuan Pemeriksaan TPK : Tindak Pidana Korupsi Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Istilah (Glosarium)

DAFTAR ISTILAH (GLOSARIUM)

/Jasa Pemerintah Daftar Istilah (Glosarium) DAFTAR ISTILAH (GLOSARIUM) Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Istilah (Glosarium)

Panitia pengadaan : Panitia pengadaan adalah tim yang diangkat oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran/Dewan Gubernur BI/Pimpinan BHMN/Direksi BUMN/Direksi BUMD, untuk melaksanakan pemilihan penyedia barang/jasa

Pelelangan terbatas

:

Pelelangan terbatas adalah pemilihan penyedia barang/jasa yang dilakukan apabila jumlah penyedia barang/jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks.

Pemilihan langsung

:

Pemilihan langsung, yaitu pemilihan penyedia barang/jasa yang

 
 

dilakukan dengan membandingkan sebanyak-banyaknya penawaran, sekurang-kurangnya 3 (tiga) penawaran dari penyedia barang/jasa yang telah lulus prakualifikasi serta dilakukan negosiasi baik teknis maupun biaya.

       

Penunjukkan langsung

:

Penunjukkan penyedia barang/jasa yang dilakukan dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus dengan cara penunjukan langsung terhadap 1 (satu) penyedia barang/jasa dengan cara melakukan negosiasi baik teknis maupun biaya.

Metode satu sampul

:

   

Metode dua sampul

:

   

Penyampaian dokumen penawaran yang terdiri dari persyaratan administrasi, teknis dan penawaran harga yang dimasukkan dalam 1 (satu) sampul tertutup kepada panitia/pejabat pengadaan

 
 

Penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I,

 
     
   

(satu) sampul (sampul tertutup) dan disampaikan kepada panitia/pejabat pengadaan

 

sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II, selanjutnya sampul I dan sampul II dimasukkan ke dalam I

 

Metode dua tahap : Penyampaian dokumen penawaran yang persyaratan administrasi dan teknis dimasukkan dalam sampul tertutup I, sedangkan harga penawaran dimasukkan dalam sampul tertutup II, yang penyampaiaanya dilakukan dalam 2 (dua) tahap secara terpisah dan dalam waktu yang berbeda

 

Sistem gugur : Evaluasi penilaian penawaran dengan cara memeriksa dan membandingkan dokumen penawaran terhadap pemenuhan persyaratan yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan

 

penyedia barang/jasa dengan urutan proses evaluasi dimulai dari penilaian persyaratan administrasi, persyaratan teknis dan kewajaran harga, terhadap penyedia barang/jasa yang tidak lulus penilaian pada setiap tahapan dinyatakan gugur.

Sistem nilai

:

Evaluasi penawaran dengan cara memberikan nilai angka tertentu pada setiap unsur yang dinilai berdasarkan kriteria dan nilai yang telah ditetapkan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, kemudian membandingkan jumlah nilai dari setiap penawaran peserta dengan penawaran peserta lainnya

Sistem penilaian biaya

:

Evaluasi penilaian penawaran dengan cara memberikan nilai

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Daftar Istilah (Glosarium)

atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Daftar Istilah (Glosarium) Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

)

LAMPIRAN LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Lampiran III.1

atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Lampiran III.1 BPK RI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan

BPK RI

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan Barang/Jasa Tahun……

No. Indeks

Dibuat oleh

:

Direviu oleh

:

Disetujui oleh

:

oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN I. Tujuan Penugasan
oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN I. Tujuan Penugasan

PEMAHAMAN TUJUAN DAN HARAPAN PENUGASAN

I. Tujuan Penugasan

Tujuan pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah adalah untuk menilai

1. Apakah pengadaan barang/jasa dilakukan sesuai dengan kebutuhan, baik dari segi kualitas, kuantitas atau waktu;
1. Apakah pengadaan barang/jasa dilakukan sesuai dengan kebutuhan, baik dari segi kualitas,
kuantitas atau waktu;
2. Apakah
proses
pengadaan
barang/jasa
telah
memenuhi
pedoman
pelaksanaan
pengadaan
barang/jasa Pemerintah;
3. Apakah kualitas/kuantitas barang/jasa yang diserahkan telah sesuai dengan ketentuan dalam
kontrak;
4. Apakah barang/jasa yang diperoleh telah dimanfaatkan sesuai dengan tujuan pengadaannya;
5. SPI
Kelemahan
dan
penyimpangan
yang
terjadi
dalam
kegiatan
pengadaan
barang/jasa
pemerintah
II. Harapan Penugasan
1. Standar Pemeriksaan
Dalam rangka pencapaian tujuan pemeriksaan di atas, pemeriksaan pengadaan barang dan jasa
pemerintah melakukan pemeriksaan berdasarkan SPKN, dengan memberlakukan SPAP untuk
standar pekerjaan lapangan dan standar pelaporan kecuali diatur lain dalam SPKN.
2. Jadwal Waktu Pemeriksaan
Pemeriksaan pengadaan barang dan jasa pemerintah harus diselesaikan sesuai dengan Program
Pemeriksaan dengan mempertimbangkan tujuan, lingkup, dan sasaran pemeriksaan. Penyelesaian
pemeriksaan tersebut diwujudkan dengan penyampaian laporan hasil pemeriksaan kepada DPR-
RI.
3. Fokus dan Sasaran Pemeriksaan
Berdasarkan hasil pemeriksaan sebelumnya dan pemahaman sistem pengendalian intern,
pemeriksa menentukan sasaran dan fokus pemeriksaan.
III. Rencana Pencapaian Hasil Pemeriksaan yang Diharapkan
Apabila pemeriksaan sebelumnya pernah dilakukan, pemeriksaan dapat didahului dengan
pemantauan tindak lanjut hasil pemeriksaan sebelumnya kemudian diikuti dengan pemahaman
pengendalian intern dan pemahaman terhadap peraturan perundang-undangan serta kebijakan.
Pemeriksaan diarahkan pada area-area yang berisiko berdasarkan informasi dari hasil pemeriksaan
sebelumnya atau informasi lain yang diperoleh. Semua langkah pemeriksaan didokumentasikan
dalam kertas kerja pemeriksaan disertai dengan pertimbangan atau alasan yang ada.
Jakarta,
Ketua Tim,
Pengendali Teknis,
Penanggung Jawab,

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah

Lampiran III.2

atas Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah Lampiran III.2 BPK RI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan

BPK RI

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan Barang/Jasa Tahun……

No. Indeks

Dibuat oleh

:

Direviu oleh

:

Disetujui oleh

:

oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : PEMAHAMAN ENTITAS Gambaran Jelas Struktur Organisasi Entitas
oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : PEMAHAMAN ENTITAS Gambaran Jelas Struktur Organisasi Entitas

PEMAHAMAN ENTITAS

Gambaran Jelas Struktur Organisasi Entitas Tugas pokok dan fungsi entitas dsb Kegiatan/Program Utama Entitas 1.
Gambaran Jelas Struktur Organisasi Entitas
Tugas pokok dan fungsi entitas
dsb
Kegiatan/Program Utama Entitas
1. Program Kerja:
Anggaran:
Hasil :
2. dsb
Lingkungan yang Mempengaruhi
1. Hubungan kerja satu unit kerja dengan unit kerja lain dalam entitas tersebut
2. Stakeholder atas pelaksanaan program kerja
3. SOP di unit kerja atau perda-perda terkait di daerah, Kebijakan intern yang mengatur mengenai
pengadaan barang dan jasa Pemerintah.
4. dsb

Pejabat

Nama

Jabatan

Mr. X

Kepala ….

Mr. Y

Sekretaris …

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Lampiran III.3

atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Lampiran III.3 BPK RI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan

BPK RI

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan Barang/Jasa Tahun……

No. Indeks

Dibuat oleh

:

Direviu oleh

:

Disetujui oleh

:

oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : CONTOH KERTAS KERJA PENILAIAN RESIKO DAN SPI Tujuan
oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : CONTOH KERTAS KERJA PENILAIAN RESIKO DAN SPI Tujuan

CONTOH KERTAS KERJA PENILAIAN RESIKO DAN SPI

Tujuan dari kegiatan pada tahap ini adalah agar pemeriksa dapat mengidentifikasi area-area yang berisiko tinggi
Tujuan dari kegiatan pada tahap ini adalah agar pemeriksa dapat mengidentifikasi area-area yang
berisiko tinggi yang akan dijadikan fokus pemeriksaan. Point-point yang ada dalam template
KKP ini dapat disesuaikan mengikuti kebutuhan pemeriksa.
I. Resiko yang teridentifikasi dan dampaknya pada pencapaian tujuan entitas
Penilaian
No
Kegiatan/Proses
Resiko
Dampak
Low
Medium
High
1.
Perencanaan
a……….
b……….
c.
dst
2.
Pelaksanaan
a……….
b………
c.
dst
3.
Dst
II. Hasil Pemahaman dan Penilaian SPI
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………………………………………………………
III.
Hasil Penilaian Resiko dan SPI
Risiko Awal
Efektivitas SPI
Risiko Akhir
No
Kegiatan/ Proses
Low
Medium
High
Peraturan
SOP
DLL
Low
Medium
High
(1)
(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)
(9)
Perencanaan
A.
a……….
b……….
c. dst
Pelaksanaan
a……….
b………
c. dst
Dst

Keterangan:

Kolom 1 s.d. 9 diisi dengan X. Risiko awal merupakan risiko entitas yang diperoleh berdasarkan pengidentifikasian resiko (butir I) Risiko akhir adalah risiko setelah mempertimbangkan SPI. Suatu kegiatan/proses yang memiliki resiko akhir tinggi akan dipertimbangkan menjadi focus pemeriksaan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah

Lampiran III.3

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Lampiran III.3 Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 1

Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Lampiran III.4 - 1 BPK RI Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas

BPK RI

Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu Atas Pengadaan Barang/Jasa Tahun……

No. Indeks

Dibuat oleh

:

Direviu oleh

:

Disetujui oleh

:

oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : Pengujian Ketaatan SPI dalam Pengadaan Barang/Jasa No
oleh : Direviu oleh : Disetujui oleh : Pengujian Ketaatan SPI dalam Pengadaan Barang/Jasa No

Pengujian Ketaatan SPI dalam Pengadaan Barang/Jasa

No Prosedur Persiapan Ya Tidak Catatan 1. Panitia Pengadaan a. Keanggotaan, dalam hal ini: 1)
No
Prosedur Persiapan
Ya
Tidak
Catatan
1.
Panitia Pengadaan
a.
Keanggotaan, dalam hal ini:
1)
2)
Jumlahnya gasal;
Sekurang-kurangnya tiga orang (nilai pengadaan s.d Rp.
500.000.000,00);
3)
Sekurang-kurangnya lima orang (nilai pengadaan di atas Rp.
500.000.000,00);
b. Anggota panitia pengadaan berasal dari pegawai negeri
1)
2)
Instansi sendiri;
Instansi teknis lainnya;
c. Terdiri dari unsur yang memahami
1)
2)
Tata cara pengadaan;
Substansi pekerjaan yang bersangkutan;
3)
Hukum-hukum perjanjian/kontrak;
d.
Persyaratannya:
1)
2)
3)
4)
Memiliki integritas moral, disiplin, dan tanggungjawab;
Memahami seluruh pekerjaan;
Memahami jenis pekerjaan tertentu;
Memahami isi dokumen dan prosedur pengadaan;
5) Tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Pejabat
Pembuat Komitmen;
6) Memiliki sertifikat keahlian pengadaan barang/jasa
pemerintah atau memiliki tanda bukti telah mengikuti
pelatihan pengadaan barang/jasa pemerintah;
e.
Pembentukan panitia pengadaan berdasarkan surat keputusan
oleh Kuasa Pengguna Anggaran.
2.
Penetapan Sistem Pengadaan
a.
Metode pemilihan penyedia jasa berupa:
1)
2)
3)
4)
Pelelangan umum;
Pelelangan terbatas;
Pemilihan langsung;
Penunjukan langsung;
b.
Metode penyampaian dokumen penawaran berupa:
1)
Satu sampul;
2)
Dua sampul;
3)
Dua tahap;
c.
Metode evaluasi penawaran untuk Pengadaan Barang/Jasa
Pemborongan/Jasa Lainnya berupa:
1)
2)
3)
Sistem gugur;
Sistem nilai;
Sistem selama umur ekonomis;

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 2

No Prosedur Persiapan Ya Tidak Catatan d. Metode evaluasi penawaran untuk Pengadaan jasa Konsultansi berupa:
No
Prosedur Persiapan
Ya
Tidak
Catatan
d.
Metode evaluasi penawaran untuk Pengadaan jasa Konsultansi
berupa:
1)
2)
3)
4)
Metode evaluasi berdasarkan kualitas;
Metode evaluasi berdasarkan kualitas dan biaya;
Metode evaluasi pagu anggaran;
Metode evaluasi biaya terendah;
5) Metode evaluasi penunjukan langsung.
3.
Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Pengadaan
a.
Pelelangan umum dengan prakualifikasi;
1)
Pengumuman prakualifikasi dilakukan melalui
a) Surat kabar;
b) Siaran radio;
c) Papan pengumuman resmi untuk penerangan umum;
d) Papan pengumuman Pejabat Pembuat Komitmen;
2)
Pengumuman dilaksanakan sekurang-kurangnya selama 7
(tujuh) hari kerja
3)
Pengambilan dokumen prakualifikasi
a)
Dimulai sejak tanggal pengumuman
b)
Diakhiri satu hari sebelum batas akhir pemasukan
dokumen.
4) Batas akhir pemasukan dokumen prakualifikasi sekurang
kurangnya 3 (tiga) hari kerja setelah pengumuman berakhir.
5) Diberikan tenggang waktu sekurang-kurangnya 7 (tujuh)
hari kerja.
6) Pengambilan dokumen penawaran dilakukan satu hari
setelah dikeluarkannya undangan lelang sampai satu hari
sebelum pemasukan dokumen.
7) Penjelasan dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja
sejak tanggal pengumuman
8)
Batas akhir pemasukan dokumen kualifikasi
a)
b)
Sekurang-kurangnya tiga hari kerja setelah berakhirnya
penayangan pengumuman prakualifikasi ;
Sekurang-kurangnya tujuh hari kerja setelah penjelasan;
b.
Pelelangan umum dengan pasca kualifikasi;
1)
Pengumuman dilakukan melalui
a)
Surat kabar;
b)
Siaran radio;
c)
d)
Papan pengumuman resmi untuk penerangan umum;
Papan pengumuman Pejabat Pembuat Komitmen;
2)
Pengumuman dilaksanakan sekurang-kurangnya selama 7
3)
(tujuh) hari kerja
Pengambilan dokumen penawaran
a)
Dimulai sejak tanggal pengumuman
b)
Diakhiri satu hari sebelum batas akhir pemasukan
dokumen
4) Penjelasan dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja
sejak tanggal pengumuman
5)
Batas akhir pemasukan dokumen penawaran
a)
Sekurang-kurangnya tiga hari kerja setelah berakhirnya
penayangan pengumuman ;
b)
Sekurang-kurangnya tujuh hari kerja setelah penjelasan;
c.
Pelelangan terbatas;
1)
Pengumuman dilakukan melalui

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 3

No Prosedur Persiapan Ya Tidak Catatan a) Surat kabar; b) Siaran radio; c) Papan pengumuman
No
Prosedur Persiapan
Ya
Tidak
Catatan
a) Surat kabar;
b) Siaran radio;
c) Papan pengumuman resmi untuk penerangan umum;
d) Papan pengumuman Pejabat Pembuat Komitmen;
2)
Pengumuman dilaksanakan sekurang-kurangnya selama 7
(tujuh) hari kerja
3)
Pengambilan dokumen penawaran
a)
Dimulai sejak tanggal pengumuman
b)
Diakhiri satu hari sebelum batas akhir pemasukan
dokumen
4) Penjelasan dilaksanakan paling cepat 7 (tujuh) hari kerja
sejak tanggal pengumuman
5)
Batas akhir pemasukan dokumen penawaran
a) Sekurang-kurangnya tiga hari kerja setelah berakhirnya
penayangan pengumuman ;
b) Sekurang-kurangnya tujuh hari kerja setelah penjelasan;
d.
Pemilihan langsung;
1)
2)
Pengumuman dilaksanakan sekurang-kurangnya selama 3
(tiga) hari kerja
Pengalokasian waktu ditentukan oleh Pejabat Pembuat
Komitmen.
4
Penyusunan Harga Perkiraan Sendiri (HPS)
a.
Perhitungan HPS dilakukan dengan menggunakan data berupa :
1)
2)
3)
4)
Analisis harga satuan pekerjaan yang bersangkutan;
Perkiraan perhitungan biaya oleh konsultan;
Harga pasar setempat saat menyusun HPS;
Harga kontrak/Surat Perintah Kerja untuk barang/pekerjaan
sejenis yang pernah dilaksanakan.
5) Informasi harga satuan yang dipublikasikan secara resmi
oleh BPS dan badan/instansi lain yang datanya dapat
dipertanggungjawabkan;
6) Harga/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/agen
tunggal atau lembaga independen.
7) Daftar harga standar/tarif biaya yang dikeluarkan oleh
instansi berwenang.
8)
9)
Informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penyusunan oleh panitia pengadaan;
10) Penetapan oleh Pejabat Pembuat Komitmen
b.
HPS telah memperhitungkan :
1)
2)
3)
Pajak Pertambahan Nilai (PPN);
Biaya Umum;
Keuntungan yang wajar bagi penyedia barang/jasa.
c.
HPS dilarang memperhitungkan :
1)
2)
3)
Biaya tak terduga;
Biaya lain-lain;
Pajak Penghasilan penyedia barang/jasa.
5
Penyusunan Dokumen Pengadaan
a. Dokumen pengadaan terdiri dari
1)
2)
Dokumen pasca/prakualifikasi;
Dokumen pemilihan penyedia barang/jasa;
b. Dokumen prakualifikasi memuat hal-hal berupa:
1)
Lingkup pekerjaan;

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 4

No

Prosedur Persiapan

Ya

Tidak

Catatan

2)

Persyaratan peserta;

3)

Waktu;

4)

Tempat pengambilan dokumen;

5)

Tempat pemasukan dokumen;

6)

Penanggung jawab

c.

Dokumen

pemilihan

penyedia

barang/jasa

memuat

hal-hal

berupa:

1)

Undangan kepada peserta, yang memuat hal-hal berupa:

a) Informasi untuk memperoleh dokumen;

b) Informasi mengenai dokumen pemilihan penyedia barang/jasa;

c) Informasi mengenai penyampaian dokumen penawaran;

c) Informasi mengenai penyampaian dokumen penawaran; d) Alamat tujuan pengiriman dokumen penawaran; e) Jadwal

d) Alamat tujuan pengiriman dokumen penawaran;

e) Jadwal pelaksanaan pengadaan;

f) Penetapan penyedia barang/jasa.

2)

Instruksi kepada peserta memuat hal-hal berupa;

a) Lingkup pekerjaan;

b) Sumber dana;

c) Persyaratan peserta pengadaan;

d) Kualifikasi peserta pengadaan;

e) Jumlah dokumen penawaran yang disampaikan;

f) Peninjauan lokasi kerja;

g) Isi dokumen pemilihan penyedia barang/jasa;

h) Penjelasan isi dokumen pemilihan penyedia barang/jasa;

i) Perubahan isi dokumen pemilihan penyedia barang/jasa.

j) Persyaratan bahasa yang digunakan dalam penawaran;

k) Penulisan harga penawaran;

l) Mata uang penawaran; Cara pembayaran; Masa berlaku penawaran; Surat jaminan penawaran; Usulan penawaran alternatif oleh peserta; Bentuk penawaran;

m) n) o) p) q) r) s) Cara penyampulan t) u) v) w) x) y)
m)
n)
o)
p)
q)
r)
s)
Cara penyampulan
t)
u)
v)
w)
x)
y)
z)

Penandatangan surat penawaran;

Penandaan sampul; Batas akhir penyampaian; Perlakuan terhadap penawar yang terlambat; Larangan untuk merubah/menarik penawaran yang sudah masuk; Prosedur pembukaan; Klarifikasi dokumen

Pemeriksaan kelengkapan dokumen;

aa)

Penilaian kualifikasi dalam hal dilakukan pascakualifikasi;

bb)

Kriteria penetapan pemenang;

cc)

Hak PPK untuk menerima/menolak penawaran;

dd)

Kewajiban PPK untuk menerima/menolak penawaran;

ee)

Syarat penandatanganan;

ff)

Kontrak;

gg)

Surat jaminan pelaksanaan.

Syarat umum kontrak berupa;

a) Memuat batasan pengertian istilah yang digunakan;

b) Hak;

3)

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 5

No

Prosedur Persiapan

Ya

Tidak

Catatan

c) Kewajiban;

d) Tanggung jawab

e) Sanksi;

f) Penyelesaian perselisihan;

g) Peraturan perundang-undangan yang berlaku;

4)

Syarat khusus kontrak berupa:

a) Perubahan ketentuan dalam syarat umum kontrak;

b) Penambahan ketentuan dalam syarat umum kontrak;

c) Penghapusan ketentuan dalam syarat umum kontrak.

5)

Daftar kuantitas dan harga;

a) Jenis barang yang akan dipasok;

b) Uraian singkat pekerjaan yang akan dilaksanakan;

dipasok; b) Uraian singkat pekerjaan yang akan dilaksanakan; c) Negara asal barang/jasa; d) Volume pekerjaan; e)

c) Negara asal barang/jasa;

d) Volume pekerjaan;

e) Harga satuan barang/jasa yang akan ditawarkan;

f) Komponen produksi dalam negeri;

g) Harga total pekerjaan;

h) Biaya satuan angkutan;

i) PPN;

j) Pajak lainnya

6)

Spesifikasi teknis dan gambar;

a) Tidak mengarah pada merk/produk tertentu;

b) Menggunakan produk dalam negeri;

c) Menggunakan produk luar negeri;

d) Menggunakan standar nasional;

e) Metode pelaksanaan pekerjaan logis;

f) Jadwal waktu pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan metode pelaksanaan; Syarat kualifikasi personil yang dipekerjakan; Jumlah personil yang dipekerjakan;

g) h) i) j) k) 7) Bentuk surat penawaran; a) b) c) d) e) f)
g)
h)
i)
j)
k)
7)
Bentuk surat penawaran;
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)

Syarat material yang digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan;

Gambar-gambar kerja lengkap dan jelas; Kriteria kinerja produk yang diinginkan jelas;

Sesuai dengan peraturan pengadaan barang/jasa; Harga total penawaran dalam angka dan huruf;

Masa berlaku penawaran; Lama waktu penyelesaian pekerjaan;

Nilai jaminan penawaran dalam angka dan huruf;

Kesanggupan memenuhi persyaratan yang ditentukan; Dilampiri daftar volume; Dilampiri harga pekerjaan;

i) Ditandatangani oleh pimpinan perusahaan

j) Bermaterai

k) Bertanggal

Bentuk kontrak memuat hal-hal berupa;

a) Tanggal mulai berlaku kontrak;

b) Nama para pihak;

c) Alamat para pihak;

d) Nama paket pekerjaan yang diperjanjikan;

e) Harga kontrak dalam angka dan huruf;

f) Kesanggupan penyedia barang/jasa yang ditunjuk untuk memperbaiki kerusakan;

8)

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 6

No

Prosedur Persiapan

Ya

Tidak

Catatan

9)

g) Kesanggupan PPK untuk membayar pada penyedia barang/jasa sesuai dengan harga kontrak;

h) Tandatangan para pihak di atas materai.

Bentuk jaminan penawaran memuat hal-hal berupa;

a) Nama PPK;

b) Alamat PPK;

c) Penyedia barang/jasa;

d) Pihak penjamin;

e) Nama paket pekerjaan yang dilelangkan;

f) Jumlah jaminan penawaran dalam angka dan huruf;

g) Pernyataan pihak penjamin bahwa jaminan penawaran dapat cair segera sesuai ketentuan dalam jaminan penawaran;

dapat cair segera sesuai ketentuan dalam jaminan penawaran; h) Masa berlaku surat jaminan penawaran; i) Batas

h) Masa berlaku surat jaminan penawaran;

i) Batas akhir waktu pengajuan tuntutan pencairan surat jaminan penawaran oleh PPK pada pihak penjamin;

j) Tandatangan penjamin;

10) Bentuk surat jaminan pelaksanaan;

a) Nama dan alamat PPK;

b) Penyedia barang/jasa;

c) Pihak penjamin;

d) Nama paket kontrak;

e) Nilai jaminan pelaksanaan dalam angka dan huruf;

f) Kewajiban pihak penjamin untuk mencairkan surat penjaminan pelaksanaan, segera kepada PPK sesuai ketentuan;

g) Masa berlaku surat jaminan;

h) Tandatangan penjamin.

a) Nama dan alamat PPK; b) Penyedia barang/jasa yang ditunjuk; c) Hak penjamin; d) Nama
a) Nama dan alamat PPK;
b) Penyedia barang/jasa yang ditunjuk;
c) Hak penjamin;
d) Nama paket kontrak;
e) Nilai jaminan uang muka;
f) Kewajiban pihak penjamin untuk mencairkan surat
jaminan uang muka, segera kepada PPK sesuai
ketentuan.
No.
Prosedur Pelaksanaan
Ya
Tidak
Catatan
1 Pelelangan Umum dengan Prakualifiksi
a. Dokumen kualifikasi, yaitu mengenai:
1)
2)
Penyiapan oleh panitia pengadaan;
Penetapan oleh Pejabat Pembuat Komitmen;
b. Pengumuman memuat hal-hal berupa :
1)
Nama dan alamat PPK yang mengadakan pelelangan;
2) Uraian singkat mengenai pekerjaan yang akan
3)
4)
5)
dikerjakan/barang yang akan dibeli;
Perkiraan nilai pekerjaan;
Syarat-syarat peserta lelang;
Informasi pengambilan dokumen.
c. Penyusunan daftar peserta lelang oleh panitia pengadaan;

11) Bentuk surat jaminan uang muka

Direktorat Litbang

Badan Pemeriksa Keuangan

Juknis Pemeriksaan atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Lampiran III.4 - 7

No.

Prosedur Pelaksanaan

Ya

Tidak

Catatan

d. Undangan kepada calon peserta lelang yang tercatat dalam daftar peserta lelang oleh panitia pengadaan;

e. Penjelasan dokumen kualifikasi, yaitu mengenai:

1)

Penjelasan oleh panitia pengadaan;

2)

Pembuatan

Berita

Acara

Penjelasan

(BAP)

oleh

panitia

pengadaan;

3)

Addendum

dokumen

kualifikasi

dibuat

oleh