Anda di halaman 1dari 5

PEMATAHAN DORMANSI BENIH A. Pendahuluan 1. Latar Belakang.

Dormansi benih berhubungan dengan usaha benih untuk menunda perkecambahannya, hingga waktu dan kondisi lingkungan memungkinkan untuk melangsungkan proses tersebut. Dormansi dapat terjadi pada kulit biji maupun pada embryo. Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo. Benih yang mengalami dormansi ditandai oleh: a. Rendahnya/tidak adanya proses imbibisi air b. Proses respirasi tertekan/terhambat c. Rendahnya proses mobilisasi cadangan makan d. Rendahnya proses metabolisme cadangan makan Secara umum, dormansi dikelompokkan menjadi 2 tipe yaitu: a. Dormansi fisik, disebabkan oleh pembatasan struktural terhadap perkecambahan biji, seperti kulit biji yang keras dan kedap sehingga menjadi penghalang mekanis terhadap masuknya air atau gas-gas ke dalam biji. b. Dormansi fisiologis, pada umumnya disebabkan oleh zat pengatur tumbuh, baik yang berupa penghambat maupun perangsang tumbuh. Pematahan dormansi dapat dilakukan dengan, perendaman biji dalam air hangat, skarifikasi biji atau dapat menggunakan zat kimia. Dormansi dapat disebabkan oleh kulit biji yang impermeabel terhadap faktor-faktor perkecambahan seperti O2 dan H2O, zat penghambat perkecambahan (tannin dan ABA), atau karena sebab lain seperti benih yang belum sempurna dan belum masak secara fisiologis. 2. Tujuan Praktikum. Tujuan dari praktikum acara dormansi benih ini adalah untuk mengetahui periode dan cara mengatasi dormansi benih.

B. Tinjauan Pustaka Dormansi pada benih menggambarkan keadaan benih yang sudah masak secara fisiologis dan hidup tetapi gagal berkecambah dalam kondisi optimum. Dormansi pada benih padi misalnya, merupakan mekanisme untuk melindungi gabah berkecambah pada saat masih dilapang dalam kondisi basah. Berbagai metode pematahan dormansi yang direkomendasikan untuk digunakan dalam pengujian daya kecambah telah terdokumentasi dengan baik, namun efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh varietas, intensitas dormansi, dan periode after ripening (Seshu, 1986). Dormansi benih dapat disebabkan antara lain adanya impermeabilitas kulit benih terhadap air dan gas (oksigen), embrio yang belum tumbuh secara sempurna. Hambatan mekanis kulit benih terhadap pertumbuhan embrio, belum terbentuknya zat pengatur tumbuh atau karena ketidakseimbangan antara zat penghambat dengan zat zat pengatur tumbuh di dalam embrio (Villers, 1972 cit. Saleh, 2004). Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embry (Yeni, 2005). Dormansi pada beberapa jenis buah disebabkan oleh: 1) struktur benih, misalnya kulit benih, braktea, gluma, perikarp dan membran, yang mempersulit keluar masuknya air dan udara; 2) kelainan fisiologis pada embrio; 3) penghambat (inhibitor) perkecambahan atau penghalang lain-lainnya; atau 4) gabungan dari faktor-faktor di atas (Justice dan Bass, 1979). Biji yang telah masak dan siap untuk berkecambah membutuhkan kondisi klimatik dan tempat tumbuh yang sesuai untuk dapat mematahkan dormansi dan memulai proses perkecambahannya. Pretreatment skarifikasi digunakan untuk mematahkan dormansi kulit biji, sedangkan stratifikasi digunakan untuk mengatasi dormansi embryo (Yeni, 2005). Biji-biji keras pada spesies tanaman pertanian seringkali diskarifikasi sebelum penanaman untuk mempercepat, menyeragamkan penyerapan air, perkecambahan dan tegaknya tanaman. Mesin skarifikasi atau pelukaan mekanik memanfaatkan gerakan menggiling, mengaduk, atau memecah yang menggosok atau menggesek benih secara bersama-sama dan membenturkan pada permukaan abrasive. Walaupun metode ini meningkatkan permeabilitas air benih, tetapi harus digunakan dengan memperhatikan hal-hal tertentu. Skarifikasi yang ceroboh atau merugikan dapat mrusak benih/biji. Skarifikasi kimiawi dengan asam sulfat, asam hidroklorida, sodium hidroksida, aseton, serta alkohol yang juga telah digunakan. Asam sulfat yang dipakai paling luas dan efektif adalah dalam bentuk murni atau mentah dan terkonsentrasi/pekat. Walaupun demikian, terdapat pengecualian untuk biji-biji kapas, skarifikasi kimiawi tidak banyak dilakukan secara komersial, karena bahan-bahan tersebut sangat berbahaya/merugikan atau berisiko, biji harus benar-benar dibersihkan dan dikeringkan setelah perlakuan itu, serta penurunan perkecambahan dapat terjadi apabila dilakukan secara berlebihan (Copeland, 1976).

C. Metode Praktikum Alat dan Bahan: a. Alat b. Bahan : : Kertas merang, Amplas Padi baru (panen 7 Oktober) 100 butir Flamboyan 20 butir Albasia/ Sangon 100 butir Saga 20 butir Air hangat 60 C

Cara Kerja: 1. Merendam padi/albasia di air hangat selama 30 menit 2. Mengamplas saga/flamboyan dengan aturan 10 butir 1 bagian yang di amplas dan 10 butir lainnya 2 bagian yang diamplas. 3. Benih di susun di kertas merang yang sudah disemprot menggunakan air kemudian digulung dan diikat. 4. Menyimpan di germinator dan melakukan pengamatan.

Pembahasan Benih berdormansi merupakan benih yang sebenarnya hidup, namun tidak berkecambah meskipun ditempatkankan pada kondisi yang memenuhi persyaratan untuk dapat berkecambah. Suatu benih yang mengalami dormansi tidak dapat mengalami pertumbuhan selama benih belum melalui masa dormansinya atau sebelum diberi perlakuan khusus yang dapat mematahkan dormansinya. Dormansi pada benih dapat berlangsung selama kurun waktu tertentu sesuai dengan jenis tanaman dan tipe dari dormansinya. Pembahasan Perkecambahan sebagai kejadian yang dimulai dengan imbibisi dan diakhiri ketika radikula memanjang atau muncul melewati kulit biji. Biji dapat tetap hidup, tapi tidak mampu berkecambah atau tumbuh karena beberapa alasan diantaranya adalah kondisi luar atau kondisi dalam. Keduanya dibedakan dengan istilah kuisen untuk kondisi biji yang tidak dapat berkecambah karena kondisi luar tidak sesuai. Dormansi untuk kondisi biji yang gagal berkecambah karena kondisi dalam, walaupun kondisi luar (suhu, kelembaban, air) sudah sesuai. Untuk menguji benih tersebut dorman atau tidak, maka dilakukan uji pematahan dormansi dengan mengamati perkecambahan benih normal, abnormal, dan mati. Kriteria untuk kecambah benih normal adalah benih tersebut berkecambah dengan normal dan memiliki semua bagian yang meliputi (akar, hipokotil, plimula, kotiledon) yang menunjukan kesempurnaan dan lengkap tanpa kerusakan. Kecambah dinyatakan abnormal apabila salah satu atau lebih bagiannya tidak muncul, atau muncul tetapi rusak atau tidak sempurna. Kecambah mati apabila sampai akhir periode tidak menunjukan gejala perkecambahan dan bukan karena benih keras, apabila di uji dengan dengan uji tertrazolium akan menunjukan benih mati. Dan benih keras adalah benih yang tetap keras walaupun telah dilembabkan dalam penimbuh, apabila di uji dengan dengan uji tertrazolium akan menunjukan benih hidup.

Faktor-faktor yang menyebabkan dormansi benih adalah faktor genetik yang meliputi fisik dan fisiologis. Dan faktor luar yakni dipengaruhi lingkungan. Tipe-tipe dormansi pada benih dipengaruhi oleh dormansi fisik, karena pembatasan struktural terhadap perkecambahan, antara lain: impermeabilitas kulit biji terhadap air, resistensi mekanis kulit biji terhadap pertumbuhan embrio, dan permeabilitas yang rendah dari kulit biji terhadap gas-gas. Dormasi fisiologis yaitu selain karena zat pengatur tumbuh, baik penghambat atau perangsang tumbuh, dapat juga disebabkan oleh sejumlah mekanisme, antara lain : immaturity atau ketidakmasakan embrio, after ripening, dormansi sekunder, dan hambatan metabolis pada embrio. Kombinasi dari dormansi fisik dan fisiologis.

UJI VIABILITAS BENIH Pendahuluan Latar belakang Uji tetrazolium juga disebut uji biokhemis benih dan uji cepat viabilitas. Disebut uji biokhemis karena uji tetrazolium mendeteksi adanya proses biokimia yang berlangsung di dalam sel-sel benih khususnya sel-sel embrio. Disebut uji cepat viabilitas karena indiksi yang diperoleh dari pengujian tetrazolium bukan berupa perwujudan kecambah, melainkan polapola pewarnaan pada embrio, sehingga waktu yang diperlukan untuk pengujian tetrazolium tidak sepanjang waktu yang diperlukan untuk pengujian yang indikasinya berupa kecambah. Pengujian tetrazolium menggunakan zat indikator 2.3.5 Trifenil tetrazolium Klorida/bromida yang larut dalam air untuk mengindikasi adanya sel-sel yang hidup. Bila indikator diimbibisi oleh benih kedalam sel-sel benih yang hidup dengan bantuan enzim dehidrogenase akan terjadi proses reduksi sehingga terbentuk zat trifenil formazan, endapan yang berwarna merah. Pada sel-sel yang mati tidak terjadi reduksi, sehingga warnanya tetap. Adanya pola-pola warna merah pada bagian-bagian penting pada embrio benih mengindikasikan benih mampu menumbuhkan embrio menjadi kecambah yang normal. Kegunaan uji tetrazolium cukup banyak : untuk mengetahui viabilitas benih yang segera akan ditanam, untuk mengetahui viabilitas benih dorman, untuk mengetahui hidup atau matinya benih segar tidak tumbuh dalam pengujian daya berkecambah benih. Uji tetrazolium sebagai uji vigor bisa dilakukan, dengan cara membuat penilaian benih lebih ketat untuk katagori benih vigor diantar benih viabel. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam uji tetrazolium ialah : penyiapan benih yang akan diuji dengan menghitung jumlahnya, pelembaban benih untuk aktivasi enzim dan pelunakan jeringan benih, pembukaan jaringan benih untuk pewarnaan ( penusukan, pemotongan, pengupasan testa, pengeluaran embrio), penyiapan larutan tetrazolium, suhu dan lama perendaman, penilaian benih vigor tinggi, vigor rendah dan benih non viabel. Alat dan Bahan: a. Alat b. Bahan

: :

Pisau Benih buncis 2,3,5 Triphenil Tetrazolium Cloride 0,1%

Cara Kerja: 1. Benih buncis direndamkan selama 24 jam. 2. Belah bagian embrio untuk mempercepat masuknya larutan tetrazolium ke dalam benih. Rendam benih tersebut dengan larutan Tetrazolium secukupnya sampai benih terendam seluruhnya. Untuk mempercepat proses pewarnaan bisa dipakai suhu 40oC selama 50-60 menit 3. Evaluasi/Pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan melihat plumulanya, apakah warnanya merah, merah muda atau putih. Jika merah atau merah muda, diperkirakan benih tersebut dapat tumbuh. Jika putih maka benih tersebut diperkirakan tidak dapat tumbuh.

Anda mungkin juga menyukai