Anda di halaman 1dari 28

Laporan Praktikum Farmasi Fisika

2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University


Modul 6
KECEPATAN DISOLUSI



A. TUJUAN PERCOBAAN

Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu, untuk :
- Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat
- Menentukan kecepatan disolusi suatu zat
- Menggunakan alat penentean kecepatan disolusi

B. LANDASAN TEORI

Disolusi merupakan proses ketika suatu zat padat masuk ke dalam pelarut
menghasilkan suatu larutan atau dengan kata lain proses saat zat padat melarut. Maka
kecepatan disolusi dapat dinyatakan sebagai jumlah zat dalam bentuk padatan yang
terlarut dalam pelarut tertentu sebagai fungsi dari waktu. Prinsip disolusi dikendalikan
oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut. Proses pelarutan zat ini dikembangkan
oleh Noyes Whitney dalam bentuk persamaan berikut :



dM/dt : kecepatan disolusi
D : koefisien difusi
S : luas permukaan zat
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

Cs : kelarutan zat padat
C : konsentrasi zat dalam larutan saat waktu t
h : tebal lapisan difusi


Menurut Einstein, koefisien difusi dapat dinyatakan sebagai berikut :





D : koefisien difusi
k : konstanta Boltzman (13,8 x 10
-24
J/atom K)
T : suhu
: jari-jari molekul
: viskositas pelarut

Dalam teori disolusi atau perpindahan massa, diasumsikan bahwa selama proses
disolusi berlangsung pada permukaan padatan terbentuk suatu lapisan difusi air atau
lapisan tipis cairan yang stagnan dengan ketebalan h. Bila konsentrasi zat terlarut di
dalam larutan (C) jauh lebih kecil daripada kelarutan zat tersebut (Cs) sehingga dapat
diabaikan, maka harga (Cs-C) dianggap sama dengan Cs. Jadi, persamaan kecepatan
disolusi dapat disederhanakan menjadi :

h
DSCs
dt
dM
=






Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

C
s
C

X=0
X=h

Lapisan Difusa Air Larutan










Ketebalan h ini menyatakan lapisan pelarut stasioner di dalam mana molekul-
molekul zat terlarut berada dalam konsentrasi dari C
s
sampai C. dibelakang lapisan difusi
statis tersebut, pada harga x yang lebih besar dari h, terjadi pencampuran dalam
larutan, dan obat terdapat pada konsentrasi yang sama C pada seluruh bulk.
Pada antarmuka permukaan padat dan lapisan difusi, x=0, obat dalam bentuk
padat berada dalam keseimbangan dengan obat dalam lapisan difusi. Perbedaan, atau
perubahan konsentrasi dengan berubahnya jarak untuk melewati lapisan difusi adalah
konstan, seperti terlihat oleh garis lurus yang mempunyai kemiringan (slop) menurun.
Dari persamaan tersebut di atas, tampak beberapa faktor yang dapat
mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat, yaitu :
1. Suhu
Meningginya suhu umumnya memperbesar kelarutan (Cs) suatu zat yang bersifat
endotermik serta memperbesar harga koefisien difusi zat. Menurut Einstein,
koefisien difusi dapat dinyatakan melalui persamaan berikut :
D =
r
T k
q 6


K
O
N
S
E
N
T
R
A
S
I
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

Keterangan :
D : koefisien difusi
r : jari-jari molekul
k : konstanta Boltzman
: viskosita pelarut
T : suhu
2. Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan disolusi suatu zat sesuai
dengan persamaan Einstein. Meningginya suhu juga menurunkan viskositas dan
memperbesar kecepatan disolusi.
3. pH Pelarut
Kelarutan zat aktif yang bersifat asam lemah dan basa lemah pada umumnya
dipengaruhi oleh pH pelarut. Suatu senyawa asam lemah akan memiliki kelarutan
yang lebih besar pada pelarut dengan pH tinggi. Demikian dengan senyawa basa
lemah akan memiliki kelarutan yang lebih besar dalam pelarut dengan pH rendah.
Berikut persamaan untuk masing-masing senyawa adalah :
- Untuk asam lemah
( )
|
|
.
|

\
|
+ =
+
H
Ka
Cs C K
dt
dc
1 . .
Jika (H
+
) kecil atau pH besar maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi zat juga meningkat.
- Untuk basa lemah
( )
|
|
.
|

\
|
+ =
+
Ka
H
Cs C K
dt
dc
1 . .
Jika (H
+
) besar atau pH kecil maka kelarutan zat akan meningkat. Dengan
demikian, kecepatan disolusi juga meningkat.
4. Kecepatan pengadukan
Kecepatan pengadukan mempengaruhi kecepatan disolusi beberapa jenis zat. Pada
zat yang mudah menggumpal setelah menjadi partikel, maka kecepatan
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

pengadukan yang tinggi akan mencegah terjadinya aglomerat sehingga pengukuran
konsentrasi terdisolusi akan lebih baik. Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi
tebal lapisan disolusi (h). Pengadukan yang cepat akan memperkecil tebal lapisan
difusi sehingga kecepatan disolusi akan meningkat.
5. Ukuran Partikel
Jika partikel zat berukuran kecil maka luas permukaan efektif menjadi besar
sehingga kecepatan disolusi meningkat.
6. Polimorfisme
Kelarutan suatu zat dipengaruhi pula oleh adanya polimorfisme. Struktur internal zat
yang berlainan dapat memberikan tingkat kelarutan yang berbeda juga. Kristal meta
stabil umumnya lebih mudah larut daripada bentuk stabilnya, sehingga kecepatan
disolusinya besar.
7. Sifat Permukaan Zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai bahan obat bersifat hidrofob.
Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut, tegangan permukaan antar partikel zat
dengan pelarut akan menurun sehingga zat mudah terbasahi dan kecepatan
disolusinya bertambah.
Laju disolusi obat secara in vitro dipengaruhi beberapa faktor, antara lain :
a. Sifat fisika kimia obat
Sifat fisika kimia obat berpengaruh besar terhadap kinetika disolusi. Luas permukaan
efektif dapat diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel. Laju disolusi akan
diperbesar karena kelarutan terjadi pada permukaan solut. Kelarutan obat dalam air
juga mempengaruhi laju disolusi. Obat berbentuk garam, pada umumnya lebih
mudah larut dari pada obat berbentuk asam maupun basa bebas. Obat dapat
membentuk suatu polimorfi yaitu terdapatnya beberapa kinetika pelarutan yang
berbeda meskipun memiliki struktur kimia yang identik. Obat bentuk kristal secara
umum lebih keras, kaku dan secara termodinamik lebih stabil daripada bentuk
amorf, kondisi ini menyebabkan obat bentuk amorf lebih mudah terdisolusi daripada
bentuk kristal.
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

b. Faktor alat dan kondisi lingkungan
Adanya perbedaan alat yang digunakan dalam uji disolusi akan menyebabkan
perbedaan kecepatan pelarutan obat. Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi
kecepatan pelarutan obat, semakin cepat pengadukan maka gerakan medium akan
semakin cepat sehingga dapat menaikkan kecepatan pelarutan. Selain itu
temperatur, viskositas dan komposisi dari medium, serta pengambilan sampel juga
dapat mempengaruhi kecepatan pelarutan obat.
c. Faktor formulasi
Berbagai macam bahan tambahan yang digunakan pada sediaan obat dapat
mempengaruhi kinetika pelarutan obat dengan mempengaruhi tegangan muka
antara medium tempat obat melarut dengan bahan obat, ataupun bereaksi secara
langsung dengan bahan obat. Penggunaan bahan tambahan yang bersifat hidrofob
seperti magnesium stearat, dapat menaikkan tegangan antar muka obat dengan
medium disolusi. Beberapa bahan tambahan lain dapat membentuk kompleks
dengan bahan obat, misalnya kalsium karbonat dan kalsium sulfat yang membentuk
kompleks tidak larut dengan tetrasiklin. Hal ini menyebabkan jumlah obat terdisolusi
menjadi lebih sedikit dan berpengaruh pula terhadap jumlah obat yang diabsorpsi
(Martin et al, 1990).
Menurut sumber lain, yang mempengaruhi kecepatan disolusi terbagi menjadi
tiga, yaitu :
a. Faktor intrinsik obat
- Luas permukaan spesifik partikel
- Distribusi ukuran partikel
- Bentuk partikel
- Polimorfi
- Bentuk asam, basa, garam
b. Faktor lingkungan medium
- Temperatur
- Viskositas cairan
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

- Konsentrasi partikel yang terdisolusi
- Kecepatan mengalirnya cairan
- Komposisi medium disolusi : pH, kekuatan ionisasi, tegangan permukaan.
c. Faktor teknologi
Perbedaan metode yang digunakan dalam produksi turut mempengaruhi disolusi
obat. Demikian pula pengunaan bahan-bahan tambahan dalam produksi. Contoh
bahan tambahan yang sering digunakan pensuspensi yang akan menurunkan laju
disolusi karena kenaikan adalah kekentalan. Contoh lain adalah bahan pelicin yang
bersifat hidrofob karena mampu menolak air sehingga menurunkan laju disolusi obat
(Isfilawati Z,2009).
Penentuan kecepatan disolusi suatu zat dapat dilakukan melalui metode :
1. Metode Suspensi
Serbuk zat padat ditambahkan ke dalam pelarut tanpa pengontrolan eksak terhadap
luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah
zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai.
2. Metode Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya sehingga variable
perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan. Umumnya zat diubah menjadi
tablet terlebih dahulu, kemudian ditentukan seperti pada metode suspensi.
Penentuan dengan metode suspensi dapat dilakukan dengan menggunakan alat
uji disolusi tipe dayung seperti yang tercantum pada USP. Sedangkan untuk metode
permukaan tetap, dapat digunakan alat seperti diusulkan oleh Simonelli dkk sebagai
berikut.

Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University



Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan disolusi suatu zat perlu dilakukan
karena kecepatan disolusi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi
obat di dalam tubuh. Penentuan kecepatan disolusi suatu zat aktif dapat dilakukan pada
beberapa tahap pembuatan suatu sediaan obat, antara lain :
1. Tahap Pra Formulasi
Pada tahap ini penentuan kecepatan disolusi dilakukan terhadap bahan baku obat
dengan tujuan untuk memilih sumber bahan baku dan memperoleh informasi
tentang bahan baku tersebut.
2. Tahap Formulasi
Pada tahap ini penentuan kecepatan disolusi dilakukan untuk memilih formula
sediaan yang terbaik.
3. Tahap Produksi
Pada tahap ini kecepatan disolusi dilakukan untuk mengendalikan kualitas
sediaan obat yang diproduksi (Martin et al,1990).







Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

C. MONOGRAFI ZAT AKTIF

Asam Salisilat
- Struktur :







- Pemerian : Hablur putih, biasanya berbentuk jarum halus atau serbuk hablur halus
putih, rasa agak manis, tajam dan stabil di udara. Bentuk sintetis warna putih dan
tidak berbau. Jika dibuat dari metal salisilat alami dapat berwarna kekuningan atau
merah jambu dan berbau lemah mirip mentol.
- Kelarutan : Sukar larut dalam air dan dalam benzene, mudah larut dalam etanol dan
dalam eter, larut dalam air mendidih, agak sukar larut dalam kloroform.
- Penetapan kadar : Timbang saksam lebih kurang 500 mg, larutkan dalam 25 ml etanol
encer P yang sudah dinetralkan dengan natrium hidroksida 0,1 N, tambahkan
fenolftalein LP dan titrasi dengan natrium hidroksida 0,1 N LV.
- Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
- Khasiat dan penggunaan : Sebagai obat analgesik.





Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

D. ALAT DAN BAHAN

1. Alat
- Beker gelas
- Labu ukur
- Pipet volum
- Gelas ukur
- Kertas timbang
- Thermostat
- Alat uji kecepatan disolusi tipe dayung
2. Bahan
- Asam Salisilat
- Aquadest
- NaOH 0,05 N
- Indikator fenolftalein











Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University

E. PERHITUNGAN DAN PENIMBANGAN

1. Konsentrasi NaOH
N = M x ek
M =


M =
mol grek
L grek
/ . 1
/ . 05 , 0

M = 0,05 mol/L
= 0,05 M

2. Rata rata
Rpm : 50 ; Suhu : 24
o
C
R
1
=

= 0.2
R
2
=

= 0.9
R
3
=

= 0.6
R
4
=

= 1.16
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 12 dari 6
Rpm : 100 ; Suhu : 24
o
C
R
1
=

= 0.9
R
2
=

= 1.63
R
3
=

= 2.86
R
4
=

= 4.23
R
5
=

= 4.96
R
6
=

= 4.5
R
7
=

= 4.73

Rpm : 100 ; Suhu : 37
o
C
R
1
=

= 1.36
R
2
=

= 1.76
R
3
=

= 2.53
R
4
=

= 1.6
R
5
=

= 2.7
R
6
=

= 2.5

3. Nilai sampel
Rpm : 50 ; Suhu : 24
o
C
- Menit ke 1
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
0.2 x 0.05 = 20 x N
2
N
2
=

= 0.0005

Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 13 dari 6

- Menit ke 5
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
0.9 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.00225
- Menit ke 15
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
0.6 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.0015
- Menit ke 30
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
1.16 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.0029
Rpm : 100 ; Suhu : 24
o
C
- Menit ke 1
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
0.9 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.00225
- Menit ke 5
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
1.6 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.004075
- Menit ke 10
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
2.86 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.00715
- Menit ke 15
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
4.23 x 0.05 = 20 x N
2

Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 14 dari 6
N
2
=

= 0.010575
- Menit ke 20
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
4.96 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.0124
- Menit ke 25
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
4.5 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.01125
- Menit ke 30
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
4.73 x 0.05= 20 x N
2

N
2
=

= 0.011825

Rpm : 100 ; Suhu : 27
o
C
- Menit ke 1
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
1.36 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.0034
- Menit ke 5
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
1.76 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.0044
- Menit ke 10
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
2.53 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.006325
- Menit ke 15
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 15 dari 6
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
1.6 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.004
- Menit ke 20
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
2.7 x 0.05 = 20 x N
2

N
2
=

= 0.00675
- Menit ke 25
V
1
.N
1
= V
2
.N
2
2.5 x 0.05 = 20x N
2

N
2
=

= 0.00625

4. Faktor koreksi disolusi
Rpm 50 ; suhu 24
o
C
1 menit : 0.0005
5 menit :

= 0.00226
15 menit :

= 0.00155
30 menit :

= 0.00293

Rpm 100 ; Suhu 24
o
C
1 menit = 0.00225
5 menit =

= 0.004125
10 menit =

= 0.00724
15 menit =

= 0.001074
20 menit =

= 0.001243
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 16 dari 6
25 menit =

= 0.001153
30 menit =

= 0.001208

Rpm 100 ; Suhu 37
o
C
1 menit = 0.0034
5 menit =

= 0.004475
10 menit =

= 0.00642
15 menit =

= 0.00414
20 menit =

= 0.00684
25 menit =

= 0.00640

F. PROSEDUR KERJA

1. Pengaruh suhu terhadap kecepatan disolusi zat
Bejana diisi dengan 900 ml air suling

Thermostat dipasang pada suhu 30C

Jika suhu air di dalam bejana sudah mencapai 30C, 2 gram Asam salisilat dimasukkan ke
dalam bejana dan motor penggerak dihidupkan pada kecepatan 50 rpm

Sebanyak 20 ml air diambil dari bejana setiap selang waktu 1, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit
setelah pengadukan. Setiap selesai pengambilan sampel, segera digantikan dengan 20 ml air
suling

Kadar asam salisilat terlarut dari setiap sampel ditentukan dengan metode titrasi asam basa
menggunakan NaOH 0,05 N dan indicator fenolftalein. Lakukan koreksi konsentrasi asam
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 17 dari 6
salisilat yang diperoleh setiap selang waktu pengenceran yang dilakukan karena penggantian
larutan sampel dengan air suling

Dilakukan percobaan yang sama pada suhu 24C dan 37C untuk melihat pengaruh suhu
terhadap kecepatan disolusi

Hasil yang diperoleh ditabelkan

Dibuat kurva antar konsentrasi asam salisilat yang diperoleh dengan waktu

2. Pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi zat
Bejana diisi dengan 900 ml air suling

Thermostat dipasang pada suhu 30C

Jika suhu air di dalam bejana sudah mencapai 30C, 2 gram Asam salisilat dimasukkan ke
dalam bejana dan motor penggerak dihidupkan pada kecepatan 50 rpm

Sebanyak 20 ml air diambil dari bejana setiap selang waktu 1, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit
setelah pengadukan. Setiap selesai pengambilan sampel, segera digantikan dengan 20 ml air
suling

Kadar asam salisilat terlarut dari setiap sampel ditentukan dengan metode titrasi asam basa
menggunakan NaOH 0,05 N dan indicator fenolftalein. Lakukan koreksi konsentrasi asam
salisilat yang diperoleh setiap selang waktu pengenceran yang dilakukan karena penggantian
larutan sampel dengan air suling

Dilakukan percobaan yang sama dengan kecepatan pengadukan 50 dan 100 rpm untuk
melihat pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi

Hasil yang diperoleh ditabelkan

Dibuat kurva antar konsentrasi asam salisilat yang diperoleh dengan waktu
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 18 dari 6



G. HASIL PENGAMATAN

1. Kecepatan pengadukan 50 rpm ; suhu 24
o
C
Waktu Erlenmeyer NaOH yang
digunakan
1 menit
1 0.1 ml
2 0.1 ml
3 0.4 ml
5 menit
1 0.6 ml
2 1.6 ml
3 0.5 ml
15 menit
1 0.4 ml
2 1 ml
3 0.6 ml
30 menit
1 0.4 ml
2 2.5 ml
3 0.6 ml

2. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 24
o
C
Waktu Erlenmeyer NaOH yang
digunakan
1 menit
1 0.5 ml
2 0.4 ml
3 1.8 ml
5 menit
1 0.8 ml
2 1.9 ml
3 2.2 ml
10 menit 1 2.7 ml
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 19 dari 6
2 3.2 ml
3 2.7 ml
15 menit
1 4 ml
2 4.1 ml
3 4.6 ml
20 menit
1 4.8 ml
2 4.5 ml
3 5.6 ml
25 menit
1 3.4 ml
2 5.3 ml
3 4.8 ml
30 menit
1 0.5 ml
2 6.2 ml
3 7.5 ml

3. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 37
o
C
Waktu Erlenmeyer NaOH yang
digunakan
1 menit
1 0.7 ml
2 1.9 ml
3 1.5 ml
5 menit
1 2.1 ml
2 0.7 ml
3 2.5 ml
10 menit
1 2ml
2 0.9 ml
3 4.7 ml
15 menit
1 1.6 ml
2 1.2 ml
3 2 ml
20 menit
1 3 ml
2 1.8 ml
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 20 dari 6
3 3.3 ml
25 menit
1 2.7 ml
2 2.2 ml
3 2.6 ml
NILAI SAMPEL

1. Kecepatan pengadukan 50 rpm ; suhu 24C
Waktu Konsentrasi
1 menit 0.0005
5 menit 0.00225
15 menit 0.0015
20 menit 0.0029

2. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 24C
Waktu Konsentrasi
1 menit 0.00225
5 menit 0.00407
10 menit 0.00715
15 menit 0.010575
20 menit 0.0124
25 menit 0.01125
30 menit 0.011825

3. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 37C
Waktu Konsentrasi
1 menit 0.0034
5 menit 0.0044
10 menit 0.006325
15 menit 0.004
20 menit 0.00675
25 menit 0.00625

Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 21 dari 6




FAKTOR KOREKSI DISOLUSI
1. Kecepatan pengadukan 50 rpm ; suhu 24C
Waktu Konsentrasi terkoreksi
1 menit 0.0005
5 menit 0.00226
15 menit 0.00155
20 menit 0.00293

2. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 24C
Waktu Konsentrasi terkoreksi
1 menit 0.00225
5 menit 0.004125
10 menit 0.00724
15 menit 0.001074
20 menit 0.01243
25 menit 0.01153
30 menit 0.01208

3. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 37C
Waktu Konsentrasi terkoreksi
1 menit 0.0034
5 menit 0.004475
10 menit 0.006424
15 menit 0.004143
20 menit 0.006842
25 menit 0.006402


Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 22 dari 6



Grafik pengaruh kecepatan pengadukan






0
0.002
0.004
0.006
0.008
0.01
0.012
0.014
0 5 10 15 20 25 30 35
rpm 50
rpm 100
0
0.002
0.004
0.006
0.008
0.01
0.012
0.014
0 5 10 15 20 25 30 35
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

Waktu (menit)
Grafik pengaruh suhu
rpm 100 suhu 24C
rpm 100 suhu 37C
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 23 dari 6



H. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, dilakukan uji kecepatan disolusi yang bertujuan untuk
menentukan kecepatan disolusi suatu zat, menggunakan alat penentuan kecepatan disolusi
suatu zat, dan menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat.
Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut
dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu. Kecepatan disolusi suatu zat dapat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, yaitu suhu, viskositas, pH pelarut, pengadukan, ukuran partikel,
polimorfisme, dan sifat permukaan zat (Tim Penyusun, 2009). Pada praktikum ini, faktor yang
diperhatikan dalam uji kecepatan disolusi adalah faktor pengadukan dan faktor suhu.
Pengujian kecepatan disolusi dilakukan terhadap asam salisilat dalam air. Rumus molekul
adalah C
7
H
6
O
3
dan rumus strukturnya sebagai berikut (Anonim c, 1979) :



Dari rumus struktur di atas, terlihat bahwa asam salisilat memiliki gugus polar dan gugus
nonpolar. Gugus polar dari asam salisilat adalah gugus OH dan gugus nonpolar pada asam
salisilat adalah gugus cincin benzen. Struktur tersebut menyebabkan asam salisilat larut pada
sebagian pelarut polar dan sebagian pada pelarut non polar. Namun, karena memiliki gugus
polar dan nonpolar sekaligus dalam satu gugus, asam salisilat sukar larut dengan sempurna
pada pelarut polar saja atau pelarut nonpolar saja. Asam salisilat sukar larut pada air yang
merupakan pelarut polar dan benzena yang merupakan pelarut nonpolar, tetapi mudah larut
pada etanol dan eter yang merupakan pelarut semipolar (Anonim a, 1995).
Metode yang digunakan dalam penentuan kecepatan disolusi adalah metode suspensi,
dimana serbuk asam salisilat dimasukkan ke dalam air tanpa melakukan pengontrolan eksak
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 24 dari 6
terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu tertentu dan kadar zat
yang larut ditentukan. Alat yang digunakan adalah pengaduk (shaker) yang berupa Stirrer SS
2. Percobaan ini dilakukan dengan kecepatan pengadukan yang berbeda untuk mengetahui
pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi dan pengaruh suhu terhadap
kecepatan disolusi.
Proses penentuan kecepatan disolusi asam salisilat dalam air diawali dengan
menimbang asam salisilat sebanyak 2 gram yang kemudian dimasukkan ke dalam beaker dan
ditambahkan dengan 900 mL air suling. Beaker diletakkan di bawah shaker dan motor
penggerak dinyalakan dengan kecepatan 50 rpm dan suhu 24C. Larutan diambil sebanyak 20
mL pada menit ke- 1, 5, 15, 20, 25, dan 30. Setiap pengambilan 20 mL larutan dari beaker,
diimbangi dengan penambahan 20 mL air suling ke dalam beaker agar volume larutan
konstan. Proses ini diulangi dengan mengubah kecepatan pada shaker menjadi 100 rpm dan
suhu 24C. Lalu suhu juga dirubah, suhu pertama yang digunakan adalah suhu 24C lalu suhu
37C. Hal ini dilakukan agar kita mengetahui pengaruh suhu terhadap kecepatan disolusi.
Kadar asam salisilat yang larut ditentukan dengan titrasi menggunakan NaOH 0,05 N
sebagai pentiter dan fenolftalein 3 tetes sebagai indikator. Pada titik akhir titrasi, warna
larutan asam salisilat akan berubah dari bening menjadi merah muda. Pada titik akhir titrasi,
jumlah mol asam salisilat sama dengan jumlah mol NaOH. Hasil dari percobaan adalah sebagai
berikut :
1. Kecepatan pengadukan 50 rpm ; suhu 24C
Waktu Konsentrasi
1 menit 0.0005
5 menit 0.00225
15 menit 0.0015
20 menit 0.0029

2. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 24C
Waktu Konsentrasi
1 menit 0.00225
5 menit 0.00407
10 menit 0.00715
15 menit 0.010575
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 25 dari 6
20 menit 0.0124
25 menit 0.01125
30 menit 0.011825
3. Kecepatan pengadukan 100 rpm ; suhu 37C
Waktu Konsentrasi
1 menit 0.0034
5 menit 0.0044
10 menit 0.006325
15 menit 0.004
20 menit 0.00675
25 menit 0.00625

Dari semua tabel di atas, terlihat bahwa konsentrasi asam salisilat pada pengadukan
dengan kecepatan 50 rpm lebih kecil dibandingkan dengan konsentrasi pada pengadukan
dengan kecepatan 100 rpm. Hal ini disebabkan karena kecepatan pengadukan mempengaruhi
tebal lapisan difusi. Sehingga, pengadukan yang cepat mampu mengurangi tebal lapisan
difusi dengan cepat yang menyebabkan kecepatan disolusi zat (asam salisilat) dalam
pelarutnya (air suling) meningkat. Selain kecepatan pengadukan, lama pengadukan juga
dapat mempengaruhi kecepatan disolusi. Hubungan antara lama pengadukan dengan
konsentrasi asam salisilat yang diperoleh adalah sebagai berikut :


0
0.002
0.004
0.006
0.008
0.01
0.012
0.014
0 5 10 15 20 25 30 35
rpm 50
rpm 100
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 26 dari 6

Dari grafik di atas, terlihat bahwa konsentrasi asam salisilat pada pengadukan dengan
kecepatan 100 rpm semakin lama semakin meningkat. Sedangkan, konsentrasi asam salisilat
pada pengadukan dengan kecepatan 50 rpm hanya mengalami peningkatan sekali. Hal ini
disebabkan karena pada pengadukan dengan kecepatan 50 rpm, laju disolusi asam salisilat
dalam air lambat sehingga waktu yang dipelukan untuk menjenuhkan asam salisilat lebih
lama. Karenanya konsentrasi asam salisilat dalam air semakin lama semakin meningkat. Jika
percobaan dilanjutkan, maka konsentrasi asam salisilat semakin lama akan meningkat hingga
tercapai keadaan jenuh dan konsentrasinya akan tetap karena kelarutan asam salisilat dalam
air tebatas.
Selain itu faktor yang mempengaruhi laju disolusi adalah suhu. Dalam persamaan
Einstein, suhu akan mempengaruhi koefisien disolusi. Perubahan koefisien disolusi tentu akan
mengubah laju disolusi. Berdasarkan data pengamatan didapat grafik pengaruh suhu
terhadap kecepatan disolusi yaitu sebagai berikut :



Peningkatan suhu akan memperbesar harga koefisien disolusi sehingga meningkatkan
laju disolusi. Kenaikan suhu akan mengakibatkan peningkatan energi kinetik zat, baik pelarut,
maupun zat terlarut. Untuk zat dalam panadatn, kenaikan suhu akan memperkecil kekuatan
ikatan intermolekul sehingga molekul padatan lebih mudah terbebaskan ke dalam larutan.
Energi kinetik zat pelarut yang semakin besar akan memperbesar kemungkinan tumbukan
0
0.002
0.004
0.006
0.008
0.01
0.012
0.014
0 5 10 15 20 25 30 35
K
o
n
s
e
n
t
r
a
s
i

Waktu (menit)
Grafik pengaruh suhu
rpm 100 suhu 24C
rpm 100 suhu 37C
Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 27 dari 6
dengan molekul zat padatan yang ada dipermukaan padatan. Tumbukan ini dapat
menimbulkan interaksi antara pelarut dan padatan, yaitu adanya tarik-menarik. Gaya tarik-
menarik ini bisa menyebabkan molekul dalam padatan terbawa ke dalam larutan. Karena
kemungkinan tumbukan semakin tinggi akibat kenaikan suhu, penarikan molekul padatan
menuju larutan akan semakin tinggi intensitasnya.

I. KESIMPULAN

1. Kecepatan disolusi adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut
dalam pelarut tertentu setiap satuan waktu.
2. Faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat diantaranya faktor kecepatan
pengadukan dan suhu.
3. Pengadukan dengan kecepatan 100 rpm menghasilkan konsentrasi asam salisilat yang lebih
besar dibandingkan pada kecepatan 50 rpm karena pengadukan yang semakin cepat akan
memperbesar laju disolusi.
4. Percobaan pada suhu 37C menghasilkan konsentrasi asam salisilat yang lebih besar
dibandingkan pada kecepatan 24C karena asam salisilat lebih cepat terlarut dan lebih
cepat terdisolusi pada suhu yang lebih tinggi.












Laporan Praktikum Farmasi Fisika
2011

Lab. Farmasi Terpadu Unit E Farmasi Fisika Department of Pharmacy Bandung Islamic University 28 dari 6
DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 1995. Farmakope Indonesia Edisi Keempat. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik
Indonesia
Martin, Alfred et al. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Martin, Alfred et al. 1990. Farmasi Fisik Edisi Ketiga Jilid II. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Tim Penyusun. 2011. Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika. Unversitas Islam Bandung : Program studi
Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Underwood, A. L, dan Day, R. A. 1981. Analisa Kimia Kuantitatif Edisi Keempat. Surabaya : Penerbit
Erlangga
http://www.scribd.com/doc/30436043/kecepatan-disolusi diakses pada hari Sabtu 7 Mei 2011 pukul
20.00
http://otetatsuya.wordpress.com/2008/12/20/kecepatan-disolusi/ diakses pada hari Sabtu 7 Mei
2011 pukul 20.00
http://www.scribd.com/doc/38033895/5-DISOLUSI diakses pada hari Sabtu 7 Mei 2011 pukul 21.00








Bandung, ................................... 2011

Mengesahkan
Asisten Penanggungjawab Kelompok, Nilai Laporan Praktikum,




________________________________ ______________________________