Anda di halaman 1dari 8

HUKUM I TERMODINAMIKA

A. Kalor
Jika dua sistem atau lebih dengan temperatur yang tidak sama
dipersatukan sehingga terjadi interaksi yang bersiIat adiabatik, maka temperatur
akhir yang dicapai oleh sistem-sistem tersebut akan berada di antara temperatur
permulaan dari sistem. Misalnya antara es dengan air (temperatur keduanya sangat
jauh berbeda) yang dicampurkan dalam suatu baskom, maka temperatur akhir
campuran antara air dengan es berada diantara temperatur awal es dan air.
Fenomena ini merupakan Ienomena yang biasa terjadi dalam kehidupan sehari-
hari. Para ilmuwan sebelum abad ke sembilanbelas menerangkan Ienomena ini
dengan mendalihkan bahwa suatu zat bahan yang disebut dengan kalorik terdapat
di dalam setiap benda. Diyakini bahwa dalam benda bertemperatur tinggi terdapat
lebih banyak kalorik ketimbang benda yang bertemperatur lebih rendah. Jika
kedua benda dipersatukan, maka kalorik pada benda yang bertemperatur lebih
tinggi akan berpindah ke benda dengan temperatur lebih rendah hingga terjadi
kesetimbangan temperatur. Dengan kata lain, kalor dipandang sebagai suatu
wujud zat yang kekal (suatu Iluida yang tak tampak yang dinamakan kalorik)
yang tidak diciptakan dan tidak dimusnahkan tetapi hanya mengalir ke luar dari
suatu benda ke benda lain.
Jika dimisalkan terdapat dua sistem, yaitu sistem A dan sistem B, masing-
masing temperaturnya T
A
dan T
B
seperti terlihat pada gambar (1), dan temperatur
sistem A lebih besar daripada temperatur sistem B






Jika kedua sistem ini saling dikontakkan/disentuhkan, maka suatu saat
temperatur sistem A akan sama dengan temperatur sistem B, karena ada sesuatu
% % %%
0aroar 1
yang berpindah dari sistem A ke sistem B. Sesuatu ini kemudian disebut dengan
kalor, yang merupakan salah satu bentuk energi.
Berbagai proses, seperti misalnya hantaran kalor dapat dijelaskan dengan
teori kalorik, namun secara eksperimen, konsep kalor sebagai sebuah zat yang
jumlah seluruhnya tetap konstan tidak didukung oleh Iakta-Iakta eksperimen.
Secara ekperimen tampak bahwa kalorik dapat diciptakan tanpa batas lewat proses
mekanik berupa gesekan tanpa hilangnya kalorik yang sama di suatu tempat lain.
Hal ini seperti yang teramati oleh seorang ilmuwan Amerika, Benjamin
Thompson, pada akhir abad ke delapanbelas.
Kalor merupakan perpindahan energi dari benda yang bertemperatur lebih
tinggi ke benda yang bertemperatur lebih rendah. Kalor baru muncul jika terdapat
proses perpindahan energi. Secara historis, satuan energi kalor/panas adalah
kalori, yaitu mula-mula dideIinisikan sebagai jumlah energi panas yang
dibutuhkan untuk menaikkan temperatur satu gram air sebesar satu derajat Celsius
(atau satu Kelvin). Kilokalori adalah banyaknya energi panas yang dibutuhkan
untuk menaikkan temperatur satu kilogram air sebesar satu derajat Celsius. Kalor
merupakan bentuk lain dari energi, oleh karenanya kalori dapat juga dinyatakan
dalam satuan SI untuk energi, yaitu joule. 1 kal 4,184 J.

. Hukum I Termodinamika
Termodinamika merupakan ilmu yang mengkaji tentang energi, dan secara
spesiIik mengkaji tentang hubungan antara energi panas dengan kerja. Energi
dapat diubah dari bentuk satu ke bentuk yang lain secara alami maupun melalui
rekayasa teknologi. Energi di alam semesta bersiIat kekal, tidak dapat
dibangkitakn atau dihilangkan, melainkan yang terjadi adalah perubahan bentuk
energi tanpa adanya pengurangan atau penambahan. Prinsip ini disebut sebagai
prinsip konservasi energi atau kekalan energi. Hukum I Termodinamika
merupakan pernyataan dari prinsip konservasi energi, yaitu energi tidak dapat
diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, namun hanya bisa diubah bentuknya dan
bisa berpindah. Hukum I Termodinamika menggambarkan hasil banyak
eksperimen yang menghubungkan usaha yang dilakukan pada sistem, panas yang
ditambahkan atau dikurangkan pada suatu sistem, dan energi internal sistem. Dari
deIinisi awal kalori, diketahi bahwa dibutuhkan satu kalori kalor untuk menaikkan
temperatur 1 gram air dengan satu derajat Celsius. Akan tetapi, temperatur air atau
sistem lain juga dapat dinaikkan dengan melakukan usaha padanya tanpa
menambahkan kalor sedikitpun. Hal ini seperti dilakukan melalui eksperimen oleh
Joule untuk mentransIer energi gerak menjadi energi kalor.
Jika suatu sistem mengalami kontak dengan reservoir, yaitu suatu benda
yang temperaturnya tetap meskipun menerima atau melepaskan sejumlah kalor
karena benda tersebut memiliki ukuran yang begitu besar (reservoir alami,
contohnya adalah udara luar dan air laut, dan dalam berbagai eksperimen
dibuatkan suatu sistem yang berIungsi sebagai reservoir untuk tujuan-tujuan
tertentu), yang mempunyai temperatur lebih tinggi daripada sistem maka sejumlah
kalor akan masuk sistem seperti ditunjukkan pada gambar berikut.











Apabila sistem mengalami pertambahan volume (berekspansi) dan
melakukan kerja sebesar W, maka sebagian kalor yang diterima oleh sistem dari
reservoir (Q) akan digunakan untuk proses ekspansi tersebut dan sisanya akan
menyebabkan pertambahan energi dalam sistem (U). Jika keadaan sebuah sistem
berubah dari keadaan awal menuju ke keadaan akhir, maka kuantitas-kuantitas Q-
W hanya bergantung apda koordinat-koordinat mula-mula dan akhir dan tidak
bergantung pada jalan atau proses yang diambil di antara titik-titik ujung tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa terdapat Iungsi dari koordinat-koordinat termodinamika
yang nilai akhirnya dikurangi nilai awalnya menyamai perubahan Q-W di dalam
$8902
" #
$
0aroar 2
proses tersebut. Fungsi tersebut dinamakan sebagai Iungsi energi dalam (internal
energy function). Jika energi dalam awal sistem adalah sebesar U
1
dan energi
dalam sistem pada akhir proses adalah sebesar U
2
, maka pada akhir proses selisih
energi dalam sistem sama dengan selisih antara kalor yang diterima sistem (Q)
dan usaha yang dilakukan (W). Secara matematis hal ini dapat dirumuskan
sebagai berikut.
U
2
U
1
Q W .................................................... (1)
Persamaan (1) juga dapat ditulis sebagai:
Q AU W ............................................................. (2)
Persamaan (1) di atas merupakan salah satu bentuk dari persamaan Hukum
I Termodinamika. W menyatakan usaha yang dilakukan oleh sistem pada
lingkungannya, -W menaytakan usaha yang dilakukan pada sistem, Q menyatakan
kalor yang diberikan kepada sistem, -Q menyatakan kalor yang dilepaskan oleh
sistem. Jadi dapat diketahui bahwa perubahan energi dalam sistem sama dengan
selisih antara jumlah kalor yang diterima sistem dengan jumlah usaha yang
ditimbulkan oleh sistem. Kuantitas-kuantitas Q dan W bukan merupakan
karakteristik dari keadaan (kesetimbangan) sistem, melainkan adalah merupakan
proses termodinamika, yang mana sistem tersebut bergerak dari suatu keadaan
kesetimbangan ke suatu kesetimbangan yang lain, dengan berinteraksi dengan
lingkungannya. Hanya selama proses seperti itulah dapat diberikan arti kepada
kalor dan kerja. Kalor yang diberikan pada sistem diperhitungkan sebagai usaha
yang dilakukan oleh sistem atau sebagai kenaikan energi internal/dalam sistem
atau sebagai kombinasi tertentu dari keduanya.
Hukum I Termodinamika dapat dinyatakan sebagai 'kalor total yang
ditambahkan pada suatu sistem sama dengan perubahan energi dalam sistem
ditambah usaha yang dilakukan oleh sistem.
Usaha tergantung pada lintasan atau bergantung pada proses yang dijalani
sistem, sehingga menurut hukum I Termodinamika dapat dibuktikan perubahan
energi dalam sistem (U) tidak bergantung pada proses yang dijalani sistem,
seperti gambar berikut ini.












Gambar di atas mengilustrasikan suatu proses, yaitu suatu sistem keadaanya
berubah dari keadaan a menuju keadaan b. Banyak proses yang dapat dilakukan
atau ditempuh untuk mencapai keadaan b, dalam hal ini dapat dilakukan melalui
proses ab, acb, dan adb. Tetapi perubahan energi dalam sistem sama, jadi U acb
U adb U ab. Perubahan energi dalam sistem hanya bergantung pada
keadaan awal dan keadaan akhir sistem. Oleh karena perubahan energi dalam
tidak bergantung pada proses maka U merupakan suatu Iungsi keadaan/variabel
sistem.

C. Kapasitas kalor dan Kalor 1enis
Sudah sejak lama besaran kalor yang masuk atau keluar system dinyatakan
dalam satuan kalori. Satu kalori dideIinisikan sebagai kalor yang diperlukan untuk
menaikan suhu 1
o
C pada 1 gram air.
kalor yang diperlukan untuk menaikan 1 gram air dengan skala suhu 1
o
C,
misalnya dari 10
o
C ke 11
o
C ternyata berbeda dengan kenaikan suhu dari 50
o
C ke
51
o
C. Oleh karena itu biasanya diambil untuk selang suhu tertentu dan yang
dipilih ialah antara 14,5
o
C dan 15,5
o
C. Kalor ini disebut kalor 15-derajat, yang
untuk selanjutnya disebut kalori saja. Sementara itu berdasarkan kesepakatan
Internasional
1 kalori
860
1
watt jam
860
3600
joule 4,1858 J
0aroar 3
va vo
v
pa
po
p
a
o
d
c
Kapasitas kalor suatu zat adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk
menaikan suhu zat itu sebesar 1 K. Jika suhu zat itu naik sebesar dT dan kapasitas
kalor zat itu adalah C, maka kalor yang diperlukan adalah
dT C Q d .
Jadi kapasitas kalor zat itu dapat dirumuskan sebagai
dT
Q d
C
Jika system menjalani perubahan dari T
1
ke T
2
selama berlangsungnya
perpindahan kalor (Q) maka kapasitas kalor rata-rata dari system itu dideIinisikan:
1 2
T T
Q
C


Dari devinisi di atas jelaslah bahwa satuan kapasitas kalor dalam SI adalah
J/K. Kapasitas kalor sesungguhnya tiap satu satuan massa disebut dengan kalor
jenis (c).
dT m
Q d
m
C
c
.

Satuan kalor jenis ialah J/kg K . Jika kapsitas kalor C dibagi dengan jumlah mol n
dalam system, hasilnya disbut kapasitas kalor jenis molal, yag juga diberi lambing
c. Jadi;

dT n
Q d
n
C
c
.

Satuan kapasitas kalor jenis molal ialah J/mol K.
Karena
dT m
Q d
c
.
maka;
dT c m Q d . .

2
1
.
T
T
dT c m Q
Umumnya c merupakan Iungsi suhu, sehingga tidak dapat dikeluarkan dari tanda
integral. Sehingga c hanya boleh dikeluarkan dari tanda integral jika dapat
dianggap konstan.
Kapasitas kalor bisa bernilai negatiI, nol, positiI atau tak berhingga,
bergantung pada proses yang dialami system selama proses perpindahan kalor.
kapasitas kalor mempunyai harga tertentu hanya untuk proses tertentu. dalam hal
system Hidrostatik, hasil bagi
dT
Q d
C memiliki harga unik bila tekanan dijaga
tetap. dalam kondisi ini C disebut kapasitas kalor pada tekanan tetap dan diberi
lambang Cp, dengan;
p
p
dT
Q d
C


Pada umumnya Cp adalah Iungsi dari P dan T. Demikian juga kapasitas kalor
pada volume tetap ialah
;
;
dT
Q d
C


dan kuantitas ini bergantung pada V dan T. Pada umumnya Cp dan Cv berbeda
besarnya. Setiap system sederhana memiliki kapasitas kalornya sendiri.
Kalor jenis tergantung pada proses. Hal ini dapat dipandang dari suatu
sistem yang menyerap sejumlah kalor sehingga temperatur sistem berubah dari T
dT. Perubahan ini dilalui dengan berbagai proses, seperti ditunjukkan pada
gambar berikut.








Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, Q tergantung pada proses yang
dijalani sistem sehingga:
Qae d Qad d Qac d Qab d

maka
dT
Q d
untuk setiap proses mempunyai harga tertentu. Sehingga kalor
jenis tergantung pada proses, dan tergantung juga pada jenis benda. Contoh; gas
monoatomik pada proses tekanan konstan cp 5/2 R, dan pada proses volume
konstan cv 3/2 R.
T + dT
e
T
b
c
d
V
P
a
Daftar Pustaka

Rapi, Ni Ketut. 1999. Termodinamika (buku ajar). Tidak diterbitkan.
Resnick, Robert dan David Halliday. Fisika (Edisi ke Tiga Jilid 1). Jakarta:
Erlangga.