Anda di halaman 1dari 6

Tabeng Dada Gede Basur Penguasa Ilmu Leak Desti Di Bali

Oleh Adang Suprapto


L eak Desti di Bali dari jaman dulu kala sudah menjadi Ienomena yang tak pernah sirna dimakan
jaman, keberadaannya dari dulu menjadi momok yang menakutkan masyarakat.

Leak Desti adalah perwujudan ilmu leak tingkat paling bawah yaitu perwujudannya bisa
berbentuk binatang yang namanya Lelakut yaitu sejenis kadal yang besar berbadan hitam loreng-
loreng, berkepala manusia berwajah seram dan hitam, rambutnya terurai, taringnya panjang,
giginya runcing, matanya lebar dan menyala keluar api berwarna hijau, mempunyai ekor panjang
warnannya loreng hitam putih.

Leak Desti ada juga berbentuk binatang yang
namanya Bebae yaitu sejenis binatang kambing berbulu putih mulus, mempunyai telinga panjang
menjulur kebawah sampai menyentuh tanah.

Leak Desti ini sasarannya adalah orang-orang yang penakut sehingga kalau orang yang ketakutan
ini melihat leak Desti maka ia akan lari terbirit-birit dan bisa terjatuh dan pada saat jatuh itulah
maka Leak Desti ini akan menyerang dan akan mengisap darah orang yang terjatuh tadi.

Disamping orang yang ketakutan juga bisa disasar anak-anak kecil terutama bayi-bayi sehingga
bayi-bayi itu bisa menangis terus-menerus dan tidak mau menyusu pada ibunya dan lama-lama
sampai anak kecil tersebut jatuh sakit.

Leak Desti ini di Bali ada penangkalnya yaitu melalui orang-orang Wiku yaitu orang yang sudah
menguasai ilmu pengobatan yang disebut ilmu Usada Bali (pengobatan tradisional Bali).

Pada Jaman Raja Udayana yang berkuasa di Bali pada abab ke 16, ada seorang Abdi Kerajaan
yang bernama I Gede Basur yang rumahnya ada di salah satu Desa di Daerah Pengunungan,
yaitu di Desa Karang Pengastian.

Pada waktu I Gede Basur masih hidup pernah menulis buku lontar Pengeleakan dua buah yaitu
Lontar Durga Bhairawi dan Lontar Ratuning Kawisesan.

Lontar ini memuat tentang tehnik-tehnik Ngereh Leak Desti. Ngereh artinya proses perubahan
wujud dari manusia menjadi Leak. Leak adalah wujud siluman jahat (setan). Desti adalah
perwujudan binatang siluman manusia dalam bentuk binatang yang aneh dan seram.

Adapun Tehnik Ngereh Leak Desti tersebut adalah sebagai berikut :
Dalam ajaran Agama Hindu mengenal tiga Kerangka Dasar yaitu Tatwa, Etika, Upakara. Jadi
walaupun menjalankan ilmu pengeleakan mereka tetap melaksanakan tiga hal yaitu :
a. Tatwa berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan harus menyadari tentang ajarannya.
b. Etika berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan pasti akan melaksanakan mengenai
tehnik-tehnik tingkah lakunya.
c. Upakara berarti orang yang menjalankan ilmu pengeleakan sudah tentunya melaksanakan
upakara-upakara seperti menghaturkan sesajen (banten dalam bahasa bali) sebagai sarana
upakara.

Sebelum Ngereh (proses perubahan wujud) menjadi Leak Desti, orang yang menjalankan
pengeleakan terlebih dahulu melaksanakan beberapa tahapan kegiatan dengan melakukan
berbagai permohonan. Adapun tahapan-tahapan kegiatan ngereh tersebut adalah sebagai berikut :

a. Memasang pasirep yaitu mengeluarkan ilmu kesaktian agar semua mahluk hidup yang ada di
sekitarnya semuannya tertidur lelap.

b. Mencari tempat ngereh yaitu mencari tempat yang paling strategis dan aman seperti misalnya
di Kuburan, pada perempatan jalan, atau bisa di sawah yang penting tempat tersebut sepi.

c. Mempersiapkan upakara berupa sarana banten yang berkaitan dengan ilmu pengeleakan.

d. Melakukan permohonan-permohonan agar proses ngereh dapat berlangsung sesuai dengan
yang diinginkan kepada Tuhan dalam segala bentuk meniIestasinya yaitu :

Pertama mohon kepada yang bernama Butha Peteng (perwujudan unsur alam gelap) untuk
memagari tempatnya agar siapa yang lewat supaya tidak melihat, dilanjutkan kemudian dengan
memasang ilmu pengreres (ilmu penakut) agar yang lewat menjadi ketakutan.

Kedua mohon kepada yang bernama Butha Keridan (perwujudan unsur alam terbalik) agar
pengelihatan orang bisa terbalik yaitu yang di atas bisa terlihat di bawah.

Ketiga secara berturut-turut mohon kepada yang bernama Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga,
Butha Ringkus, Butha Jengking dan terakhir mohon kepada yang bernama sang Butha
Kapiragan, agar segala permohonannya bisa terkabul.

Sang Kala Jingkrak, Butha Lenga, Butha Ringkus, Butha Jengking dan Butha Kapiragan adalah
nama-nama Butha Kala yang menguasai Ilmu Pengleakan.

Keempat setelah proses permohonan selesai, dilanjutkan dengan kegiatan muspa (sembahyang)
dengan posisi badan terbalik yang dilanjutkan dengan nengkleng (berdiri dengan kaki satu)
berjalan nengkleng mengitari "sanggah cucuk" (tempat menaruh sesajen yang terbuat dari batang
bambu), sesuai dengan tingkat ilmunya dengan posisi putaran berjalan nengkleng kearah kiri.

Dengan melalui ngereh tersebut diatas maka orang yang menguasai ilmu pengeleakan bisa
berubah wujud sesuai tingkat ilmu pengeleakan yang dikuasainya yaitu kalau tingkat Desti maka
orang tersebut bisa berubah wujud menjadi binatang yang aneh-aneh dan seram, begitulah ilmu
pengeleakan yang dikuasai oleh I Gede Basur sehingga dia diantara para abdi kerajaan yang
paling ditakuti dan paling diandalkan sebagai Tabeng Dada.

Guru Ilmu Pengiwa leak Desti

Sebagai seorang Abdi Kerajaan I Gede Basur sangatlah menguasai ilmu pengiwa leak desti. Ilmu
pengiwa adalah ilmu kewisesan dari aliran kiri atau aliran ilmu hitam.
Atas kedigjayaannya tersebut menyebabkan I Gede Basur menjadi sangat terkenal sampai ke
pelosok desa. Sehingga saat itu banyak sekali orang yang datang ke rumahnya. Ada yang datang
dengan tujuan untuk belajar ilmu pengiwa, dan banyak pula yang datang hanya untuk mendapat
pekakas atau penganggo atau jimat-jimat sakti atau bertuah sesuai dengan keinginan orang
tersebut.

Banyak pula yang datang untuk mendapatkan sarana pengleakan di tempat I Gede Basur yang
sakti. Sarana tersebut seperti : pengasren (semacam pelet), yakni sarana magis agar orang yang
bersangkutan menjadi kelihatan selalu cantik dan tampan, awet muda dan mempunyai daya pikat
yang tinggi. Dengan sarana tersebut orang akan mudah dapat memikat lawan jenis yang
dikehendakinya. Kemudian ada pula yang disebut dengan pengeger (semacam penglaris) yang
dapat menyebabkan si pemakai menjadi laris dalam berdagang atau berusaha, dengan harapan si
pemakai menjadi semakin kaya. Kemudian ada pula yang disebut dengan pengasih-asih, yakni
sarana yang dapat membuat orang menjadi jatuh cinta kepada orang yang menggunakan sarana
tersebut. Atau dapat pula disebut dengan sarana guna-guna. Seperti misalnya : guna lilit, guna
jaran guyang, guna tuntung tangis, dan lain-lain macamnya. Ada pula yang datang ke tempat I
Gede Basur hanya untuk mendapatkan penangkeb, yakni sarana gaib atau mistis agar orang lain
atau orang banyak menjadi tunduk. Dengan demikian orang tersebut dapat mengendalikan,
mengarahkan, menguasai, atau menyetir orang lain atau orang banyak sesuai dengan
keinginannya. Orang yang telah terkena ilmu penangkeb tak ubahnya seperti kerbau yang
dicocok hidungnya, sehingga akan menjadi penurut sesuai perintah atau keinginan dari orang
yang mengenakan ilmu penangkeb.

Dengan tersohornya I Gede Basur tersebut menyebabkan orang-orang secara silih berganti
datang ke rumahnya di Desa Karang Pengastian. Lebih-lebih pada dewasa bagus atau pada hari
Kajeng Kliwon misalnya, sangat banyak dan ramai orang datang ke rumahnya dengan berbagai
macam keperluan. Diceritakan kemudian I Gede Basur juga mempunyai banyak sisya atau murid
yang belajar ilmu pengiwa leak desti.

I Gede Basur disertai oleh seluruh murid-muridnya tekun melakukan dewasraya, mohon
kehadapan Hyang Betari Durga agar pengiwa yang mereka pelajari menjadi sakti dan manjur.
Didahului dengan melakukan penyucian diri. Kemudian tatkala malam mereka menuju
Kayangan Pengulun Setra, memohon kehadapan Hyang Betari bersaranakan sesajen seperti :
sebuah daksina, uang kepeng, canang, ketipat kelanan, arak berem, injin, dupa, menyan, canang
lenge wangi burat wangi, nyahnyah, gegringsingan, geti-geti, dan pisang mas. Kemudian duduk
bersila di hadapan kayangan, bersemedi memanunggalkan bayu atau tenaga, sabda atau suara,
idep atau pikiran, memohon anugrah kehadapan Hyang Nini Betari Bagawati atau Ida Betari
Durga Dewi.

Kewisesan yang diporolehnya kemudian disebarluaskan secara rahasia dengan menggunakan
sarana seperti mas, mirah, tembaga, kertas merajah, dan lain-lain. Ada pula dalam bentuk
bebuntilan (bungkusan kecil yang berisikan sarana tertentu). Si pemakai pengiwa tersebut juga
diberikan rerajahan ongkara sungsang (ongkara terbalik) pada lidah, gigi, kuku, atau bagian
tubuh tertentu lainnya. Atau ada pula penggunaan pengiwa dengan jalan maled (menelan sarana
yang diberikan oleh gurunya). Sarana pengiwa tersebut dibakar sebelumnya, kemudian abunya
dibungkus dengan buah pisang mas, dan kemudian ditelan. Setelah itu didorong masuk ke dalam
tubuh dengan menggunakan tirta atau air suci.

Selain dari itu, ada pula praktek pengiwa yang disebut pepasangan, yakni sarana yang ditanam
pada tempat tertentu oleh orang yang bisa melakukan pengiwa. Tujuannya adalah untuk
mengenai korbannya sesuai dengan yang diingini si pemasang. Dapat berupa sarana tulang
manusia yang dibungkus, atau berupa bubuk tulang yang ditaburkan pada pekarangan rumah
orang yang akan dijadikan korban. Dengan adanya pepasangan itu menjadikan situasi rumah
tersebut menjadi agak lain, agak seram, penghuninya sakit-sakitan, sering cekcok, dan lain-lain.

Yang lebih hebat lagi ada yang disebut dengan sesawangan, yakni kemampuan seseorang yang
mempraktekkan ilmu pengiwa hanya dengan membayangkan wajah atau hanya nama dari calon
korban. Sesawangan juga disebut dengan umik-umikan atau acep-acepan atau doa-doa. Dengan
kemampuan ini seseorang yang melaksanakannya dapat mencapai korbannya, walaupun dia
bersembunyi di balik dinding beton yang tebal dan kuat. Adanya ilmu ini makanya sering kita
mendengar kalimat seperti berikut : 'walaupun engkau berlindung di dalam gedong batu yang
terkunci rapat, aku akan dapat mencapaimu. Mungkin ilmu sesawanganlah yang digunakan
orang tersebut.

Kemudian kalau berbicara mengenai ilmu kewisesan khususnya pengiwa, maka tidak lengkap
kalau tidak mengetahui ilmu cetik atau cara meracun orang atau korban. Cetik tersebut identik
dengan racun. Ada cetik sekala dan ada cetik niskala. Cetik sekala diartikan bahwa meracun
dengan menggunakan sarana tertentu yang tampak nyata, seperti cetik gringsing, cetik cadang
galeng, cetik kerikan gangsa, dan lain-lain. Kemudian cetik niskala adalah meracun korban atau
orang dengan sarana yang tidak kelihatan. Cetik ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang
memiliki ilmu pengiwa yang sudah tinggi. Hanya dengan memandangi makanan atau minuman
saja, maka korbannya akan menjadi sakit seperti yang dikehendaki. Jadi boleh dibilang cetik ini
tanpa memerlukan sarana, karena tidak kelihatan.

Tingkatan pengiwa pun sebenarnya sangat banyak. Namun karena suatu kerahasiaan yang tinggi,
jadinya tidak banyak orang yang mengetahui. Mungkin hanya sebagian kecil saja dari nama-
nama tingkatan tersebut sering terdengar, karena semua ini adalah sangat rahasia. Dan tingkatan-
tingkatan yang disampaikan pun kadangkala antara satu perguruan dengan perguruan yang
lainnya berbeda. Demikian pula dengan penamaan dari masing-masing tingkatan ada suatu
perbedaan. Namun sekali lagi, semuanya tidak jelas betul, karena siIatnya sangat rahasia, karena
memang begitulah hukumnya.

Dari sekian macam ilmu pengiwa, ada beberapa yang sering disebut seperti Bajra Kalika yang
mempunyai sisya sebanyak seratus orang, dan Aras Ijomaya yang mempunyai prasanak atau
anak buah sebanyak seribu enam ratus orang. Di antaranya adalah I Geruda Putih, I Geringsing, I
Bintang Sumambang, I Suda Mala, Pudak Setegal, Belegod Dewa, Jaka Tua, I Pering, Ratna
Pajajaran, Sampaian Emas, Kebo Komala, I Misawedana, Weksirsa, I Capur Tala, I Anggrek, I
Kebo Wangsul, dan I Cambra Berag. Disebutkan pula bahwa ada sekurang-kurangnya empat
ilmu bebai yakni I Jayasatru, I Ingo, Nyoman Numit, dan Ketut Belog. Masing-masing bebai
mempunyai teman sebanyak 27 orang. Jadi secara keseluruhan apabila dihitung maka akan ada
sebanyak 108 macam bebai.

Di samping itu, ada tingkatan pengiwa yang mungkin digolongkan tingkat tinggi seperti : Surya
Gading, Brahma Kaya, I Wangkas Candi Api, I Ratna Pajajaran, Garuda Emas, Siwer Emas,
Baligodawa, Surya Emas, dan Sang Hyang Aji Rimrim.

Di lain pihak ada pula disebutkan bermacam-macam ilmu pengiwa seperti : Kereb Akasa, Pudak
Setegal, Geni Sabuana, Siwa Wijaya, Cambra Berag, Rambut Sepetik, Maduri Geges, Pengiwa
Swanda, Brahma Maya Murti, Aji Calon Arang, Ratna Geni Sudamala, Surya Tiga Murti, Surya
Sumedang, Pangenduh, Desti Angker, Gringsing Wayang, Pasinglar, Pengembak Jalan,
Pemungkah Pertiwi, Sang Hyang Sumedang, I Tumpang Wredha, Penyusup Bayu, Sang Hyang
Surya Siwa, Sang Hyang Geni Sara, Ratu Sumedang, Sang Hyang Sara Sija Maya Hireng, dan
lain-lain yang tidak diketahui tingkatannya yang mana lebih tinggi dan yang mana lebih rendah.
Hanya mereka yang mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut yang mengetahuinya.

Demikian I Gede Basur menerapkan dan menyebarkan ilmu pengiwa kepada murid-muridnya
yang semakin hari semakin bertambah banyak. Semua dari mereka telah menjadi orang-orang
yang tangguh dalam urusan pengiwa.

I Gede Basur ini orangnya sangat terkenal karena kesaktiannya dengan ilmu pengeleakan desti,
dan dia pernah membuat geger orang-orang desanya karena serangan leak destinya, yang
mengakibatkan warga desanya menjadi sangat ketakutan tidak berani keluar malam hari karena
siapa yang keluar pada malam hari akan diserang oleh leak desti yang bisa mengisap darah
manusia.

&ntuk lebih jelasnya tentang kisah Leak Desti I Gede Basur, ceritanya adalah sebagai
berikut :

I Gede Basur dalam sehari-harinya hidup sebagai Abdi Kerajaan Udayana yaitu sebagai Tabeng
Dada Kerajaan, yaitu Tabeng artinya pelindung dan dada artinya dada pada tubuh manusia.

Tabeng Dada ini adalah sejenis Pasukan Khusus Kerajaan yang tugasnya melindungi Raja
apabila ada marabahaya.

I Gede Basur ini punya putra satu orang yang bernama I Wayan Tigaron yaitu merupakan putra
kesayangan dan putra satu-satunya.

I Wayan Tigaron jatuh cinta pada Ni Wayan Sukasti yaitu putri dari I Made Tanu, walaupun I
Wayan Tigaron ini orangnya sangat kaya, anak seorang abdi kerajaan, tetapi cintanya tetap di
tolak oleh Ni Wayan Sukasti karena alasannya ia sudah punya pacar yang barnama I Nyoman
Tirta yaitu seorang pemuda tampan dan bijaksana.

Karena cintanya ditolak oleh Ni Wayan Sukasti, maka I Wayan Tigaron sangat marah dan hal ini
disampaikan kepada orang tuanya.