Anda di halaman 1dari 12

Petualangan Audino:

HARTA KARUN NAGA BIRU


Karya : Rizky Teddy Audinno
W aktu menunjukkan tepat pukul 05.00 pagi, Audino langsung terbangun dari tidur lelapnya sepanjang malam. Setelah terbangun dari tidurnya, ia bergegas untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk memulai pagi ini dengan indah. Tak lupa,sebelum ia berangkat kerja, ia membantu ibunya yang sedang sakit-sakitan untuk mengurus rumah bersama adik perempuan satusatunya yang bernama Audina.Sejak ia berumur 7 bulan, ayah mereka yang bernama Auvinho telah wafat dalam sebuah pertempuran sengit. Tepat 17 tahun yang lalu, dengan seekor Naga Biru bernama Gyarados yang datang menyerang Desa Harvest. Sebagai kepala prajurit, ayahnya langsung mengambil alih perlawanan, dengan seorang diri maju melawan sang Naga, dikarenakan seluruh prajurit kerajaan telah gugur dalam pertempuran tragis itu. Dengan bermodalkan sebilah pedang panjang yang terbuat dari campuran titanium dan baja, beliau maju seorang diri untuk melawan sang Naga. Pertempuran sengit nan menegangkan pun terjadi. Dengan sisasisa tenaganya, dari Desa Harvest dan terluka sangat parah,apa mau dikata,nyawanya pun menjadi taruhannya. Beliau akhirnya rela tuk mengorbankan nyawanya sendiri, demi menyelamatkan warga Desa Harvest dari amukan sang Naga. Atas segala jasa dan pengabdiannya, sang raja mendirikan tugu penghormatan kepada beliau,yang diberi nama Respect of Auvinho.

pertarungan itu terjadi antara pasukan prajurit Kerajaan Volstorm

beliau berusaha setengah mati untuk melumpuhkan sang Naga. Walaupun beliau telah berhasil membuat sang Naga beranjak

Dikarenakan ayahnya telah tiada, Audino lah yang menjadi tulang punggung keluarganya sekarang. Untuk menghidupi anggota keluarganya, ia berusaha mencari nafkah dengan bekerja di sebuah toko senjata milik teman baiknya yaitu Julio. Ia bekerja sebagai seorang kasir di sana. Walaupun penghasilannya selama 1 bulan tidak seberapa, tetapi ia tetap bersyukur karena masih bisa merasakan sesuap nasi dalam sehariharinya.

Untuk menutupi kekurangan dari hasil penghasilannya ia juga bercocok tanam di sebuah kebuan kecil peninggalan ayahnya satu-satunya. Setelah memasuki masa panen, ia menjual hasil panennya di sebuah pasar. Keluarga Audino tergolong keluarga yang sangat sederhana. Walaupun begitu, ia tetap bersyukur karena masih bias berkumpul dengan orang-orang yang sangat dicintainya. Sampai pada suatu ketika, penyakit

telah lama menderita sakit seperti ini. Meskipun ibunya telah dibawa ke rumah sakit, tetapi tetap saja tak membuahkan hasil, ibunya tak kunjung mendapatkan kesembuhan, para dokter di sana telah memvonis bahwa penyakit ibunya tak akan bias disembuhkan. Pengobatan yang dilalui ibunya terkesan sangat sia-sia, karena bukannya pengobatan yang didapat tetapi malah uang mereka yang terbuang percuma untuk membiayai segala pengobatan yang cukup mahal. Ibunya menderita penyakit yang terbilang sangat aneh. Dengan gejala diantaranya seperti tubuh panas tinggi, cepat lelah, batuk disertai darah, sesak nafas, nyeri di seluruh tubuh,tubuh menjadi kaku, kesulitan untuk berbicara. Hingga sekarang penyakit ibunya masih belum ditemukan nama dan obatnya.

yang diderita ibunya bertambah parah dan semakin parah. Sebenarnya ibunya

Konon katanya, penyakit tersebut dikarenakan kutukan dari sang Naga Biru

yaitu Gyarados, karena ia telah terluka parah oleh suami Bu Hazel ayah Audino yaitu Auvinho dalam sebuah pertempuran sengit 17 tahun lalu. Walaupun begitu, Bu Hazel tetap tetap tegar dalam menjalani hidup ini, ia berkeyakinan suatu saat nanti, penyakitnya pasti bisa disembuhkan. Prinsip beliau yaitu, beliau tidak ingin meninggalkan alam dunia sebelum beliau melihat kedua anaknya bahagia. Melihat keadaan ibunya yang semakin parah dan terkulai lemas tak berdaya, Audino mulai memutar otak untuk mencari jalan keluar bagaimana caranhya agar penyakit yang diderita ibunya dapat disembuhkan. Jikalau ia membawa ibunya kembali ke rumah sakit pastilah akan sia-sia karena penyakitnya takkan bisa disembuhkan oleh pihak rumah sakit. Setelah beberapa jam berpikir, pikirannya mulai buntu,ia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyembuhkan

ibunya, jikalau ia bisa menukarkan nyawanya demi kesembuhan ibunya, ia akan melakukan itu. Yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah berdoa kepada Sang Pencipta Allah swt agar ibunya diberikan kekuatan untuk bertahan hidup dan bisa kembali sehat seperti dahulu kala. Setelah itu, ia keluar dari kamarnya dan menemui ibunya. Kemarilah,Nak! Ibu ingin mengelus kepalamu. Ketahuilah ibu sangat menyayangi kalian berdua,kalian berdua adalah harta terindah yang pernah ibu milki selama ini. Kata Bu Hazel dengan suara terbata-bata. Kami berdua juga sangat menyayangi ibu. Kami berdua tidak ingin melihat ibu menderita seperti ini. Seandainya saja nyawa saya bisa ditukarkan untuk mendapatkan kesehatan ibu kembali,pastilah saya akan melakukannya dari dulu,Bu! kata Audino sambil menangis.

Tak apa,Nak. Ibu baik-baik saja, tak usah kau khawatirkan. Ibu akan segera sembuh. Ibu sekarang sudah lebih baik. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu, menandakan ada orang yang ingin bertamu. Lalu Audino membukakan pintu dan menyambut sang tamu dengan ramah. Hei,kau pasti yang namanya Audino kan? Ternyata sekarang kau sudah besar ya. Lama sekali kita tidak berjumpa. Kau pasti tidak mengenaliku, perkenalkan namaku adalah Martin Zada,panggil saja saya Pak Zada. Saya adalah teman seperjuangan almarhum ayahmu semasa menjadi prajurit dahulu. Oh jadi bapak yang bernama Pak Zada,ibu telah bercerita banyak tentang bapak. Bapak adalah sahabat baik aalmarhum ayah saya, bapak sudah banyak membantu beliau dahulu. Oh ya sampai lupa.mari Pak silahkan masuk. Anggap saja

seperti rumah sendiri, mari duduk. Terima kasih. Sebenarnya saya tidak bisa berlama-lama di sini. Jadi, langsung saja saya masuk dalam maksud saya berkunjung ke sini. Saya kemari hanyalah untuk menyampaikan wasiat dari almarhum ayahmu. Ia berpesan agar saya mengantarkan wasiat ini kepada mu ketika kau berumur 17 tahun, terimalah,Nak! Apa ini,Pak? Ini adalah pedang yang digunakan beliau semasa menjadi prajurit dahulu. Beliau ingin kau yang memilikinya sekarang. Beliau juga berpesan agar kau segera melenyapkan Gyarados secepat mungkin, karena setiap 17 tahun ia akan kembali menyerang Desa Harvest. Tepat 1 minggu lagi ia akan kembali meluluhlantahkan desa. Gunakanlah pedang ini untuk menghancurkan Gyarados, karena hanya pedang ini yang bisa melukai tubuh Gyarados. Berjuanglah,Nak!

Nyawa seluruh penduduk Desa Harvest ada digenggamanmu sekarang. Saya juga membawakan peta peninggalan beliau untukmu,peta ini adalah petunjuk jalan ke Gunung Petir tempat tinggal Gyarados. Berjuanglah, saya tahu kau pasti bisa melakukannya. Baiklah, Pak. Terima kasih banyak atas semua kebaikan bapak ini. Saya akan berjuang sekuat tenaga demi ibu dan seluruh penduduk desa, apapun akan saya lakukan, walaupun nyawa saya menjadi taruhannya. Nampaknya waktu juga yang memisahkan kita. Saya tak bisa berlama-lama di sini. Saya harus segera pergi. Sampaikan salam saya buat ibu mu,semoga ia cepat sembuh. Terima kasih, Pak. Saya tak tahu lagi harus membalas dengan apa segala kebaikan bapak ini. Sudahlah,tidak apaapa,namanya juga amanah,jadi hatus segera disampaikan,

kalau tidak pasti dosa. Baiklah saya harus segera pergi sekarang. Sampai jumpa! Sampai jumpa! Hati-hati di jalan. Semoga selamat sampai di tujuan. Untuk mencapai tempat tinggal Gyarados yaitu Gunung Petir, Audino harus melewati 2 tempat berbhaya yang didiami oleh monster yang kejam dan tak kenal ampun. Pertama, ia harus melewati Hutan Kegelapan yang dijaga oleh raksasa besar bermata 1 yang menamakan dirinya adalah Azuro. Kedua, ia harus menyusuri Sungai Beracun yang di diami oleh buaya besar yang rakus dan sangat bengis yang bernama Croco. Ia tahu kalau ia tak bisa melewati petualangan ini sendirian. Oleh karena itu, ia mengajak 2 orang sahabatnya yaitu Julio dan Casey untuk ikut berpetualang bersamanya. Keesokan harinya, setelah ia berpamitan dengan ibu dan

adiknya,ia langsung berkumpul dengan para sahabatnya. Mereka pun memulai dengan penuh semangat dan percaya diri. Tak lupa mereka membawa seluruh peralatan dan perlengkapan yang sekiranya akan sangat berguna dalam perjalanan nanti. Petualangan pun dimulai!!! Tempat pertama yang akan mereka kunjungi adalah Hutan Kegelapan yang terletak sekitar 75 km dari Desa Harvest. Puluhan km itu mereka tempuh hanya dengan berjalan kaki. Dalam waktu 2 hari 2 malam mereka telah sampai di depan Hutan Kegelapan yang benar-benar gelap,cahaya matahari sekalipun tidak mampu menembus kedalam hutan. Konon katanya,hutan ini didiami oleh raksasa besar bermata 1 yang gemar sekali mengonsumsi daging manusia. Sampai sekarang tak ada seorang pun yang pernah kembali dari hutan itu. Sungguh bagaikan labirin tak bertepi. Tak lama

kemudian muncullah kakek-kakek dari dalam hutan. Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Di sini berbahaya bagi kalian semua. Sebaiknya,kalian semua pulang ke rumah saja.kata kakek.

Kami semua ingin mencincang tubuh Gyarados,agar ia tidak menyerang desa kami lagi. kata Julio dengan penuh semangat. Oh ya perkenalkan nama

Kami semua ingin melewati hutan ini untuk menuju ke Gunung Petir, Kek.kata Audino. Gunung Petir??? Apa kalian bercanda ??? Apa yang akan kalian lakukan di tempat berbahaya itu?

kakek adalah Storm, panggil saja Kakek Storm. Kalau boleh kakek tahu.siapa nama kalian? tanya kakek. Nama saya Audino, ini 2 sahabat saya yaitu Julio dan Casey. Karena saya tahu kalian adalah anaak yang baik dan bertekad mulia,saya memberikan kompas ini kepada

kalian, ini akan membantu kalian untuk menunjukkan jalan keluar dari hutan ini. Jikalau kalian

bertemu dengan Azuro di tengah hutan nanti, seranglah ia pada bagian matanya. Ia akan menjadi lemah dan berdaya,apabila matanya terluka. Ingat pesan kakek. Terima kasih banyak,Kek. Tak apa,saya harus segera pergi dari sini. Semoga kalian bisa berhasil melewati hutan ini. Senang berjumpa dengan kalian. Sampai bertemu lagi.

Ya, Kek!!! jawab Audino. Tiba-tiba Kakek Storm langsung menghilang entah kemana. Kemudian mereka bertiga memasuki Hutan Kegelapan, sungguh luar biasa gelapnya. Untunglah Julio membawa lampu emergency. Suasananya sangat mencekam dan

mengerikan. Setelah beberapa jam berjalan menyusuri hutan, akhirnya mereka sampai di depan gua besar di tengah hutan. Setelah beberapa langkah mendekati gua, mereka dikejutkan oleh seorang raksasa besar bermata 1 yang keluar dari dalam gua. Huahahahahahaha jika kalian ingin

Teringat akan kata Kakek ia langung mengarahkan anak panahnya tepat pada bola mata Azuro. Akhirnya tepat mengenai sasaran. Azuro pun langsung jatuh terkapar dan mengerang kesakitan sambil bersimbahan darah. Azuro pun mati perlahan. Perjalanan mereka lanjutkan kembali menuju ke Sungai Beracun, yang letaknya skitar 107 km dari Hutan Kegelapan. Dalam waktu 2 hari,mereka berhasil sampai di tepi Sungai Beracun. Sesampainya di sana mereka kebingungan harus melewati sungai ini dengan apa. Tak lama kemudian mereka bertem kembali dengan Kakek Storm. Akhirnya kita bertemu lagi. Saya tahu kalian pasti kebingungan untuk melewati sungai ini. Sungai ini tak bisa dilewati dengan benda biasa,ini hanya bisa dilewati dengan perahu titanium seperti milikku di sana gunakanlah

perahu itu untuk melewati sungai ini. Tetapi,kalian harus berhati-hati karena sungai ini dihuni oleh buaya ganas yang bernama Croco. Tubuhnya sangat kebal oleh apapun. Titik lemahnya ada pada lidahnya. Berjuanglah,Nak!!! kata Kakek Storm. Terima kasih banyak,Kek. Kakek sudah banyak membantu kami dalam perjalanan kami ini. Sebenarnya Lagi-lagi Kakek Storm menghilang begitu saja. Mereka menggunakan perahu itu untuk melewati sungai ini. Air sungai ini memang sangat beracun, hampir tak ada 1 makhluk hidp pn yang mampu hidup di dalamnya. Baunya sangat menyengat dan busuk sekali. Yang mampu hidup di dalamnya hanyalah makhluk hidup antitoksik. Setelah beberapa km menyusuri sungai, mereka kejutkan oleh pusaran air sungai yang sangat besar dan deras. Tak lama

melewati hutan ini, kalian harus terebih dahulu melewati mayatku.kata Azuro dengan sombongnya. Baiklah. Siapa takut. Kau yang memintanya. Kami akan mengalahkanmu sekarang juga. Matilah kau!!!kata Audino. Akhirnya mereka bertiga bertarung melawan Azuro. Dikarenakan postur badan Azuro yang sangat besar,mereka kesulitan untuk melumpuhkannya. Pertempuran yang super sengit terjadi.

kemudian,keluarlah seekor buaya besar dari dalam pusaran itu. Apa yang kalian lakukan di sini? Kalian tahu kesalahan apa yang telah kalian lakukan. Kalian telah memasuki wilayah khusus teritrialku. Tak ada seorang manusia pun yang berhak memasukinya. Dan kalian tahu apa akibatnya jikala kalian melanggar peraturanku itu.nyawa kalian adalah bayarannya. Hahahaha! kata Croco. Hentikan Julio, tampaknya Croco sudah mulai marah. Itu bisa membahayakan kelangsungan hidup kita semua. kata Casey. Ini dia, terimalah akibatnya, hiaaa! teriak Croco. Untuk kedua kalinya, pertempuran super hebat dan sengit kembali

Hei buaya jelek! Kau pikir kami semua takut sama buaya jelek,kotor, dan bau seperti kamu. Tak akan! Enak saja kau bilang ini wilayah khusus teritorialmu. Dasar buaya busuk! ejek Julio. GrrrGrrrGrrr Apa kau bilang? Berani sekali kau berkata seperti itu kepadaku. Lancang sekali kau.

terjadi. Mereka kesulitan untuk melumpuhkan Coroco, karena mereka harus bertarung di atas perahu yang terapung di atas sungai. Croco semakin mengganas dan aresif. Cakar beracunnya berhasil mengenai dada Julio hingga ia terluka parah dan membuatnya jatuh terkapar dan kejang-kejang. Casey langsung mengobatinya dengan seluruh kemampuan yang dimilikinya. Melihat kejadian itu, Audino sangat marah sekali kepada Croco. Ia paling tidak suka melihat sahabatnya tersakiti. Disaat Croco tertawa lebar karena telah berhasil melumpuhkan Julio, Audino mengambil kesempatan emas, ia langsung menebas lidah Croco dengan pedangnya. Akhirnya Croco perlahan menjadi lemah dan lemas. Disaat itulah Audino mulai menghabisi Croco dengan pedangnya. Croco pun mati dan

terbenam jauh di dasar Sungai Beracun. Luka yang diderita Julio sangat parah,hampir kekuatan Casey habis hanya untuk mengobatinya,tapi tak membuahkan hasil. Secara tak sengaja potongan lidah Croco yang dibawa Audino jatuh ke atas luka Julio. Seketika luka Julio perlahan sembuh dan kembali sehat lagi. Perjalanan pun dilanjutkan kembali. Tujuan berikutnya adalah Gunung Petir yang berjarak sekitar 150 km dari Sungai Beracun. Dalam waktu 3 hari mereka telah sampai di lembah Gunung Petir. Lagi-lagi mereka dikejutkan oleh kedatangan tiba-tiba Kakek Storm. Selamat datang di rumahku. Sebenarnya aku adalah kata Kakek Storm. Seketika ia menjelma menjadi seekor naga besar berwarna emas. Aku sebenarnya adalah Naga Emas,

namaku yang sebenarnya adalah Hexagon. Aku adalah musuh bebuyutan dari Naga Biru Gyarados. Aku sangat kesal melihat tingkahnya yang selama beberapa tahun selalu menghabisi ribuan nyawa orang tak bersalah. Setelah aku tahu bahwa kalian bermaksud sama sepertiku, makanya aku membantu setiap perjalanan kalian sehingga kalian bisa sampai di sini. Jadi, sebenarnya kau adalah seekor naga. Baikalah tak masalah,marilah kita bersama-sama menghancurkan Gyarados, sebelum ia menghancurkan desa. Mereka semua naik ke atas punggung Hexagon. Hexagon pun langsung terbang menuju puncak gunung untuk menghadapi Gyarados. Sesampainya di sana mereka bertemu dengan Gyarados yang baru terbangun dari tidur lelapnya selama bertahun-tahun.

Hei kawan lama! Akhirnya kita berjumpa lagi setelah sekian lama tak jumpa! Hahaha Ku kira kau sudah lama mati di neraka

akan tertawa terakhir. kata Hexagon.

Kesabaranku sudah habis. Enyahlah kau dari bumi. Hiaaaaa

sana. Hahaha ejek Gyarados. Apa kau bilang !!! Tertawalah selagi kau masih bisa tertawa. Kita lihat saja siapa yang

Rupanya kau juga meminta bantuan anak manusia ingusan ini. Hahahahahahahaha itu tidak aka ada artinya sama sekali bagiku.

Untuk ketiga kalinya, pertempuran super sengit dan menegangkan kembali terjadi di udara. Pertempuran kali ini tampaknya berjalan seimbang dan sama kuat.

Tak lama kemudian , Gyarados mengeluarkan bola kegelapan dan tepat mengenai Casey yang mencoba melindungi Julio dari serangan itu. Casey pun lansung terlempar jatuh ke tanah dan terkulai lemas dan kaku di bawah sana. Setelah melihat Casey yang terluka parah demi melindunginya , Julio nekat untuk melompat dari punggung Hexagon, dan mencoba memanah Gyarados dari udara. Apa mau dikata,anak panahnya tak berarti di mata Gyarados. Akhirnya, Gyarados menyapu tubuh Julio di udara dengan cakar beracunnya, hingga Julio juga terjatuh ke tanah dan terluka parah di bawah sana. Melihat 2 kejadian tragis itu,Audino semakin bertambah marah. Bermodalkan jurus perpedangan seala kadarnya dan keberanian ia pun memberanikan diri untuk melompat dari atas punggung seorang pahlawan yang baru pulang dari medan perang. Berkat

Gyarados,dan ia pun berhasil menebas ekor Gyarados tanpa sepengetahuannya yang merupakan titik lemahnya. Tak lama kemudian,Gyarados menjadi semakin lemah dan bertambah lemah. Di saat inilah Audino mulai menyerang Gyarados. Ini untuk kematian almarhum ayahku tercinta!!! ucap Audino sambil menggoreskan pedangnya pada tubuh Gyarados. Ini untuk sakit yang diderita olh ibuku selama bertahuntahun!!! Ini untuk luka yang telah kau berikan kepada sahabatku!!! Ini untuk ribuan nyawa penduduk desa yang tak berdosa yang telah kau renggut!!! Dengan puluhan tusukan dan goresan pedang yang bersarang di tubuhnya yang semakin tak berdaya,akhirnya Gyarados mati perlahan keberanian dan jasajasanya, mereka semua diberikan tanda jasa

dengan tubuh bersimbah darah. Tak lama setelah itu,kedua sahabatnya menghembuskan nafas terakhirnya. Audino merasa sangat sedih dan sangat merasa bersalah karena ia telah membawa kedua sahabtnya dalam petualangan berbahaya ini. Ia tak akan mampu memaafkan dirinya sendiri. Hexagon memberitahukan kepada Audino, jika Julio dan Casey menelan bola mata Gyarados,maka mereka akan bernyawa kembali. Setelah menelan bola mata Gyarados,akhirnya mmereka dapat hidup kembali. Setelah itu, mereka kembali pulang ke Desa Harvest bersamadengan Hexagon. Kepulangan telah disambut dengan suka cita oleh seluruh penduduk Desa Harvest. Mereka disambut layaknya dan harta kekayaan dari sang raja. Akhirnya, Audino hidup

degan serba berkecukupan tak kekurangan suatu apapun, ibunya kembali

sehat seperti dahulu lagi, ribuan nyawa penduduk desa terselamatkan,

Hexagon pun menjadi pelindung Desa Harvest.

tamat fin the end ende