Anda di halaman 1dari 9

1

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA BETA LAKTAM


PASIEN PEDIATRIK RAWAT INAP
SALAH SATU RUMAH SAKIT KOTA BANDUNG

Niken Danastri, Emma Surahman, Budhi Prihartanto, Ester Mandalas
Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Jatinangor Sumedang


ABSTRAK

Evaluasi penggunaan antibiotika beta laktam pasien pediatrik rawat inap salah satu rumah sakit di Kota
Bandung berdasarkan pengamatan terhadap resep mulai dari bulan Januari-Maret 2011 telah dilakukan.
Evaluasi dilakukan secara retrospektiI, berdasarkan ketepatan/kerasionalan dan interaksi obat sesuai
dengan kriteria yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Dari hasil evaluasi diperoleh 507 resep yang terdiri
atas 4,93 ketidaktepatan pemberian dosis antibiotika beta laktam, 26,43 interaksi antibiotika beta
laktam dengan obat lain yang mempunyai interaksi Iarmakologi (18,54 interaksi Iarmakodinamik dan
7,89 interaksi Iarmakokinetik), dan 8,68 kombinasi dua jenis obat atau lebih antibiotika beta laktam.

Kata kunci : Beta Laktam, Pediatrik, RetrospektiI, Rawat Inap


$%#%

An evaluation on beta lactam antibiotic used in pediatric inpatients based on physicians prescriptions
written within January-March 2011 in one of the hospital in Bandung has been done. The evaluation was
done using retrospective method, according to the accuration or rationally and drug interaction
appropriate with criteria which have determined at the first. The evaluation result found 507
prescriptions consist of 4.93 unefficiency doses case for beta lactam antibiotic grup, 26.43 interaction
of beta lactam antibiotic and other drugs which have pharmacology interaction (18.54
pharmacodinamic interaction and 7.89 pharmacokinetic interaction), and 8.68 combination of two or
more type of beta lactam antibiotic.

047/8 . Beta Lactam, Pediatric, Retrospective, Inpatient

PENDAHULUAN

Pelayanan keIarmasian di rumah sakit pada
dasarnya adalah untuk menjamin dan
memastikan penyediaan dan penggunaan obat
yang rasional yakni sesuai kebutuhan, eIektiI,
aman, nyaman bagi pasien (Depkes, 2006).
Penggunaan obat yang berlebihan dan tidak
tepat telah memotori peningkatan dalam
pemunculan patogen-patogen yang resisten
terhadap berbagai obat terutama antibiotika
(Katzung, 2007).
Antibiotika (L. anti lawan, bios hidup)
adalah suatu zat kimia yang berasal dari
mikroba (bakteri, Iungi), semisintesis (sebagian
dari kuman) maupun sintesis (seluruhnya
direkayasa) dan mampu menekan atau
membasmi pertumbuhan mikroba lain,
sedangkan toksisitasnya bagi manusia relatiI
kecil (Azwar, 2004; Surahman, 2000; Tjay dan
Rahardja, 2007). Mekanisme kerja antibiotika
adalah perintangan sintesis protein, bekerja
terhadap dinding sel, dan terhadap membran sel
(Tjay dan Rahardja, 2007). Antibiotika yang
paling umum digunakan pada pengobatan
inIeksi di rumah sakit adalah antibiotika beta
laktam.
Kurangnya data penting tentang perbedaan
Iarmakokinetik dan Iarmakodinamik anak
dengan pasien dewasa dipastikan merupakan
penyebab beberapa kejadian berbahaya pada
perawatan anak. Tingkat dari perkembangan
Iungsi organ, distribusi, metabolisme, dan
eliminasi obat berbeda, tidak hanya pada
pediatrik dan pasien dewasa tetapi juga diantara
kelompok usia pediatrik. Banyak obat yang
dibutuhkan untuk pasien pediatrik tidak tersedia
dalam bentuk dosis yang tepat, dan dosis obat
untuk dewasa di pasaran yang dimodiIikasi
untuk bayi dan anak menuntut jaminan
keamanan penggunaan obat (Dipiro et.al.,
2005).
Oleh karena itu, perlu diadakan evaluasi
penggunaan antibiotika beta laktam pada pasien
pediatrik ini dalam upaya peningkatan
penggunaan obat secara rasional.
2


METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan melalui beberapa
tahapan kerja sebagai berikut:
1. Penelusuran pustaka untuk penyusunan
kriteria.
2. Pengambilan data dari resep dan rekam
medik pasien dengan metode retrospektiI,
yang meliputi: nomor rekam medik, waktu,
jenis kelamin, usia, berat badan, rute
pemberian, bentuk sediaan Iarmasi, jenis
obat generik/non generik, spesialisasi dokter,
jumlah hari perawatan, diagnosis penyakit,
nama antibiotika, dosis, dan obat-obat yang
digunakan bersamaan.
3. Membuat tabulasi dari data yang diperoleh.
4. Mengevaluasi data berdasarkan kriteria.
5. Menginterprestasikan data.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil dari evaluasi data penggunaan
antibiotika beta laktam pada pasien pediatrik
rawat inap dibuat dalam bentuk tabel sebagai
berikut:



Analisis Kuantitatif
Tabel 1 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Waktu

Golongan
Januari-Maret 2011 Jumlah
R/
Jumlah
R/ () Januari Februari Maret
Penisilin
SeIalosporin Generasi I
SeIalosporin Generasi II
SeIalosporin Generasi III
SeIalosporin Generasi IV
Karbapenem
38
17
2
112
4
4
22
3
2
111
-
4
48
11
1
123
1
4
108
31
5
346
5
12
21,30
6,11
0,99
68,24
0,99
2,37
Jumlah R/ tiap Bulan 177 142 188

Jumlah R/ tiap Bulan () 34,91 28,01 37,08
Jumlah R/ Total 507

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa
penggunaan antibiotika beta laktam pada bulan
Januari yaitu 34,91, Februari 28,01, dan
Maret 37,08.



Tabel 2 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Jenis Kelamin

Golongan
Januari-Maret 2011 Jumlah
R/
Jumlah
R/ () Laki-laki Perempuan
Penisilin
SeIalosporin Generasi I
SeIalosporin Generasi II
SeIalosporin Generasi III
SeIalosporin Generasi IV
Karbapenem
58
16
4
179
4
6
50
15
1
167
1
6
108
31
5
346
5
12
21,30
6,11
0,99
68,24
0,99
2,37
Jumlah R/ tiap Jenis Kelamin 267 240
Jumlah R/ tiap Jenis Kelamin () 52,66 47,34
Jumlah R/ total 507

Dari tabel 2 dapat dilihat bahwa
penggunaan antibiotika beta laktam pada pasien
berjenis kelamin laki-laki yaitu 52,66 dan
perempuan dengan 47,34. Penggunaan
antibiotika beta laktam secara umum tidak
dipengaruhi oleh jenis kelamin karena penyakit
yang disebabkan oleh inIeksi mikroba bisa
menyerang siapa saja, tidak tergantung laki-laki
atau perempuan kecuali untuk inIeksi-inIeksi
tertentu, seperti penyakit kelamin.


3

Tabel 3 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Usia

Golongan
Januari-Maret 2011
Jumlah
R/
Jumlah
R/ ()
0-1
bulan
1 bulan-
1 tahun
1-5
tahun
5-10
tahun
10-14
tahun
Penisilin
SeIalosporin Generasi I
SeIalosporin Generasi II
SeIalosporin Generasi III
SeIalosporin Generasi IV
Karbapenem
42
9
-
23
-
6
32
6
3
63
-
2
26
11
2
162
5
3
7
-
-
76
-
-
1
5
-
22
-
1
108
31
5
346
5
12
21,30
6,11
0,99
68,24
0,99
2,37
Jumlah R/ tiap kelompok usia 80 106 209 83 29

Jumlah R/ tiap kelompok usia () 15,78 20,91 41,22 16,37 5,72
Jumlah R/ total 507

Dari tabel 3 dapat dilihat bahwa antibiotika
beta laktam paling banyak digunakan pada
pasien berusia 1-5 tahun yaitu 41,22. Hal ini
dapat terjadi karena pada usia ini, seseorang
rentan terserang penyakit inIeksi. Balita masih
rentan terhadap perubahan lingkungan karena
imunitas (kekebalan tubuh) mereka belum
terbentuk sempurna. Jika anak sering sakit,
naIsu makan juga akan turun sehingga
berdampak pada pertumbuhan secara
keseluruhan (Budiarto, 2001; Khosman, 2008;
Krisnawati, 2008).

Tabel 4 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Rute Pemberian

Golongan
Januari-Maret 2011
Jumlah R/ Jumlah R/ ()
Oral Parenteral
Penisilin
SeIalosporin Generasi I
SeIalosporin Generasi II
SeIalosporin Generasi III
SeIalosporin Generasi IV
Karbapenem
54
27
5
128
-
-
54
4
-
218
5
12
108
31
5
346
5
12
21,30
6,11
0,99
68,24
0,99
2,37
Jumlah R/ tiap rute pemberian 214 293

Jumlah R/ tiap rute pemberian () 42,21 57,79
Jumlah R/ total 507

Dari tabel 4 dapat dilihat bahwa
penggunaan obat dengan rute pemberian
parenteral lebih banyak yaitu 57,79,
disebabkan pada pasien rawat inap dibutuhkan
obat dengan eIek terapi yang cepat karena
tingkat keparahan penyakit yang lebih tinggi
dibandingkan dengan pasien rawat jalan. Hal ini
dilakukan dalam upaya mempercepat
penyembuhan dan mempersingkat waktu
perawatan sehingga biaya yang dikeluarkan
dapat ditekan. Agen antimikroba oral kadang
hanya digunakan untuk menyempurnakan
perjalanan terapi yang dimulai dengan cara
parenteral (Kliegman, 2007).

Tabel 5 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Bentuk Sediaan Farmasi

Golongan
Januari-Maret 2011
Jumlah R/
Jumlah R/
() Injeksi Drop Kaplet Kapsul Sirup Serbuk Tablet
Penisilin 54 34 1 - 19 - - 108 21,30
SeIalosporin
Generasi I
4 2 - - 25 - - 31 6,11
SeIalosporin
Generasi II
- - - - 5 - - 5 0,99
SeIalosporin
Generasi III
218 - 1 4 119 1 3 346 68,54
SeIalosporin
Generasi IV
5

- - - - - - 5 0,99
4

Golongan
Januari-Maret 2011
% % ()
Injeksi Drop Kaplet Kapsul Sirup Serbuk Tablet
Karbapenem 12 - - - - - - 12 2,37
Jumlah R/ tiap
sediaan
293 36 2 4 168 1 3

Jumlah R/ tiap
sediaan ()
57,79 7,10 0,39 0,79 33,14 0,20 0,59
Jumlah R/
total
507

Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa
penggunaan obat bentuk injeksi lebih banyak
yaitu 57,79. Pada pasien rawat inap,
pemberian antibiotika secara parenteral lebih
banyak dibutuhkan untuk mendapatkan eIek
terapi yang cepat karena tingkat keparahan
penyakit yang lebih tinggi dibandingkan dengan
pasien rawat jalan. Pemberian injeksi dalam
upaya mempercepat penyembuhan dan
mempersingkat waktu perawatan sehingga biaya
yang dikeluarkan dapat ditekan.


Tabel 6 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Golongan Obat

Golongan Nama Generik
Jumlah
R/
Jumlah
R/ ()
Penisilin Amoksisilin
Amoksisilin-asam klavulanat
Ampisilin
Piperasilin-tazobaktam
Sultamisilin
52
12
4
1
39
10,26
2,37
0,79
0,20
7,69
Jumlah R/ golongan penisilin 108 21,30
SeIalosporin
generasi I
SeIadroksil
SeIazolin
29
2
5,72
0,39
Jumlah R/ golongan seIalosporin generasi I 31 6,11
SeIalosporin
generasi II
SeIaklor 5 0,99
Jumlah R/ golongan seIalosporin generasi II 5 0,99
SeIalosporin
generasi III
SeIditoren pivoksil
SeIiksim
SeIotaksim
SeItazidim
SeItriakson
3
124
105
21
93
0,59
24,46
20,71
4,14
18,34
Jumlah R/ golongan seIalosporin generasi III 346 68,24
SeIalosporin
generasi IV
SeIepim
SeIpirom
2
3
0,39
0,59
Jumlah R/ golongan seIalosporin generasi IV 5 0,99
Karbapenem Imipenem
Meropenem
2
10
0,39
1,97
Jumlah R/ golongan karbapenem 12 2,37

Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa
penggunaan antibiotika golongan seIalosporin
generasi III paling banyak digunakan pada
pasien pediatrik rawat inap yaitu 68,24. Pada
penelitian ini, golongan antibiotika yang paling
banyak digunakan oleh pasien pediatrik rawat
inap adalah seIalosporin generasi III, karena
selain aktivitas terhadap patogen enterik biasa,
seIalosporin generasi III mempunyai spektrum
antibakteri yang luas dan juga aktiI terhadap
beberapa strain yang resisten terhadap
seIalosporin generasi I dan II. SeIalosporin
generasi II dan III lebih aktiI terhadap
organisme Gram negatiI, karena lebih tahan
terhadap enzim beta laktamase (seIalosporinase)
yang diproduksi oleh beberapa bakteri untuk
menonaktiIkan seIalosporin (Abrams, 2004).

5

Tabel 7 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Jenis Obat

Jenis Obat Golongan Nama Obat
Jumlah
R/
Jumlah
R/ ()
Generik Penisilin Amoxicillin
Ampicillin
1
2
0,20
0,39
SeIalosporin generasi I CeIadroxil 5 0,99
SeIalosporin generasi III CeIixime
CeIotaxime
CeItazidim
CeItriaxon
6
22
14
51
1,18
4,34
2,76
10,06
SeIalosporin generasi IV CeIpirom 3 0,59
Karbapenem Meropenem 2 0,39
Jumlah sediaan generik 106 20,91

Jenis Obat Golongan Nama Generik
Jumlah
R/
Jumlah R/
()
Non Generik Penisilin Amoksisilin
Amoksisilin-asam klavulanat
Ampisilin
Piperasilin-tazobaktam
Sulbaktam-ampisilin
51
12
2
1
39
10,06
2,37
0,39
0,20
7,69
SeIalosporin generasi I SeIadroksil
SeIazolin
24
2
4,73
0,39
SeIalosporin generasi II SeIaklor 5 0,99
SeIalosporin generasi III SeIditoren pivoksil
SeIiksim
SeIotaksim
SeItazidim
SeItriakson
3
118
83
7
42
0,59
23,27
16,37
1,38
8,28
SeIalosporin generasi IV SeIepim 2 0,39
Karbapenem Imipenem
Meropenem
2
8
0,39
1,58
Jumlah sediaan non-generik 401 79,09

Dari tabel 7 dapat dilihat bahwa
penggunaan obat non-generik lebih banyak
yaitu 79,09, dibandingkan penggunaan obat
generik yaitu 20,91. Pada penelitian ini,
penggunaan obat non-generik lebih banyak
digunakan daripada obat generik, karena tidak
semua antibiotika beta laktam tersedia dalam
bentuk generiknya disebabkan obat-obat yang
disediakan oleh pelayanan kesehatan
pemerintah masih terbatas. Selain itu, yang
masih menjadi ganjalan adalah adanya
kecenderungan masyarakat yang menganggap
bahwa obat yang bermutu adalah obat yang
harganya mahal dengan kemasan mewah (StaI
Pengajar Departemen Farmakologi FK Unsri,
2008).

Tabel 8 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Spesialisasi Dokter

Nama Antibiotika
Januari-Maret 2011 Jumlah
R/
Jumlah
R/ () Anak Bedah Umum Lain-lain
Penisilin
SeIalosporin Generasi I
SeIalosporin Generasi II
SeIalosporin Generasi III
SeIalosporin Generasi IV
102
28
5
284
1
1
2
-
21
3
5
1
-
38
-
-
-
-
3
-
108
31
5
346
5
12
21,30
6,11
0,99
68,24
0,99
2,37 Karbapenem 11 1 1 -
Jumlah R/ tiap spesialisasi dokter 431 28 45 3
Jumlah R/ tiap spesialisasi dokter () 85,01 5,52 8,88 0,59
Jumlah R/ total 507
6

Dari tabel 8 dapat dilihat bahwa dokter
yang paling banyak menangani pasien pediatrik
rawat inap pengguna antibiotika beta laktam
merupakan dokter spesialis anak yaitu 85,01.
Hal ini sesuai karena pasien yang diteliti
dikhususkan pada pasien anak (pediatrik).


Tabel 9 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Jumlah Hari Perawatan

Hari Perawatan
Januari-Maret 2011 Jumlah
R/
Jumlah
R/ () Januari Februari Maret
1-3 hari
4-6 hari
7-9 hari
10-12 hari
13-15 hari
16-18 hari
~18 hari
13
92
33
10
9
5
15
24
67
40
6
5
-
-
24
94
45
13
4
4
4
61
253
118
29
18
9
19
12,03
49,90
23,27
5,72
3,55
1,78
3,75
Jumlah R/ tiap bulan 177 142 188

Jumlah R/ tiap bulan () 34,91 28,01 37,08
Jumlah R/ total 507

Dari tabel 9 dapat dilihat bahwa pasien
pediatrik yang menggunakan antibiotika beta
laktam paling banyak menjalani perawatan di
rumah sakit selama 4-6 hari yaitu 49,90. Hal
ini disebabkan untuk mempertahankan kadar
hambat minimum bakteri dibutuhkan waktu
kurang lebih 5 hari atau ditambah 2 hari setelah
gejala inIeksi hilang. Pengobatan dapat
diteruskan dengan pengobatan rawat jalan bila
pasien mengalami perbaikan klinis.



Tabel 10 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Lama Terapi

Lama Terapi
Golongan Antibiotik Jumlah
R/
Jumlah R/
()
P S I S II S III S IV K
1-3 hari
4-6 hari
7-10 hari
11-15 hari
~15 hari
32
34
23
6
13
8
13
8
2
-
3
1
1
-
-
110
184
38
13
1
4
-
1
-
-
2
7
2
1
-
159
239
73
22
14
31,36
47,14
14,40
4,34
2,76
Jumlah R/ tiap golongan obat 108 31 5 346 5 12

Jumlah R/ tiap golongan obat () 21,30 6,11 0,99 68,24 0,99 2,37
Jumlah R/ total 507

Keterangan :
P Penisilin
S I SeIalosporin generasi I
S II SeIalosporin generasi II
S III SeIalosporin generasi III
S IV SeIalosporin generasi IV
K Karbapenem

Dari tabel 10 dapat dilihat bahwa terapi
antibiotika beta laktam paling banyak diberikan
selama 4-6 hari yaitu 47,14. Lama terapi ini
bergantung dari berbagai hal, antara lain dari
segi penderita yaitu tingkat keparahan penyakit,
kesesuaian obat yang diberikan dengan penyakit
dan respon penderita terhadap obat. Jika suatu
obat sudah lama digunakan tetapi penyakit yang
diderita belum sembuh, berarti harus dicoba
alternatiI obat lain atau diberikan kombinasi
obat, karena hal ini, mungkin disebabkan
penderita tidak cocok dengan obat-obat yang
dikonsumsi atau obat tidak sesuai dengan jenis
penyakit yang diderita.

7

Tabel 11 Persentase Jumlah Resep Antibiotika Beta Laktam Berdasarkan Diagnosis

Diagnosis
Golongan Antibiotik Jumlah
R/
Jumlah
R/ ()
P S I S II S III S IV K
Bronchopneumonia
Bronchopneumonia demam tiIoid
Bronchopneumonia Atsma bronchiale
Bronchopneumonia DHF
Bronchopneumonia GEA
Bronchopneumonia diagnosis lain
8
-
1
-
1
10
1
-
-
1
-
2
4
-
-
-
-
-
37
19
6
7
7
35
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
50
19
7
8
8
47
9,86
3,75
1,38
1,58
1,58
9,27
Demam TiIoid
Demam TiIoid ISPA
Demam TiIoid diagnosis lain
-
-
1
1
-
-
1
-
-
30
5
22
-
-
-
-
-
-
32
5
23
6,31
0,99
4,54
DHF
DHF diagnosis lain
3
2
1
-
-
-
10
10
-
-
-
-
14
12
2,76
2,37
Observasi Febris
Observasi Febris diagnosis lain
2
-
1
1
-
-
4
1
-
-
-
-
7
2
1,38
0,39
GEA
GEA dehidrasi
GEA diagnosis lain
-
2
4
-
-
-
-
-
-
3
7
9
-
-
-
-
-
-
3
9
13
0,59
1,78
2,56
ISPA
ISPA diagnosis lain
1
5
-
1
-
-
2
11
-
-
-
1
3
18
0,59
3,55
Diare akut
Diare akut diagnosis lain
1
2
-
1
-
-
4
11
-
-
-
-
5
14
0,99
2,76
GE
GE diagnosis lain
3
1
-
-
-
-
4
2
-
-
-
-
7
3
1,38
0,59
Neonatal Hyperbilirubinemia
Neonatal Hyperbilirubinemia
diagnosis lain
3
7
1
1
-
-
-
1
-
-
-
-
4
9
0,78
1,75
BCB
BCB diagnosis lain
5
8
-
3
-
-
1
3
-
-
1
-
7
14
1,38
2,76
BKB diagnosis lain 10 3 - 6 - 2 21 4,14
BBLR diagnosis lain 4 - - 2 - 1 7 1,38
Bronchitis asthma 1 - - 4 - - 5 0,99
URTI 1 - - 4 - - 5 0,99
Lain-lain 22 13 - 79 5 7 126 24,85
Jumlah R/ tiap golongan obat 108 31 5 346 5 12 507
Jumlah R/ tiap golongan obat () 21,30 6,11 0,99 68,24 0,99 2,37 100

Keterangan :
P Penisilin
S I SeIalosporin generasi I
S II SeIalosporin generasi II
S III SeIalosporin generasi III
S IV SeIalosporin generasi IV
K Karbapenem
DHF engue Haemorrhagic Fever (DBD)
GEA Gastroenteritis akut
GE Gastroenteritis
ISPA InIeksi Saluran PernaIasan Akut
BCB Bayi Cukup Bulan
BKB Bayi Kurang Bulan
BBLR Bayi Berat Lahir Rendah
URTI Upper Respiratory Tract Infection


Dari tabel 11 dapat dilihat bahwa terapi
antibiotika beta laktam paling banyak digunakan
pada penyakit bronchopneumonia yaitu sebesar
27,42. Penyakit kronik yang melemahkan
sistem imun dapat menyebabkan anak mudah
untuk terkena bronchopneumonia. Sebelum
adanya penisilin, angka kematian dari tipe
peumonia ini tinggi dan kesembuhan biasanya
meninggalkan kerusakan paru-paru yang
permanen (Moeckel and Noori, 2008).

8

Analisis Kualitatif
Tabel 12 Ketepatan atau Ketidaktepatan Dosis Antibiotika Beta Laktam

Golongan
Januari-Maret 2011
Tepat
Tidak Tepat
Lebih Kurang
Penisilin
SeIalosporin Generasi I
SeIalosporin Generasi II
SeIalosporin Generasi III
SeIalosporin Generasi IV
Karbapenem
95 (18,74)
26 (5,13)
5 (0,99)
342 (67,46)
5 (0,99)
9 (1,78)
13 (2,56)
2 (0,39)
-
1 (0,20)
-
3 (0,59)
-
3 (0,59)
-
3 (0,59)
-
-
Jumlah R/ 482 (94,76) 19 (3,75) 6 (1,18)
Jumlah R/ total 507

Hal-hal yang paling banyak
dipertimbangkan dalam menentukan dosis
pasien pediatrik adalah berat badan dan luas
permukaan tubuh karena dapat mempengaruhi
konsentrasi obat pada tempat kerjanya. Untuk
itu, dosis obat memerlukan penyesuaian dari
dosis biasa untuk orang dewasa ke dosis
pediatrik (Ansel, 2005).
Dari tabel 12 dapat dilihat bahwa 4,93
resep diberikan dengan dosis yang kurang tepat
(3,75 berlebih dan 1,18 kurang). Ketepatan
atau ketidaktepatan dosis dianalisis berdasarkan
kriteria yang telah disusun sebelumnya dari
literatur-literatur yang ada.

Tabel 13 Interaksi Antibiotika Beta Laktam

Interaksi Obat Januari-Maret 2011
Jenis Interaksi
Golongan obat Obat lain
Jumlah
R/
Jumlah R/
()
Penisilin Aminoglikosida
RiIampisin
IbuproIen
20
6
6
3,94
1,18
1,18
Farmakodinamik
Farmakodinamik
Farmakokinetik
SeIalosporin Aminoglikosida
KloramIenikol
RiIampisin
Polimiksin
IbuproIen
Furosemid
23
4
22
4
34
12
4,54
0,79
4,34
0,79
6,71
2,37
Farmakodinamik
Farmakodinamik
Farmakodinamik
Farmakodinamik
Farmakokinetik
Farmakodinamik
SeIotaksim Fenobarbital 3 0,59 Farmakodinamik
Jumlah kasus interaksi 134 26,43
Jumlah R/ total 507

Dari tabel 13, dapat dilihat bahwa jumlah
total kasus interaksi yang terjadi sebanyak
26,43 yang terdiri dari interaksi
Iarmakokinetik dan Iarmakodinamik.
Persentase interaksi terbesar dari tabel yaitu
interaksi antara seIalosporin dengan ibuproIen
(6,71) yang merupakan interaksi
Iarmakokinetik. SeIalosporin akan
meningkatkan level atau eIek dari ibuproIen
dengan kompetisi obat anionik untuk clearance
tubular ginjal. Interaksi yang terjadi merupakan
interaksi ringan atau interaksi non-signiIikan.
Berikutnya adalah interaksi antara seIalosporin
dengan aminoglikosida (4,54) yang
merupakan interaksi Iarmakodinamik. EIek
neIrotoksik aminoglikosida dapat meningkat
melalui pemakaian bersama dengan beberapa
seIalosporin (terutama seIalosporin generasi
ketiga) (Stockley, 2008).
Interaksi obat yang bersiIat sinergis dapat
dimanIaatkan untuk meningkatkan eIek dari
obat tersebut, sehingga dosis pemakaiannya
dapat dikurangi. Sedangkan untuk eIek yang
merugikan, di rumah sakit tersebut telah
diterapkan pencegahan timbulnya interaksi obat
dengan memberikan obat secara terpisah antara
2-6 jam.


9

Tabel 14 Kombinasi Antibiotika Beta Laktam
Jumlah kombinasi Kombinasi
Jumlah
R/
Jumlah
R/ ()
EIek interaksi
2 obat Penisilin-Aminoglikosida
SeIalosporin-Aminoglikosida
SeIalosporin-KloramIenikol
20
23
1
3,94
4,54
0,20
Sinergis
Sinergis
Antagonis
Jumlah R/ 2 kombinasi obat 44 8,68
Jumlah R/ total 507

Pasien biasanya menerima beberapa obat
pada saat yang sama. Beberapa penyakit
membutuhkan terapi kombinasi yang bekerja
lebih baik daripada jika obat tersebut digunakan
sendiri (Rodrigues, 2008). Oleh karena itu, perlu
diperhatikan pemberian beberapa obat pada saat
yang bersamaan, apakah ada interaksi
merugikan atau menguntungkan dari kombinasi
obat tersebut.
Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa kasus
kombinasi yang terjadi sebanyak 8,68 dari
total resep. Yang terdiri dari 8,48 kombinasi
sinergis dan 0,20 kombinasi antagonis.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil evaluasi penggunaan
antibiotika beta laktam dari data pasien
pediatrik rawat inap salah satu rumah sakit di
Kota Bandung pada bulan Januari sampai Maret
2011 dapat disimpulkan sebagai berikut:
i. Data Kuantitatif
Total 507 resep dipersentasekan berdasarkan:
a.Waktu: Januari (34,91), Februari (28,01),
dan Maret (37,08).
b.Jenis kelamin: laki-laki (52,66) dan
perempuan (47,34 ).
c.Usia: Pasien 1-5 tahun paling banyak
menggunakan antibiotik (41,22) dan
ditangani dokter spesialis anak (85,01).
d.Rute pemberian: parenteral (57,79), dan
oral (42,21).
e.Golongan obat: SeIalosporin generasi III
paling banyak digunakan (68,24).
I.Jenis obat: sediaan non-generik (79,09), dan
generik (20,91).
g.Jumlah hari perawatan: paling banyak antara
4-6 hari (49,90) dengan lama terapi paling
banyak antara 4-6 hari (47,14).
h.Diagnosis terbanyak yaitu bronchopneumonia
(27,42).
ii.Data Kualitatif
a.Ketidaktepatan pemberian dosis: 4,93.
b.Interaksi obat: 26,43.
c.Kombinasi obat: 8,68.
d.Tidak terdapat kasus duplikasi obat.
Disarankan untuk dilakukan penelitian
lebih lanjut berhubungan dengan evaluasi
penggunaan antibiotika beta laktam
menggunakan metode konkuren.
DAFTAR PUSTAKA

Abrams, A.C. 2004. linical rug Therapy.
Rationales for Nursing Practice. Seventh
Edition. Philadelphia. USA: Lippincott Williams
& Wilkins. p. 2-3, 517-518.
Ansel, H.C. 2005. Pengantar Bentuk Sediaan
Farmasi. Edisi Keempat. Penerjemah: Farida
Ibrahim. Jakarta: UI Press. Hal. 70, 74-77.
Azwar, B. 2004. Bifak Memanfaatkan Antibiotik.
Jakarta: Kawan Pustaka. p. 1.
Budiarto, E., dan Dewi A. 2001. Epidemiologi. Edisi
2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal.
24.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006.
Pedoman Pelayanan Informasi Obat di Rumah
Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia. Hal 1-2.
Dipiro, J. T., Robert L. T., Gary C. Y., Gary R. M.,
Barbara G. W. 2005. Pharmacotherapy. A
Pathophysiologic Approach. Sixth Edition. New
York. USA: McGraw-Hill Companies, Inc. p.
91.
Katzung, B.G. 2007. Basic and linical
Pharmacology. Tenth Edition. Pennsylvania.
USA: Mc. Graw-Hill Medical Publishing
Division. p. 1037-1082.
Khosman, A. dan Faisal A. 2008. Sehat Itu Mudah.
Jakarta: PT Mizan Publika. Hal. 120.
Kliegman, R. M., Richard E.B., Hal B. J., Bonita F.
S. 2007. Nelson Textbook of Pediatrics. 18th
Edition. Philadelphia. USA: Saunders Elsevier
Inc. p. 1, 43-60, 1175.
Krisnawati, I. 2008. Healing Food for Kids. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama. Hal. 4.
Moeckel, E. and Noori M. 2008. Textbook of
Pediatric Osteopathy. London. British: Elsevier
Health Sciences. p. 302.
Rodrigues, A. D. 2008. rug-rug Interactions.
Second Edition. New York. USA: InIorma
Healthcare, Inc. p. 1.
StaI Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2008.
Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 9-10.
Stockley, I. H. 2008. Stockleys rug Interactions.
Eighth Edition. London. British: Pharmaceutical
Press. p. 1-11, 286.
Surahman, E. M. 2000. Penggunaan Antibiotika Beta
Laktam di Rumah Sakit Rafawali Bandung.
Tesis Magister. Bandung: Institut Teknologi
Bandung. Hal 3.
Tjay, T. H., dan Kirana R. 2007. Obat-Obat Penting.
Jakarta: PT Elex Media Komputindo. p. 65, 67.