Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam islam terdapat perintah untuk melakukan dakwah, yakni berdakwah dalam kebaikan. Sebagai umat muslim kita diwajibkan untuk menyampaikan kebaikan kepada sesama manusia, dan hal tersebut juga tertuang dalam al-quran dan hadis. Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berdakwah kepada sesame manusia, seperti beliau yang melakukan perjuangan dakwahnya di jaman jahiliyah. Mulai dari dakwah secara sembunyi-sembunyi sampai dakwah secara terang-terangan. Hal ini dilakukan rasulullah adalah semata-mata untuk mengajak umat manusia menuju jalan yang terang benderang yakni agama islam. Di zaman yang sudah modern ini, kita sebagai penerus perjuangan rasulullah SAW haruslah bisa melakukan dakwah, paling tidak kita harus bisa melakukan dakwah dengan mengajak berbuat kebaikan kepada sesame muslim. Dan karena itulah penulis mencoba untuk mengutip beberapa hadis yang berkaitan dengan perintah melakukan dakwah.

BAB II PEMBAHASAN

Hadist-hadist tentang perintah melakukan dakwah

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu taala anhu, bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda,

Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat (HR. Bukhari) Seputar perawi hadits : Hadits ini diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr bin Al Ash bin Wail bin Hasyim bin Suaid bin Saad bin Sahm As Sahmiy. Nama kunyah beliau Abu Muhammad, atau Abu Abdirrahman menurut pendapat lain. Beliau adalah salah satu diantara Al Abaadilah (para shahabat yang bernama Abdullah, seperti Abdullah Ibn Umar, Abdullah ibn Abbas, dan sebagainya pent) yang pertama kali memeluk Islam, dan seorang di antara fuqaha dari kalangan shahabat. Beliau meninggal pada bulan Dzulhijjah pada peperangan Al Harrah, atau menurut pendapat yang lebih kuat, beliau meninggal di Thaif. Poin kandungan hadits :

Pertama: Nabi shallallaahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menyampaikan perkara agama dari beliau, karena Allah subhanahu wa taala telah menjadikan agama ini sebagai satu-satunya agama bagi manusia dan jin (yang artinya), Pada hari ini telah kusempurnakan bagimu agamamu dan telah kusempurnakan bagimu nikmat-Ku dan telah aku ridhai Islam sebagai agama bagimu (QS. Al Maidah : 3). Tentang sabda beliau, Sampaikan dariku walau hanya satu ayat, Al Maafi An Nahrawani mengatakan, Hal ini agar setiap orang yang mendengar suatu perkara dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersegera untuk menyampaikannya, meskipun hanya sedikit. Tujuannya agar nukilan dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam dapat segera tersambung dan tersampaikan seluruhnya. Hal ini sebagaimana sabda beliaushallallaahu alaihi wa sallam, Hendaklah yang hadir menyampaikan pada yang tidak hadir. Bentuk perintah dalam hadits ini menunjukkan hukum fardhu kifayah. Kedua: Tabligh, atau menyampaikan ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam terbagi dalam dua bentuk :
1.

Menyampaikan dalil dari Al Quran atau sebagiannya dan dari As Sunnah, baik

sunnah yang berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (amaliyah), maupun persetujuan (taqririyah), dan segala hal yang terkait dengan sifat dan akhlak mulia Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Cara penyampaian seperti ini membutuhkan hafalan yang bagus dan mantap. Juga cara dakwah seperti ini haruslah disampaikan dari orang yang jelas Islamnya, baligh (dewasa) dan memiliki sikap adalah (sholeh, tidak sering melakukan dosa besar, menjauhi dosa kecil dan menjauhi hal-hal yang mengurangi harga diri/ muruah, ed).
2.

Menyampaikan secara makna dan pemahaman terhadap nash-nash yang ada.

Orang yang menyampaikan ilmu seperti ini butuh capabilitas dan legalitas tersendiri yang diperoleh dari banyak menggali ilmu dan bisa pula dengan mendapatkan persaksian atau izin dari para ulama. Hal ini dikarenakan memahami nash-nash membutuhkan ilmuilmu lainnya, di antaranya bahasa, ilmu nahwu (tata bahasa Arab), ilmu-ilmu ushul, musthalah, dan membutuhkan penelaahan terhadap perkataan-perkataan ahli ilmu, mengetahui ikhtilaf (perbedaan) maupun kesepakatan yang terjadi di kalangan mereka,

hingga ia mengetahui mana pendapat yang paling mendekati dalil dalam suatu masalah khilafiyah. Dengan bekal-bekal ilmu tersebut akhirnya ia tidak terjerumus menganut pendapat yang nyleneh. Ketiga: Sebagian orang yang mengaku sebagai dai, pemberi wejangan, dan pengisi talim, padahal nyatanya ia tidak memiliki pemahaman (ilmu mumpuni) dalam agama, berdalil dengan hadits Sampaikan dariku walau hanya satu ayat. Mereka beranggapan bahwasanya tidak dibutuhkan ilmu yang banyak untuk berdakwah (asalkan hafal ayat atau hadits, boleh menyampaikan semau pemahamannya, ed). Bahkan mereka berkata bahwasanya barangsiapa yang memiliki satu ayat maka ia telah disebut sebagai pendakwah, dengan dalil hadits Nabi shallallaahu alaihi wa sallam tersebut. Menurut mereka, tentu yang memiliki hafalan lebih banyak dari satu ayat atau satu hadits lebih layak jadi pendakwah. Pernyataan di atas jelas keliru dan termasuk pengelabuan yang tidak samar bagi orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah. Hadits di atas tidaklah menunjukkan apa yang mereka maksudkan, melainkan di dalamnya justru terdapat perintah untuk menyampaikan ilmu dengan pemahaman yang baik, meskipun ia hanya mendapatkan satu hadits saja. Apabila seorang pendakwah hanya memiliki hafalan ilmu yang mantap, maka ia hanya boleh menyampaikan sekadar hafalan yang ia dengar. Adapun apabila ia termasuk ahlul hifzh wal fahm (punya hafalan ilmu dan pemahaman yang bagus), ia dapat menyampaikan dalil yang ia hafal dan pemahaman ilmu yang ia miliki. Demikianlah sabda Nabi shallallaahu alaihi wa sallam,Terkadang orang yang disampaikan ilmu itu lebih paham dari yang mendengar secara langsung. Dan kadang pula orang yang membawa ilmu bukanlah orang yang faqih (bagus dalam pemahaman).Bagaimana seseorang bisa mengira bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam memerintahkan orang yang tidak paham agama untuk mengajarkan berdasarkan pemahaman yang ia buat asal-asalan (padahal ia hanya sekedar hafal dan tidak paham.

Dari Abu Hurairah :

.. "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." HR. Muslim

Sikap terhadap hadits yang mulia ini:


1. Dalam sabdanya : man da'a (Barangsiapa yang mengajak) Nabi tidak menyebutkan tata

cara dakwah pada sarana, atau metode yang tertentu, tetapi membiarkannya tanpa terikat.
2. Dalam sabdanya : ila huda (kepada petunjuk): bentuk nakirah muthlaq (kata indefinit

yang tidak terikat) dari jenis (bentuk) yang dikatakan baginya 'petunjuk', yaitu amal atau ucapan apapun yang mengandung pahala. Karena alasan ini, hendaklah seorang dai tidak meremehkan amal kebaikan apapun yang dia mengajak manusia kepadanya. Nabi bersabda: "Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun juga." Dan untuk kita pada Rasulullah merupakan suri tauladan, maka beliau tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar dari amal shaleh kecuali beliau telah mengabarkan umatnya dengannya.
3. Dalam sabdanya : niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya,

mengandung dorongan berusaha dalam kebaikan dan menunjukkan atasnya, karena penyebab beramal shaleh mendapatkan seperti yang diperoleh pelakunya berupa pahala. Pintu pahala ini tidak ditutup dan ia terus bertambah sehari demi sehari.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Perintah berdakwah sudah terdapat dalam hadist, jadi kita sebagai umat islam harus bisa meneruskan perjuangan Rasulullah SAW dalam berdakwah. Salah satu hadist yang berkaitan dengan perintah melakukan dakwah adalah Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu taala anhu, bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda, Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat (HR. Bukhari) Dari hadist tersebut sudah dapat disimpulkan bahwa kita sebagai umat muslim harus berdakwah dan menyampaikan hal-hal yang baik walaupun hanya sekecap. Dan kita sebagai orang muslim harus menjadi orang yang dapat dipercaya dalam agama kita, dengan menyampaikan hal-hal yang baik yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Dan hadist yang kedua adalah Dari Abu Hurairah :

.. "Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk niscaya untuknya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, hal itu tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun." HR. Muslim Hadist ini menerangkan bahwa barang siapa yang mau mengajak kepada kebaikan atau hal-hal yang baik, maka pahalanya akan sama dengan pahala orang yang mengikutinya.