Anda di halaman 1dari 7

Gereja mengakui orang-orang tertentu sebagai Santa dan Santo melalui suatu cara yang khusus, yaitu melalui

suatu proses yang disebut Kanonisasi. Kanon (Latin = Hukum atau Daftar) adalah sesuatu atau seseorang yang dijadikan contoh tetap bagi yang lain.

Kanon Misa, misalnya, adalah Doa Syukur Agung yang mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Doa Syukur Agung tetap sama. Doa-doa lainnya dalam Misa dapat berubah-ubah dari minggu yang satu ke minggu yang lain, tetapi Kanon Misa tetap sama.

KANONISASI adalah proses Gereja meresmikan seseorang yang telah meninggal diangkat menjadi seorang Santa/Santo. Jika seseorang dikanonisasi oleh Gereja artinya ia dijadikan contoh atau teladan bagi umat yang lain. Seorang Santa/Santo adalah seorang Pahlawan Gereja.

Kanonisasi baru dimulai pada abad kesepuluh. Selama beratus-ratus tahun sebelumnya, mulai dari martir pertama Gereja Perdana, santa dan santo dipilih berdasarkan pendapat banyak orang. Meskipun cara demikian lebih demokrasi, namun beberapa kisah hidup santa/santo telah dikacaukan dengan cerita legenda, sebagian lain bahkan tidak pernah ada. Oleh karena itu Uskup dan pada akhirnya Vatikan mengambil alih wewenang untuk mengangkat santa dan santo.

Pada tahun 1983 Paus Yohanes Paulus II melakukan perubahan besar dalam proses kanonisasi. Proses kanonisasi dimulai setelah kematian seorang Katolik yang dianggap banyak orang sebagai kudus. Seringkali proses kanonisasi baru dimulai bertahun-tahun setelah kematian seorang kudus untuk memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai calon santa/santo tersebut. Uskup setempat mengadakan penyelidikan tentang kehidupan calon santa/santo, tulisan-tulisan mengenai teladan kepahlawanannya (atau kemartirannya) serta kebenaran ajarannya. Kemudian sejumlah teolog di Vatican menilai calon santa/santo tersebut. Setelah persetujuan para teolog dan para Kardinal dari Konggregasi Masalah Santa/Santo, Paus mengumumkan calon santa/santo tersebut sebagai "VENERABILIS" (Yang Pantas Dihormati).

Langkah selanjutnya adalah BEATIFIKASI. Beatifikasi memerlukan bukti berupa mukjizat (kecuali dalam kasus martir). Sebab mukjizat dianggap sebagai bukti bahwa orang yang dianggap kudus itu telah berada di surga dan dapat mendoakan kita. Mukjizat itu harus terjadi sesudah kematian calon santa/santo dan merupakan jawaban atas permohonan khusus yang disampaikan kepada calon santa/santo tersebut. Jika Paus telah menyatakan bahwa calon santa/santo tersebut telah dibeatifikasi menjadi BEATA/ BEATO (Latin artinya Yang Berbahagia), maka orang kudus tersebut boleh dihormati oleh daerah atau kelompok umat tertentu yang berkepentingan.

Hanya jika dapat dibuktikan adanya satu mukjizat lagi, maka Paus akan melakukan kanonisasi calon santa/santo (termasuk martir juga). Gelar SANTA atau SANTO menunjukkan kepada kita bahwa orang yang menyandang gelar tersebut adalah orang yang hidup kudus, telah berada di surga, dan pantas dihormati oleh seluruh Gereja Katolik. Kanonisasi tidak "membuat" seseorang menjadi santa/santo, tetapi merupakan pengakuan kita akan karya besar yang telah dilakukan Tuhan.

Kanonisasi bersifat mutlak dan tidak dapat dibatalkan. Namun demikian, proses kanonisasi memerlukan waktu yang amat lama dan usaha keras. Jadi meskipun semua orang yang dikanonisasi adalah orang kudus, tidak semua orang kudus dikanonisasi. Siapa saja yang berada di surga adalah seorang yang kudus. Kamu mungkin mengenal banyak "orang kudus" dalam hidupmu. Kamu sendiri pun telah dipanggil Tuhan untuk menjadi kudus.

Novena Santo Yudas Tadeus Doa pada saat masalah datang atau apabila seseorang tampak kehilangan semua bantuan yang ada, untuk masalah yang hampir tidak ada jalan keluarnya Rasul yang suci, SANTO YUDAS TADEUS, pelayan dan sahabat Yesus yang setia, gereja semesta menghormati dan memohon sebagai penolong dari masalah-masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Doakanlah dakun karena merasa sendirian dan tidak mempunyai penolong. Aku mohon kepadamu. Gunakanlah kekuatan khusus yang diberikan untuk memberikan kepadaku bantuan nyata dan sesegera mungkin disaat aku merasa bantuan itu hampir tak ada. Dampingilah aku dalam kebutuhanku, masalah dan penderitaanku khususnya..........(Sebut permintaan anda) sehingga aku akan memuji Tuhan bersamamu dan semua orang terpilih selamanya. Aku berjanji, oh SANTO YUDAS TADEUS untuk selalu mengingat bantuan besar ini selalu menghormatimu sebagai Rasul yang istimewa dan perkasa, dan untuk mengingatkan devosi kepadamu. Amin. SANTO YUDAS TADEUS berdoa untuk kita dan mendengarkan doa kita. Amin Terbekatilah SANTO YUDAS TADEUS diseluruh bumi dan selalu sepanjang masa. Amin

*doakan 6 kali sehari, selama 9 hari berturut-turut *tinggalkan 9 lembar salinan doa ini setiap hari (dapat ditulis ulang) selama 9 ha

DEVOSI KEPADA SANTO-SANTA Saudara-saudara kita dari gereja Protestant tidak memberikan tempat untuk devosi kepada Bunda Maria, para malaikat dan orang kudus dalam kebaktian mereka. Alasan mereka antara lain: 1. Hanya ada satu pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Yesus Kristus. 2. Doa dan penghormatan kepada Bunda Maria dan orang kudus lainnya akan mengurangi penghormatan kepada Allah yang Mahatinggi Posisi kita orang Katolik: 1. Kita tetap mengakui sifat "tunggal" dari kepengantaraan Yesus. Bahwa hanya Yesus seorang diri yang menjadi pengantara antara Allah dan umat manusia, dan tak ada yang lain. Tapi yang dimaksudkan di sini adalah bahwa Yesus menjadi pengantara tunggal sebagai penyelamat kita. Oleh dosa-dosa yang kita buat, maka kita sebenarnya pantas dihukum untuk mendapat keselamatan dari Allah. Tapi oleh kedatanganNya ke dunia, Yesus merelakan diriNya dihukum sampai mati di salib atas nama kita dan untuk menggantikan kita, dan dengan itu kita kita diselamatkan dari hukuman karena dosa (tapi dengan syarat setelah menjadi pengikut Yesus kita berusaha berhenti berbuat dosa dan mengikuti ajaran Yesus). Kita bisa ambil contoh. Kalau saya melakukan suatu tindakan kejahatan, maka menurut hukum yang berlaku saya harus dihukum. Hukumannya antara bisa berupa: masuk penjara atau membayar uang tebusan. Kalau saya tidak punya uang, maka saya mesti masuk penjara. Tapi kalau saya punya uang, saya bisa dibebasakan dengan membayar uang tebusan. Jadi uang itulah yang membebaskan saya dan sekaligus menjadi pengantara yang membebaskan saya. Kurang lebih peranan Yesus seperti ini.Ia yang tidak bersalah maju untuk dihukum menggantikan kita orang berdosa dan dengan itu kita dibebaskan. Sedangkan Bunda Maria menjadi "pengantara" yang membawa rahmat Allah untuk manusia. Maria dan orang kudus lainnya yang diyakini sudah tinggal bersama Allah dapat dimintakan pengantaran doa mereka untuk kita atau bisa menyampaikan doa-doa kita kepada Allah. Analoginya begini. Saya misalnya mau minta sesuatu kepada seorang raja. Saya yakin permintaan saya akan lebih sukses kalau saya pakai orang dalam istana. Misalnya minta bantuan salah seorang putri raja untuk menyampaikan permintaan saya. Untuk itu saya mesti menjadi hubungan baik dengan putri raja. Tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa saya minta sesuatu itu langsung kepada raja kalau memang saya yakin bahwa raja akan mau mendengar saya dan meluluskan permohonan saya sebagai seorang yang amat rendah di mata sang raja. Teman pastor saya di West Virginia sedang belanja di sebuah store dengan menggunakan jubah Imam. Seorang ibu (non-Katolik) bercakap-cakap dengan dia sampai akhirnya dia tanya soal Bunda Maria. Ibu itu bilang: "Father, how can you, a Catholic, pray to Blessed Mary? Does it make sense?". Teman saya bilang: "Well, when I was a kid, I usually asked my mother to pray for me. Why can not I ask my heavenly Mother (Virgin Mary) to pray for me?"

2. Doa dan puji-pujian kepada orang kudus termasuk secara khusus kepada Bunda Maria tidak mengurangi penghormatan kepada Allah yang Mahatinggi.

Pujian-pujian kepada orang kudus selalu karena dan dalam rangka memuji Allah. Orang kudus tidak bisa dipuji dan dikagumi terlepas dari Allah mahatinggi. Bunda Maria misalnya amat kudus karena iman dan ketaatanNya kepada Allah, dan kita puji dia karena iman dan ketaatannya kepada Allah, sambil kita berusaha mencontoh teladannya supaya kita juga beriman dan taat kepada Allah seperti Maria. Gereja Katolik umumnya membedakan devosi atas tiga: 1. Devosi kepada Allah (latria=adoration=penyembahan). Allah merupakan sasaran dan tujuan devosi yang paling tinggi. Hanya Dia yang layak disembah. 2. Devosi kepada para malaikat dan orang kudus (dulia=veneration=penghormatan). Devosi kepada orang kudus sudah sangat tua usianya, dan dikukuhkan kembali oleh Konsili Vatikan II sepertinya dalam Dokumen Sacrosantum Concilium (SC 104, 111) Lumen Gentium (LG 50, 51). Dalam dokumen ini dikatakan bahwa Gereja Katolik memandang perlu untuk menghormati para kudus yang dianugerahi Allah dan setelah mendapat keselamatan abadi mereka melakukan pujian sempurna bagi Allah di surga dan menjadi pengantara bagi kita. Karena dalam perayaan ini Gereja mewartakan misteri paska orang-orang suci, yang turut menderita dan turut dimuliakan bersama Kristus. Orang kudus mengemukakan kepada orang beriman contoh hidup mereka yang menarik semua orang melalui Kristus kepada Bapa dan memohon kebaikan Allah dengan pahala mereka. Gereja berpendapat bahwa melalui ibadat kepada orang kudus, kita mencari teladan hidup, kebersamaan persekutuan dan bantuan pengantaraan mereka. Dalam bergaul dengan para kudus di surga, kita tidak melemahkan ibadat kepada Allah dengan perantaraan Kristus dalam Rohnya, tapi sebaliknya justru memperkayanya. Sebab itu ajaran resmi Gereja mengenai persekutuan para kudus, peranan para kudus sebagai perantara dan ibadat penghormatan kepada mereka, menegaskan bahwa para kudus hendaknya hanya menjadi OBYEK PENGHORMATAN (veneration, dulia) dan sekali-kali tidak boleh menjadi OBYEK PENYEMBAHAN (adoration, latria) yang hanya ditujukan khusus kepada Allah. Kalau orang kudus dipuji, maka maka mereka pertama-tama dipuji karena Kristus dan diarahkan kepada Kristus sendiri. 3. Devosi kepada Bunda Maria (hyperdulia=penghormatan lebih/khusus).Dalam kenyataannya umat Kristen mengakui bahwa Maria mempunyai kedudukan yang lebih istimewa di antara orang kudus oleh kerena peranannya sebagai Bunda Allah Yesus Kristus. Sebagai akibatnya penghormatan dan puji-pujian kepada Maria juga mendapat tempat yang istimewa dan khusus (hyperdulia). Namun demikian, meskipun Maria mempunyai kedudukan dan peranan istimewa dalam tata keselamatan manusia, ia tidak dihormati pada level yang sama seperti Allah. Penghormatan kapada Maria tetap harus dibedakan dari penghormatan dan penyembahan yang hanya pantas ditujukan kepada Allah. Dalam ajaran Pujanggapujangga Gereja pembedaan ini cukup ditekankan. Misalnya:

Epiphanius: Maria memang sangat kudus, tapi dia bukan Allah....Maria boleh dihormati, tapi tidak boleh disembah sama seperti Bapa, Putera dan Roh Kudus. St. Yohanes dari Damaskus, St. Albertus Agung dan St. Bonaventura: Maria tidak boleh disembah (adoration, worship, latria) pada level sama seperti Allah), dan kalau hal ini dilakukan kepada Maria maka hal itu harus dianggap sebagai berhala. Maria hanya bisa dikagumi dan dipuji dan dimintakan pengantaraan doanya, dan semua kebaktian ini harus dibuat dalam nama Yesus Putra yang diutus Bapa dalam kerjasama Roh Kudus. Konsili Vatikan II (LG 66): walaupun ibadat seputar Maria merupakan ibadat yang sangat khusus, tetapi berbeda secara hakiki dengan ibadat SUJUD yang hanya diberikan kepada Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, namun sangat MEMUPUKNYA.

Itu berarti ibadat kepada Maria harus menjadi satu persiapan dan alasan untuk berbakti kepada Allah dan memupuknya

Orang Kudus Pelindung Orang Sakit Ada beberapa orang kudus yang dapat dimintai pertolongan untuk mendoakan dari bahaya atau penyakit tertentu. 1.Anak sakit keras : St. Kunigunde 2.Sakit mata : St. Lusia, St.Klara, St.Rosa de Lima, St.Tekla 3.Penderita cacat perang :St.Sebastianus 4.Gigitan anjing gila :St. Hubertus, St.Ubald 5.Gigitan ular berbisa :St.Hubertus, St.Paternus, St. Paulus 6.Dari bahaya kebakaran : St. Florianus, St.Laurensius 7.Luka Bakar : Rasul Yohanes 8.Kelumpuhan : St. Paternus, St. Wolfgang 9.Penyakit dan infeksi kulit :St.Antonius Abbas 10.Sakit dada :St.Agatha, St.Benardinus dari Siena 11.Epilepsi :St.Bibiana, St.Vitus, St.Dymphna, St.Willibrord 12.Sakit Ginjal :St. Lambertus 13.Sakit jiwa :St.Laurensius, St.Dymphna 14.Sakit leher :St. Blasius, St.Sixtus II 15.Penyakit menular :St.Roch, St.Sebastian 16.Sakit telinga :St.Pankrasius, St.Paulus 17.Sakit tenggorokan :St.Blasius 18.Sukar melahirkan :St.Anna, St.Margareta dari Antiokhia 19.Penderita AIDS :St.Aloysius Gonzaga, St.Peregrinus Laziozi, St.Teresa Lisieux 20.Sakit Kanker :St.Peregrinus Laziozi 21.Sakit Kolera :St. Roch 22.Penderita tuna rungu :St.Fransiskus de Sales 23.Penyakit saraf :St.Dymphna 24.Demam :St.Genoveva 25.Pendarahan :St.Lusia 26.Sakit kepala :St.Teresa Avila 27.Hernia :St.Cathal 28.Cacat fisik :St.Giles 29.Keracunan :St.Benedictus Abas, St.Yohanes Rasul, St.Pirminus 30.Penyakit Rematik :Rasul Yakobus (James the Greater) Kita dapat meminta perantaraan mereka untuk mendoakan kita untuk mendapatkan kesembuhan atau lolos dari suatu bahaya, namun kita tetap harus ingat bahwa hanya Tuhan yang dapat menyembuhkan semua penyakit dan melindungi kita dari