Anda di halaman 1dari 2
  • 54 Merek Jamu Dilarang Beredar

Kebiasaan buruk masyarakat kita yang harus segera dihilangkan adalah mengobati sendiri penyakit yang dialami tanpa harus ke dokter. Terlebih bila melalui pengobatan medis dirasakan tidak ada perubahan, sikap putus asa menyebabkan mereka tergiur untuk mencoba cara pengobatan lain yang menjanjikan dapat menyembuhlan berbagai macam penyakit. Tidak ada zat berkhasiat dewa pun yang mampu menyembuhkan penyakit apa saja. Pada dasarnya, tidak ada obat serbaguna, apalagi kalau itu belum tergolong sebagai obat.

Mengkonsumsi obat tradisional yang mengandung BKO keras, sangat membahayakan kesehatan pemakaiannya.

[FOTO: HARI]

54 Merek Jamu Dilarang Beredar Kebiasaan buruk masyarakat kita yang harus segera dihilangkan adalah mengobati sendiri

K ALAU kita mau berpikir secara jernih,

kita akan sukar menerima klaim

bahwa sebuah zat berkhasiat bisa

mampu menyembuhkan berbagai

macam penyakit (1001 macam penyakit).

Semakin gencar klaim mampu menyembuhkan

penyakit apa saja, dalam nalar medis, semakin

harus dikategorikan sebagai kebohongan.

Penggunaan obat untuk menyembuhkan

suatu penyakit yang diderita tidak boleh dalam

jangka waktu yang lama karena akan terjadi

penumpukan racun dalam tubuh seseorang,

sehingga menyebabkan beban kerja organ

tubuh seperti hati dan lambung semakin berat.

Disinyalir, sebagian jamu yang dipasarkan

tergolong jamu yang nakal. Selain

mengandung bahan alami, sengaja dicampur

obat juga. Bukan pula sembarang obat. Dari uji

yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan

Makanan (POM), ternyata tergolong jenis obat

Daftar G, yang harus ditebus dengan resep

dokter.

Dua obat yang sering dicampurkan dalam

jamu nakal, yakni golongan obat encok

golongan NSAID (non-steroid-anti-inflammatory

drug), dan obat golongan kortikosteroid.

Keduanya bikin badan jadi enteng dan hilang

pegal-linunya. Dalam dunia medis, pemakaian

gabungan kedua jenis obat ini tidak lazim

mengingat masing-masing efek samping yang

disandangnya akan menyebabkan gangguan

lambung.

Obat encok golongan itu punya efek

samping, terlebih bagi mereka yang sudah usia

lanjut, mengganggu lambung dan saluran

cerna. Kasus usia lanjut mengalami perdarahan

usus sehabis mengonsumsi obat encok, bukan

kejadian yang jarang.Demikian pula obat

encok impor nakal pun, termasuk sebagian

jamu pereda pegal-linu, mencampurkan jenis

obat ini.

Tidak jarang produsen obat mencampurnya

dengan obat golongan kortikosteroid. Obat jenis

ini tergolong “obat dewa” karena membuat

  • 46 Gemari Gemari Edisi

54 Merek Jamu Dilarang Beredar Kebiasaan buruk masyarakat kita yang harus segera dihilangkan adalah mengobati sendiri

90/Tahun

IX/Juli

2008

yang mengonsumsi merasa lebih segar. Ini jenis

hormon (produksi kelenjar anak ginjal

suprarenalis), yang dibutuhkan tubuh dalam

kondisi siap-siaga-waspada.

Mengingat begitu banyaknya produsen

jamu yang melakukan pelanggaran Badan

Pengawasan Obat dan Makanan Indonesia

melarang peredaran 54 merek Jamu yang

dianggap telah melakukan berbagai

pelanggaran. Sedikitnya 54 merek jamu dan

obat tradisional dilarang beredar di pasar

karena terbukti positif bercampur bahan

kimia obat (BKO) keras yang berbahaya dan

dapat mematikan konsumen yang memi-

numnya.

Larangan edar 54 merek jamu tersebut

diumumkan kemarin oleh dr Husia Rubiana

Thamrin Akib atau dikenal dengan sebutan ibu

Ance, Kepala Badan Pengawas Obat dan

Makanan (BPOM). Kebijakan pelarangan ini

tertuang dalam public warning No.

KH.00.01.43.2773 setelah lembaga tersebut

melakukan pengujian laboratorium terhadap

sejumlah produk jamu.

Ibu Ance menegaskan temuan tersebut

berdasarkan hasil pengawasan obat

tradisional melalui sampling dan pengujian

laboratorium yang diambil berdasarkan hasil

pengawasan di 16 kota sepanjang 2007. Ke-16

kota tersebut di antaranya Yogyakarta, Banjar-

masin, Kendari, Medan, Mataram, Lampung,

Aceh, Pontianak, Bengkulu, Padang,

Makassar, Pekanbaru, Bandung, Jakarta, dan

Kupang.

Menurut Husnia saat ini BPOM masih

terus melacak peredaran 54 merek produk

tersebut ke seluruh ibu kota provinsi di

Indonesia untuk dimusnahkan. Menurut dia,

54 merek jamu itu terdiri dari obat kuat, pegal

linu, asam urat, dan pelangsing yang

seluruhnya terbukti mengandung bahan kimia

berbahaya.

Sedikitnya ada sembilan bahan kimia

berbahaya yang terkandung di dalam berbagai

jenis obat tersebut, seperti zat sibutramin

hidroklorida yang dapat meningkatkan

tekanan darah tinggi (hipertensi), denyut

jantung dan sulit tidur. Obat ini tidak boleh

digunakan oleh pasien dengan penyakit arteri

koroner dan gagal jantung.

Selain itu juga terdapat sildenafil sitrat

yang dapat memicu sakit kepala, pusing,

mual, nyeri, ganguan penglihatan, hingga

kematian. Jamu terlarang itu juga tercampur

dengan siproheptadin yang dapat

menyebabkan mual, muntah, mulut kering,

diare, anemia, hemolitik, hingga

trombositopenia.

Campuran lain pada jamu kimia itu adalah

fenilbutason yang dapat memicu mual,

muntah, ruam kulit, retensi cairan dan

elektrolit, perdarahan lambung, gagal ginjal,

dan sebagainya. Ada pula asam mefenamat

yang dapat menyebabkan mengantuk, diare,

ruam kulit, anemia, kejang, asma, dan ginjal.

Beberapa merek jamu juga terbukti

dicampur dengan prednison yang dapat

menyebabkan moon face, gangguan saluran

cerna, glaucoma dan

keseimbangan cairan. Juga,

metampiron yang dapat

menyebabkan gangguan saluran

cerna seperti mual, syok,

kematian dan sebagainya.

Registrasi fiktif

Dari 54 merek jamu

berbahaya itu, papar Husniah, 46

produk di antaranya

menggunakan nomor

registrasinya fiktif, sementara

tujuh merek-terdiri dari 1 produk

impor dan 6 produk lokal-

teregistrasi resmi di BPOM.

Ketujuh merek itu, kata dia,

pada saat mengajukan registrasi

sampel produk tidak

mengandung BKO, namun

setelah dipasarkan produk itu

sengaja dicampur BKO. “Produk

yang resmi teregistrasi tetapi

mengandung BKO, izin edarnya

telah dicabut,” katanya.

Husnia (Ance)

mengungkapkan produk jamu

berbahaya buatan dalam negeri,

banyak terpampang dalam situs

Internet di Asian Allert, bahkan

jamu BKO buatan Indonesia

banyak ditemukan di negara lain

seperti Arab Saudi, Singapura

dan Malaysia

“Kita banyak mendapat

teguran dari GP Jamu (Gabungan

Pengusaha Jamu). Jamu BKO

telah merusak citra produk jamu

Indonesia di luar negeri.

Imbasnya, merusak pasaran jamu

resmi Indonesia,” tutur Ance.

Kepada masyarakat luas,

Ance berpesan mengkonsumsi

obat tradisional mengandung

BKO keras sangat

membahayakan kesehatan

bahkan dapat mematikan.

Pemakaian obat keras harus

melalui resep dokter,

sambungnya. RIS

Daftar jamu berbahan kimia obat keras yang ditarik di antarnya

• Pacegin Kapsul Alami • Cakra Sehat Sesak Nafas serbuk • Neo Gemuk Sehat merek: S.Munir • Serbuk Halus Asam Urat • Ganoderma kapsul • Karisma Sehat Pria dan Wanita • Sela kapsul • Sumber Urip Pegal Linu • Bima Kudra tablet • Serbuk Segar Asam • Ajib kapsul • Super Abad 21 Asam Urat Flu tulang • Kamasutra kapsul • Flu Tulang Pegal Linu Puspita Surya • Asam Urat Flu Tulang Cap Unta • Cap Sarang Lawet serbuk • Akar Baru Kina Tablet • Asam Urat Flu Tulang Akar Sewu • Ramuan Cina kapsul • Asam Urat Flu Tulang Cakra Wijaya serbuk • Dasa Agung Dua serbuk • Sakit Pinggang kapsul • Sesak Nafas serbuk • Serbuk Halus Asam Urat • Sari Bunga Segar Bugar serbuk • Zestos kapsul • Jawa Dwipa cap daun Samiroto • Sari Jagat Manjur Asam Urat kapsul • Pria Dewa ocema kapsul • Sari Jagat Manjur Rematik kapsul • Golden Herbal kapsul • Dewa Ampuh Serbuk • Pegal Linu Asam Urat cap Burung Gelatik • Serbuk Asrema • Akar Sakti Asam Urat Flu Tulang Stroke • Purba Sentosa Pegal Linu Rematik serbuk • Asam Urat Pegal Linu Cikungunya • Asam Urat Pegal Linu serbuk • Asam Urat Flu Tulang Karisma Sehat • Ramuan Manjur Pas Flu Tulang serbuk • Sinar Manjur SMR serbuk • Dua Putri Bayan Asam Urat kapsul • Runrat tablet • Fong Se Wan kapsul • Ramuan Shinshe kapsul

Gemari

Gemari

Edisi

90/Tahun

IX/Juli

2008

yang mengonsumsi merasa lebih segar. Ini jenis hormon (produksi kelenjar anak ginjal suprarenalis), yang dibutuhkan tubuh

47