Anda di halaman 1dari 27

SASARAN PEMBELA1ARAN

PENDAHULUAN
Penyakit Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang boleh
menyumbangkan kepada penyebab kematian di seluruh dunia. Pada tahun 1993, World Health
Organi:ation (WHO) telah mencanangkan bahawa TBC merupakan kedaruratan global penyakit
TBC (global public health emergency). Peyebab utama TBC adalah Mycobacterium tuberculosis
dan inIeksinya bersiIat sistemis di manna ia boleh mengenai hampir seluruh organ tubuh lain
dengan lokasi tebanyak di paru-paru yang biasanya merupakan lokasi inIeksi pertama yang
sering terjadi. Penyebab lain adalah Mycobacterium bovis dan Mycobacterium africanum. Basil
tuberkulum merupakan ahli dalam Iamili Mycobacteriaceae dan dalam order Actinomycetales. M
tuberculosis adalah bakteri aerob, tidak berspora, tidak bergerak, lambat tumbuh dengan
morIologinya berbentuk batang melekung.
1

PENEGAKAN DIAGNOSIS
Case finding:
Anamnesis
Penemuan pasien TBC adalah melalui cara passive case finding. Kaedah penemuan ini
adalah di mana penderita TB datang ke Puskesmas dan menunjukkan gejala-gejala yang
mendukung seperti:
O ejala utama: Batuk terus menerus selama 2 hingga 3 minggu
O ejala tambahan: sesak napas, hemoptisis, limIadenopati, ruam misalnya lupus vulgaris,
kelainan rontgen toraks, atau gangguan T.
O Iek sistemik yang timbul pula meliputi demam subIebris selama 1 bulan atau lebih,
keringat malam, anoreksia atau penurunan berat badan.
Diperlukan indeks kecurigaan yang tinggi terutama pada pasien dengan imunosupresi
atau dari daerah endemisnya. Antara pertanyaan yang di ajukan pada penderita tersangka TB
adalah seperti berikut:

O #iwayat Penyakit Terdahulu:


Pernahkah pasien berkontak dengan pasien TB?
Apakah pasien mengalami imunosupresi (kortikosteroid/H')?
Apakah pasien pernah menjalani pemeriksaan rontgen toraks dengan hasil
abnormal ?
Adakah riwayat vaksinasi BC atau Mantoux ?
Adakah riwayat diagnosis TB ?
O #iwayat Penggunaan Obat:
Pernahkah pasien menjalani terapi TB? Jika ya, obat apa yang digunakan, berapa
lama terapinya, bagaimana kepatuhan pasien mengikuti terapi dan apakah
dilakukan pengawasan terapi ?
O #iwayat Keluarga dan Sosial:
Adakah riwayat TB di keluarga atau lingkungan sosial?
Tanyakan konsumsi alkohol, penggunaan obat intravena dan riwayat berpergian
ke luar negeri.

Pemeriksaan Fisik.

Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva
mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu tubuh yang subIebris, badan kurus atau berat
badan menurun. Pemeriksaan Iisik sering tidak diperoleh hasil yang memuaskan terutama
apabila sarang penyakit terletak di dalam akan sulit dinilai secara palpasi, perkusi dan auskultasi.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks paru. Bila
dicurigai adanya inIiltrat agak luas mungkin ditemukan perkusi yang redup dan auskultasi suara
bronkhial dan suara tambahan ronkhi basah kasar yang nyaring. Namun bila inIiltrat diliputi
penebalan pleura, suara tambahan menjadi vesikular melemah. Bila terdapat kavitas yang cukup
besar, pada perkusi akan diperoleh hasil hipersonor atau timpani dan suara auskultasi amIorik.
Pada TB paru lanjut dengan Iibrosis luas sering ditemukan atroIi dan retraksi otot
interkostal. Bagian paru yang sakit menciut dan menarik isi mediastinum atau paru yang lain.
Paru yang sehat jadi hiperinIlasi. Keadaan lanjut TB paru dapat meningkatkan tekanan arteri
pulmonalis (hipertensi pulmonalis) yang diikuti terjadinya kor pulmonale dan gagal jantung

kanan sehingga akan dapat ditemukan tanda-tanda kor pulmonale dengan gagal jantung kanan
seperti takipnea, takikardi, sianosis, right ventrikular liIt, right artikular gallop, murmur raham
Steel, bunyi P2 yang mengeras, tekanan vena jugularis yang meningkat, hepatomegali, ascites
dan edem. Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimptomatik dan penyakit baru dicurigai
dengan didapatkan adanya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin
positiI.
1, 2


Radiologis.

Pemeriksaan radiologis merupakan cara yang praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis.
Lokasi lesi tuberkulosis umumnya di daerah apeks paru tetapi dapat juga mengenai bagian
inIerior atau daerah hilus yang menyerupai tumor paru. Pada awal penyakit saat lesi masih
menyerupai sarang pneumonia, gambaran radiologis berupa bercak seperti awan dan dengan
batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa
bulatan dengan batas tegas.
Pada kavitasi bayangan berupa cincin berdinding tipis. Pada kalsiIikasi bayangan tampak
bercak padat dengan densitas tinggi. Pada ateletaksis terlihat Iibrosis luas dengan penciutan pada
sebagian, satu lobus atau satu bagian paru. ambaran tuberkulosis miliar tampak berupa bercak
halus yang umumnya tersebar rata di seluruh lapang paru. Pemeriksaan radiologis lain yang
dapat dilakukan adalah bronkograIi, CT scan dada atau juga M#.

Foto rontgen penderita TB

Pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada darah, sputum dan tes tuberkulin.

O Darah.
Pemeriksaan tidak sensitiI dan tidak spesiIik. Pada TB baru akan didapatkan leukosit
meninggi dengan hitung jenis bergeser ke kiri, jumlah limIosit masih normal dan LD
mulai meningkat.


O Sputum.
Pemeriksaan sputum adalah penting untuk menemukan kuman BTA dan menegakkan
diagnosis. Pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan
yang telah diberikan. Bagi menegakkan diagnosis pada semua suspek TB dilakukan
pengumpulan spesimen dahak dalam 2 hari kunjungan yang berturutan yaitu dahak
sewaktu-pagi-sewaktu (SPS) yaitu seperti berikut:
S (sewaktu): dahak yang dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung
pertama kali. Suspek akan membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan
dahak pada hari kedua pada saat dia pulang.
P (pagi): pada pagi hari kedua dahak dikumpulkan segera setelah bangun tidur.
Pot dibawa dan diserahkan kepada petugas di UPK.
S (sewaktu): pada hari kedua di UPK, dahak dikumpulkan saat menyerahkan
dahak pagi.
2

Kriteria sputum BTA positiI adalah bila paling tidak ditemukan 3 batang kuman BTA
pada satu sediaan. Penderita TB BTA (batang tahan asam) positiI adalah apabila minimal
pada sputum SPS hasilnya 2 dari tiga sedian adalah BTA positiI. Untuk pemeriksaan
BTA, bahan selain sputum dapat juga diambil dari bilasan bronkus, jaringan paru, pleura,
cairan pleura, cairan lambung, jaringan kelenjar, cairan serebrospinal, urin atau tinja.


O Tes tuberkulin.
Pemeriksaan ini dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis terutama
pada anak-anak (balita). Tes ini dilakukan dengan menyuntikan 0,1 cc tuberkulin secara
intrakutan. Tes ini hanya menyatakan apakah seseorang sedang atau pernah terinIeksi
kuman TB atau mendapat vaksinasi BC. Tes tuberkulin (mnataoux) dinyatakan posotiI
apabila diperoleh indurasi 10 mm setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan.
1

Manifestasi Klinis.

Keluhan yang dirasakan oleh pasien TB dapat bervariasi atau terkadang ditemukan
banyak pasien dengan TB paru tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang biasa ditemukan pada
pasien dengan TB paru adalah diantaranya demam, batuk dengan atau tanpa darah, sesak napas,
nyeri dada, malaise.
Demam pada pasien dengan TB paru biasanya subIebris tetapi kadang dapat mencapai
40-410 C. Demam ini biasanya hilang timbul sehingga pasien merasa tidak pernah bebas dari
serangan demam. Keadaan ini berhubungan dengan daya tahan tubuh pasien serta berat
ringannya inIeksi kuman TB yang masuk.
ejala batuk pada pasien dengan TB banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada
bronkus. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit tidak sama maka mungkin saja batuk
baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yaitu setelah setelah berminggu-
minggu atau berbulan-bilan peradangan dimulai. SiIat batuk dapat dimulai dari batuk kering dan
setelah timbul peradangan menjadi batuk produktiI yang menghasilkan sputum. Keadaan lanjut
adalah berupa batuk darah karena terdapatnya pembuluh adrah yang pecah.
Batuk darah kebanyakan timbul akibat kavitasi namun dapat pula terjadi pada ulkus
dinding bronkus. Sesak napas pada penyakit ringan belum akan dirasakan. Sesak napas akan
ditemukan pada penyakit paru yang sudah lanjut, yang inIiltrasinya meliputi setengah bagian
paru. Nyeri dada agak jarang ditemukan. Timbul biasanya bila inIiltrasi radang sudah mencapai
pleura sehingga terjadi pleuritis. Penyakit TB merupakan penyakit radang yang menahun
sehingga gejala malaise sering ditemukan yang dapat berupa anorexia (tidak naIsu makan), berat
badan yang menurun, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam. ejala malaise semakin
lama semakin berat dan terjadi hilang timbul secara tidak teratur.
3,4

EPIDEMIOLOGI
Tuberculosis berlanjut sebagai penyebab kematian yang penting. Pada tahun 1991, di
Amerika Serikat dilaporkan 26.283 kasus tuberculosis, dengan angka kasus 10,4 per 100.000 per
tahun. Angka kasus telah menurun hingga setingkat 5-6 persen per tahun, namun sejak tahun
1985 arahnya berbalik, yaitu angka kasus menaik sampai 15,8 selama 5 tahun. Diperkirakan
bahwa 10 juta orang Amerika mempunyai hasil test tuberculin yang positiI, tetapi kurang dari
1 anak-anak Amerika yang menunjukan reaksi terhadap tuberculin. Penyakit tuberculosis di
Amerika Utara cenderung menjadi penyakit pada orang tua, penduduk kota yang miskin, dari
golongan kecil dan penderita ADS. Pada segala umur, rata-rata kasus di antara orang-orang kulit
hitam cenderung dua kali lebih besar dari pada orang kulit putih. Orang-orang hispanik, Haiti
dan imigran Asia Tenggara mempunyai rata-rata kasus yang sama tingginya dengan individu dari
negara asal mereka dan pada individu-individu ini Irekuensi penyakit yang terjadi di antara
individu mudanya menunjukan kejadian penyakit ini pada anak-anak muda di negara mereka.
Pada banyak tempat didunia, penyebaran penyakit tuberculosis menurun, namun pada
banyak negara miskin tidaklah demikian. Pada beberapa negara, perkiraan angka kasus baru
adalah sampai setinggi 400 per 100.000 per tahun. Sebagaimana di Amerika Utara dan ropa,
kemiskinan berjalanan seiringan dengan tuberkulosis. Pada daerah yang prevalensinya tinggi,
prevalensi tuberkulosis tampak setara pada lingkungan pedesaan dan perkotaan dan terutama
menyerang orang dewasa muda. Pada negara dengan inIeksi H' endemik, tuberkulosis
merupakan penyebab tunggal morbiditas dan mortalitas yang terpenting pada pasien ADS.
Perkiraan yang beralasan tentang besarnya angka tuberculosis di dunia adalah sepertiga populasi
dunia terinIeksi dengan M. tuberculosis, bahwa 30 juta kasus tuberculosis aktiI di dunia, dengan
10 juta kasus baru terjadi setiap tahun, dan bahwa 3 juta orang meninggal akibat tuberculosis
setiap tahun. Tuberculosis mungkin menyebabkan 6 dari seluruh kematian di seluruh dunia.
Di ndonesia diperkirakan terdapat sekitar 583.000 penderita TB paru baru yang muncul
setiap tahunnya dan 140.000 diantaranya meninggal dunia karena penyakit ini setiap tahunnya.
Di propinsi DK Jakarta pada tahun 2003 angka kesembuhan TB masih di bawah target nasional
(85). Dinas Kesehatan DK Jakarta mencatat sekitar 4.021 kasus TB paru (BTA PositiI) pada
tahun 2002. Para penderita ini sebenarnya pernah menerima pengobatan dari puskesmas, rumah

sakit, dan pusat pengobatan lain di Jakarta, akan tetapi baru sekitar 71 yang berhasil
disembuhkan.
Berdasarkan hasil Survey Kesehatan #umah Tangga (SK#T) Departemen Kesehatan #,
tahun 1972, TB menempati urutan ke 3 penyebab kematian menurut SK#T tahun 1980 TB
menempati urutan ke 4, dan menurut SK#T tahun 1992, TB menempati urutan nomor 2 sesudah
penyakit sistem sirkulasi. Hasil SK#T tahun 1995 TB merupakan penyebab kematian nomor 3
dari seluruh kelompok usia dan nomor 1 antara penyakit inIeksi yang merupakan masalah
kesehatan masyarakat ndonesia (7, 10, 28). Dari hasil survey prevalensi TB yang dilakukan di
15 propinsi tahun 1979-1982 menunjukkan berbagai variasi prevalensi tiap-tiap propinsi.
Penelitian ini telah mendeteksi Iaktor-Iaktor yang mempunyai hubungan bermakna
dengan kesembuhan/ketidak sembuhan orang yang berobat TB paru di poli paru-rumah sakit
Persahabatan Jakarta pada bulan Februari sampai dengan Desember tahun 2005.
Faktor-Iaktor yang mempunyai hubungan bermakna dengan kesembuhan/ketidak
sembuhan orang yang sedang berobat TB paru tersebut adalah Merokok (O#7,78)
Penghasilan (O#7,56), Pengetahuan tentang TB paru (O#5,510), Sikap terhadap proses
pengobatan TB paru (O#6,27), Perilaku (O#6,83), Keadaan rumah dipandan dari segi
(O#6,86), Program OAT gratis dari pemerintah (O#4,159), PMO (O#4,52), Keadaan
gizi (O#9,59).
5
FAKTOR RESIKO

O Faktor Umur: Kemungkinan mendapat inIeksi tuberkulosis aktiI meningkat secara
bermakna sesuai dengan umur. nsiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai
usia dewasa muda. Di ndonesia diperkirakan 75 penderita TB Paru adalah kelompok
usia produktiI yaitu 15-50 tahun.
O Faktor Jenis Kelamin: Di benua AIrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-
laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat
dibandingkan jumlah penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34 pada laki-laki dan
28,9 pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung
meningkat sebanyak 2,5, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7. TB

paru ebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki
sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB
paru.
O Tingkat Pendidikan: Tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap
pengetahuan seseorang mengenai rumah yang memenuhi syarat kesehatan dan
pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga dengan pengetahuan yang cukup maka
seseorang akan mencoba untuk mempunyai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu
tingkat pendidikan seseorang akan mempengaruhi terhadap jenis pekerjaannya.
O Pekerjaan: Pekerjaan di lingkungan yang berdebu dengan paparan partikel debu di daerah
terpapar akan mempengaruhi terjadinya gangguan pada saluran pernaIasan. Paparan
kronis udara yang tercemar dapat meningkatkan morbiditas, terutama terjadinya gejala
penyakit saluran pernaIasan dan umumnya TB Paru. Keluarga yang berpendapatan
dibawah UM# cenderung mengkonsumsi makanan dengan kadar gizi yang tidak sesuai
dengan kebutuhan setiap anggota keluarga sehingga mempunyai status gizi yang kurang,
kontruksi rumah yang dimiliki tidak memenuhi syarat kesehatan sehingga akan
mempermudah terjadinya penularan penyakit TB Paru.
O Kebiasaan Merokok: Merokok diketahui mempunyai hubungan dengan meningkatkan
resiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit jantung koroner, bronchitis kronik
dan kanker kandung kemih. Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB
paru sebanyak 2,2 kali. Pada tahun 1973 konsumsi rokok di ndonesia per orang per
tahun adalah 230 batang, relatiI lebih rendah dengan 430 batang/orang/tahun di Sierra
Leon, 480 batang/orang/tahun di hana dan 760 batang/orang/tahun di Pakistan
(Achmadi, 2005). Prevalensi merokok pada hampir semua Negara berkembang lebih dari
50 terjadi pada laki-laki dewasa, sedangkan wanita perokok kurang dari 5. Dengan
adanya kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya inIeksi TB Paru.
O Kepadatan hunian kamar tidur: Luas lantai bangunan rumah sehat harus cukup untuk
penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut harus disesuaikan
dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload. Hal ini tidak sehat, sebab
disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen juga bila salah satu anggota
keluarga terkena penyakit inIeksi, akan mudah menular kepada anggota keluarga yang
lain. Persyaratan kepadatan hunian untuk seluruh rumah biasanya dinyatakan dalam

m
2
/orang. Luas minimum per orang sangat relatiI tergantung dari kualitas bangunan dan
Iasilitas yang tersedia. Untuk rumah sederhana luasnya minimum 10 m
2
/orang. Untuk
kamar tidur diperlukan luas lantai minimum 3 m
2
/orang. Untuk mencegah penularan
penyakit pernapasan, jarak antara tepi tempat tidur yang satu dengan yang lainnya
minimum 90 cm. Kamar tidur sebaiknya tidak dihuni lebih dari dua orang, kecuali untuk
suami istri dan anak di bawah 2 tahun. Untuk menjamin volume udara yang cukup, di
syaratkan juga langit-langit minimum tingginya 2,75 m.
O Pencahayaan: Cahaya ini sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen
di dalam rumah, misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan
masuk cahaya yang cukup. ntensitas pencahayaan minimum yang diperlukan 10 kali lilin
atau kurang lebih 60 lux., kecuali untuk kamar tidur diperlukan cahaya yang lebih redup.
Semua jenis cahaya dapat mematikan kuman hanya berbeda dari segi lamanya proses
mematikan kuman untuk setiap jenisnya..Cahaya yang sama apabila dipancarkan melalui
kaca tidak berwarna dapat membunuh kuman dalam waktu yang lebih cepat dari pada
yang melalui kaca berwama Penularan kuman TB Paru relatiI tidak tahan pada sinar
matahari. Bila sinar matahari dapat masuk dalam rumah serta sirkulasi udara diatur maka
resiko penularan antar penghuni akan sangat berkurang.
O 'entilasi: Fungsi ventilasi adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah
tersebut tetap segar. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam
rumah, dan menyebabkan kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya
proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan
media yang baik untuk pertumbuhan bakteri-bakteri patogen misalnya kuman TB. Fungsi
kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari bakteri-bakteri,
terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara yang terus menerus.
Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi lainnya adalah untuk
menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam kelembaban humiditiy) yang
optimum. Untuk sirkulasi yang baik diperlukan paling sedikit luas lubang ventilasi
sebesar 10 dari luas lantai. Untuk luas ventilasi permanen minimal 5 dari luas lantai
dan luas ventilasi insidentil (dapat dibuka tutup) 5 dari luas lantai. Udara segar juga
diperlukan untuk menjaga temperatur dan kelembaban udara dalam ruangan. Umumnya
temperatur kamar 22 30C dari kelembaban udara optimum kurang lebih 60.

O Kondisi rumah : Kondisi rumah dapat menjadi salah satu Iaktor resiko penularan penyakit
TBC. Atap, dinding dan lantai dapat menjadi tempat perkembang biakan kuman.Lantai
dan dinding yag sulit dibersihkan akan menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan
dijadikan sebagai media yang baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium
tuberculosis.
O Kelembaban udara: Kelembaban udara dalam ruangan untuk memperoleh kenyamanan,
dimana kelembaban yang optimum berkisar 60 dengan temperatur kamar 22 30C.
Kuman TB Paru akan cepat mati bila terkena sinar matahari langsung, tetapi dapat
bertahan hidup selama beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab.
O Status izi: Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang dengan status gizi kurang
mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru berat dibandingkan dengan orang
yang status gizinya cukup atau lebih. Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh
terhadap kekuatan daya tahan tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit.
O Keadaan Sosial konomi: Keadaan sosial ekonomi berkaitan erat dengan pendidikan,
keadaan sanitasi lingkungan, gizi dan akses terhadap pelayanan kesehatan.
O Perilaku: Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya
dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit
dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang disekelilingnya.
6


CARA PENULARAN
Penderita TB BTA positiI merupakan sumber terjadinya penularan. Ketika batuk atau
bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Droplet
yang mengandung kuman boleh bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Jika
droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernaIasan, maka orang tersebut akan terinIeksi.
Selama kuman tersebut masuk dalam tubuh melalui saluran pernaIasan, ia dapat menyebar dari
paru ke bahagian tubuh lainnya.
Daya penuluran seorang penderita ditentukan oleh banyakknya kuman yang dikeluarkan
dari parunya. Semakin tinggi derajat positiI hasil pemeriksaan dahak, semakin tinggi penularan
penderita tersebut. Jika hasil pemeriksaan dahak negatiI (tidak terlihat kuman), maka penderita

dianggap tidak menular. Kemungkinan seseorang terinIeksi TB ditentukan oleh konsentrasi


droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.


Alur penyebaran bakteri TB

RISIKO PENULARAN
#isiko penularan tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Kemungkinan
risiko penularan lebih besar pada pasien TB paru dengan BTA positiI daripada pasien TB paru
dengan BTA negatiI. Dalam Annual #isk oI Tuberculosis nIection (A#T), dinyatakan setiap
tahun proporsi penduduk yang berisiko terinIeksi Tb selama 1 tahun. A#T di ndonesia
bervariasi antara 1-3 (1 berarti 10 orang diantara 1000 penduduk terinIeksi setiap tahun).
Perubahan reaksi tuberculin negatiI menjadi positiI membuktikan terjadinya inIeksi TB.
1,7

PROGRAM PEMBERANTASAN TB
Visi
Tuberculosis tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat
Misi
O Menetapkan kebijaksanaan, beri panduan serta mengevaluasi secara tepat, benar dan
lengkap
O Menciptakan iklim kemitraan dan transparansi pada upaya penanggulangan penyakit
TBC
O Bagi mendapatkan pelayanan yang sesuai dengan standar mutu dipermudahkan akses
pelayanan penderita TBC.
Tujuan
O Jangka panjang: menurunkan angka kesakitan dan kematian penyakit TBC dengan cara
memutuskan rantai penularan sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat
ndonesia.
O Jangka pendek: mencapai angka kesembuhan minimal 85 dari semua penderita baru
BTA positiI yang ditemukan dan mencapai cakupan penemuan penderita secara bertahap.

Strategi
Sumber penyebaran TBC adalah penderita itu sendiri, maka pengontrolan secara eIektiI adalah
dengan mengurangi pasien TBC tersebut. Terdapat 2 cara yang sedang dilakukan untuk
mengurangi penderita TBC yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan
strategi penyembuhan jangka pendek dengan pengawasan langsung yang dikenal dengan istilah
DOTS (Directly Observed Shortcourse Chemotherapy). Teknik DOTS ini selalu diromosikan
dalam setiap pertemuan sosialis maupun pelatihan TB bagi petugas puskesmas. Secara prinsip
terdapat 5 elemen penting yang menjadi tolok ukur strategi DOTS yaitu antara lainnya ialah:
a. Komitmen politis berkesinambungan dari pemegang kebijakan.

Dengan keterlibatan pemimpin wilayah, TB dapat menjadi salah satu prioritas utama
dalam program kesehatan dan akan tersedia dana yang sangat diperlukan dalam
pelaksanaan kegiatan strategi DOTS.
b. Diagnosis sputum dengan pemeriksaan mikroskopik bermutu.
Untuk mendiagnosis penyakit TB diperlukan mikroskop untuk pemeriksaan dahak
langsung pada penderita tersangka TB.
c. Pengobatan jangka pendek dengan PMO (Pengawas Minum Obat) langsung.
Melalui PMO, penderita akan diawasi dalam meminum seluruh obatnya. ni adalah untuk
memastikan bahawa pederita meminum obatnya dengan betul dan diharapkan untuk
sembuh pada waktu akhir pengobatannya. PMO haruslah orang yang dikenal dan
dipercayai oleh penderita maupun oleh petugas kesehatan. Mereka bisa petugas kesehatan
sendiri, keluarga, tokoh masyarat maupun tokoh agama.
d. Ketersediaan obat tuberkulosis (OAT) yang cukup dan bermutu.
Panduan penggunaan OAT jangka pendek yang benar, termasuk dosis dan jangka waktu
pengobatan yang tepat sangat penting dalam keberhasilan pengobatan penderita.
Kelangsungan persediaan panduan OAT jangka pendek harus selalu terjamin.
e. Pencatatan dan pelaporan.
Pencatatan dan pelaporan merupakan bagian dari sistem survailans penyakit TB. Dengan
rekam medik yang dicatat dengan baik dan benar akan boleh dipantau kemajuan
pengobatan penderita, pemeriksaan Iollow up, sehingga akhrinya penderita dinyatakan
sembuh atau selesai pengobatannya.
Kelima elemen itu seperti ikatan rantai yang saling berkaitan, antara satu elemen dengan yang
lainnya. Sehingga keterpaduan dan kesinambungan semua pihak sangat menentukan
keberhasilan program penanggulangan TB.
http://www.puskel.com/5-elemen-penting-strategi-dots-tb/ 5 elemen penting strategi dots tb
Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok yaitu :
O Obat primer: NH (isoniazid), #iIampisin, tambutol, Streptomisin, Pirazinamid.
Memperlihatkan eIektiIitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir,
sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.

O Obat sekunder: tionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan


Kanamisin.
Terdapat 2 macam siIat atau aktivitas obat terhadap tuberkulosis, yaitu:
O Aktivitas bakterisid: obat bersiIat membunuh kuman-kuman yang sedang tumbuh
(metabolismenya masih aktiI). AktiIitas bakterisid biasanya diukur dari kecepatan obat
tersebut membunuh atau melenyapkan kuman sehingga pada pembiakan akan didapatkan
hasil yang negatiI (2 bulan dari permulaan pengobatan).
O Aktivitas sterilisasi: di sini obat bersiIat membunuh kuman-kuman yang pertumbuhnya
lambat (metabolisme kurang aktiI). Aktivitas sterilisasi diukur dari angka kekambuhan
setelah pengobatan dihentikan.
Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten, biasanya diberikan obat yang
terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini. Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi
proses peminuman obat serta perkembangan pasien. ni sangat penting karena ada kecendrungan
pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. ejala TBC bisa hilang dalam waktu
2-4 minggu setelah minum obat TBC.
Supaya benar-benar sembuh dari TBC penderita diharuskan untuk mengkonsumsi obat
minimal selama 6 bulan. Jika berhenti minum obat, akan timbul eIek negatiI yaitu muncul kuman
TBC yang resisten terhadap obat di mana terjadi penyebaran kuman dan pengendalian TBC akan
semakin sulit dilaksanakan.
Dua prinsip dasar pengobatan tuberculosis adalah:
O Pertama: untuk terapi yang berhasil, diperlukan minimal 2 macam obat yang basilnya
peka terhadap obat tersebut dan salah satunya daripadanya harus bakterisidik. #esistensi
obat dapat timbul secara spontan pada sejumlah kecil basil, di mana walaupun
monoterapi menggunakan obat bakterisidik terkuat sekalipun dapat menimbulkan
kegagalan.
O Kedua: pengobatan yang baik setelah perbaikan gejala klinis dapat menyembuhkan
penyakit dengan dilakukan perpanjangan lama pengobatan untuk mengeliminasi basil

yang persisten. Pengobatan yang tidak memadai akan mengakibatkan bertambahnya


kemungkinan kekambuhan, beberapa bulan hingga tahun mendatang seolah-olah tampak
sembuh. Dengan metode DOTS yang menggunakan panduan beberapa obat, umumnya
pasien tuberculosis berhasil disembuhkan secara baik dalam waktu 6 bulan. agalnya
penyelesaian program ketika pengobatan merupakan penyebab kekambuhan. Berdasarkan
prinsip pengobatan DOTS, program pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi 2 Iase yaitu
Iase bakterisidal awal (inisial) dan Iase sterilisasi (lanjutan).
8

DOTS adalah strategi yang paling eIektiI untuk menangani pasien TBC saat ini, dengan
tingkat kesembuhan bahkan sampai 95. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10
juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Di ndonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada
tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 pada tahun 2000. Angka ini melebihi target WHO,
yaitu 85&, tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di ndonesia masih rendah.
Berdasarkan data WHO, untuk tahun 2001, tingkat deteksi hanya 21, jauh di bawah target
WHO yaitu 70. Karena itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi.
Dalam strategi DOTS ini, dimasukkan mengenai pendidikan kesehatan, penyediaan obat TB
gratis dan pencarian secara aktiI kasus TB.

TB TB: TBP tuberkulosis paru: S Streptomisin: H soniazid: # #iIampisin: Z


Pirazinamide: tambutol
Tabel1: #esimen pengobatan saat ini (metode DOTS)
Pasien yang mengikuti pengobatan TBC perlu di pantau (follow up) dengan melakukan
pemeriksaan ulang dahak SPS secara mikroskopis. Pemeriksaan dahak dilakukan sesuai jadual
per kategori pengobatan yaitu:
O Kategori 1: saat akhir Iase intensiI, sebulan sebelum akhir pengobatan dan saat akhir
pengobatan.


Kategori Pasien TB #ejimen pengobatan
Fase awal Fase lanjutan
1



2


3


4
TBP sputum BTA postiI
Baru bentuk TBP berat,
TB ekstra-paru (berat),
TBP BTA-negatiI
#elaps
Kegagalan pengobatan
Kembali ke deIult
TBP sputum BTA-negatiI
TB ekstra paru
(menengah berat)
Kasus kronis (masih BTA-positiI
setelah pengobatan ulang yang
disupervisi

2 SH#Z (H#Z)
2 SH#Z (H#Z)
2 SH#Z (H#Z)

2 SHZ/ 1 H#Z
2 SHZ/ 1 H#Z

2 H#Z atau 2 H
3
#
3
Z
3
2 H#Z atau 2 H
3
#
3
Z
3
2 H#Z atau 2 H
3
#
3
Z
3
Tidak dapat
diaplikasikan
(membertinmbangkan
menggunakan obat-
obatan barisan kedua)
6 H
4 H#
4 H
3
#
3

5 H
3
#
3

3
5H#

6 H
2 H#/ 4H
2 H
3
#
3
/ 4H

O Kategori 2: saat akhir Iase intensiI, setelah sisipan 1 bulan, sebelun sebelum akhir
pengobatan dan saat akhir pengobatan.
O Kategori 3: saat akhir Iase intensiI, sebulan sebelum akhir pengobatan dan saat akhir
pengobatan.

PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap tuberkulosis dilakukan oleh penderita, masyarakat danpetugas kesehtan.
Antaranya adalah seperti berikut:
a. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan
O Penderita perlu menutup mulut sewaktu batuk dan membuang dahak tidak
disembarang tempat.
O Masyarakat dapat melakukan tindakan pengawasan dengan cara bayi diberikan
vaksinasi BC
O Petugas kesehatan pula memberikan penyuluhan tentang penyakit TB yang
meliputi bahaya dan akibat yang ditimbulkan
O solasi, pemeriksaan kepada orang-orang yang terinIeksi, pengobatan khusus
TBC. Untuk penderita TB paru untuk mencegah penularan dapat dilakukan
dengan pemberian pengobatan spesiIik sesegera mungkin. Konversi sputum
biasanya terjadi dalam 4 8 minggu. Pengobatan dan perawatan di #umah Sakit
hanya dilakukan terhadap penderita berat dan bagi penderita yang secara medis
dan secara sosial tidak bisa dirawat di rumah. Penderita TB paru dewasa dengan
BTA positiI pada sputumnya harus ditempatkan dalam ruangan khusus dengan
ventilasi bertekanan negatiI. Orang yang memasuki ruang perawatan penderita
hendaknya mengenakan pelindung pernaIasan yang dapat menyaring partikel
yang berukuran submikron. solasi tidak perlu dilakukan bagi penderita yang hasil
pemeriksaan sputumnya negatiI, bagi penderita yang tidak batuk dan bagi
penderita yang mendapatkan pengobatan yang adekuat (didasarkan juga pada
pemeriksaan sensitivitas/resistensi obat dan adanya respons yang baik terhadap

pengobatan). Penderita remaja harus diperlakukan seperti penderita dewasa.


Penilaian terus menerus harus dilakukan terhadap rejimen pengobatan yang
diberikan kepada penderita. Terapkan sistem DOPT apabila secara Iinansial dan
logistik memungkinkan dan diterapkan pada penderita yang kemungkinan
mengalami resistensi terhadap pengobatan, adanya riwayat compliance yang
jelek, diberlakukan juga terhadap mereka yang hidup dalam lingkungan dimana
kalau terjadi relaps dapat menularkan kepada banyak orang.
O DisinIeksi, cuci tangan dan tata rumah tangga kebersihan yang ketat, perlu
perhatian khusus terhadap muntahan dan luda, ventilasi rumah dan sinar matahari
yang mencukupi
O Orang yang berkontak dilakukan tindakan imunisasi. Orang-orang yang berisiko
tinggi dilakukan tindakan pencegahan dengan vaksin BC dan tindak lanjut bagi
yang positiI tertular.
O Penyelidikan terhadap orang kontak. Seluruh keluarga penderita dengan Ioto
rontgen yang bereaksi positiI dilakukan Tuberculin-test, dan jika negative perlu
diulang setiap bulan selama 3 bulan dan dilakukan penyelidikan intensiI.
O Penderita TBC perlu mendapatkan pengobatan tepat dengan kombinasi obat yang
ditetapkanminum secara teratur, waktu sekitar 6 hingga 12 bulan.
O Laporkan segera kepada instansi kesehatan setempat jika ditemukan penderita TB
atau yang diduga menderita TB. Penderita TB perlu dilaporkan jika hasil
pemeriksaan bakteriologis hasilnya positiI atau tes tuberkulinnya positiI atau
didasarkan pada gambaran klinis dan Ioto rontgen. Departemen Kesehatan
mempertahankan sistem pencatatan dan pelaporan yang ada bagi penderita yang
membutuhkan pengobatan dan aktiI dalam kegiatan perencanaan dan monitoring
pengobatan.
b. Cara pencegahan
O Perlindungan terhadap sumber penularan. Semua anak yang tinggal serumah atau
kontak erat dengan penderita TBC BTA positiI berisiko lebih besar untuk
terinIeksi. Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak
erat dengan penderita TBC BTA posotiI perlu dilakukan pemeriksaan apabila

anak mempunyai gejala-gejala seperti TBC harus dilakukan pemeriksaan lebih


lanjut sesuai dengan alur deteksi dini TBC anak dan jika anak balita tidak
mempunyai gejala gejala seperti TBC, harus diberikan pengobatan pencegahan
dengan soniasid (NH )dengan dosis 5 mg per kg berat badan per hari selama 6
bulan Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BC perlu diberi
BC setelah pengobatan pencegahan dengan NH selesai.
O 'aksinasi BC
'aksin yang merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau
dimatikan (bakteri, virus, atau riketsia) yang diberikan untuk mencegah,
meringankan, atau mengobati penyakit yang menular. 'aksin BC merupakan
suatu attenuated vaksin yang mengandung kultur strain Mycobacterium bovis dan
digunakan sebagai agen imunisasi aktiI terhadap TBC. Walaupun telah digunakan
sejak lama, akan tetapi eIikasinya menunjukkan hasil yang bervariasi yaitu antara
0 80 di seluruh dunia. 'aksin BC secara signiIikan mengurangi resiko
terjadinya Tuberkulosis aktiI dan kematian. Iikasi dari vaksin tergantung pada
beberapa Iaktor diantaranya:
Umur
Cara atau teknik vaksinasi
jalur vaksinasi
Iaktor lingkungan.
'aksin BC sebaiknya digunakan pada inIant dan anak-anak yang hasil uji
tuberculinnya negatiI dan yang berada dalam lingkungan orang dewasa dengan
kondisi terinIeksi TBC dan tidak menerima terapi atau menerima terapi tetapi
resisten terhadap isoniazid atau riIampin. Sebelum dilakukan pemberian vaksin
BC (selain bayi sampai dengan usia 3 bulan) setiap pasien harus terlebih dahulu
menjalani skin test. 'aksin BC tidak diindikasikan untuk pasien yang hasil uji
tuberculinnya posistiI atau telah menderita tuberculosis aktiI, karena pemberian
vaksin BC tidak memiliki eIek untuk pasien yang telah terinIeksi TBC.
Pemberian vaksin BC biasanya dilakukan secara injeksi intradermal/intrakutan

(tidak secara subkutan) pada lengan bagian atas atau injeksi perkutan sebagai
alternatiI bagi bayi usia muda yang mungkin sulit menerima injeksi intradermal.
Dosis yang digunakan adalah sebagai berikut:
Untuk infants atau anak-anak kurang dari 12 bulan diberikan 1 dosis
vaksin BC sebanyak 0,05ml (0,05mg).
Untuk anak-anak di atas 12 bulan dan dewasa diberikan 1 dosis vaksin
BC sebanyak 0,1 ml (0,1mg).
Perlindungan yang diberikan oleh vaksin BC dapat bertahan untuk 10 15
tahun. Sehingga re-vaksinasi pada anak-anak umumnya dilakukan pada usia 12 -
15 tahun. 'aksin BC dikontra-indikasikan untuk pasien yang mengalami
gangguan pada kulit seperti dermatitis atopik, serta baru saja menerima vaksinasi
lain (perlu ada interval waktu setidaknya 3 minggu). 'aksin BC juga tidak
diberikan untuk :
Pasien dengan gangguan imunitas (immunosuppressed) seperti pasien
H', pasien yang mengkonsumsi obat-obat kortikosteroid
(immunosuppressan), atau baru saja menerima transplantasi organ.
Wanita hamil dan menyusui, walaupun belum ada data yang menunjukkan
eIek bahaya dari pemberian vaksin BC terhadap wanita hamil dan
menyusui.
Beberapa adverse reaction yang mungkin terjadi setelah pemberian vaksin BC
antara lain:
Nyeri pada tempat injeksi, terjadi ulcer atau keloid karena kesalahan pada
saat injeksi.
Kelebihan dosis dan pemberian vaksin pada pasien dengan tuberculin
positiI.
Sakit kepala, demam, dan timbul reaksi alergi

Beberapa contoh vaksin BC yang tersedia di ndonesia adalah : 'aksin BC


kering (Bio Farma) dan BC 'accine SS (Statent Serum nstitut Denmark).
Attenuated vaksin : vaksin yang disiapkan dari mikroorganisme atau virus hidup
yang dibiakkan di bawah kondisi yang tidak sesuai agar kehilangan virulensinya
tetapi tetap mempunyai kemampuan untuk menginduksi kekebalan.
O Pengobatan preventiI, yaitu sebagai tindakan keperawatan terhadap penyakit
inaktiI dengan pemberian pengobatan NH sebagai pencegahan.
O Banteras penyakit TBC pada pemerah air susu dan tukang potong sapid an
pasteurisasi air susu sapi
O Cegah bahaya paru kronis karena menghirup udara yang tercemar debu pada
pekerja tambang, pekerja semen dan sebagainya.
O Pemeriksaan bakteriologis dahak pada orang dengan grjalan tbc paru
O KhemoproIilaksis primer maupun sekunder
Tbc Kriteria 1
ni adalah pada orang yang tidak pernah terinIeksi dan tidak menderita
TBC tetapi mempunyai riwayat kontak.
Tbc Kriteria 2
ni adalah pada pasien yang terinIeksi Tbc atau positiI pada Tuberkulin
Test tetapi tidak menderita TBC yaitu tiada gejala Tbc dan pemeriksaan
radilogi serta bakteriologi negatiI.
Dalam khemoproIilaksis, obat yang digunakan izoniazid dengan dosis 10 -15
mg/kg BB selama minimal 12 bulan. Anak yang perlu diberikan kemoproIilaksis:
Bayi dengan ibu tuberculosis
Anak dengan kontak penderita TB aktiI
anak menggunakan kortikosteroid jangka panjang / imunosupresiI
Penderita penyakit hematologik : leukemia, thalassemia

Masa akil balik


Menderita penyakit virus
Menderita diabetes mellitus
KemoproIilakskis Primer: cegah inIeksi, kontak tidak aktiI (BTA -). Anak yang
kontak erat dengan penderita TBC BTA (). NH minimal 3 bulan walaupun uji
tuberkulin(-). Terapi proIilaksis dihentikan bila hasil uji tuberkulin ulang
menjadi(-) atau sumber penularan TB aktiI sudah tidak ada.
Sekunder : cegah aktiIitas inIeksi (Mt ,klinis & rontgen - ). Anak dengan
inIeksi TBC yaitu uji tuberkulin () tetapi tidak ada gejala sakit TBC. ProIilaksis
diberikan selama 6-9 bulan.
Pengobatan terhadap inIeksi dan penemuan sumber penularan
Pencegahan terhadap menghebatnya penyakit dengan diagnosis dini
Penyuluhan dan pendidikan kesehataan.
9

PENYULUHAN
Penyuluhan merupakan teknik terbaik untuk mendedahkan kepada masyarakat mengenai
bahayanya penyakit TB ini. Penyuluhan mengenai TB dilakukan pada keluarga pasien dan juga
masyarakat sekeliling supaya mereka mengerti dan memahami mengenai hal-hal mengenai
penyakit TB paru dan pencegahannya.
Tujuan penyuluhan adalah:
O supaya masyarakat mengerti dan memahami penyebab penyakit TB paru.
O mengerti dan memahami tanda dan gejala penyakit TB paru serta cara penularan penyakit
ini.
O Mengerti dan memahami pencegahan penularan penyakit Tb paru
O Mengetahui pengobatan TB paru
O Penyuluhan pada perorangan secara khusus kepada penderita diperlukan agar penderita
mau berobat rajin teratus untuk mencegah penyakit pada orang lain.

O Dari pada penyuluhan yang dilakukan, diterapkan supaya terjadinya perubahan sikap
hidup masyarakat dan perbaikan lingkungan demi tercapainya masyarakat yang sehat.
O Jika terdapat anggota masyarakat yang mempunyai gejala-gejala penyakit TB paru
dianjurkan kepada masyarakat supaya melaprokan kasus tersebut.
O Dari penyuluhan yang dilakukan, diharap agar penderita tidak menganggap bahawa ia
sesuatu yang memalukan, bahkan ia dapat dicegah dan disembuhkan.
Penyuluhan langsung bisa dilakukan secara perorangan maupun kelompok. Penyuluhan
tidak langsung dengan menggunakan media, dalam bentuk bahan cetak seperti leaIlet, poster,
atau spanduk, juga media massa yang dapat berupa media cetak seperti koran, majalah maupun
media elektronik seperti radio dan televisi.
Dalam program penanggulangan TB, penyuluhan langsung perorangan sangat penting
artinya untuk menentukan keberhasilan pengobatan penderita. Penyuluhan ini ditujukan kepada
suspek, penderita dan keluarganya, supaya penderita menjalani pengobatan secara teratur sampai
sembuh. Bagi anggota keluarga yang sehat dapat menjaga, melindungi dan meningkatkan
kesehatannya, sehingga terhindar dari penularan TB. Penyuluhan dengan menggunakan bahan
cetak dan media massa dilakukan untuk dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas, untuk
mengubah persepsi masyarakat tentang TB dari 'suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan
dan memalukan, menjadi 'suatu penyakit yang berbahaya, tapi dapat disembuhkan. Bila
penyuluhan ini berhasil, akan meningkatkan penemuan penderita secara pasiI.
Penyuluhan langsung dilaksanakan oleh tenaga kesehatan,para kader dan PMO,
sedangkan penyuluhan kelompok dan penyuluhan dengan media massa selain dilakukan oleh
tenaga kesehatan, juga oleh para mitra dari berbagai sektor, termasuk kalangan media massa.
Hasil kegiatan penyuluhan hendaklah dicatat dan kegiataanya dia laporkan kepada coordinator
sesuai Iormulir pencatatan dan pelaporan kegiatan kader.
10


REHABILITASI
Adalah upaya pengobatan penyakit TBC yang bertujuan untuk menyembuhkan penderita,
mencegah kematian, mencegah kekambuhan dan menurunkan tingkat penularan. Keberhasilan
pengobatan TBC tergantung dari kepatuhan penderita untuk minum OAT yang teratur.
Secara klinis pasien dikontrol dalam 1 minggu pertama, selanjutnya setiap 2 minggu
selama tahap intensiI dan seterusnya sekali sebulan sampai akhir pengobatan. Keluhan-keluhan
pasien pada tahap ini diharapkan berkurang yaitu batuknya berkurang, batuk darah hilang, naIsu
makan bertambah, berat badan meningkat dan lain-lain.
Pemeriksaan kontrol sputum BTA dilakukan sekali sebulan dan kebiasaannya setelah 2
hingga 3 minggu pengobatan, sputum BTA menjadi negatiI. WHO menganjurkan supaya kontrol
sputum dilakukan pada akhir bulan ke 4 dan ke 6. Pada pasien baru yang BTA masih postiI
setelah tahap intensiI dan pada awal terapi pasien pengobatan ulang dilakukan pemeriksaan
resistensi. Apabila sudah negative paling minimal dilakukan pemeriksaan sputum BTA 3 kali
berturut-turut untuk tujuan kontrol dan untuk mendeteksi jika terdapat silent bacterial shedding.
Bagi melihat kemajuan terapi evaluasi radiologis perlu diamana pada akhir pengobatan
dilakukan Ioto rontgen dan boleh dijadikan sebagai Ioto kontrol sebagai dokumentasi untuk
perbandingan jika berlaku kekambuhan kelak.

FASILITAS KESEHATAN
Organisasi Pelaksana
Tingkat Pusat
Upaya penanggulangan TB di tingkat pusat dibawah tanggung jawab dan kendali
Direktur Jenderal PPM&PL. Untuk menggalang kemitraan dibentuk erakan Terpadu Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis (#DUNAS-TB) yang dicanangkan oleh Menteri Kesehatan #
pada tanggal 24 Maret 1999, bertepatan dengan peringatan hari TB sedunia.

#DUNAS-TB merupakan organisasi Iungsional yang terdiri dari : Komite Nasional


(KOMNAS), Komite Ahli (KOML), Tim Teknis yang terdiri dari enam Kelompok Kerja
(POKJA). Menteri Kesehatan dalam menetapkan kebijaksanaan umum, dibantu oleh KOMNAS
TB. Direktur Jenderal PPM&PL dalam menetapkan kebijaksanaan teknis, dibantu oleh KOML
TB yang anggotanya terdiri dari para pakar berbagai disiplin ilmu, wakil dari organisasi proIesi,
dan para pejabat terkait.
Untuk pelaksanaan sehari-hari, program dibantu oleh TM TKNS, yang anggotanya
terdiri dari berbagai unsur lintas program dan lintas sektor. Tim Teknis mempunyai 6 kelompok
kerja (POKJA), yaitu :
O Mobilisasi sosial
O Pelatihan
O Monitoring & valuasi
O Pendanaan
O Logistik
O Operasional
Tingkat Propinsi
Di tingkat propinsi diberntuk #DUNAS-TB Propinsi yang terdiri dari Tim Pengarah
dan Tim Teknis, Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan daerah.
Tingkat Kabupaten/kota
Di tingkat kabupaten/kota dibentuk #DUNAS-TB kabupaten/kota yang terdiri dari
Tim Pengarah dan Tim Teknis. Bentuk dan struktur organisasi disesuaikan dengan kebutuhan
kabupaten/kota.
Unit Pelayanan Kesehatan
Dilaksanakan oleh Puskesmas, #umah Sakit, BP4 / Klinik, dan Praktek Dokter Swasta.

Puskesmas
Dalam pelaksanaan di Puskesmas, dibentuk kelompok Puskesmas Pelaksana (KPP) yang
terdiri dari Puskesmas #ujukan Mikroskopis (P#M), dengan dikelilingi oleh kurang lebih 5
(lima) Puskesmas Satelit (PS), yang secara keseluruhan mencakup wilayah kerja dengan jumlah
penduduk 50.000 150.000 jiwa. Pada keadaan geograIis yang sulit, dapat dibentuk Puskesmas
Pelaksana Mandiri (PPM) yang dilengkapi tenaga dan Iasilitas pemeriksaan sputum BTA.
#umah Sakit dan BP4.
#umah sakit dan BP4 dapat melaksanakan semua kegiatan tatalaksana penanggulangan
TB, Dalam hal tertentu, rumah sakit dan BP4 dapat merujuk penderita kembali ke puskesmas
yang terdekat dengan tempat tinggal penderita untuk mendapatkan pengobatan dan pengawasan
selanjutnya. Dalam pengelolaan logistik dan pelaporan, rumah sakit dan BP4 berkoordinasi
dengan Dinas kesehatan kabupaten/kota.
Klinik dan Dokter Praktek Swasta (DPS).
Secara umum konsep pelayanan di Klinik dan DPS sama dengan pelaksanaan pada rumah
sakit dan BP4. Dalam hal tertentu, klinik dan DPS dapat merujuk penderita dan spesimen ke
puskesmas, rumah sakit, atau BP4.
11

KESIMPULAN
Tuberkulosis merupakan masalah global dunia yang perlu ditanggulangi dengan tepat.
Jika diterapi dengan benar tuberkulosis yang disebabkan oleh kompleks Mycobacterium
tuberculosis, yang peka terhadap obat, praktis dapat disembuhkan. Tanpa terapi tuberkulosa akan
mengakibatkan kematian dalam lima tahun pertama pada lebih dari setengah kasus. Puskesmas
terutamanya perlu melakukan penyuluhan kepada masyarakat secara teratur dan berkala untuk
meningkatkan lagi pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini dan dan penyuluhan itu
dilakukan sesuai dengan tingkat pendidikan masyarakat di wilayah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA:
1. Batra '., Tuberculosis diunduh dari http://emedicine.medscape.com/article/969401-
overview , 23 November 2009
2. Hiswanis, Tuberkulosis Merupakan Penyakit nIeksi yang Masih Menjadi Masalah
Kesehatan Masyarakat, diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3718/1/Ikm-hiswani6.pdI
3. Penyakit Tuberkulosis diunduh dari http://indoroyal.com/inIo-penyakit/penyakit-
tuberkulosis-tbc.html
4. Sudoyo A.W, Setiyohadi B, Alwi , simadibrata K.M, Setiati S, Tuberkulosis, Buku ajar
ilmu penyakit dalam. 4
th
ed, Penerbit Buku Kedokteran; Jakarta, 2006, 998-1010
5. Firdous U, Aspek pidemiologi Pengobatan Penderita Tuberkulosis Paru, diunduh dari
http://www.bmI.litbang.depkes.go.id/index.php?optioncontent&taskview&id119&te
mid53, 17 April 2007
6. Hubungan antara Karakteristik Lingkungan #umah dengan Kejadian TB anak di
Kecamatan Paseh Kabupaten Sumedang, diunduh dari
http://resources.unpad.ac.id/unpad-
content/uploads/publikasidosen/MAKALAH20TUB#KULOSS-KU.pdI
7. Tuberculosis, diunduh dari http://www.inIeksi.com/articles.php?lngin&pg57, 2007
8. Amin Z, Bahar A, Pengobatan Tuberkulosis Mutakhri, Buku ajar ilmu penyakit dalam,
4
th
ed, Penerbit Buku Kedokteran; Jakarta, 2006, 1005-10
9. Mengenal Penyakit Menular, diunduh dari
http://www.tangerangkota.go.id/?tabberita&tab220&hal4&id688, 2009
10.Satuan Acara Penyuluhan ambaran Penyakit TBC, diunduh dari
http://www.scribd.com/doc/22852270/Satuan-Acara-Penyuluhan-gambaran-penyakit-
TBC
11.Upaya Peningkatan Peran Masyarakat dan Tenaga Kesehatan dalam Pemberantasan
Tuberkulosis, diunduh dari http://rudyct.com/PPS702-ipb/08234/eddywidodo.pdI, 2004