Anda di halaman 1dari 17

DAMPAK POSITIF

Penyusupan kepentingan asing dalam pembuatan UU dan RUU, saat ini sedang ramai dibahas. Ada 76 UU yang kabarnya mendapat intervensi asing dan semuanya bersentuhan dengan hajat hidup rakyat. Dengan demikian, kehidupan rakyat sedikit banyak dipengaruhi oleh UU hasil intervensi asing. Dampak positif dari intervensi asing terlihat jelas dari produk UU yang berhubungan dengan aspek sosial. Kebanyakan UU tersebut dihasilkan atas permintaan lembagalembaga di PBB. Di antaranya adalah UU Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta UU Keterbukaan Informasi Publik yang erat kaitannya dengan Unicef. Tidak semua UU pesanan asing itu buruk, contohnya seperti 2 UU itu. Kalau yang dari hasil pesanan PBB dan lembaga-lembaganya itu baik, kata Koordinator Masyarakat Antikorupsi Indonesia (MAKI) Boyamin Saiman kepada matanews.com di Jakarta, Selasa 12 Oktober 2010. Tanpa adanya kedua UU tersebut, bisa dibayangkan betapa sulitnya perlindungan dan jaminan HAM terhadap kaum wanita dan anak-anak. Dengan adanya keterbukaan informasi publik, rakyat pun bisa ikut memantau penyelenggaraan negara. Itu adalah contoh manfaat dari kedua UU hasil intervensi asing tersebut. Namun layaknya dua sisi mata uang, katanya, UU pesanan asing tak hanya berdampak baik dalam kehidupan rakyat. Dampak buruk terasa jelas ketika sumber daya alam dan keuangan ikut dirambah oleh pihak asing. Terlebih bila substansi UU yang dihasilkan bertentangan dengan UUD 45, kerugian akan semakin terasa. Campur tangan asing membuat perekonomian Indonesia menuju ke arah kapitalisme. Perubahan mulai terlihat dari privatisasi BUMN, misalnya Pelindo. Sejak Pelindo diprivatisasi pelayanan publik tak lagi menjadi prioritas utama. Pelindo lebih ditekankan untuk bisa menghasilkan keuntungan. Untuk itu perlu ada revisi UU yang menyangkut sumber daya alam dan keuangan, tandas Boyamin. UU dan RUU pesanan asing menjadi sorotan setelah politisi PDIP Eva Kusuma Sundari mengungkapkannya ke media. Tak tanggung-tanggung, ada 76 UU yang disusupi oleh lembaga asing dan semuanya menyangkut hajat hidup orang banyak. PDIP menyayangkan pemerintah membiarkan pihak asing campur tangan dalam pembuatan draft RUU. Eva menengarai ada tiga lembaga strategis Amerika Serikat yang menyusupi penyusunan UU di Indonesia. Ketiga lembaga itu yakni World Bank (Bank Dunia), International Monetary Fund (IMF), dan United States Agency for International Development (USAID).

Data itu saya peroleh berdasarkan informasi dari hasil kajian Badan Intelijen Negara (BIN), ungkap Eva kepada matanews.com di Jakarta, Selasa 12 Oktober 2010. (mar/ham) [B]BAB I[/B] [B]PENDAHULUAN[/B] [B]1.1 Latar Belakang[/B] Air, benda ini yang menjadi alasan mengapa jutaan penduduk dunia di belahan bumi selatan yang notabene merupakan tempat hidup orang-orang miskin menderita kelaparan setiap harinya. Sebanyak 1,8 juta anak mati tiap tahunnya karena diare yang diakibatkan oleh buruknya sanitasi air. Sekitar 1,1 milyar orang di negara berkembang tidak memiliki akses yang cukup untuk air, dan 2.6 miliar kekurangan sanitasi dasar. Masa depan, hidup dan kehidupan dunia akan semakin sulit karena air untuk hidup semakin langka. Segala sektor politik, ekonomi, budaya akan dipengaruhi oleh kepasrahan penduduk dunia terhadap krisis air sebagai akibat dari ulah para pendahulunya. Air sebagai benda primer yang mempengaruhi kondisi bumi secara otomatis menjadi barang penting yang kemudian akan diperebutkan. Perubahan iklim, peningkatan frekwensi bencana alam dan faktor huru-hara dunia lain akan semakin sering terjadi. Fenomena ini akan menjadi efek bola salju yang semakin bergulir dan membesar seiring perilaku dan waktu. Perubahan tatanan kehidupan makhluk bumi juga akan terus berubah ke arah kepanikan. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS %20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn1]\[1][/LINK]

Di beberapa belahan dunia, air menjadi barang yang cukup mudah untuk dihamburhamburkan. generasi mereka akan terus cerdas dan menjadi pemimpin dunia karena asupan mineral utama yang berasal dari air tercukupi. Lain halnya bagi negara-negara miskin, jangankan untuk berfikir tentang pendidikan, bahkan kebutuhan dasar air pun tidak tercukupi. Air merupakan hak setiap manusia yang sejak ia lahir, maka dia berhak mendapatkan perlakuan yang sama dengan orang lain termasuk dalam hal mendapatkan akses air. Dengan menerapkan privatisasi maka akses bagi setiap manusia yang berhak mendapatkan perlakuan sama telah dibatasi. Orang-orang yang memiliki kapital akan mendapatkan hak lebih besar dengan memperkecil hak orang lain.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn2]\[2][/LINK] Privatisasi air telah melanggar hak asasi dengan menutup akses untuk mendapatkannya. Pola ini yang seakan terus di dipelihara dengan privatisasi air sebagai kendaraannya. Berbekal kalimat sakti bahwa air adalah barang ekonomi, para jargon investasi terus membidik air sebagai lahan bisnis. Bisnis dengan dampak menghancurkan generasi tentunya. Segala cara dilakukan untuk menguasai sumbersumber air. Melalui produk legislasi UU No 7 Tahun 2004 maka dilegalkanlah privatisasi air di Indonesia.

Air minum sebagai kebutuhan ultraprimer dengan tingkat konsumsi terus bertambah serta tidak ada benda subtitusinya memungkinkan swasta penyedia air minum dapat menancapkan kuku kekuasaannya kian dalam tanpa melihat derita dan nestapa rakyat miskin. Di kota Cochabamba, Bolivia, terjadi pergolakan menentang privatisasi air setelah perusahaan multinasional Bechtel dari Amerika Serikat mengambil alih sistem air di Cochabamba. Di Afrika Selatan, protes serupa juga dijalankan akibat penguasaan air oleh perusahaan multinasional asal Prancis, Suez Lyonnaise des Eaux. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn3]\[3][/LINK] Di Indonesia privatisasi air sampai sekarang masih terjadi, dan sampai kapan ini berhenti akan sangat tergantung dari produk Undang-Undang itu sendiri. [B]1.2 Pokok Masalah[/B] Privatisasi air di Indonesia merupakan salah satu syarat yang dituntut oleh [I]World Bank[/I] agar dana pinjaman program pemulihan sanitasi air dan lingkungan dapat di cairkan. Hal ini jelas dinyatakan dalam pernyataannya ; Bahwa Manajemen Sumber Daya Air yang efektif haruslah memperlakukan air sebagai komoditas ekonomis dan partisipasi swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan hasil yang effisien, peningkatan pelayanan, dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa penyediaan (World Bank, 1992). Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air, penyelenggaraan oleh swasta dapat dilakukan jika pada daerah tersebut belum ada BUMN/BUMD yang menyelenggarakan layanan pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakatnya. Dengan aturan tersebut jelas bahwa Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 membuka kesempatan bagi keterlibatan sektor swasta (privatisasi) dalam penyediaan air bagi masyarakatnya. Pemberian kesempatan kepada badan usaha swasta dalam penyediaan air baku bagi masyarakat jelas akan menghilangkan penguasaan negara atas sumberdaya air. Inilah yang menjadi persoalan atau pokok masalah dalam makalah ini.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn4]\[4][/LINK] Pokok masalah dalam makalah ini adalah terjadinya privatisasi air di Indonesia, terjadi pengunaan kekayaan alam dalam hal ini air yang dijadikan air sebagai sumber ekonomi yang dilegalkan melalui produk legislasi melalui elit (aktor politik) DPR yang kemudian melahirkan UU No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air Indonesia, inilah awal terjadinya privatisasi air di negeri ini, yang bertentangan dengan semangat UUD 1945. Sehinga yang menjadi persoalan atau pertanyaan yang ingin dijawab dalam makalah ini adalah bagaimana peran yang dimainkan oleh Bank Dunia, IMF, WTO dalam intervensi pembuatan UU No. 7 tahun 2004 tentang sumberdaya air, sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, yang merupakan awal privatisasi air dimulai di Indonesia? [B]1.3 Kerangka Teori[/B] [*] [B]Teori Struktur Kekuasaan Susan Strange [/B][/*]

Argumen Susan Strange dalam States and Market, Structures of Power in The World Economy tentang struktur kekuasaan (structural of power) pada tulisan ini digunakan

sebagai landasan teori untuk menjawab rumusan masalah. Kekuasaan dan kewenangan (power dan authority) merupakan kunci un-tuk menciptakan sebuah dominasi. Strange mengartikan kekuasaan sebagai upaya untuk mempengaruhi pihak lain untuk melakukan sesuatu. Kekuasaan adalah upaya untuk mempengaruhi A untuk bertindak B. Lebih dalam lagi, kekuasaan merupakan alat untuk mempertajam pengaruh. Dalam hal ini kekuasaan lebih diartikan sebagai coercive action. Dengan kata lain, kekuasaan sangat menentukan struktur hubungan yang terjadi. Sementara itu, kewenangan diartikan sebagai bentuk penciptaan kepercayaan atau belief system. Strange mengambil contoh tentang pria dan wanita baik akan masuk surga dan pria dan wanita jahat akan masuk neraka. Ungkapan ini selalu disampaikan di banyak tempat ibadah seperti Church. Dan ungkapan ini adalah sebuah kebenaran tanpa ada yang berusaha untuk melawan ungkapan ini. Ada sebuah kerelaan yang tercipta dari ungkapan ini. Church dalam hal ini memiliki kewenangan untuk menyampaikan struktur pengetahuan tanpa ada yang melawannya. [*] [B]Teori Elit[/B][/*]

Kalau meminjam istilah Harold D Laswel mengenai teori elit, yang mengatakan bahwa individu yng berhasil memliki nilai-nilai terbanyak dikarena kecakapan dan kekuasaan yang dimiliki, yang kecakapan ini yang membuat mereka terlibat aktif dalam proses pengambilan keputusan [I]Decision Making[/I]. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn5]\[5][/LINK]Elite adalah individu-individuyang menduduki posisi puncak dalam institusi-institusiekonomi, politik dan militer (C. Wright Mills). Menurut Goentanamo Mosca yang pertama kali mengungkapkan teori elit terdapat beberapa variabel; [*] Dalam setiap masyarakat akan terdapat dua kelas penduduk, yaitu satu kelas yang berkuasa ([I]the rulling class[/I]) dan satu kelas yang dikuasai ([I]the rulled class[/I]);[/*] [*] Kelas pertama, jumlahnya kecil, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaa dan menikmati keuntungan2 yang diberikan oleh kekuasaan tsb;[/*] [*] Kelas kedua, jumlahnya besar dan diatur, serta dikendalikan oleh kelas pertama;[/*]

[*]

[B]Teori Negara[/B][/*]

Teori ini menjelaskan tingkah laku elit dalamnegara yang bergerak untukmempertahankan kepentingan dirinya sendiri [I]intervention state, [/I]negara dapat memaksa. Teori ini menjelaskan tingkah laku elit dalamnegara yang bergerak untuk mempertahankan kepentingan[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn6]\[6][/LINK]. Negara tidak dapat didiktekarena punya legitimasi yang kuat untuk melakukan intervensi.Ekonomi dan politik juga menjelaskan bagaimana kemudian pengunaan sumber daya ekonomi untuk kepentingan politik, dimana ekonomi lebih dominan untuk memuaskan motif

ekonomi.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi %20air%20minum.doc#_ftn7]\[7][/LINK] [B]BAB II[/B] [B]PEMBAHASAN[/B] Dalam pembahasan ini penulis melihat bahwa, kewenangan inilah yang ingin dilihat Strange dalam sistem internasional. Kekuasaan dan kewenangan bisa diciptakan melalui empat struktur yaitu [I]security structure, production structure, knowledge structure, financial structure[/I]. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana menerapkan argumen Susan Strange tentang struktur kekuasaan untuk menganalisa peranan Bank Dunia IMF, dan WTO dalam privatisasi air di Indonesia. Dalam kasus privatisasi air di Indonesia maka Bank Dunia, IMF dan WTO sebagai aktor yang sangat berperan dalam privatisasi air menguasai dua struktur kekuasaan dan sekaligus menjadi instrumen penting yang dipergunakan Bank Dunia, IMF dan WTO untuk melakukan privatisasi air di Indonesia. Dua instrumen itu adalah pertama, struktur pengetahuan (knowledge structure) dan kedua, struktur keuangan (finance structure). secara jelas kita melihat bahwa Bank Dunia, IMF dan WTO menggunakan dua struktur kekuasaan yaitu pertama, struktur pengetahuan (knowledge structure) yang implementasikan dalam bentuk [I]water supply project [/I]dan kedua struktur keuangan. Lihat Susan Strange, States and Market, Structures of Power in The World Economy, (London: Printer Publisher, 1989), hal. 23. angan (financial structure) dimplementasikan dalam bentuk Water Resources Sectoral Adjustment Loan (WATSAL). Struktur pengetahuan yaitu gagasan, ide ataupun ideologi yang dikembangkan oleh sebuah negara ataupun lembaga internasional untuk menciptakan dominasi di negara lain. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana struktur pengetahuan yang telah terbentuk bisa menghasilkan kekuasaan dan kewenangan. Strange menjelaskan bahwa struktur pengetahuan adalah kekuasaan, bagi siapa yang bisa membangun struktur pengetahuan kepada orang lain dan mampu menciptakan kontrol atasnya maka akan memperoleh struktur kekuasaan yang sangat luar biasa. Bahkan Strange menjelaskan bahwa kekuasaan dan kewenangan yang bisa dicapai seperti kewenangan yang diperoleh pemuka agama (priest) yang dipatuhi oleh raja dan masyarakat. [B]2.1 Awal Privatisasi Air Masuk Ke Indonesia[/B] Relasi kuasa dan pengetahuan kemudian menjadi sangat nyata. Hubungan antara [I]discourse, power, [/I]dan [I]knowledge [/I]yang dikemukakan Foucalt terlihat dalam kasus privatisasi air ini. Artinya adalah, terjadi relasi antara penguasa dalam hal ini elit pembuat Undang-Undang melalui proses legislasi di DPR dengan pengusaha atau sektor swasta. Asing melalui tangan swastanya melalui wajah privatisasi merupakan instrument untuk mengunakan sumber kekayaan alam untuk kepentingan aktor ekonomi, terjadinya persengkongkolan antara elit (aktor politik) pembuat Undang-Undang dengan pengusaha swasta (Aktor ekonomi).

Privatisasi air di Indonesia ini awalnya terjadi pada awal 1990 ketika Bank Dunia menyetujui untuk menyediakan pinjaman US $ 92 juta untuk infrastruktur air. Privatisasi tersebut juga berlangsung dengan saran dari Bank Dunia. Secara umum, privatisasi di Indonesia dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah privatisasi sebelum krisis ekonomi 1997, dan privatisasi tahap kedua setelah krisis ekonomi dan masuknya IMF ke Indonesia.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn8]\[8][/LINK] Privatisasi tahap pertama berlangsung dengan pinjaman multilateral dari bank Dunia dan pinjaman bilateral dari Jepang, perusahaan multinasional asal Inggris dan Perancis, yakni Suez dan Thames, yang memulai untuk mengambil alih sistem air publik. Yang menarik, privatisasi ini melibatkan konglomerasi Indonesia atas nama PT Kekar Pola Airindo. Di belakang Kekar Pola Airindo, terdapat nama Salim Group, yakni Anthony Salim, dan Sigit Harjojudanto. Dua orang ini bisa dibilang sebagai kroni dari pemerintahan Soeharto, terutama melihat hubungan keluarga antara Soeharto dan Sigit, serta hubungan bisnis antara Soeharto dan Salim Group. Kehadiran Thames Water Overseas di Indonesia pertama kali pada tahun 1993. Perusahaan multinasional asal London ini menggandeng putra Soeharto, Sigit Harjojudanto, sebagai partnernya. Padahal, Sigit bukanlah seorang pemain yang mengerti benar pengelolaan air. Thames membentuk perusahaan lokal dan kemudian memberi Sigit 20 % dari keuntungan. Mengutip pernyataan Teten Masduki, Setiap perusahaan multinasional di Indonesia selalu bekerjasama dengan kroni Soeharto. Dari semua sektor, listrik, minyak, air, dan lainnya, merupakan bentuk oligarki korupsi, terlihat dengan jelas bagaimana kemudian elit bermain untk melegalkan air menjadi sumber ekonomi, inilah yang menjadi sumber bencana air di negeri ini, ketika elit dibuat tidak berdaya oleh aktor-aktor ekonomi untuk menguasai sumbersumber kekayaan alam dalam kasus ini air, melalui program legislasi disinilah privatisasi air itu dimulai. Sangat mengerikan UU No 7 Tahun 2004 kemudian di syahkan menjadi UndangUndang, kalau saja elit atau penguasa di republik ini tetap berpayung kepada UUD 1945 maka tidak akan di syahkan UU tersebut, sebab punya konsekuensi membuat rakyat kekuarangan air, maka tidak akan terjadi kemudian privatisasi sumber kekayaan air di negeri ini, sebab hukum Nasional sebelumnya melarang adanya investasi asing dalam sumber air.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn9]\[9][/LINK] Petinggi Thames dan Suez mulai memikirkan kembali masa depan bisnis mereka di Indonesia. Karena telah terikat kontrak di awal selama 25 tahun, dua perusahaan multinasional itu memutuskan untuk terus beroperasi di Indonesia, namun kali ini privatisasi dilangsungkan langsung menggandeng PAM Jaya, karena menurunnya peran dari kroni-kroni Soeharto. Dengan negosiasi yang berlangsung dengan PAM, akhirnya Thames dan Suez merestrukturisasi manajemen mereka termasuk kerjasama dengan Kekar Pola dan Garuda Dipta. Pada tahun 2001, dibentuklah PT PAM Thames Jaya dan PT PAM Lyonnaise Jaya, dengan menggandeng PT Terra Meta Phora dan PT Bangun Cipta Sarana.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn10]\[10][/LINK]

[I]Discourse [/I]untuk adanya privatisasi air di Indonesia telah didorong oleh [I]knowledge [/I]yang berkembang selama ini melalui [I]Washington Consensus [/I]dan pengalaman privatisasi negara lain. Dalam [I]discourse [/I]tersebut, terdapat kuasa kepentingan modal yang dicerminkan dari perusahaan multinasional (yang umumnya berasal dari Barat). Kelangsungan privatisasi juga didorong oleh rezim di dalam negeri karena kepentingan-kepentingan ekonomi di dalamnya, sehingga hubungan antara [I]discourse [/I]dan [I]power [/I]juga terlihat. Adanya kekuasaan yang mendapatkan keuntungan telah membuat [I]discourse [/I]untuk dilangsungkannya privatisasi membuat proyek ini terus berlanjut. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn11]\[11][/LINK] Hubungan antara [I]discourse, power, [/I]dan [I]knowledge [/I]dalam kasus ini membuat sebuah bentuk hubungan bisnis semata dengan sistem patron-klien. Pengunanaan sumber daya ekonomi air untuk kepentingan aktor-aktor politik. Padahal, dalam kasus ini, air merupakan komoditas strategis publik yang seharusnya tidak dikelola dengan logika bisnis atau sumber ekonomi. Naiknya harga air dalam privatisasi di Indonesia membuat posisi kaum miskin menjadi termarjinalkan. Mereka tidak bisa mengakses air bersih akibat mahalnya harga air. Dengan kondisi yang seperti ini terus menerus, posisi rakyat miskin menjadi makin kritis. Penduduk miskin Jakarta sepertinya mustahil untuk membayar air sebesar Rp.5000,- per kubik jika pendapatan mereka di bawah Rp.10.000,- atau Rp.20.000,- per harinya (standar dari Bank Dunia mengenai kategori [I]extreme poverty [/I]dan [I]poverty[/I]). Privatisasi air di Indonesia adalah sebuah cermin dari bagaimana kepentingan dari korporasi air global, penguasa (aktor politik) yang korup serta diktator dan pinjaman Bank Dunia menekan untuk dilakukannya privatisasi. Sampai saat ini, sebagian besar rakyat miskin di Jakarta masih hidup tanpa jasa air yang layak. Tujuan awal privatisasi air adalah untuk menyediakan air bersih di Indonesia secara lebih luas. Indonesia, menurut catatan UNDP, memiliki 55 % penduduk yang rawan akan akses air bersih. Banyak penyebab mengapa persediaan air bersih di Indonesia menurun, pertama karena kerusakan sungai, kedua karena pencemaran air tanah, dan ketiga karena pencemaran sungai. Di Jakarta, air bersih menjadi sebuah permasalahan karena banyak air yang telah tercemar polutan atau bakteri tanah. Padahal, air adalah sumber daya alam yang sangat penting nilainya bagi manusia. Privatisasi, sebagaimana dituliskan Stephen Green di sub bab terdahulu, mempunyai beberapa tujuan utama, yaitu meningkatkan efisiensi perusahaan, meminimalisir pelaksanaan korupsi dalam tata kelola perusahaan,mengembalikan aset-aset negara yang disalahgunakan oleh oknum pejabat negara ketika mengelola aset tersebut, dan yang paling penting adalah memperbaiki layanan publik. Pada kenyataannya, setelah dilakukan privatisasi air oleh PAM Thames Jaya dan PAM Lyonnaise Jaya, pelayanan air tidak meningkat secara signifikan, hanya daerah-daerah di pusat kota seperti Menteng dan Pondok Indah yang meningkat pelayanannya secara signifikan. Kenyataannya, tarif air di Jakarta justru mengalami kenaikan. Lebih lanjut, PAM Jaya masih meminta diberikannya subsidi dari pemerintah terkait dengan perbaikan infrastruktur. [B]2.2 Analisis UU No.7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air[/B]

Di Indonesia, privatisasi air dilegalkan oleh Undang-undang No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Lahirnya undang-undang ini pada 19 Februari 2004 diikuti dengan terbitnya sejumlah peraturan daerah (Perda) yang terkait dengan privatisasi air. Privatisasi air di Indonesia sangat berkontribusi terhadap krisis air bersih, karena UU No. 7 Tahun 2004 memberikan peluang privatisasi sektor penyediaan air minum, dan penguasaan sumber-sumber air (air tanah, air permukaan, dan sebagian badan sungai) oleh badan usaha dan individu. Inilah yang menjadi awal sumber bencana kekurangan air dan mahalnya air dan sulitnya rakyat miskin untuk mengakses air bersih karena harganya yang sudah mahal. Akibatnya, hak atas air bagi setiap individu terancam dengan agenda privatisasi dan komersialisasi air di Indonesia. Hal ini tentunya sangat merugikan masyarakat, karena tidak memiliki akses untuk air minum, bahkan air bersih dalam jumlah yang memadai. Oleh karena itu, penyediaan kebutuhan pokok seperti ini tidak dapat dibiarkan begitu saja kepada kekuatankekuatan pasar. Kebijakan pemerintah berkenaan dengan privatisasi air dapat dikatakan tidak sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.[LINK=file:///G:/Makalah %20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn12]\[12] [/LINK] Demikian halnya dengan pemanfaatan sumberdaya air, pemerintah harus pula mengoptimalkan pengelolaan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dalam tulisan berikut akan dibahas trend global berupa privatisasi air dan dominasi kapitalis, privatisasi air di Indonesia dan berbagai dampak negatifnya, serta kasus khusus privatisasi air yang melibatkan multi national corporation, MNC, Danone. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn13]\[13][/LINK] [B]2.3 Politik Privatisasi Air Di Indonesia Melalui Intervensi Bank Dunia, IMF, WTO.[/B] Negara-negara kapitalis pengusung privatisasi air menggunakan berbagai instrumen untuk menyukseskan gagasan privatisasi air, baik melalui jalur resmi hubungan antar Negara, organisasi/fora internasional, maupun melalui berbagai tekanan politik dan ekonomi. Salah satu sarana ampuh yang dimanfaatkan adalah menggunakan organisasi-organisasi internasional seperti BD, ADB dan Intertional Monetary Fund (IMF), serta WTO. Sebagaimana layaknya penjajah, negara-negara kapitalis, bekerjasama dengan MNC yang dimiliki, telah menghalalkan segala cara untuk mencapai target privatisasi air di seluruh dunia. Dalam banyak hal, BD dan IMF, memberlakukan persyaratan bagi perolehan pinjaman yakni privatisasi penyediaan air dan banyak pelayanan lain. Sebuah kajian secara acak atas pinjaman-pinjaman IMF di 40 negara selama tahun 2000 mengungkapkan, bahwa 12 negara telah dipaksa melakukan privatisasi penyediaan air agar memperoleh pinjaman. Umumnya, negara-negara Afrika, negara-negara terkecil, termiskin, negara dengan banyak hutang yang tertimpa persyaratan-persyaratan ini. Lebih dari 5 juta penduduk mati setiap tahun di Afrika akibatnya minimnya akses air. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn14]\[14][/LINK]

Laporan International Coalition of Investigative Journalist (ICIJ) menganalisa bahwa dari total US$ 20 miliar pinjaman BD ke sejumlah negara dalam periode 12 tahun (1990-2002) ditemukan 276 pinjaman berlabel water suplay atau penyediaan air. Dalam kurun waktu tersebut, 30 persen di antaranya dibarengi dengan syarat adanya privatisasi air. Syarat adanya privatisasi ini kemudian meningkat dari tahun ke tahun. Pada periode 1990-1995 terdapat 21 pinjaman mensyaratkan adanya privatisasi sektor lain. Dan pada periode 1996-2002, angka ini meningkat menjadi tiga kali, yakni menjadi 61 pinjaman. Perang besar menyangkut air pertama pada abad ke-21 terjadi di Bolivia, ketika Bank Dunia (2001-2002) menolak untuk membarui pinjaman US$25 juta kalau pengelolaan air minum tidak diprivatisasi. Setelah penggunaan air minum publik di kota Cochabamba dijual ke Bechtel, sebuah perusahaan besar AS, sewa air segera melonjak. Penduduk Cochabamba melakukan protes dalam demonstrasi besar-besaran berhari-hari yang akhirnya berujung pada mogok umum sehingga mematikan ekonomi kota dan Bechtel dipaksa untuk meninggalkan negara tersebut. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn15]\[15][/LINK] Disinilah dimainkannya kepentingan politik atau dalam istilah ekonomi politik kita mengenal actor politik yang digunakan untuk kepnetingan pengunanaan sumber daya ekonomi, elit organisasi besar dunia seperti IMF punya kepentingan politik untuk menekankan negara dunia ketika untuk melegalkan privatisasi air melalui UU No 7 Tahun 2004, kalau UU tersebut tidak disahkan oleh penguasa atau elit di Indonesia maka IMF akan meninjau kembali untuk peminjaman uang, inilah peran yang dimankan untuk melegalkan UU No 7 Tahun 2004 privatisasi sumber kekayaan air Indonesia untuk kepentingan perusahaan air seperti perusahaan PerancisSuez Lyonnaise[B]. [/B] Namun yang jelas penulis melihat kental sekali kepentingan politik yang dimainkan untuk kepentingan bisnis privatisasi terkait dengan tujuan politik untuk kepentingan ekonomi, jelas sekali nilai-nilai politiknya dalam perusahaann air seperti Suez Lyonnaise bisa berkembang di Indonesia dan mendapatkan perlindungan, serta keuntungan yang besar yang diambil dari kekayaan air di bumi pertiwi ini, dimana UUD 1945 yang mengatakan bumi, air dan kekayaan bumi dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat, batal dan dibuat tidak berdaya karena tekanan dan pesanan negara asing untuk kemudian melegalkan privatisasi sumber kekayaan air melalui UU No 7 Tahun 2004, yang sebelumnya UU Nasional tidak ada tempat untuk perusahaan asing melakukan privatisasi terhadap air di republik ini. Jadi. karena kepentingan aktor politik untuk kepentingan sumber ekonomi. Bagi banyak orang, air tidak terpikirkan sebagai sebuah komoditas yang seluruhnya harus diperjualbelikan. Air selalu dilihat sebagai suatu barang publik karena air sangat hakiki, bukan saja untuk kehidupan manusia, namun untuk keberlangsungan mahluk hidup di bumi. Sayangnya, dalam World Trade Organization (WTO) dan GATS-nya, penyediaan air diatur dengan sejumlah peraturan. Aturanaturan tersebut memberi kemungkinan bagi perusahaan-perusahaan multinasional untuk membeli dan menjual air dalam suatu negara sesuai keinginan mereka. Hal yang paling penting dari peraturan baru itu adalah pelaksanaan privatisasi air.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn16]\[16][/LINK] [B]2.4 UU No 7 Tahun 2004: Privatisasi Air di Indonesia Dimulai[/B] Hadirnya UU No 7/2004 tak dapat dilepaskan dari tekanan World Bank, Bank Dunia dan IMF yang menguntungkan perusahaan asing untuk mengeruk sumber daya air Indonesia. Kebijakan privatisasi air membuat jaminan pelayanan hak dasar rakyat banyak ditentukan oleh swasta dengan mekanisme pasar. Ini jelas sudah bertentangan dengan amanat konstitusi.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn17]\[17][/LINK] Selain itu, dari sisi lingkungan akibat privatisasi air, hak rakyat di sekitar hutan yang selama ini mengambil air dari sumber air di wilayahnya kian terancam. Mereka harus rela membagi air yang selama turun temurun diambil secara gratis yang kemudian dikuasai swasta. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka pun harus membayar, tergantung pada kebijakan pemerintah setempat. Eksploitasi air membabibuta dilakukan oleh pihak swasta oleh Danone Group. Danone Group hingga saat ini telah memiliki 16 sumur air minum di berbagai daerah di Indonesia . Dua sumur terbesar yang mensuplai lebih dari 70 persen air merk Aqua adalah sumur Klaten dan Sukabumi. Hingga kurun waktu 2004, group usaha ini selalu mencantumkan dalam label kemasannya produk air munumnya darimata air pegunungan, namun pada kenyataannya sumber AMDK Aqua berasal dari eksploitasi air tanah di berbagai daerah. Untuk di sumur Klaten yang seharusnya hanya diizinkan menyedot air sebanyak 20liter/detik pihak Danone group mampu menguras air hingga 64 liter/detiik. Danone group menyatakan membuang air yang tersisa dari 64 liter tersebut. Diperkirakan eksploitasi air yang dilakukan di sumber-sumebr air di Kabupaten Klaten oleh Aqua Danone mencapai 40 juta liter/bulan. Jika dengan estimasi harga jual 80 miliar rupiah per bulan maka nilai eksploitasi mencapai 960 miliar rupiah per tahun. sementara itu, untuk eksploitasi di Kabupaten Klaten Aqua Danone hanya memberi 1,2 miliar rupiah sebagai kontribusi RAPBD Kabupaten Klaten dan tiga hingga empat juta rupiah pembayaran pajak. Sedangkan dari sejumlah 246 perusahaan Air Minum dalam Kemasan (AMDK) yang beroperasi di Indonesia dengan total produksi sebesar 4,2 miliar liter, 65 persen dipasok oleh dua perusahaan asing (Danone dan Coca Company). Sisanya diproduksi oleh 224 perusahaan lokal. Secara global, perusahaan air berlomba-lomba menguasai bisnis air dengan keuntungan potensial setiap tahun dimana pun mencapai 400 miliar dollar AS hingga tiga triliun dollar AS. Pangsa air di dunia saat ini diperkirakan mencapai 800 miliar dollar AS melibatkan 6 persen populasi dunia yang membayar kepada korporasi air untuk mendapatkan air. [B]2.5 UU Nomor 7 Tahun 2004 Bertentangan dengan UUD 1945 [/B]

Lahirnya UU No 7 tahun 2004 sarat dengan nuansa politik dan pesan negara asing, disyahkannya Undang-Undang tersebut tidak terlepas dari tekanan dan intervensi yang dilakaukan oleh negara asing yang punya kepentingan terhadap sumber kekayaan air Indonesia. Jika dilihat dari materinya Undang- Undang Sumberdaya Air yang baru memang jauh lebih lengkap dibandingkan dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, namun ada perubahan paradigma yang mendasar dalam penyusunan Undang-Undang Sumberdaya Air yang baru dimana dalam penyusunan Undang-Undang Sumberdaya Air tersebut didasarkan atas cara pandang air sebagai barang ekonomi Perubahan . Cara pandang inilah yang kemudian membawa perubahan luar biasa dalam pendekatan pengelolaan sumberdaya air dari pendekatan penyediaan menjadi pendekatan permintaan. Dengan demikian harga menjadi faktor pokok untuk mengontrol permintaan, yang pada akhirnya membuat realokasi penggunaan air pada penggunaan yang memiliki nilai air lebih tinggi.[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS %20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn18]\[18][/LINK] Berdasarkan paradigma pengelolaan sumberdaya air yang dijelaskan di atas, maka ada kesalahan mendasar dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air terhadap Undang-Undang Dasar 1945, yaitu adalah air dipandang sebagai barang ekonomi dengan diperkenalkannya hak guna air yang terdiri dari hak guna pakai dan hak guna usaha dan penyelenggaraan oleh swasta (privatisasi). [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftn19]\[19][/LINK] Dengan tidak dikuasasinya sumber daya air oleh Negara, maka promosi, perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia tidak dapat dilaksanakan secara maksimum oleh Negara. Pasal-pasal dalam Undang-undang Sumber Daya Air telah melanggaran jaminan hak asasi manusia yang dimuat dalam Undang-undang Dasar 1945. Hak guna memindahkan/melepaskan hak menguasai Negara bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945, mengancam pemenuhan hak atas air (the right to water) sebagai hak asasi manusia, dan hak-hak asasi manusia lainnya Bahwa dimuka persidangan telah terbukti bahwa Konsepsi Hak Guna Air yang diatur dalam UndangUndang Nomor 7 Tahun 2004 bertentangan dengan Konstitusi yaitu pasal 33 UUD 45. UU No.7 Tahun 2004 bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar pembentukan Negara Republik Indonesia yang anti penjajahan, dan mengutamakan persatuan dan kedaulatan, kemakmuran rakyat dan mengutamakan demokrasi ekonomi. UU No.7 Tahun 2004 merupakan perundang-undang an yang bertujuan menghapus nilai air sebagai barang sosial menjadi barang komersial. Karenanya, Undang-undang ini memunculkan dan berpotensi memicu konflik antar masyarakat, serta mengakibatkan penderitaan masyarakat miskin yang juga membutuhkan air. UU No.7 Tahun 2004 ini juga mengutamakan kepentingan anggota masyarakat yang tinggal di perkotaan, daerah padat industri dan daerah padat penduduk serta masyarakat kelas menengah yang berpenghasilan tinggi, yang mempunyai daya beli untuk mendapatkan air bersih, layak dan memadai. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi %20politik/privitisasi%20air%20minum.doc#_ftn20]\[20][/LINK]

[B]2.6 Analisis Pembahasan[/B] Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, dalam Undangundang tersebut tidak ada tempat untuk privatisasi air, perlindungan dan nasionalisasi sumber kekayaan alam, air belum dijatadikan sebagai sumber ekonomi, Negara berperan besar melindungi sumber kekayaan alam. Namun negara asing tahu betul keuntungan dan masa depan bisnis air di negara dunia ketiga maka dimulailah privatisasi air. Dengan cara mempengaruhi elit penguasa agar produk UndangUndang No 11 Tahun 1974 dirubah, maka dilegalkanlah proyek dan bisnis air privatisasi melalui UU No7 Tahun 2004, air telah dijadikan sebagai sumber ekonomi. Sebelum lahirnya UU No.7 Tahun 2004, terjadi intervensi negara Asing yang punya kepentingan dalam hal ini peran dan intervensi lembaga seperti Bank Dunia, IMF, WTO untuk melegalkan UU No. 7 tahun 2004, intinya tidak terlepas dari pengaruh Negara asing yang punya kepentingan besar terhadap sumber kekayaan air Indonesia (privatisasi). Artinya adalah, Negara-negara kapitalis pengusung privatisasi air menggunakan berbagai instrumen untuk menyukseskan gagasan privatisasi air, baik melalui jalur resmi hubungan antar Negara, organisasi/fora internasional, maupun melalui berbagai tekanan politik dan ekonomi, disini terlihat dengan jelas bagaimana interpensi dan tekanan yang dilakukan oleh elit atau dalam istilah ekonomi politik dikenal aktor politik. Disinilah dimainkannya kepentingan politik atau dalam istilah ekonomi politik kita mengenal aktor politik yang digunakan untuk kepentingan pengunaan sumber daya ekonomi, elit organisasi besar dunia seperti IMF punya kepentingan politik untuk menekankan negara dunia ketika untuk melegalkan privatisasi air melalui UU No 7 Tahun 2004 dalam konteks Indonesia, kalau UU tersebut tidak disahkan oleh penguasa atau elit di Indonesia maka IMF akan meninjau kembali untuk peminjaman uang dari IMF, inilah peran yang coba kemudian dimainkan untuk melegalkan UU No 7 Tahun 2004 privatisasi sumber kekayaan air Indonesia untuk kepentingan perusahaan air seperti perusahaan perancisSuez Lyonnaise (Danone)[B].[/B] Namun yang jelas penulis melihat kental sekali kepentingan politik [I]game political[/I] untuk kepentingan bisnis privatisasi terkait dengan tujuan politik untuk kepentingan bisnis di negara dunia ketiga yang kaya akan sumber air bersih, jelas sekali nilai-nilai politiknya dalam perusahaan air seperti Suez Lyonnaise asal perancis seperti Aqua danone bisa berkembang di Indonesia dan mendapatkan perlindungan, serta keuntungan yang besar yang diambil dari kekayaan air di bumi pertiwi ini. Ada beberapa hal yang perlu kita pahami dalam analisis keterlibatan lembaga IMF dan Bank Dunia dalam pembuatan UU No. 7 tahunn 2004; pertama, Bank Dunia, IMF dan WTO menggunakan struktur keuangan untuk melakukan intervensi pembuatan UU No.7 tahun 2004 tentang air. Instrumen struktur keuangan adalah fasilitas kredit (credit facilities) yang dapat dilihat dalam contoh kasus Water Resources Sectoral Adjustment Loan (WATSAL). Bank Dunia dan IMF memeliki informasi ataupun dat tentang kondisi air di Indonesia yang sangat buruk sehingga sangat membutuhkan peranan sektor swasta, disinilah kemudian IMF dan Bank Dunia melakukan intervensi pembuatan UU No. 7 Tahun 2004, tentang pentingnya privatisasi air di Indonesia

Kedua, penggunaan struktur keuangan melalui instrumen fasilitas kredit untuk mempengaruhi kebijakan Pemerintah dan elit sehinga lahirnya kemudian UU No. 7 tahun 2004, peran ini yang kemudian dimainkan oleh IMF dan Bank Dunia untuk menjalankan privatisasi air merupakan instrumen yang sangat efektif. Pinjaman WATSAL sebesar US$ 300 juta akan diberikan kepada Pemerintah Indonesia jika Pemerintah melaksanakan kesepakatan yang dipersyaratkan. Sangat jelas sekali intervensi dan peran IMF dan Bank Dunia dalam pembuatan UU No.7 Tahun 2004. [B]BAB III[/B] [B]PENUTUP[/B] [B]3.1 Kesimpulan[/B] Dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan, dalam Undangundang tersebut tidak ada tempat untuk privatisasi air, perlindungan dan nasionalisasi sumber kekayaan alam, air belum dijatadikan sebagai sumber ekonomi, Negara berperan besar melindungi sumber kekayaan alam. Namun negara asing tahu betul keuntungan dan masa depan bisnis air di negara dunia ketiga maka dimulailah privatisasi air. Dengan cara mempengaruhi elit penguasa agar produk UndangUndang No 11 Tahun 1974 dirubah, maka dilegalkanlah proyek dan bisnis air privatisasi melalui UU No7 Tahun 2004, air telah dijadikan sebagai sumber ekonomi. Pembuatan UU No.7 Tahun 2004 tentang sumber daya air, sesunguhnya tidak terlepas dari intervensi seperti lembaga asing seperti IMF, Bank Dunia dan WTO. Negaranegara kapitalis pengusung privatisasi air menggunakan berbagai instrumen untuk menyukseskan gagasan privatisasi air, disini terlihat dengan jelas bagaimana interpensi dan tekanan yang dilakukan oleh elit atau dalam istilah ekonomi politik dikenal aktor politik.

Dari penelitian ini ada beberapa bentuk bukti dan cara intervensi yang dilakukan oleh lembaga IMF dan Bank Dunia; pertama, Bank Dunia, IMF dan WTO menggunakan struktur keuangan untuk melakukan intervensi pembuatan UU No.7 tahun 2004 tentang air. Kedua, Bank Dunia dan IMF memiliki informasi ataupun data tentang kondisi air di Indonesia yang sangat buruk sehingga sangat membutuhkan peranan sektor swasta, disinilah kemudian IMF dan Bank Dunia melakukan intervensi pembuatan UU No. 7 Tahun 2004, tentang pentingnya privatisasi air di Indonesia. Ketiga, terbukti penggunaan struktur keuangan melalui instrumen fasilitas kredit untuk mempengaruhi kebijakan pemerintah dan elit aktor politik sehinga lahirnya kemudian UU No. 7 tahun 2004, peran ini yang kemudian dimainkan oleh IMF dan Bank Dunia untuk menjalankan privatisasi air. Pinjaman WATSAL sebesar US$ 300 juta akan diberikan kepada Pemerintah Indonesia jika Pemerintah melaksanakan kesepakatan yang dipersyaratkan. Sangat jelas sekali intervensi dan peran IMF dan Bank Dunia dalam pembuatan UU No.7 Tahun 2004. [B]Pangi Syarwi[/B]

[B]Penulis adalah Mahasiswa Master Political Science University of Indonesia dan Penerima Beasiswa Unggulan Kemendiknas RI[/B]

[HR] [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref1]\[1][/LINK]Water and Politics in the Fall of Soeharto, [I]Loc.Cit.[/I]

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref2]\[2][/LINK] Wibowo dan Francis Wahono (eds.), [I]Neoliberalisme[/I], (Yogyakarta: Cindelaras, 2003), hlm. 275. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref3]\[3][/LINK] Bonnie Setiawan, [I]Menggugat Globalisasi[/I], (Jakarta: INFID, 2000), hlm 8-9.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref4]\[4][/LINK] Setyanto P. Santosa, [I]Quo Vadis Privatisasi BUMN?,[/I] diakses pada tanggal 25 Mai 2011 pukul 10.50 WIB.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref5]\[5][/LINK]Harold, D Laswel. [I]Elite Power State.[/I] Cambridge: Harvard University Press.1991, chapter 8 [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref6]\[6][/LINK]David, Held. [I]State and Society[/I]. (Oxford,1983,pp.1-5). The Open University. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref7]\[7][/LINK] David held.[I]Political Theory and the Modern State. [/I](Essay on State, Power and Democracy), California: Stanford University Press, 1989,) Chapter 1. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref8]\[8][/LINK] Bonnie Setiawan, The IMF Burden: [I]The IMF has enriched corrupt official while burdening ordinary Indonesian with debts[/I]. 2004: New York Press YOI.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref9]\[9][/LINK] Sektor sumberdaya air di Indonesia, saat ini sedang mengalami perubahan yang mendasar dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumberdaya Air sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Perubahan tersebut terkait dengan reformasi kebijakan pengelolaan sumberdaya air yang dimulai sejak Tahun 1993, namun secara efektif baru dilaksanakan Tahun 1999. Pada Tahun 1993 telah tersusun draft Rencana Aksi tentang Kebijakan Nasional perihal Sumberdaya Air (1994-2020) yang merupakan hasil dari studi tentang National Water Resources Policy yang disponsori oleh UNDP dan FAO. Kemudian pada Tahun 1997 BAPPENAS menginisiasi berbagai diskusi dan seminar yang bertema Agenda for Water Resources Policy and Program Reform yang bertujuan untuk memberikan masukan bagi REPELITA VII.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref10]\[10][/LINK]Syam Firdaus[I]. Pelayanan Air Minum Jakarta dan Pencemaran Air.[/I] Rumah Semesta. Jakarta: 2007. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref11]\[11][/LINK]Yujiro Hayami, [I]From Washington Consensus to Post Washington Consensus: Retrispect and Prospect[/I], dalam [I]Asian Development Review[/I], Vol. 20, No. 2, Tahun 2003, hlm. 55.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref12]\[12][/LINK] Masalah Air Dalam Kekuasaan Negara 28. Bahwa Pasal 33 ayat (2) menyatakan: cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Sementara Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menyatakan: bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dalam Pasal 45 ayat (3) UU No.7 Tahun 2004 menyatakan: pengusahaan sumber daya air ..... dapat dilakukan oleh perseorangan, badan usaha, atau kerja sama antar badan usaha ...... 30. Bahwa pengertian dikuasai oleh negara sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 33 UUD 1945 tersebut dapat dilihat dari pernyataan-pernyataan para pendiri negara (founding fathers) yang terlibat dalam penyusunan teks UUD 1945. Prof. Dr. Mr. Soepomo, dalam salah satu bukunya memberi pengertian dikuasai sebagai berikut: .. termasuk pengertian mengatur dan/atau menyelenggarakan terutama untuk memperbaiki dan mempertimbangkan produksi. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref13]\[13][/LINK]Baca Joseph Stiglitz, [I]Globalisation and Its Discontents[/I], (New York: W.W. Norton & Company, Inc.), 2002. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref14]\[14][/LINK] Anna K. Dickson, [I]Development and

International Relations: A Critical Introduction[/I], (Cambridge: Polity Press, 1997), hlm. 3. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref15]\[15][/LINK] Stephen Green, Privatization in The Former Soviet Bloc: Any Lesson for China?, [I]The Royal Institute of International Affairs Asia Program Working Paper[/I], No. 10, November 2003.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref16]\[16][/LINK]Melalui privatisasi air, maka jaminan pelayanan hak dasar rakyat banyak atas air ditentukan oleh swasta dengan mekanisme pasar. Dalam hal ini, World Bank (Bank Dunia, BD) justru menyatakan bahwa manajemen sumberdaya air yang efektif haruslah memperlakukan air sebagai komoditas ekonomis, dan partisipasi swasta dalam penyediaan air umumnya menghasilkan efisien, peningkatan pelayanan, dan mempercepat investasi bagi perluasan jasa penyediaan (Bank Dunia, 1992). Menurut BD, air yang diperoleh masyarakat saat ini masih berada di bawah harga dan perlu dinaikkan. Untuk itu BD (didukung oleh Asia Development Bank, ADB) mendorong diterapkannya mekanisme harga yang mengadopsi apa yang disebut sebagai [I]full cost recovery.[/I]

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref17]\[17][/LINK][I]Ibid.[/I]

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref18]\[18][/LINK] Wibowo dan Francis Wahono (eds.), [I]Neoliberalisme[/I], (Yogyakarta: Cindelaras, 2003), hlm. 260. [LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref19]\[19][/LINK] Dalam pengujian UU tersebut telah terbukti, bahwa pasal 7 ayat (1), pasal 8 ayat (2) huruf c, pasal 9 ayat 1 jo. pasal 29 ayat (5), pasal 40 ayat (4) dan ayat (7), pasal 45 ayat (3) dan ayat (4) serta pasal 46 ayat (2) Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bertentangan dengan jiwa dan semangat Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang anti penjajahan, yang mengutamakan persatuan dan kedaulatan, kemakmuran rakyat dan mengutamakan demokrasi ekonomi. Demikian juga telah terbukti Pasal 6 ayat (3), pasal 29 ayat (3) dan ayat 4 dan pasal 40 ayat (1) Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia yang dijamin dalam pasal 18B ayat (2), pasal 27 ayat (3), pasal 28 C ayat (1), pasal 28D.

[LINK=file:///G:/Makalah%20UAS%20Ekonomi%20politik/privitisasi%20air %20minum.doc#_ftnref20]\[20][/LINK] Uji UU No 7 Tahun 2007 di Mahkamah

Konstitusi, yang telah melangar hak asasi Manusia dan bertentangan dengan amanat konstitusi UUD 1945 pasal 33 bahwa air bumi dan kekayaan milik negara yang dipergunakan sepenuhnya untuk kesejahteraan rakyat, tidak melindungi rakyat kecil tapi menjadikan air sebagai sumber ekonomi yang membuat rakyat susah mendapat air bersih karena harganya yang telah di privatisasikan.

[*] [LINK=/index.php? option=com_content&view=article&id=100:strategi-kampanye-partai-demokratpada-pemilu-legislatif-tahun-2009-studi-bappilu-dpp-partaidemokrat&catid=8:makalah&Itemid=103]< Prev[/LINK] [/*] [*] [LINK=/index.php? option=com_content&view=article&id=93:evaluasi-perjalanan-reformasi-militer-diindonesia-1998-2011&catid=8:makalah&Itemid=103]Next >[/LINK] [/*]