Anda di halaman 1dari 3

RIASRI NURWIRETNO 209000053 PSIKOLOGI A

KHOTBAH DIATAS BUKIT


Khotbah diatas bukit, sebuah bentuk pengasingan diri seorang duda tua bernama Barman. Diawali cerita tentang perjalanannya menuju gunung bersama Poppi, istri mudanya yang sangat cantik. Keputusan Barman untuk pergi ke gunung juga berdasarkan persetujuan dari putranya, Bobbi. Bobbi menginginkan Ayahnya untuk mencari tempat yang sepi, untuk mengusir segala rasa kesepian yang ia rasakan di tengah keramaian kota. Barman ditemani oleh Poppi, yang diutus oleh Bobbi untuk menemani ayahnya selama di Gunung. Poppi adalah satu-satunya perempuan yang Barman cintai setelah almarhumah istrinya. Barman tua bagaikan kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong, sebuah penantian panjang melalui fase menjadi ulat, terkungkung dalam sebuah kepompong hingga menjadi kupu-kupu yang sesungguhnya. Seperti sebuah kehidupan baru! Segala yang diinginkannya terpenuhi, kehidupan seolah sempurna buatnya. Tinggal bersama istri muda yang cantik di sebuah villa sejuk di atas gunung, yang sejak pertemuan pertama mereka Barman merasa seolah menjadi lebih muda dan bergairah. Namun, suatu ketika Barman bertemu dengan seseorang, kala itu Barman tengah berjalan di tengah hutan. Orang itu bernama Humam, dan orang tersebut tampak begitu bijak baginya. Sejak pertemuannya dengan Humam, Barman merasakan kebingungan akan hidup dan kehidupan yang dijalaninya. Barman berusaha mencari makna kebahagiaan sebenarnya dari hidup ini. Seseorang yang ia temui di hutan kala itu, kemudian ia anggap sebagai sahabatnya sendiri. Barman belajar banyak darinya. Humam dengan bijaksana menjelaskan makna dari hidup, kebebasan dan kemerdekaan! Beberapa kata bijak yang Humam sampaikan padanya ialah..
Kesenangan itu tak bertambah atau berkurang, Kebahagiaan yang mutlak tidak perlu apapun di luar diri kita. Tinggalkanlah segala milikmu! Apa saja yang menjadi milikmu sebenarnya memilikimu. Dan engkau tidak lagi merdeka. Engkau mengira itu kekuasaan?Tidak! itu membuatmu takhluk, membelenggumu.

Barman merasakan kebahagiaan yang fana, sebuah kehidupan yang tidak layak untuk dijalani. Barman menganggap hidup itu tak ada gunanya. Hidup itu tak masuk akal. Di sisi lain, Poppi juga menjelaskan padanya tentang hidup, ia menyatakan bahwa hidup itu adalah waktu, hidup itu serba memilih, dan saat ini Poppi telah memilih untuk hidup dan menemani Barman tua yang kesepian. Kenangkanlah selalu, engkau masih hidup! Melihat matahari setiap pagi. Selalu setiap pagi.. katakanlah itu pada dirimu,tutur Poppi. Barman bingung menentukan apa yang menjadi tujuan sebenarnya dalam hidup. Ada poppi yang akan selalu ada bersamnya, namun ia juga memikirkan setiap kata-kata bijak yang Humam katakan. Setelah semua yang dikatakan

Hidup menampilkan, Sepotong demi sepotong rahasianya. Sunyi menjadi bermakna. Dan pencarian akan hakikat hidup, Menjadikannya perburuan spiritual yang indah

RIASRI NURWIRETNO 209000053 PSIKOLOGI A


Humam membuat barman berpikir, suatu hari mereka bertemu dan kembali Humam mengatakan bahwa cinta adalah sesuatu yang membelenggu. Poppi, gadis cantik yang dicintainya itu, kebahagiaan kah? Atau.. ia hanya sebuah penjara kehidupan yang membelenggu dirinya, menghambat dirinya dari kebebasan mutlak! Hal ini menyebabkan Barman kembali berfikir berulang kali akan keberadaan Poppi selama ini, ia menjadi muak padanya. Setelah perdebatan batin yang cukup sulit maka Barman ditemani kudanya menerobos semak-semak menuju rumah Humam di atas bukit, Barman bermaksud mengejar sesuatu, kemerdekaan!
Sudah sampai waktunya merenungkan hidup kita.. Kalau kita tak menginginkan apa-apa dari milik kita, maka kita telah membebaskan diri

Namun, sesampainya di rumah sahabatnya itu, Barman menemukan Humam dalam keadaan berbaring, tubuhnya dingin.. Humam mati dalam keadaan bibirnya yang tersenyum. Kata-kata yang masih Barman ingat akan kebijaksanaan Humam menjalani hidup adalah..
Mati.. ialah kalau kita tak lagi punya gerak Aku tak percaya bahwa penderitaan itu ada! Aku hanya percaya mati, dan itu tidak sakit..

Singkat cerita.. Barman mempelajari semua kejadian yang menimpanya. Ia mencoba menafsirkan hidupnya, hidup yang tersendiri..
Kenangannya pada kunang-kunang di sawah menjadi indah. Ya! Akulah kunang-kunang itu! Sendiri..tapi tak jemu berkedip

Barman lalu memutuskan pergi meninggalkan Poppi lalu turun ke pasar bertemu orang-orang disana. Suatu pagi kala orang masih belum terjaga, Barman kembali ke pasar dan mengatakan sebuah kalimat kepada orang yang ditemuinya.. berbahagiakah Engkau?. Kalimat itulah yang selanjutnya menjadikan orangorang di pasar berbondong-bondong menuntut makna kebahagiaan dari hidup yang mereka jalani. Mereka kemudian melakukan perjalanan bersama-sama ke atas bukit untuk menemukan apa yang selama ini mereka cari dan inginkan. Bahkan, Barman sendiri tidak tau apa yang dia inginkan, ia lupa akan kemauannya sendiri. Ditengah pekatnya kabut malam itu, Khotbahnya diatas bukit merupakan akhir dari hidupnya..serta awal dari sebuah kehidupan baru yang lain, sebuah pembebasan diri.. Barman terjun dari atas tebing! Ia telah mengajarkan sesuatu kepada kita. Dan, ia sendiri telah menjadi murid pertama bagi dirinya. Ia sendiri telah menjadi pelaku utama pikirannya. Ia sendiri telah menjadi orang pertama yang diselamatkannya. Dia telah mulai

Hidup menampilkan, Sepotong demi sepotong rahasianya. Sunyi menjadi bermakna. Dan pencarian akan hakikat hidup, Menjadikannya perburuan spiritual yang indah

RIASRI NURWIRETNO 209000053 PSIKOLOGI A


membebaskan diri, dan dialah pertama memperoleh pembebasan itu. Ingatlah apa yang telah diajarkan! Beruntunglah kita! Tidak ada lagi harapan! Tidak ada lagi putus asa! Tidak ada lagi kebahagiaan! Tidak ada lagi kesedihan! Dan yang ada adalah hidup kita, yang sempurna, yang kosong! Inilah pembebasan itu.. Tak ada lagi kenangan! Tak ada lagi masa lampau! Tak ada lagi masa depan! Yang ada ialah masa, yang mutlak! Kita harus bergembira! Sampai waktunya kita tak ada, sampai tak ada waktu bagi kita, tidak ada seorang boleh mengeluh! Atau,mengeluhlah selamanya! Kemudian, Pak jaga terjun ke jurang.. Sebagian orang yang menyaksikan seketika menangis, lalu seseorang berkata.. Menyesallah karena kalian telah menangis! Keberanian, kepengecutan, tak ada lagi artinya. Sama saja! Tukang sapu pun menambahkan... Ketahuilah.. demi hidup yang berakhir dengan kematian! Jangan menyedihi kematian. Barangkali itu akan menimpamu beberapa waktu lagi, sengaja atau tidak. Hidup itu sia-sia yang panjang! Kekosongan yang abadi! Beban kita yang paling besar! Hidup yang menyeret-nyeret, yang tak terpahamkan..

Hidup menampilkan, Sepotong demi sepotong rahasianya. Sunyi menjadi bermakna. Dan pencarian akan hakikat hidup, Menjadikannya perburuan spiritual yang indah