Anda di halaman 1dari 11
TUGAS Paper Agama Islam Polemik Agama Islam serta Pengaruhnya terhadap Kebebasan Individu Oleh : Riasri Nurwiretno

TUGAS Paper Agama Islam

Polemik Agama Islam serta Pengaruhnya terhadap Kebebasan Individu

Oleh :

Riasri Nurwiretno (209000053)

Program Studi Psikologi Fakultas Falsafah dan Peradaban

Universitas Paramadina

Tahun 2010

Polemik

Agama

Islam

serta

Kebebasan Individu

Pengaruhnya

terhadap

PENDAHULUAN

Latar belakang

Agama Islam merupakan salah satu dari lima agama yang diakui di Indonesia. Agama yang dibawa dan disebarluaskan oleh Nabi Muhammad SAW serta para sahabatnya ini dianut oleh mayoritas penduduk di Indonesia. Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir yang diutus oleh ALLAH SWT ditugaskan untuk menyebarkan agama Allah ini serta dikaruniai Kitab Al-quran sebagai penutup dan penyempurna dari Kitab- kitab sebelumnya. Beliau mengamalkan berbagai hal yang terkandung dalam Al-quran serta mengajarkan kepada para pengikutnya, karena itulah Beliau hingga saat ini menjadi suri tauladan bagi kita semua.

Agama Islam kemudian diyakini sebagai agama yang damai, dijelaskan pula dalam Al-quran bahwa membunuh itu tidak dibenarkan dan melakukan kekerasan itu benar-benar dilarang. Namun, lambat laun keyakinan tersebut memudar disertai pertambahan jumlah korban yang meninggal dalam peperangan, atau konflik tertentu antar umat Islam yang bahkan tidak diketaagamai awal penyebabnya secara pasti. Banyak

umat Islam di seluruh dunia telah dinodai atas nama Islam dengan melakukan tindakan dan kekejaman yang tidak memiliki tempat dalam agama Islam. Agama yang diyakini sebagai agama yang paling benar ini justru memperlihatkan adanya polemik antar agama Islam itu sendiri yang akhir-akhir ini semakin mencuat ke permukaan.

Permasalahan

Dua pertanyaan yang kemudian akan dibahas dalam makalah ini adalah :

  • 1. Apa masalah yang terdapat dalam agama Islam?

PEMBAHASAN

Agama Islam sebagai agama ALLAH SWT

Seperti yang sudah dijelaskan pada bab pendahuluan bahwa agama Islam merupakan Agama yang paling dibenarkan oleh Allah SWT, maka perlu dibahas lebih jauh mengenai penyebab dari semakin banyaknya ajaran-ajaran agama baru yang mengakui bahwa ajaran mereka merupakan ajaran yang paling benar. Dengan adanya keyakinan sebagai ajaran yang paling benar ini maka pada akhirnya satu sama lain merasa saling terintimidasi, hal inilah yang kemudian menimbulkan perselisihan, permusuhan serta peperangan. Agama Islam yang diyakini sebagai agama pembawa kedamaian itu kini terpecah belah dan justru tidak memperlihatkan sisi kedamaian bagi umatnya. Ada beberapa faktor yang menyebabkan para pengikut, atau umat agama Allah itu berpecah-belah. Adapun beberapa faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  • 1. Faktor sengaja ingin mengaburkan persoalan agama.

“Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al-An’aam: 137)

  • 2. Faktor tidak mau istiqomah dalam beragama.

“dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena

jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’aam: 153)

  • 3. Faktor menyembunyikan kebenaran risalah Nabi Muhammad saw seperti pada kasus pemimpin-pemimpin agama Yahudi dan Nasrani.

“ataukah kamu (hai orang-orang Yahuadi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?’ Katakanlah: ‘Apakah kamu lebih mengetaagamai ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?’

Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al- Baqarah: 140)

  • 4. Faktor kesombongan.

“Pemuka-pemuka dan kaum Syu’aib yang menyombongkan dan berkata:

‘Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, atau kamu kembali kepada agama kami’.” (QS. Al-’Araaf: 88)

  • 5. Faktor tidak mau berpegang kepada ‘tali’ Allah swt.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan

janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”

(QS. Ali-’Imran: 103)

  • 6. Faktor fanatisme kepada budaya dan tradisi.

“(agama kami) ini tidak lain hanyalah adat kebiasaan orang dahulu.” (QS. Asy-Syu’araa: 137)

7.

Sikap konglomerat (hartawan) yang fanatik dan tidak mempedulikan kaum fukara.

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’.” (QS. Az-Zukhruf: 23)

  • 8. Faktor di masyarakat yang mencintai isteri dan anak, tapi bukan karena Allah swt.

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Thaghabun: 14)

  • 9. Faktor pemalsuan informasi agama untuk tujuan duniawi seperti yang terjadi dalam ajaran Yahudi dan Nasrani.

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat- tempatnya. Mereka berkata: ‘Kami mendengar’, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): ‘Dengarlah’ sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan):

‘Raa’ina’, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: ‘Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami’, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran

mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.” (QS. An- Nisa’: 46)

  • 10. Faktor tidak mau menolong agama Allah swt.

“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong (agama) Allah sebagaimana Isa ibnu Maryam telah berkata kepada pengikut- pengikutnya yang setia: ‘Siapakah yang akan menjadi penolong- penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?’ Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: ‘Kamilah penolong-penolong agama Allah’, lalu

segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan lain kafir; maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh- musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. Ash-Shaff: 14

Selain 10 faktor diatas masih terdapat beberapa faktor lainnya yang pada intinya adalah bahwa perpecahan itu terjadi disebabkan oleh perbuatan yang berasal dari umat agama Allah itu sendiri. Faktor utamanya adalah keengganan mereka untuk mengikuti agama Allah secara keseluruhan. Maksudnya, mereka suka menerima sebagian dari agama Allah itu, tapi merekayasa sendiri sebagian yang lain.

“Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?” (QS. Al-Baqarah: 85)

Dengan kata lain, mereka mengambil satu

bagian

tertentu

dan

membuang yang lain, seperti yang diisyaratkan dalam Al-Qur’an.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.

Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah:

208)

Memaknai Agama Islam dalam konteks kebebasan individu

Jika dikembalikan kepada fungsi Al-qur’an sebagai Kitab sekaligus petunjuk bagi umat Islam, mengapa tidak semua umat Muslim berpegang teguh kepada Al-qur’an? Saya menyadari adanya batasan-batasan dan berbagai aturan tertentu yang harus dipatuhi dalam menganut agama Islam, hal tersebut tentunya tertulis di dalam Al-quran, dan sudah seharusnya dijalankan oleh umat Islam. Namun, saya rasa hal itu justru membatasi kebebasan manusia yang seutuhnya.

Suatu waktu ketika seorang Muslim dihadapkan pada satu persoalan sulit dan hal ini terkait pada moral serta kelangsungan dari agama itu sendiri, bagaimana orang itu harus menyikapinya? Misalnya saja dua orang sahabat yang sudah saling mengenal satu sama lain, mereka berdua memiliki karakteristik yang berbeda. Teman A merupakan seorang muslimah yang baik, sedangkan B seorang yang memiliki pemikiran

liberal dan sama sekali tidak mau mendirikan sholat. Suatu waktu B mengatakan pada A bahwa ia minta diajari sholat, namun sebelumnya B mengajak A untuk pergi ke diskotek terlebih dulu, niatnya adalah agar A tau seperti apa sisi lain dari kehidupan yang selama ini dijalani A. Apabila A berpegang teguh pada nilai-nilai agama tentu saja ia aka menolak hal itu, tapi bukankah ia telah kehilangan satu orang –sahabatnya sendiri- untuk mempelajari ajaran agama islam secara lebih dalam? Jika manusia memang bebas memilih lalu mengapa masih ada konsekunsi? Bukankah hal tersebut justru memperlihatkan ketidakbebasan manusia?

Masih sering terlintas di benak saya berbagai pertanyaan perihal perbuatan baik dan buruk. Sesuatu yang kita anggap baik belum tentu baik dimata orang lain atau bahkan dimata Allah SWT. Begitupun sebaliknya, meski segala sesuatu yang Allah berikan kepada kita di dunia ini merupakan hal-hal yang baik, jika dikembalikan kepada pilihan kehendak masing-masing tentu saja ada yang berpikir hal itu tidak baik. Bagaimana jika perbuatan baik dan buruk itu berjalan beriringan? Karena saya berpikir bahwa perbuatan buruk itu dipilih berdasarkan sesuatu yang dianggap paling baik oleh manusia. Sehingga apapun konsekuensi yang timbul dari perbuatan yang dipilih tersebut harus siap untuk dihadapi, apapun itu, bukankah kalau sudah begitu itu menjadi bagian dari takdir yang sudah Allah tentukan untuk kita?

Sama halnya seperti ketika saya dihadapkan pada sebuah pilihan perihal perbuatan baik dan buruk. Saya sangat menyadari bahwa saya serta sebagian orang mukmin yang lainnya terkadang tidak mau menerima seluruh perintah Allah dan Rasul-Nya, tapi hanya sebagiannya saja. Hal ini bisa saja disebabkan oleh terlalu banyaknya dalil-dalil serta ajaran yang dianggap benar, sehingga kaum Muslim tertentu bingung harus menempatkan diri pada kelompok mana yang dianggap paling benar.

Berdasarkan sumber yang saya baca, terdapat 2 faktor mendasar yang dapat menjelaskan hal ini, yaitu:

Pertama, faktor intelektual, seperti kurang mengetahui, atau tidak adanya pemahaman tentang makrifat Allah, Rasul dan risalah-Nya secara benar. Banyak kaum Muslim yang tidak memahami tentang usagamaluddin atau dasar-dasar agama Islam, seperti 5 pokok keimanan, yaitu: ketuhanan, keadilan, kenabian, kepemimpinan, dan hari kiamat.

Saya ingin memberikan sedikit contoh mengenai pokok ketuhanan. Sebagian orang Muslim, termasuk saya, banyak yang melakukan sholat, tapi sayangnya tidak mengetahui fungsi dan tatacara sholat secara benar. Hal ini mirip seperti orang yang melakukan senam, tapi dia tidak tahu fungsi dan tatacara senam secara benar. Sehingga mereka melakukannya secara semrawut dan akhirnya, senam itu bukan membuat tubuhnya semakin sehat dan kuat, tapi malah membuat ia menjadi lemah dan sakit. Atau dengan kata lain, mereka tahu nama Allah swt, tapi belum mengenal-Nya. Hal ini mirip seperti ibu-ibu yang sering nonton sinetron dan acara gosip di televisi. Mereka tahu nama-nama artis tersebut, tapi secara individu, mereka sendiri tidak pernah mengenal artis-artis tersebut secara langsung. Intinya, mereka tahu Allah swt, tapi tidak mengenal atau tidak memahami ‘siapakah’ Allah swt itu.

Kedua, faktor hati, jiwa atau qalbu yang masih akrab dengan penyakit cinta dunia.

Berdasarkan sumber Al-Jahlu bi Masa’il al-I’tiqaad wa Hukmuhu Abdur Razzaq bin Thahir bin Ahmad Ma’asy Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia, saya mengutip ungkapan Syekh Muhammad Shalih Al-Utsaimin yang mengatakan “Kebodohan sebagai alasan telah

ditetapkan bagi hamba Allah karena Allah telah befirman ‘Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yg harus mereka jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu’. “ . Rasulullah saw bersabda “Demi Dzat yg diriku berada di tangan-Nya tidak ada seorang pun dari umat ini yg mendengar tentang diriku baik yahudi maupun Nashrani kemudian ia tidak beriman kepada

apa yg aku bawa tidak lain ia adalah termasuk penghuni neraka.” Nash- nash yg menjelaskan masalah ini banyak kita temukan. Dengan demikian orang yg tidak mengetahui agama ia tidak akan disiksa karena kebodohannya dalam masalah apa pun dari agama ini.

Kemudian masalah terbesar bagi saya pribadi saya adalah sudah sejauh apa saya mengetahui tentang agama Islam itu sendiri, agama yang notabennya sudah saya anut sejak lahir ini masih begitu gamang di telinga saya. Ketidaktahuan saya akan banyak hal tentang agama menjadikan saya pribadi yang mudah goyah, terombang-ambing oleh berbagai pengaruh yang ada. Meyakini agama yang selama ini memperlihatkan banyak perselisihan terkadang mendorong saya untuk mundur sejenak dan mencoba melihat dari sisi lain yang lebih bijak. Namun, sampai saat ini hal tersebut tidak juga saya temukan. Melihat penjelasan yang disampaikan beliau seolah memberi sedikit cahaya ketenangan pada diri saya tentang memandang, memaknai dan menyikapi agama Islam.

Kesimpulan

PENUTUP

Berdasarkan penjelasan di atas adalah bahwa kebodohan atau ketidaktahuan dalam masalah agama dan orang bersangkutan tidak dapat menghindarinya maka kebodohan itu dapat dijadikan alasan dan dimaafkan sampai datang penjelasan agama baginya. Dalam konteks ini tidak dapat dibedakan apakah kebodohan itu mengenai masalah-masalah agama yang sudah jelas dalil-dalilnya ataupun masalah-masalah lain yg tidak dikenal secara umum .

Saran

Mengetahui bahwa agama islam memiliki banyak nilai, dalil serta ajaran yang berbeda, maka sebagai kaum Muslim sudah sewajarnya mempelajari lebih dalam tentang kandungan Al-quran. Dengan memperdalam pengetahuan tentang kandungan Al-quran kita dapat mengamalkan dan mentaatinya dengan jiwanya dan hartanya dan mencegah dari hal-hal yg telah diharamkan bagi kita. Selain itu kita juga perlu meyakini dan mempercayai masalah-masalah tauhid kenabian dan hari akhir serta masalah halal dan haram yang telah dijelaskan Allah dan Rasul-Nya.