Anda di halaman 1dari 17

Program Analisis Kajian Materi Kesehatan MentalBe Fun in Stress Time

Coping Stress Mahasiswa Psikologi dalam Menghadapi Semester V

Dirancang oleh : Anggi Mustika Elis Yulia Nurul Izzatul Riasri Nurwiretno Tsuwaibah Al Aslamiyah (209000008) (209000130) (209000178) (209000053) (209000248)

Program Studi Psikologi Fakultas Falsafah dan Peradaban

Universitas Paramadina

Tahun 2011
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang 1.2Rumusan Masalah

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1Perkembangan Masa Dewasa Muda (18-25 Tahun) 2.2Masa Transisi Memasuki Perkuliahan 2.3Depresi & Stress 2.4Bagaimana cara me-manage waktu dengan baik (time management) 2.5 Bagaimana mengatur atau me-manage stres yang mereka alami

BAB III

PROGRAM KEGIATAN

3.1 Nama Program 3.2 Tujuan Program 3.4Bentuk Kegiatan dan Langkah-Langkah Pelaksanaan 3.4Waktu Pelaksanaan 3.5Sasaran Kegiatan 3.6 Anggaran Dana dan Material (Sarana dan Prasarana Kegiatan) 3.7 Indikator Keberhasilan Program

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Dalam setiap tahap perkembangan manusia tentunya memiliki bentuk

tugas perkembangan yang berbeda-beda. Seseorang yang memasuki tahap perkembangan Adulthood dengan rentang usia 18-25 tahun memiliki tiga fase yang harus mereka hadapi yakni masa pembentukan, masa konsolidasi dan masa transisi. Namun, tidak selamanya ketiga fase pemenuhan tugas perkembangan ini terlalui dengan sempurna, akan muncul banyak hambatan dalam setiap perjalanan dari masing-masing fase tersebut. Masa-masa itulah yang disebut sebagai masa kritis dimana seorang individu dituntut untuk mampu menghadapi hambatan dari setiap tugas perkembangan yang sedang dilaluinya. Mampu atau tidaknya individu tersebut dalam menghadapi masa kritis menentukan bagaimana individu tersebut akan menghadapi tugas perkembangan selanjutnya, Pada fase pembentukan umumnya seseorang berada di akhir masa sekolah kemudian berlanjut hingga masa-masa transisi memasuki masa perkuliahan. Menjadi seorang Mahasiswa merupakan merupakan salah satu tugas perkembangan dari tahap Adulthood. Selama menjalani masa kuliah tentunya terjadi pergolakan semangat yang cukup fluktuatif. Padatnya jadwal kuliah dan tugas-tugas yang tiada henti, hal ini dapat memicu munculnya stress bagi mahasiswa yang tidak mampu melakukan penyesuaian diri dengan tepatt serta tidak mampu menghadapinya dengan cepat. Salah satu contoh yang menggambarkan ilustrasi diatas yakni perjalanan masa perkuliahan pada Semester V bagi para Mahasiswa Universitas Paramadina, khususnya Mahasiswa Jurusan Psikologi. Berdasarkan diskusi yang kami lakukan dengan beberapa senior Mahasiswa Psikologi di

Universitas Paramadina, baik yang berada pada tahun ketiga masa kuliahnya hingga mahasiswa yang sudah berada di tahun-tahun terakhir masa kuliah, sebagian besar dari mereka mengatakan bahwa Semester V adalah semester terberat sebagai seorang Mahasiswa Psikologi.

Masa-masa kritis menjadi seorang Mahasiswa Psikologi lebih banyak mereka alami ketika menjalani Semester V. Dengan jadwal mata kuliah yang padat serta bobot nilai untuk masing-masing mata kuliah, pengaplikasian bentuk alat test, proses perjalanan pembuatan alat ukur, tugas-tugas yang hilir mudik tiada henti datang silih berganti untuk segera dikerjakan, tutoring yang harus mereka ikuti dengan mengurangi satu hari dari jadwal weekend mereka, ditambah lagi rutinitas kesibukan dari organisasi yang mereka geluti. Dari asumsi tersebut kemudian muncul persepsi, rasa takut dan was-was bagi mahasiswa Psikologi tingkat satu dan dua yang kelak akan menghadapi masa-masa kritis dari semester V seperti yang telah dipaparkan diatas. Padahal jika ditarik mundur ke belakang, Mahasiswa Psikologi sendiri telah mempelajari mengenai stress serta bagaimana menghadapinya (coping stress). Namun, seringkali mahasiswa justru tidak mampu menerapkan hal tersebut untuk dirinya sendiri. Untuk itu kami buat program yang diharapkan mampu mengokang semangat belajar Mahasiswa Psikologi Universitas Paramadina khususnya pada Semester V. Program ini merupakan salah satu tindakan preventif dalam menghadapi masa-masa kritis pada Semester V serta meminimalisir kemungkinan terjadinya stress selama menjalani masamasa kritis tersebut.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan, maka kami mencoba

melakukan identifikasi terhadap masalah tersebut diatas. Berikut ini adalah perumusan masalah yang kami harapkan dapat diselesaikan dengan adanya program BE Fun in Stress Time ini, antara lain: 1. Apa yang dimaksud dengan stress? Kemudian bagaimana cara

menghadapinya?

2. Bagaimana Paramadina?

cara

yang

tepat

untuk

menghadapi

masa-masa

kritis

perkuliahan pada Semester V bagi Mahasiswa Psikologi Universitas

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perkembangan Masa Dewasa Awal (18-25 tahun)

Vaillant (dalam Papalia, dkk, 1998) membagi fase dewasa menjadi tiga, yaitu masa pembentukan, masa konsolidasi dan masa transisi. Masa pembentukan dimulai pada usia 20 sampai 30 tahun dengan tugas perkembangan mulai memisahkan diri dari orang tua, membentuk keluarga dengan pernikahan dan mengembangkan persahabatan. Masa konsolidasi, usia 30 sampai 40 tahun merupakan masa konsolidasi karier dan memperkuat ikatan perkawinan, sedangkan masa transisi sekitar usia 40 tahun merupakan masa meninggalkan kesibukan pekerjaan dan melakukan evaluasi terhadap hal yang telah diperoleh. Pada umumnya kita menganggap bahwa cara berpikir masa dewasa berbeda dengan masa anak-anak atau remaja. Mereka memiliki berbagai perbedaan baik dalam percakapan, pemahaman pada sesuatu yang lebih kompleks dan menggunakan pengalamannya dalam memecahkan permasalahannya. Cara berpikir masa dewasa seringkali muncul secara fleksibel, terbuka, adaptif dan individualistik. Hal ini menggambarkan bahwa fungsi intuisi dan emosionalnya sama baiknya dengan logika dalam menghadapi dunia yang nampak terkesan semrawut. (Papalia, dkk, 2003) Berkaitan dengan hal tersebut, meskipun Piaget menyebutkan bahwa tahapan paling tinggi dalam perkembangan adalah formal operasional konkrit, beberapa ilmuwan perkembangan menyebutkan bahwa terdapat tahapan yang lebih tinggi setelah formal operasional konkrit, yaitu postformal

thought. Postformal thought bersifat relatif. Pemikiran yang belum dewasa masih melihat sesuatu dalam konteks abu-abu yaitu hitam atau putih (benar atau salah), pikiran atau perasaan, jiwa atau badan. (Papalia, dkk, 2003) Jan Sinnott (1984, 1998) telah mengajukan beberapa kriteria umum dari tahap postformal thought, diantaranya: a. Shifting gears Pada tahapan ini seseorang memiliki kemampuan mengubah sesuatu secara mundur (ke belakang) ataupun maju (ke depan) antara alasan abstrak (abstract reasoning) dan praktis, pertimbangan hal-hal yang mungkin terjadi di dunia nyata. Contoh : Pekerjaan ini hanya memungkinkan untuk ditulis dalam sebuah tulisan (kertas) tapi tidak dapat direalisasikan.

b. Multiple causality dan multiple solutions. Pada tahapan ini seseorang memiliki kesadaran bahwa masalahmasalah yang terjadi dikarenakan oleh banyak penyebab yang juga memiliki banyak alternatif solusi. Contoh : Selesaikan pekerjaanmu itu dengan caramu dahulu, jika itu tidak membuahkan hasil, maka kamu dapat mencobanya dengan melakukan caraku. c. Pragmatism Pada tahapan ini seseorang memiliki kemampuan untuk memilih solusi yang terbaik dan menentukan kriteria-kriteria dalam melakukan suatu pemilihan. Contoh: Jika kamu ingin menyelesaikan pekerjaanmu dengan lebih cepat, maka selesaikan dengan cara yang itu. d. Awareness of paradox Pada tahapan ini seseorang memiliki kesadaran akan sesuatu yang berlawanan. Contoh : Mengerjakan hal ini mungkin dapat memberikan sesuatu yang kamu inginkan, tapi ini akan membuatmu

Postformal Thingking sesuai dengan berbagai informasi yang ada pada konteks sosial. Tidak seperti penelitian Piaget, yang mengembangkan fenomena fisik dan memerlukan ketidakberpihakan, observasi dan analisi yang objektif, dilema-dilema sosial yang kurang terstruktur dengan jelas dan rentan dengan emosi. Hal tersebut ada pada beberapa situasi pada dewasa dalam tahap postformal thought. (Berg & Klaczynski, 1996; Sinnot, 1996, 1998 dalam Papalia, dkk, 2003) K. Warner Schaie (1977-1978) mengajukan suatu model rentang hidup dari perkembangan kognitif. Model Schaie fokus dalam mengembangkan kegunaan intelektual dalam konteks sosial. 7 (tujuh) tahapan kognitif Schaie meliputi: a. Tahap Akuisitif (Anak-anak dan remaja) Merupakan tahap pertama dimana anak-anak dan remaja mempelajari informasi dan keterampilan secara lebih luas untuk kepentingan mereka sendiri atau sebagai persiapan untuk partisipasi dalam lingkungan sosial.

b. Tahap Penghargaan/Prestasi (20-30 tahun) Merupakan tahapan kedua dimana seseorang (dewasa awal) menggunakan pengetahuan untuk mencapai kompetensi dan kebebasannya. Contoh : Karir dan keluarga c. Tahap Tanggung Jawab (30-60 tahun) Merupakan tahapan ketiga dimana seseorang (paruh baya) diperhatikan dengan rentang waktu masalah pencapaian dan tujuan yang berhubungan dengan tanggung jawabnya dengan orang lain. Contoh : Anggota keluarga dan pegawai. d. Tahap Eksekutif (30-40 tahun) Merupakan tahapan ketiga dimana seseorang (paruh baya) bertanggung jawab untuk sistem sosial yang sesuai dengan hubungan yang kompleks.

e. Tahap Reorganisasi (awal dewasa akhir) Merupakan tahapan kelima dimana seseorang (dewasa)

memasuki masa kemunduran dan mereorganisir kehidupannya tanpa aktifitas yang berhubungan dengan pekerjaan. f. Tahap Reintegratif (dewasa akhir) Merupakan tahap keenam dimana seseorang (dewasa akhir) memilih untuk fokus pada energinya yang terbatas pada tugastugas yang berarti untuk mereka. g. Tahap Legacy-creating (masa tua) Merupakan tahapan ketujuh dimana seseoranga yang sangat tua mempersiapkan kematiannya dengan merekam cerita hidupnya, membagi-bagikan barang-barang miliknya dan sesuatu yang disukainya.

2.2 Masa Transisi Memasuki Perkuliahan Pada masa ini hampir semua siswa lulus dari sekolah tinggi berharap untuk melanjutkan studi mereka dan hampir dua dari tiga orang langsung melanjutkan ke Perguruan Tinggi, jika dibandingkan dengan tahun 1972 hanya sekitar satu dari dua yang melanjutkan ke Perguruan Tinggi (Intisari NCE Statistik Pendidikan dalam Papalia, 2003). Adapula yang tidak mendaftar dalam pendidikan postsecondary, atau tidak selesai sekolah memilih untuk memasuki pasar tenaga kerja, tetapi kembali beberapa waktu kemudian untuk menyelesaikan sekolah mereka (Papalia, 2003). Bagi kaum muda dalam transisi dari remaja ke dewasa, paparan lingkungan pendidikan atau lingkungan kerja baru, kadang-kadang jauh dari kehidupan masa kecil, menawarkan kesempatan dari kemampuan Anda, melihat suatu peristiwa ataupun masalah yang rumit dan mencoba melihat dunia dengan cara yang berbeda. (Papalia, 2003) Perguruan Tinggi merupakan wilayah untuk penemuan intelektual dan peningkatan diri. Siswa berusaha menanggapi perubahan kurikulum, menawarkan wawasan baru dan cara-cara baru untuk berpikir, sebagai

tantangan untuk siswa mengenai pandangan lama yang dipegangnya serta nilai-nilai dan budaya siswa, yang berbeda dari budaya masyarakat pada umumnya, dan juga anggota fakultas, yang memberikan model peran baru. Siswa mencapai komitmen dalam relativisme, mereka membuat penilaian mereka sendiri dan memilih keyakinan mereka sendiri dan nilai-nilai meskipun ketidakpastian dan kemungkinan pengakuan sah dari yang lainnya, hal ini merupakan pemikiran aspek kunci postformal (Papalia, 2003). Jadi, siswa dapat diajarkan untuk menggunakan pikiran postformal? Sinotte (dalam Papalia, 2003) mencoba mengembangkan metode khusus untuk tentang melakukannya. makna Menciptakan bertukar sistem pikiran pengarsipan, bagaimana dengan merancang sebuah proyek penelitian, membahas pertanyaan mendasar kehidupan, bersama-sama argumen dalam ruang sidang pengadilan, mengejek dan untuk menemukan Triny beberapa penjelasan cara. Cukup banyak instruktur dapat membantu siswa menyadari bahwa ada lebih dari satu cara untuk memeriksa dan memecahkan masalah, menghargai logika bersaing, dan untuk melihat kebutuhan utama untuk sebuah komitmen (Papalia, 2003).

2.3 Depresi & Stress Stres didefinisikan sebagai tanggapan atau proses internal atau

eksternal yang mencapai tingkat ketegangan fisik dan psikologis sampai pada batas atau melebihi batas kemampuan subyek (Cooper, 1994).Oleh karena itu, stres bersifat individual dan dapat menimbulkan gangguan pada psikologi dan fisiologis seseorang, jika stres terjadi dalam jangka waktu yang lama dan terus menerus. Namun, stresor (stimulus stres) tidak selalu mengakibatkan gangguaan secara psikologis maupun fisiologis. Terganggu atau tidaknya individu juga tergantung pada presepsinya dan penilaiannya terhadap situasi dan kemampuannya untuk mengahapi stressor itu sendiri. Terkait dengan tahap perkembangan pada masa adulthood, dan

seringkali permasalahan yang dihadapi pada

tahapan ini adalah stres

mengenai perkuliahan, kecemasan akan pekerjaan, percintaan,

keluarga. tahap takut

Pada

tahap

adulthood, Keintiman dirinya.

apabila adalah

kita

bahas

dengan untuk juga

menggunakan teori Erik-erickson maka masa adulthood masuk padah intimacy-isolation. kehilangan identitas kemampuan yang matang mencampurkan identitas seseorang dengan identitas orang lain tanpa Keintiman merupakan kemampuan dan kesediaan berbagi rasa percaya diri yang timbal-balik. Ini melibatkan pengorbanan, kompromi, komitmen dalam sebuah hubungan antara dua pihak yang setara. Hal ini seharusnya telah dimiliki oleh orang-orang yang ingin menikah, tetapi pada kenyataannya pada kasus menikah muda tidak memiliki keintiman karena individu yang menikah muda memiliki kegagalan dalam hal pencarian identitas yang mereka bangun selama masa remaja. Hal ini membuktikan pentingnya melewati masa-masa kritis pada setiap tahapannya yang apabila tidak terpenuhi dapat berakibat membuat individu mengalami stres dan sebaliknya apabila masa kritis ini dapat dilewati akan membuat individu merasa lebih bahagia. Ini merupakan salah satu penyebab stress dalam dunia percintaan yang dialami individu dalam tahap adulthood. Sedangkan lawan dari keintiman adalah isolasi, yang artinya ketidakmampuan mengambil kesempatan-kesempatan yang ditawarkan identitas seseorang dalam berbagi keintiman yang benar. Beberapa orang pada tahap dewasa awal ini mungkin berhasil secara finansial, atau sosial. Namun, pada pada kenyataannya tetap saja akan mengalami kekhawatiran akan dunia pekerjaan. Inilah salah satu penyebab stres pada tahap adulthood akan dunia pekerjaan. Selain itu, adapun penyebab stres yang seringkali terjadi pada tahap adulthood ini yaitu pada masa perkuliahan. Masa-masa perkuliahan biasanya sangat identik dengan organisasi dan tugas-tugas kuliah. Tugastugas kuliah yang diberikan biasanya terdiri dari berbagai macam jenis, seperti membuat makalah, penelitian, presentasi, analisa kasus, dll. Bentuk dan cara pengerjaan tugas-tugas kuliah itu juga beragam yaitu dapat berupa tugas berkelompok atau tugas mandiri. Setiap tugas kuliah yang diberikan oleh setiap dosen memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Namun, Dengan pada semakin berkembangnya tidak sedikit teknologi, seharusnya mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. kenyataannya,

mahasiswa yang pada akhirnya menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya sampai pada menit-menit terakhir waktu pengumpulan tugas. Hal inilah yang membuat mahasiswa cemas, bahkan sampai stres, yang dapat menimbulkan keluhan-keluhan fisik seperti sakit perut, keringat dingin, pusing, dan lain-lain. Banyaknya tuntutan tugas yang dimiliki mahasiswa sehingga tidak jarang para mahasiswa begadang ditemani dengan secangkir kopi, cemilan, dan lain-lain yang dapat membantu mereka untuk tetap terjaga. Sebenarnya, begadang dapat menimbulkan stres karena ritme pada tubuh kita mengalami perubahan sehingga waktu terjadi

ketidakseimbangan pada sistem tubuh kita. Seharusnya tubuh sudah beristirahat pada jam tertentu di waktu malam namun karena begadang, tubuh dipacu untuk terus terjaga dan menyelesaikan tugas kuliah. Jika hal ini terus menerus berlanjut, maka sistem kekebalan tubuh para mahasiswa akan menurun dan mereka akan sakit. 2.6Bagaimana cara me-manage waktu dengan baik (time management).

Dengan mengadakan seminar yang membahas mengenai kedua topik tersebut (coping strategy dan time management), kami berharap para mahasiswa tersebut dapat mengetahui, memahami dan mempraktikkan coping strategy yang sesuai dengan dirinya masing-masing sehingga mereka dapat lebih mudah dan cepat mengambil tindakan yang harus dilakukan apabila stres menghampiri. Selain itu dengan diadakan pengertian mengenai time management, kami berharap semoga mahasiswa dapat menyadari akan pentingnya mekanisme pengaturan waktu dalam menghadapi tugas-tugas yang menumpuk. Time management ini diadakan dengan maksud mengurangi mahasiswa yang biasa mengerjakan tugas di akhir masa deadline dan kebiasaan begadang yang dapat mengganggu kestabilan emosi, menyebabkan kecemasan, dll.

2.7Bagaimana mengatur atau me-manage stres yang mereka alami. Dalam mengatur stres yang dialami ini dikenal suatu istilah coping strategy. Menurut Zainun Mutadin, SPsi., MSi., coping strategy merupakan

suatu proses dimana individu berusaha untuk menangani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Terdapat dua bentuk coping, yaitu: a. Problem-focused coping Merupakan usaha mengatasi stress dengan cara melakukan tindakan langsung yang bersifat konstruktif terhadap situasi sumber stres itu (berhubungan dengan stres yang dapat dikontrol). b. Emotion focused coping Merupakan usaha mengelola emosi yang terjadi karena situasi yang dihadapi (berhubungan dengan stres yang tidak dapat dikontrol).

BAB

III

PROGRAM KEGIATAN

3.1

Nama Program Program yang akan kami laksanakan ini bernama Be Fun in Stress Time

3.2

Tujuan Program Tugas-tugas yang menumpuk baik berupa makalah, penelitian,

presentasi, analisa kasus, dll dengan bentuk tugas yang beragam (kelompok ataupun individu) dan dengan tingkat kesulitan yang beragam pula, membuat kami tergerak untuk membuat suatu seminar yang ditujukan untuk mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di semester V pada Mahasiswa program studi Psikologi Universitas Paramadina. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah: 1. Memberi informasi lebih dalam lagi tentang stres dan juga coping stress yang sebelumnya sudah dipelajari oleh mahasiswa di kelas. 2. Memberi penjelasan mengenai beberapa coping stress yang baik untuk menghadapi perkuliahan yang padat dan juga tugas yang banyak. 3. Membantu mahasiswa meringankan stres yang menimpanya

3.3

Bentuk Kegiatan dan langkah-langkah Pelaksanaan Kegiatan dilakukan dalam bentuk seminar mengenai coping stress

menghadapi kuliah yang padat dan juga tugas yang banyak dalam jangka waktu yang pendek. Seminar ini diisi oleh beberapa psikolog yang ahli dalam bidang coping stress dan di hadiri oleh sebagian besar mahasiswa psikologi semester V tapi juga dibuka untuk mahasiswa psikologi di semester lainnya.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi oleh psikolog mengenai stress, penyebab, dan cara menghadapinya. Psikolog akan menjelaskan materinya didampingi oleh moderator, notulen, dan satu bagian teknis yang mengurus peralatan yang dibutuhkan psikolog untuk memberikan ceramah.

Setelah pemaparan materi, dibuka dua sesi tanya jawab dari peserta seminar. Pada setiap sesi, masing-masing terdiri dari tiga pertanyaan yang nantinya boleh disanggah atau ditambahkan oleh peserta lainnya yang merasa jawaban psikolog kurang memuaskan. Sebelum kegiatan berakhir, psikolog akan memberikan sebuah terapi ringan yang dapat menghilangkan stress. Terapi ini diharapkan dapat juga dilakukan oleh peserta sendiri di saat mereka merasa dalam kondisi stress sehingga mereka dapat mengatasi stress yang dapat menghambat jalannya perkuliahan atau tertundanya tugas yang harus mereka selesaikan.

3.4

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan seminar ini akan dilaksanakan pada: Hari, tanggal Waktu Tempat : Rabu, 5 Oktober 2011 : 13.00 - 17.00 WIB : Auditorium Nurholis Majid, Universitas Paramadina

3.5

Sasaran Kegiatan Bagi para mahasisiswa yang biasa mengerjakan tugasnya di akhir-akhir

batas waktu deadline (deadliners), tugas-tugas yang semakin hari semakin bertambah dan beragam akan membuat mereka merasa kewalahan dan bahkan ada yang angkat tangan untuk mengerjakan tugasnya. Semakin dekat waktu pengumpulan tugas mereka akan semakin terlihat sibuk berkonsentrasi, terlihat semakin cemas, jantung berdebar-debar dan bahkan keluar keringat dingin. Hal ini disebabkan karena kita memberikan respon terhadap stressor, hormone adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah

dalam tubuh. Hormon tersebut akan membuat jantung berdetak lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, ritme pernapasan dan metabolism tubuh. Pembuluh darah terbuka lebar sehingga otot tubuh menjadi tegang. Gejala fisik yang timbul meliputi perasaan terburu-buru, cemas, perut tidak enak, sakit kepala dll. ( Mengatasi Stress dalam , 2008) Reaksi-reaksi yang dialami oleh mahasiswa tersebut pula melibatkan reaksi emosional terhadap stres seperti ketidaksabaran, perasaan ingin menangis, kesulitan tidur serta perubahan pola makan. Reaksi secara kognitif terhadap stressor pun terlihat dari sulitnya mereka untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas, kurang dapat memperhatikan detail, kurang kreatif dan produktif,penglihatan kabur, serta menjadi pelupa. ( Mengatasi Stres dalam , 2008) Dalam menyelesaikan tugasnya, tidak sedikit dari mahasiswa yang tidurnya tidak teratur bahkan begadang tiap harinya. Hal ini juga dapat memicu mereka mengalami stres karena ritme tubuh yang berubah menyebabkan ketidakseimbangan pada sistem di dalam tubuh. Tidak sedikit pula dari mereka yang begadang sambil dengan minum kopi. Padahal kopi juga dapat menjadi sumber stres. Seseorang yang mengkonsumsi kopi dalam jumlah banyak akan mengalami kecemasan, diare, lekas marah, denhyut jantung tidak beraturan dan kesulitan untuk zat dan berkonsentrasi. dan tiroid hormone Hal ini disebabkan meningkatkan karenakafein pengeluaran merupakan asam perangsang dapat yang

lambung

menimbulkan kegelisahan dan dapat ,menyebabkan ginjal bekerja lebih keras karena bertindak sebagai diuretik. ( Mengatasi Stress dalam , 2008) Berdasarkan masalah-masalah dan keluhan-keluhan tersebut, kami ingin mengadakan suatu seminar untuk membantu mereka (mahasiswa psikologi semester V Universitas Paramadina) dalam mengatasinya. Adapun seminar tersebut membahas mengenai : . ( Mengatasi Stress dalam , 2008)

3.6

Anggaran Dana Program dan Material (Sarana dan Prasarana

Kegiatan) Description Psikolog (1 orang) Amount (IDR) 1.000.000

Snack (70 orang) Souvenir (Speaker) Dokumentasi

350.000 500.000 200.000 200.000 2.250.000

Administrasi Jumlah

Sedangkan material yang dibutuhkan pada seminar kali ini, yaitu: 1. Alat tulis 2. Sound Sistem 3. Proyektor 4. Aula 5. Laptop 6. Kursi untuk peserta 7. Satu set meja dan kursi untuk Psikolog, moderator, dan notulen 8. Satu set meja dan kursi untuk teknisi

3.7

Indikator Keberhasilan Program

Program ini dapat dikatakan berhasil ketika: 1. Mahasiswa mampu menangani masalah dengan perkuliahan yang mereka hadapi. 2. Mahasiswa mampu melakukan coping stress untuk menghadapi

permasalahannya selama perkuliahan. 3. Rata-rata meningkat. nilai IPK mahasiswa psikologi paramadina semester 5

DAFTAR PUSTAKA Marswendy, Brian (Pntj). 2009. Human Development: Perkembangan Manusia. Edisi ke-10. Jakarta: Penerbit Salemba Humanika Papalia, Diane E., Sally W.O, &Ruth D.F. 2003. Human development 9th Ed. New York: McGraw-Hill