Anda di halaman 1dari 20

Peranan Orangtua dalam Pendeteksian Dini Gejala Anak Penderita ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder)

Oleh:
RIASRI NURWIRETNO 209000053

Program Studi Psikologi Fakultas Falsafah dan Peradaban Universitas Paramadina Tahun 2010
1

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Gangguan Attention Deficit Hiperactivity Disorder merupakan salah satu kelainan mengenai gangguan perilaku yang sering dijumpai pada anak. Gejalanya berawal dari masa kanak-kanak kemudian dapat berlanjut ke dewasa. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikasi. Tanpa adanya perawatan, maka anak penderita ADHD akan sangat mungkin menyebabkan permasalahan serius baik di rumah, sekolah, pekerjaan dan interaksi sosial di masyarakat nantinya. Angka kejadian gangguan ini adalah sekitar 3 10%, di Ameriksa Serikat sekitar 37%, sedangkan di negara Jerman, Kanada dan Selandia Baru sekitar 5-10%. Diagnosis and Statistic Manual (DSM IV) menyebutkan bahwa persentase kejadian ADHD pada anak usia sekolah berkisar antara 3 - 5% (judarwanto, 2009: 2). Di Indonesia angka kejadiannya masih belum mendapatkan angka yang pasti, sebab belum pernah dilakukan penelitian untuk hal ini, meskipun pada kenyataannya gangguan ini cukup banyak terjadi. perilaku anak ini lebih tinggi dibandingkan dengan Amerika Serikat. ADHD merupakan suatu gangguan perkembangan pada anak-anak yang Akan tetapi, kita ketahui bahwa di Indonesia faktor-faktor yang menyebabkan hambatan pada perkembangan

menampakkan gejalanya sebelum anak berusia tujuh tahun. Ketika anak beranjak dewasa gangguan ini bisa saja menetap. Diperkirakan sekitar 15-20% penderita ADHD akan menetap, sekitar 65% masih mengalami sisa gejala saat usia dewasa atau bisa juga menghilang secara perlahan. Angka kejadian penderita ADHD saat dewasa sekitar 2-7% (judarwanto, 2009: 2). Seringkali anak penderita ADHD hanya dicap sebagai anak nakal atau anak bandel dan bodoh. Sehingga pada akhirnya si anak tidak memperoleh penanganan yang tepat, seperti kekerasan yang dilakukan oleh orang tua dan guru. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman dan perhatian mengenai gangguan ADHD, baik dari orang tua maupun guru. Oleh karena itu, bagi para orang tua dan guru diperlukan adanya pemahaman mengenai gangguan ini. Terutama bagi orang tua anak sebagai orang terdekat mereka, karena sudah

menjadi keutamaan bagi orang tua untuk memahami dan memberi perhatian kepada anaknya. Peran orang tua terkait pada pentingnya pendeteksian dini gejala anak penderita ADHD. Deteksi dini menjadi faktor yang sangat penting sebab hal itu dilakukan untuk meminimalisir gejala dan akibat yang dapat ditimbulkan dikemudian hari. Disamping itu, pendeteksian dini juga berguna untuk mengevaluasi perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak penderita ADHD sehingga dapat segera dilaksanakan penanganan yang tepat.

1.2 Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Menjelaskan gejala-gejala yang tampak pada anak penderita ADHD

2. Menekankan pentingnya peranan orang tua dalam pendeteksian dini gejala anak
penderita ADHD 3. Menjelaskan proses persiapan pemilihan sekolah pada anak penderita ADHD

1.3 Ruang lingkup masalah Seperti yang sudah disampaikan pada bagian latar belakang, ADHD ini bisa saja menetap ketika anak beranjak dewasa, meski gejalanya sudah tampak sebelum anak berusia tujuh tahun. Karena itulah, dalam hal ini orang tua sebagai orang terdekat mereka diharapkan memiliki pemahaman yang cukup baik, sebab jika tidak segera ditangani dengan penanganan yang tepat gangguan ini akan berakibat buruk dikemudian hari. Kemudian dalam kasus ini yang menjadi pertanyaan adalah :

1. Apa yang perlu orang tua ketahui dalam mendeteksi gejala anak penderita
ADHD?

2. Sejauh apakah peranan orang tua dalam melakukan pendeteksian dini kepada
anak-anak mereka?

3. Lalu yang terakhir, bagaimana penanganan orang tua untuk mempersiapkan


anak mereka yang menderita ADHD agar dapat diterima di sekolah reguler seperti anak-anak normal pada umumnya? Kurangnya pemahaman dan perhatian orang tua dalam pendeteksian dini gejala ADHD tentunya berdampak pada keterlambatan penanganan gangguan tersebut. Pendeteksian dini terhadap gejala anak penderita ADHD ini kemudian akan berlanjut kepada penanganan yang akan diberikan. Bukanlah hal yang sepele menentukan jenis penanganan yang tepat bagi anak penderita gangguan ini serta mempersiapkan mereka sejak dini untuk

memasuki masa sekolah. Sebab, sebisa mungkin anak penderita ADHD dipersiapkan untuk dapat masuk sekolah dengan jalur pendidikan formal.

1.4 Dasar teori Self fullfiling prophecy merupakan ramalan yang dengan satu dan lain cara menyebabkan ramalan itu sendiri benar-benar terjadi (Baron& Byrne, 2004) Teori tersebut saya pilih karena keterkaitan pada pentingnya pemahaman dan perhatian orang tua dalam mendeteksi gejala anak penderita ADHD yang bertujuan untuk mengurangi adanya kemungkinan salah diagnosa. Sebab, umumnya anak yang nomal juga seringkali terlihat sangat aktif, meski tidak mengalami gangguan ADHD. Tanpa pemahaman yang cukup maka dengan mudahnya lingkungan atau guru di sekolah akan melabel anak ini sebagai anak hiperaktif. Label ini akan melekat pada diri si anak, dengan pengulangan atau penguatan yang diberikan kepada si anak maka cepat atau lambat label ini akan masuk ke belief system anak, sehingga akhirnya akan menjadi identity. Kalau sudah menjadi identity maka hal tersebut akan sulit diubah. Identity inilah yang kemudian disebut sebagai suatu hal yang bersifat self fullfiling prophecy.

BAB II ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder)


2.1 Pengertian ADHD ADHD merupakan singkatan dari Attention Deficit Hiperactivity Disorder, suatu kondisi yang pernah dikenal sebagai Attention Deficit Disorder (Sulit memusatkan perhatian), Minimal Brain Disorder (Ketidak beresan kecil di otak), Minimal Brain Damage (Kerusakan kecil pada otak), Hyperkinesis (Terlalu banyak bergerak / aktif), dan Hyperactive (Hiperaktif). ADHD dapat diterjemahkan dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau GPPH. Gangguan ini merupakan gangguan pada anak yang dapat terlihat pada masa perkembangan dini yakni sebelum usia tujuh tahun (Permadi, 2007: 1). Sejak dua puluh tahun belakangan ini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas atau dapat disingkat GPPH sering disebut sebagai ADHD (Attention Deficit Hiperactivity Disorder). Secara sederhana dapat dikatakan bahwa ADHD adalah suatu kondisi dimana seseorang memiliki masalah perhatian dan pemusatan terhadap kegiatan. Seorang anak yang menderita ADHD memiliki rentang waktu perhatian yang lebih singkat dibandingkan dengan teman-teman seusianya. Gangguan ini juga biasanya diikuti dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang empulsif. ADHD mungkin suatu istilah yang oleh sebagian kalangan masih cukup awam. Berawal dari hasil penelitian oleh Prof. George F. Still, seorang dokter Inggris pada tahun 1902, mengenai gangguan ini. Berdasarkan penelitian yang dilakukan kepada sekelompok anak yang menunjukkan suatu ketidakmampuan abnormal untuk memusatkan perhatian ini menunjukkan bahwa anak-anak itu mengalami kekurangan yang serius dalam hal kemauan. Anak-anak tersebut juga menunjukkan rasa gelisah dan resah. Hal tersebut berasal dari bawaan biologis anak yakni adanya sesuatu di dalam diri si anak, bukan karena faktorfaktor lingkungan1 .
1

Putri, Nitya Harinda. ADHD keterlambatan tumbuh-kembang anak . http://www.nityabersama .co.cc/2008/11/adhd-keterlambatan-tumbuh-kembang-anak.html, hal 9 diakses pada 29 Juli 2010 pukul 13.37

Sebuah makalah yang berjudul Your Child and ADHD menjelaskan pengertian sekaligus penyebab ADHD sebagai berikut2 : ADHD is a hereditary brain disorder that interferes with the way a person processes information. If you or your spouse have ADHD, your child has about a 60% chance of having it too. If you both are ADHD, your child has almost a 95% chance of having it. ADHD runs in families. ADHD is a physical problem. Children are born that way. ADHD does not come from bad parenting or poor environments. Scientists in Israeli have actually identified two of the genes that may cause ADHD. Dr. David Fassler reported before a recent meeting of the American Medical Society, ADHD is a very active area of research. There is a clear genetic component. We are getting closer and closer to understanding the biological basis. Neuro-imaging suggests differences in brain structure. Sampai saat ini belum ditemukan satupun penyebab biologis dari ADHD. Tetapi dari kebanyakan penelitian yang telah dilakukan, hasilnya mengarah kepada gen yang diturunkan dari orang tua sebagai penyumbang utama terjadinya ADHD. Seperti hal yang sudah disebutkan diatas, apabila salah satu dari orang tua menderita ADHD, maka 60% kemungkinan anak akan menderita gangguan yang sama. Bahkan 95% anak akan menderita ADHD jika kedua orang tuanya memiliki kondisi tersebut. 2.2 Jenis ADHD ADHD merupakan gangguan dengan kondisi yang amat kompleks, para ahli mempunyai perbedaaan pendapat akan hal ini. Mereka membedakan jenis ADHD berdasarkan tipe berikut ini (Permadi, 2007: 1).: 1. Tipe sulit konsentrasi Tipe anak sulit konsentrasi tidak mampu memusatkan perhatian, mereka akan sangat mudah terganggu perhatiannya. Tipe ini kebanyakan terjadi pada anak perempuan. Mereka seringkali melamun dengan pikiran yang mengawang-awang. 2. Tipe Hiperaktif-impulsif

Aspen Education Group. Your Child and ADHD, A Guide for Parents. n.p: (t.th), 3

Tipe anak Hiperaktif-impulsif menunjukkan gejala yang sangat hiperaktif dan impulsif, tetapi tidak bisa memusatkan perhatian. Tipe ini seringkali ditemukan pada anakanak kecil. 3. Tipe kombinasi Tipe gabungan mereka sangat mudah terganggu perhatiannya, hiperaktif dan impulsif. Kebanyakan anak anak termasuk tipe seperti ini.

2.3 Karakteristik anak penderita ADHD Kita mungkin pernah melihat beberapa bentuk perilaku seorang anak yang tidak pernah bisa duduk diam di dalam kelas, selalu saja bergerak ; atau anak-anak yang melamun saja di kelas, tidak dapat memusatkan perhatian kepada proses belajar dan cenderung tidak bertahan lama untuk menyelesaikan tugas; atau seorang anak yang selalu bosan dengan tugas yang dihadapi dan selalu bergerak ke hal lain. Lebih mudahnya kita dapat melihat ciri-ciri yang khas dari ADHD, antara lain3: 1. Selalu bergerak, dan gerakan-gerakannya tidak beraturan, tidak terkontol serta tanpa sebab yang jelas 2. Sering lupa terhadap segala hal, disebabkan kurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi sehingga hal tersebut kurang pula diperhatikannya 3. Sering bingung tanpa sebab yang kuat 4. Kelabilan emosi, cenderung gelisah, resah, dan tidak tenang 5. Kecenderungan mengganggu orang lain. Ciri-ciri perilaku diatas mewarnai berbagai situasi anak penderita ADHD dan kemungkinan dapat berlanjut hingga dewasa. Selain ciri yang sudah disebutkan diatas, terdapat ciri-ciri lain yang seringkali menyertai anak dengan gangguan ini, beberapa diantaranya ialah4 : 1. Kemampuan akademik tidak optimal 2. Kecerobohan dalam hubungan sosial 3. Kurangnya kewaspadaan dalam menghadapi situasi yang berbahaya 4. Sikap melanggar tata tertib secara impulsif

3 4

Putri, loc.cit.,11 Ibid

Namun, ciri-ciri diatas tidak dapat mewakili keseluruhan diagnosa untuk menentukan bahwa seorang anak mengalami ADHD. Penentuan diagnosa harus dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut yang dilakukan oleh psikolog/profesional dibidangnya. Pada bab selanjutnya akan dibahas mengenai gejala-gejala anak penderita ADHD yang perlu diketahui sebagai bekal untuk dapat melakukan pendeteksian dini terhadap gangguan ini.

BAB III PERANAN ORANG TUA DALAM MENANGANI ANAK PENDERITA ADHD
Pendeteksian dini gejala anak penderita ADHD Deteksi dini mengenai gejala anak penderita ADHD merupakan suatu hal yang sangat penting. Dengan dilakukannya dari anak pendeteksian penderita dini maka kita dapat sehingga dapat segera mengetahui dan melihat kenyataan yang ada. gejala-gejala yang tampak Penting bagi para orang tua memahami ADHD, dilakukan

pendeteksian dini sejak awal. Gejala ADHD sebagaimana yang tercantum dalam Diagnostic And Statistical Manual of Mental Disorders (2000) terdiri dari tiga gejala utama, yaitu inatensivitas, impulsivitas dan hiperaktivitas. Gejala-gejala tersebut muncul dan terkadang berpengaruh terhadap pengalaman belajar anak. Berikut ini lanjut mengenai gejala ADHD. 1. Inatensivitas atau tidak adanya perhatian atau tidak menyimak, terdiri dari: a. Gagal menyimak hal-hal yang rinci b. Kesulitan bertahan pada satu aktivitas c. Tidak mendengarkan sewaktu diajak bicara d. Sering tidak mengikuti instruksi e. Kesulitan mengatur jadwal tugas dan kegiatan f. Sering menghindar dari tugas yang memerlukan perhatian lama g. Sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk tugas h. Sering beralih perhatian oleh stimulus dari luar i. Sering pelupa dalam kegiatan sehari-hari penjelasan lebih

Inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. Anak tidak mampu mempertahankan konsentrasinya terhadap sesuatu, sehingga mudah sekali beralih

perhatian dari satu hal ke hal yang lain. Perhatiannya akan mudah sekali beralih karena adanya bunyi bunyian, gerakan, bau-bauan atau pikiran tertentu. Tetapi seorang anak penderita ADHD akan dapat memusatkan perhatian dengan baik jika ada sesuatu yang menarik minatnya.

2.

Impulsivitas atau tidak sabaran, bisa dibagi atas impulsif motorik dan impulsif verbal atau kognitif, terdiri dari: a. Sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai b. Sering mengalami kesuliatan menunggu giliran c. Sering memotong atau menyela orang lain d. Ceroboh, melakukan tindakan berbahaya tanpa pikir panjang e. Sering berteriak di kelas f. Tidak sabaran g. Usil, suka mengganggu anak lain h. Peermintaanya harus segera dipenuhi i. Mudah frustasi dan putus asa

Selain dari delapan poin yang sudah disebutkan diatas, sisi lain dari impulsivitas adalah anak memiliki potensi tinggi untuk melakukan aktivitas yang membahayakan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. 3. Hiperaktivitas atau tidak bisa diam, terdiri dari: a. Sering menggerakkan kaki atau tangan dan sering menggeliat b. Sering meninggalkan tempat duduk di kelas c. Sering berlari dan memanjat d. Mengalami kesulitan melakukan kegiatan dengan tenang e. Sering bergerak seolah diatur oleh motor penggerak f. Sering bicara berlebihan

Setiap anak yang seringkali bertindak seperti contoh-contoh diatas selama lebih dari enam bulan berturut-turut, dibandingkan dengan anak seusianya, dapat didiagnosa menderita ADHD. Gejala-gejala tersebut setidaknya muncul dalam 2 situasi atau lebih seperti di sekolah, rumah, atau pekerjaan. Harus ada bukti nyata secara klinis adanya gangguan dalam fungsi sosial, akademik, atau pekerjaan. Gejala tidak terjadi mengikuti gangguan perkembangan pervasif, skizofrenia, atau gangguan psikotik lainnya dan tidak

dilihat bersama dengan gangguan mental lain, misalnya gangguan suasana hati, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian. Selanjutnya dalam makalah yang berjudul Deteksi Dini ADHD, Judarwanto (2009) menjelaskan adanya manifestasi klinis yang terjadi sangat luas. Hal ini dapat dimulai dari yang ringan hingga berat atau bisa juga terjadi dengan jumlah gejala minimal hingga lebih banyak gejala. Tampilan klinis ADHD dapat dideteksi sejak dini, yakni sejak usia bayi. Gejala yang harus lebih dicermati pada usia bayi adalah bayi yang sangat sensitif terhadap suara dan cahaya, menangis, menjerit, sulit untuk diam, waktu tidur sangat kurang dan sering terbangun. Sulit makan atau minum susu baik ASI atau susu botol, tidak bisa ditenangkan atau digendong, menolak untuk disayang, berlebihan air liur, kadang seperti kehausan sering minta minum, Head banging (membenturkan kepala, memukul kepala, menjatuhkan kepala kebelakang) dan sering marah berlebihan (hal 8). Keluhan lain ketika anak mulai tumbuh besar adalah anak tampak clumsy (canggung), impulsif, sering mengalami kecelakaan atau jatuh, perilaku aneh/berubah-ubah yang mengganggu, melakukan gerakan konstan atau monoton, lebih ribut dibandingkan anak lainnya. Agresif, Intelektual (IQ) normal atau tinggi tapi pretasi di sekolah buruk. Saat pelajaran berlangsung anak akan kurang berkonsentrasi, melakukan aktifitas berlebihan dan tidak bisa diam, mudah marah dan meledak kemarahannya, anak juga memiliki nafsu makan yang buruk. Koordinasi mata dan tangan jelek, sulit bekerjasama, suka menentang dan tidak menurut, suka menyakiti diri sendiri seperti menarik rambut, menyakiti kulit, membentur kepala dll. Anak dengan gangguan ini umumnya juga memiliki gangguan tidur5. Tanda dan gejala pada anak yang lebih besar adalah tindakan yang hanya terfokus pada satu hal saja dan cenderung bertindak ceroboh, seperti mudah bingung, lupa pelajaran sekolah dan tugas di rumah, kesulitan mengerjakan tugas di sekolah maupun di rumah, kesulitan dalam menyimak, kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah, sering keceplosan bicara, tidak sabaran, gaduh dan bicara berbelit-belit, gelisah dan bertindak berlebihan, terburu-buru, banyak omong dan suka membuat keributan, dan suka memotong pembicaraan dan ikut campur pembicaraan oranglain6.

5 6

Judarwanto, Widodo. Deteksi Dini ADHD. Mei. 2009, 8 Ibid

10

Penelitian terakhir menyebutkan bahwa gejala-gejala pada anak ADHD muncul karena mereka tidak dapat menghambat respon-respon impulsif motorik terhadap inputinput yang diterima, bukan ketidakmampuan otak dalam menyaring input sensoris seperti cahaya dan suara (Barkley, 1998). Berdasarkan penelitian tersebut, kita ketahui bahwa anak penderita ADHD memiliki gerak motorik yang berlebihan disebabkan karena ketidakmampuan mereka dalam menghambat respon-respon impulsif motorik. Gejala-gejala yang tampak pada anak ADHD sangat mungkin dapat diamati. Karena itu amat disayangkan jika orang tua tidak memiliki pemahaman serta perhatian cukup kepada anak-anak terhadap kemungkinan gejala ADHD pada anak mereka saat usia dini.

Penanganan orang tua terhadap anak penderita ADHD Setelah mampu mengidentifikasi gejala-gejala anak penderita ADHD, selanjutnya orang tua perlu menindaklanjuti lebih jauh perihal cara penanganan yang tepat bagi anak. Sebelum masuk kepada penjelasan terapi dan penanganan ADHD, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan langkah-langkah yang perlu dilakukan orang tua untuk menentukan penanganan yang tepat bagi anak.

1. Lakukan deteksi sedini mungkin, hal ini dapat diketahui jika anak memperlihatkan
perilaku yang tidak sama dengan sebayanya. Jika karakteristik anak mengarah pada diagnosa ADHD maka orang tua diaharapkan segera ke dokter spesialis jiwa anak atau ke institusi tertentu yang dapat menetapkan diagnosa. Dalam hal ini disarankan agar memeriksakan anak tidak hanya kepada satu dokter saja, sehingga dapat diputuskan diagnosa serta penanganan yang tepat. 2. Carilah informasi dan bacalah banyak buku, makalah dan majalah dengan teliti mengenai ADHD dan metode atau terapi yang telah digunakan untuk menanganinya 3. Kemudian putuskanlah bersama suami/isteri untuk menentukan metoda atau terapi yang terbaik.

4. Apabila mula-mula anak tampak mengalami kemajuan, tetapi kemudian terjadi


kemandekan dengan menggunakan metoda yang sama,maka kemungkinan terdapat handycap lain yang menimpa anak. Untuk mendeteksi hal tersebut perlu dilakukan pemeriksaan lengkap.

5. Bila kemajuan anak masih juga lambat dapat ditempuh dengan terapi alternative
lain, seperti akupuntur, Homeopathy dsb. Dalam hal ini pilihan orang tua sebaiknya jangan terlalu menyimpang dari rasionalitas, misalnya membawa anak mereka ke orang pinter atau semacamnya.

11

Terdapat banyak terapi atau cara untuk penanganan anak yang menderita gangguan ini. Dikarenakan adanya beberapa teori penyebab ADHD, maka cara penanganannya disesuaikan dengan faktor penyebabnya. Berikut ini macam-macam terapi yang dapat digunakan untuk penanganan anak ADHD (Handojo, 2008: 28) : 1. Terapi medikasi atau farmakologi adalah penanganan dengan menggunakan obatobatan. Terapi ini sebaiknya hanya sebagai penunjang dan sebagai kontrol terhadap kemungkinan timbulnya impuls-impuls hiperaktif yang tidak terkendali. Sebelum digunakannya obat-obat ini, diagnosa ADHD haruslah dipastikan terlebih dulu dan secara simultan juga perlu dilaksanakan pendekatan terapi okupasi lainnya, sebab bila penanganan hanya diutamakan obat maka tidak akan efektif secara jangka panjang. 2. Terapi nutrisi dan diet, diantaranya adalah dengan menjaga keseimbangan diet karbohidrat, penanganan gangguan pencernaan (Intestinal Permeability or "Leaky Gut Syndrome"), penanganan alergi makanan atau reaksi menyimpang dari makanan lainnya 3. Terapi biomedis lainnya dilakukan dengan pemberian suplemen nutrisi, defisiensi mineral, essential Fatty Acids, gangguan metabolisme asam amino dan toksisitas Logam berat. 4. Terapi EEG Biofeed back, penderita ADHD. sebagai terapi inovatif yang pernah diberikan terhadap

5. Terapi alternatif, misalnya terapi herbal, pengobatan homeopatik dan pengobatan


tradisional Cina seperti akupuntur.

6. Terapi okupasi, Ada beberapa terapi okupasi untuk memperbaiki gangguan


perkembangan dan perilaku pada anak yang mulai dikenalkan oleh beberapa ahli perkembangan dan perilaku anak di dunia, diantaranya adalah sensory Integration (AYRES), snoezelen, neurodevelopment Treatment (BOBATH), modifikasi perilaku, terapi bermain dan terapi okupasi lainnya. Terapi yang diterapkan terhadap penderita ADHD haruslah bersifat holistik dan menyeluruh. Penanganan ini hendaknya melibatkan berbagai disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, orang tua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap anak penderita ADHD secara bersama-sama. Diutamakan adanya partisipasi orang tua serta saudara kandung dalam penerapan terapi. Untuk penanganan ideal harus dilakukan terapi stimulasi dan terapi perilaku secara terpadu guna menjamin keberhasilan terapi. Terapi modifikasi perilaku cukup berhasil dalam mengajarkan perilaku yang diinginkan, berupa interaksi social, bahasa dan perawatan diri. Terapi ini juga akan

12

mengurangi perilaku yang tidak diinginkan seperti sifat agresif, emosi yang labil, self injury dsb. Modifikasi perilaku, merupakan pola penanganan yang paling efektif dengan pendekatan positif dan dapat menghindarkan anak dari perasaan frustrasi, marah, dan berkecil hati menjadi suatu perasaan yang penuh percaya diri. Terapi modifikasi perilaku dapat dilakukan bersamaan dengan terapi bermain. Kedua hal ini sangat membutuhkan andil besar bagi para orang tua anak penderita ADHD. Bermain menjadi fase yang sangat penting untuk mengembangkan keterampilan dan kemampuan. Serta membiasakan anak dalam suasana kompetitif dan kooperatif dalam melakukan suatu kegiatan kelompok. Bermain juga dapat dipakai sebagai sarana persiapan untuk beraktifitas dan bekerja saat usia dewasa. Terapi bermain digunakan sebagai sarana pengobatan atau terapitik dimana sarana tersebut dipakai untuk mencapai aktifitas baru dan ketrampilan sesuai dengan kebutuhan terapi. Apabila tidak dilakukan penanganan tertentu kepada anak yang sudah terdeteksi menderita gangguan ADHD maka hal itu akan menimbulkan hambatan perilaku sosial dan kemampuan akademik, baik di lingkungan rumah dan sekolah. Sehingga menyebabkan perkembangan anak tidak optimal serta kemungkinan timbulnya gangguan perilaku di kemudian hari. Beberapa kondisi lain yang terkadang menyertai gangguan ADHD yakni: Gangguan pola perilaku yang menentang peraturan (Oppositional Defiant Disorder / ODD), gangguan kelakuan (Conduct disorder), ketidakmampuan belajar dan berbahasa (Learning and language disabilities), gangguan cemas (Anxiety disorder), gangguan depresi (Depressive disorder), gangguan bipolar (Bipolar disorder), penyakit Tourette (Tourette's Disorder)7 Akibat lain yang mungkin timbul pada anak penderita gangguan ADHD seperti: tidak mampu mengikuti kegiatan belajar dengan baik, sering tidak patuh terhadap perintah orang tua, dan sulit didisiplinkan. Berbagai kemungkinan akibat yang ada diharapkan dapat diminimalisir dengan dilakukannya pendeteksian dini, kemudian berlanjut pada pemilihan penangan yang tepat. Sehingga anak penderita ADHD akan lebih siap untuk masuk jenjang pendidikan formal, seperti sekolah. Pemilihan sekolah anak penderita ADHD Dengan adanya pendeteksian dini maka orang tua dapat mengevaluasi perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak penderita ADHD sehingga dapat segera menentukan metode penanganan yang tepat bagi anak. Sejalan dengan hal itu, anak dipersiapkan sebaik mungkin untuk siap memasuki jenjang pendidikan
7

http://adhd.or.id/adhd.html diakses pada tanggal 29 Juli 2010 pukul 13.52

13

formal. Bukanlah perkara mudah memasukkan anak dengan gangguan ini ke sekolah, berbagai hal perlu dipertimbangan sebelum memutuskan hendak memasukkan anak penderita ADHD ke sekolah tertentu. Dalam bab sebelumnya telah disinggung langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua penderita sebelum hendak melakukan penanganan bagi anak. Pemilihan sekolah harus dilakukan dengan pertimbangan orang tua, serta melihat perkembangan perilaku anak. Menentukan sekolah bagi penderita ADHD tergantung pada kemampuannya dalam bersosialisasi dan berkomunikasi. Jika anak sudah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik maka dapat dicoba untuk memasuki sekolah normal sesuai dengan usianya. Namun yang perlu diingat adalah bahwa terapi yang sedang dijalani jangan ditinggalkan, terutama terapi perilaku, karena ada kemungkinan terjadinya regresi pada anak. Pengertian regresi disini adalah terjadinya kemunduran pada perkembangan perilaku anak. Hal ini disinyalir dapat menimbulkan suatu akibat tertentu dikemudian hari. Anak penderita ADHD yang sudah mampu berkomunikasi dengan baik dan dapat memasuki sekolah normal kemudian dilatih untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi dengan teman-teman sebayanya. Karena itu diperlukan pengamatan yang ketat dari orang tua untuk terus memantau perkembangan perilaku pada anak penderita ADHD. Orang tua juga diharapkan untuk terus mendampingi anak, sehingga bila terjadi kesulitan komunikasi pada anak, orang tua harus membantu untuk menjembatani anak, serta memberikan instruksi tertentu yang dapat dimengerti anak. Jika anak Anda adalah penderita ADHD, sebaiknya tidak mengirimkan mereka ke sekolah yang didesain khusus untuk ADHD. Orang tua sebisa mungkin harus yakin bahwa anak mampu dimasukkan ke dalam sekolah umum. Meski pada umumnya sekolah umum tidak memberikan pelayanan khusus bagi anak penderita ADHD. Dalam banyak kasus, orang tua seringkali dihadapkan pada permasalahan anak dengan peraturan sekolah. Sehingga diperlukan adanya pendekatan orang tua anak penderita ADHD dengan guru yang mengajar di sekolah. Pendekatan tersebut berguna untuk menjelaskan kondisi anak, sehingga guru mengerti hal apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi anak dengan gangguan ADHD. Penting sekali untuk menjalin hubungan yang baik dengan guru karena mereka merupakan narasumber anak Anda dalam mencari pengalaman di sekolah. Sebaiknya orang tua menemui guru sebelum sekolah dimulai untuk memastikan bahwa si guru mengetahui tentang ADHD. Siapkan bahan pembicaraan yang efektif, misalnya tentang ruang kelas, lalu nyatakan juga hal-hal apa yang dapat membuat anak dapat belajar baik, peralatan dan cara

14

apa yang dapat digunakan. Karena biar bagaimanapun anak yang menderita ADHD tentu akan terlihat berbeda dengan anak-anak normal pada umumnya. Komunikasi yang baik antara orang tua dan guru merupakan salah satu kunci kesuksesan anak ADHD dalam belajar. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua dan guru di sekolah seperti pengaturan di ruang kelas. Ruang kelas yang terbaik bagi anak dengan ADHD adalah adanya penempatan peraturan dan jadual sekolah yang mudah dilihat dan dibaca. Aktivitas sekolah sebaiknya mampu merangsang minat anak. Pekerjaan sekolah yang diberikan mungkin mungkin sukar, tetapi dapat diimbangi dengan praktik yang menyenangkan, misalnya penggunaan komputer, pekerjaan laboratorium dsb. Tetapi jika lingkungannya terlalu merangsang minat anak, si anak akan sulit berkonsentrasi. Hindari menempati si anak di dekat jendela, pintu terbuka atau gambar/lukisan yang warnanya cerah karena akan merusak konsentrasi anak. Tempatkan si anak dekat meja guru agar guru bisa mengawasi dan membantu. Tetapi jangan sampai si guru sering didatangi murid lain karena inipun bisa mengganggu, karena anak anda akan mengalihkan perhatiannya kepada apa yang didiskusikan temannya dengan guru. Jangan tempatkan anak anda di sudut kelas atau jauh dari pantauan guru. Tanpa perhatian guru si anak akan dengan mudah beralih dan sibuk dengan pikirannya sendiri dan hanya melamun (Permadi, 2007: 6).

BAB IV ANALISIS TERHADAP ANAK PENDERITA ADHD

15

4.1 Pengetahuan orang tua sebagai faktor penting dalam pendeteksian dini anak penderita ADHD Pada bab dua dan tiga sudah dibahas mengenai gejala ADHD serta peranan orang tua dalam menangani anak dengan ADHD. Gejala-gejala pada anak ADHD yang sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya penting untuk diketahui dan dipahami orang tua. Dengan adanya pengetahuan tersebut orang tua dapat mewaspadai kemungkinan gangguan ini terjadi dalam diri anak-anak mereka. Dengan mampu melakukan pendeteksian dini sejak awal maka akan lebih mudah menanggulangi dan memutuskan bentuk penanganan yang tepat bagi anak. Sama seperti anak lainnya, setiap anak mengalami perkembangan otak yang cepat pada usia dibawah lima tahun. Masa yang paling ideal untuk melakukan intervensi dini adalah ketika anak berusia 2-3 tahun, karena pada masa inilah otak anak berkembang paling cepat. Kemudian perlu dipahami oleh para orang tua bahwa terapi harus dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 tahun. Proses terapi anak ADHD ini umumnya berlangsung sekitar 2-3 tahun, karena itu dengan melakukan intervensi sedini mungkin anak dapat dipersiapkan untuk masuk sekolah regular sesuai dengan usianya. Jika pelaksanaan terapi dilakukan diatas 5 tahun maka hasilnya akan berjalan lebih lambat. Sebab, pada usia 5-7 tahun perkembangan otak anak melambat menjadi 25% dari usia sebelum 5 tahun. Tanpa pengetahuan yang cukup orang tua belum tentu bisa menghadapi anak ADHD dengan baik, dimulai dari adanya pendeteksian dini serta pemilihan penanganan yang akan dilakukan. Pengetahuan orang tua tidak hanya terbatas pada hal tersebut, perlu dipikirkan lebih lanjut metode dan penanganan anak dengan ADHD. Sebab jika tidak segera ditangani, maka ditakutnya hal yang lebih buruk akan terjadi. Karena itu, penting bagi orang tua untuk membaca dan mencari informasi mengenai ADHD. Orang tua yang mengetahui lebih banyak tentu akan memberikan yang terbaik juga buat anaknya. Hal ini persis seperti yang telah disampaikan oleh Ibu Rinta, sebagai salah satu Ibu dari anak yang menderita ADHD. Ketika ditanya mengenai seberapa pentingnya pengetahuan orang tua terhadap gangguan ADHD, maka Ibu yang sehari-harinya berperan sebagai Ibu Rumah Tangga ini dengan lantang menjawab,Amat sangat penting! Betul betul penting banget deh. Soalnya makin banyak tau, makin baik usaha yang dilakukan dalam rangka menangani anaknya yang berkebutuhan khusus. Ibu Rinta juga mengatakan bahwa

16

permasalahan anak dengan gangguan ADHD ini memang hal yang sulit dimengerti dan sulit diterima di masyarakat8. Pengetahuan yang dimiliki orang tua juga mempengaruhi tindak lanjut dalam melakukan penanganan terhadap anak penderita ADHD. Berikut ini dua kemungkinan yang akan terjadi: Pertama, orang tua setelah mengetahui kondisi anaknya akan semakin giat mencari tau apa yang terjadi pada anaknya. Kedua, orang tua justru ada yang merasa malu dan putus asa, serta merasa hasil usahanya tidak cukup membuahkan hasil9. Diperlukan banyak literatur untuk mengetahui tentang ADHD secara mendetail. Orang tua diharapkan waspada terhadap kemungkinan anak mereka terkena gangguan ini. Orang tua adalah agen pertama yang mampu mendeteksi perkembangan anak, baik tingkah laku, kognitif, serta perkembangan lainnya. Orang tua harus tau hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam menghadapi anak dengan ADHD. Pengetahuan serta penanganan orang tua ini berpengaruh besar pada tumbuh kembang anak kelak. Sebelum anak terjun ke masyarakat, seperti lingkungan rumah dan sekolah, orang tua adalah orang terdekat yang berhubungan langsung dengan anak. Karenanya penting bagi orang tua mengawasi perkembangan anak sebelum benar-benar terjun langsung ke masyarakat. Jika anak sudah dilepas, maka akan ada kemungkinan banyaknya pengaruh negatif dari lingkungan. Mereka yang tidak mengerti mengenai ADHD hanya akan memperburuk citra perkembangan anak. Orang tua lah yang kemudian harus mengontrol anak dalam berkomunikasi dan bersosialisasi dalam lingkungannya, serta bertanggung jawab mencarikan tempat di lingkungan dimana anak tersebut tinggal.

Berdasarkan hasil wawancara saya dengan Ibu Rinta, salah satu Ibu dari anak penderita ADHD. Wawancara ini

dilakukan di kediaman beliau pada tanggal 05 Agustus 2010 pukul 17.07


9

Ibid.

17

BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan Penting bagi para orang tua untuk memahami gejala-gejala serta karakteristrik yang tampak dari anak penderita ADHD. Gejala-gejala pada anak ADHD ini penting untuk diketahui dan dipahami orang tua sebab dengan adanya pengetahuan tersebut orang tua dapat mewaspadai kemungkinan gangguan ADHD terjadi dalam diri anak-anak mereka. Setelah mengetahui gejala yang tampak, kemudian orang tua juga harus melakukan observasi kepada psikolog/ profesional dibidangnya dalam menentukan diagnosa yang tepat pada anak. Pendeteksian dini ini tentunya dapat dilakukan dengan peranan yang begitu besar dari orang tua, kesediaan orang tua , serta pengetahuan orang tua. Tanpa pengetahuan yang cukup orang tua belum tentu bisa menghadapi anak ADHD dengan baik. Kemudian peranan orang tua tidak hanya terbatas sampai disitu, setelah dilakukan pendeteksian dini selanjutnya perlu dipikirkan lebih lanjut metode dan penanganan yang tepat bagi anak dengan ADHD. Sebab jika tidak, ditakutnya hal yang lebih buruk akan terjadi. Dengan mampu melakukan pendeteksian dini sejak awal maka akan lebih mudah dalam menanggulangi dan memutuskan bentuk penanganan yang tepat bagi anak. Maka itu penting bagi orang tua untuk membaca dan mencari informasi lebih lanjut mengenai ADHD. Orang tua yang mengetahui lebih banyak tentu akan memberikan yang terbaik juga untuk anaknya. Dengan adanya pendeteksian dini orang tua juga dapat mengevaluasi

perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak penderita ADHD. Orang tua sebaiknya tidak memasukkan anak penderita ADHD ke sekolah yang didesain khusus untuk ADHD, sebisa mungkin orang tua harus yakin bahwa anak mampu masuk ke sekolah umum. Sejak dini, anak harus dipersiapkan sebaik mungkin untuk siap memasuki jenjang pendidikan formal. Dalam hal ini, diperlukan pengamatan yang ketat dari orang tua untuk terus memantau perkembangan perilaku pada anak penderita ADHD. Orang tua diharapkan dapat terus mendampingi anak, sehingga dapat membantu bila sewaktu-waktu terjadi kesulitan komunikasi pada anak. Jika anak sudah mampu bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik maka dapat dicoba untuk memasuki sekolah normal sesuai dengan usianya. Hal ini didukung dengan adanya pendekatan orang tua anak penderita ADHD dan guru yang mengajar di sekolah.

18

5.2 Saran Selain pentingnya pengetahuan yang cukup bagi orang tua dalam mendeteksi gejala anak penderita ADHD, hal yang tidak kalah penting adalah adanya kemauan yang kuat dari para orang tua untuk menangani anak dengan ADHD. Dengan kemauan yang kuat dari orang tua maka proses penanganan anak penderita ADHD dapat berlangsung dengan baik. Berbagai terapi yang harus dijalani seperti terapi perilaku diharapakan agar terus berlanjut. Tak jarang orang tua juga menggunakan obat, meski sebenarnya tidak terlalu dianjurkan. Namun, hal ini dapat dilakukan untuk membantu proses terapi.

19

Daftar Pustaka

American Academy of Child and Adolescent Psychiatry ; American Psychiatric Association. ADHD Parents Medication Guide. n.p: (t.th) American Psychiatric Association: Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-IV-TR). 4th ed. Washington, DC: American Psychiatric Association. 2000 Aspen Education Group. Your Child and ADHD, A Guide for Parents. n.p: (t.th) Baron, Robert A; Byrne. Social Psychology . 10th Ed. n.p: Pearson Education, Inc. Publishing Handojo, Y. Autisma. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu Populer. 2008 Judarwanto, Widodo. Deteksi Dini ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder). n.p: 2009 Permadi, Babsy (pnj.). Attention Deficit DisorderAttention Deficit Hyperactivity Disorder (ADD/ADHD) Panduan Bagi Keluarga. n.p: 2007

20