Anda di halaman 1dari 19

)(|ll r(|

|l||l

)(|ll |rj(gl(( l|j j(j]l gl \ ;(||(| g(
|(},
|rjg( (gr g( |j(( \rlj| l(l(|








|| ,
|lrl rlr](

r( |l||l
|||] ||-| g( |rgj(
(lrl] |r(gl(
1|( ,Q4Q


Analisis Perbandingan Sikap Empati di Masa Kanak-kanak dan Remaja:
Perbedaan Gender dan Hubungan Variabel Sosio-emosional



Abstraksi
Penelitian ini memiliki dua tujuan: 1) Untuk melakukan eksplorasi mengenai
perbandingan empati dan satu set variabel sosio-emosional di masa kanak-kanak dan
remaja, menganalisis perbedaan gender, dan 2) Untuk menganalisis hubungan antara
empati dan perilaku sosial, pilihan sosiometrik teman sekelas yang prososial , konsep diri
dan kemampuan untuk menganalisis emosi negatiI pada anak-anak dan remaja. Sampel
terdiri dari 313 peserta berusia 10 hingga 14 tahun. Metodologi yang digunakan adalah
deskriptiI dan korelasional. Untuk mengukur variabel-variabel ini, kami memberikan 12
instrumen penilaian. Berdasarkan hasil perhitungan ANOVAs menunjukkan bahwa, untuk
semua umur, skor penilaian perempuan secara signiIikan lebih tinggi pada empati, perilaku
prososial, perilaku tegas dan kemampuan kognitiI umtuk menganalisis emosi negatiI,
sementara anak laki-laki menampilkan perilaku yang lebih agresiI dalam interaksi mereka
dengan teman-temannya. Selanjutnya analisis menunjukkan bahwa kemampuan untuk
berempati tidak meningkat antara usia 10 dan 14 tahun. KoeIisien Pearson menyatakan,
untuk segala usia, sebuah asosiasi positiI dari empati berkaitan dengan praktek-praktek
sosial yang positiI (prososial, tegas, perhatian kepada orang lain), konsep diri dan
kemampuan untuk menganalisa penyebab dari emosi negatiI, dan berkorelasi negatiI
dengan perilaku sosial negatiI (agresiI, antisosial, penarikan diri). Kata kunci: empati,
pembangunan sosial-emosional, jenis kelamin, masa kanak-kanak, remaja.

2 Pendahuluan
a Latar Belakang penelitian
Nama Penulis AIiliasi
Maite Garaigordobil Universidad del Pais Jasco, Espaa
Beberapa penelitian telah menemukan perbedaan gender dalam empati,
dengan nilai-nilai secara signiIikan lebih tinggi pada wanita. LaIIerty (2004), dalam
studinya dengan sampel anak usia 12 sampai 14 tahun, menemukan bahwa skor
signiIikan anak perempuan lebih tinggi pada komponen aIektiI dari empati, tidak
ditemukan adanya perbedaan jenis kelamin dalam komponen kognitiI. Karena
beberapa peneliti percaya, perbedaan gender dalam empati mungkin akan
meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Dalam hal ini, Tobari (2003)
menemukan nilai-nilai yang secara signiIikan lebih tinggi pada anak perempuan
selama masa kanak-kanak, tetapi bahwa perbedaan gender itu menurun pada masa
remaja.

Dalam menganalisis hubungan antara empati dan usia, beberapa karya
seperti Underwood & Moore (1982) telah menyarankan bahwa empati meningkat
sesuai dengan usia. Dalam pendapat yang sama, Litvack dkk. (1997) menemukan
empati meningkat dengan meningkatnya umur dalam contoh anak usia 8-11tahun.
Meskipun demikian, studi oleh Calvo, Gonzalez dan Martorell (2001) dengan anak-
anak dan remaja berusia 10-18tahun mengkonIirmasi bahwa empati meningkat
sesuai dengan usia hanya terjadi pada anak perempuan, dan penelitian oleh Mestre
dkk. (2004) dengan remaja berusia 13-18tahun menunjukkan tidak ada perbedaan
yang signiIikan jika dilihat Iungsi dari usia baik bagi laki-laki atau perempuan.

Secara umum, studi telah menemukan perbedaan gender dalam perilaku
prososial, dengan nilai-nilai secara signiIikan lebih tinggi pada wanita. Namun,
untuk perilaku antisosial, hasilnya masih ambigu. Sementara beberapa studi
menemukan Irekuensi perilaku antisosial yang lebih besar pada laki-laki, yang lain
telah menyatakan bahwa perbedaannya jauh lebih besar di masa kanak-kanak,
kemudian pada saat remaja terjadi penurunan (MoIIitt & Caspi, 2001). Beberapa
karya menganalisis perbedaan gender dalam konsep diri selama masa remaja telah
menemukan kurangnya global konsep diri pada wanita, namun penelitian lain gagal
menemukan perbedaan signiIikan (Garaigordobil, Dura, & Perez, 2005). Selain itu,
penelitian lain tidak menemukan perbedaan gender dalam sisi emosional anak-
anak.

Dalam dua puluh tahun terakhir, para peneliti telah menunjukkan
peningkatan kepentingan dalam mendemonstrasikan secara empiris hubungan
antara empati dan variabel kepribadian lainnya yakni sosialemotional anak
remaja, sama seperti perilaku sosial, penerimaan rekan atau konsep diri. Empati
disposisional telah memberikan Iokus untuk banyak penelitian, sebagai variabel
penting dari perilaku prososial, dan beberapa studi menemukan hubungan
korelasi positiI yang signiIikan antara empati dan perilaku prososial pada anak-
anak dan remaja .

Secara umum, studi telah menemukan hubungan yang signiIikan antara
empati dan perilaku prososial. Meskipun pemeriksaan oleh Underwood dan Moore
(1982) menunjukkan tidak ada korelasi yang signiIikan antara empati dan altruisme
di masa kanak-kanak, sementara ia menyatakan bahwa terdapat hubungan yang
signiIikan pada remaja dan orang dewasa. Hasil ini membawa mereka untuk
menyarankan kemungkinan bahwa empati berkembang sesuai dengan usia,
sehingga hubungan dengan variabel lain akan menjadi lebih stabil dengan
bertambahnya usia.

Di sisi lain, korelasi negatiI yang signiIikan ditemukan antara empati dan
perilaku antisosial pada anak-anak dan remaja, interpersonal kekerasan remaja
(Goodman, 1999), semua jenis agresi pada anak-anak dan remaja -kecuali untuk
agresi tidak langsung pada usia 12tahun- (Kaukiainen dkk., 1999), dan agresivitas
Iisik dan verbal pada remaja (Mestre dkk., 2004.). Beberapa peneliti telah
menemukan hubungan ini di kedua jenis kelamin, meskipun Miron dalam
penelitiannya menemukan korelasi negatiI antara empati dan perilaku antisosial, ia
melaporkan bahwa remaja laki-laki antisosial menunjukkan tingkat signiIikan lebih
rendah dalam empati aIektiI dan kognitiI. Sedangkan pada wanita, perbedaan yang
signiIikan hanya untuk komponen aIektiI dari empati untuk kekerasan dan perilaku
antisosial.

Dalam jurnal ini peneliti mencoba melakukan eksplorasi mengenai
perbandingan empati dan satu set variabel sosio-emosional di masa kanak-kanak
dan remaja serta menganalisis adanya perbedaan gender. Selain itu juga
sekaligus menganalisis hubungan antara empati dan perilaku sosial, pilihan
sosiometrik teman sekelas yang prososial , konsep diri dan kemampuan untuk
menganalisis emosi negatiI pada anak-anak dan remaja.



b %::an penelitian
Penelitian ini memiliki dua tujuan: 1) Untuk mengeksplorasi empati relatiI
dan satu set variabel sosio-emosional di usia akhir masa kanak-kanak (usia 10-12
tahun) dan remaja awal (12-14 tahun), menganalisis perbedaan gender dari kedua
variabel dalam kedua tahap pembangunan, dan 2) Untuk menganalisis kedua
kelompok usia mengenai hubungan antara empati dan: berbagai perilaku sosial
yang positiI (perilaku prososial, pertimbangan untuk orang lain, pengendalian diri,
kepemimpinan, dan perilaku asertiI); berbagai perilaku social negatiI (pasiI, agresiI
perilaku antisosial, penarikan diri dan kecemasan); pilihan sociometric teman
sekelas yang prososial; konsep diri, dan kemampuan untuk menganalisis emosi
negatiI.

c asalah penelitian

Dalam sebuah penelitian prospektiI, de Kemp, Overbeek, de Wied, Engels
dan Scholte (2007) menyelidiki apakah tingkat empati aIektiI disposisional dikelola
oleh adanya hubungan antara dukungan orangtua dan perilaku antisosial pada masa
remaja awal. Lebih tinggi tingkat empati aIektiI yang terkait dengan kurangnya
kenakalan dan perilaku agresiI. Namun berbeda dengan harapan, tidak ada struktur
yang menunjukkan bahwa anak muda dengan tingkat yang lebih tinggi atas empati
aIektiI rentan terhadap dukungan orangtua. Analisis lebih lanjut menunjukkan
bahwa jenis kelamin memoderasi hubungan antara dukungan orang tua, kenakalan
dan perilaku agresiI di masa mendatang. Hanya untuk perempuan dengan tingkat
dukungan orangtua yang tinggi terkait dengan tingkat yang lebih rendah dari
perilaku antisosial.

Analisa studi hubungan antara empati dan penerimaan oleh peer group telah
menunjukkan bahwa anak-anak telah menerima orientasi yang lebih positiI
terhadap orang lain dan kepekaan yang kuat terhadap penderitaan orang lain
(Dekovic & Gerris, 1994), dan bahwa anak-anak prososial memiliki tingkat empati
lebih tinggi dibandingkan teman-teman sebaya mereka (Warden & MacKinnon,
2003). Akhirnya, penelitian ini mengeksplorasi hubungan antara empati dan konsep
diri menunjukkan bahwa orang-orang empatik memiliki selI-concept/selI-esteem
tinggi (Czerniawska, 2002; Garaigordobil, Cruz, & Perez, 2003; Kukiyama, 2002).
Selanjutnya, para peneliti telah mengamati kemungkinan lebih tinggi untuk
mengembangkan empati dalam konteks dimana perasaan kompetensi dan
selIconcept positiI merangsang (Lechich, 1996).

Dari berbagai studi yang telah dilakukan diatas, Akhirnya peneliti
mengeksplorasi mengenai empati. Bagaimana perbandingan empati variable
sosialemosional di masa anak-anak dan remaja? Serta kaitannya dengan perbedaan
gender? Kemudian, seperti apa analisis hubungan antara empati dan perilaku social,
pilihan teman sekelas yang prososial, konsep diri serta kemampuan untuk
menganalisis emosi negative pada anak-anak dan remaja?

d ipotesis penelitian
Penelitian ini menetapkan sembilan hipotesis: 1) Perempuan akan mendapatkan
skor yang lebih tinggi pada tingkat empati, dalam semua umur; 2) Kapasitas untuk
berempati akan meningkat dengan meningkatnya umur; 3) Perempuan secara signiIikan
akan mendapat skor lebih tinggi dalam berbagai perilaku sosial yang positiI (prososial
dan perilaku tegas, dll), sedangkan anak laki-laki akan menampilkan perilaku sosial
yang lebih negatiI (perilaku agresiI dalam interaksi dengan teman-temannya, perilaku
antisosial, dll); 4) Perempuan secara signiIikan akan memperoleh skor lebih tinggi
dalam kemampuan kognitiI untuk menganalisis emosi negatiI; 5) Anak-anak laki-laki
dan perempuan akan mendapatkan skor yang sama pada konsep-diri; 6) Empati akan
memberikan asosiasi positiI dengan perilaku sosial yang dapat memIasilitasi sosialisasi
(perilaku prososial dan perilaku tegas, pertimbangan, pengendalian diri, kepemimpinan,
dll) dan hubungan negatiI dengan perilaku sosial yang mengganggu sosialisasi (agresiI
dan perilaku antisosial, penarikan diri, dll); 7) Empati akan menjadi hubungan positiI
dengan pilihan sosiometrik teman sekelas ysng prososial ; 8) Menemukan hubungan
positiI antara empati dan konsep diri, dan 9) Akan memiliki hubungan yang positiI
antara empati dan kemampuan kognitiI untuk menganalisa emosi negatiI.




e %eori yang dig:nakan + penelitian terdah:l:
Pengertian empati Empati saat ini dideIinisikan dari perspektiI
multidimensi, menekankan kemampuan seseorang untuk merespon orang lain,
memperhatikan aspek kognitiI dan aIektiI, dan menyoroti pentingnya kemampuan
untuk membedakan antara satu diri dan orang lain. Empati melibatkan respon
emosional dan pengalaman perubahan, dengan kata lain, kemampuan untuk
membedakan antara negara-negara aIektiI dari orang lain dan kemampuan untuk
menangkap kedua perspektiI kognitiI dan aIektiI yang berkaitan dengan orang lain.

eberapa penelitian telah menemukan perbedaan gender dalam empati,
dengan nilai-nilai secara signifikan lebih tinggi pada wanita` (Garcia de Galdeano
& Garaigordobil, 2006; Litvack, McDougall, & Romney, 1997; Lozano &
Etxebarria, 2007; Mestre, Frias, & Samper, 2004; Miron, Otero, & Luengo, 1989;
Navas, Muoz, & Grana, 2005; Sanchez, Oliva, & Parra, 2006).

Tobari (2003) menemukan nilai-nilai yang lebih tinggi pada anak
perempuan secara signifikan selama masa kanak-kanak, tetapi bahwa perbedaan
gender menurun pada masa remafa.

LaIIerty (2004), dalam studi dengan sampel 12 sampai 14 tahun,
menemukan bahwa skor signifikan anak perempuan lebih tinggi pada komponen
afektif dari empati, tidak terdapat perbedaan fenis kelamin dalam komponen
kognitif.

Dalam menganalisa hubungan antara empati dan usia, beberapa karya telah
menyarankan bahwa empati meningkat seiring dengan bertambahnya usia
(Underwood & Moore, 1982).

'Studi telah menemukan perbedaan gender dalam perilaku prososial,
dengan nilai-nilai secara signifikan lebih tinggi pada wanita` (Calvo et al, 2001;
Etxebarria, Apodaca, Eceiza, Fuentes, & Ortiz 2003; Rotenberg et al, 2005;
Sanchez dkk., 2006).

Secara empiris hubungan antara empati dan variabel kepribadian lainnya
sosialemotional-anak remafa, seperti perilaku sosial, penerimaan rekan atau
konsep diri. Empati disposisional telah memberikan fokus untuk banyak penelitian,
sebagai variabel penting dari perilaku prososial, dan beberapa studi menemukan
hubungan korelasi positif yang signifikan antara empati dan perilaku prososial
pada anak-anak dan remafa' (Calvo dkk., 2001; Eisenberg, Miller, Shell, &
McNalley, 1991; Greener, 1999; Guozhen, Li, & Shengnan, 2004; Mestre dkk.,
2004; Sanchez dkk., 2006; Strayer & Roberts, 2004; Thompson, 1995).

4 Materi dan Metode Penelitian
, $:-yek/ partisipan
Sampel terdiri dari 313 peserta berusia 10-14 tahun. Terdapat 12 kelompok
atau ruang kelas, 6 dari sekolah dasar (usia 10 sampai 12 tahun) dan 6 lainnya di
pendidikan menengah (umur 12-14 tahun). Terlihat adanya tumpang tindih dalam
usia (12 tahun) adalah karena dalam kenyataannya, tingkat sekolah (dasar atau
pendidikan menengah) adalah kriteria klasiIikasi dan ada beberapa anak berusia 12
tahun berada di kedua tingkat tersebut, tergantung pada bulan mereka lahir.
Sampel meliputi 86 peserta anak-anak berusia 10 hingga 11 tahun (61,9) dan 53
peserta berusia 11-12 tahun (38,1), termasuk 64 anak laki-laki (46) dan 75
orang perempuan (54 ). Sampel meliputi 86 peserta remaja awal usia 12-13 tahun
(49,4) dan 88 peserta berusia 13-14 tahun (50,6), dimana 96 laki-laki (55,2)
dan 78 adalah perempuan (44,8).

- Lokasi penelitian
Lokasi penelitian terletak di Provinsi Guipuzcoa, Basque, Spanyol utara.
Penelitian melibatkan 12 kelompok/ruang kelas dari sekolah-sekolah di provinsi
Guipuzcoa yang dipilih secara acak.

. esain penelitian
Desain penelitian berupa sampling, yang terdiri atas 12 kelompok/ ruang
kelas. Pemilihan sekolah dilakukan secara acak dari semua sekolah di provinsi
Guipuzcoa. Ke-12 kelompok yang terdiri dari sampel menghadiri empat sekolah
untuk mengikuti kelas menengah umum.
.
/ ara meng:mp:lkan data
Untuk mengukur variabel-variabel ini, kami diberikan 12 instrumen
penilaian. Studi desain dan prosedur menggunakan metodologi deskriptiI untuk
membandingkan perbedaan gender usia 10-14 tahun, mengukur variabel sosio-
emosional dalam rentang usia tersebut. Selain itu, metodologi korelasional
digunakan untuk menentukan hubungan antara empati dan variabel secara
bersamaan yang terkait dengan pembangunan sosial dan emosional pada usia akhir
masa anak-anak dan masa awal remaja. Dua belas instrumen diterapkan dalam
enam sesi pengujian yang dilakukan selama minggu-minggu pertama sekolah.
Administrasi instrumen pada 12 kelompok yang berbeda dilakukan oleh psikolog
sekolah, dengan bantuan dari mahasiswa pascasarjana. Untuk standarisasi
pelaksanaan instrumen, tim implementasi dilatih dalam Iormat kelompok seminar.
Guru dan orangtua memiliki waktu tiga minggu untuk membuat komentar dan
merespon kuesioner yang diberikan.

0 ara analisis data
Studi ini merupakan studi kuantitatiI. Metodologi yang digunakan adalah
deskriptiI dan korelasional. Program statistik yang digunakan adalah ANOVA.

Variabel dalam penelitian ini diukur melalui instrumen 12 penilaian. Dalam
beberapa variabel (penilaian diri perilaku prososial, perilaku tegas, perilaku
antisosial dan konsep diri), karena usia yang berbeda dari peserta, instrumen yang
berbeda digunakan untuk mengukur variabel yang sama, sedangkan dalam kasus
variabel lain (empati, penilaian lain perilaku prososial, penilaian diri dari berbagai
perilaku sosial, pilihan sosiometrik prososial dan kemampuan untuk menganalisis
emosi), instrumen yang sama digunakan untuk sampel secara keseluruhan.

Dalam menganalisa data, standar deviasi dan variasi dalam empati di
semua variabel sosio-emosional dihitung berdasarkan jenis kelamin dan umur
(Tabel 2 dan 3). Selanjutnya, dilakukan analisis korelasional empati dengan sisa
variabel untuk kedua kelompok usia (Tabel 4 dan 5).

5 Hasil Penelitian
Hasil ANOVAs untuk set variabel sosio-emosional dieksplorasi dikonIirmasi
perbedaan gender yang signiIikan, baik dalam sampel anak-anak, F (1,137) 3,10,
sampel p 0,001, dan remaja, F (1,172) 3,99, p 0,001 , ukuran eIek yang besar (q2
0,325, r 0,57) (q2 0,335, r 0,57).

Standar deviasi dan variasi dalam empati di semua variabel sosio-emosional
dihitung berdasarkan jenis kelamin dan umur. Berikut ini hasil dari standar deviasi
dan variasi empati yang dapat dilihat pada tabel 2 dan tabel 3.

Pertama, dengan tujuan menjajaki kemungkinan perbedaan gender dalam
empati, keseluruhan sampel dianalisis, dan hasil ANOVA menunjukkan perbedaan
yang signiIikan antara anak laki-laki dan perempuan, F (1,311) 52,88, p 0,001,
dengan nilai lebih tinggi pada perempuan (M 17,05, SD 3,07) dibandingkan
dengan anak laki-laki (M 14,08, SD 3,99). Analisis membedakan antara dua tingkat
perkembangan (anak-anak, 10-12 tahun, dan remaja, 12-14 tahun) menunjukkan arah
yang sama. Dalam sampel anak-anak (lihat Tabel 2), ANOVA menunjukkan perbedaan
jender yang signiIikan, F (1,137) 16,53, p 0,001, dengan perempuan memperoleh
skor yang lebih tinggi (M 16,77, SD 3, 71) dibandingkan anak laki-laki (M
14,02, SD 4,28).




Dalam contoh remaja (lihat Tabel 3), puluhan perempuan-perempuan juga
mencetak lebih tinggi (M 17,07, SD 2,42) dibandingkan remaja laki-laki (M
14,14, SD 3,90), dan perbedaan tersebut secara statistik signiIikan, F (1,172) 31,45,
p .001. Selain itu, analisis yang dilakukan terhadap perubahan empati dengan usia,
tetapi perbedaan yang signiIikan secara statistik tidak muncul, F (1,311) 0,09, p~
0,05. Pada kelompok usia, skor tes adalah empati sangat mirip: untuk usia 10-11 (M
15,64, SD 4,54), untuk usia 11-12 (M 15,28, SD 3,62), untuk usia 12-13 (M
15,51 , SD 3,05) dan untuk usia 13-14 (M 15,58, SD 4,13). interaksi gender
Antara usia x statistik tidak signiIikan, F (3,311) 0,49, p~ 0,05.

Selanjutnya, hasil dari analisis korelasional empati dengan sisa variabel untuk
kedua kelompok usia tertera dalam tabel 4 dan tabel 5.

KoeIisien korelasi Pearson memperoleh hasil yang ditunjukkan pada Tabel
4 dan 5. Mengingat perbedaan gender account, korelasi dihitung untuk sampel total
dan untuk kedua jenis kelamin terpisah.




Seperti terlihat pada Tabel 4, dan 5 analisis total sampel (n 313)
menunjukkan korelasi positiI (p 0,05) dari empati dengan perilaku berikut (dalam
semua kasus, selama 10-12 dan 12-14 tahun berusia , masing-masing): perilaku
prososial, (R 0,53, r 0,52,) dan dinilai oleh orang tua (r 0,28, r 0,27),
perilaku asertiI dalam interaksi rekan (r 0,55, r 0,32), perilaku sosial,
pertimbangan untuk orang lain (r 0,46, r 0,26), teman sekelas prososial
sociometric pilihan (sama seperti trend pada remaja) (r 0,28, r 0,14), konsep
diri positiI (r 0,48, r 0,21), global konsep diri (r 0,50, r 0,19) dan
kemampuan untuk mengidentiIikasi penyebab emosi negatiI (r 0,27, r 0,16).
Demikian pula, korelasi negatiI yang signiIikan (p dari empati ditemukan dengan
perilaku agresiI dalam interaksi peer () 0,05 r - .50, r - .27) , perilaku antisosial
(r - .31, r - .16) dan penarikan perilaku (r - .24, r - .29 )
6 iskusi
Dalam studi ini, secara statistik signiIikan ditemukan perbedaan gender
dalam kapasitas untuk empati, dengan hasil perempuan mendapatkan skor yang
lebih tinggi di segala usia. Hasil ini, sesuai dengan penelitian lain oleh Garcia de
Galdeano & Garaigordobil, 2006; Litvack et al., 1997; Lozano & Etxeberria, 2007;
Mestre et al., 2004; Miron et al, 1989; Navas dkk.., 2005 ; Sanchez et al, 2006),
yang menunjukkan empati yang lebih besar pada anak perempuan. Hal inilah yang
menunjukkan kebenaran dari Hipotesis 1.

iron et al. (1989) berpendapat, perbedaan-perbedaan ini mungkin karena
perbedaan dalam pola pengasuhan anak laki-laki dan perempuan. Dengan
demikian, dapat diasumsikan bahwa perempuan memiliki tingkat yang lebih besar
daripada anak laki-laki, telah disosialisasikan dengan cara-cara yang mendukung
pengembangan keterampilan yang berorientasi pada kehangatan dalam hubungan
interpersonal. Artinya, kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan orang
lain dan emosi akan menjadi karakteristik yang terkait dengan peran Ieminin, lebih
daripada peran stereotip maskulin.

Sehubungan dengan pengembangan empati, tidak ada perbedaan yang
signiIikan ditemukan untuk empati dari usia 10 sampai 14 tahun, dengan hasil yang
sangat mirip dicatat untuk semua kelompok umur. Hasil ini menolak Hipotesis 2,
yang mendalilkan bahwa kapasitas empati meningkat sesuai dengan usia. Namun,
hal ini berada di jalur yang sama dengan yang diperoleh dalam studi oleh Mestre et
al. (2004).

Hasil analisis sebagai Iungsi dari gender mengungkapkan bahwa perempuan
dari segala usia mendapatkan skor lebih tinggi secara signiIikan dalam perilaku
prososial dan perilaku asertiI dalam interaksi dengan sesama dan kapasitas untuk
analisis kognitiI dari emosi negatiI. Di masa kanak-kanak, perempuan mencetak
skor lebih tinggi dalam perilaku pertimbangan bagi orang lain dan pengendalian
diri, lebih sering dinominasikan sebagai teman sekelas prososial, dan menampilkan
konsep-diri yang lebih positiI. Anak laki-laki, di sisi lain, secara signiIikan
menampilkan perilaku lebih agresiI dalam interaksi rekan di segala usia, perilaku
lebih antisosial di masa kanak-kanak, perilaku penarikan diri dan perilaku
kecemasan/malu berkurang pada masa remaja.

Hipotesis 3 menduga bahwa perempuan akan menampilkan perilaku sosial
yang lebih positiI dan lebih rendah perilaku sosial negatiI yang ditampilakn
dibandingkan dengan laki-laki. Karena itu, Hipotesis 3 hanya sebagian yang
dikonIirmasi, karena selama masa remaja, anak laki-laki dan perempuan tidak ada
perbedaan dalam perilaku antisosial dan juga tidak ada perbedaan perilaku dan
pertimbangan pengendalian diri, atau dalam skor sosiometrik. Selain itu,
perempuan remaja saat ini adalah secara signiIikan memiliki rasa malu/ kecemasan
yang lebih tinggi dari anak laki-laki.

Hipotesis 4, yang menunjukkan bahwa anak perempuan akan menunjukkan
kemampuan yang lebih besar untuk menganalisis emosi, juga perlu dikonIirmasi.
Hasil ini mendukung studi yang menemukan perempuan untuk skor yang lebih
tinggi secara signiIikan terhadap perilaku prososial (Calvo et al, 2001, Etxebarria et
al., 2003; Rotenberg et al, 2005) dan pemahaman emosional (Sunew, 2004) ..
Namun, dalam kasus perilaku antisosial, terdapat perbedaan yang signiIikan
ditemukan pada anak-anak, dengan skor yang lebih tinggi pada anak laki-laki,
perbedaan tersebut tidak dikonIirmasi pada masa remaja.

Sehubungan dengan Hipotesis 5, yakni postulat skor yang sama pada
konsep-diri di kedua jenis kelamin, sebagian hipotesis ini juga perlu di konIirmasi,
sebab nilai-nilai yang diperoleh jauh lebih tinggi untuk perempuan-perempuan, tapi
hanya dalam sampel anak-anak. Dukungan data yang diperoleh dalam penelitian
lain dengan remaja, tidak menemukan perbedaan jender yang signiIikan
(Garaigordobil et al., 2005), tetapi tidak seperti orang lain yang menemukan
kurangnya konsep diri pada anak perempuan (Amezcua & Pichardo, 2000; Borders,
1998; Pastor et al., 2003). Perbedaan-perbedaan ini mungkin karena instrumen
penilaian yang digunakan, karena beberapa dimensi kopral menekankan konsep diri
dan dalam dimensi ini, remaja perempuan cenderung skor yang lebih rendah.

Hasil analisis korelasi dilakukan untuk mengkonIirmasi bahwa empati anak-
anak dan remaja mengungkapkan banyak perilaku sosial yang positiI dan beberapa
perilaku sosial negatiI. Data-data ini mendukung Hipotesis 6, yang akan
diasumsikan bahwa empati remaja menunjukkan hubungan yang positiI dengan
perilaku sosial yang memIasilitasi sosialisasi dan hubungan negatiI dengan orang-
orang yang mengganggu dengan sosialisasi, dan berada di baris yang sama dengan
studi yang menemukan hubungan positiI antara empati dan perilaku prososial dan
dengan orang-orang yang telah menemukan hubungan negatiI empati dengan
perilaku agresiI, kekerasan interpersonal selama masa remaja dan antisosial. Di sisi
lain, mereka bertentangan dengan hasil Underwood dan Moore (1982), yang tidak
menemukan hubungan antara empati dan altruisme pada anak-anak. Perbedaan ini
mungkin disebabkan oleh berbagai instrumen yang digunakan untuk menilai
empati, karena, seperti Eisenberg dan Miller (1987) keluar jalur, metode penilaian
yang berbeda dapat mempengaruhi kekuatan hubungan antara dua konstruk.

Sehubungan dengan Hipotesis 7, ditemukan dalam penelitian ini bahwa
empati anak-anak dan remaja pada umumnya dianggap prososial oleh teman
sekelas mereka. Namun, diamati bahwa hubungan antara empati dan pertimbangan
prososial oleh teman sekelasnya bisa bergantung pada kelompok umur, karena pada
kelompok 10-12 tahun, korelasi itu signiIikan untuk perempuan tetapi tidak untuk
anak laki-laki, tetapi pada kelompok 12-14 tahun, korelasi yang signiIikan bagi
laki-lakii tapi tidak untuk para perempuan. Data ini sesuai dengan yang diperoleh
dalam stusi sebelumnya yang telah mengungkapkan hubungan positiI antara
penerimaan teman sebaya dan empati (Dekovic & Gerris, 1994; Warden &
MacKinnon, 2003).

Selain itu, penelitian ini menemukan empati untuk anak-anak dan remaja
memiliki tinggi selIconcept (positiI dan global), sehingga membenarkan Hipotesis
8, yang mengusulkan hubungan positiI antara empati dan konsep diri, memvalidasi
hasil yang diperoleh di tempat lain. Namun, ada korelasi antara konsep diri dan
empati ditemukan dalam kelompok perempuan-perempuan remaja.

Akhirnya, data-data ini menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja dengan
tingkat empati tinggi memiliki kemampuan yang tinggi untuk mengidentiIikasi
penyebab atau Iaktor yang mendasari emosi negatiI, serta kapasitas yang tinggi
(meskipun hanya di masa kanak-kanak) untuk mengusulkan cara-cara untuk
menghadapi atau mengatasi ini emosi.

Hipotesis 9, yakni postulat hubungan positiI dengan kapasitas untuk empati
analisis kognitiI dari emosi negatiI; konIirmasi hanya sebagian disebabkan oleh
tidak adanya hubungan positiI antara empati dan cara menangani emosi negatiI
pada remaja.

Penelitian yang dilaporkan di sini menyoroti Iakta bahwa empati merupakan
Iaktor penting dalam proses individu-individu mengembangkan pola berpikir yang
baik dan perilaku sesuai dengan norma-norma sosial, dan hubungan empati dengan
kepribadian struktural yang sangat relevan, seperti membangun konsep diri. Empati
tampaknya terkait erat dengan perilaku antisosial pada anak laki-laki dan perilaku
prososial pada kedua jenis kelamin, dan sangat penting untuk memahami perilaku
sosial. Dengan demikian, penting untuk mendorong empati dalam proses sosialisasi
anak-anak: merangsang pelebaran progresiI Iokus perspektiI egosentris mereka
melalui penyajian perasaan orang lain, melalui penggunaan penalaran sebagai
pemeliharaan dan pendidikan teknik, dan mendorong pemahaman tentang
konsekuensi dari perilaku seseorang bagi orang lain, melalui pemaparan model
empatik.

Dari perbedaan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini peneliti
menyarankan bahwa hal tersebut menunjukkan kebutuhan: 1) merevisi instrumen
penilaian empati, karena tidak semua dari mereka mengukur dimensi yang sama
empati; 2) sistematisasi alat dengan jaminan reliabilitas dan validitas yang
dibuktikan dengan sampel dari negara yang berbeda dan dengan versi yang sesuai
dengan tingkat usia yang berbeda ; 3) merawat peralatan bayi dari awal sampai
akhir remaja dengan sampel multikultural, dan 4) melakukan analisis terhadap
perkembangan empati, mengeksplorasi apakah ada perubahan sebagai Iungsi dari
umur, membandingkan perubahan dalam berbagai budaya.
7 %injauan pribadi

ele-ihan penelitian
Penelitian mengenai Analisis Perbandingan Sikap Empati di Masa Kanak-kanak
dan Remaja: Perbedaan Gender dan Hubungan Variabel Sosio-emosional ini
menunjukkan kompleksivitas dari suatu sikap empati, baik dikaitkan dengan variabel
sosio-emotional ataupun pada rentang usia tertentu. Desain penelitian yang dilakukan
berupa sampling, yang terdiri atas 12 kelompok/ ruang kelas. Dari sample yang dipilih
secara acak dari semua sekolah di provinsi Guipuzcoa tersebut, yakni berjumlah 313
partisipan, penelitian ini mampu menganalisis perbandingan empati dari berbagai aspek
yang terkait. Penelitian ini mencoba melihat hubungan antara empati dengan berbagai
variable seperti: variabel sosio-emosional, perilaku sosial, pilihan sosiometrik teman
sekelas yang prososial , konsep diri (selI esteem) dan kemampuan untuk menganalisis
emosi negatiI. Tidak hanya dilakukan pada satu rentang usia saja, peneliti membandingkan
dua rentang usia yang pada masa anak-anak akhir dan remaja awal. Berdasar dua rentang
usia yang berbeda tersebut dapat dilihat perbandingan dari adanya peningkatan atau
penurunan empati seseorang dengan variabel tertentu yang dihubungkan baik pada masa
anak-anak akhir maupun remaja awal.

ek:rangan penelitian
Beberapa hal yang bagi saya merupakan kekurangan dari penelitian ini adalah cara
pengolahan data yang ada. Hal tersebut bisa saja disebabkan oleh banyaknya instrument
penilaian yang harus dilihat. Namun, siIat korelasi data yang kurang tertata dengan baik
pada akhirnya mempersulit kesimpulan dari hubungan kausal antara variable-variabel yang
dapat diperiksa. Kemudian hasil dari penelitian ini tidak memberikan penjabaran yang
sepenuhnya, argumen dari setiap hipotesis yang ada tidak cukup memuaskan rasa
keingintauan saya serta masih menimbulkan banyak pertanyaan di benak saya. Penelitian
ini justru menyiratkan bias dari kecenderungan sosial dalam membangun empati. Karena
itu dianjurkan untuk mengukur variabel ini dengan jenis lainnya dari instrumen penilaian,
hal ini dimaksudkan untuk kemungkinan meratiIikasi data yang diperoleh.


de-ide yang muncul setelah membaca jurnal ini adalah keinginan untuk melakukan
penelitian dengan tema yang serupa, namun saya terpikirkan untuk memIokuskannya pada
satu variabel saja. Karena dengan begitu maka satu permasalahan tertentu dapat dijabarkan
secara mendalam. Sebab pada penelitian ini hasilnya tidak memberikan penjabaran yang
seutuhnya, argumen dari setiap hipotesis yang ada masih menimbulkan banyak pertanyaan
di benak saya.

Jika pada penelitian ini dilakukan dengan cara observational berupa tes (pengisian
kuesioner) tertentu yang berhubungan dengan empati, maka dibutuhkan kembali penelitian
untuk menganalisis tema yng serupa, hanya saja dilakukan dengan metodologi penelitian
eksperimental.

Selain itu, karena pada penelitian ini mengacu pada kecenderungan sosial, maka
akan memungkinkan dilakukan studi mengenai empati yang dilihat dari sisi perkembangan
kognitiI anak. Apakah ternyata Iaktor kognitiI ini turut berperan serta dalam membangun
empati seseorang? Bagaimana jika empati dihubungkan dengan setiap Iase pada `Life
Span Theory` yang diprakarsai oleh Erikson?

Penelitian ini jika diterapkan di Indonesia dengan desain yang sama kemungkinan
akan mengahasilkan hasil yang serupa. Sulit mendapaatkan validitas dari data yang ada,
meski telah digunakan berbagai instrumen penelitian. Hasil yang di dapat akan sangat
beragam mengingat Indonesia dengan ribuan pulau yang dimiliki. Namun, terlintas
dibenak saya untuk menganalisa hubungan budaya tertentu di Indonesia dengan tingkat
empati masyarakat yang tinggal di dalamnya. Apakah terdapat keterkaitan budaya, adat-
istiadat, serta kebiasaan masyarakat tertentu terhadap perkembangan empati seseorang.

Semua pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya ajukan diatas mungkin akan
terjawab jika telah diadakan suatu penelitian, baik oleh saya pribadi maupun orang/
instansi lain yang berkeinginan mengkaji setiap pertanyaan yang telah saya ajukan.