Anda di halaman 1dari 14

1

Daftar Isi

BAB I 3
PENDAHULUAN 3
1.1 Latar Belakang 3
1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 ManIaat Penelitian 3
1.4.1 ManIaat Teoritis 3
1.4.2 ManIaat Praktis 3
1.5 Sistematika Penulisan 6
BAB II 7
TINJAUAN PUSTAKA 7
2.1 Theories of Mate Selection 7
2.1.1 Social Context Theories 7
2.1.2 eeds Theories 8
2.1.3 xchange Theories 8
2.2 Pengertian Dewasa 9
2.3 Kebudayaan Makassar dalam Perkawinan 9
2.4 Dinamika Penelitian 10
2.5 Pertanyaan Penelitian 10
BAB III 11
METODE PENELITIAN 11
3.1 Desain Penelitian 11
3.2 Variabel Penelitian 11
3.3 DeIinisi Operasional 11
3.4 Responden Penelitian 12
3.4.1 Karakteristik Responden Penelitian 12
3.4.2 Teknik Pengambilan Sample 12
3.4.3 Jumlah Responden 12
2

3.5 Alat Ukur dan Instrumen Penelitian 13
3.6 Metode Pengolahan Data 13
3.6.1 Uji Validitas 13
3.6.2 Uji Reliabilitas 13
3.6.3 Teknik Analisis Statistik 13
DAFTAR PUSTAKA 14













3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang

Salah satu tugas perkembangan pada masa dewasa adalah menentukan suatu keputusan
dalam memilih pasangan hidup. Seperti yang diungkapkan dalam teori Ericson (dalam Hurlock
1991), masa dewasa awal merupakan mata 'krisis keterasingan. Dalam masa ini, wanita dewasa
yang belum menikah akan merasa kesepian karena teman-temannya sudah berpencar dan banyak
diantaranya yang sudah sibuk dengan urusan keluarga atau sibuk dengan pacaran. Dalam tahun-
tahun sejak usia dewasa sampai usia tiga puluh tahun, kebanyakan pria dan perempuan berupaya
meyesuaikan diri dalam kehidupan baru yakni kehidupan perkawinan, peran sebagai orangtua
dan karier mereka.
Keputusan dalam memilih pasangan hidup bukanlah suatu hal yang mudah, sebab hal ini
dipengaruhi oleh Iaktor-Iaktor tertentu, baik internal maupun eksternal. Bagi masyarakat tertentu
proses 2ate selection terkait oleh suatu nilai (tradisi atau adat) yang berlaku dalam kebudayaan
mereka. Antara kebudayaan satu dengan yang lainnya akan memiliki suatu corak yang khas
dalam proses 2ate selection ini. Bagi kaum bangsawan, Iaktor yang harus diperhatikan adalah
kesesuaian derajat antara pihak pria dan perempuan. Kemudian, pada masyarakat bugis, idealnya
pemilihan pasangan dalam perkawinan dilangsungkan dengan keluarga sendiri, sebab hal itu
dianggap sebagai perjodohan terbaik. Pasangan yang hendak menikah juga sebaiknya berasal
dari generasi atau angkatan yang sama (Pelras, 2006).
Contoh lainnya yakni pada orang dewasa dalam budaya kolektiI, seperti China dan India
cenderung mengacu pada nilai karakteristik praktis (pelayan yang baik, berorientasi pada uang)
dan kesamaan demograIis (agama dan kasta yang sama) dalam menentukan calon pasangan atau
pasangan sepanjang seumur hidup, hal ini berbeda jika dibandingkan dengan dewasa dari budaya
yang individualis. Memilih pasangan berdasarkan pertimbangan praktis dan kesamaan
demograIis menunjukkan kemungkinan bahwa pasangan akan kompatibel, pernikahan akan
berjalan dengan baik dan bahwa pasangan akan menerima persetujuan dan dukungan dari
keluarga dan kelompok sosial lainnya.
4

Regan (2003) menyatakan bahwa budaya merupakan variabel lain yang tampaknya terkait
dengan preIerensi pada pasangan hidup. Meskipun pria dan wanita di seluruh dunia memiliki
nilai yang sama dalam menentukan sikap karakteristik pasangan, namun terdapat perbedaan
budaya yang kuat. Pada kenyataannya, budaya tampaknya memang memiliki korelasi yang jauh
lebih kuat dalam pemilihan pasangan, daripada kebutuhan seksual (Goodwin 1999 dalam Regan,
2003). Penelitian Blood (1969) menjelaskan mengenai keterlibatan orangtua dalam pemilihan
pasangan bagi anak-anak mereka. Dinyatakan bahwa umumnya orangtua dari masyarakat Ieodal
tradisional memilihkan pasangan untuk anak-anak mereka. Dalam masyarakat industri orang tua
kehilangan otoritas mereka. Namun, orang tua dalam masyarakat modern tertarik dalam
pemilihan pasangan anak-anak mereka dan bersedia untuk membantu mereka memilih dengan
secara bijaksana.
Dalam studi sebelumnya dari Herr (1974 dalam Gaines, 1997) menemukan bahwa
pernikahan antaretnis rata-rata kurang stabil jika dibandingkan dengan pernikahan antar-etnis ....
Dalam hubungan etnis sering menemukan bahwa satu-satunya sumber terpercaya mereka adalah
cinta dan harga diri satu sama lain .... Dalam hubungan perkawinan antaretnis dan intra-etnis
memiliki kesamaan, yakni kunci untuk kepuasan dan kasih sayang yang stabil dan konsisten
serta rasa hormat tanpa memberikan imbalan kepada orang lain.

1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan hasil studi yang telah ada, tampak bahwa proses 2ate selection dipengaruhi oleh
berbagai Iaktor, tidak hanya Iaktor budaya. Hal itulah yang mendasari peneliti untuk mengetahui
gambaran 2ate selection pada perempuan dewasa keturunan Makassar. Sebab dari Iaktor
budaya, idealnya pemilihan pasangan dalam perkawinan dilangsungkan dengan keluarga sendiri,
namun kenyataannya dewasa ini berbagai Iaktor mempengaruhi proses 2ate selection tersebut.
Karena itu, apa sajakah Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi para perempuan dewasa keturunan
Makassar dalam proses 2ate selection?

3

1.3%ujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui gambaran 2ate selection pada perempuan dewasa keturunan Makassar
2. Mengetahui Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi perempuan dewasa keturunan Makassar
dalam proses 2ate selection
3. Mengetahui dominasi Iaktor budaya pada proses 2ate selection para perempuan dewasa
keturunan Makassar
4. Melihat adanya kecenderungan antara interethnic 2arriage dan intraethnic 2arriage
dalam 2ate selection perempuan dewasa keturunan Makassar.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat %eoritis

Secara teoritis, manIaat penelitian ini adalah dapat memberikan gambaran 2ate selection
pada perempuan dewasa keturunan Makassar. Khususnya dalam penjelasan mengenai Iaktor-
Iaktor yang mempengaruhi perempuan dewasa keturunan Makassar dalam menentukan pasangan
hidupnya.
1.4.2 Manfaat Praktis

ManIaat praktis dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan Iaktor-Iaktor yang
mempengaruhi para perempuan dewasa keturunan Makassar dalam proses mate selection.
Kemudian dari hasil penelitian tersebut dapat menjabarkan kecenderungan interethnic 2arriage
dan intraethnic 2arriage dalam proses 2ate selection perempuan dewasa keturunan Makassar.
Sehingga dapat terlihat peran dan pengaruh dari budaya Makassar terhadap keputusan
perempuan dewasa Makassar dalam memilih pasangan hidupnya.




6

1.5 $istematika Penulisan

BAB I Pendahuluan
Berisi penjelasan latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan dan
manIaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini dijelaskan teori-teori yang terkait dengan permasalahan dan tujuan
penelitian, serta hasil-hasil lain terkait dengan variabel dalam penelitian yang akan dikaji.
Menguraikan dinamika variabel penelitian berdasarkan sudut pandang peneliti, serta
menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam penelitian.

BAB III Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan rencana dan prosedur yang akan dilakukan peneliti untuk
mendapatkan jawaban dari permasalahan atau tujuan dari penelitian. Berisikan uraian
mengenai desain penelitian, variabel penelitian, deIinisi operasional, responden, alat ukur,
dan metode pengolahan data.







7

BAB II
%IN1AUAN PU$%AKA
2.1 1heories of Mate Selection
2.1.1 Social Context 1heories

Pada social context theory, kerangka ini berIokus pada mekanisme proksimal yang terletak
di lingkungan sosial, budaya dan sejarah kontemporer. Hal inilah yang mempengaruhi preIerensi
pasangan manusia, strategi daya tarik, serta pemilihan dan penentuan suatu hubungan (Regan,
2003).
Parental invest2ent-based evolutionary 2odels berpendapat bahwa perempuan, yang
menginvestasikan sumber daya Iisiologis lebih langsung dan jelas kepada keturunan mereka
daripada pria, perempuan juga lebih sensitiI untuk menghasilkan rekan dari kebugaran
sosial (Buss & schmitt 1993; Kenrick, Sadalla, Groth & Trost, 1990 dalam Regan, 2003)
Psikolog Pamela Regan (1998 dalam Regan, 2003) telah meminta responden pria dan
perempuan untuk menunjukkan preIerensi mereka dalam variasi pasangan ideal dengan
karakteristik yang lebih luas. Bagi kedua jenis kelamin, pasangan romantis jangka panjang yang
dianggap "sempurna" adalah seseorang yang memiliki banyak atribut tertentu, berikut ini
merupakan urutan atribut berdasarkan kepentingan:
1. Karakteristik yang terkait dengan daya tarik Iisik
2. Karakteristik yang berhubungan dengan keterampilan interpersonal dan ketanggapan
3. Karakteristik yang berhubungan dengan kecerdasan
4. Karakteristik yang berhubungan dengan orientasi keluarga
Ketika mempertimbangkan pasangan yang potensial atau pasangan perkawinan, pria
cenderung lebih melihat kepada daya tarik Iisik perempuan, dan perempuan cenderung untuk
Iokus pada posisi sosial atau status ekonomi dari pria (Feingold dalam Regan, 2003). Perempuan
memiliki standar minimum yang lebih tinggi sehubungan dengan karakteristik yang berkaitan
8

dengan status sosial daripada pria. Kemudian, dalam penelitian terbaru, Joanna Scheib (2001
dalam Regan, 2003) menyimpulkan bahwa perempuan yang diminta untuk membayangkan jika
mereka memilih suami, lebih sedikit perempuan yang menginginkan pria yang kurang menarik
meskipun memiliki karakter yang baik daripada memilih pria yang lebih menarik meskipun
memiliki karakter yang kurang diinginkan.
Umumnya, baik perempuan maupun pria, keduanya lebih menyukai pasangan yang
memiliki konstelasi karakteristik positiI, mulai dari siIat internal atau sikap (kecerdasan,
kestabilan emosi, humor), atribut interpersonal (ramah, berjiwa sosial), karakteristik Iisik (daya
tarik) dan untuk variabel sosial (status social dan ekonomi)

2.1.2 eeds 1heories

eeds theories of 2ate selection are based on the idea that we select a partner who fill our
needs` (DeGenova, 2008).
Menurut teori ini, seseorang yang senang merawat orang lain akan mencari pasangan yang
suka dirawat dan ditolong. Winch (1967 dalam DeGenova, 2008) menambahkan aspek untuk
saling melengkapi, yakni prestasi. Individu cenderung memilih pasangan yang memberikan janji
terbesar untuk menyediakan kebutuhan pada kepuasan maksimal. Ini adalah seseorang yang
berusaha melengkapi kebutuhan dirinya sendiri.

2.1.3 xchange 1heories

DeGenova (2008) menyatakan xchange theories are a sort of cost-benefit analysis of
relationship`. Teori ini didasarkan pada gagasan bahwa kita masuk ke dalam suatu hubungan
dengan mereka yang memiliki sumber daya (contoh paling nyata seperti: pendapatan yang tinggi,
daya tarik, kecerdasan dan selera humor yang baik) seperti nilai-nilai yang kita inginkan.

9

2.2 Pengertian Dewasa

Istilah adult berasal dari kata kerja Latin, kata adult berasal dari bentuk lampau partisipel
dari kata kerja adultus yang berarti 'telah tumbuh menjadi kekuatan dan ukuran yang sempurna
atau 'telah menjadi dewasa. Oleh karena itu, orang dewasa adalah individu yang telah
menyelesaikan pertumbuhannya dan siap menerima kedudukan dalam masyarakat bersama
dengan orang dewasa lainnya (Hurlock, 1991).
Hurlock (1991) menyatakan bahwa masa dewasa awal dimulai pada umur 18 tahun sampai
kira-kira umur 40 tahun, saat perubahan-perubahan Iisik dan psikologis yang menyertai
berkurangnya kemampuan reproduksi. Masa ini merupakan masa pencarian kemantapan dan
masa reproduktiI yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional,
periode isolasi social, periode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai dan
kreativitas, serta periode penyesuaian diri terhadap pola-pola kehidupan baru dan harapan-
harapan social baru. Orang dewasa muda diharapkan memainkan peran baru, seperti peran
suami/istri, orangtua, dan pencari naIkah, mampu mengembangkan sikap-sikap baru, keinginan-
keinginan dan nilai-nilai baru sesuai dengan tugas perkembangan pada masa ini.
Menurut Ericson (dalam Papalia,2009), masa dewasa awal merupakan tahap keenam dari
tahapan perkembangan psikososial. Pada tahap ini intimacy versus isolation menjadi persoalan
utama, di mana dewasa awal dituntut untuk saling berkomitmen atau menghadapi rasa
keterasingan diri dan keterpakuan pada diri sendiri. Resolusi tahap ini menghasilkan kekuatan
cinta, yakni pengabdian timbal balik antara pasangan yang telah memilih untuk membagi
kehidupan mereka secara bersama.
2.3 Kebudayaan Makassar dalam Perkawinan

Bagi masyarakat Bugis, termasuk Makassar, perkawinan berarti siala (saling mengambil
satu sama lain). Jadi, perkawinan adalah ikatan timbal balik. Walaupun berasal dari status social
berbeda, setelah menjadi suami istri mereka merupakan mitra. Hanya saja perkawinan bukan
sekedar penyatuan dua mempelai semata, akan tetapi suatu upacara penyatuan dan persekutuan
dua keluarga yang biasanya telah memiliki hubungan sebelumnya dengan maksud kian
mempereratnya (2apasideppe 2abela-e atau mendekatkan yang jauh). Perkawinan umumnya
10

berlangsung antarkeluarga dekat atau antar kelompok patronasi yang sama, sehingga mereka
sudah saling memahami sebelumnya. Oleh karena itu, jika pasangan perkawinan berasal dari
daerah lain, mereka cenderung menjalin hubungan yang lebih dekat lagi dengan orang yang telah
mereka kenal baik melalui jalur perkawinan. Dengan kata lain, perkawinan adalah cara terbaik
untuk membuat orang lain menjadi 'bukan orang lain (tennia tau laeng).
2.4 Dinamika Penelitian

Pada proses 2ate selection, Iaktor budaya merupakan salah satu Iaktor yang penting dalam
memilih pasangan hidup. Pada masyarakat Makassar, dalam memilih pasangan hidup idealnya
adalah dengan keluarga sendiri. Sebab hal itu dianggap sebagai cara perjodohan terbaik.
Beberapa golongan masyarakat mungkin saja masih menganut nilai kebudayaan (tradisi atau
adat) tersebut. Namun, yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya Iaktor-Iaktor lain disamping
Iaktor budaya. Kemudian Iaktor-Iaktor lain inilah yang pada akhirnya dapat mempengaruhi
pengambilan keputusan dalam proses 2ate selection tersebut.
2.5 Pertanyaan Penelitian

Mate selection adalah salah satu pengambilan keputusan yang sangat penting dalam
kehidupan seseorang. Karena itu, dalam penelitian ini, peneliti Iocus terhadap beberapa hal
seperti:
1. Apakah Iaktor budaya masih mendominasi sebagai Iaktor utama yang mempengaruhi
para perempuan dewasa keturunan Makassar dalam proses 2ate selection?
2. Apa sajakah Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi proses 2ate selection pada perempuan
dewasa keturunan Makassar?
3. Seberapa penting latar belakang keluarga dalam proses 2ate selection pada perempuan
dewasa keturunan Makassar?
5. Apakah terdapat kecenderungan antara interethnic 2arriage dan intraethnic 2arriage
dalam 2ate selection pada perempuan dewasa keturunan Makassar.

11

BAB III
ME%DE PENELI%IAN

3.1Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatiI, yakni penelitian yang dilakukan dengan
mengumpulkan data yang berupa angka. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis untuk
mendapatkan suatu inIormasi ilmiah di balik angka-angka tersebut (Martono, 2010). Sedangkan
menurut Creswell (2005) "uantitative research is a type of educational research in which the
researcher decides what to study, asks specific, narrow question, collects nu2eric (nu2bered)
data fro2 participants, analy:es these nu2bers using statistic and conducts the inquiry in an
unbiased, with obfective 2anner`.
Penelitian ini merupakan bentuk penelitian deskriptiI mengenai 2ate selection pada
perempuan dewasa keturunan Makassar. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survey,
sebagai salah satu bentuk desain dari penelitian. 'Survey research design are procedures in
quantitative in which investigators ad2inister a survey to a sa2ple or to the entire population of
people in order to describe the attitudes, opinions, behaviors or characteristics of the
population` (Creswell, 2005).
3.2 Variabel Penelitian

Dalam penelitian berjudul 'Mate selection pada perempuan dewasa keturunan Makassar ini
variabel yang diukur adalah 2ate selection. Pengukuran ini dilakukan kepada perempuan dewasa
keturunan Makassar untuk mendapatkan gambaran Iaktor-Iaktor yang mempengaruhi proses
2ate selection.
3.3 Definisi 5erasional

Mate Selection adalah suatu bentuk kebutuhan pada seorang individu, untuk menetapkan
preIerensi dalam variasi pemilihan pasangan ideal yang dipengaruhi oleh berbagai Iaktor atau
karakteristik sebagai berikut:
12

1. Faktor Budaya (nilai, adat, atau tradisi yang dianut dalam kebudayaan tertentu)
2. Faktor Internal (kecerdasan, sikap, kepribadian, kestabilan emosi, selera humor)
3. Faktor Karakteristik Fisik (terkait dengan daya tarik Iisik)
4. Faktor Sosial (keadaan ekonomi, status social, demograIi)
5. Faktor Lingkungan (orientasi keluarga, dukungan dari kerabat dan teman)
3.4 Res5onden Penelitian
3.4.1 Karakteristik Res5onden Penelitian

Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan
memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan unit atau
individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti (Martono, 2010). Populasi dalam penelitian ini
adalah perempuan dewasa awal keturunan Makassar.
3.4.2 %eknik Pengambilan $am5le

Sample merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu
yang akan diteliti, yakni sebagian anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan prosedur
tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi (Martono,2010). Teknik pengambilan
sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sa2pling yang termasuk kedalam
non probability sa2pling, artinya responden sengaja dipilih berdasarkan karakteristik yang telah
ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penelitian.
3.4.3 1umlah Res5onden

Salah satu cara untuk menentukan ukuran sampel adalah memilih jumlah peserta yang
memadai dalam prosedur statistik untuk rencana dari penelitian yang digunakan. Hal ini
mengasumsikan bahwa telah teridentiIikasi metode statistik yang akan digunakan dalam analisis.
Dalam penelitian ini, jumlah sampel diambil dari jumlah perkiraan kasar. Dalam Creswell (2005)
perkiraan kasar jumlah sampel sebuah penelitian pendidikan yakni membutuhkan sekitar 350
individu untuk metode survey penelitian, tapi ukuran ini akan bervariasi tergantung pada Iaktor-
Iaktor tertentu.
13

3.5 Alat Ukur dan Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatiI, maka metode pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner atau angket sebagai sumber data utama.
Dalam penelitian ini, responden diminta untuk memeberikan jawaban singkat yang sudah tertulis
di dalam kuesioner atau angket untuk kemudian jawaban dari seluruh responden tersebut diolah
menggunakan teknik analisis kuantitatiI tertentu (Martono, 2010).

3.6 Metode Pengolahan Data
3.6.1 Uji Validitas

Validitas adalah istilah yang digunakan dalam hubungannya dengan relevansi dari hasil
tes, yakni seperti apa arti yang sebenarnya dari suatu score test ujian. Validitas digunakan untuk
menguji atau perkiraan seberapa baik suatu pengukuran, apakah pengukuran tersebut mengukur
apa yang menjadi tujuan dalam mengukur konteks tertentu. Lebih tepatnya, hal ini merupakan
keputusan yang didasarkan pada bukti dalam relevansi kesimpulan yang diambil dari hasil
pengujian (Cohen& Swerdlik, 2010).
3.6.2 Uji Reliabilitas

Dalam bahasa sehari-hari reliabilitas merupakan sinonim untuk dependability (keandalan)
dan consistency (konsistensi). Umumnya dalam bahasa psikometri, reliabilitas mengacu pada
konsistensi dalam pengukuran. Reliabilitas juga biasanya selalu berkonotasi sesuatu yang positiI,
benar-benar kepada sesuatu yang kompatibel, tidak selalu konsisten baik atau buruk, tapi cukup
konsisten (Cohen& Swerdlik, 2010.
3.6.3 %eknik Analisis $tatistik
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni teknik penghitungan statistic
descriptif. Data dalam penelitian ini akan dianalisis dengan menggunakan uji statistik program
SPSS 15.
14

DAF%AR PU$%AKA

Blood, Robert O. (1969). Marriages, 2
nd
ed. USA: The Free Press
Cohen, Ronald Jay & Mark E. Swerdlik. (2010). Psychological Testing and Assess2ent. An
Introduction to Test & Measure2ent, 7
th
ed. USA: McGraw-Hill
Creswell, John W. (2005). ducational Research. Planning, Conducting and valuating
"uantitative and "ualitative Research, 2
nd
ed. USA: Pearson Prentice Hall
DeGenova, Mary Kay. (2008). Inti2ate Relationships, Marriages & Fa2ilies, 7
th
ed. US:
McGraw-Hill
Gaines, Stanley O. (1997). Culture, ethnicity and personal relationship process. Great Britain:
Routledge. Inc
Hurlok, Elizabeth B. (1991). Psikologi Perke2bangan. Suatu Pendekatan Sepanfang Rentang
kehidupan. Terjemahan: Soedjarwo, dkk. Jakarta: Penerbit Erlangga
Martono, Nanang. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif. Analisis dan Analisis Data Sekunder.
Jakarta: Rajawali Pres
Papalia, Diane E., Sally Olds & Ruth Feldman. (2009). Perke2bangan Manusia. Terjemahan:
Brian Marswendy. Jakarta: Salemba Humanika

Regan, Pamella. (2003). The Mating Ga2e. A Pri2er on Love, Sex and Marriages. USA: Sage
Publication, Inc