Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN 3

1.1 Latar Belakang 3


1.2 Rumusan Masalah 4
1.3 Tujuan Penelitian 3
1.4 ManIaat Penelitian 3
1.4.1 ManIaat Teoritis 3
1.4.2 ManIaat Praktis 3
1.5 Sistematika Penulisan 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7
2.1 Pengertian Pemahaman 7
2.2 Pendidikan Karakter 7
2.2.1 Arti Pendidikan 7
2.2.2 Menanamkan Nilai-nilai Pendidikan Karakter 8
2.3 Pengertian Intensi 9
2.4 Bullying 9
2.4.1 Pengertian Bullying 9
2.4.2 Bentuk Bullying 9
2.4.3 Nilai-nilai Luhur yang Berkaitan dengan Bullying 10
2.5 Dinamika Hubungan antara Pemahaman Guru tentang Pendidikan Karakter Anak dengan
Intensi Guru untuk Bullying terhadap Siswa di Sekolah 12
2.6 Hipotesis 12
BAB III METODE PENELITIAN 13
3.1 Desain Penelitian 13
3.2 Variabel Penelitian 13
3.3 DeIinisi Operasional 14
3.3.1 Pemahaman Guru tentang Pendidikan Karakter Anak 14
3.3.2 Intensi Guru untuk Bullying terhadap Siswa 14
3.4 Responden Penelitian 14
3.4.1 Karakteristik Responden Penelitian 14
3.4.2 Teknik Pengambilan Sample 13
3.4.3 Jumlah Responden 13
3.5 Alat Ukur dan Instrumen Penelitian 13
3.6 Metode Pengolahan Data 16
3.6.1 Uji Validitas 16
3.6.2 Uji Reliabilitas 16
3.6.3 Teknik Analisis Statistik 16
3.7 Prosedur Penelitian 17
DAFTAR PUSTAKA 18









BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Dalam beberapa tahun belakangan ini, beberapa topik media massa menyoroti Ienomena
kekerasan di sekolah. Maraknya aksi -ullying yang terjadi sudah tidak lagi menjadi wacana
belaka, berbagai Ienomena mengenai tindakan kekerasan yang membuat seseorang merasa
teraniaya ini sudah berlangsung cukup lama. Bahkan pada pertengahan Desember 2007 silam
di daerah Jawa Barat, berita mengejutkan muncul dari seorang siswa Sekolah Dasar (SD)
yang tewas akibat ditikam oleh gurunya sendiri. Dapat dikatakan bahwa guru itu telah
melakukan -ullying terhadap anak muridnya (Nusantara, 2008).
Kemudian berdasarkan penelitian yang diselenggarakan atas kerjasama SEJIWA, Plan
Indonesia dan Universitas Indonesia (2008) terungkap bahwa kekerasan, baik yang dilakukan
oleh guru kepada siswa maupun yang dilakukan siswa kepada sesama siswa, terjadi di semua
sekolah yang terlibat penelitian. Penelitian ini melibatkan sekitar 1233 orang siswa SD,
Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta,
Yogyakarta dan Surabaya. Bentuk kekerasan yang meliputi yakni -ullying verbal, psikologis,
serta Iisik dilaporkan oleh 66.1 siswa SMP dan 67.9 siswa SMA. Kemudian yang menarik
adalah persepsi bahwa guru paling sering melakukan -ullying psikologis bagi siswa SMP
(41,8) dan SMA (47,8). Sedangkan guru di SMP lebih sering memberi hukuman Iisik
(26,3) daripada di SMA (24).
Penelitian serupa diselenggarakan kembali di enam SD di tiga Kabupaten di Kepulauan
Maluku pada tahun 2010, hasilnya mengungkapkan bahwa anak mengalami kekerasan dari
orang tua, guru dan juga teman sebaya di sekolah. Kekerasan umumnya dilakukan orang tua
dan guru dengan alasan mendisiplinkan anak. Bullying terjadi ketika seseorang merasa
teraniaya oleh tindakan orang lain baik yang berupa verbal, Iisik maupun mental dan orang
tersebut takut bila perilaku tersebut akan terjadi lagi.
Istilah -ullying sendiri juga makin marak didengar akhir-akhir ini ketika guru-guru salah
satu SMA bergengsi di Jakarta justru yang melakukan -ullying (Damanik,2008). Hal ini
mendukung salah satu pernyataan Parsons (2005) dalam bukunya yang berjudul Bullied
Teacher, Bullied Students bahwa bukan siswa pelaku intimidasi satu-satunya. Guru, Kepala
Sekolah dan Orangtua melakukan intimidasi juga, hal inilah yang membahayakan kegiatan
belajar dan mengajar eIektiI.
Kemudian beberapa tahun belakangan mulai diterapkan Pendidikan Karakter di Sekolah,
sebagai salah satu tindakan preventiI dalam menanggapi Ienomena -ullying. Namun, menurut
LatieI (2010) bahwa pada kenyataannya selama ini pendidikan karakter yang kebanyakan
dijalankan di sekolah hanya berbentuk konseling oleh guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP)
saja, belum menyentuh secara optimal dalam kurikulum. Anita Lie (dalam LatieI, 2010)
selaku Praktisi Pendidikan juga menyatakan bahwa mayoritas guru belum memiliki kemauan
untuk melakukan pendidikan karakter secara optimal. Kesadaran untuk melakukannya sudah
ada namun belum diperkuat dengan aksi yang nyata.
Lingkungan sekolah, terutama guru saat ini memiliki peran sangat besar dalam
pembentukan karakter anak/siswa. Peran guru dalam dunia pendidikan modern sekarang ini
semakin kompleks, tidak sekedar sebagai pengajar semata, pendidik akademis tetapi juga
merupakan pendidik karakter, moral dan budaya bagi siswanya. Guru haruslah menjadi
teladan, seorang model sekaligus mentor dari anak/siswa di dalam mewujudkan perilaku yang
berkarakter yang meliputi olah pikir, olah hati dan olah rasa. Guru adalah model bagi anak,
sehingga setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi model atau contoh baginya.
Seorang guru harus selalu memikirkan perilakunya, karena segala hal yang dilakukannya akan
dijadikan teladan murid-muridnya dan masyarakat. Sebagai guru dan pendidik diharapkan dan
selayaknya memberi teladan bagi anak didik baik dalam setiap kegiatan yang dilakukan, baik
dalam tutur kata dan tindakan nyata atau perilaku (Wardani, 2010).
Pada banyak Negara school -ullying sudah disikapi secara serius, bahkan di beberapa
negara di Asia Ienomena ini telah banyak dibahas dan dilakukan penelitian-penelitian.
Sedangkan di Indonesia sendiri, penelitian dan pembicaraan tentang hal ini masih sedikit
sehingga kurang banyak data yang dapat diperoleh mengenai dampak yang diakibatkannya
(Anonim, 2010).

1.2Rumusan Masalah
Kemudian yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Apakah terdapat hubungan antara pemahaman guru tentang pendidikan karakter
dengan intensi guru untuk melakukan -ullying terhadap siswa?
2. Bagaimana persentase pemahaman guru tentang pendidikan karakter anak di
sekolah?
3. Bagaimana persentase intensi guru untuk melakukan -ullying terhadap siswanya?

1.3Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui hubungan antara pemahaman guru tentang pendidikan karakter anak
dengan intensi guru untuk -ullying terhadap siswa.
2. Mengetahui persentase pemahaman guru tentang pendidikan karakter anak.
3. Mengetahui persentase intensi guru untuk -ullying terhadap siswa.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Menjelaskan hubungan antara pemahaman guru tentang pendidikan karakter anak
dengan intensi guru untuk -ullying terhadap siswa.

1.4.2 Manfaat Praktis
1. Menggambarkan persentase pemahaman guru tentang pendidikan karakter anak,
sehingga dapat dilakukan suatu tindakan nyata dalam rangka optimalisasi pendidikan karakter
anak yang diterapkan oleh para guru di sekolah. Hal ini juga dilakukan sebagai intervensi
dalam penyelesaian masalah -ullying di sekolah sehingga kelak dapat memberikan eIek
serupa kepada orangtua, masyarakat serta pemerintahan.
2. Menggambarkan persentase intensi guru untuk -ullying terhadap siswa di sekolah,
sehingga dibutuhkan kerjasama yang baik dari pihak sekolah maupun orangtua untuk dapat
mengantisipasi dan meminimalisir adanya -ullying terhadap siswa di sekolah.

1.5 Sistematika Penulisan
BAB I Pendahuluan
Berisi penjelasan latar belakang penelitian, rumusan masalah penelitian, tujuan dan
manIaat penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II Tinjauan Pustaka
Pada bab ini dijelaskan teori-teori yang terkait dengan permasalahan dan tujuan
penelitian, serta hasil-hasil lain terkait dengan variabel dalam penelitian yang akan dikaji.
Menguraikan dinamika variabel penelitian berdasarkan sudut pandang peneliti, serta
menjelaskan Hipotesis yang muncul dalam penelitian.

BAB III Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan rencana dan prosedur yang akan dilakukan peneliti untuk
mendapatkan jawaban dari permasalahan atau tujuan dari penelitian. Berisikan uraian
mengenai desain penelitian, variabel penelitian, deIinisi operasional, responden, alat ukur, dan
metode pengolahan data.










BAB II
TIN1AUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pemahaman
Dalam amus Lengkap Bahasa Indonesia, makna pemahaman berasal dari kata dasar
'paham yang memiliki arti (Novia, (t.th)):
5aham pandangan, pengertian, pendapat, pikiran; haluan; mengerti benar, tahu benar;
pandai dan mengerti benar tentang sesuatu hal.
Menurut Bloom (dalam Sudjana, 2002) pemahaman merupakan kesanggupan memahami
setingkat lebih tinggi daripada pengetahuan. Pemahaman adalah suatu hasil dari proses belajar
yang lebih tinggi daripada pengetahuan. Dalam proses belajar, pemahaman dapat dibedakan
dalam tiga kategori (Sudjana, 2002):
1. Pemahaman Terjemah, yakni menterjemahkan ke dalam arti yang sebenarnya.
2. Pemahaman PenaIsiran, yakni menghubungkan bagian-bagian terdahulu dengan yang
diketahui berikutnya, atau menghubungkan beberapa bagian dari beberapa kejadian,
dapat membedakan yang pokok dan bukan yang pokok.
3. Pemahaman Ekstrapolasi, seseorang mampu melihat di balik yang tertulis, membuat
ramalan tentang konsekuensi atau dapat memperluas persepsi dalam arti waktu,
dimensi, kasus, ataupun masalahnya.

2.2 Pendidikan Karakter
2.2.1 Arti Pendidikan
Pendidikan memiliki makna yang sama dengan istilah 'Paedagogie. Paedagogie
berasal dari bahasa Yunani, terdiri dari kata 'Pais yang artinya 'anak, dan 'Again yang
diterjemahkan 'membimbing. Jadi, paedagogie adalah bimbingan yang diberikan kepada
anak. Pendidikan ini lebih menekankan dalam hal praktek, yaitu hal-hal yang menyangkut
kegiatan belajar mengajar. Dari segi etimologis, pendidikan berasal dari bahasa Yunani
'Paedagogike yang merupakan kata majemuk dari 'Paes yang berarti 'anak dan kata
'Ago yang berarti 'aku membimbing. Jadi, Paedagogike berarti 'Aku membimbing anak
(Ahmadi & Nur, 2001).
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata 'didik, lalu kata
ini mendapatkan awalam me sehingga menjadi 'mendidik, artinya memelihara dan memberi
latihan. Dalam memelihara dan membeli latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan dan
pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Kemudian, 'pendidikan menurut amus
Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan (Syah, 2008).
Dalam pengertian yang agak luas, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah proses
dengan metode-metode tertentu sehingga orang memperoleh pengetahuan, pemahaman dan
cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan. Dalam pengertian yang luas dan
representative (mewakili/ mencerminkan segala segi), pendidikan ialah . the total proses of
developing human a-ilities and -ehaviors, drawing on almost all lifes experiences (TardiI,
1987 dalam Syah, 2008).

2.2.2 Menanamkan Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Usaha pembentukan dan pendidikan karakter melalui sekolah, bisa dilakukan setidaknya
melalui pendekatan sebagai berikut (Azra, 2002):
1. Menerapkan pendekatan modeling atau exemplary atau uswah khasanah. Yakni
mensosialisasikan dan membiasakan lingkungan sekolah untuk menghidupkan dan
menegakkan nilai-nilai akhlak moral yang benar melalui model atau teladan
2. Menjelaskan atau mengklariIikasikan kepada peserta didik secara terus-menerus tentang
berbagai nilai yang baik dan buruk. Usaha ini bisa dibarengi juga dengan langkah-
langkah memberi penghargaan (prizing) dan menumbuhsuburkan (cherising) nilai-nilai
yang baik dan sebaliknya mengecam dan mencegah (discouraging) berlakunya nilai-nilai
yang buruk. Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk memilih berbagai
alternative sikap dan tindakan berdasarkan nilai,dll.
3. Menerapkan pendidikan berdasarkan karakter (character based education). Menerapkan
ke dalam setiap mata pelajaran khusus untuk pendidikan karakter.


2.3 Pengertian Intensi
Menurut Novia (t.th) dalam amus Lengkap Bahasa Indonesia, Intensi memiliki arti:
Intensi makna suatu ungkapan, dibedakan dengan ekstensi; keinginan

2.4 :3
2.4.1 Pengertian :3
Istilah -ullying dipahami dari kata -ull (bahasa Inggris) yang berarti 'banteng yang
suka menanduk. Pihak pelaku -ullying biasa disebut -ully.
Bullying adalah sebuah situasi di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan
yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya berarti kuat
dalam ukuran Iisik, tapi juga bisa kuat secara mental. Dalam hal ini sang korban -ullying
tidak mampu membela atau mempertahankan dirinya karena lemah secara Iisik dan atau
mental. Yang perlu dan sangat diperhatikan disini adalah bukan sekedar tindakan yang
dilakukan, tetapi dampak tindakan tersebut bagi si korban....bila yang didorong merasa
terintimidasi, apalagi tindakan tersebut dilakukan berulang-ulang, maka perilaku -ullying
telah terjadi (Nusantara, 2008).
Menurut Guidelines on Countering Bullying Behaviour in Primary and Post-Primary
School (1993 dalam Randall, 1997), 'Bullying is repeated aggression, ver-al, psychological
or physical, conducted -y an individual or group against other`. Snith and Sharp 1994
(dalam Randal, 1997) mendeskripsikan '-ullying as the systematic a-use of power`.
Pengertian lainnya oleh Randal (1997) yaitu, '-ullying is the aggressive -ehavior
arising from deli-erate intent to cause physical or psychological distress to others.

2.4.2 Bentuk :3
Secara umum bentuk praktik-praktik -ullying dikelompokkan dalam tiga kategori:
1. Bullying Fisik
Ini adalah jenis -ullying yang kasat mata. Siapapun bisa melihatnya karena terjadi
sentuhan Iisik antara pelaku -ullying dan korbannya. Contohnya seperti, menampar,
menimpuk, menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan barang,
menghukum dengan berlari keliling lapangan, menghukum dengan cara push-up, dan
menolak.
2. Bullying Verbal
Ini jenis -ullying yang juga bisa terdeteksi karena bisa tertangkap oleh indera
pendengaran kita. Contoh -ullying verbal yakni, memaki, menghina, menjuluki, meneriaki,
mempermalukan di depan umum, menuduh, menyoraki, menebar gossip, memIitnah, dan
menolak.
3. Bullying Mental
Ini merupakan jenis -ullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap mata atau
telinga kita jika kita tidak cukup awas mendeteksinya. Praktik -ullying ini terjadi diam-diam
dan di luar radar pemanatauan kita, contohnya: memandang sinis, memandang penuh
ancaman, mempermalukan di depan umum, mendiamkan, mengucilkan, mempermalukan,
meneror lewat pesan pendek telepon genggam atau e-mail, memandang yang merendahkan,
memelototi, dan mencibir.

2.4.3 Nilai-nilai Luhur yang Berkaitan dengan :3
Nilai-nilai luhur memuat kekuatan yang mendorong bagaimana kita harus berkata-kata,
berperilaku, dan berinteraksi secara bermartabat sehingga bukan saja kita diterima oranglain,
tetapi juga mengangkat dan menghargai keberadaaan oranglain. Nilai-nilai yang perlu
ditegakkan sebagai prinsip yang mendasari seluruh perilaku luhur kita dan dapat mengurangi
perilaku -ullying adalah nilai-nilai hormat, toleransi, empati, peduli, kasih-sayang, tanggung
jawab dan kerjasama.
a. Hormat
Hormat berarti penghargaan yang ditunjukkan oleh seseorang terhadap dirinya sendiri,
oranglain, maupun lingkungannya. Dalam lingkungan sekolah, nilai hormat ini amat peril
dibahas dan diterapkan oleh para pendidik sebagai panutan begi para siswa agar mereka pun
mampu menerapkan nilai ini pada kehidupan keseharian mereka.
b. Tanggung jawab
Menurut ahli bahasa, tanggung jawan berarti kemampuan untuk memberikan
tanggapan dan menunjukkan kepedulian atas kebutuhan oranglain. Dengan kata lain
tanggung jawab berarti dapat diandalkan dan tidak membiarkan oranglain dalam kesulitan.
c. Kepedulian
Kepedulian mengajarkan kita untuk saling mengisi, meringankan beban seseorang dan
membantu satu sama lain dalam bekerjasama. Kepedulian berarti menunjukkan keinginan
kita dan melakukan sesuatu untuk membantu orang lain terbebbaskan dari suatu kondisi
yang buruk.
d. Empati
Empati adalah kondisi ketika kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain.
Salah satu tugas pendidik adalah mengembangkan empati anak didik melalui perilaku
keseharian kita ketika menghadapi anak didik, sehingga mereka mengenali bagaimana
rasanya diperlakukan empatik, dan bagaimana memperlakukan sikap empatik terhadap
orang lain.
e. Toleransi
Tujuan toleransi adalah bisa hidup berdampingan dengan damai. Dengan adanya
toleransi, berarti kita dapat merayakan perbedaan-perbedaan antara diri kita dan orang lain
di sekitas kita dengan saling mengisi dan mampu melakukan kerja sama dalam
mengadakan perubahan. Orang yang toleran akan memepertimbangkan da menghargai
keunikan yang dimiliki orang lain.
I. Kasih sayang
Kasih sayang merupakan salah satu nilai keluhuran yang bisa mengalirkan semangat,
dan diperlukan untuk menjaga hubungan antar manusia sehingga saling mengisi menuju
individu-individu yang dapat saling bekerjasama dan bermakna bagi banyakpihak.
g. Kerja sama
Kerja sama bertujuan untuk menghasilkan manIaat optimal dalam setiap kerja sama.
Bula manusia melakukan kerja sama, maka mereka akan berusaha utnuk saling
mempercayai yang dapat menghasilkan lingkungan yang saling mendukung, menguatkan,
dan nyaman bagi semua pihak.
2.5 Dinamika Hubungan antara Pemahaman Guru tentang Pendidikan Karakter Anak
dengan Intensi Guru untuk :3 terhada5 Siswa di Sekolah
Tidak dapat dipungkiri bahwa guru memiliki peran yang besar sebagai model utama
dalam agen sosialisasi di sekolah. Perilaku guru sedikit banyak akan menjadi contoh atau
panutan bagi para siswa-siswi di sekolah. Salah satunya yakni perilaku -ullying yang
dilakukan guru terhadap siswa. Secara psikologis hal tersebut akan mempengaruhi proses
mental para siswa-siswi dalam memandang suatu perilaku -ullying yang dilakukan di sekolah.
Sebab sangat mungkin terjadi proses imitasi dari siswa-siswi tersebut untuk melakukan hal
serupa, baik terhadap teman sebayanya, guru atau bahkan orangtua mereka di rumah.
Saat ini, pendidikan karakter mulai diterapkan di dalam kurikulum sekolah. Bagi saya hal
ini merupakan salah satu tindakan preventiI dalam rangka mengurangi adanya kasus -ullying
di sekolah. Kembali kepada peran guru yang tertulis pada paragraph sebelumnya, dalam hal
ini memang guru memiliki peranan yang besar. Tindakan preventiI dalam kasus -ullying
dimulai dari kalangan guru terlebih dahulu. Pemahaman guru tentang pendidikan karakter
anak merupakan alternatiI tindakan yang diperlukan sejak dini. Kemudian diperlukan juga
pengertian yang cukup mengenai bentuk-bentuk -ullying yang mungkin saja terjadi di
sekolah.
Dengan adanya pemahaman yang cukup akan hal ini, para guru diharapkan memiliki
kecenderungan untuk menampilkan suatu sikap kehati-hatian. Serta adanya rasa mawas diri
dalam proses mengajar serta menghadapi siswa-siswinya di sekolah. Sehingga kemungkinan-
kemungkinan terjadinya berbagai bentuk -ullying di sekolah bukan lagi menjadi hal yang
terlalu dikhawatirkan.

2.6 Hi5otesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang kebenarannya masih harus diuji, atau
rangkuman kesimpulan teoretis yang diperoleh dari daItar pustaka (Martono, 2010).
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijelaskan diatas, maka hipotesis dalam penelitian
ini adalah:


Ho : Tidak terdapat hubungan antara pemahaman guru tentang pendidikan
karakter dengan intensi guru untuk -ullying terhadap siswa di sekolah.
Ha : Terdapat hubungan antara pemahaman guru tentang pendidikan karakter
dengan intensi guru untuk -ullying terhadap siswa di sekolah.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatiI, yakni penelitian yang dilakukan dengan
mengumpulkan data yang berupa angka. Data tersebut kemudian diolah dan dianalisis untuk
mendapatkan suatu inIormasi ilmiah di balik angka-angka tersebut (Martono, 2010).
Sedangkan menurut Creswell (2005) 'Quantitative research is a type of educational research
in which the researcher decides what to study, asks specific, narrow question, collects
numeric (num-ered) data from participants, analy:es these num-ers using statistic and
conducts the inquiry in an un-iased, with o-ective manner`.
Desain penelitian ini merupakan desain studi korelasional. Studi korelasional dalam
penelitian kuantitatiI yakni peneliti mengukur derajat asosiasi (atau hubungan) antara dua atau
lebih variabel dengan menggunakan prosedur analisis statistik korelasi (Creswell, 2005).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara pemahaman guru tentang
pendidikan karakter anak dengan intensi guru untuk -ullying terhadap siswa di sekolah. Serta
melihat gambaran pemahaman guru tentang pendidikan karakter dan intensi guru untuk
melakukan -ullying terhadap siswanya di sekolah.

3.2 Variabel Penelitian
Dalam penelitian berjudul 'Hubungan antara Pemahaman Guru tentang Pendidikan
Karakter Anak dengan Intensi Guru untuk Bullying terhadap Siswa di Sekolah ini terdiri atas
satu variabel terikat (dependent varia-le) dan satu variabel bebas (independent varia-le).
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah intensi guru untuk -ullying terhadap siswa di
sekolah sedangkan variabel bebasnya yakni pemahaman guru tentang pendidikan karakter
anak.

3.3 Definisi O5erasional
3.3.1 Pemahaman Guru tentang Pendidikan Karakter Anak
Pemahaman guru tentang pendidikan karakter anak adalah pandangan serta pengertian
seorang guru mengenai nilai-nilai luhur yang perlu ditanamkan kepada siswa didiknya. Nilai-
nilai luhur tersebut meliputi: rasa hormat, tanggung jawa, kepedulian, empati, toleransi, kasih
sayang dan kerjasama.

3.3.2 Intensi Guru untuk Bullying terhada5 Siswa
Intensi guru untuk -ullying terhadap siswa memiliki pengertian adanya suatu keinginan
seorang untuk melakukan tindakan penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan kepada siswa
didiknya. Tindakan ini berupa serangan verbal, Iisik maupun psikologis yang dilakukan
berulang-ulang. Sehingga menyebabkan siswa-siswi merasa terintimidasi.

3.4 Res5onden Penelitian
3.4.1 Karakteristik Res5onden Penelitian
Populasi merupakan keseluruhan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan
memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian, atau keseluruhan unit
atau individu dalam ruang lingkup yang akan diteliti (Martono, 2010). Populasi dalam
penelitian ini adalah guru yang mengajar di sekolah, baik tingkat Sekolah Dasar dan
Menengah. Sekolah yang dipilih merupakan sekolah yang telah menerapkan pendidikan
karakter dalam kurikulum di sekolah tersebut. Selanjutnya, karakteristik responden dalam
penelitian ini adalah:
1. Guru yang mengajar di sekolah yang telah menerapkan kurikulum pendidikan
karakter.
2. Guru yang mengajar di tingkat Sekolah Dasar, Menengah Pertama dan Menengah
Atas..

3.4.2 Teknik Pengambilan Sam5le
Sample merupakan bagian dari populasi yang memiliki ciri-ciri atau keadaan tertentu
yang akan diteliti, yakni sebagian anggota populasi yang dipilih dengan menggunakan
prosedur tertentu sehingga diharapkan dapat mewakili populasi (Martono,2010). Sample
dalam penelitian ini dapat diambil dari sebagian guru yang mengajar di sekolah, baik tingkat
Sekolah Dasar, SMP dan SMA di Jakarta dengan teknik pengambilan sampel tertentu.
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling yang termasuk kedalam non pro-a-ility sampling, artinya responden sengaja dipilih
berdasarkan karakteristik yang telah ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penelitian (Martono,
2010).

3.4.3 1umlah Res5onden
Salah satu cara untuk menentukan ukuran sampel adalah memilih jumlah peserta yang
memadai dalam prosedur statistik untuk rencana dari penelitian yang digunakan. Hal ini
mengasumsikan bahwa telah teridentiIikasi metode statistik yang akan digunakan dalam
analisis. Dalam penelitian ini, jumlah sampel masing-masing sekolah tingkat SD, SMP dan
SMA diambil dari jumlah perkiraan kasar. Dalam Creswell (2005) perkiraan kasar jumlah
sampel sebuah penelitian pendidikan yakni membutuhkan sekitar 30 responden untuk studi
korelasional.

3.5 Alat Ukur dan Instrumen Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatiI, maka metode pengumpulan data dalam
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner atau angket sebagai sumber data
utama. Dalam penelitian ini responden diminta untuk memberikan jawaban singkat yang
sudah tertulis di dalam kuesioner atau angket untuk kemudian jawaban dari seluruh responden
tersebut diolah menggunakan teknik analisis kuantitatiI tertentu.

3.6 Metode Pengolahan Data
3.6.1 Uji Validitas
Validitas adalah istilah yang digunakan dalam hubungannya dengan relevansi dari hasil
tes, yakni seperti apa arti yang sebenarnya dari suatu score test ujian. Validitas digunakan
untuk menguji atau perkiraan seberapa baik suatu pengukuran, apakah pengukuran tersebut
mengukur apa yang menjadi tujuan dalam mengukur konteks tertentu. Lebih tepatnya, hal ini
merupakan keputusan yang didasarkan pada bukti dalam relevansi kesimpulan yang diambil
dari hasil pengujian (Cohen& Swerdlik, 2010).

3.6.2 Uji Reliabilitas
Dalam bahasa sehari-hari reliabilitas merupakan sinonim untuk dependability
(keandalan) dan consistency (konsistensi). Umumnya dalam bahasa psikometri, reliabilitas
mengacu pada konsistensi dalam pengukuran. Reliabilitas juga biasanya selalu berkonotasi
sesuatu yang positiI, benar-benar kepada sesuatu yang kompatibel, tidak selalu konsisten baik
atau buruk, tapi cukup konsisten (Cohen& Swerdlik, 2010).

3.6.3 Teknik Analisis Statistik
Dilihat dari metode pada penelitian ini, terdapat dua jenis statistik yang akan digunakan,
yakni statistik deskriptiI dan statistik korelasional. Pada statistik korelasional teknik
penghitungan yang digunakan adalah Pearson Product Moment Correlation (Korelasi
Pearson Product Moment). Korelasi Pearson Product Moment digunakan untuk melukiskan
hubungan antara dua buah variabel yang sama-sam berjenis interval atau rasio (Winarsunu,
2007).
Penggunaan kedua jenis uji analisis statistik ini digunakan untuk melihat adanya
hubungan dari kedua variabel yang akan diteliti, serta laporan statistik deskriptiI dari masing-
masing variabel tersebut. Data yang telah diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis
dengan menggunakan uji statistik program SPSS Ior Windows 15.

3.7 Prosedur Penelitian
Secara garis besar langkah-langkah penelitian kuantitatiI adalah pembuatan rancangan
penelitian, pelaksanaan penelitian dan membuat laporan penelitian. Sebagai kegiatan ilmiah
penelitian kuantitatiI merupakan suatu proses deduktiI induktiI dengan prosedur sebagai
berikut (Creswell, 2005) :
1. MengidentiIikasi masalah
2. Mencari rujukan teori
3. Mengemukakan tujuan dan hipotesis
4. Mengumpulkan data
5. Menganalisis data
6. Membuat kesimpulan

Penelitian ini berawal dari adanya suatu masalah berupa Ienomena yang dapat ditelaah
berdasarkan sumber empiris dan teoritis. Kegiatan penelitian dimulai dengan melakukan
identiIikasi masalah atau isu-isu serta Ienomena yang penting, aktual dan menarik. Dalam
proses identiIikasi masalah diperlukan adanya Iakta-Iakta serta penjelasan teori dari berbagai
literature yang relevan dengan penelitian. Kemudian, berdasarkan permasalahan tersebut
ditentukan suatu tujuan penelitian serta manIaat yang dihasilkan apabila masalah tersebut
diteliti. Permasalahan tersebut kemudian dibuat ke dalam rumusan masalah yang disusun
berupa pertanyaan-pertanyaan. Rumusan masalah inilah yang akan ditelaah lebih lanjut serta
dicari jawabannya. Setiap permasalahan tersebut dibuatlah kemungkinan jawaban dalam
bentuk hipotesis.

Dalam praktiknya, hal-hal yang berkaitan dengan rumusan permasalahan penelitian
sangat banyak dan kompleks, sehingga diperlukan batasan-batasan tertentu dalam proses
pengumpulan data. Penelitian berusaha untuk mencari data berdasarkan pada rumusan
masalah dan hipotesis yang telah disusun. Setelah semua data terkumpul, data yang telah
diperoleh kemudian dianalisis menggunakan teknik statistic tertentu. Hasil dari analisis data
tersebut dibuat suatu pemaknaan berupa interpretasi sebagai usaha mengatasi masalah dan
menjawab pertanyaan penelitian. Berdasarkan hipotesis yang sudah ada, dijelaskan tentang
diterima atau ditolaknya hipotesis tersebut. Kemudian, prosedur terakhir adalah penyusunan
laporan dan proses evaluasi. Dibuatlah suatu kesimpulan dari hasil interpretasi secara umum,
kesimpulan yang diperoleh dapat menciptakan evaluasi berupa implikasi dan rekomendasi
serta saran dalam hasil penelitian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Nur & Nur Uhbiyati. (2001). Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Anonim. (2010). Penelitian Mengenai ekerasan di Sekolah Tahun 2008, Dalam
http://sejiwa.org/penelitian-mengenai-kekerasan-di-sekolah-2008/ 01 Mei 2011 pukul
15.35
Anonim. (2010). Penelitian Mengenai ekerasan pada Anak Tahun 2010, Dalam
http://sejiwa.org/penelitian-mengenai-kekerasan-pada-anak-2010/ 01 Mei pukul 2011
15.37
Azra, Azyumardi. (2002). Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Rekonstruksi dan
Demokratisasi. Jakarta: Penerbit Buku Kompas
Cohen, Ronald Jay & Mark E. Swerdlik. (2010). Psychological Testing and Assessment. An
Introduction to Test & Measurement, 7
th
ed. USA: McGraw-Hill
Creswell, John W. (2005). Educational Research. Planning, Conducting and Evaluating
Quantitative and Qualitative Research, 2
nd
ed. USA: Pearson Prentice Hall
Damanik. (2008). Hati-hati Bullying di Sekolah, Dalam
http://nasional.kompas.com/read/2008/05/17/15195762/hati-hati.bullying.di.sekolah. 01
Mei 2011 pukul 15.46
LatieI. (2010). Mayoritas Guru Belum Terapkan Pendidikan arakter, Dalam
http://edukasi.kompas.com/read/2010/01/15/14150236/Mayoritas.Guru.Belum.Terapka
n.Pendidikan.Karakter. 01 Mei 2011 pukul 16.10
Les Parsons. (2005). Bullied Teacher, Bullied Students. Jakarta: Grasindo
Martono, Nanang. (2010). Metode Penelitian uantitatif. Analisis dan Analisis Data
Sekunder. Jakarta: Rajawali Press
Novia, Windy. (t.th). amus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Kashiko
Nusantara, Ariobimo. (2008). Bullying. Panduan -agi Orang Tua dan Guru Mengatasi
ekerasan di Sekolah dan Lingkungan. Jakarta: Grasindo
Randall, Peter. (1997). Adult Bullying. Perpetrators and Jictims. London: Routledge
Sudjana, Nana. (2002). Penilaian Hasil Proses Belaar Mengaar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Syah, Muhibbin. (2008). Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Wardani, Kristi. (2010). 'Peran Guru dalam Pendidikan Karakter menurut Konsep Pendidikan
Ki Hadjar. Abstrak dari PGSD FKIP Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Yogyakarta
Winarsunu, Tulus. (2007). Statistik dalam Penelitian Psikologi dan Pendidikan. Malang:
UMM Press