Anda di halaman 1dari 23

Kemampuan Bahasa dan Kemampuan Motorik pada Remaja Tunanetra

Tugas Akhir matakuliah Psikologi Perkembangan II

Anggi Mustika Masyrifah Nurfitria Farhana Nurul Izzatul Yazidah Rahim Riasri Nurwiretno

209000008 209000040 209000048 209000178 209000053

Universitas Paramadina Jalan Gatot Subroto, Kav. 97, Mampang Jakarta Selatan 12790 2011

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemampuan penglihatan sangat berpengaruh terhadap aktivitas kehidupan manusia sehari-hari. Orang yang memiliki kemampuan penglihatan jelas dapat memperoleh informasi lebih banyak dibanding mereka yang mengalami hambatan dalam penglihatan. Tidak hanya proses pembelajaran yang terpengaruh, namun terdapat beberapa aspek lain yang juga terpengaruh oleh hambatan penglihatan. Aspek-aspek yang terkena pengaruh/dampak hambatan penglihatan tersebut meliputi aspek kognisi, kompetensi sosial, keterampilan sosial, bahasa serta orientasi dan mobilitas. Oleh karena itu, informasi-informasi tersebut akan sangat sulit dikuasai oleh anak-anak yang mengalami hambatan penglihatan atau tunanetra. (Nawawi, dkk, 2009) Beberapa hambatan tersebut memiliki implikasi terhadap kemampuan perkembangan bahasa dan kecerdasan kinestetik. Mobilitas adalah kemampuan, kesiapan, dan mudahnya bergerak dan berpindah. Mobilitas juga berarti kemampuan bergerak dan berpindah dalam suatu lingkungan (Nawawi, 2010). Karena mobilitas merupakan gerak dan perpindahan fisik, maka kesiapan fisik sangat menentukan keterampilan tunanetra dalam mobilitas. Gerak/mobilitas dapat dipelajari melalui meniru gerakan yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya. Bagi anak awas mempelajari gerak dengan cara meniru tidak menjadi masalah, namun bagi anak tunanetra merupakan masalah yang besar, Oleh karena itu anak tunanetra harus diajarkan melakukan gerak secara benar dan utuh seperti yang dilakukan oleh orang pada umumnya. Mengajarkan mobilitas secara benar dan utuh merupakan tugas dan tanggung jawab instruktur O&M dan para guru yang menangani anak tunanetra (Nawawi, 2010). Dalam perkembangan bahasa, sebuah penelitian menyatakan bahwa tidak ada perbedaan perkembangan bahasa pada tunanetra. Menurut penelitian Hallahan dan Kauffman (1991) dalam Tarsidi (2009), menemukan bahwa kehilangan penglihatan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kemampuan memahami dan menggunakan bahasa dan secara umum tidak terdapat defisiensi dalam bahasa anak tunanetra. Sama

seperti anak lainnya, anak tunanetra belajar kata-kata dari apa yang didengarnya meskipun kata-kata tersebut tidak terkait dengan pengalaman nyata. Berbagai studi membandingkan anak-anak tunanetra dan awas tidak menemukan perbedaan dalam aspek-aspek utama perkembangan bahasa. Karena persepsi auditer lebih berperan daripada persepsi visual sebagai media belajar bahasa, maka anak tunanetra relatif tidak terhambat dalam fungsi bahasanya (Tarsidi, 2009). Penelitian lain dari Custwort (Anonim, 2009) dengan menggunakan tes asosiasi bagi para siswa tunanetra juga menyatakan hasil yang sama seperti apa yang diungkapkan Tarsidi. Walaupun kedua dari penelitian menyatakan tidak adanya perbedaan kemampuan bahasa siswa Tunanetra dan normal, namun menurut Sunanto (2008) pada umumnya keterampilan bahasa tunanetra tidak berbeda dengan anak pada umumnya, akan tetapi dalam proses pengembangannya diperlukan teknik dan strategi yang berbeda dari pada anak pada umumnya. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya perbedaan modalitas dimana tunanetra tidak dapat menggunakan indera penglihatan dan lebih menekankan pada indera perabaan dan pendengaran. Kemampuan motorik atau kemampuan gerak dasar merupakan fenomena yang selalu melekat pada usia anak-anak. Kemampuan motorik berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan anak. Perkembangan dan pertumbuhan merupakan faktor yang mempengaruhi kemampuan gerak dasar anak. Seperti yang dikemukakan Sugiyanto (1998) bahwa gerak dasar fundamental adalah gerak-gerak dasar yang berkembangnya sejalan dengan pertumbuhan dan tingkat kematangan anak-anak (Asniarno, 2010). Masa remaja ( sekitar usia 10/11 sampai 14 tahun) peralihan dari masa kanak kanak, memberikan kesempatan untuk tumbuh, tidak hanya dalam dimensi fisik tetapi juga dalam kompetensi kognitif, sosial, otonomi, harga diri dan keintiman. Periode ini juga memiliki resiko, sebagian remaja mengalami masalah dalam menghadapi berbagai perubahan yang terjadi secara bersamaan dan membutuhkan bantuan dalam mengatasi bahaya saat menjalani masa ini. Masa remaja adalah meningkatnya perbedaan diantara kebanyakan remaja yang menuju ke masa dewasa yang memuaskan dan produktif dan hanya sebagian kecil yang akan menghadapi masalah besar. (Offer, 1987; Offer, Kaiz, Ostrov, dan Albert, 2002; Offer, Offer, dan Ostrov, 2004; Offer & Schonert-Reichl, 1992 dalam Papalia, Olds & Fieldman, 2007).

Perkembangan motorik anak remaja tunanetra cenderung lambat dibandingkan dengan perkembangan anak pada umumnya. Dalam perkembangan perilaku motorik diperlukan koordinasi fungsional antara neuromuscular system berupa sistem syaraf dan otot dan fungsi psikis baik secara kognitif, afektif dan konatif. Anak tunanetra fungsi neuromuscular systemnya mungkin tidak bermasalah tapi fungsi psikisnya kurang mendukung dan menjadi hambatan dalam perkembangan motoriknya. Hambatan fungsi psikis meliputi pemahaman terhadap realitas lingkungan, kemungkinan mengetahui adanya bahaya dan cara menghadapinya, keterampilan gerak yang serta terbatas serta kurangnya keberanian dalam melakukan sesuatu mengakibatkan kematangan fisiknya kurang dimanfaatkan secara maksimal dalam melakukan aktivitas motorik (Andriyani, 2010). Masalah pembinaan mobilitas/gerak tunanetra serta kemampuan bahasa bukan hanya merupakan tanggung jawab oleh guru O&M saja akan tetapi juga harus menjadi tanggung jawab semua pihak termasuk guru pada umumnya dan orang tua dan keluarga yang berhubungan dengan pendidikan dan rehabilitasi bagi tunanetra. Oleh karena itu, melalui makalah ini kami bermaksud untuk menggambarkan hambatan serta efek yang berpengaruh terhadap kemampuan bahasa serta kemampuan motorik bagi remaja tunanetra. 1.2 Tujuan Penelitian Makalah Kemampuan bahasa dan kemampuan motorik pada remaja tunanetra ini disusun untuk: A.Tujuan Utama Secara umum, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana gambaran tentang hambatan dalam mobilitas serta bahasa. B. Tujuan Khusus 1. Mengetahui apakah hambatan penglihatan pada tunanetra mempengaruhi kemampuan bahasa serta kemampuan motoriknya.
2. Mengetahui kemampuan berbahasa bagi individu remaja yang tunanetra.

3. Mengetahui kemampuan motorik baagi individu remaja yang tunanetra.

4.

Dapat digunakan sebagai rekomendasi yang berkaitan dengan kondisi yang dialami oleh anak tunanetra kepada tunanetra itu sendiri, lembaga yang menampung anak tunanetra,para guru, guru olah raga atau pendidikan jasmani, pembimbing asrama, dan instruktur orientasi dan mobilitas.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Remaja Menurut Papalia, dkk (2007), remaja merupakan masa transisi perkembangan antara anak-anak dan dewasa yang melibatkan perubahan fisik, kognitif dan psikososial. Menurut Erikson, masa remaja merupakan masa yang dipenuhi dengan krisis identitas. Remaja seringkali diidentifikasi sebagai periode transisi antara masa anak-anak ke masa dewasa, atau masa usia anak belasan tahun. Umumnya remaja menunjukkan tingkah laku tertentu seperti susah diatur, mudah terangsang perasaannya, dan sebagainya (Sarwono, 2007). 2.2 Tunanetra Tunanetra adalah istilah umum yang digunakan kepada seseorang dengan kondisi mengalami gangguan atau hambatan penglihatan. Menurut Conor (dalam Nawawi, 2009), tunanetra mempunyai batasan dalam penglihatan. Batasan tunanetra dari kacamata medis apabila ketajaman penglihatannya tidak lebih dari 20/20 meskipun menggunakan kacamata pembesar dan bidang penglihatannya tidak melebihi sudut pandang 20 derajat. Batasan penglihatan untuk anak tunanetra dalam bidang pendidikan lebih memfokuskan pada pentingnya fungsi penglihatan terhadap proses pendidikan, seperti tidak dapat secara optimal menyesuaikan metode , materi pelajaran dan lingkungan belajar yang umumnya dapat digunakan oleh orang yang melihat. Secara umum ketunanetraan atau hambatan penglihatan (visual impairment) dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori besar, yaitu buta total (totally blind) dan kurang lihat (Low Vision) (Friend dalam Nawawi, 2010). Seorang yang mengalami low vision menurut WHO apabila: a) memiliki kelainan penglihatan meskipun telah dilakukan usaha pengobatan, b) mempunyai ketajaman penglihatan kurang dari 6/18 ketajaman cahaya, c) luas penglihatannya kurang dari 10 derajat dari titik fiksasi. Seseorang dikatakan low vision jika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan tugastugas visual, namun dapat meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut dengan menggunakan strategi visual pengganti, alat-alat bantu low vision, dan modifikasi lingkungan (Corn dan Koenig dalam Nawawi, dkk, 2009).

Orang yang termasuk low vision adalah mereka yang mengalami hambatan visual ringan sampai berat. Seseorang dikatakan menyandang low vision atau kurang lihat apabila ketunanetraannya masih cenderung memfungsikan indera penglihatannya dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Saluran utama yang dipergunakannya dalam belajar adalah penglihatan dengan mempergunakan alat bantu, baik yang direkomendasikan oleh dokter maupun tidak. Jenis huruf yang dipergunakan sangat bervariasi tergantung pada sisa penglihatan dan alat bantu yang dipergunakannya. Latihan orientasi dan mobilitas diperlukan oleh siswa low vision untuk mempergunakan sisa penglihatannya. Totaly Blind (buta total) adalah seseornag yang memiliki hambatan/ tidak berfungsinya indera penglihatan, dimana mata tidak mampu mengolah rangsangan cahaya atau dalam istilah kedokteran disebut dengan visus 0, yaitu tidak dapat melihat dan tidak dapat melihat gerakan tangan pada jarak kurang satu meter (Anonim, (t.th)). Menurut Huebner, Blindness (kebutaan) menunjuk pada seseorang yang tidak mampu melihat atau hanya memiliki persepsi cahaya (Friend, 2005 dalam Nawawi, 2009). Seseorang dikatakan buta (blind) jika mengalami hambatan visual yang sangat berat atau bahkan tidak dapat melihat sama sekali. Kadang-kadang di lingkungan sekolah juga digunakan istilah functionally blind atau educationally blind untuk kategori kebutaan ini. Penyandang buta total mempergunakan kemampuan perabaan an pendengaran sebagai saluran utama dalam belajar. Orang seperti ini biasanya mempergunakan huruf Braille sebagai media membaca dan memerlukan latihan orientasi dan mobilitas (Nawawi, 2009). Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa tunanetra adalah seseorang yang karena sesuatu hal tidak dapat menggunakan matanya sebagai saluran utama dalam memperoleh informasi dari lingkungannya. Adanya ketunanetraan pada seseorang, secara otomatis ia akan mengalami keterbatasan. Keterbatasan itu adalah dalam hal: (1) memperolah informasi dan pengalaman baru, (2) dalam interaksi dengan lingkungan, dan (3) dalam bergerak serta berpindah tempat (mobilitas). Oleh karena itu, dalam perkembangannya seorang anak tunanetra mengalami hambatan atau sedikit terbelakang mobilitasnya bila dibandingkan dengan anak normal yang awas.

2.3 Kemampuan Bahasa Remaja Tunanetra Bagi remaja yang awas terdapat beberapa sumber untuk memperoleh pengalaman bahasa seperti mendengar, membaca dan mengamati tindakan serta ekspresi langsung dari orang lain. Dengan hal tersebut maka dapat membuat mereka lebih cepat dalam penguasaan bahasa. Bagi remaja tunanetra pada dasarnya perolehan bahasa yang didapat tidak jauh berbeda dengan anak-anak remaja awas lainnya, hanya saja ada anak tunanetra masukan melalui visual sangat terbatas bahkan nyaris tidak ada. Sedangkan, bantuan dari membaca akan diperoleh dalam jangka waktu yang lama bila dibandingkan dengan anak remaja yang awas penglihatannya. Contohnya seorang anak remaja yang awas dapat mengembangkan konsep tentang suatu bentuk yaitu dengan melihat langsung bagaimana bentuk tersebut. Sedangkan bagi tunanetra mengembangkan konsep yang sama dilakukan dengan rabaan dan manipulasi jamahan. Disini terlihat perbedaan anak remaja yang awas dan tunanetra dalam mengembangkan suatu konsep bentuk atau bangunan walaupun pada akhirnya keduanya akan mengerti kata dan mampu mengidintefikasi bentuk tersebut. Menurut Custworst (Anonim, 2009) hal diatas tidak serta-merta dapat membuat seorang remaja tunanetra terhambat dalam perkembangan bahasanya. Penelitian yang telah dilakukan kepada anak-anak dengan asosiasi bebas kepada penderita tunanetra sejak lahir memberikan hasil bahwa atau pendengaran mereka sendiri. Berbagai penelitian juga telah dilakukan untuk melihat perkembangan bahasa bagi anak remaja tunanetra dengan anak remaja yang awas. Hasil penelitian yang dilakukan tidak menemukan adanya perbedaan yang berarti termasuk dalam komunikasi. Namun penelitian yang dilakukan oleh Anderson (dalam Anonim, 2009). Mereka menemukan bahwa dalam tahap permulaan bahasa tidak ditemukan adanya perbedaan bahasa dengan anak-anak awas seusia. Namun pada tahapan selanjutnya jika diperhatikan segi kualitasnya maka anak tunetra memilki pengertian yang kurang dengan kata kata sebagai alat simbol dan lebih lamban dalam membentuk hipotesa hipotesa tentang arti kata. anak tunanetra dapat menjawab pertanyaan diajukan dengan hal yang realistis walaupun tidak realistis bagi pengalaman perabaan

2.4 Kemampuan Motorik Remaja Tunanetra Jan et al. (Kinglesy dalam Nawawi, 2010) mengemukakan bahwa anak-anak yang mengalami ketunanetraan yang parah dengan sistem saraf yang sehat, yang belum pernah diberi kesempatan cukup memadai untuk belajar keterampilan motorik, sering mengalami keterlambatan dalam perkembangannya. Sering kali mereka lemah, daya koordinasinya buruk, berjalannya goyah, dan kedua belah kakinya senantiasa "bertukar tempat". Apabila berjalan kakinya diseret dan tangannya menjulur ke depan. Best (dalam Nawawi dkk, 2009) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau mobilitasnya (gerakannya) dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Karena mereka tidak dapat melihat gerakan orang lain dengan jelas, mereka tidak bisa mengamati bagaimana orang duduk, berdiri, dan berjalan serta kemudian menirukannya. Maka mereka akan memiliki lebih sedikit kerangka acuan/pola (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya "duduk tegak", berjalan kaki melangkah dan tangan diayun, sehingga terjadi keserasian gerak antara kaki, tangan, dan tubuh ketika sedang berjalan. Dampak lain ketunanetraan dapat dilihat pada postur tubuh dan gaya jalan. Akibat ketunanetraan biasanya ia berjalan dengan kaki diseret karena ingin menditeksi jalan yang berlubang, tangan menjulur ke depan karena kalau menabrak sesuatu lebih baik tangan dulu yang menabrak daripada kepala, perut ke depan agar dapat menopang tubuh secara keseluruhan. Kondisi seperti ini akan membentuk gaya jalan dan postur tubuh yang jelek, dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok, dll. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Perlu penanganan yang tepat dan profesional. Oleh karena itu tanpa intervensi dan pembinaan mobilitas/gerak yang tepat, benar, dan utuh anak tunanetra tidak akan memiliki mobilitas yang baik. Secara psikologis akan menimbulkan rasa tidak percaya diri (Nawawi, 2010).

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Pendekatan Masalah 3.2 Unit Analisis 3.2.1 Subjek Penelitian Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling yang termasuk kedalam non probability sampling, artinya responden sengaja dipilih berdasarkan karakteristik yang telah ditetapkan dan sesuai dengan tujuan penelitian. Karakteristik responden dalam penelitian ini, yaitu: a. Remaja tuna netra b. Mengikuti kelas rehabilitasi sosial atau pendidikan formal di Panti Bina Netra Widya Guna 4.2.2 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Panti Bina Netra Widya Guna. Panti Bina Netra Widya Guna beralamatkan di Jalan Padjajaran No. 52, Bandung 40171. Pengambilan data dilakukan di Asrama Putri Cempaka. Lokasi tersebut dipilih untuk memenuhi karakteristik responden dalam penelitian ini. 3.3 Metode Pengumpulan Data Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Wawancara merupakan. Observasi merupakan Wawancara yang digunakan merupakan. Penelitian ini menggunakan teknik observasi checklist behavior. Checklist behavior yaitu Dalam pelaksanaan metode tersebut, tim peneliti terlibat secara langsung selama proses pengambilan data.

3.4 Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini, langkah-langkah yang digunakan dalam menganalisis data yaitu: a. Reduksi data, yakni pengumpulan semua data yang diperoleh kemudian dipilih sesuai kebutuhan penelitian. b. Membuat kesimpulan dari data.

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Tahapan Penelitian 4.1.1 Tahapan Awal Penelitian Tahapan awal dari penelitian ini adalah melakukan konsultasi dengan dosen pengajar mengenai judul penelitian, kemudian langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian sebelum kami mengunjungi Panti Bina Netra Widya Guna untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tunanetra dan mencari informasi mengenai gambaran kemampuan motorik dan kemampuan bahasa tunanetra. 4.1.2 Tahapan Pelaksanaan Penelitian Tahap pelaksanaan penelitian meliputi pelaksanaan wawancara dan observasi. Tujuan dilakukannya wawancara adalah untuk mengetahui kemampuan bahasa tunanetra. Wawancara dilakukan berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat. Di samping wawancara, peneliti juga melakukan observasi, yakni dengan metode checklist behavior yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan motorik tunanetra. Jumlah subjek yang diwawancara adalah dua orang, sedangkan jumlah subjek yang diobservasi adalah satu orang. Peneliti berusaha menjalin hubungan dengan subjek dan meminta izin kepada subjek untuk melakukan wawancara mengenai gambaran kemampuan bahasa tunanetra. Wawancara pada subjek dilakukan di ruang guru, pada tanggal 24 Mei 2011 pukul 13.55 - 14.12 WIB. Observasi pada subjek dilakukan di asrama cempaka, pada tanggal 24 mei 2011, pukul 14.30-15.00 WIB. 4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Wawancara 4.2.1.1 Raport Wawancara Wawancara kali ini bertujuan untuk mencari tahu tentang bagaimana perkembangan bahasa remaja yang tunanetra. Sebelum wawancara dilakukan, peneliti mencari informasi tentang instruktur bahasa di bagian Informasi Bina Netra. Dari informasi yang didapatkan, penanya menuju ke lantai dua gedung guru dan menemui Bapak Tenang, instruktur bahasa Bina Netra.

Penanya kemudian memperkenalkan diri dan meminta waktu kepada bapak Tenang untuk melakukan wawancara. Setelah Bapak Tenang menyetujui, bersama sama kami menuju ruang rapat untuk mengadakan wawancara. Setelah kurang lebih lima belas menit dan informasi dirasa telah lengkap, maka wawancara berakhir. Penanya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Tenang sekaligus memberikan kenang kenagan terima kasih. 4.2.1.2 Profile Subjek: Bapak Tenang adalah seorang pengajar baca tulis yang telah mengabdi dari tahun 1988 di Panti Bina Netra. Dia mengajar pelajar yang mendapatkan pendidikan di sekolah non formal, yaitu sekolah yang tidak diajarkan sesuai dengan kurikulum sekolah umum. Menurut informasi yang didapatkan dari Bapak Tenang, sekolah non formal bagi para tuna netra tidak terikat dengan umur sehingga terikat dengan batasan umur. Ya..kalau formal dari umur 6 sampai 12 tahunan kan? Nah kalau saya yang ngajar lanjut usia bukan lanjut usia tua, tapi yang saya non formal nya lah.. 15 sampai 35 tahun lah.. Bapak Tenang mengajar selama empat hari seminggu dengan empat jam perhari. Pekerjaan Bapak Tenang berhubungan dengan pemberantasan baca tulis huruf Braille bagi penderita tuna netra, mengajarkan tentang cara merangkai kalimat sederhana hingga mengajarkan tentang pembuatan karya tulis. Kita sih cara kerjanya sebenarnya sama seperti orang yang kerja untuk pemberantasan buta huruf lah.. tapi namanya PBH braille, pemberantasan buta huruf braille. Yah..sama lah kayak orang sekolah ya, dari alfabet sampai kepada apa lah..itu hm.. merangkai kata nlalu disuruh membuat kalimat gitu lah ya... terus kalau sudah bisa, baru ke perkembangan bahasanya lah..kayak sturkturnya..penempatan bahasanya, trus yang terakhir ya kayak karya tulis...tapi sangat sederhana lah..

4.2.1.3 Hasil Wawancara Dari informasi yang didapatkan dari Bapak Tenang, tidak terdapat kesulitan yang .berarti dalam mengajarkan bahasa dan cara penulisan braille bagi para tunanetra. Pengajaran lebih disesuaikan kepada kemampuan yang pada awalnya telah dimiliki oleh para tunanetra tersebut. Dalam pembelajarannya para tunanetra diajarkan secara berkelompok disesuaikan dengan kemampuannya. Oleh karena itu para tunanetra harus diajarkan secara individual, yaitu pengajaran yang disesuaikan dengan pendidikan yang telah didapatkan. Paling kalau kita pertama kali masuk ya..anak anaknya ada yang pertama kali sekolah, ada yang sudah sekolah, ada juga yang sudah lulus perguruan tinggi ya..karena faktor kebutaan mereka itu kan ada yang sudah dari lahir, ada yang dari tengah-tengah, misalnya anak-anak, ada yang dari kecelakaan, yah..berarti kita harus memecah-mecah mereka dulu ya.. jadi kita harus mengajari mereka ya..secara individual begitu. Pengajaran secara individual ditunjukkan tidak hanya untuk memudahkan para pelajar tunanetra untuk mengembangkan kemampuan bahasa. Hal ini juga ditunjukkan untuk mengatasi masalah para tunanetra yang tidak pernah mengenyam pendidikan sebelumnya, seperti kemampuan bahasa Indonesia yang masih kurang. Kalau mereka itu datang dari daerah ya, misalnya dari pedalaman jawa, bahasa daerahnya masih kental. Lain dengan orang-orang yang di luar jawa kan, walaupun bahasa Indonesianya masih kurang ya, tapi mereka lebih mampu untuk merekap ya.. Perbedaan yang terlihat antara kemampuan bahasa para tunanetra dengan orang non-tunanetra (awas) adalah perbedaan dalam memahami mimik, gerakan dengan bahasa. Hal ini karena para tunanetra hanya dapat mengetahui kata tanpa mengetahui mimik dan gerak, sehingga mereka hanya memberikan persepsi sesuai dengan pendengaran mereka.

Kalau yang non-tunanetra kan ya..mereka bisa menyesuaikan dengan mimik wajah mereka, gerakan mereka ..ya, kalau orang tunanetra kan ya..kalau permulaannya ya, mereka lebih mendengar dari cara menyapanya..tergantung ya, seperti kalau ada yang menyapa dengan lembut mereka akan berpikir itu orang baik kan, tapi sebenarnya tidak begitu kan, jadi kalau ada juga yang menekanannya bagaimana mereka akan berpikir yah..begitu, jadi bagi orang tuna netra ya, cara mereka memahami pertama kali seperti itu. Jadi kesan pertama ya, dapat dibilang penting soalnya mereka kan ya..Tapi ..itu yang pertama kan, nanti selanjutnya mereka akan tahu sendiri..oh.. sebenarnya oh.. gitu. Keterbatasan bahasa Indonesia yang dimiliki oleh para tuna netra,

memungkinkan para guru untuk belajar bahasa daerah. diajarkan.

Hal ini agar lebih dapat

mempererat dan lebih mudah dalam memberikan informasi mengenai bahasa yang Keterbatasan para tunanetra dalam mengetahui mimik dan gerak dalam pengekspresian, memungkinkan metode pengajaran yang berbeda. Para tunanetra harus diajarkan secara menyeluruh memanfaatkan indra yang lain seperti pendengaran dan perabaan. Setiap kata benda, diharapkan mempunyai alat peraga sehingga para tunanetra dapat memberikan persepsi terhadap kata tersebut. Jika kata merupakan hal yang tidak mempunyai alat peraga, maka kata tersebut dapat dijelaskan dengan narasi. Nanti jadinya bagaimana kita mengajarkan secara keseluruhan. Kalau saya tanya gajah, anda tahu gajah? Tahu pak. Yang mana kaki gajah? Nanti kan dia pegang bahu, paha. Nah..konsep itu yang dipegang, jadi pengenalan perseptual yang penting. Seperti pengenalan bagaimana bentuk gambar, mereka kan tidak tahu, makanya kita buat dari lilin lalu kita pegangkan. Jadi secara verbal juga, jadi kalau misalnya tidak ada bentuknya maka kita narasikan. Misalnya jambu itu, jadi kita bilang bagaimana jambu itu, maka kita bilang ayo pegang kepalanya, jadi bayangkan ini tempat yang paling atas dan disini tempat yang paling bawah, lalu ini digantung di atas pohon. Jadi ya..dinarasikan. Sama seperti kita menerangkan matematika, segitiga. Jadi kita bikin dari kertas, lalu bilang ini puncaknya, ini sudut A, ini sudut B. Jadi harus diperagakan.

4.2.2 Hasil Observasi Peneliti melakukan observasi untuk melihat kemampuan motorik pada remaja putri tuna netra yang tinggal di asrama Panti Bina Netra Widya Guna Bandung. Adapun indikator-indikator yang digunakan dalam observasi meliputi cara berjalan, postur tubuh dan gerkan tangan. Observasi dilakukan sebanyak satu kali. Observasi dilakukan di salah satu asrama putri Panti Bina Netra Widya Guna Bandung yakni asrama cempaka. Proses observasi berlangsung di ruang tamu asrama selama kurang lebih 30 menit. Sebelum proses wawancara berlangsung, subjek sedang bermain bersama teman sekamarnya di kamar C. Mereka kami ajak keluar kamar untuk melakukan wawancara. Ketika proses wawancara berlangsung, kami melakukan observasi. Kami melakukan observasi dengan menggunakan teknik checklist behavior didasarkan pada indikator kemampuan motorik pada definisi operasional yakni, cara berjalan, postur tubuh dan gerakan tangan. Pada indikator cara berjalan, item-item yang terpenuhi dalam tabel checklist yaitu tubuhnya sempoyongan dan melangkah dengan ragu. Pada indikator postur tubuh, item-item yang terpenuhi yakni dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok. Sedangkan pada indikator gerakan tangan, item-item yang terpenuhi yakni meraba-raba ketika hendak mengambil sesuatu, ketika berjalan tangan terkadang menjulur ke depan/meraba-raba. Menurut tiga indikator kemampuan motorik dari definisi operasional remaja tunanetra, yakni cara berjalan, postur tubuh serta gerakan tangan, subjek dapat dikatakan mempunyai kemampuan motorik cukup baik. 4.3 Pembahasan Hasil Penelitian 4.3.1 Pembahasan Hasil Wawancara Sebuah penelitian menyatakan bahwa tidak ada perbedaan perkembangan bahasa pada tunanetra. Hal ini secara signifikan terkait dengan hasil wawancara yang didapat pada penelitian ini. Bahwa menurut informan, tidak terdapat kesulitan yang .berarti dalam mengajarkan bahasa dan cara penulisan braille bagi para tunanetra. Hasil wawancara ini juga diperkuat oleh penelitian Hallahan dan Kauffman (dalam Tarsidi, 2009) yang menemukan bahwa kehilangan penglihatan tidak berpengaruh secara

signifikan terhadap kemampuan memahami dan menggunakan bahasa dan secara umum tidak terdapat defisiensi dalam bahasa anak tunanetra. Perbedaan yang tampak adalah pada metode pembelajaran. Pada tunanetra, dalam proses pengajaran akan lebih disesuaikan kepada kemampuan awal yang sebelumnya telah dimiliki oleh remaja tunenetra tersebut, kemudian diajarkan secara berkelompok sesuai dengan kemampuannya. Meskipun dalam satu kelompok, para tunanetra harus diajarkan secara individual, disesuaikan kembali dengan pendidikan yang telah didapatkan sebelumnya oleh masing-masing individu. Hasil penelitian ini juga membenarkan pendapat Sunanto (2008), pada umumnya keterampilan bahasa tunanetra tidak berbeda dengan anak pada umumnya, akan tetapi dalam proses pengembangannya diperlukan teknik dan strategi yang berbeda dari pada anak pada umumnya. Misalnya, dalam pelajaran merangkai kata, para pelajar tunanetra diajarkan secara perlahan-lahan terutama ketika kalimat tersebut dituliskan. Kalimat yang dituliskan secara perlahan-lahan disesuaikan dengan kemampuan para pelajar dan dijelaskan kata per kata. Pakai braille, jadi mereka kalau nulis, saya, saya..lalu saya makan.. saya baru tahu sayanya pa ya..pelan-pelan..lalu ditambah lagi, saya makan nasi..Nah, pelan-pelan, jadi nggak buru-buru. Kalau gitu nanti bingung anak anak.. jadi harus per kata. Dalam mempersepsikan kata-kata yang bersifat istilah, yaitu kata-kata yang dimungkinkan susah dimengerti karena memiliki arti tersirat para tunanetra diajarkan dengan padanan kalimat yang mereka telah ketahui sebelumnya. Para tunanetra diajarkan kata-kata istilah tersebut setelah mereka dianggap telah memiliki kemampuan yang cukup. Hal ini tidak jauh berbeda dengan pengajaran yang diberikan kepada nontunanetra. kita terangkan, seperti anda tahu tentang konseptual? Nah..konseptual itu adalah suatu acuan, acuan ngerti? Patokan, kalau belum ngerti ya..saya bilang prinsip utama, nah..bentuk, ya saya bilang bentuk.

Dalam mengajarkan kemampuan merangkai kata seperti pembuatan puisi atau lirik lagu maka para tunanetra diberikan pembelajarann memanfaatkan kemampuan indera pendengaran mereka. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendengarkan kaset, musik, dll. Kalau seperti itu dari kaset, ya..ya, kalau tunanetra itu kan yang penting mendengar. Dalam metode pengajaran baca tulis Braille bagi tunanetra, menurut informasi yang didapat dibagi menjadi empat hal, yaitu pertama adalah pembelajaran individu. Pembelajaran individu yaitu setiap murid diajarkan secara satu persatu. Hal ini menurut informasi pula, sebenarnya dalam mengajarkan tunanetra merupakan hal yang membuang waktu. Jadi per-individu harus diterangkan. Sebenarnya kalau mengajar Tunanetra itu sebenarnya buang waktu, karena kalau orang tunanetra kan walaupun diperlihatkan gambar sekali saja mereka sudah dapat menebak kan, o..iya itu, tapi kalau tunanetra kan kalau ada empat murid ya..ke empat murid itu yang harus diterangkan. Jadi ya..sebenarnya kurang efisien, tapi seperti itu adanya kan, ya.. Metode yang kedua yaitu konkrit, yaitu mengajarkan secara menyeluruh dengan memanfaatkan indera lain yang masih dapat berfungsi dengan baik. Misalnya dengan memberikan alat peraga yang digunakan sebagai penjelas dari kata yang ingin disampaikan. Metode keempat yaitu totalitas, yaitu menyeluruh dan tidak setengah-setengah dalam memberikan penjelasan kepada para pelajar. Hal ini merupakan kelanjutan dari bentuk metode konkrit, yaitu memberikan alat peraga da tidak membiarkan pelajar masih bertanya-tanya tentang kata yang diberikan. Yang terakhir adalah aktifitas mandiri, yaitu para pelajar dibiarkan untuk mengenali pelajaran yang telah diberikan secara mandiri dan mengetahuinya dengan pengalam pribadi yang didapatkannya. Bapak Tenang memberikan informasi gambaran mengenai hal ini.

Ya..misalnya kalau saya bawa ke kantor, di ruangan kerja. Apa yang harus saya orientasikan? Misalnya jendela, tahu tidak dimana jendela, itu secara individual dulu, konkritnya..ni misalnya disebal sini jendela, totalitasnya..,ya, kantor ini lusnya seperti ini, baru untuk mandirinya dilepas.. Lalu ya..coba sekarang bagaimana, terbayang tidak bagi mereka pintu sebelah mana, yang mana, Kalau orang yang paham kan, kalau ada hembusan angin disebelah sini ya.itu jendela, Jadi ya..supaya dia tidak terlalu tergantung, supaya dia juga punya pemaparan sendiri, punya pemahaman atau konsep. Jadi ya..harus punya sesuatu yang diorientasikan. Berbagai studi lain yang berusaha membandingkan anak-anak tunanetra dan awas juga tidak menemukan perbedaan dalam aspek-aspek utama perkembangan bahasa. Karena persepsi auditer lebih berperan daripada persepsi visual sebagai media belajar bahasa, maka anak tunanetra relatif tidak terhambat dalam fungsi bahasanya (Tarsidi, 2009). Karena pada dasarnya anak tunanetra sama seperti anak-anak normal lainnya, mereka belajar dari kata-kata apa yang didengarnya. Hanya saja dengan keterbatasan yang ada, kata-kata yang didengarnya tidak didukung dengan suatu pengalaman nyata. Kemudian dalam hal penulisan, kemampuan para tunanetra tidak tertinggal jauh dibandingkan dengan non-tunanetra. Hal ini menurut Bapak Tenang tergantung dari orang tersebut, apakah dia ingin berlatih atau tidak dalam menulis. Secara keseluruhan Bapak Tenang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan bahasa yang mencolok antara non-tuna netra dengan tuna netra. Perbedaan hanya terletak dari ketidakmampuan para tunanetra untuk mempersepsi kata yang telah diberikan dan menyesuaikannya dengan mimik, serta gerakan. Salah satu penyebabnya adalah karena adanya perbedaan modalitas dimana tunanetra tidak dapat menggunakan indera penglihatan dan lebih menekankan pada indera perabaan dan pendengaran. 4.3.2 Pembahasan Hasil Observasi Hasil observasi yang telah dilakukan, terdapat beberapa indikator dengan menggunakan teknik checklist behavior, pada indikator kemampuan motorik definisi operasional yakni, cara berjalan, postur tubuh dan gerakan tangan. Berdasarkan hasil

observasi terhadap kemampuan motorik pada tunanetra maka dapat dikatakan terdapat hambatan pada mobilitas bagi remaja Tunanetra, tetapi subjek dapat dikatakan memiliki kemampuan motorik yang cukup baik berdasarkan hasil checklist yang terpenuhi pada kolom ya berjumlah enam dan yang terpenuhi pada kolom tidak berjumlah enam. Pada indikator cara berjalan, item-item yang terpenuhi dalam tabel checklist yaitu tubuhnya sempoyongan dan melangkah dengan ragu. Pada indikator postur tubuh, item-item yang terpenuhi yakni dada dan bahu menyempit, postur tubuh bungkuk, kaki bengkok. Sedangkan pada indikator gerakan tangan, item-item yang terpenuhi yakni meraba-raba ketika hendak mengambil sesuatu, ketika berjalan tangan terkadang menjulur ke depan/meraba-raba. Menurut tiga indikator kemampuan motorik dari definisi operasional remaja tunanetra, yakni cara berjalan, postur tubuh serta gerakan tangan, subjek dapat dikatakan mempunyai kemampuan motorik cukup baik. Hasil observasi diatas mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Best (dalam Nawawi,dkk, 2009) mengemukakan bahwa anak-anak tunanetra tidak dapat dengan mudah memantau mobilitasnya (gerakannya) dan oleh karenanya dapat mengalami kesulitan dalam memahami apa yang terjadi bila mereka menggerakkan atau merentangkan anggota tubuhnya, membungkukkan atau memutar tubuhnya. Karena mereka tidak dapat melihat gerakan orang lain dengan jelas, mereka tidak bisa mengamati bagaimana orang duduk, berdiri, dan berjalan serta kemudian menirukannya. Maka mereka akan memiliki lebih sedikit kerangka acuan/pola (term of reference), dan mungkin tidak akan menyadari apa artinya "duduk tegak", berjalan kaki melangkah dan tangan diayun, sehingga terjadi keserasian gerak antara kaki, tangan, dan tubuh ketika sedang berjalan. Terdapat beberapa indikator perilaku yang tidak muncul ketika observasi berlangsung, diantaranya adalah tangan menjulur kedepan namun subjek hanya meraba pada sisi dinding ketika berjalan mencapai tempat tujuannya. Kaki diseret dan kedua belah kaki senantiasa bertukar, perut membusung kedepan, kesulitan dalam menggerakkan tangan untuk menulis, dalam hal ini dikarenakan subjek menulis dengan huruf braile. Indikator terakhir yang tidak muncul adalah antara gerakan tangan dan badan dalam melakukan sesuatu cenderung kurang harmonis.

BAB V PENUTUP
5.1. Kesimpulan

Dari penelitian yang telah dilakukan melalui metode wawancara untuk kemampuan bahasa dan observasi untuk kemampuan mobilitas,telah didapatkan beberapa kesimpulan. Penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara untuk kemampuan bahasa, diperoleh hasil bahwa remja yang tunanetra tidak memiliki perbedaan dengan remaja yang non tunanetra. Dari informan, didapatkan hasil bahwa remaja tunanetra hanya mengalami permasalahan dalam proses belajar mengenal arti kata yang dimaksud. Hal ini dikarenakan remaja tunanetra tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan indera penglihatan untuk mengetahui mimik, ekspresi dari kata tersebut. Ketidakmampuan ini akhirnya mengharuskan metode pembelajara bagi pelajar tunanetra untuk diberikan metode pengajaran bahasa secara individual, konkrit, totalitas dan mandiri. Keempat metode ini menggunakan indera selain indera penglihatan dengan maksimal, seperti latihan mengembangkan kemampuan bahasa juga dapat dilakukan dengan auditori. Oleh karena itu secara umum, remaja tunanetra memiliki kemampuan yang sama dalam merangkai kalimat serta membuat suatu karya tulis yang setara dengan remaja non tunanetra. 5.2 5.2.1 Saran Saran untuk Pengajar Dalam proses belajar mengajar, sebaiknya para pengajar harus dapat lebih sabar menghadapi remaja tunanetra. Hal ini mengingat bahwa proses pembelajaran tunanetra menggunakan metode individual dan harus secara menyeluruh. Pengajar yang dipilih dalam mengembangkan kemampuan bahasa, hendaknya memperluas pergaulan dalam mengenal bahasa daerah. bahasa Indonesia. Pengajar baca tulis huruf braille, hendaknya mengembangkan kreatifitas serta memberikan contoh konkrit yang menarik dalam pembelajaran. Penguasaan bahasa daerah yang dimiliki dapat membantu pengajar dalam memberikan padanan kata

Mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat merangsang kemampuan motorik remaja tunanetra.

5.2.2

Saran untuk Lembaga Panti Bina Netra Menyediakan fasilitas pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan bahasa, seperti alat peraga konkret. Menambah sarana dan prasrana untuk pengembangan kemampuan motorik, baik motorik kasar maupun motori halus, seperti alat musik.

5.2.3

Saran untuk Penelitian Selanjutnya Dalam penelitian selanjutya, sebaiknya lebih dispesifikasikan. Misalnya dalam kemampuan bahasa, peneliti lebih memfokuskan pada kemampuan dalam penguasaan kosakata, memahami makna istilah/kalimat, dll. Begitu pula pada kemampuan motorik, ada baiknya jika lebih dispesifikan. Misal, kemampuan motorik halus ataupun kemampuan motorik kasar.

Daftar Pustaka Andriyani. (Desember 2010). Perkembangan Motorik Anak Tunanetra. Diakses dari andriyani003.blogspot.com/2010/12/perkembangan-motorik-anaktunanetra_11.html tanggal 01 Mei 2011 Asniarno, Fica. (2010). Pengaruh Gerak Dasar pada Pendidikan Jasmani Adaptif dalam Meningkatkan Kemampuan Motorik Anak Tuna Rungu di SLB B/C Yayasan Pembina Sekolah Luar Biasa (YPLSB) Kartasura Tahun 2009. Doakses dari eprints.uns.ac.id/194/ tanggal 1 Mei 2011 Nawawi, Ahmad, dkk. (2009). Pentingnya Orientasi dan Mobilitas Bagi Tunanetra. Diakses Mei 2009 Sunanto, Juang. (2008). Bahasa dan Ketunanetraan. Universita Pendidikan Indonesia jurusan Pendidikan Luar Biasa Tarsidi, Didi. (4 Maret 2009). Dampak Ketunanetraan terhadap Pembelajaran Bahasa. Diakses dari slbk-batam.org/cetak.php?id=98 tanggal 1 Mei 2011 dari makalah dalam tanggal 1 file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND.../Gaya_Jalan_Tunanetra.pdf