Anda di halaman 1dari 6

Sejarah narasi Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas http://id.wikipedia.

org/wiki/Sejarah_narasi Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari Sejarah narasi (bahasa Inggris: oral history) para ilmuwan Eropa sejak dua abad berselang sangat memandang tinggi penggunaan dokumen sebagai dasar penelitian karena dokumen dianggap dapat mengungkapkan keabadian serta kekinian yang dapat dirangkul, diinterpretasi dan dieksplanasi sehingga timbul pameo no documents, no history sikap pandangan ini berangsur-angsur mulai berubah karena sebetulnya sikap yang demikian merupakan penutup pintu terhadap sejarah mayoritas penduduk dunia yang tidak terdokumentasi, yang lahir, yang hidup, dan yang kematinya pun tidak pernah tercatat dalam dokumen apapun. kebanyakan berasal dari sejarah masyarakat yang terjajah, yang tidak berdaya, buruh, wanita, anak-anak, dan etnis minoritas, jarang muncul dalam sumber tertulis. dalam perkembangan dengan ditemukan teknologi rekaman dan berkembangnya penelitian lisan serta pemanfaatannya oleh para sejarawan, mereka yang diam itu telah diberi ruang untuk ikut bersuara dan dengan demikian dapat ikut berbicara mengenai masa lampau dan secara bersama ikut menata masa depan. "Sejarah narasi berhasil membangun pemahaman yang lebih baik mengenai masa lampau dengan cara menyediakan pandangan dan kisah yang makin luas bagi generasi mendatang. Kemungkinan yang demokratis yang dibuka oleh sejarah narasi terletak pada keanekaragaman pandangan yang dapat disediakan. Sejarah narasi dapat membebaskan peneliti dari kendalakendala definisi tradisional dan politis mengenai siapa yang membuat sejarah dan apa yang disebut sumber sejarah" Hong Lysa (History Department and the Southeast Asian Studie, National University of Singapore) Daftar isi [sembunyikan]

1 Legalitas 2 Perkembangan o 2.1 di Indonesia o 2.2 di Amerika Serikat o 2.3 di Inggrris 2.3.1 Studi kasus 2.3.2 Organisasi 3 Lihat pula 4 Referensi 5 Pranala luar

[sunting] Legalitas Pada tahun 1997 Mahkamah Agung Kanada, dalam sidang peradilan Delgamuukw v. British Columbia memutuskan bahwa sejarah lisan adalah sama pentingnya dengan kesaksian tertulis, menurut putusan tersebut bahwa sejarah lisan mempunyai relevansi terhadap pada tujuan akhir dari proses pencarian fakta di sidang-penentuan kebenaran sejarah [1] [sunting] Perkembangan [sunting] di Indonesia Penelitian sejarah lisan yang dilakukan di Indonesia tidaklah berkesinambungan. Beberapa yang pernah dilakukan di antaranya oleh Arsip Nasional RI (ANRI) yang dirintis tahun 1972 untuk mengisi kekurangan arsip tentang sejarah pendudukan Jepang dan masa-masa revolusi periode 1942 sampai dengan 1950, diantaranya, Kuntowijoyo yang memimpin penelitian mengenai Perubahan Sosial Pedesaan: Sejarah Lisan Surakarta antara tahun 1930 sampai dengan tahun

1960. Beberapa penelitian atas korban dan saksi sejarah peristiwa-peristiwa tahun 1965 dan tahun 1998 yang beberapa kali dilakukan oleh Yayasan Lontar, Koesalah Soebagyo Toer dan Sudjinah, Hersri Setiawan, dan Jaringan Kerja Budaya (JKB), Tahun 2006, Changing Labour Relations in Asia (CLARA) yang dipimpin Ratna Saptari dari Universiteit van Amsterdam bekerja sama dengan Lembaga Studi Realino ikut melakukan meneliti korban kekerasan di daerah konflik, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Selatan, Lampung, DKI, Jawa Barat hingga Jawa Timur dan Kalimantan Barat. [sunting] di Amerika Serikat Pada tahun 1930-an Works Progress Administration (WPA) mengirim pewawancara untuk mengumpulkan laporan dari berbagai kelompok, termasuk saksi yang masih hidup dari Perang Saudara Amerika, Perbudakan, dan peristiwa-peristiwa sejarah utama lainnya. Perpustakaan Kongres juga mulai merekam musik tradisional Amerika dan cerita rakyat ke cakram asetat. Dengan perkembangan audio kaset rekaman setelah Perang Dunia II, tugas sejarawan lisan menjadi lebih mudah. Selanjutnya pada 1946 David Boder, seorang profesor psikologi dari Illinois Institute of Technology di Chicago, pergi ke Eropa untuk merekam wawancara panjang dengan orang yang tersingkirkan yang kebanyakan dari mereka merupakan korban Holocaust dengan menggunakan perangkat perekam. kemungkinan besar ini merupakan sejarah lisan pertama yang tercatat. [2] [sunting] di Inggrris Sejak tahun 1970-an sejarah lisan di Inggris telah berkembang menjadikan cerita rakyat masuk dalam metode penelitian dan menjadi komponen utama dalam memperlajari sejarah masyarakat. Sejarah narasi dalam perkembangannya terus menjadi sarana penting bagi non-akademisi yang aktif dapat berpartisipasi dalam ikut membuat sejarah. Namun praktisi di berbagai disiplin akademik secara bersama telah pula ikut mengembangkan metode ini dengan cara pencatatan, pemahaman dan pengarsipan kenangan yang pernah diriwayatkan. termasuk pengertian sejarah perempuan dan sejarah tenaga kerja didalamnya. Sejarah narasi yang diriwayatkan dalam masyarakat telah memainkan peran kunci dalam memfasilitasi dan mengembangkan penggunaan sejarah lisan di Inggris antara lain dapat ditemukan pada Pembuat Sejarah Narasi[3] di situs web Institute of Historical Research (IHR), University of London.[4]

Prinsip-Prinsip Dasar dalam Penelitian Sejarah Lisan http://sulandraamensambas.blogspot.com/2011/06/prinsip-prinsip-dasar-dalam-penelitian.html. Sulandra Amen Sambas

Penelitian sejarah lisan membutuhkan suatu metode pengumpulan data atau bahan penulisan sejarah yang dilakukan oleh peneliti sejarah melalui wawancara secara lisan terhadap pelaku atau saksi peristiwa. Metode ini sudah dipergunakan sejak masa lalu yang semula dipergunakan di Amerika Serikat.

Langkah yang harus ditempuh bagi penelitian sejarah lisan adalah menemukan sumber pendukung yang berasal dari para pelaku atau saksi-saksi langsung serta tempat terjadinya peristiwa untuk mencari latar belakang dan pemahaman akibat dari peristiwa yang ditimbulkan sehingga akan mendekati kebenaran seperti yang diharapkan.

Oleh karena itu, untuk melakukan penelitian sejarah lisan perlu adanya sumber dari para pelaku maupun para saksi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap pelaku atau saksi peristiwa. Namun, terkadang keterangan para pelaku bersifat subjektif sehingga perlu dilakukan penyeleksian atau analisis secara cermat (misalnya, yang menguntungkan pelaku dikatakan, sedangkan yang dianggap negatif atau merugikan pelaku disembunyikan). Kritik terhadap sumber lisan adalah dengan melakukan cross check atau mengecek dengan sumber lisan lainnya.

Berikut teknik-teknik pengumpulan data sumber lisan. 1. Sumber berita dari pelaku sejarah Pelaku merupakan unsur utama yang berperan dalam peristiwa sebab para pelaku tahu persis latar belakang peristiwa tersebut, apa yang terjadi, sasaran dan tujuannya, serta mengapa terjadi dan siapa saja pelakunya. Metode wawancara kepada pelaku merupakan metode yang paling tepat untuk mengungkapkan dan memaparkan suatu peristiwa.

Ada beberapa cara dalam pengumpulan informasi lisan melalui teknik wawancara, yaitu adanya seleksi individu untuk diwawancarai guna memperoleh informasi yang akurat (maksudnya kedudukan orang tersebut dalam suatu peristiwa, sebagai pelaku utama, informan, atau saksi), harus ada pendekatan kepada orang yang diwawancarai, mengembangkan suasana lancar dalam wawancara dengan pertanyaan yang jelas, tidak berbelit dan menghindari pertanyaan yang menyinggung perasaan. Persiapkan pokok-pokok masalah yang akan ditanyakan dengan sebaikbaiknya agar memperoleh data yang lengkap dan akurat.

Wawancara langsung dapat dilakukan dengan metode-metode berikut. a. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan acak dan jawaban tidak ditentukan (pertanyaan terbuka). b. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan dengan jawaban yang telah ditentukan (pertanyaan tertutup). c. Wawancara dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih dahulu baru kemudian responden menjawab satu per satu. d. Wawancara dilakukan dengan cara mengajukan suatu pertanyaan, kemudian responden langsung menjawabnya. Setelah selesai, pewawancara mengajukan pertanyaan selanjutnya. e. Wawancara dilakukan dengan menggunakan tape recorder yang dapat menyimpan kesaksian pelaku atau saksi lisan tersebut.

2. Sumber berita dari saksi sejarah Orang yang pernah melihat atau menyaksikan suatu peristiwa, tetapi bukan pelaku, disebut saksi. Berita juga sering disampaikan oleh para saksi peristiwa, dapat berupa berita kebenaran, berita sepihak, atau hanya sekadar berita dari suatu peristiwa. Para saksi juga tidak melihat secara utuh dan detail suatu peristiwa sebab ia hanya sekadar mengetahui suatu peristiwa, itu saja tidak seluruhnya. Oleh karena itu, keterangan dari para saksi perlu didukung oleh data lain yang memperkuat bukti peristiwa sejarah.

3. Sumber berita dari tempat kejadian peristiwa sejarah Masalah tempat sering mempunyai kaitan dalam sebuah peristiwa, misalnya, peristiwa Rengasdengklok, penyusunan teks proklamasi, dan tempat proklamasi. Tempat tersebut menjadi saksi sejarah yang mampu menjadi sumber lisan.

TRADISI LISAN DALAM PENULISAN SEJARAH LOKAL Ketika topik tradisi lisan, sejarah lisan, dan sejarah lokal diajukan dalam seminar ini, tentunya sudah muncul kesepahaman bahwa ada keterkaitan di antara ketiga hal tersebut. Dengan kata lain dapat dikatakan, bahwa penulisan sejarah (baca sejarah lokal) perlu mempertimbangkan tradisi lisan (dan atau sejarah lisan). Sejarah lisan atau oral history tidak akan dibicarakan secara khusus dalam kertas kerja ini. Sebagai bagian dari kelisanan, sejarah lisan memiliki karakter yang berbeda dengan tradisi lisan. Sejarah lisan dimaksudkan memberi kebenaran sejarah seperti yang dituturkan oleh para pelakunya atau oleh pihak-pihak yang (merasa) mempunyai pengalaman sejarah yang bersangkutan. Tradisi lisan tidak harus memiliki beban semacam itu karena penutur dapat berkilah dengan mengatakan, kisah ini didapatkan dari leluhur saya dan mohon maaf bila terdapat kesalahan karena patik sekedar menuturkan kembali. Proses pewarisan yang telah berjalan secara turun-temurun dan adanya interaksi langsung antara penutur dan masyarakatnya / penontonnya merupakan dua hal pokok dalam proses penciptaan tradisi lisan. Kedua hal ini akan dibicarakan lebih lanjut di bawah ini, tetapi sebelumnya perlu kiranya melihat benang merah di antara sejarah lisan dan tradisi lisan, yaitu konsep mengenai kelisanan. Istilah tersebut dicetuskan pertama kali pada tahun 1963 oleh Havelock dalam Preface to Plato. Kelisanan tidak dapat dipisahkan dari konsep mengenai keberaksaraan, tetapi di lain pihak justru harus dibedakan dengan konsep ini. Ketika berbicara mengenai kelisanan maka kita bicara mengenai sesuatu yang tidak tertulis, tetapi sekaligus juga bicara tentang sesuatu yang tertulis yang diujarkan. Segala definisi yang diharapkan dapat menjawab tentang apa yang dapat dimutlakkan sebagai sesuatu yang asli lisan justru akan menemui kesia-siaan. Sweeney menegaskan bahwa pengertian kelisanan dapat sedikit dipuaskan bila dibicarakan dalam konteks interaksinya dengan tradisi tulisan (Sweeney, 1998: 25). Dalam kaitan ini perlu terlebih dahulu diutarakan kekaburan pemakaian oral dan orality. Istilah yang pertama berkaitan dengan suara. Konsep oral dalam arti ini menjadi sangat luas, meliputi segala sesuatu yang diujarkan, seperti uraian kuliah misalnya.Dengan kata lain, istilah oral di sini tidak berkaitan dengan beraksara atau tidak beraksaranya penutur yang bersangkutan. Istilah orality diartikan sebagai satu sistem wacana yang tidak tersentuh oleh huruf. Akan tetapi, kosep ini pada waktunya akan juga mempengaruhi konotasi oral, sehingga istilah oral mengandung dua makna yang berbeda. Implikasi kata lisan dalam pasangan (1) lisan tertulis dan dalam pasangan (2) lisan - beraksara berbeda. Sweeney mengusulkan istilah oracy (orasi) untuk mencakup pengertian lisan pada pasangan pertama dan istilahorality (kelisanan) untuk pasangan kedua. Saya lebih setuju untuk mengatakan bahwa konsep kelisanan yang dipakai di sini adalah dalam konteks sistem pengolahan bahan yang tidak mengandalkan huruf. Tradisi lisan dalam konteks ini diartikan sebagai segala wacana yang diucapkan meliputi yang lisan dan yang beraksara atau sistem wacana yang bukan aksara. Dengan pembatasan serupa itu, pembicaraan kelisanan ini lebih mencakup tradisi lisan dan tidak mengkhususkan diri pada sejarah lisan karena di luar jangkauan penelitian saya. Contoh kasus yang diberikan di bawah akan melibatkan data yang diambil langsung dari tuturan pencerita, pementasan / pertunjukan, dan teks lisan yang dituliskan. Permasalahan pertama yang dapat diajukan di sini adalah bagaimana penulis sejarah dapat memanfaatkan kajian kelisanan dan bagaimana kelisanan tersebut dapat tersimpan dalam ingatan masyarakatnya dan menjadi tidak saja living memories, tetapi juga living traditions yang dapat melintasi batas waktu melalui penuturan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Lintas waktu dan lintas generasi ini menandakan bahwa ingatan mampu merekam

berbagai ekspresi kelisanan mengenai pergulatan masyarakatnya. Hefner, misalnya telah memperlihatkan peranan ludruk dalam membangun sebuah forum sosial politik yang penting dan memberikan komentar atas isu-isu sosial, kekuasaan, otoritas, dan identitas lokal sebuah masyarakat pada suatu periode tertentu (Hefner, 1994). Ludruk dipandang sebagai dinamika yang secara efektif membangkitkan anggapan-anggapan yang mendasar yang terdapat dalam pandangan dunia pendukungnya. Berbagai ekspresi masyarakat yang dinyatakan dalam tradisi lisan memang tidak hanya berisi cerita dongeng, mitologi, atau legenda seperti yang umumnya diartikan, tetapi juga mengenai sistem kognitif masyarakat, sumber identitas, sarana ekspresi, sistem religi dan kepercayaan, pembentukan dan peneguhan adat-istiadat, sejarah, hukum, pengobatan, keindahan, kreativitas, asal-usul masyarakat, dan kearifan lokal mengenai ekologi dan lingkungannya. Pengungkapan kelisanan tersebut disampaikan terutama dengan mengandalkan faktor ingatan. Penutur atau tukang cerita memang mengingat bukan menghafalkan apa yang akan disampaikannya (Lord, 1976; Sweeney, 1980 dan 1987; Ong, 1982). Meskipun ingatan sangat berperan, selalu dapat dijumpai perubahan-perubahan dalam tradisi lisan di samping bentuk-bentuknya yang tetap (Rubin, 1995). Yang selalu tetap sebetulnya adalah formula . Pengolahan formula dalam suatu pementasan tradisi lisan seperti yang diuraikan Lord pada kasus Avdo Mededovic, seorang penutur epik / guslar di Bosnia akan membantu kita dalam memakai sumber lisan dalam penulisan sejarah. Avdo dianggapnya sebagai seorang tokoh tradisi Slavia-Balkan yang mengalami kekejaman 3 perang besar (Perang Dunia I, Perang Balkan, dan Perang Dunia II). Sumber penuturan Avdo memang merupakan pengalaman hidupnya, tetapi ada banyak hal lain yang turut berperan dalam proses penciptaan , seperti faktor rangsangan dari luar dalam bentuk reaksi dan tanggapan masyarakat sekitar, riwayat hidup, imaginasi, dan reaksi-reaksi pribadi si penutur terhadap kehidupannya. Kesemua hal tersebut memperlihatkan kenyataan bahwa meskipun sumber lisan berperan untuk penulisan sejarah, tetap harus diperhatikan berbagai kendala memakai sumber lisan tersebut Kendala lain yang muncul dalam menggunakan sumber lisan adalah kreativitas penutur. Di dalam setiap pertunjukan terkandung makna penciptaan sebuah karya atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa setiap penuturan atau setiap pertunjukan adalah sebuah kreasi / komposisi (Pudentia. 2000:53). Lord menegaskan hakekat pentas / tuturan kelisanan sebagai proses penciptaan sebuah komposisi kelisanan , the moment of composition is the performance (Lord, 1064:13). Dengan kata lain, setiap pertunjukan merupakan sebuah karya seni yang mengalami proses penciptaan tertentu yang menggabungkan penutur dengan khalayak pendukungnya dalam satu situasi dan pemahaman yang sama. Kreativitas penutur dan pemaknaan yang dibuat oleh audiens / masyarakatnya menciptakan dialektika tersendiri. Dengan mempertimbangkan segala hal di atas, tepatlah yang dirumuskan Alan Dundes (1999) mengenai pentingnya memakai berbagai teks lisan: sebagai sumber pemahaman. Selalu ada resiko salah paham bila kita hanya menggunakan satu versi saja. Permasalahan selanjutnya adalah sejauh mana kita dapat memberlakukan semua versi yang ada sebagai sumber sejarah dan yang masing-masingnya dianggap merupakan sebuah kreasi tersendiri. Pendekatan intertekstual merupakan salah satu alternatif terutama untuk kasus yang memiliki banyak kemungkinan terjadinya transformasi yang berupa lintas budaya (Jawa ke Belanda dan Indonesia, misalnya) dan lintas bentuk (lisan ke tertulis, misalnya). Menghadapi kasus transformasi semacam ini yang dengan sendirinya juga telah memiliki sejarah resepsi yang cukup panjang, maka peranan tanggapan dan penciptaan kembali sebuah teks menjadi penting. Bila sebuah teks sudah bisa ditetapkan sebagai sebuah hipogram atau teks yang dijadikan acuan teks lain, maka langkah selanjutnya dapat dilakukan telaah hubungan antarteks (intertekstual) seperti yang diajukan oleh Rifaterre . Intertekstual menegaskan sebuah karya baru bermakna dalam hubungannya atau pertentangannya dengan teks lain. Hubungan antarteks ini diterapkan dengan ekspansi dan konversi menurut Riffaterre dan dengan modifikasi dan ekserp oleh Pradotokusumo. Ekspansi adalah perluasan atau pengembangan; konversi adalah pemutarbalikan hipogram; modifikasi merupakan manipulasi pada tataran

linguistik (kata atau urutan kata dalam kalimat) dan tataran kesastraan (tokoh atau alur); ekserp serupa dengan intisari suatu unsur atau episode hipogram. Selain keempat hal tersebut, intertekstual juga dilakukan dengan melihat adanya penambahan unsur yang semula tidak ada dan penghilangan episode dengan sengaja karena tuntutan situasi, pergeseran sikap, minat, perhatian, dan faktor internal teks (missal karena lintas genre). Untuk lebih menjelaskan penerapan sumber lisan dengan pendekatan intertekstual saya akan mengemukakan secara lisan penjelajahan saya dalam menampilkan tokoh Ken Arok atau Ken Angrok. Sumber lisan diperoleh langsung dari narasumber di wilayah Singosari Malang pada awal Juni yang lalu; sumber lain adalah teks lisan seperti yang tampak dalam berbagai sumber yang sudah tertulis. http://www.scribd.com/doc/3017887/tradisi-lisan-dalam-penulisan-sejarahlokal