Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI AKUATIK Penentuan Angka Lempeng Total (ALT) Dan Penentuan Coliform dan Escerichia coli

pada sampel air sungai

DISUSUN OLEH : NINDA RIZKIYANI ( 10.0556.C )

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERIKANAN UNIVERSITAS PEKALONGAN 2011


BAB I

PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Tidak ada satu pun yang menggambarkan biologik sebaik mikrooraganisme, Mahluk hidup yang tidak bisa dilihat olah mata telanjang. Keanakaragaman biokimia atau mekanisme genetik, baik dalam bentuk maupun fungsi yang diperlihatkan dalam analisa mikrooraganisme, telah mengantar kita pada batas pemahaman biologi. Oleh karenanya, kebutuhan akan penemuan baru suatu tes keabsahan hipotesa ilmiah dapat dijumpai secara utuh pada mikrobiologi. Hipotesa yang berguna akan memberikan dasar bagi ilmu alam lain, dan keragaman mikrobia memberi peluang, dimana tantangan tersebut selalu ada. Prediksi, suatu bentuk praktis dari ilmu pengetahuan, adalah suatu produk yang dihasilkan oleh perpaduan antara teori dan praktik. Biokimia, biologi molekuler dan genetika merupakan perangkat atau wahana yang dibutuhkan untuk analisis mikroba. Dalam berbagai pengembangan, mikrobiologi dapat memperluas wawasan ilmu-ilmu tersebut. Seorang ahli mikrobiologi, mungkin menjelaskan berbagai proses pertukaran berbagai bentuk saling membutuhkan (Mutualisme), misalnya suatu kejadian kecil yang merupakan bagiannya. Dalam biologi, mutualisme disebut simbiosis, yaitu hubungan yang terus menerus antara organisme yang berbeda. Pemberian kegunaan utama pada satu pihak saja disebut parasitisme, yaitu suatu hubungan dimana inang memberikan kegunaan utamanya kepada parasit. Isolasi dan karakterisasi sebuah parasit, contohnya bakteri patogen atau Virus, seringkali membutuhkan rencana laboratorium, sehingga mirip dengan apa yang diperoleh organisme tersebut saat berada dalam sel inang. Kebutuhan ini kadang-kadang memjadi tentangan utama bagi peneliti. Pengertian Mutualisme, simbiosis dan pasitisme berkaitan erat dengan ilmu ekologi dan prinsip-prinsip biologi lingkungan, kesemuanya sudah masuk dalam mikrobiologi. Mikroorganisme merupakan hasil evolusi, suatu konsekuensi biologis dari proses seleksi alam, yang terjadi pada bentangan garaduil yang sangat luas pada organisme dengan berbagai keragaman genetik. Sejarah alam yang kompleks ini harus selalu ada dalam pikiran kita sebelum menyimpulkan mikroorganisme, bagian yang paling heterogen dari seluruh Mahluk Hidup. Sebelum penemuan jasad-jasad renik, semua benda hidup yang dikenal dianggap sebagai tumbuhan atau binatang; tidak terpikirkan adanya Jenis-jenis peralihan. Namun dalam abad ke-19, menjadi jelas bahwa jasad renik memiliki semua kemungkinan kombinasi sifat-safat tumbuhan dan binatang. Sekarang telah diakui secara umum bahwa jasad renik berkembang, dengan perubahan relatif sedikit, dari seluruh tumbuhan dan binatang. Kecenderungan para ahli biologi untuk menggolongkan semua jasad dalam

salah satu dari 2 dunia, tumbuhan atau binatang, menimbulkan sejumlah keganjilan. Misalnya jamur, digolongkan sebagai tumbuhan sebab sebagian jamur-jamur tidak bergerak, walaupun jamur hampir tidak memiliki sifat-safat lain dari tumbuhan dan menunjukan afinitas filogenik kuat dengan protozoa. Agar dapat menghindarkan penempatan sewenang-wenang kelompokkelompok peralihan dalam dunia yang satu atau yang lainnya, Heckel mengusulkan pada tahun 1899, agar jasad renik ditempatkan dalam dunia yang terpisah, Protista. Menurut definisi Heckel, dalam protista tergolong alga, Protozoa, jamur, dan kuman. Namun pada pertengahan abad ini, renik mikroskopik elektron yang baru mengungkapkan bahwa kuman secara fundamental berbeda dari tiga kelompok yang lain damal struktur sel. Ke-3 kelompok yang terakhir memiliki tipe struktur sel yang lebih maju, sama dengan sel-sel tumbuhan dan binatang, yang dinamakan eukariotik; kuman-kuman memiliki struktur sel yang lebih primitif, yang dinamakan prokariotik. Istilah protista digunakan sekarang untuk menunjukkan jasad-jasad eukariotik, sedangkan semua kelompok kuman dinamakan secara kolektif sebagai prokariota.Biologi umum membedakan antara eukariota (organisme yang memiliki membran inti) terhadap Prokariota (Organisme dimana DNA nya tidak dapat dipisahkan secara fisik dari sitoplama). Perbedaan lebih lanjut tentang eukariota dan prokariota misalnya akan dibedakan oleh ukurannya yang relatif besar dan adanya organelaorganela yang terikat pada membran sel, misalnya Mitokondria. Eukariota dan Prokariota merupakan organisme, karena memiliki seluruh enzim yang diperlukan untuk fungsi replikasi (perbanyakan) dan memiliki perangkat biologi yang penting untuk memproduksi energi metabolik. Oleh karenanya eukariota dan Prokariora berbeda dengan virus yang bergantung pada inang untuk menjalankan fungsi seperti di atas. B. Maksud dan Tujuan Praktikum I.1 Maksud praktikum Percobaan mikrobilogi kali ini dimaksudkan agar praktikan dapat mempelajari tentang perhitungan mikroorganisme dengan metode ALT (Angka Lempeng Total), metode APM, dan dapat menentukan jumlah coliform dan escerchia coli pada produk perikanan I.2 Tujuan Praktikum Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui cara-cara perhitungan mikroorganisme dengan metode ALT (Angka Lempeng Total) dan metode MPN (Most Probable Number).

C C

Tempat dan Waktu Praktikum

Tempat : Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Pekalongan, Jalan Pantaisari II Panjang Waetan, Pekalongan Waktu : 12 MEI 2011 30 MEI 2011 DC Profil Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Pekalongan

Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Pekalongan adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. LPPMHP Pekalongan mempunyai daerah kerja tujuh kabupaten/kota se eks-karesidenan Pekalongan. Pada tahun 1978 LPPMHP Pekalongan mulai menjalankan tugas pengujian dan pengawasan mutu hasil perikanan sesuai dengan SK Gubernur KDH Provinsi Jawa Tengah tanggal 15 Juni 1977 No. HK. 43/1977 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit LPPMHP. Dasar Pembentukan LPPMHP Pekalongan dan peraturan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengujian dan pengawasan mutu hasil perikanan antara lain: SK Dirjen Perikanan No. H. II/2/1/6/77 tanggal 26 Februari 1977 tentang Pedoman dan Pengelolaan LPPMHP

SK Gubernur KDH TK I Jawa Tengah No. HK. 43/1977 tanggal 15 Juni 1977 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Unit LPPMHP UU No. 8 tahun 1985 tentang Perikanan Inpres RI No. 2 tahun 1990 tentang Penyederhanaan Tata Cara Pengujian Mutu Ikan Segar dan Ikan Beku Untuk Ekspor SK Mentan No. 41/Kpts/210/2/98 tentang Sistem Manajemen Mutu Terpadu Hasil Perikanan SK Dirjen Perikanan No. 14128/Kpts/TK/130/XII/1998 tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Manajemen Mutu Terpadu Hasil Perikanan Perda Prop. Jawa Tengah No. 9 tahun 1998 tentang Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Hingga saat ini Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Pekalongan melaksanakan tugasnya sesuai dengan Peraturan Gubernur Provinsi Jawa Tengah No. 38 tahun 2008 tanggal 20 Juni 2008 tentang Pembentukan, Kedudukan, Tugas Pokok, Fungsi, dan Susunan Organisasi Unit Pelaksana Teknis Dinas-dinas Provinsi Jawa Tengah. Tugas pokok LPPMHP adalah melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional dan atau kegiatan teknis penunjang Dinas di bidang pengujian dan pengawasan mutu hasil perikanan. Visi Mewujudkan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan Jawa Tengah sesuai dengan tuntutan pasar global Misi Meningkatkan pelayanan pengujian hasil perikanan terhadap pengguna jasa Menjamin hasil pengujian yang cepat, tepat, dan akurat Mendorong berkembangnya usaha Unit Pengolahan Ikan (UPI) untuk menghasilkan produk yang aman, bermutu, higienis, ramah lingkungan, dan efisien

Strategi Memberikan pelayanan prima sesuai dengan tuntutan pengguna jasa Kebijakan Mutu Manajemen LPPMHP Pekalongan memberikan pelayanan pengujian yang mengutamakan mutu dan kepuasan pengguna jasa serta menjamin bahwa pekerjaan pengujian dilaksanakan dengan kejujuran teknis, teliti, cepat, tepat, dan akurat serta efisien dalam menggunakan sumber daya. Segala kegiatan pengujian selalu dilaksanakan berdasarkan sistem manajemen yang sesuai dengan ISO/IEC 17025 : 2005 guna memberikan jaminan konsistensi kompetensi teknis pengujian dalam lingkup kerjanya dan mengusahakan perbaikan dan efektivitas sistem manajemen secara terus menerus. Sistem manajemen laboratorium dituangkan dalam panduan mutu, prosedur, dan instruksi kerja yang dikomunikasikan, dimengerti, dan dilaksanakan oleh semua personil secara profesional. STRUKTUR ORGANISASI Adapun struktur organisasi Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Pekalongan : Kepala Laboratorium Sub. Bagian Tata Usaha Seksi Pengujian Seksi Pengawasan Mutu Kelompok Jabatan Fungsional

Gambar Struktur Organisasi LPPMHP Pekalongan

KEPALA LABORATORIUM

SUB.BAGIAN TATA USAHA

KLP. JABATAN FUNGSIONAL

SEKSI PENGUJIAN

SEKSI PENGAWASAN MUTU

BAB II METODE KERJA


C C Cara Kerja

Mengamati alat-alat yang akan digunakan dalam laboratorium mikrobiologi, serta dapat memahami fungsi dari masing-masing alat dan dapat menggunakannya. Dapat memahami tahapan-tahapan dari tiap praktikum. Ada beberapa diantaranya adalah : tahapan dalam praktikum mikrobiologinya,

a. Sterilisasi Sterilisasi merupakan Metode praktis yang dirancang untuk membersihkan dari mikroorganisme, atau sengaja untuk menghambat pertumbuhannya, yang nyata dari kepentingan dasar di banyak keadaan. Jenis dari mikroorganisme sangat berbeda dalam kelemahannya terdapat berbagai macam agen antimikroba, dan lebih banyak lagi, afek yang praktis dari agen ini pada adanya keadaan nyatayang sangat besar dipengaruhi oleh keadaan sekitar. Banyak yang akan bertahan, contohnya, pada cuaca tertentu organisme memiliki kulit, pada beberapa tubuh zat cair atau pada udara, Air, makanan, kotoran, atau ruangan berdebu. Caranya harus dirubah, oleh karena itu, dengan masalah nyata. Hal ini tidak mungkin, bagaimanapun pada garis besarnya tentunya prinsip dasar digaris bawahi pada umumnya digunakan cara untuk memusnahkan dan mengontrol kehidupan mikroba. Cara kerja sterilisasi adalah cara kerja agar terhindar dari kontaminasi, cara kerja steril ini digunakan pada pembuatan media, pemeriksaan kultur dan pembuatan preparat. Sterilisasi dapat dilakukan secara; (1) Fisik di bagi menjadi beberapa bagian antara lain (a) dengan Hot air Sterilization oven. Bahan dari gelas dibungkus dengan alumunium foil, suhu 170-250C selama 2 jam. (b) panas basah dengan tekanan, suhu 121C selama 15 menit. Alat yang digunakan adalah autoclave, caranya: alat-alat gelas dibungkus lagi dengan alumunium foil. (c) Pressure Cooker, caranya: panaskan air mendidih, biarkan klep uap terbuka agar keluar uap kemudian klep uap ditutup, lihat suhu dan tekanan, bila suhu telah 121C dengan tekanan 1,5 atm, dijaga konstan selama 15 menit. Kemudian buka klep uap hingga tercapai tekanan nol, dan setelah suhu mencapai suhu kamar, alat dan bahan dikeluarkan. (2) Kimia yaitu dengan menggunakan zat-

zat kimia seperti desinfektan, antiseptik. (3) Radiasi yaitu dengan menggunakan sinar Ultraviolet, biasanya digunakan pada ruangan dan alat-alat plastik. (4) Filter yaitu dengan menggunakan membran filter dan Vacum Pump. b. Perhitungan Bakteri Pada pemeriksaan suatu produk, jumlah bakteri akan menggambarkan mutu bahan baku, proses pembuatan dan tingkat kerusakan suatu bahan mekanan. Metode perhitungan sangat banyak, hanya biasanya metode yang dipilih adalah disesuaikan dengan kepentingan pemeriksaan, kecepatan dan ketepatan hasil pemeriksaan. Metode perhitungan itu adalah: (1) metode hitung bakteri, metode ini dapat dikerjakan tergantung dari jumlah bakteri yang hidup dengan aktifitas metabolisme (a) angka lempengan total, (b) pengenceran, Most Probable Number (MPN), (c) aktifitas metabolik. (2) Metode total bakteri hidup dan bakteri mati meliputi (a) berat kering bakteri, (b) kekeruhan, berdasarkan jumlah sinar yang diserap pada panjang gelombang tertentu, (c) hitung partikel elektronik, (d) hitung dengan mikroskop langsung, (e) Volume sel. Dari sejumlah metode di atas beberapa saja yang sering digunakan untuk pemeriksaan rutin yaitu; (1) angka lempeng total Pour Plate digunakan untuk menghitung bakteri dengan ketentuan yaitu (a) satu koloni bakteri dihitung satu sel bakteri hidup, (b) satu sel hidup dari sampel akan mampu membentuk koloni bakteri dalam lempeng petri dish, (c) dihitung jumlah koloni antar 30-300 koloni. Apabila kurang maka dihitung jumlah koloni yang ada, sedang apabila lebih dari 300 maka perlu dilakukan pengenceran. (2) penghitungan bakteri dengan bakteri Spread Plate, prinsip hitung bakteri dengan metode ini adalah meratakan bakteri yang terdapat di dalam sampel dengan volume tertentu di atas permukaan media yang sesuai. (3) Most Probable Number (MPN), adalah perhitungan bakteri dengan cara menggunakan variasi jumlah tabung yang sudah ada di dalam standard . Slide spesial-counting Chambers sebagaimana penghitung bakteri Petroff-Hausser juga digunakan untuk membuat perhitungan langsung. Perhitungan bakteri ditempatkan pada sebuah jalur ruangan, dimensi dari yang kita tahu, dan dibungkus dengan yang kecil. Pengujian dapat di buat dengan lebih banyak kepuasan dengan lapangan-gelap atau fase mikroskopis, jika sel tidak ditandai dan karena itu tidak terlalu mencolok oleh pengujian terang-lapang. Sejak counting cahmber diputuskan mati di dalam area yang pasti dan sejak kedalaman dari perhitungan pada ruangan diperhitungkan di ketahui, berarti bahwa di atas volume lain daerah yang diatus dapat dijumlahkan. Semuanya adalah dibutuhkan, oleh karena itu, apakah

dijumlahkan nomor dari organisme di beberapa area, rata-rata mendapatkan bilangan untuk menghitung per area, dan juga mengalikan rata-rata ini oleh sebuah faktor yang tepat memasukkan penjumlahan ke nomor bakteri per milimeter. c. Kultur Mikroba Saat bakteri di inokulasi kedalam sebuah medium dan di inkubasi secukupnya, kumpulan sel menjadi tak terlihat. Bakteri ataupun mikroorganisme lainnya tumbuh di sebuah medium laboratorium yang berhubungan dengan mengkultur. Spesies yang berbeda dari pertumbuhan bakteri pada media beberapa macam media yang sama lebih terlihat berbeda; jadi diketahui dari penampilan, atau ciri khas kultur, dari sebuah species sangat berguna untuk pengenalan tipe yang pasti dari bakeri dan dapat uga disediakan sebagai bantuan dalam mengidentifikasi spesies. Bagaimanapun bakteri harus didapatkan sebuah dari kultur murni sebelum ciri khas kultur atau pada tempat lain dari sebuah spesies yang dapat ditentukan . Untuk mempelajari sifat-sifat dari masing-masing mikroba termasuk sifat pertumbuhan, morfologi dan sifat fisiologinya, masingmasing mikroba tersebut harus dipisahkan satu dengan yang lainnya, sehingga terbentuk kultur murni yaitu suatu biakan yang terdiri dari sel-sek dari satu spesies atau satu galur mikroba, dengan cara menggoreskan kultur ke medium padat. Ada beberapa cara untuk menggoreskan kultur pada agar cawan yaitu; (1) Goresan Langsung, (2) Goresan kuadran, (3) Goresan radian. Koloni yang tumbuh pada agar cawan dapat dibedakan dalam besarnya, warna, penampakan apakah keruh atau bening, bentuk penyebarannya, bentuk kemunculannya di atas agar dan bentuk permukaan. Agar tumbuh suatu organisme membutuhkan seluruh elemen dalam bahan-bahan organiknya dan komlpemen ion-ion yang dibutuhkan untuk energi dan katalisis. Disamping itu harus ada sumber energi untuk memantapkan proton motive force dan untuk memungkinkan sintesis makromolekul. Mikroorganisme sangat beragam kebutuhan nutrisi dan sember energi metabolismenya .

BAB III KEGIATAN PRAKTIKUM


A. Pengenalan peralatan laboratorium Peralatan dasar yang harus dimiliki oleh suatua labororatorium antara lain berupa alat ukur, (thermometer dll) dan alat penunjang (oven, incubator dll). Peralatan yang harus dimiliki suatu laboratorium antara lain : peralatan gelas seperti labu ukur, cawan petri (petridish),tabung reaksi, tabung ulir, gelas ukur, beaker glass, botol pengencer, pipet botol untuk sampel, dan erlenmeyer. Peralatan penunjang lain yang harus dimiliki oleh laboratorium adalah timbangan,waterbath, incubator, mikroskop, laboratory blender, stomacher, autoclave, oven, freezer dan refrigerator. Laminar air flow (LAF), water distilling, lemari asam dan vortex mixer. Kegunaan masing-masing alat tersebut adalah : 1. Timbangan

Timbangan dilaboratorium mikrobiologi sebaiknya dilengkapi dengan dua macam timbangan yang memiliki kapasitas berbeda. Contohnya timbangan memiliki kapasitas 200 gram dengan ketelitian 0,0001 gram dan yang lain dengan kapasitasnuya 100-200 gram dengan ketelitian 0,1 gram. 2. Waterbath

Water bath adalah suatu alat yang berfungsi untuk menciptakan suhu konstan dan digunakan untuk inkubasi pada analisi mikrobiologi. 3. Inkubator

Inkubator memiliki fungsi sama dengan waterbath yaitu sebagai alat inkubasi pada anlisis mikrobiologi dan berfungsi menciptakan suhu stabil dan konstan. 4. Bag mixer

Bag mixer adalah alat yang digunakan untuk melunakkan zat atau mlenghomogenkan sample. 5. Autoclave

Autoclave merupakan alat sterelisasi menggunakan sistem pemanasan lembab. Pada autoclave suhu dapat mencapai 121oC pada tekanan 15psi.
sterelisasi dengan autoclave dilakukan pada pembuatan media dan larutan.

6. Oven

Berfungsi untuk sterelisasi peralatan gelas dengan pemanasan kering yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Oven juga dapat digunakan untuk analisa kadar air, preparasi sample untuk penentuan kadar lemak dan mengeringkan peralatan gelas yang telah digunakan. 7. Laminair Air Flow (LAF)

Dalam melakukan pengujian dibutuhkan tempat yang steril maka digunakan laminan air flow. 8. Water distilling

Dalam pembuatan media maupun larutan kimia dibutuhkan aquades dalam jumlah yang banyak, karena itu lebih efesien dibutuhkan adanya alat pengolah air kran menjadi distilling water atau aquades.

9. Colony counter

Alat ini berfungsi untuk menghitung jumlah bakteri. 10. Magnetic stir

Berfungsi untuk menghomogenkan larutan atau media.


11. cooling inkubator

Alat ini berfungsi untuk menyimpan biakan murni. 12. Lampu bunsen berbahan bakar spirtus

Lampu bunsen berfungsi untuk memanaskan media maupun digunakan untuk membakar jarun ose.

13. jarum ose

Jarum ose digunakan untuk mengambil biakan bakteri / koloni tersangka, atau digunakan untuk menanam bakteri ke petri dish maupun media lain. 14. Petri dish

Petri disah digunakan untuk tempat pertumbuhan bakteri pada media pertumbuhan bakteri / agar 15. Erlenmeyer

Digunakan sebagai tempat sampel/ media yang akan di uji. 16. Gelas ukur

Sebagai media untuk mengukur sampel ataupun media yang lain.

17. tabung durham

Digunakan dalam uji e.coli maupun coliform, sebagai indikator adanya gas maupun tidak dalam tabung reaksi.

18. Finnipet

Sama fungsinya dengan pipet, digunakan untuk mengambil larutan dengan jumlah tertentu, tergantung ukuran. 19. Pipet ukur

Fungsinya sama dengan finnipet, mengambil media dengan ukuran tertentu. B. Pengujian mikrobiologi penentuan Angka Lempeng Total (ALT) pada sampel air sungai Prinsip Pengujian Angka Lempeng Total dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, metode cawan agar tuang /pour plate yaitu dengan menanamkan contoh kedalam cawan petri terlebih dahulu kemudian ditambahkan media agar. Kedua, meytode cawan agar sebar/spread plate yaitu dengan menuangkan terlebih dahulu media agar kedalam cawan petri kemudian contoh diratakan pada permukaan agar dengan menggunakan batang gelas bengkok.

Peralatan Timbangan dengan ketelitian 0,1 g Autoclave Inkubator 35oC 10C Cawan petri 15 mm x 90 mm Erlenmeyer 500 ml 1 buah Tabung reaksi 4 buah Magnet stir Finnipet Pipet ukuran 10 ml Gelas ukur Colony counter Bahan 3 tablet BFP LTB (Lauryl Tryptose Broth) BGLB ( Briliant Green Lactose Bile ) EC Aquades Plate Count Agar Sampel air sungai Perhitungan bahan-bahan Untuk 3 tablet BFP dilarutkan dalam 300 ml aquades PCA = 17,5 : 1000 x 150 = 2, 625 gr Cara kerja 1. Persiapan alat dan bahan. 2. Mengukur sebanyak 300 ml aquades dengan gelas ukur dan dimasukkan dalam erlenmeyer yang telah berisi 3 tablet erlenmeyer, homogenkan dalam magnetic stir larutan tersebut. 3. Untuk media PCA tetap pada media erlenmeyer pada ujung erlenmeyer di tutup dengan kapas dan kertas kemudian diikat dengan karet dan diberi kode PCA. 4. Media BFP yang telag dilarutkan sebanyak 300ml, sebanyak 225ml dipindahkan dalam erlenmeyer dan sebanyak 45ml kedalam 5 tabung reaksi masing-masing diisi 9 ml. Untuk BFP 225ml maupun 9ml pada masing-masing tabung reaksi dan erlenmeyer ditutup dengan kapas dan ditutup dengan kertas kemudian ikat dengan karet. 5. Sterelisasi semua bahan dalam autoclave pada suhu 121C 10C pada tekanan 1 atm kurang lebih selama 1,5 jam. 6. Media BFP berfungsi sebagai media pengencer.

7. Keluarkan media dari autoclave dan biarkan dingin 8. Ambil 1 ml larutan 10-1 dengan pipet steril dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml BFP, pengenceran ini disebut pengenceran 10-2 . ambil 1 ml homogenat 10-2 dan dimasukkan dalam 9ml BFP untuk mendapatkan pengenceran 10-3, pada setiap pengenceran dilakukan pengocokkan sebanyak 25kali. Selanjutnya lakukan hal yang sama untuk pengenceran 10-4-10-5. 9. Menyiapkan media PCA dan dituangkan dalam petridish, pada media PCA tambahkan dengan ATTC, ATTC berfungsi sebagai pewarnaan koloni. 10. Tuangkan media PCA pada petridsh sebanyak 15ml atau sampai semua bagian PCA menutupi permukaan petri dish. 11. Pindahkan mdia pengenceran 10-2 sebanyak 1ml kedalam petri dish secara duplo, beri kode II 2 dan II 2A 12. lakukan hal yang sama untuk media pengenceran 10-3-10-5, kode (II3,II3A,II4,II4A,II5,II5A) dan sebagai control siapkan 1 petri dish dan masukkan 1ml BFP kedalamnya sebagai kontrol. 13. Inkubasi petri dish pada inkubator dengan suhu 35oC 1 0C 48 jam 2 jam. 14. Setelah diinkubasi 48 jam 2 jam, keluarkan dari inkubator kemudian hitung jumlah bakteri pada colony counter.

9ml bfp +1ml 10-1 = 10-2

1ml 10-2

PCA, II 2

PCA II 2A

o Hasil pengamatan pada colony counter KODE SAMPEL HASIL HITUNG II 2 60 II 2A 64 II 3 3 II 3A II 4 25 2 II 4A 1 II 5 2 II 5A 6 C 2

o Perhitungan koloni pada petri dish : Cawan petri yang mengandung 25 koloni- 250 koloni dan bebas spreader itulah cawan petri yang dihitung. Rumus : C N= [ (1 x n1) + ( 0,1 x n2) ] x d N = jumlah kolini produk ( per ml atau per gr) C = jumlah koloni pada semua cawan yang dihitung n1 = jumlah cawan pada pengenceran pertama yang dihitung n2 = jumlah cawan pada pengenceran kedua yang dihitung d = pengenceran pertama yang dihitung

pengenceran :

1: 100 60 dan 64 (60+64+25)

1: 1000 25

N= [(1x2)+ (0,1x1) ] 10-2 N= 70,95 x 102 N= 7100 / ml Jadi perkiraan jumlah koloni ALT pada air sungai sebanyak 7100/ml

C C Penentuan Coliform dan Esherchia coli pada sampel air sungai Alat Timbangan dengan ketelitian 0,1 g Autoclave Inkubator 35oC Cawan petri 15 mm x 90 mm Erlenmeyer 300 ml 4 buah

Erlenmeyer 500 ml 1 buah Tabung reaksi 27 buah Tabung durham 27 buah Magnet stir Finnipet Jarum ose Lampu bunsen dengan bahan bakar spirtus Pipet ukur 10 ml Gelas ukur Tabung reaksi sedang 5 buah Kapas Bahan 3 tablet BFP LTB (Lauryl Tryptose Broth) BGLB ( Briliant Green Lactose Bile ) EC LEMB Aquades Sampel air sungai Perhitungan bahan Untuk 3 tablet BFP dilarutkan dalam 300 ml aquades Untuk LTB = 35,6 : 1000 x 90 = 3,204 gr BGLB = 40 : 1000 x 90 = 3,6 gr EC = 37 : 1000 x 90 = 3,3 gr Pembuatan media 1) Persiapan alat dan bahan. 2) Mengukur sebanyak 300 ml aquades dengan gelas ukur dan dimasukkan dalam erlenmeyer yang telah berisi 3 tablet erlenmeyer, homogenkan dalam magnetic stir larutan tersebut. 3) Media LTB,BGLB dan EC larutkan pada 90 ml aquades. Setelah masing-masing ketiga media tersebut homogen, pindahkan masing-masing media kedalam 9 tabung reaksi yang berisi tabung durham sebanyak 9 ml untuk tiap tabung reaksi, sehingga ada 9 tabung reaksi BGLB, 9 tabung reaksi EC dan 9 tabung reaksi LTB. 4) Memberikan kode untuk masing-masing tabung sesuai dengan media, jika BGLG maka beri kode BGLB1-BGLB9, EC1-EC9, LTB1-9. Tutup semua ujung tabung reaksi dengan kapas, kemudian masing-masing media dibagi menjadi 2 bagian, 1 kelompok terdiri dari 4 tabung dan 1 bagian terdiri dari 5

5)

6) 7) 8)

tabubg. Untuk masing-masing bagian ikat jadi 1 dan ditutup dengan kertas dan diikat dengan karet. Media BFP yang telag dilarutkan sebanyak 300ml, sebanyak 225ml dipindahkan dalam erlenmeyer dan sebanyak 45ml kedalam 5 tabung reaksi masing-masing diisi 9 ml. Untuk BFP 225ml maupun 9ml pada masing-masing tabung reaksi dan erlenmeyer ditutup dengan kapas dan ditutup dengan kertas kemudian ikat dengan karet. Sterelisasi semua bahan dalam autoclave pada suhu 121C pada tekanan 1 atm kurang lebih selama 1,5 jam. Media BFP berfungsi sebagai media pengencer, sedangkan EC dan BGLB sebagai media penumbuh bakteri. Keluarkan media dari autoclave dan biarkan dingin.

Uji Pendugaan Coliform a) Menyiapkan media BFP, LTB dan sampel air sungai b) Mengencerkan 225ml BFP dengan sampel air sungai dengan perbandingan air sungai dan BFP adalah 1:9 c) Untuk pengenceran 225ml BFP + 25 ml air sungai disebut pengenceran 10-1. d) Ambil 1 ml larutan 10-1 dengan pipet steril dan dimasukkan dalam tabung reaksi yang berisi 9 ml BFP, pengenceran ini disebut pengenceran 10-2 . ambil 1 ml homogenat 10-2 dan dimasukkan dalam 9ml BFP untuk mendapatkan pengenceran 10-3, pada setiap pengenceran dilakukan pengocokkan sebanyak 25kali e) Pindahkan dengan menggunakan pipet steril, sebanyak 1ml larutan dari setiap pengenceran 10-1 sampai pengenceran 10-3 kedalam 3 seri tabung LTB yang berisi tabung durham, beri kode untuk pengenceran 10-1 dengan -1a,-1b,-1c untuk 10-2 beri kode -2a,-2b,-2c dan untuk pengenceran 10-3 beri kode -3a,3b,-3c. f) Inkubasikan tabung-tabung tersebut selama 48 jam 2 jam pada suhu 35oC 1oC. Perhatikan gas yang terbentuk pada masing-masing tabung

9ml LTB

10-1

@ 1ml

o Hasil pengamatan setelah diinkubasi selama 48 jam 2 jam : Kode TR LTB -1a -1b -1c -2a -2b -2c -3c -3b -3c Hasil pengamatan Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media jernih dan tidak terbentuk gas ( - ) Media jernih dan tidak terbentuk gas ( - ) Media jernih dan tidak terbentuk gas ( - ) Untuk tabung tabung yang positif lanjut ke uji penegasan Coliform.

Uji penegasan coliform a) Siapkan tabung tabung LTB yang positif, b) Siapkam media BGLB yang berisi tabung durham. c) Inokulasikan media LTB yang positif kedalam media BGLB dengan menggunakan jarum ose. d) Cara menginokulasikannya dengan, membakar jarun ose sampai ujungnya terbakar pada lampu bunsen, kemudian dinginkan dan ambil koloni tersangka pada LTB dan msukkan pada media BGLB. Untuk setiap tabung lakukan hal yang sama dengan membakar jarum ose. Beri kode untuk tabung BGLB dengan kode yang sama -1a,-1b,-1c,-2a,-2b,-2c. e) Inkubasi kan tabung-tabung BGLB pada inkubator selama 48 jam 2jam pada suhu 35oC 1oC.

f) Amati tabung-tabung BGLB yang terbentuk gas dan hitung jumlah coliform dengan menentukan nilai Angka Paling Memungkinkan (APM) berdasarkan jumlah tabung-tabung yang positif dengan menggunakan APM, nyatakan nilainya sebagai APM/g coliform.

LTB -1a Pindah 1ml

BG LB -1a

o Hasil pengamatan pada tabung-tabung BGLB setelah diinkubasi selama 2hari : Kode -1a -1b -1c -2a -2b -2c Hasil pengamatan Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + )

o Dengan metode APM maka dapat ditentukan jumlah coliform : -1a -1b -1c 3 -2a -2b -2c 3 -3a -3b 0 -3c

3 0 = 240 APM/gr ( dilihat pada indeks APM dengan tingkat kepercayaan 95% untuk berbagai kombinasi hasil positif dari 3 seri tabung pada pengenceran 10-1,10-2,10-3 )

Jadi nilai coliform pada sampel air sungai adalah 240 APM/gr.

Uji pendugaan E. Coli a) Siapkan media EC broth b) Siapkan tabung-tabung LTB yang positif kemudian inokulasikan dalam media EC broth dengan menggunakan jarum ose pada laminair air agar semuanya steril. c) Cara menginokulasikannya dengan menbakar ujung ose sampai keluar bara dengan lampu bunsen kemudian dinginkan dan ambil koloni tersangka dengan jarum ose dan pindahkan pada media EC. d) Berikan kode yang sama untuk tabung reaksi yang sama(-1a -1b -1c -2a -2b -2c) e) Inkubasikan tabung-tabung EC broth pada water bath sirkulasi selama 48 jam 2 jam pada suhu 35oC 10C. Waterbath harus dalam keadaan bersih, air didalamnya harus lebih tinggi dari tinggi cairan yang ada dalam tabung yang akan diinkubasi. f) Setelah diinkubasi selama 48 jam 2 jam lihat hasil nya

LTB -1a

Ambil 1ml

EC -1a

o Hasil pengamatan : Kode -1a Hasil pengamatan Media keruh dan terbentuk gas ( + )

-1b -1c -2a -2b -2c

Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Untuk tabung-tabung EC yang positif lanjutkan ke uji selanjutnya yaitu uji penegasan E. Coli. Uji penegasan E. Coli a) Sebelum melakukan uji penegasan E. Coli,siapkan media LEMB dan PCA dengan cara mengambil serbuk LEMB sebanyak 3,75gr dilarutkan dalam 100ml aquadesdan 1,05gr PCA dilarutkan dalam 60ml aquades . Sterelisasi LEMB dan PCA pada autoclave pada suhu 121oC dan tekanan 1 atm. Setelah LEMB diambil dari autoclave, tuang pada petri dish 15 ml sampai seluruh permukaan petri dish sampai permukaan tertutup merata. Tunggu hingga LEMB agar dingin.untuk PCA yang telah dituang dalam tabung reaksi masing-masing berisi 9ml penempatan ditempatkan miring karena PCA disin berfungsi sebagai media agar. b) Jika LEMB agar sudah dingin goreskan koloni tersangka dengan mengambil dari media EC dengan jarum ose dan goreskan pada LEMBagar secara zigzag. c) Berikan kode untuk masing-masimg petri dish sesuai dengan tabung EC, untuk -1a beri kode AS II -1 a, dan seterusnya sampai -2c dengan kode AS II -2c. d) Inkubasikan LEMB pada inkubator selama 24 jam 2 jam pada suhu 35oC 10C. e) Koloni Escherichia coli terduga memberikan ciri yang khas yaitu hitam pada bagian tengah dengan atau tanpa hijau metalik. f) Amati patri dish yang positif kemudian inokulasikan pada media PCA miring.

AS II -1a

Tanam ke LEMB

LEMB AS II -1a

o Hasil pengamatan : Kode AS II -1a AS II-1b AS II-1c AS II -2a AS II -2b AS II -2c Hasil pengamatan Koloni hitam tanpa kilat logam ( - ) Koloni hitam dengan kilat logam warna hijau metalik (+) Koloni hitam dengan kilat logam warna hijau metalik (+) Koloni hitam dengan kilat logam warna hijau metalik (+) Koloni hitam dengan kilat logam warna hijau metalik (+) Koloni hitam tanpa kilat logam ( - ) g) Untuk media LEMB yang positif ditanam pada media PCA miring, yang positif AS II -1b,AS II -1c, AS II -2a, AS II -2c. h) Ambil lebih dari satu koloni Escherichia coli dari masing-masing cawan LEMB dan goreskan ke media PCA miring dengan menggunakan jarun ose tanpa kait,goreskan koloni tersangka pada media PCA miring dengan jarum ose dengan cara di tarik secara zig zag dari ujung sampai pangkal. i) Inkubasi PCA miring tersebut pada inkubator selama 24 jam 2 jam pada suhu 35oC 10C. j) Sebelumnya berikan kode yang sama untuk tabung-tabung PCA miring berdasarkan petri dish yang positif. k) Selanjutnya lakukan uji bio kimia.

LEMB AS II -1b

Goreskan koloni ke PCA miring

PCA AS II -1b

Uji biokimia Persiapan alat Timbangan dengan ketelitian 0,1 gr Tabung reaksi 20 buah Tabung durham 4 buah Rak tabung reaksi Jarum ose Lampu bunsen dengan bahan bakar spirtus Autoclave Inkubator Kompor listrik Magnet stir Erlenmeyer Finnipet Pipet ukur Bahan TB Simon citrat MRVP LTB Methyl red Eosin Kreatin Larutan KOH 40% Pereaksi kovacs Alpha naptol Aquades Perhitungan bahan Simon citrat : 23/1000 x 20 ml = 0,46 gr LTB : 35,6/1000 x 110 ml = 3,92 gr MRVP : 17/1000 x 20 ml = 0,34 gr Persiapan media 1. Siapkan alat dan bahan 2. Timbang serbuk simon citrat, LTB, TB dan MRVP sesuai dengan kebutuhan dan larutkan dengan aquades 3. Untuk media simon citrat, homogenkan dengan magnet stir dan panaskan pada kompor listrik.

4. Media-media LTB, MRVP, TB dan simon citrat yang sudah dilarutkan dengan aquades pindahkan dalam tabung reaksi. 5. untuk LTB, siapkan 4 tabung reaksi yang didalamnya telah diisi tabung durham, isi tiap tabung reaksi dengan LTB sebanyak 10 ml, buat kode untuk ke 4 tabung reaksi AS II -1b , AS II -1c, AS II -2a, AS II -2b. 6. untuk TB, MRVP, dan simon sitrat masukkan masing-masing pada 4 tabung reaksi masing-masing tabung diisi 5 ml. Beri kode AS II -1b , AS II -1c, AS II -2a, AS II -2b. 7. kelompokkan tabung-tabung dengan kode yang sama. 8. Semua media siap untuk disterelisasi pada autoclave, siapkan pula 4 tabung reaksi kosong untuk disterelisasi. 9. sterelisasi pada autuclave pada suhu 121 oC dan tekanan 1 atm. Produksi indol 1. Siapkan media TB, PCA miring yang telah ditanami E.coli 2. Inokulasikan koloni pada PCA miring ke dalam Tryptone Broth dengan menggunakan jarum ose, pindahkan 4 PCA ke dalam 4 TB. Berikan kode yang sama untuk ke 4 tabung sesuai nama kode. 3. inkubasikan selama 24 jam 2 jam pada suhu 350C 10C. 4. Setelah diinkubasi selama 1 hari, ambil ke 4 tabung reaksi, tambahkan pada tiap-tiap tabung dengan 0,2 0,3 ml pereaksi kovacs. 5. amati hasilnya, reaksi positif jika terbentuk cincin merah pada lapisan bagian atas media dan negatif bila terbentuk cincin warna kuning. PCA AS II-1b
TB AS II -1b

INOKULASIKAN

o Hasil pengamatan : Kode AS II -1b AS II -1c Hasil setelah penambahan pereaksi kovacs Terbentuk cincin merah pada lapisan bagian atas media ( + ) Terbentuk cincin kuning pada lapisan bagian atas media ( - )

AS II -2a AS II -2b

Terbentuk cincin merah pada lapisan bagian atas media ( + ) Terbentuk cincin merah pada lapisan bagian atas media ( + )

Uji Voges proskauer (VP) 1. Siapkan media PCA miring yang telah ditumbuhi koloni E.coli dan 4 tabung reaksi steril 2. Siapkan media MRVP broth sebanyak 4 tabung dan telah disterelisasi 3. inokulasikan 1 ose dari PCA miring kedalam MRVP broth. 4. inkubasi pada inkubator selama 48 jam 2 jam pada suhu 350C 10C. 5. Setelah diinkubasi , pindahkan sebanyak 1 ml dari setiap MRVP yang tumbuh ketabung reaksi steril dan tambahkan 0,6 ml larutan alpha naphtol dan 0,2 ml KOH, kocok dan tambahkan kristal kreatin untuk mempercepat reaksi. 6. kocok kembali dan diamkan selama 2 jam, liat hasil nya 7. reaksi positif jika terbentuk warna muda eosin sampai merah muda delima. PCA II -1b

Inokulasikan ke MRVP

MRVP AS II -1b

o Hasil pengamatan : Kode AS II -1b AS II -1c As II -2a AS II -2b Hasil pengamatan Warna media berubah menjadi coklat muda ( -) Warna media berubah menjadi coklat muda ( -) Warna media berubah menjadi coklat muda ( -) Warna media berubah menjadi coklat muda ( -)

Catatan : jika reaksi positif warna berubah menjadi warna merah eosin sampai merah delima

jika reaksi ( + ) diduga dalam sampel tersebut tidak terdapat E.Coli jika reaksi ( - ) diduga dalam sampel tersebut terkandung E.coli Uji methyl red 1. Media PCA miring yang telah ditumbuhi koloni E.coli 2. Inkubasikan kembali MRVP yang telah digunakan dalam uji VP, inkubasikan selama 48 jam 2jam pada suhu 350C 10C. 3. Ambil media MRVP yang telah diinkubasi 4. Tambahkan 5 tetes methyl red pada setiap MRVP broth 5. Reaksi positif jika terbentuk warna merah dan negatif jika terbentuk warna merah . Dari uji VP inokulasikan kembali sisa media, dan inkubasikan selama 48 jam 2 jam pada suhu 350C 1oC dalam inkubator MRVP AS II -1b

Hasil pengamatan : kode AS II -1b AS II -1c AS II -2a AS II -2b Uji citrat 1. siapkan media PCA miring dan media simon citrat 2. Inokulasikan setiap tabung PCA miring kedalam simon citrat dengan cara menganbil koloni dari PCA dan digoreskan pada media citrat. 3. inkubasikan selama 96 jam 2 jam pada suhu 35oC 10C dalam inkubator. 4. amati hasilnya setelah 4 hari Hasil Warna berubah menjadi kuning ( - ) Warna berubah menjadi kuning ( - ) Warna berubah menjadi kuning ( - ) Warna berubah menjadi merah ( + )

5. Reaksi positif jika media berubah menjadi biru dan media negatif jika tidak ada pertumbuhan dan media tetap berwarna hijau.

PCA AS II -1b

Simon citrat AS II-1b

inokulasikan

o Hasil pengamatan : Kode AS II -1b AS II -1c AS II -2a AS II -2b Hasil pengamatan Media agar berubah menjadi warna biru ( + ) Media agar berubah menjadi warna biru ( + ) Media agar berubah menjadi warna biru ( + ) Media agar berubah menjadi warna merah ( - )

Produksi gas dari laktosa 1. Siapkan media LTB dan PCA miring 2. Inokulasikan dari tiap PCA miring kedalam tabuung LTB dengan jarum ose 3. Inkubasi selama 48 jam 2 jam pada suhu 350C 10C. 4. Amati reaksi yang terjadi 5. Reaksi positif jika media keruh dan timbul gas

PCA AS II -1b

LTB AS II -1b

inokulasikan

o Hasil pengamatan : Kode AS II -1b AS II -1c AS II -2a AS II -2b Hasil pengamatan Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + ) Media keruh dan terbentuk gas ( + )

o Uji biokimi reaksinya meliputu IMVC ( Indol,Methyl red, Vp, Citrat ) : IMVC A -1 -2 -3 + + + + + IMVC B + + IMVC C + -

+ -

Dalam perhitungan jumlah E. Coli sebagai kontrol + menggunakan patokan ++-- dan -+- Berdasarkan tabel diatas maka dapat ditentukan nilai E. Coli nya, yaitu : a. A= 0 B= 1 C= 0, b. Kombinasinya adalah 0 1 0 maka jumlah E. Coli pada ssampel air sungai tersebut adalah 3,0 APM/gr. Jumlah E. Coli dalam sampel air sungai adalah 3,0 APM/gr

BAB IV PEMBAHASAN
Praktikum mikrobiologi kali ini bertujuan untuk mengetahui metode perhitungan mikroorganisme. Pada praktikum ini dilakukan dua macam percobaan, yaitu melakukan penghitungan mikroorganisme dengan metode penentuan Angka Lempeng Total( ALT ) dan Metode MPN (Most Probable Number). Pada metode Angka Lempeng Total apabila ada mikroorganisme yang masih hidup / sampel yang bisa ditumbuhkan pada medium yang sesuai, maka sel tersebut akan berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung dengan mata / bisa menggunakan colony counter pada media yang digunakan dan setelah dilakukan inkubasi pada suhu dan waktu tertentu. Pada metode MPN digunakan medium cair dengan tabung-tabung reaksi dan tabung durham. Perhitungannya dilakukan berdasarkan atas jumlah tabung reaksi yang positif yaitu yang ditumbuhi oleh mikroorganisme setelah dilakukan inkubasi pada suhu dan waktu tertentu.

Pengamatan terhadap tabung yang positif dapat dilihat dan diamati dengan adanya perubahan warna dari medium dan terbentuknya gas dalam tabung durham yang diletakkan secara terbalik. Percobaan pertama yaitu menghitung koloni mikroorganisme dengan metode ALT (Angka Lempeng Total). Pertama-tama dibuat pengenceran sampel air sungai menjadi 10-1, 10-2, dan 10-3, 10-4dan 10-5. Perlu dilakukan pengenceran sebelum ditumbuhkan pada medium agar di dalam cawan petri, sehingga setelah inkubasi akan terbentuk koloni pada cawan tersebut dalam jumlah yang dapat dihitung, dimana jumlah yang terbaik antara 25 sampai 250 koloni. Selanjutnya sampel dimasukkan dalam sembilan buah cawan petri dan satu sebagai control.Pada percobaan Angka Lempeng Total dihasilkan bahwa nilai ALT pada sampel air sungai adalah 7100/ml. Percobaan kedua adalah penentuan coliform dan escherichia coli pada sampel air sungai. Dilakukan berbagai tahap percobaan, yaitu pendugaan coliform, penegasan coliform, pendugaan eshcerichia coli, penegasan eshcerechia coli dan dilanjut dengan uji bio kimia. Pada uji coliform didapat jumlah coliform sebanyak 240 APM/gr. Dan untuk penentuan jumlah coliform ditentukan dari uji IMVC. Maka dapat dilihat berapa jumlah E. Coli yang terkandung tersebut. Dari uji IMVC diatas didapatkan jumlah E.coli sebanyak 3,0 APM/gr.

BAB V SIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan di Laboratorium Pengujian dan Pengawasan Mutu Hasil Perikanan (LPPMHP) Pekalongan dengan menggunakan sampel air sungai didapatkan hasil bahwa : Perhitungan mikroorganisme dapat dilakukan dengan metode Angka Lempeng Total ( ALT ) dan metode MPN ( Most Probable Number ). Metode penentuan angka lempeng total ini digunakan untuk menentukan jumlah total mikroorganisma aerob dan anaerob (psikrofilik, mesofilik dan termoflik) pada produk perikanan. Metode MPN (Most Probable Number) untuk uji kualitas mikrobiologi air dalam praktikum digunakan kelompok Coliform sebagai indikator Langkah yang harus dilakukan dalam melakukan percobaan ini adalah melakukan pengenceran dan setelah itu ditambahkan dengan medium yang sesuai dan kemudian diinkubasikan. Setelah jangka waktu tertentu, diamati hasil pertumbuhan mikroba dan kemudian dihitung jumlah mikroorganisme dengan menggunakan metode-metode yang telah ditentukan.

Pada percobaan Angka Lempeng Total dihasilkan bahwa nilai ALT pada sampel air sungai adalah 7100/ml. Pada uji coliform didapat jumlah coliform sebanyak 240 APM/g sampel air sungai. Dari uji IMVC diatas didapatkan jumlah E.coli sebanyak 3,0 APM/gr. Karena kandungan E.coli dalam air sungai tersebut 3,0 APM/gr maka sumber air tersebut kualitas airnya DIRAGUKAN.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Mataram.Universitas Mataram Press Anonim, 2010. (diakses 1 juni 2011 ) Laporan Mikrobiologi Air. http://www.bloggersantai.com/2010/11/info-laporan-praktikummikrobiologi-air.html Anonim, 2010( diakses 1juni 2011). Mikrobiologi Air. http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/06/mikrobiologi-air/ Anonim, 2010. ( diakses 1 juni 2011) Mkrobiologi Akuatik. http://farmasiq.blogspot.com/ Anonim, 2010.( diakses 1 juni 2011). Laporan Praktikum Mikrobiologi. http://www.docstoc.com/docs/20815144/LAPORAN-PRAKTIKUMMIKROBIOLOGI-/ Anonim, 2011 ( diakses 1 juni 2011) Modul Praktikum Mikrobiologi. http://kuliah.ftsl.itb.ac.id/modul-praktikum-mikrobiologi/ Anonim, 2011 ( diakse 1 juni 2011) Laporan Praktikum Mikrobiologi Air. http://blogwalking.web.id/search/laporan-praktikum-mikrobiologi-air/ Dwidjoseputro. 2000. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Surabaya : Penerbit Djambatan. Hadioetomo, Ratna Siri, 1993, Mikrobiologi Dasar dalam Praktek, Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Peljcar, J michael, 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta : Universitas Indonesia Press. Wandi, Asep. 2010. ( diakses 1 juni 2011) Ilmu Penentuan Angka Lempeng Total. http://asepwandi.wordpress.com/ilmu-penentuan-angka-lempeng-total-alt/ W.Lay.Bibiana .1994.Analisis Mikroba di Laboratorium.jakarta:PT .Raja Grafindo Persada.