Anda di halaman 1dari 4

Pasca Peristiwa 17 Oktober 1952

Peristiwa 17 Oktober 1952 ini memiliki proses penyelesaian yang cukup panjang hingga
beberapa tahun ke depan dan selama beberapa waktu ini terdapat suasana yang saling menentang
antara yang pro dan yang anti gerakan 17 Oktober hingga terjadilah krisis politik besar yang
pertama, yang melibatkan tentara ke dalamnya. Peristiwa ini membuat perpecahan di kalangan
TNI-Angkatan Darat sendiri tidak dapat dihindarkan lagi. Kelompok pendukung gerakan 17
Oktober 1952 terdiri dari pimpinan TNI-Angkatan Darat dan sebagian besar panglima Tentara
dan Teritorium. Mereka adalah Mayor Jenderal T.B. Simatupang, Kolonel A.H. Nasution,
Letnan Kolonel Sutoko, Kolonel Alex Kawilarang, Kolonel M. Simbolon, Kolonel Bachrun,
Kolonel Gatot Subroto, Letnan Kolonel Taswinm dan para perwira StaI Umum Angkatan Darat
seperti Ketnan Kolonel S. Parman, Letnan Kolonel Soeprapto, dan Letnan Kolonel Azis Saleh.
Kelompok penentang adalah Kolonel Bambang Supeno, yang didukung oleh Letnan Kolonel
Sudirman, Letnan Kolonel Kretarto, Letnan Kolonel Warouw, dan Letnan Kolonel Sambas
Atmadinata. Juga ada penentang yang berdiri sendiri, yaitu Kolonel ZulkiIli Lubis yang
menggunakan aparat Biro InIormasi Angkatan Perang (BISAP).
1

Soekarno yang turut menentang adanya peristiwa 17 Oktober 1952 ini mengutus
Bambang Supeno dan kawan-kawan terdekatnya, Kolonel Suhud, Kolonel SUngkono dan
Kolonel Sapari, ke Jawa Timur untuk mengobarkan perasaan anti-Nasution dalam Divisi
Brawijaya karena divisi ini merupakan benteng kelompok perwira bekas PETA. Ketika pejabat
panglima divisi, Letnan Kolonel Dr. Suwondho pada tanggal 19 Oktober kembali dari Jakarta,
dia menghadapi oposisi yang kuat dari bawahan-bawahannya yang telah dihasut oleh utusan-
utusan Soekarno itu.
2
Melihat apa yang dilakukan oleh Soekarno dan antek-anteknya, Nasution
juga segera mengutus dua orang pengikutnya, Letkol S. Parman dan Letkol Suprapto ke Jawa
Timur dengan perintah untuk mengambil langkah-langkah yang dianggap perlu untuk
menyelesaikan krisis itu, tetapi mereka mendapati Divisi Brawijaya telah bersatu di bawah
pengaruh B. Supeno sehingga mereka terpaksa kembali ke Jakarta tanpa dapat mempengaruhi
situasi di Jawa Timur. Sudirman juga telah menggantikan kedudukan Suwondho yang dipecat
oleh Markas Besar Angkatan Darat dan tindakan Sudirman ini merupakan suatu pemberontakan
terang-terangan terhadap atasan mereka pada saat itu, yaitu A.H. Nasution. Tetapi, karena

1
Nugroho Notosussanto. Pefuang dan Prafurit. (Jakarta, 1984). Hal. 72
2
UlI Sundhaussen. Politik Militer Indonesia. 1945-1967. (Jakarta, 1988). Hal. 129
Presiden telah menghasut pemberontakan itu dan secara sembunyi-sembunyi terus
mendukungnya, maka Nasution tidak dapat berbuat apa-apa. Golongan anti-Nasution ini semakin
menyebar ke berbagai penjuru daerah dan akhirnya 15 Desember 1952, Wilopo menskors
Nasution, Soetoko, dan S. Parman, lalu pada tanggal 16 Desember 1962, Kolonel Bambang
Sugeng, seorang sekutu dan kawan dekat Kolonel Bambang Supeno, diangkat sebagai penjabat
Kepala StaI Angkatan Darat (KSAD).
Pengangkatan Bambang Sugeng tidak didasarkan atas senioritas dan merupakan
pengangkatan politis yang disponsori Soekarno, terpaksa disetujui kabinet yang saat itu memang
situasinya sedang kacau, merupakan satu awal yang buruk bagi seorang komandan baru dari
suatu angkatan bersenjata yang sedang dilanda perpecahan tajam, antara pendukung dan
penentang tindakan yang diambil pada tanggal 17 Oktober. Sultan Hamengkubuwono IX
mengundurkan diri dari jabatannya sebagai menteri pertahanan karena tidak sejalan dengan
Bambang Sugeng dan ia digantikan oleh Wilopo yang akhirnya terpaksa merangkap jabatan.
Parlemen memulai kembali sidang-sidang yang sebelumnya tertunda karena kisruhnya masalah
ini dan sejumlah undang-undang dalam bidang kemiliteran yang dulunya adalah rancangan dari
Sultan disetujui, contohnya seperti penghentian sebagian besar dari anggota tentara. Namun
rencana pembaruan Nasution untuk mengubah TNI menjadi tentara wajib militer ditolak sama
sekali. Sebagai gantinya, parlemen menyetujui UU untuk menadikan TNI tentara sukarela.
3

Kaum penentang 17 Oktober masih belum puas hanya dengan disetujuinya undang-undang yang
sesuai dengan keinginan mereka dan diskorsnya Nasution dengan sejumlah pengikutnya. Mereka
menuntut agar orang-orang itu diadili mahkamah militer dan menjelang April 1953 pemeriksaan
pengadilan mengenai peristiwa 17 Oktober pun dimulai namun akhirnya Nasution dan kawan-
kawan dibebaskan karena tidak ada tuduhan yang terbukti bisa memberatkan mereka untuk
benar-benar ditahan dan diadili.
4

Wilopo mendapat mosi tidak percaya dan akhirnya mengundurkan diri pada 2 Juli 1953
dan digantikan dengan kabinet Ali Sastroamidjojo. Peristiwa 17 Oktober ini memberi dukungan
kuat kepada pemerintah dalam usahanya mempersiapkan pemilihan umum karena diharapkan
setelah pemilihan umum akan terdapat ketenangan politik dan kestabilan pemerintahan.
Kesibukan kabinet Ali akan urusan pemilu dan hal-hal lainnya membuat penyelesaian peristiwa

3
Ibid. Hal. 133
4
Ibid. Hal. 136

17 Oktober 1952 semakin berlarut-larut. Kalangan Perwira Angkatan Darat dari dua kelompok
utama yang terlibat perselisihan di tahun 1952 merasa kecewa terhadap pemerintahan sistem
demokrasi parlementer ini. Seiring tumbuhnya rasa kekecewaan bersama maka terjembatani pula
jurang-jurang pertentangan-pertentangan di sekitar peristiwa 17 Oktober. Banyak perwira
Angkatan Darat merasa bahwa golongan militer masih diabaikan dalam soal pembagian dana di
masa pemerintahan Ali yang telah berkuasa sejak Juli 1953 ini. Para perwira itu lalu menggugat
kelemahan-kelemahan dan ketidakmampuan pemerintah, korupsi dan yang tidak kalah penting
juga adalah sikap pemerintah yang tidak mengacuhkan kepentingan golongan tentara.
5

Kesadaran, bahwa antagonisme antar-kelompok dalam tentara harus diatasi jika Angkatan Darat
tidak ingin tetap tak berdaya terhadap kesewenag-wenangan kaum politisi, telah menyebabkan
dimulainya suatu dialog antara kedua kelompok itu dalam pertengahan 1954.
Usaha mengutuhkan kembali perpecahan di kalangan angkatan darat itu kemudian
ditempuh dengancara musyawarah antara golongan pro 17 Oktober dan golongan anti 17
Oktober dalam pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 270 perwira di Yogyakarta yang
berlangsung dari tanggal 17-25 Februari 1955 dan pertemuan ini menghasilkan piagam persatuan
yang dikenal dengan piagam Yogya dan ditandatangani oleh Bambang Sugeng dalam suatu
upacara yang dihadiri oleh Soekarno, Hatta, Ali Sastroamidjojo, Iwa Kusumasumantri, dan
tokoh-tokoh politik lainnya.
6
Yang menarik dari konIerensi ini adalah ketidakhadiran Nasution
yang seolah ingin menunjukkan bahwa ia telah menjauhkan diri dari kedua kelompok dalam
Angkatan Darat dan ia menganggap dirinya sudah keluar untuk selama-lamanya dari dinas aktiI
dalam ketentaraan dan sekarang melihat dirinya hanya sebagai seorang ahli teori yang tidak
terlibat mengenai soal-soal kemiliteran.
7

Suatu perubahan dramatis terjadi ketika Bambang Sugeng menyampaikan permintaan
berhenti pada tanggal 2 Mei karena berdasarkan kabar, sudah sejak Oktober 1954, Kolonel Z.
Lubis, Kolonel Bambang Supeno, dan Kolonel Suhud mendesak Presiden agar memberhentikan
dia. Pemerintah kemudian menunjuk Bambang Utojo sebagai kepala staI Angkatan Darat yang
baru pada bulan Juni 1955. Hal ini membuat para perwira yang walaupun perselisihannya belum
sepenuhnya selesai bersatu-padu untuk menolak penunjukan tersebut dan hal ini berhasil juga
menjatuhkan kabinet Ali Sastroamidjojo I dan pemerintahan diganti dengan kabinet

5
Harould Crouch. Militer dan Politik di Indonesia. (Jakarta, 1999). Hal. 29
6
Wllopo 2omoo lemetlotoboo lottollottol Joo kelemobookelemoboooyo (!akarLa 1976) Pal 41
7
UlI Sundhaussen. Politik Militer Indonesia. 1945-1967. (Jakarta, 1988). Hal. 144
Burhanuddin. Kabinet Burhanuddin yang mendapat tugas untuk mengembalikan kepercayaan
Angkatan Darat kepada pemerintah segera menangani masalah pengangkatan KSAD yang baru,
lalu kabinet dan Angkatan Darat sepakat untuk memilih dari tiga calon yang diajukan oleh
Markas Besar Angkatan Darat, yaitu Kolonel M. Simbolon, Kolonel Z. Lubis dan Kolonel Gatot
Subroto. Berbagai alasan mebuat kabinet sulit menjatuhkan pilihan diantara ketiga calon tersebut
dan akhirnya muncul gagasan jika menginginkan seorang perwira yang berkemampuan tinggi
maka sebaiknya mereka memanggil kembali Nasution dan gagasan ini ternyata mendapat
dukungan yang luas. Soekarno dengan sudut pandangnya yang baru juga akhirnya menyadari
bahwa Nasution merupakan satu-satunya yang layak untuk memegang jabatan itu dan pada
tanggal 27 Oktober 1955 Kolonel A.H. Nasution ditunjuk kembali sebagai KSAD.
8

Nasution menganggap ini sebagai suatu hal yang sangat tidak terduga namun sekaligus
juga sangat menggoda, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Setelah dilantik menjadi
KSAD pada November 1955, Nasution berusaha memperbaiki rantai komando yang lemah
akibat peristiwa 17 Oktober 1952 serta reaksi terhadapnya, yang dinilai merusak disiplin militer
dengan mengadakan mutasi dan penggantian para pejabat dan panglima di lingkungan Angkatan
Darat. Sekembalinya Nasution ke dalam lingkungan Angkatan Darat maka pemerintah
beranggapan bahwa dengan itu, maka soal pro dan kontra peristiwa 17 Oktober 1952 telah
dikubur oleh Angkatan Darat sendiri walaupun setelah Nasution menjabat sebagai KSAD
kembali, ia masih harus menghadapi para kelompok oposisinya yang membentuk gerakan-
gerakan separatis di berbagai daerah.
9
Setelah berbagai pemberontakan bisa diselesaikan, di
tahun-tahun sesudah 1955, Nasution berhasil memimpin Angkatan Darat dalam perkembangan
politik yang cukup pesat.
10



8
Wllopo lt Pal 43
9
UlI Sundhaussen. lt Pal 73

10
Harould Crouch. Militer dan Politik di Indonesia. (Jakarta, 1999). Hal. 30