Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH OSPEK JURUSAN

EKO BUDIHARDJO

DAMAR NADI KAHAR 37799 KELOMPOK 9

Profile of Prof. Eko Budihardjo

Prof. Ir. Eko Budihardjo, MSc, lahir di Purbalingga dan memperoleh gelar insinyur Arsitek dari Fakultas Teknik Universitas Gajah MadaYogyakarta (1969). Gelar Master of Science in Town Planning diraihnya dari University of Wales Institute of Science and Technology, Inggris pada tahun 1978. Jabatan-jabatan yang pernah diembannya antara lain sebagai Kepala Biro Penelitian FT Undip (1978-1989). Ketua Jurusan Arsitektur FT Undip (1987-1989), Pembantu Dekan I FT Undip (1989-1992), Dekan Fakultas Teknik Undip (1992-1998), dan Rektor Undip (1998-2006). Dalam organisasi profesi menjabat Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Cabang Jawa Tengah (1987-1992) dan Ketua Ikatan hli Perencanaan (IAP) Cabang Jawa Tengah (1992-sekarang). Sebagai anggota dewan Habitat International Council (HIC) Mexico; Eastern Regional Organization on Planning and Housing (EAROPH) Malaysia dan International Federation for Housing and Planning (IFHP) Belanda. Sering sekali menyajikan makalah dalam berbagai pertemuan ilmiah di mancanegara. Tahun 1993 berkeliling Amerika Serikat mempelajari Konservasi Bangunan Kuno dan Lingkungan Bersejarah dan tahun 1994 ke Australia melakukan studi banding tentang urban management. Di sela-sela kesibukannya, masih sempat bertindak sebagai Direktur Lembaga Studi Pembangunan Daerah (LSPD), Penasihat Ahli Yayasan Bakti Karya (Yabaka), Anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jawa Tengah, Anggota Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Tengah, Presiden Rotary Club Semarang, dan Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah. Berbagai penghargaan telah diterimanya, antara lain Bhakti Upapradana dari Gubernur Jawa Tengah, Dosen Teladan dari Rektor Undip, Bintang Emas Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawi, dan penghargaan dengan pujian dari Ikatan Arsitek Indonesia.

Biodata
Jabatan:
1. Guru Besar Arsitektur dan Perkotaan Fakultas Teknik UNDIP 2. Ketua Badan Penyantun Dewan Kesenian Jawa Tengah 3. Ketua Pembina YPSDM Forum Rektor Indonesi 4. Ketua Ikatan Alumni Lemhanas (IKAL) Jawa Tengah 5. Ketua Dewan Pertimbangan Pembangunan Kota (DP2K) Semarang

Riwayat Pendidikan
1. Lemhanas, Kursus Reguler Angkatan XXVII, dengan predikat sebagi LULUSAN TERBAIK dan memperoleh penghargaan SEROJA WIBAWA NUGRAHA, 1994. 2. Pendidikan Pasca sarjana: Master of Science in Town Planning, University of Wales Institute of Science and Technology, Cardiff, Inggris 1976-1978 3. Pendidikan sarjana: Sarjana Arsitektur Fakultas Teknik UGM Yogyakrta, 1962-1969 4. Pendidikan Dasar dan Menengah SLTA: SMA Negeri II/B, Purwokerto, 1959-1962 SLTP: SMP Negeri II, Purwokerto, 1956-1959 SD/SR: SD Negeri II/B, Purwokerto, 1950-1956

Kursus-kursus:
1. Housing in Developing Countries, Institute for Housing Studies, Rotterdam, 1985 2. Research Management, Denver Research Institute, 1993 3. Intensive English Course, IKIP Yogyakarta, 1976 (Skor TOEFL 560)

Riwayat pekerjaan/jabatan structural


1. Rektor UniversitasDiponegoro, 1998-2006 (2 periode) 2. Dekan Fakultas Teknik Undip, 1992-1998 (2 periode) 3. Pembantu Dekan I, FT Undip, 1986-1989 4. Ketua Jurusan FT Undip, 1986-1989 5. Kepala Biro Penelitian FT Undip, 1978-1986 6. Tugas Belajar ke Inggris, 1976-1978 7. Kepala Biro Bangunan Undip, 1973-1976 8. Sekretaris Jurusan Arsitektur, FT Undip 1971-1973

Riwayat pekerjaan
1. Sebagai Ketua/Ketua Kehormatan/Direktur/Presiden/Pimpinan Umum/Wakil Ketua/Ketua Forum/Ketua Dewan a. Ketua Forum Keluarga Kalpataru Lestari (FOKKAL) 2007-sekarang b. Ketua Dewan Penasehat Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L), 2007sekarang c. Ketua Dewan Pertimbangan Ikatan Alumni Lemhanas Pusat, 2006-sekarang d. Ketua Dewan Pembina YPSDM Forum Rektor Indonesia, 2003-sekarang e. Ketua Ikatan Alumni Lemhanas Jawa TEngah, 2003-sekarang f. Ketua Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Regional II, 2005-sekarang g. Ketua Yayasan GRIS, 2001-sekarang h. Ketua Dewan Pembina, Dewan Harian Daerah 45 Jawa TEngah, 2000-sekarang i. Ketua Dewan Pakar Masyarakat Agrobisnis dan Agroindustri Indonesia, 1999sekarang j. Ketua Dewan Etik Local Legislative Watch Semarang, 1999-sekrang k. Ketua Dewan Penasehat Parliament Watch Indonesia (PARWI) Jateng, 1999sekarang l. Ketua Badan Pertimbangan, Dewan Riset Daerah Jawa Tengah, 1998-2002 m. Ketua Pakar ICMI Orwil Jawa Tengah, 1998-2001 n. Ketua Dewan Yayasan Sivitas Akademika, 1998-2006 o. Ketua Dewan Pembina Persatuan Sarjana Arsitektur Indonesia Pusat, 1996-2002 p. Direktur Eksekutif Lembaga Riset Konsultasi dan Pengembangan, 1996-sekarang q. Ketua Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), 1994-sekarang (4 periode) r. Ketua Dewan Penasehat Arsitektur dan Pembangunan Perkotaan, 1994-sekarang (3 periode) s. Direktur Environmental Protection, Rotary Club Semarang, 1993-sekarang t. Presiden Rotary Club Semarang, 1993-1994 u. Pemimpin Umum Koran Kampus Manunggal, 1992-1996 v. Ketua Kehormatan Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) cabang Jateng, 1990-1996 w. Pemimpin Redaksi Majalah Teknik, 1990-1992 x. Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) cabang Jawa Tengah, 1986-1990 y. Direktur Lembaga Studi Pembangunan Daerah, 1998-sekarang

2. Sebagai Anggota/anggota Dewan/Majelis/Forum


a. Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) 2008-sekarang b. Anggota Dewan Penyantun KONI Daerah Jawa Tengah 2002-sekarang c. Anggota Komnas Habitat, Jakarta, 2001-sekarang d. Anggota Dewan Penasehat Yayasan Economic Law and Global Studies Center (ELGSC), 2001-sekarang e. Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Jawa Tengah, 2006-sekarang f. Promotor, Co-promotor, external examiner (penguji eksternal) program Pasca Sarjana (S2) dan program doktor di UNDIP, UGM, IPB, UNHAS g. Anggota Senat Universitas Muhammadiyah Jakarta, 2000-sekarang h. Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Yogyakarta, 1998-sekarang i. Anggota Dewan Pertimbangan Seruling Mas Semarang, 1998-sekarang j. Anggota Majelis Kode Etik Ikatan Ahli Perencana (IAP) Pusat Jakarta, 1996-sekarang k. Anggota Pendiri Urban and Regional Development (URD) Jakarta, 1996-sekarang l. Anggota Pokja Sosial Budaya Lemhanas, 1995-sekarang m. Anggota Dewan Kehormatan Ilmiah Undip, 1995-1998 n. Anggota Dewan Riset Nasional, Jakarta 1994-1999 o. Anggota Dewan Pembina Ikatan Ahli Perencana (IAP) Pusat, Jakarta 1994-sekarang p. Anggota Forum Pakar, Dinas Tata Kota DKI Jakarta, 1993-1996 q. Anggota Dewan Pengawas RS Dr. Karyadi Semarang, 2001-2006 r. Anggota Majelis Arsitek, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Pusat Jakarta, 1992-1998

3. Sebagai Penasehat Paguyuban Putera-Puteri Guru Jawa Tengah, 2007 - sekarang


b. SOSKI Jawa Tengah, 2006-sekarang c. Asosiasi Konsultan Pembangunan Permukiman Indonesia (AKPI) cabang Jawa Tengah, 2001-sekarang d. Lembaga Visioner Indonesia (VISINDO), 2001-sekarang e. Yayasan Lembaga Konsumen Jasa Konstruksi Indonesia, 2001-sekarang f. Ahli Jurnal Lingkungan (Environmental Journal), 2000-sekarang g. Wayang Orang Ngesti Pandowo Semarang h. PGRI Jawa Tengah, 1999-sekarang i. Yayasan Tanah Air Semarang, 1998-sekarang j. Asosiasi Biro Reklame Semarang, 1996-sekarang k. Paguyuban Haji Ar-Raudhah Semarang, 1996-sekarang l. Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) cabang Jateng, 1994-sekarang m. Persatuan Insinyur Indonesia (PII) cabang Jateng, 1992-sekarang n. Yayasan Pendidikan Anak-Anak Cacat (YPAC) Semarang, 1998-2003 o. Yayasan bakti Karya (YABAKA) Semarang, 1986-sekarang

Keanggotaan Profesional dalam Badan Internasional


a. Member, Southeast Asia-Taiwan University President Forum, 2006-2007 b. Council member, Eastern Regional Organization on Planning Housing (EAROPH), Malaysia 1992-1997 c. Council member, Habitat International Coalition, Mexico, 1989-1994 d. Member, Research Board of Advisor American Biographycal Institute USA, 1995sekarang e. Member, National Trust of Historic Preservation USA f. Member, International Federation on Housing and Planning (IFHP) Netherlands, 1990-sekarang g. Member, International Association of University Presidents (IAUP) 2003-2006 h. Member, Association of Universities of Asia Pacifi (AUAP) 2003-2006

Penghargaan yang pernah diterima


a. 2006: Lentera Award dari Forum Wartawan Peduli Pendidikan Semarang (FORWARDS): Orang Terbeken di Semarang dari LSM Semarang b. 2004: Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun dari Presiden RI c. 2001: Penghargaan dari Walikota Semarang sebagai Pakar Peduli Kota Semarang d. 2000: Penghargaan sebagai Tokoh Pendidikan dan Kebudayaan dari Insan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Jateng e. 1999: Penghargaan sebagai Pembina Seni dari Mendikbud RI: Penghargaan sebagai Pendidik Berprestasi dari yayasan PWI Jateng f. 1998: Kalpataru sebagai Pembina Lingkungan dari Meneg Lingkungan Hidup RI g. 1997: Adhikarya Pariwisata dari Menparpostel RI h. 1996: Adhicipta Rekayasa dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) i. 1995: Bintang Emas Budaya dari Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa, Surakarta j. 1994: Seroja Wiwaha Nugraha dari Presiden RI: Satya Lencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI k. 1993: Man of the Year, dari Harian Suara Merdeka Semarang

l. 1992: Distinguished Leadership Award for Outstanding Achievement in Architecture Planning and Housing dari the American Biographical Institute, USA m. 1991: Penghargaan dengan Pujian dari Ikatan Arsitek Indonesian. 1989: Upanyasa Bhakti Upapradana dari Gubernur Jawa Tengaho. 1981: Dosen Teladan Universitas Diponegoro

Catatan lain
Memperoleh gelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) dari Mangkunegara IX, karena kiprah dalam kegiatan budaya dan pelestarian warisan bersejarah. 1. KOMPAS memasukkannya dalam kategori Cendikiawan Kampus dan Peneliti Lapangan sebagai salah seorang "Pribadi Pembuka Cakrawala" 2. Selain itu juga memperoleh penghargaan lain seperti "Citra Indonesia Award" (1999), Tokoh Cendikiawan Berprestasi (1995), dan semacamnya.

Penerbitan buku
2006: Bangun Pondasi Undip Menuju Universitas Riset, Penerbit Humas Undip : Sejumlah Masalah Permukiman Kota, Cetakan ke-5, Penerbit Alumni Bandung 2004: Gergeran Democrazy, Penerbit Suara Merdeka Semarang : Mengalir dengan Cinta, Penerbit Patriot Semarang : Arsitektur dan Kota di Indonesia, Cetakan ke-5, Penerbit Alumni Bandung 2000: Gayeng Semarang (bersama Prof. Satjipto Rahardjo dan Prof. DR. Abu Su'ud), penerbit Suara Merdeka Semarang 1999: Etika Keilmuan dan Hak atas Kekayaan Intelektual Badan, Penerbit Undip Semarang 1998: Kota yang Berkelanjutan, UI Press Jakarta, kemudian dilanjutkan Penerbit Alumni Bandung pada tahun 1999 1997: Preservation and Conservation of Cultural Heritage in Indonesia, penerbit Gama Press Yogyakarta : Arsitektur sebagai Warisan Budaya, Penerbit Djambatan, Jakarta : Tata Ruang Perkotaan, Penerbit Alumni Bandung

: Arsitektur Indonesia: Menyongsong asa Depan, penerbit Andi, Yogyakarta : Perkembangan Arsitektur dan Pendidikan, Arsitektur di Indonesia, penerbit Gama Press, Yogyakarta : Arsitektur: Pembangunan dan Konservasi, Penerbit Djambatan, Jakarta 1995: Semarang, Beeld Van Een Stad (co-author), Asia Maior, Purmerend, Netherlands. 1994: Pendekatan Sistem dalam Tata Ruang, Penerbit Gama Press Yogyakarta 1993: Jati Diri Arsitektur Indonesia, Penerbit Alumni Bandung 1990 Analis Statistik Perumahan, Biro Pusat Statistik, Jakarta 1989: Konservasi Lingkungan Bersejarah di Surakarta, penerbit Gama Press Yogyakarta 1988: Analisa Statistik Sektor Konstruksi, Biro Pusat Statistik Jakarta 1987: Percikan Masalah Arsitektur, Perumahan, Perkotaan, Penerbit Gama Press Yogyakarta 1984: Architectural Conservation in Bali, penerbit Gama Press, Yogyakarta 1983: Menuju Arsitektur Indonesia, penerbit Alumni Bandung: Arsitektur dan Kota di Indonesia, penerbit Alumni Bandung

Tulisan yang disunting dalam buku


2005: Maha Duka Aceh, Antologi Puisi, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Yasin, Jakarta 2004: Konflik dalam Penataan Ruang, dalam buku "Konstruksi Indonesia" Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, Jakarta 2000: Bung Karno,Arsitek-Seniman, dalam buku "Dialog dengan Sejarah", penerbit Kompas, Jakarta 1998: Pengelolaan Pemerintah Perkotaan, dalam buku "Menuju Indonesia Baru", penerbit Persatuan Insinyur Indonesia Jakarta Makalah Ilmiah/Scientific PaperMenyajikan lebih dari 500 (lima ratus) makalah ilmiah dalam forum lokakarya/diskusi/kongres/konferensi/sarasehan di dalam maupun luar negeri.

Belajar Dari Prof. Ir. Eko Budihardjo, Msc. (Pakar Arsitektur, Budayawan & Mantan Rektor Undip)
Menuju menjadi seorang pakar tidak mudah, namun sulit didapatkan jika tidak ada niatan yang kuat dari diri sendiri. Seperti yang di alami Prof. Eko Budihardjo. Beliau mengingat pada masa kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), disana ada dosen kiler yang setiap kali pengumuman hasil ujian nilainya pada nihil tidak pernah memberikan nilai bagus kepada mahasiswanya, karena basic dosenya bukan arsitek

tetapi dari sipil namun mengajar di arsitektur namanya Prof. surya, karena sering tidak memberikan nilai memuaskan akhirnya didemo oleh mahasiswa dan akhirnya beliau di pejat dari jurusan arsitektur. Dan diganti dengan dosen baru, yang sebelumnya mahasiswa itu lulusnya bertahun-tahun ada yang 10 hingga 12 tahun. Dengan bergantinya Dosen tersebut bisa sedikit lega para mahasiswa. Dengan adanya perubahan Prof. Eko Budihardjo sangat bersyukur karena beliau bisa lulus dengan waktu 7 tahun, hal ini juga suatu prestasi yang sangat membanggakan. Disinilah moment crusial dalam perjalanan hidup beliau. Namun tidak hanya itu saja pelajaran yang dipetik beliau masih tetapi masih banyak lagi. Didalam perjalanan Prof. Budihardjo tidak serta merta beliau menjadi orang besar. Masih di ingat dalam ingatan beliau, saat beliau masih muda mendapatkan petuah orang tuanya ada 5 hal yang di ingat oleh seorang Prof. Eko Budihardjo, dari kelima petuah itu selalu di aplikasikan hingga sekarang dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Menurut Prof. Budihardjo ada Lima kata esklusif dari orang beliau. 1. Awak Waras artinya sehat badan, tidak hanya fisik saja namun juga psikologis dari diri kita. 2. Ati Ayem artinya tentram hatinya, 3. Awet Tulis artinya panjang umur, 4. Akeh Gunane artinya banyak berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain, bangsa dan negara. 5. Antep rejekinya artinya banyak rezeki yang datang yang pastinya halal dan barokah. Kata-kata inilah yang selalu di ingat oleh Prof. Eko dan di tanamkan kepada family dan mahasiswanya. Pencapaian yang paling tertinggi menurut Prof. Eko Budihardjo adalah Anugrah Satyalencana di bidang pembangunan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono karena dari cintanya beliau terhadap lingkungan mengantarkan beliau untuk slalu membangun, dan memelihara taman-taman kota, tidak hanya di kota Semarang, tetapi juga dikota-kota lain seperti Purwokerto, Salatiga dan masih banyak kota lain. Beliau tidak hanya berkiprah di dunia akademik semata namun juga ilmu beliau slalu di aplikasikan langsung kepada masyarakat langsung. Selain itu banyak sekali penghargaan yang diterima beliau. Menurut beliau ini adalah pencapain tertinggi yang membanggakan bagi dirinya di usia senjanya. Di usia beliau yang sudah senja, beliau mempunya prinsip di dalam hidupnya ingin mengalir terus seperti air. Dalam bahasa yunani ada istilah Pantare ( mengalir terus

jangan sampai berhenti) Prof. Eko mencontohkan Air, Bila jadi air harus mengalir terus jangan sampai air berhenti mengalir atau menggenang, hal ini akan menimbulkan bau. Jika seperti Sepeda harus dikayuh terus biar tetap jalan dan tidak jatuh, kalau sepeda tidak di kayuh pasti akan terjatuh. Jika Logam kalau di biarkan di tanah akan berkarat. Artinya jika kita ingin sukses, ingin mencapai apa yang dicitakan jangan sampai stagnasi dengan apa yang kita lakukan jangan asal puas dengan apa yang kita peroleh namun terus belajar dan berkarya agar apa yang kita miliki tidak sia-sia, di aplikasikan menjadi sesuatu yang berharga & tidak memandang usia atau status.(Erick P)

SALAH SATU ISI BLOG EKO BUDIHARDJO


Membangun Bangsa dengan Cinta
Koran SINDO http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/218224/ Oleh: Eko Budihardjo Tuesday, 03 March 2009 Kita mesti bangga bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain berkat perjuangan para pahlawan, yang hanya dengan bambu runcing tetapi dengan semangat baja, berhasil mengusir penjajah. Kita merdeka melalui cucuran darah dan bahkan taruhan nyawa. Bukan karena pemberian dan belas kasih. Kita layak berbangga pula, presiden pertama kita seorang insinyur yang juga orator andal,dengan penuh percaya diri berpidato di depan sidang PBB: We are free. Belakangan, bahkan ditiru oleh Dr Mahatir Muhammad dengan pernyataannya Go to hell with IMF. Sampai-sampai ada yang menyebutnya sebagai Little Soekarno. Kita mesti bangsa sebagai bangsa yang reformis,dipimpin oleh presiden yang beragam. Sesudah Bung Karno yang insinyur, kemudian berturutturut diganti Pak Harto yang militer, Habibie yang profesor, Gus Dur yang ulama, Megawati yang wanita serta SBY yang doktor. Namun, perlu kita renungkan petuah bijak dari proklamator kita: Indonesia Merdeka hanyalah suatu jembatan,walaupun jembatan emas, di seberang jembatan itu jalan pecah dua: satu ke dunia sama rata sama rasa,satunya lagi ke dunia sama ratap sama tangis. Guna mencegah ratapan dan tangisan rakyat itulah,kita mesti mencanangkan tekad mulia: Membangun Bangsa dengan Cinta.

Kekuatan Cinta Menurut UNESCO, dunia pendidikan mesti dikembangkan berdasarkan empat pilar,yaitu learning to know, to do, to be, dan to live together. Namun, menurut hemat saya, perlu ditambah satu lagi: learning to love each other.Hidup bersama tanpa cinta jelas tidak ada gunanya.Akan muncul fenomena KDRT alias kekerasan dalam rumah tangga. Lebih mengerikan lagi bila terjadi pertikaian, pertengkaran, perselingkuhan, dan perceraian. Yang merisaukan adalah manakala mayoritas rakyat Indonesia mendambakan pembangunan yang bertumpu pada kekuatan cinta atau The Power of Love,para elite politik di puncak kekuasaan malah terbius dengan The Love of Poweralias cinta kekuasaan. Sebagai seorang Rotarian, saya selalu ingat salah satu slogan Rotary Club: Show the Seed of Love atau Taburlah Benih-Benih Cinta. Cinta pada rakyat, cinta pada lingkungan, cinta pada pekerjaan, cinta pada sesama. Mari kira renungkan puisi mbeling berikut ini: Dengan tersenyum, wajah akan tambah menawan. Dengan tertawa, badan akan jadi lebih sehat.Dengan berdoa,jiwa akan lebih damai. Dengan cinta dan bercinta, kita sekaligus akan tersenyum, tertawa, dan berdoa: Oh God Rasa cinta ini yang nampak kian meluntur di Tanah Air kita.Yang terlihat adalah nuansa kebencian, permusuhan, persengketaan mulai dari kalangan atas merembet, menular sampai pada lapisan bawah. Tawuran antarmahasiswa, karyawan, relawan, aparat, kampung, pendukung calon bupati/wali kota/ gubernur menjadi santapanseharihari. Padahal, sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya, sebagian umat beragama, mestinya merasa malu dan berdosa bila terlibat dalam tawuran yang penuh kekerasan dan merusak itu. Coba kita resapi dalam-dalam keluhan seorang penyair: Musa menyuarakan Taurat. Daud menyuarakan Zabur. Sidharta Gautama menyuarakan Tripitaka.Yesus menyuarakan Injil. Muhammad SAW menyuarakan Alquran. Kenapa kita, anak bangsa ini, menyuarakan permusuhan dan bahkan perang saudara. Krisis Keteladanan Bila diamati karut-marut yang menimpa rakyat republik ini, terlihat jelas bahwa salah satu penyebab utamanya adalah krisis keteladanan dan kepercayaan. Memang, masyarakat kita dituding sebagai low trust society.Kadar saling percaya mempercayainya teramat sangat rendah. Namun, pemicunya adalah karena para pemimpin kita tidak bisa memberikan contoh keteladanan yang baik. Orang Jawa mengungkapkannya dengan istilah jarkoni: bisa ngajar, ora bisa nglakoni. Maksudnya, bisa memberi petuah tetapi dia sendiri tidak melaksanakannya.

Coba,rakyat selalu saja diminta mengetatkan ikat pinggang, tetapi para tokoh di lembaga eksekutif,yudikatif maupun legislatif justru sekarang mulai ketahuan satu demi satu perilaku menyimpang mereka yang kian melonggarkan ikat pinggang. Sampaisampai ada yang mengatakan, bila membaca pernyataan pejabat tinggi di media massa, kita harus mengartikan sebaliknya. Jadi, manakala seorang pejabat tinggi di republik ini bicara berapi-api di layar televisi bahwa kenaikan BBM akan lebih menyejahterakan rakyat, kita langsung bisa menangkap arti sesungguhnya dari pernyataan itu. Krisis keteladanan di Tanah Air kita tersirat dari puisi berikut, Pesan seorang bapak kepada anak lelakinya: Jangan tawuran, nanti terluka.Pesan seorang ibu kepada anak gadisnya, Jangan pacaran kelewatan, nanti kecelakaan. Pesan seorang dosen kepada mahasiswanya, Jangan demo di jalanan, nanti kena popor senapan. Pesan seorang ulama kepada santrinya,Jangan memelintir ayat-ayat agama,nanti jadi isi neraka. Ah, pesan-pesan melulu, mana keteladanannya! Bila dikaji lebih mendalam,kenapa tokoh-tokoh elite di puncak kekuasaan tidak mampu dan tidak mau jadi teladan, ada beberapa penyebab. Pertama, karena dorongan hawa nafsu yang nyaris tidak terkendali. Kedua, karena peluang yang terbuka untuk melakukan tindakan-tindakan yang menyimpang (pemberian izin, proyek fiktif, mark up pembelian barang,dan lain-lain). Ketiga, karena kurangnya pengawasan dan tidak adanya mekanisme insentif dan disinsentif atau reward and punishment. Gojek Joko Santoso menggambarkan nafsu-nafsu yang diidap para pemimpin kita melalui puisi mbeling yang berjudul Ramalan Cuaca.Singapura berawan. Malaysia gerimis.Filipina hujan deras. India gempa bumi. Saudi Arabia hawa panas.Alaska hawa dingin.Indonesia hawa nafsu. Nah, bila kita memang sepakat dan bertekad bulat untuk membangun bangsa dengan cinta, kita optimistis akan dapat segera bangkit kembali dari keterpurukan, lepas dari aneka kesengsaraan yang melanda rakyat.(*) Prof Eko Budihardjo Mantan Rektor Undip Semarang, Ketua Pembina Dewan Kesenian Jawa Tengah