Anda di halaman 1dari 6

AIuran TaIa Nama Scnyawa OrganIk

TIa UIamI
10710087
A. Aturan IUPAC untuk Alkana
1. Nama umum untuk hidrokarbon jenuh asiklik ialah alkana. Akhiran ,3, digunaka
untuk semua hidrokarbon jenuh.
2. Alkana tanpa cabang dinamakan (setelah empat yang pertama yang mempunyai nama
umum) menurut jumlah atom karbonnya. Akar kata bahasa latin(pent-, heks-, dan
seterusnya) menunjukkan panjang rantai cabang.
3. Untuk alkana bercabang. Dalam menamai suatu alkana dengan substituen alkil, rantai
lurus terpanjang dianggap sebagai induk. Induk itu dinomori dari ujung ke ujung lain,
dengan arah sedemikian rupa sehingga sebdtituem-substituen memperoleh nomor
rendah. Nama keseluruhan struktur terdiri dari bilangan posisi substituen, nama
substituen dan nama induk.
CP
3
CP
3

CP
3
CP CP CP
2
CP
3

Rantai terpanjang terdiri dari 5 atom karbon. Karena itu senyawa ini dinamakan
pentana bersubstitusi.
4. ugus yang menempel pada rantai utama dinamakan substituen. Substituent jenuh
yang hanya mengandung karbon dan hydrogen dinamakan gugus alkil. Namanya
berdasarkan nama alkana dengan jumlah atom karbon yang sama dan mengganti
akhiran ,3, menjadi
Substituen ganda ditaruh dalam urutan alIaet, masing-masing diawali dengan
nomornya masing-masing dan substituen yang sama dikelompokan. Beberapa
substituen alkil bercabang yang lazim mempunyai nama trivial.
ConLoh penamaan menuruL luAC pada alkana
CP
2
CP
3
CP
3
CP
2
CP
3
CP
3
CP
3
CP
2
CPCP
2
CP
2
CP
3
CP
3
CPCP
2
CPCP
2
CPCP
2
CP
3
CP3CCP2CP3
CP
3
CP3
3eLllheksana 4eLll26dlmeLllokLana 2 2dlmeLllbuLana
. Aturan IUPAC untuk Hidrokarbon siklik
!ada penamaannya digunakan awal siklo- pada nama alkana sesuai jumlah atom karbon
pada cincin. Struktur dan nama enam sikloalkana tak bersubstitusi adalah


Siklopropana siklobutana
Jika cincin mempunyai substituent alkil atau halogen. Apabila hanya terdapat
satu substituent, nomor tidak diperlukan, nomor diperlukan bila terdapat pada beberapa
substituent. Satu substituent berada pada karbon cincin nomor 1.
CP3
meLllslklopenLana
C. Aturan IUPAC untuk Alkena dan Alkuna
Ketentuan-ketentuan IU!AC untuk alkena serupa dengan alkana dengan beberapa
tambahan mengenai penamaan dan lokasi ikatan ganda. Yaitu:
1. Ikatan ganda-dua karbon-karbon diberi akhiran ena. Jika lebih dari satu ikatan ganda
dua akhirannya menjadi diena, -triena.
2. Ikatan ganda harus masuk dalam rantai yang diberi nomor. !enomoran sedemikian rupa
sehingga karbon yang mempunyai ikatan ganda mendapatkan nomor yang terendah.
3. Kedudukan ikatan ganda dinyatakan menurut nomor atom karbon yang paling rendah
dari setiap ikatan ganda. Nomor-nomor ini diletakkan di muka nama senyawa.
Contoh penerapan aturan IU!AC:
CP
2
CP
2
eLena 3 CP
3
CP eLllldena
CP
3

2 CP
2
CCP
2
CP
3
2meLllbuLena

lsomer geomeLrl 1erdapaL dua meLode unLuk menamal lsomer geomeLrl MeLode
perLama menggunkan awalan cls (saLu slsl) aLau ttoos (bersebrangan) unLuk
menyaLakan lsomer geomeLrl lLu
CP
3
CP
3
P CP
3

CC CC
P P CP
3
P
cls2buLena ttoos2buLena

Pldrokarbon Lldak brcabang yang mempunyal saLu lkaLan gandaLlga dlberl nama dengan
mengubah akhlran ooo darl nama alkana dengan ooo(lnggrlsnya yoe) !lka LerdapaL
dua lkaLan rangkap Llga aLau leblh akhlran lLu adalah oJlooo ottlooo dan seLerusnya
8anLal lLu dlnomorl sedemlklan rupa agar lkaLanlkaLan rangkap lLu memperoleh nomor
serendah mungkln !uga dlslnl dlgunakan nomor yang leblh rendah darl aLom karbon
unLuk menun[ukan poslslnya ualam luAC ranLal lnduk lalah ranLal yang Lerpan[ang yang
mengandung pallng banyak lkaLan rangkap aLau lkaLan gandaLlga
ConLoh CP
3
CrCP propuna CPrCP eLuna CP
3
CP eLunll

C. Aturan IUPAC untuk Alkohol
Nama umum untuk alkohol diturunkan dari gugus alkol yang melekat pada OH dan
kemudian ditambahkan kata alcohol. Dalam system IU!AC, akhiran ol
menunjukkanadanya gugus hidroksil. Contoh:
CP
3
CP meLanol
CP
3
CP
2
CP eLanol
CP
3
CPCP
3

l 2propanol
CP

. Aturan IUPAC untuk Fenol
enol adalah senyawa dalam mana suaLu CP LerleLak langsung pada suaLu clncln arena
ualam hal lnl fenol dlanggap sebagal lnduk
ConLoh C
2
nr rCP CP
nafLol 4nafLol
nlLrofenol CP
Aturan IUPAC untuk Eter
ter diberi nama berdasarkan gugus alkil menuruturutan abjad, diikuti dengan kata eter.
Untuk eter dengan struktur kompleks, kadang-kadang diperlukan nama gugus OR
sebagai gugus alkoksi.
Contoh:
CP
3
CP
2
C CP
2
CP
3


dleLll eLer CP
3
C slkloheksll meLll eLer
CP
3
CPCP
2
CP
2
CP
3
2meLokslpenLana
CCP
3

F. Aturan IUPAC untuk Aldehida dan Keton
Dalam system IU!AC, aldehida diberi akhiran al. Untuk aldehida yang mempunyai
substituent, penomoran rantai dimulai dari karbon aldehida.
Contoh:
C C
ll ll
P C P CP
3
CPCP
2
C P CP
3
CP
2
CP
2
CP
2
CPC
(meLanal) l (penLanal)
CP
3

(3meLll buLanal)

Dalam system IU!AC, keton diberi akhiran on. !enomoran dilakukan sehingga gugus
karbonil mendapat nomor kecil. Biasanya keton diberi namadengan menambahkan kata
keton setelah nama-nama gugus alkil yang melekat pada gugus karbonil.dalam suatu
struktur kompleks, suatu keton dapat dinamai delam sistem IU!AC dengan awalan okso-
Contoh:
C C C
CP
3
C CP
2
CP
3
CP
3
CCP
2
CC
2
P

(

eLllmeLll keLon) (heksanon) asam 3oksobuLanoaL

F. Aturan IUPAC untuk Asam Karboksilat


Untuk memperoleh nama IU!AC suatu asam karboksilat diperlukan awalan kata asam
dan akhiran at. Asam-asam bersubstitusi diberi nama menurut dua cara. Dalam system
IU!AC, nomor rantai dimulai dari atom karbonpembawa gugus karboksil dan substituent
diberi nomor lokasi. Jika nama umum yang digunakan, lokasi substituent dilambangkan
dengan huruI latin, dimulai dengan atom karbon u.
Jika gugus karboksilat dihubungkan dengan cincin, akhiran karboksilat ditambahkan pada
nama induk sikloalkana.

Contoh:
CP
3
CP
2
CCCP asam propanoaL (asam proplonaL)
CP
3
(CP
2
)
3
CCCP asam penLanoaL (asam valeraL)
CCCP asam slklopenLanakarboksllaL


. Aturan IUPAC untuk Ester
ster diturunkan dari asam dengan mengganti gugus OH dengan gugus OR. ster diberi
nama seperti penamaan pada garam. Contoh:

C C C
ll ll ll
CP
3
C CCP
2
CP
3
CP
3
CP
2
CP
2
C CCP
3
CP
3
CP
2
CP
2
CP
2
CP
2
C
CCP
2
CP
3

(eLll eLanoaL) (meLll buLanoaL) (eLll heksanoaL)
H. Aturan IUPAC untuk Nitril
ugus Iungsional nitril adalah ::s siano, CN. Dalam sistem IU!AC, nitril diberi
nama dengan menggunakan induk alkana yang berisi sama banyak karbon (termasuk C
dalam gugus CN) dan menambahkan akhiran nitril untuk menandakan N.
Bila senyawa nitril diletakan pasa suatu siklik, dgunakan akhiran karbonitril (untuk
menyatakan seluruh gugus CN)
Jika terdapat gugus- gugus berprioritas lebih tinggi, digunakan awalan siano- (untuk
menyatakan seluruh gugus CN)
Contoh : CH
3
CH
2
CN propananitril O
CN sikloheksanakarbonitril PCCCP
2
CP
2
CNasam 3-sianopropanoat

I. Aturan IUPAC untuk Amina
Amin sederhana diberi nama dengan menambahkan nama gugus alkil yang melekat pada
nitrogendan akhiran amin. ugus NH
2
atau amino kadang-kadang dianggap sebagai
substituen. Contoh:
CP
3
CP
2
nP
2
CP
3
CPCP
2
CP
2
CP
3
(eLllamln) |
nP
2

(2amlnopenLana)
. Aturan IUPAC untuk Amida
alk dalam luAC maupun Lrlvlal suaLu amlda dlberl nama dengan membuang
lmbuhan osomot (aLau osomoot) darl nama asam padannya dan menambahkan
omlJo
SubsLlLuen pada nlLrogen amlda dlgunakan sebagal awalan yang dldahulul oleh N
aLau NN
Mlsal C
6
P
3
CCnPCP
3
NmeLllbenzamlda
C
CP
3
(CP
2
)
4
CnP
2
heksanamlda

Sumber : Fessenden &Fessenden.1982. imia Oranik. Jakarta: rlangga
http://www.scribd.com/doc/39210098/Aturan-Tata-Nama-Senyawa-Organik.
diakses tanggal 23 September 2011