Anda di halaman 1dari 7

Mantan Atlet Nasional Terpinggirkan

Ada yang menarik pada perhelatan akbar Sea Games 2011 yang akan digelar di Indonesia nanti. Bukan mengenai kesiapan pemerintah yang mendapat banyak sorotan tajam, melainkan dari Sekitar 750 mantan atlet nasional yang melakukan kirab di kawasan Senayan Jakarta. Berkumpulnya mantan atlet di Senayan untuk memberikan dukungan pada para atlet agar semangatnya lebih termotivasi dalam menghasilkan prestasi maksimal di SEA Games XXVI Jakarta dan Palembang, November mendatang. Atlet nasional yang hadir seperti legenda tinju Elias Pycal, pahlawan bulutangkis, Ricky Subagja dan Susi Susanti, pemain sepakbola, Rully Nerre, Petenis Yayuk Basuki dan beberapa mantan atlet nasional lainya. Nama-nama tadi baru sebagian kecil atlet nasional yang pernah berjasa mengharumkan nama indonesia di mata internasional. Diluar nama yang disebutkan tadi, masih ada sekitar 3000 atlet yang tidak semuanya bernasib baik di hari tua, suram malah. Lebih menarik lagi ketika Mereka juga mengingatkan pemerintah agar mengenang jasa-jasa dan memberikan penghargaan pada mantan atlet yang hidupnya dibawah garis kemiskinan ketika pensiun. diserukan pula harapan kepada pemerintah pada mantan atlet yang sudah pensiun. Dengan harapan, bila ada jaminan dari pemerintah, maka atlet nasional akan berpacu lebih gigih lagi untuk meraih sukses di SEA Games XXVI Jakarta dan Palembang. Mungkin rasa solidaritas sebagai mantan atlet nasional yang membuat mereka yang jumlahnya ratusan berduyun-duyun hadir dalam acara tersebut. Pernah sama-sama membela merah-putih dan menyumbang kejayaan di bidang olahraga. walaupun tak sedikit atlet yang dilupakan

oleh pemerintah dan terpaksa hidup dalam kemiskinan ketika sudah tak berada di puncak lagi, terpinggirkan.

Tak dapat dipungkiri bahwa daur hidup atlet di bidang olahraga tidaklah lama, karena yang menjadi salah sangat terkait dengan usia dan kondisi fisik satu faktor penentu. Banyak atlet yang ketika

menggembleng fisiknya sejak mereka masih muda untuk kemudian dipersiapkan menjadi atlet professional. Masalahnya muncul atlet tidak lagi berada pada masa puncak, praktis mereka kelimpungan karena tidak mempunyai keahlian lain. Belum lagi ketika mereka justru disalahkan karena tidak melakukan investasi dan gagal memanajemen keuangannya dimasa jaya.. Pertengahan Februari lalu, Indonesia kehilangan bekas petinju terbaik tingkat amatir dan profesional, Rachman Kilikili. Rachman ditemukan tewas gantung diri lantaran stres tak kunjung beroleh pekerjaan. Tragedi Rachman hanya potret kecil naasnya nasib atlet selepas masa jaya mereka. Begitu cahaya kejayaan tak lagi jatuh pada Rachman, namanya tenggelam. Sebelum mengakhiri hidupnya, Rachman pernah mengeluh tentang hidupnya. Kata kawan Rachman yang juga atlet lari, Toni Balubun, Rachman mengeluh lantaran tak satu pun lamaran kerja yang dibuatnya sukses. Padahal ketika nama Rachman masih bersinar, begitu banyak yang menawarkan pekerjaan. Tak cuma Rachman yang diabaikan negara begitu pamornya redup. Tapi juga petinju bekas juara Asia, Ferry Moniaga. Petinju kelahiran Tanjung Pinang ini bercerita, sekarang yang tersisa hanya lembaran kertas penghargaan.. Prestasi tertinggi Ferry adalah menjadi juara Asia

tahun 1980. Juga sempat masuk lima besar petinju terbaik dunia dalam ajang Olimpiade di Munchen, Jerman. Meski prestasi terang benderang, nasib Ferry Moniaga kini sungguh redup. Ayah empat anak ini masih hidup menumpang di rumah adiknya di kawasan Bekasi. Ia pun tak punya pekerjaan tetap. Cerita miris serupa datang dari bekas juara lari SEA Games 1987, Martha Kase. Atlet asal Kupang, Nusa Tenggara Timur ini harus berjualan minuman botol untuk menghidupi keluarganya. Peraih juara dunia tinju (IBF) kelas terbang, Ellyas Pical terpaksa sempat menjadi satpam diskotik di masa pensiunnya. Nama lain yang tidak asing adalah Minto Hadi. Keperkasaannya di ring tinju membawa beliau mengalami Malang. Masih ada ratusan lagi mantan atlet nasional diluar sana yang masih hidup melarat kendati pernah memberikan prestasi bagi bangsa Indonesia. Tak adil memang rasanya ketika berada pada masa jaya mereka dielu-elukan, namun ketika sudah tidak lagi berprestasi untuk bangsa dan negaranya di bidang olahraga mereka ditelantarkan. Kehidupan mantan olahragawan yang memprihatinkan akan sangat mungkin mempengaruhi persepsi generasi muda. Bisa jadi mereka enggan untuk menjadi olahragawan. Seharusnya mantan olahragawan dapat menjadi inspirasi generasi muda, bukan justru melihat realitas dilapangan banyak mantan atlet nasional yang hidup dibawah garis kemiskinan tanpa memiliki pekerjaan yang pasti. kebutaan meraih juara 2 ranking OPBF untuk kelas akibat perjuangannya membela bangsa terbang, namun kehidupannya setelah pensiun berkata lain. Beliau Indonesia. Sekarang beliau berprofesi sebagai tukang pijat di Kota

Janji penghidupan bagi para atlet yang sudah lewat masa jayanya datang dari berbagai penjuru. Di atas kertas, janji apa pun terasa manis. Tapi kalau tak dilakoni, sama saja bohong. Kalau atlet-atlet yang pernah berjaya itu tak kunjung diperhatikan kesejahteraannya, bukankah itu 'habis manis sepah dibuang'? Kiranya setiap cabang olahraga juga mempersiapkan pendidikan formal untuk para atlet, karena selama dalam pelatihan, atlet juga sudah mengorbankan waktu pendidikannya demi membela nama Indonesia. Contoh saja seperti Singapura, ada sekolah untuk para atlet dan mereka sebenarnya mencontoh konsep dari Indonesia dengan sekolah atlet Ragunan, hanya saja pelaksanaan di Indonesia kurang konsisten. Sebagian besar mantan atlet dan atlet yang masih aktif saat ini meninggalkan dunia sekolah hanya untuk mengejar prestasi dan membela Merah Putih di berbagai event internasional. Dengan begitu, mereka pada umumnya sedikit yang mengenyam dunia pendidikan, apalagi bisa melanjutkan kuliah di perguruan tinggi swasta atau negeri. Inilah yang membuat sebagian besar mantan atlet nasional kurang memiliki kecakapan yang lain, ditambah lagi ketentuan lapangan pekerjaan yang menuntut legalitas pendidikan formil. Dimulai dari induk organisasi olahraga, yang harus memperhatikan pendidikan para atlet, jangan membuat atlet harus memilih sekolah atau olahraga, hendaknya keduanya harus bisa seiring sejalan dibina oleh setiap organisasi cabang olahraga, agar atlet punya modal pendidikan yang cukup untuk masa depannya nanti. Atlet yang sedang berprestasi sekarang ini perlu diingatkan bahwa masa kejayaan atlet itu ada batasnya, mereka perlu disadarkan pentingnya manajemen diri dan manajemen keuangan untuk bisa

mempersiapkan segala sesuatunya apabila masa kejayaannya sudah selesai, karena untuk atlet sekarang ini, bonus yang dijanjikan sudah cukup besar, yang seharusnya dengan manajemen keuangan yang baik, bonus tersebut bisa dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Berilah kail, jangan ikannya. Pepatah itulah yang kira-kira bisa memberikan pelajaran berharga kepada mantan atlet untuk mengejar kehidupan segala bantuan yang diberikan sebaiknya bukan lagi dalam bentuk dana, melainkan lebih tepat pembinaan yang mengarah pada bidang usaha. Bantuan berupa dana, rumah, dan beberapa penghargaan lain sering diberikan kepada mantan atlet yang kehidupannya di bawah garis kemiskinan. Tapi, karena mereka tidak bisa memanfaatkannya, bantuan itu akhirnya lenyap juga dan kembali pada kehidupan semula. Ini seharusnya menjadi catatan pengusaha dan yayasan yang hendak memberikan bantuan kepada mantan atlet nasional. Lebih baik bantuan kepada atlet diberikan dalam bentuk bidang usaha atau asuransi. Ia berharap bantuan semacam itu bermanfaat secara long term (jangka panjang) dan menjamin harapan kehidupan mereka di masa mendatang atau masa tuanya. Bantuan asuransi kesehatan atau beasiswa kepada putra-putri mantan atlet lebih tepat guna, itu tentu saja, selain dana untuk usaha. Bila ada klausul UU Olahraga yang berbunyi kehidupan mantan atlet ditanggung atau langsung tercatat sebagai pegawai negeri atas jasa yang disumbangkan pada negara dan bangsa, mungkin saja tidak sedikit orangtua mendukung putra-putrinya menekuni dunia olahraga. Bahkan, atlet yang terpilih tampil di SEA Games akan berlatih dan berjuang semaksimal mungkin membela nama baik bangsa dan negara. Namun, bila disimak, prestasi atlet nasional tambah hari

bertambah terpuruk. Dari sini hendaknya parapemangku olahraga mulai membuka mata hati dan mencari solusinya kenapa para pemuda enggan terjun dan menekuni profesi olahraga. Undang-Undang mencantumkan Olahraga dan yang ada saat ini mantan juga atlet belum yang

memikirkan

kehidupan

digariskan pemerintah. Dengan begitu, sudah selayaknya bila UU Olahraga Nomor 3 Tahun 2005 direvisi, dengan harapan mampu mengayomi para atlet, mantan atlet, begitu juga pelatih dan tokohtokoh yang sangat berjasa dalam memajukan dunia olahraga untuk Indonesia juara. Kita patut mengapresiasi pula pada pihak swasta seperti Yayasan Olahragawan Indonesia (YOI) yang peduli memberikan santunan. YOI diharapkan secara khusus peduli pada nasib para olahragawan maupun mantan olahragawan Indonesia. Itu sudah dilakukan pada beberapa mantan atlet, seperti ketika santunan yang diberikan kepada Wempi Wungau (binaraga), dan Hasan Lobubun, mantan petinju nasional. Bisa kita bayangkan jika satu orang melakukan tindakan peduli, mendukung dan membantu olahraga di Indonesia dapat menyentuh kehidupan mantan olahragawan, jika dua, tiga dan empat bahkan seluruh lapisan ,masyarakat Indonesia juga melakukan hal yang sama, akan ada begitu banyak mantan olahragawan yang akan akhirnya olahraga yang di hidupnya Indonesia, memprihatinkan semangat dapat terbantu, Indonesia menumbuhkan

masyarakat

memperjuangkan Merah Putih demi terwujudnya Indonesia Juara.

PENULISAN ARTIKEL DAN TAJUK RENCANA

DI SUSUN OLEH Panji Harya Seta 153070322/B

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN YOGYAKARTA 2011