Anda di halaman 1dari 68

kamus penting

Mei 16, 2009 pada 3:22 am (inIo)


RUMUS PERHITUNGAN DOPAMIN
Dopamin ;1 ampul 10 cc, 1 ampul 200 mg , 1 mg 1000 mikrogram
Rumus Iactor pengencer 200.000 4000
50cc
Rumus : Dosis x BB x jam (menit ) hasil
4000
Atau rumus langsung : Dosis x BB 60 x 50 hasil
200.000
RUMUS PERHITUNGAN DOBUTAMIN
Dobutamin ; 1 ampul 5 cc , 1 ampul 250 mg , 1 mg 1000 mikrogram
250 mg 250.000 mikrogram
rumus Iactor pengencer 250.000 5000
50cc
Rumus : Dosis x BB x jam (menit ) hasil
5000
Atau rumus langsung : Dosis x BB x 60 x 50 hasil
250.000
Rumus diatas digunakan untuk pemberian dopamine dan dobutamin dengan menggunakan
syringe pump.
Rumus pemberian Dopamin dan Dobutamin dalam kolI / drip
Rumus 200.000 400
500
Dosis x BB x jam ( menit )
400
hasil sesuai makro drip / mikrodrip
RUMUS PERHITUNGAN NITROCYNE
1 ampul 10 cc , 1 cc 1 mg, 1 ampul 10 mg
Dosis yang digunakan dalam cc ( microgram ) jadi 1 ampul 10.000 mikrogram
Rumus : Dosis x 60 x pengencer hasil
10.000
RUMUS PERHITUNGAN ISOKET
1 ampul 10 cc , 1 ampul 10 mg , 1mg 1cc
Isoket atau Cedocard diberikan sesuai dosis yang diberikan oleh dokter.
RUMUS PERHITUNGAN DARAH UNTUK TRANSFUSI
Rumus : Hb normal Hb pasien hasil
~ hasil x BB x jenis darah
Keterangan :
Hb normal Hb yang diharapkan atau Hb normal
Hb pasien Hb pasien saat ini
Hasil hasil pengurangan Hb normal dan Hb pasien
Jenis darah darah yang dibutuhkan
PRC dikalikan 3
WB dikalikan 6
RUMUS PERHITUNGAN KOREKSI HIPOKALEMI PADA ANAK
Koreksi cepat
Yang dibutuhkan ( jml K x BB x 0,4 ) ( 2/6 x BB )
Diberikan dalam waktu 4 jam
Maintenance : 5 x BB x 2
6
Diberikan dalam 24 jam
Keterangan :
Jml K nilai yang diharapkan ( 3,5 ) nilai hasil kalian (x)
Ditulis oleh suster.nada di 14:58 1 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
KESEHATAN ANAK
CARA MENENTUKAN UMUR KEHAMILAN
POSTPARTUM MENURUT BALLARD ( 1997 )
KULIT
0 merah seperti agar transparan
1 merah muda licin/halus tampak vena
2 permukaan mengelupas dengan/tanpa ruam, sedikit vena
3 daerah pucat, retak2, vena jarang
4 seperti kertas putih, retak lebih dalam tidak ada vena
5 seperti kulit retak mengkerut
LANUGO
0 tidak ada
1 banyak
2 menipis
3 menghilang
4 umumnya tidak ada
5 .......
LIPATAN PLANTAR
0 hampir tidak tampak
1 tanda merah sangat sedikit
2 hanya lipatan anterior yang menghilang
3 lipatan 2/3 anterior
4 lipatan seluruh tampak
PAYUDARA
0 hampir tidak tampak
1 areola mendatar tidak ada tonjolan
2 areola seperti titik tonjolan 1-2 mm
3 areola lebih jelas dengan 3-4 mm
4 areola penuh tonjolan 5-10 mm
DAUN TELINGA
0 datar tetap terlihat
1 sedikit melengkung, lunak lambat kembali
2 bentuknya lebih baik, lunak mudah membalik
3 bentuk sempurna, membaik seketika
4 tulang rawan tebal, tulang telinga kaku
KELAMIN LAKI LAKI
0 skrotum tidak ada rugae
1 testis belum turun
2 testis turun, sedikit rugae
3 testis dibawah, rugaenya bagus
4 testis tergantung, rugaenya dalam
KELAMIN WANITA
0 klitoris dan labia minor menonjol
1 labia mayor dan minor sama2 menonjol
2 labia mayor besar, minor kecil
3 klitoris dan labia minor di tutupi labia mayor
Ditulis oleh suster.nada di 14:55 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
REFLEKS
TINGKAT KESADARAN
1. KOMPOS MENTIS
Sadar penuh dan keadaan normal
2. SOMNOLEN
Keadaan mengantuk dan kesadaran dapat pulih bila dirangsang, ditandai dengan mudahnya klien
dibangunkan, mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsangan nyeri
3. SOPOR
Kantuk dalam, klien dapat dibangunkan dengan rangsangan yang kuet, namun kesadaran segera
menurun, klien dapat melaksanakan instruksi singkatdan masih terlihat gerakan spontan dengan
rangsangan nyeri, klien tidak dapat diabngunkan dengan sempurna, jawaban verbal tidak ada,
tangkisan nyeri masih baik
4. KOMA RINGAN/SEMI KOMA
Tidak ada respon verbal, reIlek masih baik, gerakan timbul saat ada rangsang nyeri dan tidak
terorganisir, tidak dapat dibangunkan.
REFLEKSIOLOGI
q ReIlek kornea
Dengan cara menyentuhkan kapas pada limbus, hasil positiI bila mengedip
(N IV & VII )
q ReIlek Iaring
Faring digores dengan spatel, reaksi positiI bila ada reaksi muntahan
( N IX & X )
q ReIlek Abdominal
Menggoreskan dinidng perut dari lateral ke umbilicus, hasil negative pada orang
Tua, wanita multi para, obesitas, hasil positiI bila terdapat reaksi otot
q ReIlek Kremaster
Menggoreskan paha bagian dalam bawah, positiI bila skrotum sisi yang sama
Naik / kontriksi ( L 1-2 )
q ReIlek Anal
Menggores kulit anal, positiI bila ada kontraksi spincter ani ( S 3-4-5 )
q ReIlek Bulbo Cavernosus
Tekan gland penis tiba-tiba jari yang lain masukkan kedalam anus, positiI bila
kontraksi spincter ani (S3-4 / saraI spinal )
q ReIlek Bisep ( C 5-6 )
q ReIlek Trisep ( C 6,7,8 )
q ReIlek Brachioradialis ( C 5-6 )
q ReIlek Patela ( L 2-3-4 )
q ReIlek Tendon Achiles ( L5-S2)
q ReIlek Moro
ReIlek memeluk pada bayi saat dikejutkan dengan tangan
q ReIlek Babinski
Goreskan ujung reIlak hammer pada lateral telapak kaki mengarah ke jari, hasil
positiI pada bayi normal sedangkan pada orang dewasa abnormal ( jari kaki
meregang / aduksi ektensi )
q Sucking reIlek
ReIlek menghisap pada bayi
q Grasping reIlek
ReIlek memegang pada bayi
q Rooting reIlek
Bayi menoleh saat tangan ditempelkan ke sisi pipi
REFLEK PATOLOGIS
q ReIlek HoIIman Tromer
Jari tengah klien diekstensikan, ujungnya digores, positiI bila ada gerakan Ileksi pada
Jari lainnya
q ReIlek Jaw
Kerusakan kortikospinalis bilateral, eIeren dan aIerennya nervous trigeminus, dengan
Mengertuk dagu klien pada posisi mulut terbuka, hasil positiI bila mulut terkatup
q ReIlek regresi
Kerusakan traktus pirimidalis bilateral / otak bilateral
q ReIlek Glabella
Mengetuk dahi diantara kedua mata, hasilnya positiI bila membuat kedua mata klien
Tertutup
q ReIlek Snout
Mengutuk pertengahan bibir atas, positiI bila mulutnya tercucur saliva
q ReIlek sucking
Menaruh jari pada bibir klien, positiI bila klien menghisap jari tersebut
q ReIlek Grasp
Taruh jari pada tangan klien, positiI bila klien memegangnya
q ReIlek Palmomental
Gores telapak tangan didaerah distal, positiI bila otot dagu kontraksi
q ReIlek rosolimo
Ketuk telapak kaki depan, positiI bila jari kaki ventroIleksi
q ReIlek Mendel Bechterew
Mengetuk daerah dorsal kaki2 sebelah depan,positiI bila jari kaki ventroIleksi
q Tes rangsang meningeal
q Nuchal rigidity
Klien tanpa bantal Ileksikan leher ke lateral, lalu Ileksikan leher mendekati dagu,
hasil positiI bila ada tahanan dan nyeri
q Kernig
Fleksikan panggul dengan sudut 90 derajat, ekstensikan tungkai bawah pada
persendian lutut, positiI bila ada tahanan dan rasa sakit sebelum mencapai
ekstensi maksimal
q Brudzinski I,II
Bila pada saat Ileksi leher lutut ikut Ileksi juga brudzinski I positiI, brudzinski II : satu tungkai
lain diekstensikan pada persendian panggul, tungkai lain diekstensikan, positiI bila tungkai yang
ekstensi ikut Ileksi
Ditulis oleh suster.nada di 14:53 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
MTBS
KLASIFIKASI DIARE DAN DISNTRI
Ada dehidrasi
Tanpa dehidrasi
Darah dalam tinja
Diare persisiten berat
Diare persisten
Disentri
KLASIFIKASI DEMAM (DAERAH RESIKO TINGGI MALARIA)
Ada tanda bahaya umum / kaku kuduk
Demam lebiih dari 37,5 C
Penyakit berat dengan demam
Malaria
MALARIA (DAERAH RESIKO RENDAH MALARIA)
Ada tanda bahaya umum / kaku kuduk
Atidak pilek, campak dan penyebab lain dari demam
Ada plek campak dan penyebab lain dari demam
Penyakit berat dengan demam
Malaria
Demam mungkin bukan malaria
KLASIFIKASI DEMAM UNTUK CAMPAK
Ada tanda bahaya umum, kekeruhan pada kornea, luka di mulut dalam dan luas
Mata bernanah/luka di mulut
Terdapat campak/ 3bln terakhir
Campak dengan komplikasi bearat
Campak dengan komplikasi pada mulut / mata
Campak
Cat : semua anak yang campak harus mendapat vitamin A
KLASIFIKASI DEMAM UNTUK DEMAM BERDARAH
Ada tanda syok : ekstremitas teraba dingin dan nadi lemah/tidak teraba, muntah bercampur
darah/seperti kopi, berak berwarna hitam, perdarahan dari hidung atau gusi berat, bintik
perdarahan dikulit dan uji tournikuet (), sering muntah ,tanpa diare
Nyeri ulu hati, gelisah, bintik perdarahan dikulit(-)
Tidak ada satupun gejala diatas ada penyebab lain dari demam
Demam berdarah
Mungkin demam berdarah
Demam mungkin bukan demam berdarah
KLASIFIKASI MASALAH TELINGA
Pembengkakkan yang nyeri di belakang telinga
Tampak cairan / nanah keluar dari telinga dan telah terjadi kurang dari 14 hari/ nyeri telinga
Tampak cairan / nanah keluar dari telinga dan telah terjadi selama 14 hari/lebih
Tidak ada sakit telinga dan tidak ada cairan/nanah keluar dari telinga
Mastoiditis
InIeksi telinga akut
InIeksi telinga kronis
Tidak ada inIeksi telinga
KLASIFIKASI STATUS GIZI
Badan tampak sangat kurus, bengkak pada kedua kaki, telapak tangan pucat
Telapak tangan agak pucat, BB sangat rendah
BB tidak BGM dan tidak ditemukan tanda lain dari malnutrisi dan anemia
Gizi buruk/anemia berat
BGM, dan atau anemia
Tidak BGM dan tidak anemia
Ditulis oleh suster.nada di 14:46 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
E K G
Pemasangan elektroda
Merah lengan kanan
Kuning lengan kiri
Hijau tungkai kanan
Hitam tungkai kiri
PEMBACAAN HASIL EKG
0 kotak kecil 0,04 detik
laju QRS Irekuensi 60 100 x mnt, kurang dari 60 bradikardi,
lebih dari 60 takikardi
GELOMBANG NORMAL
P Tegak (), di I,II, Av1, V2-6 dan terbalik di Av1, mungkin terbalik di III, Av1,v1
Q q kecil di I, II, AVF, V4-6, durasi 0,03 detik tinggi / R,ukuran bervariasi di AVR
Q besar dengan durasi 0,4 detik di III, abnormal di AVF dan III ( harus diagnosa), Q besar di
AVL normal
QS Semua negative kecuali di V1-2
R Terbesar di I, V4-6
S S dominant di V1-3, keciol dan progresiI di V3-6,S mungkin ditemukan di I,II
T Tegak di I,II, AVF, V2-6 terbalik di AVR, mungkin terbalik di III, AVL,V1
U Tidak terlihat, sering terlihat terbalik di V2-4
GELOMBANG EKG PATOLOGI
HYPERTROPI ATRIUM KIRI P lebar, tegak dan bertakik di V4-6
HYPERTROPI ATRIUM KANAN P tinggi ~ 2,5 mm, runcing di II,III, AVF
HYPERTROPI VENTRIKEL KIRI R(I) dan S(III) . 2,6 mm, R pada AVL ~ 11 mm, R pada
V1-5 ~ 52,6 mm, S pada V1R pada V5 atau V6~3,5 mm, depresi ST, inverse 1, interval QRS
antara 0,1 0,12
HYPERTROPI VENTRIKEL KANAN R tinggi di V1 ~ 5 mm,R:s pada V1~1mm, depresi
ST, T terbalik pasa V1-3
ISKEMIA MIOKARD depresi ST . 1mm, horizontal dan menurun
INFARK MIOKARD elevasi ST ~ 1mm, T besar dan tegak lurus, setelah 1-3 hari T terbalik
dan timbul Q yang abnormal yang menandakan inIark transient, durasi Q
Anterior kealinan di sandapan V2-4
InIerior kealinan di AVF
Lateral kelainan pada I, V6
Posterior kelainan jika R yang tinggi, T tegak pada V1-2
PERIKARIDTIS elevasi ST di semua sadapan kecuali AVR,AVL,V1,V2 dan T terbalik
HIPERKALEMIA T tinggi ramping dan runcing, P hilang, QRS melebar, takikardi ventrikel
HYPOKALEMIA depresi ST, T rendah, U besar di V2-4, U:T rasio ~ 1,0 mm
HYPERKALSEMIA interval Q-T memendek, T terdapat pada akhir QRS
HYPOKALSEMIA ST,QT memanjang
Ditulis oleh suster.nada di 14:45 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Caian Serebrospinal
Komposisi : jernih, tak berwarna, tak berbau, terdiri atas : Air, protein, O2, elektrolit, CO2,
glukosa, tekanan normal 60 180 H2O, diproduksi perhari 500 mL, cairan pada orang dewasa
yang bersirkulasi 125 150 mL
PH
PCO2
HCO3
KALSIUM
KLORIDA
KREATININ
GLUKOSA
SGOT
LDH
MAGNESIUM
FOSFAT
PROTEIN
LUMBAL
SISTERNAL
VENTRIKULER
KALIUM
NATRIUM
ASAM URAT
SEL
7,31
47,9 mmHg
22,9 meq / l
2,32 Meq/l
113 127 Meq/l
0,4 1,5 mg
54 80 mg
0 19 unit
8 50 unit
2,20 Meq/l
1,2 2,1 mg
20 40 mg
15 25 mg
5 25 mg
2,33 4,59 Meq/l
117 137 Meq/l
0,07 2,8 mg
1 5 limIosit/mm3
Ditulis oleh suster.nada di 14:44 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Nilai Laboratorium Normal
HB
Pria
Wanita
Leukosit
BasoIil
EosinoIil
NeutroIil
LimIosit
Monosit
Trombosit
HEMATOKRIT
Pria
Wanita
LED, WINTROP
Pria
Wanita
WESTERGEN
Pria
Wanita
ERITROSIT
Pria
Wanita
MASA PERDARAHAN
Duke
Ivy
RETRAKSI BEKUAN
Serum
SiIat
13 16 gr / dL
12 14 gr / dL
5000 10000 uL
0 1
1 3
batang 2 6
segmen 50 70
20 40
2 8
150000 400000 ui
40 48
37 43
4,5 5,5 juta/ ul
4 5 juta / ul
1 3`
1 6
40 60
kenyal / rapuh
MASA PEMBEKUAN
Lee, White
Kapiler
FIBRINOGEN
MASA TROMBIN
MASA PROTOMBIN
TROMBO TEST
SGOT
SGPT
LDH
CKMB
TRIGLISERIDA
KOLESTEROL TOTAL
HDL
Pria
Wanita
MAGNESIUM
NATRIUM DARAH
NATRIUM URIN
KALIUM DARAH
KLORIDA DARAH
KLORIDA URIN
FE
PROTEIN TOTAL
ALBUMIN
GLUKOSA DARAH
AMILASE DARAH
AMILASE URIN
ASAM URAT DARAH
ASAM URAT URIN
KALSIUM DARAH
KALSIUM URIN
10 15
2 6
20 400 mg/mL
0- 60
~ 25
70 100
80 240 U/I
40 155 mg/ dL
150 250 mg / dL
35 55 mg / dL
46 65 mg / dL
1,0 2,5 mg/ dL
135 174 mg/ l
130 220 Meq / 24 jam
3,5 5,5 Meq / l
100 106 Meq / l
120 250 Meq / l
80 140 ug / dL
6,0 7,8 g / dL
45 67
60 100 mg / dL
80 150 S.somogi
80 125 S.somogi
3,0 6,0 mg / dL
100 1000 mg / 24 jam
9 11 mg / dL
30 150 mg / 24 jam
UREUM DARAH
UREUM URIN
KREATININ DARAH
KREATININ URIN
BILIRUBIN
Direk
Indirek
Total
PROTEIN TOTAL
ALBUMIN
GLOBULIN
AGD
HCO3
PCO2
PH
PO2
20 40 mg / dL
20 35 g / 24 jam
0,5 1,5 md / dL
1 2 g 24 jam
0,3 1,0 mg /dL
6 7 mg / dL
4 5,2 g / dL
1,3 2,7 g / dL
21 28 mmol / L
4,7 5,9 KPA (35 45 mmHg)
7,38 7,4
11 13 KPA (80-100 mmHg)
Ditulis oleh suster.nada di 14:44 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
EIek SyaraI Otonom
Organ
Parasimpatis
Simpatis
Iris
Otot siliari
Lakrimalis
Saliva
NaIas/ broncus
Jantung
Frekuensi Denyut
Output TD
Pemb. Darah koroner
Pemb. Darah
PeriIer
Otot skeletal
Kulit
Org. visceral kec. Jantung paru
Kontraksi spinter otot pupil
Kontraksi, akomodasi,
penglihatan jarak dekat
Sekresi
Sekresi banyak encer
kontraksi otot polos,
Berkurangnya diameter dan volume
Kurang
Kurang
Kurang
Konstriksi
Inversi (-)
Inversi (-)
Dilatasi
Kontraksi otot pupil, dilatasi
Relaksasi
akomodasi
Penglihatan jarak jauh
Sekresi berlebih
Sekresi banyak mukosa
Relaksasi otot polos
Diameter dan volume bertambah
Tambah
Tambah
Tambah
Dilatasi
Dilatasi
Kontriksi
Kontriksi
Organ
Parasimpatis
Simpatis
Lambung
Dinding
Spincter
Kel.intestinal
Dinding
Spincter
Pankreas
LimIa
Adrenal
Kandung kemih
Uterus
Kel. Keringat
Ginjal
Motilitas ()
Relaksasi
Sekresi ()
Motilitas ()
Terhambat
Sekresi ()
EIek sedikit
EIek sedikit
Menstimulasi dinding, relaksasi spincter
EIek sedikit
Inversi (-)
tidak bereIek
(-)
Kontraksi
(-)
(-)
Terangsang
(-)
kontraksi & pengosongan darah yg disimpan ke dlm sirkulasi
sekresi noreIineIrin/eIineIrin
menghambat kontraksi
menghambat motilitas organ yg hamil
sekresi ()
output (-)
Ditulis oleh suster.nada di 14:43 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
SaraI Kranial
SaraI
Jenis
( S/M )
Fungsi
OlIaktorius
Optikus
Okulomotoris
Troklearis
Trigeminus
Abducens
Fasialis
Akustikus
GlosoIaringeus
Vagus
Asesorius
Hipoglosus
S
S
M
M
M
S
M
S
S
M
S
M
Membau
Penglihatan
Pergerakan mata kedalam, keatas, elevasi alis, mata, konstriksi pupil, konvergensi, reaksi
bersamaan
Pergerakan mata bawah keluar
Mengunyah, sensasi wajah
kulit kepala dan gigi
Pergerakan lateral
Ekspresi wajah
Pengecapan (2/3) lidah anteriol, salivasi
Pendengaran, keseimbangan
Salivasi, menelan
Sensasi tenggorokan, tonsil, pengecapan (1/3) lidah posterior
Menelan, bicara, denyut jantung, peristaltic
Sensasi tenggorokan, laring visceral
Pergerakan bahu, rotasi kepala
Pergerakan lidah
Ditulis oleh suster.nada di 14:42 1 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Tumbuh Kembang
Umur
Pertumbuhan
BB
TB
Lingkar kepala
0 6 bulan
6 12 bulan
1 4 tahun
0 6 bulan
6 12 bulan
1 7 tahun
tahun 1
tahun 2
3 5 tahun
750 1000 gr / bln
300 500 gr / bln
150 gr / bln
2,5 cm / bln
1,25 cm / bln
7,5 cm / bln
10 cm
2,5 cm
1,25 cm / thn
Ditulis oleh suster.nada di 14:42 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Dosis Obat Dewasa Menurut BB dan Usia
Usia
BB (kg)
Dosis ()
Neonatus
1 bulan
3 bulan
6 bulan
1 tahun
3 tahun
5 tahun
7 tahun
12 tahun
3,4
4,2
5,6
7,7
10
14
18
23
37
250-400 mL
Anak : ~ 50 200 mL
Keinginan berkemih pada dewasa bila bladder sudah penuh ~ 250 cc dan anak2 ~ 50 cc
Ditulis oleh suster.nada di 14:33 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
PEMBERIAN INFUS PADA NEONATUS
Rumus : jumlah cairan kebutuhan cairan X BB
Kebutuhan cairan :
NaCl 3 2-4 Meq/kg BB
KCL 3,75 1-3 Meq/kg BB
BicNat 7,5 2-4 Meq/kg BB
Dextrose jumlah selebihnya
Sediaan
NaCl 1 Meq 2 cc
KCL 1 Meq 2cc
Bicnat 1 Meq 1cc
Ditulis oleh suster.nada di 14:32 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Pemberian Imunisasi Menurut Umur
Umur
Antigen
2 bulan
3 bulan
4 bulan
9 bulan
BCG, DPT 1, Polio 1
Hepatitis 1, DPT 2, Polio 2
Hepatitis 2, DPT 3, Polio 3
Hepatitis 3, Campak, Polio 4
Ditulis oleh suster.nada di 14:31 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Pemberian Oralit di Berikan Setiap Mencret / Muntah
* : 50 100 cc
* 1-5 th : 100-200 cc
* ~ 5 th : 200-300 cc
* dewasa : 300-400 cc
Ditulis oleh suster.nada di 14:30 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
KLASIFIKASI DEHIDRASI MENURUT MAURICE KINGS SCORE
Tingkat
Score
KU
Turgor
Mata
NaIas
Mulut
Nadi
Ringan 5
1
Sehat
Normal
Normal
20 30
Normal
Kuat ~ 120
Sedang 8
2
gelisah/apatis
Turun
Cekung
30 40
Kering
120 140
Berat ~ 10
3
ngigau,koma,syok
Sangat turun
Sangat cekung
40 60
kering biru
14
Total
6
7 13
~ 13
Ditulis oleh suster.nada di 14:29 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Rehidrasi Untuk Bayi Diare
Rumus BB X ( D M C ) cc
D Dehidrasi
q Dehidrasi ringan 50 cc
q Dehidrasi sedang 80 cc
q Dehidrasi berat 100 cc
M Maintenance
q Neonatus 140 120 cc
q 0-1 th 100 90 cc
q 2-4 th 90 80 cc
q 4-8 th 80 70 cc
q 8-12 th 70 60 cc
q ~ 12 th 60 50 cc
C Concomitter, Loss
q Muntah 25 cc
q Berak 25 cc
q Muntah & berak 30 cc
Ditulis oleh suster.nada di 14:28 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Kebutuhan Kalori Menurut FAO / WHO
Umur
Kebutuhan kalori
1-3
4-6
7-9
LAKI -LAKI
10-12
13-15
16-19
20-39
40-49
50-59
60-69
~70
WANITA
10-12
13-15
16-19
20-39
40-49
50-59
60-69
~70
1090
1360
1830
2190
2600
0.97 M X A
1.02 M X A
1.00 M X A
0,95 M X A
0.90 M X A
0.80 M X A
0.70 M X A
2350
1.13 F X A
1.05 F X A
1.00 F X A
0.95 F X A
0.90 F X A
0.80 F X A
0.70 F X A
Keterangan :
M berat badan x 46 kalori
F berat badan x 40 kalori
A indeks aktivitas
* Ringan 0.90
* Sedang 1.0
* AktiI 1.17
Ditulis oleh suster.nada di 14:26 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
KlasiIikasi Hipertensi
KLASIFIKASI TD BERDASARKAN ' The sixth report oI The joint national committee on
preventation detection, evaluation and the treatment oI high blood pressure, 1997 '
Kategori
Sistol
Diastol
Rekomendasi
Normal
Perbatasan
Hipertensi I
Hipertensi II
Hipertensi III
130139
140159
160179
~ 180
85 89
90 99
100109
~110
Cek ulang 2 th
Cek ulang dalam 1th
KonIirmasi 1 atau 2 bln dan rubah gaya hidup
Rujuk dalam 1 bulan
Rujuk segera dlm 1 mgg berdasarkan kondisi klinis
Ditulis oleh suster.nada di 14:24 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Patokan Untuk Diagnosa DM
Kadar
Bukan DM
Blm pasti
DM
Glukosa darah sewaktu
Plasma vena
Darah kapiler
Glukosa darah puasa
Plasma vena
Darah kapiler
110 199
90 199
110 126
90 109
~ 220
~200
~126
~ 110
Ditulis oleh suster.nada di 14:23 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Score Kebutuhan Cairan pada Diare
Klinis nilai
Haus / munta...................... 1
TD sistol 60-90 mmHg.............. 1
TD sistol 2
Nadi ~ 120 x / mnt.................... 1
Kesadaran apatis.................... 1
Somnolen, sopor / koma............... 2
NaIas ~ 30 x / mnt................... 1
Feseskolerika...................... 2
Vox kolerika....................... 2
Turgor kulit menurun................ 1
Feses air cucian beras................ 1
Ekstremitas dingin................... 1
Sianosis........................ 2
Umur 50 50 th..................... -1
Umur ~ 60 th..................... -2
Kebutuhan cairan : nilai x 10 x kg BB x 1 ltr
KEBUTUHAN CAIRAN MENURUT PIERCE
Derajat dehidrasi
Keb. Cairan tiap kg BB
Ringan
Sedang
Berat
5
8
10
Ditulis oleh suster.nada di 14:17 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Score Untuk diagnosa Pancreatitis
Klinis nilai
Nyeri epigastrium ~ 5 jam................ 1
Mual/muntah...................... 1
Nyeri periumbilikal................... 2
K.U sedang berat................... 1
Nadi ~ 90 x / mnt................... 1
Nyeri hipogastrium kanan / kiri............ 1
Suhu aksila ~ 37,5 C.................. 1
Leukositosis ~10000 UI................ 1
Nilai lebih dari 9 pankreatitis positiI
Ditulis oleh suster.nada di 14:14 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Derajat Gangguan Penyakit Jantung
Grade I : tidak ada gejala ketika melakukan aktivitass biasa
Grade II : timbul gejala ketika melakukan gejala biasa
Grade III : timbul gejala saat melakukan aktivitas ringan
Grade IV : timbul gejala saat istirahat
Ditulis oleh suster.nada di 14:13 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
KlasiIikasi ReIleks
4 : sangat cepat, hiperaktiI
3 : agak cepat dari rata rata
2 : normal / sesuai dengan rata rata
1 : kurang dari normal, agak lambat
0 : tidak ada lambat
Ditulis oleh suster.nada di 14:12 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
KlasiIikasi Kedalaman Oedema
1 : depresi 2 mm
2 : depresi 4 mm
3 : depresi 6 mm
4 : depresi 8 mm
Ditulis oleh suster.nada di 14:12 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
KlasiIikasi Denyut Nadi
0 : Tidak ada denyut teraba
1 : Denyutan berkurang dan sulit diraba
2 : Normal, teraba dgn mudah dan tiidak mudah lenyap
3 : Denyutan kuat dan seperti memantul terhadap ujung jari
Ditulis oleh suster.nada di 14:11 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Lama Persalinan
Ditulis oleh suster.nada di 14:08 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Pemeriksaan Leopod dan Bidang Hodge
PEMERIKSAAN LEOPOLD
I : Memeriksa tinggi Iundus dan menentukan usia kehamilan
II : Menentukan letak punggung anak dan bagian kecilnya
III : Menentukan apa yang ada dibagian bawah dan sudah / belum masuk PAP
IV : Menentukan berapa bagian masuk ke dalam rongga panggul
BIDANG HODGE
H I : Sama dengan PAP
H II : Sejajar H I pinggir bawah sympysis
H III : Sejajar H I melalui spina ischiadika
H IV : Sejajar H I melalui ujung os cocygis
Ditulis oleh suster.nada di 14:06 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Stadium Tumor
NasoIaring
I : Tumor di nasoIaring
II : Meluas ke rongga hidung / sinus sphenoid
III : Meluas ke sinus maksila, etmoid rongga mata dan pipi
IV : Meluas ke rongga intracranial
Cervix
0 : in SITU karsinoma di epitel
I : terbatas di cervix
II : menyebar keluar cervix ( 2/3 bagian atas vagina dan parametrium
III : sudah mencapai dinding panggul
IV : Metastase ke rektum, vesika urinaria dan organ lain
Ditulis oleh suster.nada di 14:02 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Penilaian Fisik Dengan Score
PENILAIAN DENGAN GCS
MATA ( E)
4 spontan membuka mata
3 dengan perintah
2 dengan rangsangan nyeri
1 tidak ada reaksi
MOTORIK ( M )
6 mengikuti perintah
5 melokalisir nyeri
4 menghindari nyeri
3 Ileksi abnormal
2 ekstensi abnormal
1 tidak ada reaksi
VERBAL (V)
5 berorientasi baik
4 disorientasi waktu dan tempat tapi dapat mengucapkam kalimat
3 hanya mengucapkan kata kata
2 mengerang
1 tidak ada reaksi
APGAR SCORE
0-3 AsIiksia berat
4-7 AsIiksia sedang
7-10 Normal
KEKUATAN OTOT
0 Tidak ada kontraksi
2 Terdapat kontraksi tetapi tidak bisa bergeser
3 Hanya ada pergeseran / gerakan sendi
4 Dapat melakukan gerakan melawan gravitasi tapi tidak bisa melawan gravitasi
5 Dapat melawan gravitasi tapi tidak dapat melawan tahanan pemeriksa ( lemah )
6 Dapat melawan tahanan pemeriksa dengan kekuatan penuh
TAJAM PENGLIHATAN
6/6 : Bisa membaca dgn benar huruI pada snelen chart dan orang normal pun dapat
melakukannya ( pada jarak 6 m )
6/30 : Hanya bisa membaca huruI pada jarak 6 m sedangkan orang normal bisa membaca pada
jarak 30 m
3/60 : Hanya bisa melihat dan menentukan jumlah jari dgn benar
pada jarak 3 m sedangkan orang normal 300 m
1/300 : Hanya bisa merasakan sinar saja
0 : Buta total
PEMERIKSAAN PENDENGARAN DAN DIAGNOSA
Tes RINNE : membandingkan hantaran udara dengan hantara tulang telinga
Tes WEBBER : membandingkan hantaran tulang kiri dan kanan
Tes SCWABACH : membandingkan hantaran tulang pendengaran klien dengan pemeriksa
Ditulis oleh suster.nada di 13:40 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Rumus Pengganti Takaran Obat
Rumus : obat sediaan obat yang diperlukan
tablet tablet yg diperlukan
Contoh : Tersedia amoxicillin 30 mg tiap tablet, diperlukan obat sebanyak 375 mg
Jawab : 30 / 1 tablet 375/... 12,5 tablet
Ditulis oleh suster.nada di 13:39 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Kamis, 2007 Juli 19
Menghitung daerah luka bakar
* Kepala dan leher 9
* Dada, perut, punggung dan bokong 4 x 9
* Ekstremitas atas 2 x 9
* Paha, betis dan kaki 4 x 9
* Perineum dan genital 1
DERAJAT LUKA BAKAR
Stadium I : pada epidermis ( sembuh 5 7 hari )
Stadium II : pada dermis ( sembuh 16 21 hari )
Stadium III : sudah mencapai subkutis
Ditulis oleh suster.nada di 15:52 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Anak-anak
RUMUS MENGHITUNG BB DAN TB NORMAL UNTUK BALITA DIATAS 3 TH
Rumus : BB 8 2N ( kg )
TB 80 5 N ( cm )
Contoh : balita usia 3 th memiliki BB normal 14 kg dan TB 98 cm.
RUMUS MENGHITUNG DOSIS OBAT UNTUK ANAK
( CLARK RULE )
Rumus : dosis dewasa x berat anak ( ponds )
150
1 ponds 2,2 kg
Ditulis oleh suster.nada di 15:51 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Kehamilan
RUMUS TAKSIRAN PERSALINAN ( HUKUM NAEGLER )
Rumus : HPHT tanggal 7, bulan 3 dan tahun tambah 1 bila bulan dikurang 3 hasilnya
positiI atau nol untuk siklus 28 hari.
Sedangkan untuk siklus 35 hari : tanggal 14, seterusnya sama.
Contoh : HPHT 11-05-2001, taksirannya ( 117, 05-3, 20011 )
18 02 2002 (siklus 28 hari)
RUMUS TAKSIRAN BERAT BADAN JANIN PADA SAAT KALA 1
Rumus : tinggi Iundus ( cm ) N x 155
N 13 bila kepala belum melewati PAP
N 12 bila kepala berada diatas spina isciadika
N 11 bila kepala berada dibawah spina isciadika
RUMUS PERHITUNGAN OVULASI PADA WANITA
Menstruasi....14 hari.....menstruasi berikutnya ( siklus 28 hari )
Menstruasi....21 hari.....menstruasi berikutnya ( siklus 35 hari )
RUMUS MENGHITUNG UMUR KEHAMILAN
( Mc DONALD)
Tinggi Iundus ( cm ) / bulan
3, 5
Contoh : tinggi Iundus 24 cm maka umur kehamilan
24 / 3,5 6,8 bulan 27 minggu
RUMUS MENGHITUNG DENYUT JANTUNG JANIN
Hitung selama 5 detik selang 5 detik hitung lagi 5 detik selang 5 detik lalu hitung lagi 5 detik.
Hasilnya teratur bila angka ke 1 dan 3 sama.
Ditulis oleh suster.nada di 15:48 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Berat Badan Ideal
Rumus : BB x 100
TB 100
BB normal nilai 90 110
BB kurang nilai kurang dari 90
BB lebih nilai lebih dari 110
MENURUT BOCCA
( TB 100 ) 10 kg
sedangkan pada pria yang kurang dari 160 cm dan perempuan dengan TB kurang dari 150 cm
rumusnya : TB 100 x 1 kg
Contoh : pria dengan TB 170 cm harus memiliki BB ideal ( 170 100 ) 10
70 7 kg 63 kg
Ditulis oleh suster.nada di 15:45 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Perhitungan Denyut Nadi Maximal
Rumus : 220 umur ( dalam tahun )
Contoh : usia 20 tahun, denyut nadi maksimalnya 200 x/mnt
( saat berolahraga stop apabila nadi sudah mencapai 200 x/mnt )
Ditulis oleh suster.nada di 15:43 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Mantoux Test
Contoh : terdapat cairan PPD di dalam vial 4 cc dengan kandungan obat 1 mL 50 unit
Jawab : untuk Mantoux diperlukan 5 unit ( 5 TU ) maka diambil dalam vial :
Rumus unit yang diperlukan
Unit yang tersedia dlm 1 Ml
Jadi 5 unit 0,1 mL
50 unit ( dlm 1 mL )
Disuntikkan IC dgn pembacaan hasil sesudah 24 72 jam.
Untuk ATS ( anti tetanus ) diberikan 300 unit untuk
dewasa dan separuhnya untuk anak anak
Ditulis oleh suster.nada di 15:42 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Pemberian O2
Rumus : RR x volume tidal x 20 mL
Contoh : klien dengan respirasi rate 35 x / mnt harus
mendapatkan 02 sebanyak : 35 x 500 mL x 20 3500 mL 3,5L
Ditulis oleh suster.nada di 15:39 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Perhitungan Rumpleleed Test
Rumus : Sistolik Diastolik
2
Contoh : TD : 120 / 80 mmHg. Jawab : ( 120 80 ) / 2 100 mmHg
Ditahan selama 15 menit dan hasilnya positiI apabila didalam lingkaran 5 cm terdapat lebih dari
10 bercak merah ( petechiae )
Ditulis oleh suster.nada di 15:37 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Pembuatan Larutan Campuran Obat Skintest
Rumus : 1 : 9
Contoh : Amoxycillin 0,1 cc dan aquades 0,9 cc dalam spuit 1 cc disuntikkan dengan undulasi
0,5 1 cm dan ditunggu selama 15 menit. Hasilnya positiI bila undulasi bertambah dan gatal (
merah )
Ditulis oleh suster.nada di 15:33 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Pembuatan Larutan SaIlon
Rumus : m1. V1 m2. V2
Contoh : akan dibuat larutan saIlon 0,2 sebanyak 100 ml dengan sediaan larutan 20 .
Ditanyakan berapa cairan saIlon yang diperlukan ?
Jawab : 20 . V1 0,2 . 100
V1 0,2 . 100 1 ml ( jumlah saIlon)
20
Jumlah aquadest yang diperlukan adalah:
v2 v1 100 1 99 ml
Ditulis oleh suster.nada di 15:27 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Bagan Waktu Habis InIus
Ditulis oleh suster.nada di 15:21 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Cara menghitung balance cairan
* RUMUS BALANCE
CM CK IWL
* RUMUS IWL
(15 X BB X JAM KERJA) / 24 JAM
* RUMUS IWL KENAIKAN SUHU
|(10 X CM) X jumlah kenaikan suhu| / 24 JAM IWL Normal
Ditulis oleh suster.nada di 15:09 0 komentar
Label: Buku Saku Keperawatan
Perhitungan Jumlah Tetesan InIus
Tetesan / menit kebutuhan cairan (CC) /waktu (jam) }x tetesan dasar/60(detik)}
mikro 60 tetes / 1 cc
Cara cepat : keb.cairan (cc) / Waktu (jam)} x 1/3 makro, 1/1 mikro
Makro 20 tetes / 1 cc
Contoh:
Caian 250 cc dengan kecepatan 20 tts / menit. berapa jam habisnya cairan
Jawab:
250 cc x 1/3 20 tts
(250 x 1) / (20 x 3) 4,116 jam
Asuban Keperawatan : Prosedur Pemberian Nebulizer
emberikan Nebulizer

Adalah memberikan campuran zat aerosol dalam partikel udara dengan tekanan udara.

Tujuan Memberikan Nebulizer

untuk memberikan obat melalui naIas spontan klien.

!ersiapan emberikan Nebulizer Alat dan obat :
1. Oksigen set

2. Nebulizer set

3. Cairan normal saline dan obat yang akan dipakai

4. Spuit 5 atau 10 cc.

5. Mouth piece bila perlu

6. Bengkok

7. Tisu

Lingkungan :

Bersih dan tenang

Petugas :

1 orang

!rosedur emberikan Nebulizer:
1. Monitor vital sign sebelum dan sesudah pengobatan khususnya pada klien yang menggunakan
bronkodilator.

2. Jelaskan prosedur pada klien.

3. Atur posisi klien senyaman mungkin paling sering dalam posisi semiIowler, jaga privasi.

4. Petugas mencuci tangan.

5. Nebulizer diisi obat (sesuai program pengobatan) dan cairan normal salin 4-6cc.

6. Hidupkan nebulizer kemudian hubungkan nebulizer dan selangnya ke Ilow meter oksigen dan
set aliran pada 4-5 liter/menit, atau ke kompresor udara.

7. Instruksikan klien untuk buang naIas.

8. Minta klien untuk mengambil naIas dalam melalui mouth piece, tahan naIas beberapa saat
kemudian buang naIas melalui hidung.

9. Observasi pengembangan paru / dada klien.

10. Minta klien untuk bernaIas perlahan-lahan dan dalam setelah seluruh obat diuapkan.

11. Selesai tindakan, anjurkan klien untuk batuk setelah tarik naIas dalam beberapa kali (teknik
batuk eIektiI).

12. Klien dirapikan.

13. Alat dirapikan.

14. Petugas mencuci tangan.

15. Catat respon klien dan tindakan yang telah dilakukan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Perlakukan klien secara hati-hati.

2. Saat awal tindakan klien perlu didampingi sampai terlihat

tenang.

Tags : Askep Nebulizer, Aerosol
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 22:02 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Asuban Keperawatan : Protap Cuci Tangan yang Baik dan Benar
encuci tangan adalah tindakan yang sering kali kita anggap sepele,
namun merupakan hal yang sangat penting dalam menjaga higiene tangan maupun kulit serta
salah satu upaya eIektiI dalam mencegah inIeksi nosokomial. Apapun yang anda lakukan dalam
memberikan asuhan keperawatan terhadap klien, sebelum dan sesudah kontak dengan klien
segera 'cuci tangan .

1he centers for disease control and prevention (CDC) mengeluarkan rekomendasi baru untuk
menjaga higiene tangan di lingkungan perawatan kesehatan. Higiene tangan adalah istilah yang
digunakan unutk mencuci tangan menggunakan antiseptik pencuci tangan. Mencuci tangan
dengan menggunakan antiseptik pencuci tangan serta mencuci tangan dengan benar lebih eIektiI
dalam mengurangi inIeksi nosokomial dari pada mencuci tangan dengan cara biasa.

Mencuci Tangan sebaiknya dilakukan :

* Sebelum dan sesudah memeriksa klien.
* Sebelum dan sesudah memakai sarung tangan.
* Jika terjadi kontaminasi pada tangan seperti : memegang instrumen dan item lain yang kotor,
menyentuh selaput lendir, darah atau cairan tubuh (sekresi dan ekskresi), terjadi kontak lama dan
intensiI dengan pasien.
* Sebelum melakukan prosedur invasiI nonbedah (memasang inIus, mengambil sampel darah,
memasang kateter urine, menghisap nasotrakea).
* Bila berpindah dari bagian tubuh terkontaminasi ke bagian tubuh bersih (luka bedah) selama
perawatan klien.
* Setelah menggunakan kamar mandi.
* Sebelum makan.

!eralatan inimal untuk encuci Tangan

Di IRD, poliklinik, maupun ruang rawat inap, puskesmas, tempat pelayanan publik seperti kamar
mandi umum, perlu disediakan area cuci tangan seperti wastaIel, minimal terdapat :

* Sabun (batang atau cair, yang antiseptik maupun nonantiseptik)
* Wadah sabun yang berlubang supaya air bisa terbuang keluar
* Air mengalir (pipa, atau ember dengan keran),
* Handuk/lap sekali pakai (tisu, atau kain yang dicuci setelah sekali pakai)
(KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERJELAS)





Tags : Asuhan Keperawatan : Cuci tangan, Handwash, 13 langkah cuci tangan
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:51 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Asuban Keparawatan : KUMPRES HANCAT
!engertian Kompres Hangat :

Kompres hangat adalah suatu prosedur menggunakan kain / handuk yang telah di kompres-
hangatcelupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian tubuh tertentu.
ManIaat Kompres Hangat :

Adapun manIaat kompres hangat adalah dapat memberikan rasa nyaman dan menurunkan suhu
tubuh dalam menangani kasus klien yang mengalami pireksia.

Alat dan bahan :

Larutan kompres berupa air hangat 40 C dalam wadahnya ( dalam kom )

Handuk / kain / wash lap untuk kompres

Handuk pengering

Sarung tangan

Termometer

Prosedur :

Beri tahu klien, dan siapkan alat, klien, dan lingkungan.

Cuci tangan

Ukur suhu tubuh

Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak terlalu basah.

Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres ( dahi, ketiak, perut, leher belakang ).

Tutup kain kompres dengan handuk kering

Apabila kain telah kering atau suhu kain relative menjadi dingin, masukkan kembali kain
kompres ke dalam cairan kompres dan letakkan kembali di daerah kompres, lakukan berulang-
ulang hingga eIek yang diinginkan dicapai

Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 20 menit

Setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang basah dan rapikan alat

Cuci tangan

ekanisme Tubuh Terhadap Kompres Hangat dalam Upaya enurunkan Suhu Tubuh.

Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipothalamus melalui
sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas dihipotalamus dirangsang,
sistem eIIektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi periIer.
Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari
tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi.
Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan energi/panas melalui kulit
meningkat ( berkeringat ), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai
keadaan normal kembali

(KLIK GAMBAR UNTUK MEMPERBESAR)


Tags : Asuhan Keperawatan Kompres Hangat, Suhu Tubuh, Demam
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:41 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Asuban Keperawatan : Protap Pemasangan Kondom Kateter
. !engertiankondom-kateter

Alat drainase urine eksternal yang mudah digunakan dan aman untuk mengalirkan urine pada
klien

2. Tujuan

a. Mengumpulkan urine dan mengontrol urine inkontinen

b. Klien dapat melakukan aktiIitas Iisik tanpa harus merasa malu karena adanya kebocoran urine
(ngompol)

c. Mencegah iritasi pada kulit akibat urine inkontinen
3. !ersiapan
a. Persiapan klien

1) Mengucapkan salam terapeutik.

2) Memperkenalkan diri.

3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan
dilaksanakan.

4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya.

5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klariIikasi.

7) Privasi klien selama komunikasi dihargai.

8) Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama
berkomunikasi dan melakukan tindakan

9) Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)

b. !ersiapan alat

1) Selaput kondom kateter

2) Strip elastic

3) Kantung penampung urine dengan selang drainase

4) Baskom dengan air hangat dan sabun

5) Handuk dan waslap

6) Selimut mandi

7) Sarung tangan

8) Gunting
. !rosedur

a. Cuci tangan

b. Tutup pintu atau tirai samping tempat tidur

c. Jelaskan prosedur pada klien

d. Gunakan sarung tangan

e. Bantu klien pada posisi terlentang. Letakkan selimut diatas bagian tubuh bagian atas dan tutup
ekstremitas bawahnya dengan selimut mandi sehingga hanya genitalia yang terpajan

I. Bersihkan genitalia dengan sabun dan air, keringkan secara menyeluruh

g. Siapkan drainase kantong urine dengan menggantungkannya ke rangka tempat tidur.

h. Dengan tangan non dominan genggam penis klien dengan kuat sepanjang batangnya. Dengan
tangan dominan, pegang kantung kondom pada ujung penis dan dengan perlahan pasangkan pada
ujung penis

i. Sisakan 2,5 sampai 5 cm ruang antara glands penis dan ujung kondom

j. Lilitkan batang penis dengan perekat elastic.

k. Hubungkan selang drainase pada ujung kondom kateter

l. Posisikan klien pada posisi yang aman

m. Pasien dirapihkan kembali

n. Alat dirapihkan kembali

o. Mencuci tangan

p. Melaksanakan dokumentasi :

1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien

2) Catat tanggal dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda
tangan/paraI pada lembar catatan klien

Tags : Asuhan Keperawatan Kondom Kateter, Kateter
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:36 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Asuban Keperawatan : Protap Penggunaan Urinal
!engertian

Membantu klien laki-laki yang hendak buang air kecil
urinal

Tujuan

1. Membantu klien dalam upaya memenuhi kebutuhan eliminasi
2. Mengurangi pergerakan klien
3. Mengetahui adanya kelainan urine secara langsung

Persiapan

a. Persiapan klien

1) Mengucapkan salam terapeutik

2) Memperkenalkan diri

3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan
dilaksanakan.

4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya

5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.

6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klariIikasi

7) Privasi klien selama komunikasi dihargai.

8) Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama
berkomunikasi dan melakukan tindakan

9) Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)
b. !ersiapan alat

1) Sarung tangan steril

2) Urinal

3) Perlak dan pengalas

4) Air dalam botol
!rosedur

a. Pintu ditutup/pasang sampiran

b. Petugas mencuci tangan, pasang sarung tangan bersih

c. Pasang perlak dan pengalas

d. Pakaian bagian bawah klien ditanggalkan, jika perlu perawat membantu

e. Dengan tangan kiri petugas memasukkan penis kedalam mulut urinal dan klien dianjurkan
berkemih

I. Klien dirapihkan kembali

g. Alat dirapikan kembali

h. Mencuci tangan

i. Melaksanakan dokumentasi :

1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien

2) Catat tanggal dan jam melakukan tindakan dan nama petugas yang melakukan dan tanda
tangan/paraI pada lembar catatan klien

Tags : Asuhan Keperawatan Penggunaan Urinal, Urinal, BAK, Urine, Buang Air Kecil
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:32 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Asuban Keperawatan : Protap Pemasangan ETT {Endotrakeal Tube]
!engertian Intubasi

Intubasi adalah memasukkan pipa jalan naIas buatan kedalam trachea melalui mulut.
Tujuan Intubasi

1. Membebaskan jalan naIas

2. Untuk pemberian pernaIasan mekanis (dengan ventilator).
Persiapan Alat

1. Laryngoscope

2. Endotracheal tube (ETT)

3. Mandrin

4. Xylocain jelly

5. Sarung tangan steril

6. Xylocain spray

7. Spuit 10 cc

8. OroIaringeal tube (guedel)

9. Stetoskop

10.Bag Valve Mask (ambubag)

11. Suction kateter

12. Plester

13. Gunting

14.Masker

Langkah - langkah Intubasi

1. Posisi pasien terlentang dengan kepala ekstensiett

2. Petugas mencuci tangan

3. Petugas memakai masker dan sarung tangan

4. Melakukan suction

5. Melakukan intubasi dan menyiapkan mesin pernaIasan

6. Memompa dengan ambu bag

7.Mendengarkan suara naIas dengan stetoskop

8. Mengisi cuII dengan udara

9.Fiksasi ETT dengan plaster

10. Pasang OroIaringeal tube

11. Hubungkan pasien ke ventilator yang sudah disiapkan

12. PernaIasan yang adekuat dapat di monitor melalui AGD - 1jam setelah intubasi selesai

13. Mencuci tangan sesudah melakukan intubasi

Tag : Asuhan Keperawatan ETT, Endotrakea Tube
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:26 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Prosedur Memandikan Klien di Tempat Tidur
!engertian emandikan !asien di Tempat Tidur
adalah :
Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien yang tidak mampu mandi secara sendiri
dengan cara memandikannya di tempat tidur.
Tujuan emandikan !asien di Tempat Tidur :
Memandikan Pasien
1. Menjaga kebersihan tubuh, menghilangkan bau badan.
2. Mengurangi inIeksi akibat kulit kotor.
3. Memperlancar sistem peredaran darah, syaraI dan merelaksasikan otot.
4. Menambah kenyamanan pasien.
emandikan !asien di Tempat Tidur dilakukan :
1. Pada pasien baru, terutama bila kotor sekali dan keadaan umumnya memungkinkan.
2. Pada pasien yang dirawat, sekurang-kurangnya dua kali sehari dengan kondisinya.
Alat dan bahan emandikan !asien Di Tempat Tidur :
1. Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan air hangat
2. Pakaian pengganti
3. Kain penutup
4. Handuk besar
5. Handuk kecil untuk mengeringkan badan
6. Sarung tangan pengusap/waslap
7. Tempat untuk pakaian kotor
8. Sampiran
9. Sabun.
!ersiapan pasien :
1. Pasien diberi penjelasan dan dianjurkan untuk BAK atau BAB dulu (bila pasien sadar)
2. Jika kondisi memungkinkan, libatkan pasien untuk melakukan tindakan
3. Dalam melakukan tindakan perawat harus memperhatikan keamanan dirinya sendiri dengan
memakai schort, handschoen ataupun masker.
!rosedur kerja emandikan !asien Di Tempat Tidur
1. Pintu, jendela atau gorden ditutup, gunakan sampiran bila perlu.
2. Cuci tangan, gunakan schort, handschoen ataupun masker.
3. Selimut dan bantal dipindahkan dari tempat tidur. Bila masih dibutuhkan, bantal digunakan
seperlunya.
4. Perawat berdiri disisi kiri atau kanan pasien.
5. Atur posisi pasien.
6. Lakukan tindakan memandikan pasien yang diawali dengan membentangkan handuk di bawah
kepala, kemudian bersihkan muka, telinga, dan leher dengan waslap. Keringkan dengan handuk.
7. Kain penutup diturukan, kedua tangan pasien diangkat dan pindahkan handuk di atas dada
pasien, lalu bentangkan. Kemudian kembalikan kedua tangan ke posisi awal diatas handuk, lalu
basahi kedua tangan dengan air bersih. Keringkan dengan handuk.
8. Kedua tangan diangkat, handuk dipindahkan di sisi pasien, bersihkan daerah dada dan perut,
lalu keringkan dengan handuk
9. Miringkan pasien ke kiri, handuk dibentangkan kebawah punggung sampai glutea dan basahi
punggung hingga glutea, lalu keringkan dengan handuk. Selanjutnya miringkan pasien ke kanan
dan lakukan hal yang sama. Kemudian kembalikan pasien pada posisi terlentang dan pasangkan
pakaian dengan rapi.
10. Letakkan handuk di bawah lutut lalu bersihkan kaki. Kaki yang paling jauh didahulukan dan
keringkan dengan handuk..
11. Ambil handuk dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah perut dibuka, lalu bersihkan
daerah lipatan paha dan genitalia.
12. Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan rapi.
13. Alat dibereskan, lingkungan diatur kembali.
14. Cuci tangan.
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:49 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Penggunaan Pispot Pada Klien
!engertian
Membantu pasien yang hendak buang air besar dan atau buang air kecil (wanita) di atas tempat
tidur
Tujuan enggunakan !ispot
a. Membantu pasien dalam upaya memenuhi kebutuhan eliminasi
b. Mengurangi pergerakan pasien
c. Mengetahui adanya kelainan Ieces maupun urine secara visual
!ersiapan
a. !ersiapan pasien
1) Mengucapkan salam terapeutik
2) Memperkenalkan diri
3) Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan
dilaksanakan.
4) Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
5) Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.
6) Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klariIikasi
7) Privasi klien selama komunikasi dihargai.
8) Memperlihatkan kesabaran, penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama
berkomunikasi dan melakukan tindakan
9) Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)
b. !ersiapan alat
1) Pispot
2) Air dalam botol
3) Kapas cebok/toilet tissue dalam tempatnya
4) Sarung tangan bersih, masker dan celemek
5) Bengkok
6) Selimut/kain penutup
7) Perlak dan alasnya
8) Sampiran
9) Bel bila tersedia
!rosedur enggunakan !ispot
a. Pintu ditutup atau pasang sampiran
b. Pasang perlak dan alasnya
c. Cuci tangan, pasang celemek, masker, sarung tangan bersih dan berdiri disisi klien
d. Pakaian bagian bawah klien ditanggalkan kemudian bagian badan yang terbuka ditutup
dengan selimut atau kain penutup yang tersedia
e. Klien dianjurkan menekuk lututnya dan mengangkat bokong (jika perlu dibantu oleh perawat
lain)
I. Pispot diatur sampai terletak dibawah bokong klien, jika klien tidak dapat melakukannya
sendiri, perawat membantu dengan mengangkat bokong klien menggunakan tangan kanan dan
tangan kiri mengatur pispot sampai terpasang tepat dan nyaman
g. Bila klien sudah selesai, kakinya direnggangkan dan selimut dibuka. Anus dan daerah
genitalia dibersihkan dengan kapas cebok (tangan kanan menyiram dan tangan kiri
membersihkan). Kapas cebok dibuang kedalam pispot. Angkat pispot dan tutup kembali
h. Bila klien ingin membersihkan sendiri, perawat membantu menyiramkan air
i. Keringkan bokong klien dengan pengalas
j. Klien dirapihkan
k. Alat dirapihkan
l. Pintu dan sampiran dibuka
m. Mencuci tangan
n. Hasil Evaluasi
1. Pasien tidak merasa lelah dengan pergerakan yang minimal
2. Pasien merasa nyaman
o. Melaksanakan dokumentasi :
1) Catat tindakan yang dilakukan dan hasil serta respon klien pada lembar catatan klien
2) Catat tgl dan jam melakukan tindakan dan nama perawat yang melakukan dan tanda
tangan/paraI pada lembar catatan klien
Referensi :
Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
Engenderhealt. 2000. InIection Prevention, New York.
JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir
Jakarta. Pusdiknakes.
JNPKKR.2004. Panduan Pencegahan InIeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan
Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
Kozier, Barbara, 2000, Fundamental oI Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition,
Menlo Park, CaloIornia.
Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica,
Penerbit buku kedokteran EGC.
Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:45 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Protap Membantu Pasien Duduk
!engertian:
Suatu tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien yang imobilisasi atau klien lemah untuk
memberikan bantuan duduk ditempat tidur.
Tujuan:
Mengurangi risiko cedera muskuloskeletal pada semua orang yang terlibat.
Langkah:
1. Ikuti protokol standar
2. Tempatkan klien pada posisi terlentang
3. Pindahkan semua bantal
4. Tinggikan bagian kepala tempat tidur
5. Anda menghadap ketempat tidur
6. Tempatkan kaki meregang dengan satu kaki lebih lebih dekat ketempat tidur dibanding kaki
yang lain
7. Tempatkan tangan yang lebih dekat ke pasien di bawah bahu, yang menyokong kepala dan
tulang belakang
8. Tempatkan tangan yang lain di permukaan tempat tidur
9. Angkat klien ke posisi duduk dengan memindahkan berat badan anda dari kaki depan ke kaki
belakang
10. Dorong dengan arah berlawanan tempat tidur dengan menggunakan lengan yang ditempatkan
di tempat tidur
11. Turunkan bagian kepala tempat tidur
12. Catat prosedur; termasuk posisi yang ditetapkan, kondisi kulit, gerakan sendi, kemampuan
pasien membantu bergerak, dan kenyamanan pasien.
13. Lengkapi akhir protokol
$:mber,
Perry, Peterson, Potter, B:k: $ak: Keterampilan dan Prosed:r Dasar
A:is Alim:l Hidayat, $Kp, B:k: $ak: Praktik:m KDM
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:38 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Protap Memeberikan Ubat Intramuscular {In|eksi IM]
!engertian
Pemberian obat / cairan dengan cara dimasukkan langsung ke dalam otot (muskulus)
Tujuan
Melaksanakan Iungsi kolaborasi dengan dokter terhadap klien yang yang diberikan obat secara
intra muskulus (IM)
Peialatan
1. Sarung tangan 1 pasang
2. Spuit dengan ukuran sesuai kebutuhan
3. Jarum steril 1 (21-23G dan panjang 1 - 1,5 inci untuk dewasa; 25-27 G dan panjang 1 inci
untuk anak-anak)
4. Bak spuit 1
5. Kapas alkohol dalam kom (secukupnya)
6. Perlak dan pengalas
7. Obat sesuai program terapi
8. Bengkok 1
9. Buku injeksi/daItar obat
Pioseuui Pelaksanaan Pembeiian 0bat Secaia IN (Intia Nuskulei)
A. Tahap !raInteraksi
1. Melakukan veriIikasi data sebelumnya bila ada
2. Mencuci tangan
3. Menyiapkan obat dengan benar
4. Menempatkan alat di dekat klien dengan benar
B. Tahap Orientasi
1. Memberikan salam sebagai pendekatan terapeutik
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga/klien
3. Menanyakan kesiapan klien sebelum kegiatan dilakukan
C. Tahap Kerja
1. Mengatur posisi klien, sesuai tempat penyuntikan
2. Memasang perlak dan alasnya
3. Membebaskan daerah yang akan di injeksi
4. Memakai sarung tangan
5. Menentukan tempat penyuntikan dengan benar ( palpasi area injeksi terhadap
adanya edema, massa, nyeri tekan. Hindari area jaringan parut, memar, abrasi atau
inIeksi)
6. Membersihkan kulit dengan kapas alkohol (melingkar dari arah dalam ke luar
diameter 5cm)
7. Menggunakan ibu jari dan telunjuk untuk mereganggkan kulit
8. Memasukkan spuit dengan sudut 90 derajat, jarum masuk 2/3
9. Melakukan aspirasi dan pastikan darah tidak masuk spuit
10.Memasukkan obat secara perlahan (kecepatan 0,1 cc/detik)
11.Mencabut jarum dari tempat penusukan
12.Menekan daerah tusukan dengan kapas desinIektan
13.Membuang spuit ke dalam bengkok
D. Tahap Terminasi
1. Melakukan evaluasi tindakan
2. Melakukan kontrak untuk kegiatan selanjutnya
3. Berpamitan dengan klien
4. Membereskan alat-alat
5. Mencuci tangan
6. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan keperawatan
Pilihan Tempat Injeksi Intia Nuskulei
Paha (;ast:s lateralis) : posisi klien terlentang dengan lutut agak Ileksi.

Jentrogl:teal : posisi klien berbaring miring, telentang, atau telentang dengan lutut atau
panggul miring dengan tempat yang diinjeksi Ileksi.
Lengan atas (deltoid) : posisi klien duduk atau berbaring datar dengan lengan bawah
Ileksi tetapi rileks menyilangi abdomen atau pangkuan.

Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:32 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
Protap Memberikan Ubat Intravena {In|eksi IV]
!engertian :
Memasukkan cairan obat langsung kedalam pembuluh darah vena sehingga obat langsung masuk
ke dalam sistem sirkulasi darah.
Tujuan :
1. Memasukkan obat secara cepat
2. Mempercepat penyerapan obat
Lokasi Injeksi :
1. Pada lengan (vena mediana cubiti / vena cephalica )
2. Pada tungkai (vena saphenosus)
3. Pada leher (vena jugularis) khusus pada anak
4. Pada kepala (vena Irontalis, atau vena temporalis) khusus pada anak
Peisiapan Alat :
1. Handscoen 1 pasang
2. Spuit steril 3 ml atau 5 ml atau sesuai kebutuhan
3. Bak instrument
4. Kom berisi kapas alkohol
5. Perlak dan pengalas
6. Bengkok
7. Obat injeksi dalam vial atau ampul
8. DaItar pemberian obat
9. Torniquet
10. Kikir ampul bila diperlukan
Pioseuui Pelaksanaan Pembeiian 0bat secaia Intiavena
A. Fase oiientasi
1. Salam terapeutik
2. Evaluasi/ validasi
3. Kontrak
B. Fase keija
1. Siapkan peralatan ke dekat pasien
2. MengidentiIikasi pasien dengan prinsip enam B (Benar obat, dosis, pasien, cara pemberian,
waktu dan dokumentasi)
3. Pasang sampiran atau tutup tirai untuk menjaga privasi pasien
4. Mencuci tangan dengan baik dan benar
5. Memakai handscoon dengan baik
6. Posisikan pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien
7. Mematahkan ampul ( bila perlu menggunakan kikir )
8. Memasukkan obat kedalam spuit sesuai dengan advice dokter dengan teknik septik dan aseptik
9. Menentukan daerah yang akan disuntik
10. Memasang pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
11. Memasang tourniquet 10-12 cm diatas vena yang akan disuntik sampai vena terlihat jelas
12. Melakukan desinIeksi menggunakan kapas alkohol pada daerah yang akan disuntik dan
biarkan kering sendiri
13. Memasukkan jarum dengan posisi tepat yaitu lubang jarum menghadap keatas, jarum dan
kulit membentuk sudut 20
14. Lakukan aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum sudah masuk
kedalam vena yang ditandai dengan darah masuk kedalam tabung spuit ( saat aspirasi jika ada
darah berarti jarum telah masuk kedalam vena, jika tidak ada darah masukkan sedikit lagi jarum
sampai terasa masuk di vena )
15. Buka tourniquet dan anjurkan pasien membuka kepalan tangannya, masukkan obat secara
perlahan jangan terlalu cepat
16. Tarik jarum keluar setelah obat masuk ( pada saat menarik jarum keluar tekan lokasi suntikan
dengan kapas alkohol agar darah tidak keluar )
17. Rapikan pasien dan bereskan alat
18. Lepaskan sarung tangan
19. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, keringkan dengan handuk atau tissu
. Fase teiminasi
1. Evalusi respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
2. Rencana tindak lanjut
3. Kontrak yang akan datang
Bal yang Peilu Bipeihatikan :

1. Oleh karena injeksi ini menakutkan klien, maka usahakan agar klien tidak menjadi takut
dengan memberikan penjelasan.
2. Perhatikan tekhnik aseptik dan anti septik baik pada alat-alat maupun cara kerja.
3. Jangan salah memberikan obat atau salah memberikan kepada klien lain, ingat prinsip enam
benar dalam pemberian obat.
4. Perhatikan reaksi-reaksi klien setelah dapat disuntikan dan dicatat serta laporkan.
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 21:27 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Prosedur (protap) Keperawatan
ASUHAN KEPERAWATAN ARITMIA {CANCCUAN IRAMA )ANTUNC]
A. Definisi
angguan irama jantung atau aritmia merupakan komplikasi yang sering terjadi pada infark
miokardium. Aritmia atau disritmia adalah perubahan pada Irekuensi dan irama jantung yang
disebabkan oleh konduksi elektrolit abnormal atau otomatis (Doenges, 1999). Aritmia timbul
akibat perubahan elektroIisiologi sel-sel miokardium. Perubahan elektroIisiologi ini
bermaniIestasi sebagai perubahan bentuk potensial aksi yaitu rekaman graIik aktivitas listrik sel
(Price, 1994). Gangguan irama jantung tidak hanya terbatas pada iregularitas denyut jantung tapi
juga termasuk gangguan kecepatan denyut dan konduksi (HanaIi, 1996).
B. Etiologi
Etiologi aritmia jantung dalam garis besarnya dapat disebabkan oleh :
1. Peradangan jantung, misalnya demam reumatik, peradangan miokard (miokarditis karena
inIeksi)
2. Gangguan sirkulasi koroner (aterosklerosis koroner atau spasme arteri koroner), misalnya
iskemia miokard, inIark miokard.
3. Karena obat (intoksikasi) antara lain oleh digitalis, quinidin dan obat-obat anti aritmia lainnya
4. Gangguan keseimbangan elektrolit (hiperkalemia, hipokalemia)
5. Gangguan pada pengaturan susunan saraI autonom yang mempengaruhi kerja dan irama
jantung
6. Ganggguan psikoneurotik dan susunan saraI pusat.
7. Gangguan metabolik (asidosis, alkalosis)
8. Gangguan endokrin (hipertiroidisme, hipotiroidisme)
9. Gangguan irama jantung karena kardiomiopati atau tumor jantung
10. Gangguan irama jantung karena penyakit degenerasi (Iibrosis sistem konduksi jantung)

C. acam - macam aritmia
1. Sinus Takikardi
Meningkatnya aktiIitas nodus sinus, gambaran yang penting pada ECG adalah : laju gelombang
lebih dari 100 X per menit, irama teratur dan ada gelombang P tegak disandapan I,II dan aVF.
2. Sinus bradikardi
Penurunan laju depolarisasi atrim. Gambaran yang terpenting pada ECG adalah laju kurang dari
60 permenit, irama teratur, gelombang p tgak disandapan I,II dan aVF.
3. Komplek atrium prematur
Impul listrik yang berasal di atrium tetapi di luar nodus sinus menyebabkan kompleks atrium
prematur, timbulnya sebelu denyut sinus berikutnya. Gambaran ECG menunjukan irama tidak
teratur, terlihat gelombang P yang berbeda bentuknya dengan gelombang P berikutnya.
4. Takikardi Atrium
Suatu episode takikardi atrium biasanya diawali oleh suatu kompleks atrium prematur sehingga
terjadi reentri pada tingkat nodus AV.
5. Fluter atrium.
Kelainan ini karena reentri pada tingkat atrium. Depolarisasi atrium cept dan teratur, dan
gambarannya terlihat terbalik disandapan II,III dan atau aVF seperti gambaran gigi gergaji
6. Fibrilasi atrium
Fibrilasi atrium bisa tibul dari Iokus ektopik ganda dan atau daerah reentri multipel. AktiIitas
atrium sangat cepat.sindrom sinus sakit
7. Komplek jungsional prematur
8. Irama jungsional
9. Takikardi ventrikuler

D. anifestasi klinis
a. Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; deIisit nadi; bunyi
jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat;
edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
b. Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
c. Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
d. NaIas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernaIasan; bunyi naIas tambahan
(krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernaIasan seperti pada gagal
jantung kiri (edema paru) atau Ienomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
e. demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inIlamasi, eritema, edema (trombosis siperIisial);
kehilangan tonus otot/kekuatan

E. !emeriksaan !enunjang
1. EKG : menunjukkan pola cedera iskemik dan gangguan konduksi. Menyatakan tipe/sumber
disritmia dan eIek ketidakseimbangan elektrolit dan obat jantung.
2. Monitor Holter : Gambaran EKG (24 jam) mungkin diperlukan untuk menentukan dimana
disritmia disebabkan oleh gejala khusus bila pasien aktiI (di rumah/kerja). Juga dapat digunakan
untuk mengevaluasi Iungsi pacu jantung/eIek obat antidisritmia.
3. Foto dada : Dapat menunjukkanpembesaran bayangan jantung sehubungan dengan disIungsi
ventrikel atau katup
4. Skan pencitraan miokardia : dapat menunjukkan aea iskemik/kerusakan miokard yang dapat
mempengaruhi konduksi normal atau mengganggu gerakan dinding dan kemampuan pompa.
5. Tes stres latihan : dapat dilakukan utnnuk mendemonstrasikan latihan yang menyebabkan
disritmia.
6. Elektrolit : Peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium dapat mnenyebabkan
disritmia.
7. Pemeriksaan obat : Dapat menyatakan toksisitas obat jantung, adanya obat jalanan atau
dugaan interaksi obat contoh digitalis, quinidin.
8. Pemeriksaan tiroid : peningkatan atau penururnan kadar tiroid serum dapat
menyebabkan.meningkatkan disritmia.
9. Laju sedimentasi : Penignggian dapat menunukkan proses inIlamasi akut contoh endokarditis
sebagai Iaktor pencetus disritmia.
10. GDA/nadi oksimetri : Hipoksemia dapat menyebabkan/mengeksaserbasi disritmia.

F. !enatalaksanaan edis
1. Terapi medis
Obat-obat antiaritmia dibagi 4 kelas yaitu :
a. Anti aritmia Kelas 1 : sodium channel blocker
Kelas 1 AE
Quinidine adalah obat yang digunakan dalam terapi pemeliharaan untuk mencegah berulangnya
atrial Iibrilasi atau Ilutter.
Procainamide untuk ventrikel ekstra sistol atrial Iibrilasi dan aritmi yang menyertai anestesi.
Dysopiramide untuk SVT akut dan berulang
Kelas 1 BE
Lignocain untuk aritmia ventrikel akibat iskemia miokard, ventrikel takikardia.
Mexiletine untuk aritmia entrikel dan VT
Kelas 1 CE
Flecainide untuk ventrikel ektopik dan takikardi
b. Anti aritmia Kelas 2 (Beta adrenergik blokade)
Atenolol, Metoprolol, Propanolol : indikasi aritmi jantung, angina pektoris dan hipertensi
c. Anti aritmia kelas 3 (Prolong repolarisation)
Amiodarone, indikasi VT, SVT berulang
d. Anti aritmia kelas 4 (calcium channel blocker)
Verapamil, indikasi supraventrikular aritmia
2. Terapi mekanis
a. Kardioversi : mencakup pemakaian arus listrik untuk menghentikan disritmia yang memiliki
kompleks GRS, biasanya merupakan prosedur elektiI.
b. DeIibrilasi : kardioversi asinkronis yang digunakan pada keadaan gawat darurat.
c. DeIibrilator kardioverter implantabel : suatu alat untuk mendeteksi dan mengakhiri episode
takikardi ventrikel yang mengancam jiwa atau pada pasien yang resiko mengalami Iibrilasi
ventrikel.
d. Terapi pacemaker : alat listrik yang mampu menghasilkan stimulus listrik berulang ke otot
jantung untuk mengontrol Irekuensi jantung.
. !engkajian Keperawatan
Pengkajian primer :
1. Airway
Apakah ada peningkatan sekret ?
Adakah suara naIas : krekels ?
2. Breathing
Adakah distress pernaIasan ?
Adakah hipoksemia berat ?
Adakah retraksi otot interkosta, dispnea, sesak naIas ?
Apakah ada bunyi whezing ?
3. Circulation
Bagaimanakan perubahan tingkat kesadaran ?
Apakah ada takikardi ?
Apakah ada takipnoe ?
Apakah haluaran urin menurun ?
Apakah terjadi penurunan TD ?
Bagaimana kapilery reIill ?
Apakah ada sianosis ?
Pengkajian sekunder
1. Riwayat penyakit
Faktor resiko keluarga contoh penyakit jantung, stroke, hipertensiE
Riwayat IM sebelumnya (disritmia), kardiomiopati, GJK, penyakit katup jantung, hipertensiE
Penggunaan obat digitalis, quinidin dan obat anti aritmia lainnya kemungkinan untuk terjadinya
intoksikasiE
Kondisi psikososialE

2. Pengkajian Iisik
a. Aktivitas : kelelahan umum
b. Sirkulasi : perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; deIisit nadi;
bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit warna dan kelembaban
berubah misal pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menruun bila curah jantung
menurun berat.
c. Integritas ego : perasaan gugup, perasaan terancam, cemas, takut, menolak,marah, gelisah,
menangis.
d. Makanan/cairan : hilang naIsu makan, anoreksia, tidak toleran terhadap makanan, mual
muntah, peryubahan berat badan, perubahan kelembaban kulit
e. Neurosensori : pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
I. Nyeri/ketidaknyamanan : nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat
antiangina, gelisah
g. PernaIasan : penyakit paru kronis, naIas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman
pernaIasan; bunyi naIas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi
pernaIasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau Ienomena tromboembolitik
pulmonal; hemoptisis.
h. Keamanan : demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inIlamasi, eritema, edema (trombosis
siperIisial); kehilangan tonus otot/kekuatan

H. Diagnosa keperawatan dan Intervensi

1. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan konduksi elektrikal,
penurunan kontraktilitas miokardia.
Kriteria hasil :
a. Mempertahankan/meningkatkan curah jantung adekuat yang dibuktikan oleh TD/nadi dalam
rentang normal, haluaran urin adekuat, nadi teraba sama, status mental biasa
b. Menunjukkan penurunan Irekuensi/tak adanya disritmia
c. Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan kerja miokardia.
Intervensi :
1. Raba nadi (radial, Iemoral, dorsalis pedis) catat Irekuensi, keteraturan, amplitudo dan simetris.
2. Auskultasi bunyi jantung, catat Irekuensi, irama. Catat adanya denyut jantung ekstra,
penurunan nadi.
3. Pantau tanda vital dan kaji keadekuatan curah jantung/perIusi jaringan.
4. Tentukan tipe disritmia dan catat irama : takikardi; bradikardi; disritmia atrial; disritmia
ventrikel; blok jantung
5. Berikan lingkungan tenang. Kaji alasan untuk membatasi aktivitas selama Iase akut.
6. Demonstrasikan/dorong penggunaan perilaku pengaturan stres misal relaksasi naIas dalam,
bimbingan imajinasi
7. Selidiki laporan nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas dan Iaktor penghilang/pemberat. Catat
petunjuk nyeri non-verbal contoh wajah mengkerut, menangis, perubahan TD
8. Siapkan/lakukan resusitasi jantung paru sesuai indikasi
Kolaborasi :
1. Pantau pemeriksaan laboratorium, contoh elektrolit
2. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
3. Berikan obat sesuai indikasi : kalium, antidisritmi
4. Siapkan untuk bantu kardioversi elektiI
5. Bantu pemasangan/mempertahankan Iungsi pacu jantung
6. Masukkan/pertahankan masukan IV
7. Siapkan untuk prosedur diagnostik invasiI
8. Siapkan untuk pemasangan otomatik kardioverter atau deIibrilator

2. Kurang pengetahuan tentang penyebab atau kondisi pengobatan berhubungan dengan kurang
inIormasi/salah pengertian kondisi medis/kebutuhan terapi.
Kriteria hasil :
a. menyatakan pemahaman tentang kondisi, program pengobatan
b. Menyatakan tindakan yang diperlukan dan kemungkinan eIek samping obat
Intervensi :
1. Kaji ulang Iungsi jantung normal/konduksi elektrikal
2. Jelakan/tekankan masalah aritmia khusus dan tindakan terapeutik pada pasien/keluarga
3. IdentiIikasi eIek merugikan/komplikasiaritmia khusus contoh kelemahan, perubahan mental,
vertigo.
4. Anjurkan/catat pendidikan tentang obat. Termasuk mengapa obat diperlukan; bagaimana dan
kapan minum obat; apa yang dilakukan bila dosis terlupakan
5. Dorong pengembangan latihan rutin, menghindari latihan berlebihan
6. Kaji ulang kebutuhan diet contoh kalium dan kaIein
7. Memberikan inIormasi dalam bentuk tulisan bagi pasien untuk dibawa pulang
8. Anjurkan psien melakukan pengukuran nadi dengan tepat
9. Kaji ulang kewaspadaan keamanan, teknik mengevaluasi pacu jantung dan gejala yang
memerlukan intervensi medis
10.Kaji ulang prosedur untuk menghilangkan PAT contoh pijatan karotis/sinus, manuver Valsava
bila perlu

`
DAFTAR !USTAKA

1. Hudak, C.M, Gallo B.M. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC.1997
2. Price, Sylvia Anderson. PatoIisiologi : konsep klinis proses-proses penyakit. Alih bahasa
Peter Anugrah. Editor Caroline Wijaya. Ed. 4. Jakarta : EGC ; 1994.
3. Santoso Karo karo. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI ; 1996
4. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih
bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.
5. Doenges, Marilynn E. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan
pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih bahasa I Made Kariasa. Ed. 3. Jakarta : EGC;1999
6. HanaIi B. Trisnohadi. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Ed. 3. Jakarta : Balai Penerbit
FKUI ; 2001

Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 17:51 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Penyakit Dalam
ASUHAN KEPERAWATAN ANCINA PECTURIS {NYERI DADA]
A. !ENERTIAN
1. Angina pektoris adalah nyeri dada yang ditimbukan karena iskemik miokard dan bersiIat
sementara atau reversibel. (Dasar-dasar keperawatan kardiotorasik, 1993)
2. Angina pektoris adalah suatu sindroma kronis dimana klien mendapat serangan sakit dada
yang khas yaitu seperti ditekan, atau terasa berat di dada yang seringkali menjalar ke lengan
sebelah kiri yang timbul pada waktu aktiIitas dan segera hilang bila aktiIitas berhenti. (ProI. Dr.
H.M. SjaiIoellah Noer, 1996)
3. Angina pektoris adalah suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan jenis rasa tidak
nyaman yang biasanya terletak dalam daerah retrosternum. (Penuntun Praktis Kardiovaskuler)

B. ETIOLOI
1. Ateriosklerosis
2. Spasme arteri koroner
3. Anemia berat
4. Artritis
5. Aorta InsuIisiensi

C. FAKTOR-FAKTOR RESIKO
1. Dapat Diubah (dimodiIikasi)
a. Diet (hiperlipidemia)
b. Rokok
c. Hipertensi
d. Stress
e. Obesitas
I. Kurang aktiIitas
g. Diabetes Mellitus
h. Pemakaian kontrasepsi oral

2. Tidak dapat diubah
a. Usia
b. Jenis Kelamin
c. Ras
d. Herediter
e. Kepribadian tipe A

D. FAKTOR !ENCETUS SERANAN
Faktor pencetus yang dapat menimbulkan serangan antara lain :
1. Emosi
2. Stress
3. Kerja Iisik terlalu berat
4. Hawa terlalu panas dan lembab
5. Terlalu kenyang
6. Banyak merokok

E. ABARAN KLINIS
1. Nyeri dada substernal ataru retrosternal menjalar ke leher, tenggorokan daerah inter skapula
atau lengan kiri.
2. Kualitas nyeri seperti tertekan benda berat, seperti diperas, terasa panas, kadang-kadang hanya
perasaan tidak enak di dada (chest discomIort).
3. Durasi nyeri berlangsung 1 sampai 5 menit, tidak lebih daari 30 menit.
4. Nyeri hilang (berkurang) bila istirahat atau pemberian nitrogliserin.
5. Gejala penyerta : sesak naIas, perasaan lelah, kadang muncul keringat dingin, palpitasi,
dizzines.
6. Gambaran EKG : depresi segmen ST, terlihat gelombang T terbalik.
7. Gambaran EKG seringkali normal pada waktu tidak timbul serangan.

F. TI!E SERANAN
1. Angina Pektoris Stabil
Awitan secara klasik berkaitan dengan latihan atau aktiIitas yang meningkatkan kebutuhan
oksigen niokard.7
Nyeri segera hilang dengan istirahat atau penghentian aktiIitas.7
Durasi nyeri 3 15 menit.7
2. Angina Pektoris Tidak Stabil
SiIat, tempat dan penyebaran nyeri dada dapat mirip dengan angina pektoris stabil.7
Adurasi serangan dapat timbul lebih lama dari angina pektoris stabil.7
Pencetus dapat terjadi pada keadaan istirahat atau pada tigkat aktiIitas ringan.7
Kurang responsiI terhadap nitrat.7
Lebih sering ditemukan depresisegmen ST.7
Dapat disebabkan oleh ruptur plak aterosklerosis, spasmus, trombus atau trombosit yang
beragregasi.7
3. Angina Prinzmental (Angina Varian).
Sakit dada atau nyeri timbul pada waktu istirahat, seringkali pagi hari.7
Nyeri disebabkan karena spasmus pembuluh koroneraterosklerotik.7
EKG7 menunjukkan elevaasi segmen ST.
Cenderung berkembang menjadi inIaark miokard akut.7
Dapat terjadi aritmia.7

. !ATOFISIOLOI DAN !ATHWAYS
Mekanisme timbulnya angina pektoris didasarkan pada ketidakadekuatan suply oksigen ke sel-
sel miokardium yang diakibatkan karena kekauan arteri dan penyempitan lumen arteri koroner
(ateriosklerosis koroner). Tidak diketahui secara pasti apa penyebab ateriosklerosis, namun jelas
bahwa tidak ada Iaktor tunggal yang bertanggungjawab atas perkembangan ateriosklerosis.
Ateriosklerosis merupakan penyakir arteri koroner yang paling sering ditemukan. Sewaktu beban
kerja suatu jaringan meningkat, maka kebutuhan oksigen juga meningkat. Apabila kebutuhan
meningkat pada jantung yang sehat maka artei koroner berdilatasi dan megalirkan lebih banyak
darah dan oksigen keotot jantung. Namun apabila arteri koroner mengalami kekauan atau
menyempit akibat ateriosklerosis dan tidak dapat berdilatasi sebagai respon terhadap peningkatan
kebutuhan akan oksigen, maka terjadi iskemik (kekurangan suplai darah) miokardium.
Adanya endotel yang cedera mengakibatkan hilangnya produksi No (nitrat Oksid0 yang
berIungsi untuk menghambat berbagai zat yang reaktiI. Dengan tidak adanya Iungsi ini dapat
menyababkan otot polos berkontraksi dan timbul spasmus koroner yang memperberat
penyempitan lumen karena suplai oksigen ke miokard berkurang. Penyempitan atau blok ini
belum menimbulkan gejala yang begitu nampak bila belum mencapai 75 . Bila penyempitan
lebih dari 75 serta dipicu dengan aktiIitas berlebihan maka suplai darah ke koroner akan
berkurang. Sel-sel miokardium menggunakan glikogen anaerob untuk memenuhi kebutuhan
energi mereka. Metabolisme ini menghasilkan asam laktat yang menurunkan pH miokardium
dan menimbulkan nyeri. Apabila kenutuhan energi sel-sel jantung berkurang, maka suplai
oksigen menjadi adekuat dan sel-sel otot kembali IosIorilasi oksidatiI untuk membentuk energi.
Proses ini tidak menghasilkan asam laktat. Dengan hilangnya asam laktat nyeri akan reda.


(Untuk memperbesar klik gambar)
H. DIANOSA KE!ERAWATAN YAN UNKIN UNCUL
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
2. Intoleransi aktiIitas berhubungan dengan berkurangnya curah jantung.
3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya inIormasi.

I. FOKUS INTERVENSI
1. Nyeri akut berhubungan dengan iskemik miokard.
Intervensi :
Kaji gambaran dan Iaktor-Iaktor yang memperburuk nyeri.7
Letakkan klien pada istirahat total selama episode angina (24-30 jam pertama) dengan posisi
semi Iowler.7
Observasi tanda vital tiap 5 menit setiap serangan angina.7
Ciptakanlingkunan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.7
Berikan makanan lembut dan biarkan klien istirahat 1 jam setelah makan.7
Tinggal dengan klien yang mengalami nyeri atau tampak cemas.7
Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi.7
Kolaborasi pengobatan.7

2. Intoleransi aktiIitas berhubungan dengan kurangnya curah jantung.
Intervensi :
Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman.7
Berikan periode istirahat adekuat, bantu dalam pemenuhan aktiIitas perawatan diri sesuai
indikasi.7
Catat warna kulit dan kualittas nadi.7
Tingkatkan katiIitas klien secara teratur.7
Pantau EKG dengan sering.7

3. Ansietas berhubungan dengan rasa takut akan ancaman kematian yang tiba-tiba.
Intervensi :
Jelaskan semua prosedur tindakan.7
Tingkatkan ekspresi perasaan dan takut.7
Dorong keluarga dan teman utnuk menganggap klien seperti sebelumnya.7
7 Beritahu klien program medis yang telah dibuat untuk menurunkan/membatasi serangan akan
datang dan meningkatkan stabilitas jantung.
Kolaborasi.7

4. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai kodisi, kebutuhan pengobatan
berhubungan dengan kurangnya inIormasi.
Intervensi :
Tekankan perlunya mencegah serangan angina.7
Dorong untuk menghindari Iaktor/situasi yang sebagai pencetus episode angina.7
Kaji pentingnya kontrol berat badan, menghentikan kebiasaan merokok, perubahan diet dan olah
raga.7
Tunjukkan/ dorong klien untuk memantau nadi sendiri selama aktiIitas, hindari tegangan.7
Diskusikan langkah yang diambil bila terjadi serangan angina.7
Dorong klien untuk mengikuti program yang telah ditentukan.7

DAFTAR !USTAKA


1. Corwin, Elizabeth, Buku Saku PatoIisiologi, Jakarta, EGC, 2000.

2. Chung, EK, Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler, Jakarta, EGC, 1996

3. Doenges, Marylinn E, Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, EGC, 1998

4. Engram, Barbara, Rencana Asuhan Keperawatan edikal Bedah volume 2, Jakarta, EGC,
1998

5. Long, C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah 2, Bandung, IAPK, 1996

6. Noer, SjaiIoellah, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jakarta, FKUI, 1996

7. Price, Sylvia Anderson, PatoIisiologi Buku I Jakarta, EGC, 1994

8. ..., Dasar-dasar Keperawatan Kardiotorasik (Kumpulan Bahan Kuliah edisi ketiga),Jakarta
: RS Jantung Harapan Kita, 1993.

9. Tucker, Susan Martin, Standar Perawatan Pasien Volume I, Jakarta, EGC, 1998

10. Underwood, J C E, Pathologi Volume 1 , Jakarta, EGC, 1999
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 17:35 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Penyakit Dalam
ASUHAN KEPERAWATAN INFARK MIUKARD AKUT {AMI]
A. !ENERTIAN
Infark miokardium mengacu pada proses rusaknya jaringan jantung akibat suplai darah yang
tidak adekuat sehingga aliran darah koroner berkurang.
(Brunner & Sudarth, 2002)
InIark miocard akut adalah nekrosis miocard akibat aliran darah ke otot jantung terganggu.
(Suyono, 1999)

B. ETIOLOI (kasuari, 2002)
. faktor penyebab :
a. Suplai oksigen ke miocard berkurang yang disebabkan oleh 3 Iaktor :
- Faktor pembuluh darah :
Aterosklerosis.
Spasme
Arteritis

- Faktor sirkulasi :
Hipotensi
Stenosos aurta
insuIisiensi

- Faktor darah :
Anemia
Hipoksemia
polisitemia

b. Curah jantung yang meningkat :
- AktiIitas berlebihan
- Emosi
- Makan terlalu banyak
- hypertiroidisme

c. Kebutuhan oksigen miocard meningkat pada :
- Kerusakan miocard
- Hypertropimiocard
- Hypertensi diastolic

2. Faktor predisposisi :
a. Iaktor resiko biologis yang tidak dapat diubah :
- usia lebih dari 40 tahun
- jenis kelamin : insiden pada pria tinggi, sedangkan pada wanita meningkat setelah menopause
- hereditas
- Ras : lebih tinggi insiden pada kulit hitam.

b. Faktor resiko yang dapat diubah :
- Mayor :
hiperlipidemia
hipertensi
Merokok
Diabetes
Obesitas
Diet tinggi lemak jenuh, kalori

- Minor:
InaktiIitas Iisik
Pola kepribadian tipe A (emosional, agresiI, ambisius, kompetitiI).
Stress psikologis berlebihan.
C. TANDA DAN E1ALA
Tanda dan gejala infark miokard ( TRIAS ) adalah :
1. Nyeri :
a. Nyeri dada yang terjadi secara mendadak dan terus-menerus tidak mereda, biasanya diatas
region sternal bawah dan abdomen bagian atas, ini merupakan gejala utama.
b. Keparahan nyeri dapat meningkat secaara menetap sampai nyeri tidak tertahankan lagi.
c. Nyeri tersebut sangat sakit, seperti tertusuk-tusuk yang dapat menjalar ke bahu dan terus ke
bawah menuju lengan (biasanya lengan kiri).
d. Nyeri mulai secara spontan (tidak terjadi setelah kegiatan atau gangguan emosional), menetap
selama beberapa jam atau hari, dan tidak hilang dengan bantuan istirahat atau nitrogliserin
(NTG).
e. Nyeri dapat menjalar ke arah rahang dan leher.
I. Nyeri sering disertai dengan sesak naIas, pucat, dingin, diaIoresis berat, pening atau kepala
terasa melayang dan mual muntah.
g. Pasien dengan diabetes melitus tidak akan mengalami nyeri yang hebat karena neuropati yang
menyertai diabetes dapat mengganggu neuroreseptor (mengumpulkan pengalaman nyeri).

2. Laborat
Pemeriksaan Enzim jantung :
a. CPK-MB/CPK
Isoenzim yang ditemukan pada otot jantung meningkat antara 4-6 jam, memuncak dalam 12-24
jam, kembali normal dalam 36-48 jam.
b. LDH/HBDH
Meningkat dalam 12-24 jam dam memakan waktu lama untuk kembali normal
c. AST/SGOT
Meningkat ( kurang nyata/khusus ) terjadi dalam 6-12 jam, memuncak dalam 24 jam, kembali
normal dalam 3 atau 4 hari

3. EKG
Perubahan EKG yang terjadi pada Iase awal adanya gelombang T tinggi dan simetris. Setelah ini
terdapat elevasi segmen ST.Perubahan yang terjadi kemudian ialah adanya gelombang Q/QS
yang menandakan adanya nekrosis.

Skor nyeri menurut White :
0 tidak mengalami nyeri
1 nyeri pada satu sisi tanpa menggangu aktiIitas
2 nyeri lebih pada satu tempat dan mengakibatkan terganggunya aktiIitas, mislnya kesulitan
bangun dari tempat tidur, sulit menekuk kepala dan lainnya.

D. !ATHWAYS



E. !EERIKSAAN !ENUN1AN
1. EKG
Untuk mengetahui Iungsi jantung : T. Inverted, ST depresi, Q. patologis
2. Enzim Jantung.
CPKMB, LDH, AST
3. Elektrolit.
Ketidakseimbangan dapat mempengaruhi konduksi dan kontraktilitas, missal hipokalemi,
hiperkalemi
4. Sel darah putih
Leukosit ( 10.000 20.000 ) biasanya tampak pada hari ke-2 setelah IMA berhubungan dengan
proses inIlamasi
5. Kecepatan sedimentasi
Meningkat pada ke-2 dan ke-3 setelah AMI , menunjukkan inIlamasi.
6. Kimia
Mungkin normal, tergantung abnormalitas Iungsi atau perIusi organ akut atau kronis
7. GDA
Dapat menunjukkan hypoksia atau proses penyakit paru akut atau kronis.
8. Kolesterol atau Trigliserida serum
Meningkat, menunjukkan arteriosclerosis sebagai penyebab AMI.
9. Foto dada
Mungkin normal atau menunjukkan pembesaran jantung diduga GJK atau aneurisma ventrikuler.
10. Ekokardiogram
Dilakukan untuk menentukan dimensi serambi, gerakan katup atau dinding ventrikuler dan
konIigurasi atau Iungsi katup.
11. Pemeriksaan pencitraan nuklir
a. Talium : mengevaluasi aliran darah miocardia dan status sel miocardia missal lokasi atau
luasnya IMA
b. Technetium : terkumpul dalam sel iskemi di sekitar area nekrotik
12. Pencitraan darah jantung (MUGA)
Mengevaluasi penampilan ventrikel khusus dan umum, gerakan dinding regional dan Iraksi
ejeksi (aliran darah)
13. AngiograIi koroner
Menggambarkan penyempitan atau sumbatan arteri koroner. Biasanya dilakukan sehubungan
dengan pengukuran tekanan serambi dan mengkaji Iungsi ventrikel kiri (Iraksi ejeksi). Prosedur
tidak selalu dilakukan pad Iase AMI kecuali mendekati bedah jantung angioplasty atau
emergensi.
14. Digital subtraksion angiograIi (PSA)
Teknik yang digunakan untuk menggambarkan
15. Nuklear Magnetic Resonance (NMR)
Memungkinkan visualisasi aliran darah, serambi jantung atau katup ventrikel, lesivaskuler,
pembentukan plak, area nekrosis atau inIark dan bekuan darah.
16. Tes stress olah raga
Menentukan respon kardiovaskuler terhadap aktiIitas atau sering dilakukan sehubungan dengan
pencitraan talium pada Iase penyembuhan.

F. !ENATALAKSANAAN
1. Rawat ICCU, puasa 8 jam
2. Tirah baring, posisi semi Iowler.
3. Monitor EKG
4. InIus D5 10 12 tetes/ menit
5. Oksigen 2 4 lt/menit
6. Analgesik : morphin 5 mg atau petidin 25 50 mg
7. Obat sedatiI : diazepam 2 5 mg
8. Bowel care : laksadin
9. Antikoagulan : heparin tiap 4 6 jam /inIus
10. Diet rendah kalori dan mudah dicerna
11. Psikoterapi untuk mengurangi cemas


. !ENKA1IAN !RIER
1. Airways
- Sumbatan atau penumpukan secret
- Wheezing atau krekles
2. Breathing
- Sesak dengan aktiIitas ringan atau istirahat
- RR lebih dari 24 kali/menit, irama ireguler dangkal
- Ronchi, krekles
- Ekspansi dada tidak penuh
- Penggunaan otot bantu naIas
3. Circulation
- Nadi lemah , tidak teratur
- Takikardi
- TD meningkat / menurun
- Edema
- Gelisah
- Akral dingin
- Kulit pucat, sianosis
- Output urine menurun

H. !ENKA1IAN SEKUNDER.
1. AktiIitas
Gejala :
- Kelemahan
- Kelelahan
- Tidak dapat tidur
- Pola hidup menetap
- Jadwal olah raga tidak teratur
Tanda :
- Takikardi
- Dispnea pada istirahat atau aaktiIitas

2. Sirkulasi
Gejala : riwayat IMA sebelumnya, penyakit arteri koroner, masalah tekanan darah, diabetes
mellitus.
Tanda :
- Tekanan darah
Dapat normal / naik / turun
Perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk atau berdiri
- Nadi
Dapat normal , penuh atau tidak kuat atau lemah / kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler
lambat, tidak teratus (disritmia)
- Bunyi jantung
Bunyi jantung ekstra : S3 atau S4 mungkin menunjukkan gagal jantung atau penurunan
kontraktilits atau komplain ventrikel
- Murmur
Bila ada menunjukkan gagal katup atau disIungsi otot jantung
- Friksi ; dicurigai Perikarditis
- Irama jantung dapat teratur atau tidak teratur
- Edema
Distensi vena juguler, edema dependent , periIer, edema umum,krekles mungkin ada dengan
gagal jantung atau ventrikel
- Warna
Pucat atau sianosis, kuku datar , pada membran mukossa atau bibir

3. Integritas ego
Gejala : menyangkal gejala penting atau adanya kondisi takut mati, perasaan ajal sudah dekat,
marah pada penyakit atau perawatan, khawatir tentang keuangan , kerja , keluarga
Tanda : menoleh, menyangkal, cemas, kurang kontak mata, gelisah, marah, perilaku menyerang,
Iocus pada diri sendiri, koma nyeri

4. Eliminasi
Tanda : normal, bunyi usus menurun.

5.Makanan atau cairan
Gejala : mual, anoreksia, bersendawa, nyeri ulu hati atau terbakar
Tanda : penurunan turgor kulit, kulit kering, berkeringat, muntah, perubahan berat badan

6. Hygiene
Gejala atau tanda : lesulitan melakukan tugas perawatan

7. Neurosensori
Gejala : pusing, berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk atau istrahat )
Tanda : perubahan mental, kelemahan

8. Nyeri atau ketidaknyamanan
Gejala :
- Nyeri dada yang timbulnya mendadak (dapat atau tidak berhubungan dengan aktiIitas ), tidak
hilang dengan istirahat atau nitrogliserin (meskipun kebanyakan nyeri dalam dan viseral)
- Lokasi :
Tipikal pada dada anterior, substernal , prekordial, dapat menyebar ke tangan, ranhang, wajah.
Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.
- Kualitas :
'Crushing , menyempit, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat .
- Intensitas :
Biasanya 10(pada skala 1 -10), mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.
- Catatan : nyeri mungkin tidak ada pada pasien pasca operasi, diabetes mellitus , hipertensi,
lansia

9. PernaIasan:
Gejala :
- dispnea tanpa atau dengan kerja
- dispnea nocturnal
- batuk dengan atau tanpa produksi sputum
- riwayat merokok, penyakit pernaIasan kronis.
Tanda :
- peningkatan Irekuensi pernaIasan
- naIas sesak / kuat
- pucat, sianosis
- bunyi naIas ( bersih, krekles, mengi ), sputum

10. Interkasi social
Gejala :
- Stress
- Kesulitan koping dengan stressor yang ada missal : penyakit, perawatan di RS
Tanda :
- Kesulitan istirahat dengan tenang
- Respon terlalu emosi ( marah terus-menerus, takut )
- Menarik diri

I. DIANOSA KE!ERAWATAN DAN INTERVENSI
1. Nyeri berhubungan dengan iskemia jaringan sekunder terhadap sumbatan arteri ditandai
dengan :
nyeri dada dengan / tanpa penyebaran
wajah meringis
gelisah
delirium
perubahan nadi, tekanan darah.
Tujuan :
Nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan perawatan selama di RS
Kriteria Hasil:
Nyeri dada berkurang misalnya dari skala 3 ke 2, atau dari 2 ke 1
ekpresi wajah rileks / tenang, tak tegang
tidak gelisah
nadi 60-100 x / menit,
TD 120/ 80 mmHg
Intervensi :
Observasi karakteristik, lokasi, waktu, dan perjalanan rasa nyeri dada tersebut.
Anjurkan pada klien menghentikan aktiIitas selama ada serangan dan istirahat.
Bantu klien melakukan tehnik relaksasi, mis naIas dalam, perilaku distraksi, visualisasi, atau
bimbingan imajinasi.
Pertahankan Olsigenasi dengan bikanul contohnya ( 2-4 L/ menit )
Monitor tanda-tanda vital ( Nadi & tekanan darah ) tiap dua jam.
Kolaborasi dengan tim kesehatan dalam pemberian analgetik.

2. Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan Iactor-Iaktor listrik,
penurunan karakteristik miokard
Tujuan :
Curah jantung membaik / stabil setelah dilakukan tindakan keperawatan selama di RS
Kriteria Hasil :
Tidak ada edema
Tidak ada disritmia
Haluaran urin normal
TTV dalam batas normal
Intervensi :
Pertahankan tirah baring selama Iase akut
Kaji dan laporkan adanya tanda tanda penurunan COP, TD
Monitor haluaran urin
Kaji dan pantau TTV tiap jam
Kaji dan pantau EKG tiap hari
Berikan oksigen sesuai kebutuhan
Auskultasi pernaIasan dan jantung tiap jam sesuai indikasi
Pertahankan cairan parenteral dan obat-obatan sesuai advis
Berikan makanan sesuai diitnya
Hindari valsava manuver, mengejan ( gunakan laxan )

3. Gangguan perIusi jaringan berhubungan dengan , iskemik, kerusakan otot jantung,
penyempitan / penyumbatan pembuluh darah arteri koronaria ditandai dengan :
Daerah periIer dingin
EKG elevasi segmen ST & Q patologis pada lead tertentu
RR lebih dari 24 x/ menit
Kapiler reIill Lebih dari 3 detik
Nyeri dada
Gambaran Ioto torak terdpat pembesaran jantung & kongestiI paru ( tidak selalu )
HR lebih dari 100 x/menit, TD ~ 120/80AGD dengan : pa O2 ~ 45 mmHg dan Saturasi ~
45 mmHg dan Saturasi ~ 45 mmHg dan Saturasi style"text-align: center;"~
DAFTAR !USTAKA

1. Carolyn M. Hudak. Critical Care Nursing : A Holistic Approach. Edisi VII. Volume II. Alih
Bahasa : Monica E. D Adiyanti. Jakarta : EGC ; 1997
2. Susan Martin Tucker. Patient Care Standarts. Volume 2. Jakarta : EGC ; 1998
3. Lynda Juall Carpenito. Handbook OI Nursing Diagnosis. Edisi 8. Jakarta : EGC ; 2001
4. Long, B.C. Essential oI medical surgical nursing : A nursing process approach. Volume 2.
Alih bahasa : Yayasan IAPK. Bandung: IAPK Padjajaran; 1996 (Buku asli diterbitkan tahun
1989)
5. Smeltzer, S.C. & Bare, B.G. Brunner and Suddarth`s textbook oI medical surgical nursing.
8th Edition. Alih bahasa : Waluyo, A. Jakarta: EGC; 2000 (Buku asli diterbitkan tahun 1996)
6. Corwin, E.J. Handbook oI pathophysiology. Alih bahasa : Pendit, B.U. Jakarta: EGC; 2001
(Buku asli diterbitkan tahun 1996)
7. Price, S.A. & Wilson, L.M. Pathophysiology: Clinical concept oI disease processes. 4th
Edition. Alih bahasa : Anugerah, P. Jakarta: EGC; 1994 (Buku asli diterbitkan tahun 1992)
8. Doengoes, M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C. Nursing care plans: Guidelines Ior planning
and documenting patients care. Alih bahasa: Kariasa, I.M. Jakarta: EGC; 1999 (Buku asli
diterbitkan tahun 1993)
9. Suyono, S, et al. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2001
10. AriI Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1. Jakarta : Media Aesculapius ; 2000
11. Sandra M. Nettina , Pedoman Praktik Keperawatan, Jakarta, EGC, 2002
12. Kasuari, Asuhan Keperawatan Sistem Pencernaan dan Kardiovaskuler Dengan Pendekatan
PatoIisiology, Magelang, Poltekes Semarang PSIK Magelang, 2002
Diposkan oleh Muh. Andrian Senoputra di 16:42 Link ke posting ini
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook
Label: Penyakit Dalam
TIN)AUAN TEURI CACAL )ANTUNC KUNCESTIF {CHF]
A. DEFINISI
agal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah
yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadp oksigen dan nutrien. (Diane C.
Baughman dan Jo Ann C. Hockley, 2000)
Suatu keadaan patoIisiologi adanya kelainan fungsi jantung berakibat jantung gagal
memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya
hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri (Braundwald )

B. ETIOLOI
agal jantung kongestif dapat disebabkan oleh :
Kelainan otot jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, disebabkan menurunnya
kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan Iungsi otot mencakup
ateriosklerosis koroner, hiprtensi arterial, dan penyakit degeneratiI atau inIlamasi.
Aterosklerosis koroner mengakibatkan disIungsi miokardium karena terganggunya aliran
darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpuikan asam laktat). InIark
miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan
dan penyakit miokardium degeneratiI, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi yang
secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitaas menurun.
Hipertensi sistemik atau pulmonal ( peningkatan aIterload ) meningkatkan beban kerja jantung
dan pada gilirannya mngakibatkan hipertroIi serabut otot jantung
Peradangan dan penyakit myocardium degeneratiI, berhubungan dengan gagal jantung karena
kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
Penyakit jantung lainZ

agal jantung dapat terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang ssecara
langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah
yang masuk jantung (stenosis katup semiluner), ketidak mampuan jantung untuk mengisi darah
(tamponade, perikardium, perikarditiI konstriktiI, atau stenosis AV), peningkatan mendadak
aIteer load.
Faktor sistemikZ
Terdapat sejumlah besar Iaktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung.
Meningkatnya laju metabolisme(mis : demam, tirotoksikosis ), hipoksia dan anemia peperlukan
peningkatan curah jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen sistemik. Hipoksia dan anemia
juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis respiratorik atau metabolik dan
abnormalita elekttronik dapat menurunkan kontraktilitas jantung

Grade agal jantung menurut New york Heart Associaion
Terbagi menjadi 4kelainan Iungsional :
I. Timbul gejala sesak pada aktiIitas Iisik berat
II. Timbul gejala sesak pada aktiIitas Iisik sedang
III.Timbul gejala sesak pada aktiIitas ringan
IV. Timbul gejala sesak pada aktiIitas sangat ringan/ istirahat

C. ANIFESTASI KLINIS
Tanda dominan :
Meningkatnya volume intravaskuler
KongestiI jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat akibat penurunan curah
jantungManiIestasi kongesti dapat berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang
terjadi .
Gagal jantung kiri :
Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri krn ventrikel kiri tak mampu memompa darah
yang datang dari paru. ManiIestasi klinis yang terjadi yaitu :
o Dispnu
Terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli dan mengganggu pertukaran gas.Dapat terjadi
ortopnu.Bebrapa pasien dapat mengalami ortopnu pda malam hari yang dinamakan Paroksimal
Nokturnal Dispnea ( PND)
o Batuk
o Mudah lelah
Terjadi karena curah jantung yang kurang yang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan
oksigen serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolismeJuga terjadi karena meningkatnya
energi yang digunakan untuk bernaIas dan insomnia yang terjadi karena distress pernaIasan dan
batuk.
o Kegelisahan dan kecemasan
Terjadi akibat gangguan oksigenasi jaringan, stress akibat kesakitan bernaIas dan pengetahuan
bahwa jantung tidak berIungsi dengan baik.

Gagal jantung kanan
1. KongestiI jaringan periIer dan viseral.
2. Edema ekstrimitas bawah (edema dependen), biasanya edema pitting, penambahan berat
badan,
3. Hepatomegali. Dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran
vena di hepar.
4. Anorexia dan mual. Terjadi akibat pembesaran vena dan statis vena dalam rongga abdomen.
5. Nokturia
6. Kelemahan.

D. EVALUASI DIANOSTIK
Meliputi evaluasi maniIestasi klinis dan pemantauan hemodinamik.
Pengukuran tekanan preload, aIterload dan curah jantung dapat diperoleh melalui lubang-lubang
yang terl;etak pada berbagai interIal sepanjang kateter. Pengukuran CVP ( N 15-20 mmhg )
dapat menghasilkan pengukuran preload yang akurat .PAWP atau pulmonary artery wedge
pressure adalaah tekanan penyempitan arteri pulmonal dimana yang diukur adalah takanan akhir
diastolic ventrikel kiri.
Curah Jantung diukur dengan suatu lumen termodelusi yang dihubungjkn dengan komputer

E. !ENATALAKSANAAN
Tujuan pengobatan adalah :
Dukung istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung.
Meningkatkan kekuatan dan eIisiensi kontraktilitas miokarium dengan preparat Iarmakologi,
dan
Membuang penumpukan air tubuh yang berlebihan dengan cara memberikan terapi antidiuretik,
diit dan istirahat.
Terapi Farmakologis :
Glikosida jantung.7
Digitalis , meningkatkan kekuatan kontraksi otot jantung dan memperlambat Irekuensi
jantung.EIek yang dihasilkan : peningkatan curah jantung, penurunan tekanan vena dan volume
darah dan peningkatan diuresisidan mengurangi edema
Terapi diuretik.7
Diberikan untuk memacu eksresi natrium dan air mlalui ginjal.Penggunaan hrs hati hati karena
eIek samping hiponatremia dan hipokalemia
Terapi vasodilator.7
Obat-obat IasoaktiI digunakan untuk mengurangi impadansi tekanan terhadap penyemburan
darah oleh ventrikel. Obat ini memperbaiki pengosongan ventrikel dan peningkatan kapasitas
vena sehingga tekanan engisian ventrikel kiri dapat dituruinkan

Dukungan diet:
Pembatasan Natrium untuk mencegah, mengontrol, atau menghilangkan edema.


!ROSES KE!ERAWATAN
!engkajian
Fokus pengkajian keperawatan ditujukan untuk mngobservasi adanya tanda-tanda dan gejala
kelebihan ciaran paru dan tanda serta gejala sistemis.
AktiIitas /istirahatZ
Keletihan, insomnia, nyeri dada dengan ktiIitas, gelisah, dispnea saat istirahat atau aktiIitas,
perubhan status mental, tanda vital berubah saat beraktiIitas.
SirkulasiZ
Riwayat HT IM akut, GJK sebelumnya, penyakit katup jantung,anemia , syok dll
TD, tekanan nadi Irekuensi jantung, irama jantung, nadi apical bunyu jantung S3 galop nadi
periIer bekurang perubahan dalam denyutan nadi jugularis warna kulit kebiruan punggung kuku
pucat atau sianosis hepar adakag pembesaran bunyi naIas krekles atau ronkhi edema.
Inegritas egoZ
Ansietas stress marah taku dan mudah tersinggung
EliminasiZ
Gejala penurunan berkemih urun berwarna pekat, berkemih malam hario diare/ konsipasi.
Makanan / cairanZ
Kehilangan naIsu makan mual, muntah, penambahan BbsigniIikan, Pembengkakan ektrimitas
bawah, diit tinggi garam pengunaan diuretic distensi abdomen edema umum dll.
HygieneZ
Keletihan selama aktiIitas perawatan diri, penampilan kurang
NeurosensoriZ
Kelemahan, pusing letargi, perubahan perilaku dan mudah tersinggung
Nyeri/kenyamananZ
Nyeri dada akut kronuk nyeri abdomen sakit pada otot gelisah
PernaIasankeamananZ
Dispnea saat aktiIitas tidur sambil duduk atau dngan beberapa bantal.btuk dengan atau tanpa
sputum penggunaan bantuan otot pernaIasan oksigen dll. Bunyi naIas warna kulit.
Interaksi socialPenurunan aktiIitas yang biasa dilakukanZ

!emeriksaan Diagnostik :
(a) Foto torak dapat mengungkapkan adanya pembesaran jantung, edema atau eIusi pleura yang
menegaskan diagnosa CHF.
(b) EKG dapat mengungkapkan adanya takhikardi, hipertropi bilik jantung dan iskemi (jika
disebabkan oleh AMI).
(c) Elektrolit serum yang mengungkapkan kadar natrium yang rendah shg hasil hemodilusi darah
dari adanya kelebihan retensi air.

F. DIANOSA KE!ERAWATAN
1. Penurunan perIusi jaringan behubungan dngan menurunnya curah jantung , hipoksemia
jaringan, asidosis, dan kemungkinan thrombus atau emboli
Kemungkinan dibuktikan oleh :
Daerah periIer dinginE
EKG elevasi segmen STE & Q patologis pada lead tertentu
RR lebih dari 24 x/ menitE
Kapiler reIill Lebih dari 3 detikE
Nyeri dadaE
Gambaran Ioto torak terdpat pembesaran jantungE & kongestiI paru
( tidak selalu )
E HR lebih dari 100 x/menit, TD ~ 120/80AGD dengan : pa O2 ~ 45 mmHg dan Saturasi ~
45 mmHg dan Saturasi ~ 45 mmHg dan Saturasi style"text-align: center;"~DAFTAR
!USTAKA

Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan edikal Bedah, edisi 8, 1997, EGC, Jakarta.

Doenges E. Marlynn, Rencana Asuhan Keperawatan , 2000, EGC, Jakarta.

Gallo & Hudak, Keperawatan Kritis, edisi VI, 1997, EGC Jakarta

Noer StaIIoeloh et all, Buku Ajar Ilmu !enyakit Dalam Jilid I, 1999, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta

Nursalam. M.Nurs, anagemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktek Keperawatan
ProIesional, 2002, Salemba Medika, Jakarta

Russel C Swanburg, !engantar keparawatan, 2000, EGC, Jakarta.