Anda di halaman 1dari 3

KTT GNB Hasilkan KE 13

Deklarasi Kuala Lumpur


Suara Karya: 26 Februari 2003
KUALA LUMPUR (Suara Karya): KTT Gerakan Nonblok (GNB) menghasilkan Deklarasi
Kuala Lumpur yang merujuk pada peningkatan peran dan pentingnya GNB dalam mencapai
tujuan melalui serangkaian tindakan. Misalnya mengonsolidasikan kekuatan yang menyatukan
anggota GNB.
Para kepala negara dan pemerintahan yang tergabung dalam GNB sepakat bahwa
untuk mencapai revitalisasi GNB, mereka harus melaksanakan setiap upaya menuju
terciptanya dunia banyak kutub melalui perkuatan peran PBB yang memelihara
perdamaian dan keamanan internasional.
Menlu Malaysia Hamid Albar menjelaskan, dalam Deklarasi Kuala Lumpur, yang
berlandaskan pada Deklarasi Bandung 1955 dan dikeluarkan pada akhir KTT, para kepala
negara dan kepala pemerintahan menyampaikan keinginan agar PBB meningkatkan hak
asasi manusia, pembangunan sosial serta ekonomi, dan penghormatan hukum
internasional sebagaimana tercantum dalam Piagam PBB.
Deklarasi Kuala Lumpur disepakati oleh para kepala negara dan pemerintahan GNB,
kata Hamid, pada taklimat Selasa petang.
Kuala Lumpur menjadi tuan rumah KTT ke-13 GNB yang berlangsung selama 20-25
Februari. Perhelatan akbar itu diawali oleh pertemuan tertutup dua hari di tingkat pejabat
senior (SOM), lalu pertemuan tertutup tingkat menlu.
SOM dibagi dalam dua komite, yaitu Komite Politik serta Komite Sosial Ekonomi.
Sementara pertemuan tingkat menteri dibagi dalam empat kelompok kerja guna
membahas berbagai masalah internasional saat ini, termasuk konflik Irak, Palestina, dan
Korut.
Dalam Deklarasi Kuala Lumpur, mereka menyatakan bahwa setelah lebih 40 tahun
sejak GNB berdiri dan setelah melalui banyak tantangan dan rintangan, sudah tiba
waktunya secara menyeluruh mengkaji peran, susunan, dan metode kerja GNB.
Tujuannya agar GNB dapat mengikuti zaman dan kondisi baru serta dapat lebih
memperkuat gerakan.
Dengan terjadinya peningkatan globalisasi dan kemajuan cepat dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi, dunia telah berubah secara drastis. "Negara kaya
memaksakan pengaruh dalam menentukan sifat dan arah hubungan internasional,
termasuk hubungan ekonomi dan perdagangan serta ketentuan yang mengatur hubungan
itu - dalam banyak hal bahkan dengan mengorbankan negara berkembang," kata Hamid.
Karena itu, GNB harus menanggapi dengan menjamin relevansi dan manfaat yang
berlanjut bagi anggota-anggotanya. Untuk menjadi tindakan, mereka menetapkan
sembilan upaya, yaitu meningkatkan persatuan dengan dasar kepentingan dan sejarah
perjuangan bersama serta memelihara upaya menjamin semua kepentingan itu terus
ditingkatkan dan keprihatinan ditangani penuh.
Lalu menegakkan prinsip dasar GNB dan Piagam PBB dalam memelihara serta
meningkatkan perdamaian dunia melalui dialog dan diplomasi di kalangan negara
anggota, dan menghindarkan penggunaan kekuataan untuk menyelesaikan konflik.
Di sisi lain, meningkatkan serta memperkuat proses banyak pihak sebagai sarana
yang harus ada dalam memelihara kepentingan negara anggota GNB dan PBB, mendorong
demokratisasi sistem pemerintahan internasional guna meningkatkan keterlibatan negara
berkembang dalam pengambilan keputusan tingkat internasional.
Upaya lain, bersikap proaktif dalam menghadapi perkembangan internasional -
terutama yang berdampak pada anggota GNB - dengan tujuan menjamin GNB tidak
tersisih, tetapi berada di pusat proses pengambilan keputusan tingkat internasional;
memperkuat kemampuan nasional untuk meningkatkan kelenturan individu dan kolektif,
meningkatkan kerja sama Selatan-Selatan pada semua bidang hubungan, terutama sosial,
politik, budaya, ekonomi dan ilmu pengetahuan.
Lalu meningkatkan hubungan kerja sama yang lebih dinamis dengan negara industri
maju, dengan dasar keterlibatan konstruktif, kemitraan luas dan saling menguntungkan;
mendorong interaksi dan kerja sama lebih besar dengan berbagai organisasi masyarakat
di negara anggota GNB, sektor swasta dan anggota parlemen dengan pengakuan bahwa
mereka dapat memainkan peran konstruktif ke arah tercapainya sasaran bersama GNB.
Sementara itu, saat menutup KTT GNB di Kuala Lumpur ini, PM Malaysia Mahathir
Mohamad menyatakan bahwa kesejahteraan dunia akan terlayani lebih baik oleh sistem
banyak pihak yang kuat. Itu, ujarnya berawal dari PBB yang lebih mewakili dan
demokratis daripada sistem satu pihak yang dilandaskan atas dominasi satu negara.
"Kita bertekad memberi dukungan kuat yang berkelanjutan kepada PBB," kata
Mahathir. "Kita juga telah menyaksikan tantangan baru yang dihadapi GNB - antara lain
ancaman terorisme internasional. Kita harus memainkan peran dalam upaya internasional
guna memerangi ancaman ini," ujarnya pula.
Pada pertemuan yang juga dihadiri oleh 16 negara dan tujuh organisasi pengamat
serta 65 negara tamu itu, GNB mensahkan masuknya Timor Leste, Saint Vincent, Granada
sebagai anggota baru.
GNB dibentuk dengan tujuan membebaskan rakyat dari kolonisasi, terutama di
Timur Tengah - tempat Israel menduduki wilayah bangsa lain dan tak mau melaksanakan
hukum internasional serta resolusi PBB, di samping tak bersedia memberi rakyat Palestina
hak paling dasar mereka: menentukan nasib sendiri dan berdirinya negara Palestina
merdeka.
GNB didirikan dengan landasan hasil Konferensi Asia-Afrika di Bandung 1955 dengan
salah satu tujuan utama menghapuskan kolonisasi.
Mahathir mengatakan, negara anggota GNB juga menghadapi globalisasi dan mesti
melancarkan upaya bagi integrasi negara berkembang ke dalam tatanan baru politik,
ekonomi, dan kemanusiaan global. Kendati demikian, katanya, revolusi dalam bidang
teknologi informasi dan komunikasi dengan cepat mengubah dunia dan memperlebar
perbedaan digital antara dunia maju dan berkembang.
"Jelas demi kepentingan kita, GNB harus memperkokoh persatuan dan kebersamaan
serta berbicara dengan satu suara mengenai masalah penting. Meski kita tak perlu
melakukan pendekatan konfrontatif, kita juga tak perlu bersikap bertahan dalam
hubungan dengan negara maju," kata Mahathir.
Semua tantangan itu memerlukan tanggapan mendesak yang cocok, strategi yang
jelas dan fragmatis, serta tindakan yang terkoordinasi dengan baik. "Semua pendekatan
kita adalah pendekatan yang baik dan sejalan dengan prinsip keadilan dan demokrasi,"
ujar Mahathir. (Ant/L-2)