Anda di halaman 1dari 23

Struktur dan Komposisi Vegetasi Herba

NAMA NIM KELAS KELOMPOK

: : : :

DEWI KUSUMA 091404033 A I (Satu)

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2011

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Organisme-organisme saling berinteraksi satu sama lain, dan juga berinteraksi dengan unsur-unsur abiotik yang ada di sekelilingnya. Jadi organisme-organisme dan komponen-komponen fisik lingkungan menyusun sebuah ekositem atau sistem ekologi. Komponen yang hidup, tumbuhan dan hewan, membentuk lingkungan biotik sedang komponen-komponen fisik merupakan lingkungan abiotik. Setiap mempelajari komunitas tumbuhan kita tidak mungkin melakukan penelitian pada seluruh area yang ditempati suatu komunitas. Dalam mempelajari komunitas tumbuhan kita perlu melakukan penelitian melalui pengambilan contoh komunitas yang dapat menggambarkan vegetasi komunitas secara keseluruhan. Contoh tersebut harus dapat mewakili komunitas secara keseluruhan. Ekologi merupakan studi ilmiah tentang proses regulasi distribusi kelimpahan dan saling interaksi di antara mereka, sehingga secara harfiah bisa diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya (biotik dan abiotik) dalam suatu ekosistem. Makhluk hidup sangat bergantung pada interaksi ini, utamanya pada tumbuhan. Sebuah komunitas tumbuhan mengacu pada jenis tanaman yang terkait yang membentuk vegetasi alam tempat apapun. Sebagai contoh, hutan midlatitude terdiri dari sebuah komunitas pohon, semak, pakis, rumput, dan tumbuh-tumbuhan berbunga. komunitas Plant menyediakan habitat untuk hewan dan signifikan mengubah lingkungan setempat. Vegetasi (komunitas tumbuhan) diberi nama atau digolongkan berdasarkan species atau bentuk kehidupan yang dominan, habitat fisik atau kekhasan yang fungsional serta unit-unit penyusunnya.

Berdasarkan uraian diatas, maka kita perlu melakukan kegiatan praktikum ini sehingga kita dapat mengetahui vegetasi suatu komunitas dengan melakukan penelitian terhadap suatu komunitas tumbuhan herba dengan menggunakan metode plot dan kita dapat mengetahui penentuan indeks nilai penting tumbuhan herba pada suatu komunitas species yang mendominansi. B. Tujuan Praktikum Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah agar mahasiswa mengetahui serta memahami struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan herba pada berbagai lingkungan yang berbeda.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Ekologi tumbuhan adalah kajian pada tingkatan hirarkhi organisme dan populasi, serta ekosistem yang ditempati, berkaitan dengan kondisi tersebut maka kajian dimulai dari pengenalan tanaman, analisis berdasarkan parameter ekologi yang digunakan, dimulai dari tingkatan yang paling luas yang menutup permukaan bumi yang disebut sebagai vegetasi. Lingkungan hidup dari suatu organisme adalah semua faktor biotik dan abiotik yang potensial mempengaruhi organisme. Lingkungan tersebut juga merupakan habitat organisme yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang keduanya secara potensial mempengaruhi kehidupan makluk hidup tersebut. Sebagai contoh komponen biotik adalah: kompetisi, mutualisme, alelopaty serta beberapa interaksi antara makluk hidup. Kompenen abiotik yang dijelaskan di bab belakang meliputi komponen phisik dan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan dan distribusi tanaman (Anonima, 2011). Pengertian vegetasi adalah semua spesies tumbuhan yang terdapat dalam suatu wilayah yang luas, yang memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tumbuhan penutup permukaan bumi merupakan vegetasi yang dapat berbeda dalam ruang dan waktu untuk komponen spesies penyusunnya, berdasarkan ukuran keluasan maka vegetasi dapat dibedakan dalam formasi adalah suatu tipe vegetasi yang sangat luas yang menutupi permukaan bumi, sebagai contoh adalah formasi Taiga. Jika suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Tiap tipe vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan (growth form atau life form) tumbuhan dominan (terbesar, paling melimpah, dan tumbuhan karakteristik). Contoh bentuk pertumbuhan (growth form): termasuk herba tahunan

(annual), pohon selalu hijau berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu hijau jarum, rumput menahun (perennial), dan berdaun semak kerdil (Hardjosuwarno, 1990).

Pertanyaan pada tingkat analisis ini meliputi cara berinteraksi di antara organisme, seperti predasi, kompetisi, dan penyakit yang mempengaruhi struktur dan organisasi komunitas. Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies ricaness) jumlah yang mereka miliki. Mereka juga berada dalam dalam kelimpahan relatif (relatif abdance), spesies, beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang semenetara yang lainnya mengandung jumlah spesies yang di dalam komunitas mempunyai dampak yang sangat besar pada ciri umumnya, konsep ini memiliki suatu komunitas yang berbeda kekayaan spesies yang sama tetapi jumlahnya lebih terbagi secara beranekaragam (Campbell, 2002). Andaikan kita mengamati vegetasi padang rumput, dengan ukuran 1x1 meter persegi, maka kita harus mencari beberapa kuadrat yang diperlukan agar sebagaian besar spesies yang di dalam komunitas termasuk ke dalam pencuplikan. Dasar Pemikiran yang digunakan untuk menjawab hal ini semua, sama dengan penetuan luas minimum yaitu berdasarkan jumlah percontoh yang diperkirakan dapat mewakili seluruh karasterisik vegetasi. Akan tetapi perlu diingat bahwa kadangkala kita tidak menggunakan luas minimum, jumlah kuadrat minimum maupun point frame dalam meneliti vegetasi, tetapi menggunakan suatu metode analisa vegetasi dengan menggunakan metode kuadrat. Gambaran suatu vegetasi dapat dilihat dari keadaan unit penyusun vegetasi yang dicuplik (Hiola, 2008). Komunitas secara dramatis berbeda-beda dalam kekayaan spesiesnya (spesies richness) jumlah yang mereka miliki. Mereka juga berada dalam hubungannya dalam kelimpahan relative (relative abudance), spesies, beberapa komunitas terdiri dari beberapa spesies yang umum dan beberapa spesies yang jarang sementara yang lainnya mengandung sejumlah spesies yang semuanya umum ditemukan. Kelimpahan relatif spesies yang di dalam suatu komunitas mempunyai dampak yang sangat besar

pada cirri umumnya, konsep ini memiliki suatu komunitas yang berbeda kekayaan spesies yang sama tetapi jumlahnya lebih terbagi secara merata di antara kesepuluh spesies itu kelihatan lebih beranekaragam. Istilah keragaman spesies seperti yang digunakan oleh para ahli ekologi. Mempertimbangkan kedua komponen keanekaragaman yaitu kekayaan spesies dan kelimpahan relative (Campbell, 2004). Struktur dan komposisi vegetasi tumbuhan merupakan faktor penting yang mempengaruhi perpindahan aliran materi, energi dan keanekaragaman hayati. Kanopi hutan merupakan faktor pembatas bagi kehidupan tumbuhan, karena dapat menghalangi penetrasi cahaya ke lantai hutan. Pengetahuan tentang struktur dan komposisi vegetasi hutan dapat menjadi dasar untuk memprediksi kemungkinan perubahan lingkungan yang akan terjadi di masa depan. Kesempatan sebuah pohon untuk mencapai kanopi hutan tergantung penampakan anak pohonnya. Variasi ketersediaan sumberdaya ini beserta perbedaan kemampuan antar spesies anak pohon dalam menggunakannya dapat mempengaruhi komposisi dan struktur vegetasi hutan. Perbedaan kemampuan antara spesies anakan pohon dalam menoleransi naungan mempengaruhi dinamika hutan (Kusmana dan Istomo, 1995). Nilai penting suatu spesies merujuk pada sumbangan relative suatu spesies kepada seluruh komunitas. Nilai penting suatu spesies dapat diperoleh melalui perhitungan. Indeks nilai penting (INP), yaitu dengan menjumlahkan kerapatan relative, dominansi relative dan kerapatan relative dari suatu spesies. Nilai indeks nilai penting juga dapat diperoleh hanya dengan menggunakan salah satu atau hanya dua dari parameter yang ada (Wiharto, 2010). Menurut Anonimb (2011), Komunitas vegetasi diklasifikasikan dalam beberapa cara menurut kepentingan dan tujuannya. Pada umumnya dan yang banyak disukai ialah klasifikasi berdasarkan: a. Fisiognomi: Menunjukkan kenampakan umum komunitas tumbuhan. Komunitas tum-buhan yang besar dan menempati suatu habitat yang luas diklasifikasikan kedalam komponen komunitas sebagai dasar fisiognominya.Komponen kmunitas

yang menjadi dasar fisiognomi ini ialah yang berada dalam bentuk dominan. Sebagai contoh: Komunitas hutan, padang rumput, stepa, tundra dan sebagainya. b. Habitat: Karena komunitas sering dinamik dengan kekhasan habitat maka habitat ini digunakan menjadi dasar pembagian komunitas. Pada umumnya dikaitkan dengan kandungan air tanah pada habitat yang bersangkutan. Pembagian itu antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. c. Komunitas lahan basah Komunitas lahan agak basah Komunitas lahan mesofit Komunitas lahan agak kering Komunitas lahan kering

Komposisi dan dominasi spesies: Disini komunitas tumbuhan yang besar dibagi kedalam bagian-bagian yang lebih kecil dengan dasar komposisi dan dominasi spesies. Klasifikasi seperti ini memerlukan pengetahuan isi spesies dalam komunitas itu frekuensinya, dominasinya dan lamanya spesies itu berada (fideling/kesetiaan). Komunitas diberi nama dengan spesies yang dominan atau yang memperlihatkan frekuensi tinggi misalnya: Betula-Rhododendron-Magnolia assosiasi, Kruing-Kamper-Meranti-Jati. Clements mengakui adanya dinamika komunitas alam dan ia mengembangkan klasifikasi floristik yang menekankan pada suksesi, dominasi, konstansi diagnose spesies. Peran individu suatu jenis tumbuhan sangat penting. Sifat komunitas akan

ditentukan oleh keadaan individu-individu tadi, dengan demikian untuk melihat suatu komunitas sama dengan memperlihatkan inividu-individu, atau populasinya dari seluruh jenis tumbuhan yang ada secara keseluruhan. Ini berarti bahwa daerah pengambilan contoh itu representative bila di dalamnya terdapat semua atu sebagian besar dari jenis tumbuhan pembentuk komunitas tersebut. Dengan demikian, pada suatu daerah vegetasi umumnya akan terdapat suatu luas tertentu, dan daerah tadi sudah memperlihatkan kekhususan dari vegetasi secara keseluruhan (Anonimc, 2011).

Frekuensi ditentukan berdasarkan kerapatan dari jenis tumbuhan dijumpai dalam sejumlah area cuplikan (n), dibandingkan dengan seluruh atau seluruh cuplikan dibuat (N), biasanya dalam 1 % . Nilai penting harga ini didapatkan berdasarkan penjumlahan dari relative dari sejumlah variable yang telah diukur ( kerapatn relative, kerimbunan relative dan frekuensi relative ). Harga relative ini dapat dicari dengan perbandingan antar harga suatu variable yang didapat dari suatu jenis terhadap nilai total dari variabelk untuk seluruh jenis yangh didapat , dikalikan 100 %. Dalam table, jenis-jenis tumbuhan disusun berdasarkan harga nilai penting ini yang biasanya dari harga tumbuhan yang besar harga nilai pentingnya dapat dipergunakan untuk menggunakan penamaan berntuk vegetasi tadi ( Rahardjanto, 2001). Para pakar ekologi memandang vegetasi sebagai salah satu komponen dari ekosistem, yang dapat menggambarkan pengaruh dari kondisi-kondisi faktor lingkungn dari sejarah dan pada fackor-faktor itu mudah diukur dan nyata. Dengan demikian analisis vegetasi secara hati-hati dipakai sebagai alat untuk memperlihatkan informasi yang berguna tentang komponen-komponen lainnya .Ada dua fase dalam kajian vegetasi ini, yaitu mendiskripsikan dan menganalisa, yang masing-masing menghasilkan berbagi konsep pendekatan yang berlainan.Metode manapun yang dipilih yang penting adalah harus disesuaikan dengan tujuan kajian, luas atau sempitnya yang ingin diungkapkan, keahlian dalam bidang botani dari pelaksana (dalam hal ini adalah pengetahuan dalam sistimatik), dan variasi vegetasi secara alami itu sendiri (Anwar, 1995).

BAB III METODE PRAKTIKUM


A. Waktu dan Tempat Hari/Tanggal Waktu Tempat B. Alat dan Bahan 1. Alat : a. Meteran b. Kayu pasak c. Plot 1x1 m d. Alat tulis e. Kamera f. Tali raffia 100 m 2. Bahan : a. Tanaman yang ada di dalam plot pada lahan dengan vegetasi yang heterogen C. Prosedur Kerja 1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. 2. Memilih suatu komunitas dengan tingkat heterogenitas tumbuhannya cukup tinggi. 3. Membuat garis lurus dengan tali raffia sepanjang 100 meter, masing-masing 1 pada daerah terbuka, ternaung, dan setengah ternaung. 4. Membuat tiang patok garis transek secara vertical atau tegak lurus. : Sabtu, 22 Oktober 2011 : Pkl. 08.00 s.d. 11.00 Wita : Area lapangan Fakultas Teknik UNM, Parang Tambung.

5. Menempatkan plot pada garis transek tersebut dengan ukuran 1 x 1 m sebnyak 100 pada setiap transek, dimana pada setiap 10 pot terdapat 1 tegakan. 6. Mengamati spesies tumbuhan herba yang tumbuh pada plot yang diamati dan menghitung banyak individu yang ada. 7. Memotret species herba yang ditemukan 8. Menganalisis data yang diperoleh. D. Teknik Analisis Data Dominansi Mutlak (DM)

Dominansi Relatif (DR)

Frekuensi Mutlak (FM)

Frekuensi Relatif (FR)

Indeks Nilai Penting (INP) Indeks Diversitas Shannon Wiener H = - pi ln pi pi = Ket:

H = indeks diversitas N = INP seluruh n = INP suatu spesies Indeks Kemerataan e=

Ket: e = indeks kemerataan s = total dominansi seluruh herba Indeks Kekayaan R=

Ket: R = Indeks kekayaan s = jumlah spesies n = jumlah dominansi seluruh spesies TABEL SKALA BRAUN-BLANQUET Kelas Penutupan Tajuk 5 4 Kisaran Penutupan Tajuk (%) 75-100 50-75 Rata-rata 87.5 62.5

3 2 1 + R

25-50 5-25 1-5 <1 <<1

37.5 15.0 2.5 0.1 *

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Tabel Hasil Pengamatan 1. Tempat terbuka
Tegakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Maksimal Minimal Variansi Std. Dev. H' 1.243 1.339 1.295 1.164 1.514 1.418 0.771 1.226 1.625 1.590 13.185 1.319 1.625 0.771 0.062 0.248 H' 1.579 1.583 1.461 1.592 1.095 0.375 1.330 1.214 0.974 0.000 11.203 1.120 1.592 e 0.432 0.461 0.436 0.409 0.531 0.536 0.371 0.462 0.601 0.566 4.805 0.481 0.601 0.371 0.006 0.074 e 0.568 0.563 4.235 0.556 0.404 0.280 0.546 1.125 1.079 0.000 9.356 0.936 4.235 R 0.219 0.246 0.229 0.188 0.225 0.285 0.274 0.189 0.267 0.237 2.359 0.236 0.285 0.188 0.001 0.033 R 0.285 0.275 0.213 0.259 0.177 0.196 0.363 1.155 1.061 0.000 3.984 0.398 1.155

2.

Tempat setengah ternaung


Tegakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Maksimal

Minimal Variansi Std. Dev.

0.000 0.294 0.542 Tegakan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 H' 1.748 0.714 1.169 1.805 1.087 1.721 1.547 1.506 1.186 1.695 14.178 1.418 1.805 0.714 0.130 0.361 e

0.000 1.456 1.206

0.000 0.149 0.386 R 0.284 0.615 1.000 0.525 0.253 0.312 0.238 0.258 0.170 0.270 3.925 0.393 1.000 0.170 0.064 0.254

3. Tempat ternaung
0.603 0.283 0.971 0.803 0.419 0.636 0.552 0.525 0.432 0.629 5.853 0.585 0.971 0.283 0.039 0.197

Jumlah Rata-rata Maksimal Minimal Variansi Std. Dev.

B. Pembahasan 1. Tempat terbuka

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pada

tempat terbuka

terdapat beberapa tumbuhan di sepanjang transek dengan plot ukuran 1x1 meter antara lain Cyperus rotundus, Mucuna pruriens, Passiflora foetida, Clitoria ternatea, Physalis angulata, Euphorbia hirta dan Phylanthus niruri, Cynodon dactylon, Ipomea reptans, Apium sp., Mucuna pruriens, Panicum maximum, Paspalum conjugatum, Pennisetum purpureum, Hedyotis corimbosa, Clitoria ternatea. Berdasarkan analisis yang dilakukan, pada daerah terbuka yang memiliki indeks diversitas (H) tertinggi adalah pada tegakan 9 sebesar 1.625, nilai indeks kemerataan (e) tertinggi pada tegakan 9 sebesar 0.601 dan indeks kekayaan (R) tertinggi juga terdapat pada tegakan ke 9 sebesar 0.267. Pada grafik terlihat bahwa tingkat keanekaragaman tumbuhan terjadi hampir secara merata dengan rata-rata indeks diversitas (H) adalah 1.319. Kekayaan (R) suatu vegetasi, akan semakin tinggi jika tingkat keanekaragaman (H) tinggi dan didukung oleh kemerataan jumlahnya. Pada tempat terbuka, jenis herba yang tumbuh didominasi oleh tanaman cyperaceae, walaupun ada species lain tapi jumlahnya sedikit. Hal ini dikarenakan cyperaceae atau rumput-rumputan sangat cocok hidup pada daereah lingkungan terbuka dimana merupakan salah satu jenis tanaman yang mudah tumbuh di mana saja dan merupakan tanaman yang cukup ekstrim, di mana dia mampu hidup di tempat dengan suhu yang agak tinggi. Jadi, sebenarnya keanekaragaman dari tempat terbuka kurang banyak, karena lebih didominasi oleh rumput-rumputan. 2. Tempat setengah ternaung

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pada

tempat terbuka

terdapat beberapa tumbuhan di sepanjang transek dengan plot ukuran 1x1 meter antara lain Passiflora foetida, Tridax procumbens, Clitoria ternatea, Chrysopogon aciculatus, Cynodon dactylon, Euphorbia hirta, Imperiata cylindrica, Paspalum conjugatum, Pennisetum purpureum, Mucuna pruriens, Panicum maximum. Berdasarkan analisis yang dilakukan, pada daerah terbuka yang memiliki indeks diversitas (H) tertinggi adalah pada tegakan 4 sebesar 1.592, nilai indeks kemerataan (e) tertinggi pada tegakan 3 sebesar 4.235dan indeks kekayaan (R) tertinggi juga terdapat pada tegakan ke 8 sebesar 1.155. Pada grafik terlihat bahwa keanekaragaman, kekayaan, dan kemerataan kurang merata antara satu tegakan dengan tegakan lainnya. Tapi, sudah banyak species yang tumbuh pada daerah ini jika dibandingkan dengan daerah terbuka. Sebenarnya rumput-rumputan memang masih mendominasi, hal ini disebabkan karena faktor lingkungan yang sesuai bagi species ini untuk tumbuh dan berkembang. Untuk di tempat ini, tingkat kemerataan lebih tinggi dibandingkan tempat terbuka. Jadi, tingkat kekayaan tempat setengah ternaung lebih tinggi dibanding tempat terbuka. 3. Tempat ternaung Cucurbita sp,

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, pada

tempat terbuka

terdapat beberapa tumbuhan di sepanjang transek dengan plot ukuran 1x1 meter antara lain Ipomea reptans, Mucuna pruriens, Passiflora foetida, Axonopus compressus, Panicum maximum, Commelina nudiflora, Phisalis angulata, Clitoria ternatea, Paspalum conjugatum, Cucurbita sp, Emilia sonchifolia, Gynandropsis gynandra, Hedyotis corimbosa, Pennisetum purpureum, Cucurbita sp, Pennisetum purpureum dan Imperiata cylindrical. Berdasarkan analisis yang dilakukan, pada daerah terbuka yang memiliki indeks diversitas (H) tertinggi adalah pada tegakan 9 sebesar 1.625, nilai indeks kemerataan (e) tertinggi pada tegakan 9 sebesar 0.601 dan indeks kekayaan (R) tertinggi pada tegakan ke 6 sebesar 0.285. Pada grafik terlihat bahwa indeks kekayaan yang lebih tinggi dibanding tempat terbuka, tapi lebih rendah dibanding tempat setengah ternaung. Hal ini dikarenakan terjadi penumpukan kekayaan Imperiata cylindrica pada tempat setengah ternaung tepatnya pada plot ketiga. Jadi kalau kita tinjau lebih jauh, sebenarnya tingkat kekayaan tempat ternaung lah yang paling tinggi. Hal ini dipengaruhi faktor lingkungan utamanya cahaya matahari, kelembaban dan suhu yang sangat

cocok bagi tumbuhan herba untuk hidup. Dari pengamatan secara langsung juga dapat kita lihat bahwa, keanekaragaman dan kemerataan pada tempat ternaung lebih tinggi. Adanya ketidaksesuaian antara data dengan pengamatan juga dapat dikarenakan perbedaan perkiraan luas tajuk oleh praktikan.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pada setiap daerah ditumbuhi oleh tumbuhan herba yang berbeda tergantung pada factor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Adapun faktor-faktor yang mempegaruhi persebaran makhluk hidup yaitu faktor abiotik dan faktor biotik, dimana faktor abiotik meliputi: klimatik yang terdiri dari unsur suhu, curah hujan, angin dan kelembapan udara; relief atau permukaan bumi; kondisi tanah; air ; dan cahaya. Jadi kekayaan species herba lebih banyak pada daerah ternaung dibandingkan daerah terbuka dan setengah ternaung dikarenakan kondisi faktor lingkungan yang sesuai bagi herba untuk hidup. B. Saran 1. 2. 3. Sebaiknya waktu praktikum lebih diperpanjang agar hasil yang didapatkan maksimal. Sebaiknya praktikan menyiapkan peralatan praktikum secara lengkap. Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi pada saat melakukan pengamatan agar tidak terjadi kesalahan pada hasil pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonima. 2010. Ekologi Tumbuhan. http://sriwidoretno.staff.fkip.uns.ac.id/ekologitumbuhan/ . Diakses 2 Oktober 2011. Anonimb. 2010. Komunitas Vegetasi. http://fp.uns.ac.id/~hamasains/ekotan %203.htm . Diakses 2 Oktober 2011. Anonimc. 2011. Luas Petak Sampel. http:/fp.uns.ac.id/~hamasains/ekoton%203.htm. Diakses tanggal 2 Oktober 2011. Anwar, 1995, Biologi Lingkungan. Ganexa exact. Bandung. Campbell, Neil A, Reece, Mitchell. 2002. Biologi Edisi V Jilid 3. Jakarta: Erlangga. Campbell. 2004. Biologi Jilid 3. Erlangga. Jakarta. Hiola, Fatma dan Djumarimanto. 2008. Penuntun Ekologi Tumbuhan. Makassar: Jurusan Biologi FMIPA UNM. Hardjosuwarno, Sunarto. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Negeri Gadjah Mada. Kusmana, C. dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB. Rahardjanto. 2001. Ekologi Tumbuhan. Malang : UM Press Wiharto, Muhammad. 2010. Ekologi Tumbuhan. Jurusan Biologi FMIPA UNM. Makassar.

LAMPIRAN
Foto Praktikum

Apium sp

Chrysopogon aciculatus

Commelina nudiflora

Eclipta prostata

Emilia sonchifolia

Gynandropsis gynandra

Hedyotis corymbosa

Mucuna pruriens

Imperata cylindrica

Paspalum conjugatum

Ipomoea reptans

Passiflora foetida

Physalis angulata

Pennisetum purpureum