Anda di halaman 1dari 20

Presentasi Kasus

Ilmu Penyakit Dalam




BAB I
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Umur : 31 Tahun
Jenis kelamin : Laki - laki
Pekerjaan : Buruh Bangunan
Alamat : Paseban, Jakarta Pusat
No RM : 143973
Ruangan : Wijaya Kusuma
Tanggal masuk RS : 14 September 2011
Tanggal keluar RS : 19 September 2011

II. ANAMNESA (dilakukan dengan cara autoanamnesa dan alloanamnesa)
O Keluhan Utama :
Batuk kering sejak satu bulan yang lalu disertai demam, lemas, dan tidak kuat berdiri
dan duduk serta penurunan naIsu makan, dan sulit BAB sejak 2 minggu yang lalu.

O Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien masuk perawatan di bangsal RS.MRM sejak tanggal 14 September 2011
setelah melakukan pemeriksaan kesehatan di poliklinik penyakit dalam dengan
keluhan batuk batuk sejak satu bulan yang lalu tanpa disertai dahak dan rasa gatal
ataupun sakit pada tenggorokan. Pasien juga mengeluhkan demam sejak dua minggu
yang lalu dengan meriang dan menggigil di malam hari disertai kondisi badan
semakin lemas dan tidak kuat berdiri dan duduk. Pasien juga menolak makan dan sulit
BAB sejak 2 minggu yang lalu. Jika dipaksa makan, maka pasien akan muntah dan
mengeluh mual sehingga semakin sulit untuk makan dan minum.


Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


O Riwayat penyakit dahulu :
Pasien mengaku tidak pernah dirawat di RS dengan kondisi penyakit yang sama
sebelumnya.
- Riwayat asma : Tidak Ada
- Riwayat penyakit paru : Tidak Ada
- Riwayat penyakit jantung : Tidak Ada
- Riwayat hipertensi : Tidak Ada
- Riwayat pemakaian obat selama 6 bulan : Ada
- Riwayat penyakit maag : Tidak Ada
- Riwayat DM : Tidak Ada
- Riwayat penyakit hati : Tidak Ada

O Riwayat penyakit keluarga :
- Riwayat penyakit jantung : Tidak Ada
- Riwayat Hipertensi : Tidak Ada
- Riwayat DM : Tidak Ada
- Riwayat Peny. Paru : Tidak Ada

III. PEMERIKSAAN FISIK
O TANDA VITAL
Tekanan darah : 110 / 60 mmHg
Nadi : 82 x / menit
Suhu : 36,7 C
PernaIasan : 20 x / menit

O UMUM
Keadaan umum : Tampak sangat kurus/tampak pucat/tampak lemah & lemas
Kesadaran : Compos mentis dan KooperatiI

O KULIT
Warna : Sawo matang
Suhu Raba : Hangat

Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


O KEPALA
Bentuk : Normocephal
Rambut : Rambut ikal, hitam, tidak mudah dicabut.
Nyeri Tekan : Nyeri tekan (-)

O MATA
Keadaan Rongga Ophthalmus: Tampak Exophthalmus
Tekanan Bola Mata : Tekanan Intra-Okular dalam batas normal
Palpebra : Tidak Ada Kelainan
Konjungtiva : Conjungtiva Anemis /
Sclera : Sklera Ikterik -/-
Kornea : Jernih pada kedua mata kanan dan kiri
Pupil : Isokor, reIleks cahaya / , O pupil 3 mm / 3 mm

O TELINGA
Lubang : MEA lapang, simetris, tidak tampak kelainan
Cairan : -/-
Serumen : -/-
Nyeri Tekan Tragus : -/-

O MULUT
Bibir : Agak Pucat
Cavum Oris : Oral thrush ()
Gigi Geligi : Tampak Utuh
Gusi : Dalam batas normal
Tonsil : T2-T2
Faring : Tampak kotor, stomatitis (), hiperemis ()
Lidah : Tampak kotor dan keputihan.

O LEHER
KGB : Pembesaran KGB () / limIadenopati
Glandula Thyroid : Tidak ada pembesaran
Trakea : Letak ditengah, tidak ada deviasi.
Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


Tekanan Vena : Tidak ada peningkatan (JVP 2cm)

O DADA
Bentuk : Datar, simetris, dinamis kanankiri, retraksi (-)
Payudara : (-)

O JANTUNG
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat.
Palpasi : Iktus kordis teraba, namun tidak kuat angkat.
Perkusi : Batas atas : Sela iga 2 garis parasternal kiri.
Batas kanan : Sela iga 4 garis mid sternal kanan.
Batas kiri : Sela iga 5 garis Midklavicula kiri.
Auskultasi : Bunyi jantung I II murni tunggal reguler, murmur (-),
gallop (-).

O PARU
Inspeksi : Pergerakan hemitoraks kiri dan kanan simetris dalam keadaan statis
dan dinamis
Palpasi : Fremitus Taktil dan Vokal sama pada paru kanan dan kiri
Perkusi : Perkusi sonor pada seluruh lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi : Suara naIas vesikular pada lapang paru kanan dan kiri, rhonki basah
kasar / (samar), ronkhi basah halus -/-, wheezing -/-.

O ABDOMEN
Inspeksi : Perut datar, simetris, sikatriks (-)
Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (), turgor kulit 1 detik
Perkusi : Tympani agak meningkat, Nyeri ketuk (-), ShiIting dullness (-)
Auskultasi : Bising usus () normal dan agak meningkat
Hepar : Tidak teraba pembesaran, konsistensi kenyal, permukaan licin,
tidak nyeri.
Lien : Tidak teraba pembesaran, konsistensi keras, permukan licin,
tidak nyeri.

Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


O EXTREMITAS
Superior : Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-, atroIi otot -/-
InIerior : Akral hangat, edema -/-, sianosis -/-, atroIi otot -/-

IV. PEMERIKSAAN PENUN1ANG
Laboratorium Urine Lengkap
Warna : Kuning jernih
Kejernihan : Jernih
Eritrosit : - / Lpb
Leukosit : - / Lpb
Urobilinogen : -
Protein : -
pH : asam


V. DIAGNOSA KER1A
O HIV
O Faringitis Kronik

VI. DIAGNOSA BANDING
O Penyakit imunodeIisiensi primer
O AIDS
O Diphteriae
O Bronkhitis Akut
O Pnemonia
O Tuberkulosis Paru
O Bronkiektasis Paru







Laboratorium Darah
Hb : 14 g/dl
Ht : 36
Leukosit : 15.800 /mm
3

Trombosit : 364.000 /mm
3
SGOT : 28 U/L
SGPT : 30 U/L
Rapid Test :

Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


VII. TERAPI
Rawat Ruangan
Diet lunak Tinggi Kalori Tinggi Protein Tinggi Lemak
InIus Ringer Laktat : Dekstrose 5 1 : 1 20 tpm
Injeksi CeItriaxone 1 gram 1 x 2 vial (iv)
Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
Injeksi Ozid (Omeprazol) 1 x 1 ampul (iv)
Injeksi Primperane 3 x 1cc (iv)
Paracetamol tablet 500 mg 3 x 1 tab
Farmacol 3 x 1 capsul
Dextrometrophan 3 x 1 tablet

VIII. PLAN
O Foto Rontgen Thorax
O Pemeriksaan Anti-HIV ELISA
O Pemeriksaan Anti-HIV Western Blot
O Antigen p-24
O Hitung CD4
O Jumlah virus HIV dengan RNA-PCR
O Pemeriksaan penunjang untuk diagnosis inIeksi oportunistik : pemeriksaan sputum

IX. PROGNOSA
Quo ad vitam : Dubia ad malam
Quo ad Iungsionam : Dubia ad malam
Quo ad sanationam : Dubia ad malam





Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


ATATAN KEMA1UAN DAN INSTRUKSI DOKTER
14 September 2011 15 September 2011

S : meriang, tidak ada naIsu makan, lemas, tidak
kuat duduk dan berdiri, tidak BAB 2 minggu,
batuk kering, jarang BAK
O :
KU/Kes: tampak lemah/tampak kurus/tampak sakit
derajat sedang/CM/KooperatiI
TD : 110/60 mmHg P : 20x/menit
N : 82x/menit S : 36,8
0
C
Mata : Konjungtiva anemis /, Sklera ikterik -/-
Hidung : discharge (-)
Telinga : serumen di MAE (-)
Mulut : Oral Thrush ()
Leher : KGB teraba membesar (limIadenopati)
Thoraks: simetris kiri kanan dalam keadaan
dinamis dan statis
Cor : BJ I-II, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikuler /, Wh -/-, RBK /, RBH -/-
Abd : datar, turgor kulit 1 detik, bising usus ()
agak meningkat, supel, nyeri tekan di epigastrium,
nyeri tekan di suprapubis, hipertimpani
Eks : Akral hangat, sianosis -/-, edema -/-
Status kulit : hiperhidrosis

A : Observasi Febris H-1, HIV, Faringitis Kronik
Th/ :
- Diet lunak TKTP
- IVFD RL : D5 1 : 1 20 tpm
- Injeksi CeItriaxone 1 gram 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Ozid 1 x 1 ampul (iv)
- Injeksi Primperane 3 x 1 cc (iv)
- Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tablet
- Farmacol 3 x 1 capsul
- Dextrometorphan 3 x 1 tablet

P : Edukasi makanan berserat
Cek Lab Darah Rutin dan Serologi CD4
Foto Thorax
Cek HbsAg
Cek HCV

S : batuk dan keluar dahak lendir pekat, belum
bisa BAB, sudah bisa makan tapi sangat sedikit
O :
KU/kes: tampak lemah/kurus/tampak sakit derajat
sedang/CM/KooperatiI
TD : 110/70 mmHg P : 20x/menit
N : 80x/menit S : 37,3
0
C
Mata : Konjungtiva anemis /, Sklera ikterik -/-
Hidung : discharge (-)
Telinga : serumen di MAE (-)
Mulut : Oral Thrush ()
Leher : KGB teraba membesar (limIadenopati)
Thoraks: simetris kiri kanan dalam keadaan
dinamis dan statis
Cor : BJ I-II, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikuler /, Wh -/-, RBK /, RBH -/-
Abd : datar, turgor kulit 1 detik, bising usus ()
agak meningkat, supel, nyeri tekan di epigastrium,
nyeri tekan di suprapubis, hipertimpani
Eks : Akral hangat, sianosis -/-, edema -/-
Status Kulit : hiperhidrosis

A : Observasi Febris H-2, HIV, Faringitis Kronik
Th/:
- Diet Lunak TKTP
- IVFD RL : D5 1 : 1 20 tpm
- Injeksi CeItriaxone 1 gram 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Ozid 1 x 1 ampul (iv)
- Injeksi Primperane 3 x 1 cc (iv)
- Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tablet
- Farmacol 3 x 1 capsul
- Dextrometorphan 3 x 1 tablet
- Curcuma 3 x 1 tablet

Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam
%

16 September 2011 17 September 2011
S : batuk terasa mengganggu namun dirasakan
lebih baik dari sebelumnya, BAB (-), BAK
sudah mulai lancar, tidak ada naIsu makan,
badan terasa lemas dan tidak sanggup duduk
lama, demam.
O :
KU/Kes:tampak kurus/lemah/pucat/tampak sakit
derajat sedang/CM/ kooperatiI
TD : 100/60 mmHg P : 24x/menit
N : 120x/menit S : 38,9
0
C
Mata : Konjungtiva anemis /, Sklera ikterik -/-
Hidung : discharge (-)
Telinga : serumen di MAE (-)
Mulut : Oral Thrush ()
Leher : KGB teraba membesar (limIadenopati)
Thoraks: simetris kiri kanan dalam keadaan
dinamis dan statis
Cor : BJ I-II, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikuler /, Wh -/-, RBK /, RBH -/-
Abd : datar, turgor kulit 1 detik, bising usus ()
agak meningkat, supel, nyeri tekan di epigastrium,
nyeri tekan di suprapubis, hipertimpani
Eks : Akral hangat, sianosis -/-, edema -/-
Status Kulit : hiperhidrosis

A : Observasi Febris H-3, HIV, Faringitis Kronik

Th/:
- Diet Lunak TKTP
- IVFD RL : D5 1 : 1 20 tpm
- Injeksi CeItriaxone 1 gram 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Ozid 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Primperane 3 x 1 cc (iv)
- Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tablet
- Farmacol 3 x 1 capsul
- Dextrometorphan 3 x 1 tablet
- Curcuma 3 x 1 tablet
S : masih batuk-batuk disertai dahak lendir kental
yang jernih, mual () dan muntah () saat makan
dan minum obat, naIsu makan pasien () dan
selalu ingin makan, sudah mulai bisa duduk.
O :
KU/Kes:tampak kurus/lemah/agak pucat/CM/
kooperatiI
TD : 110/70 mmHg P : 20x/menit
N : 82x/menit S : 36,5
0
C
Mata : Konjungtiva anemis /, Sklera ikterik -/-
Hidung : discharge (-)
Telinga : serumen di MAE (-)
Mulut : Oral Thrush ()
Leher : KGB teraba membesar (limIadenopati)
Thoraks: simetris kiri kanan dalam keadaan
dinamis dan statis
Cor : BJ I-II, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikuler /, Wh -/-, RBK /, RBH -/-
Abd : datar, turgor kulit 1 detik, bising usus ()
agak meningkat, supel, nyeri tekan di
epigastrium, hipertimpani
Eks : Akral hangat, sianosis -/-, edema -/-
Status Kulit : hiperhidrosis

A : Observasi Febris H-4, HIV, Faringitis Kronik

Th/:
- Diet Lunak TKTP
- IVFD RL : D5 1 : 1 20 tpm
- Injeksi CeItriaxone 1 gram 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Ozid 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Primperane 3 x 1 cc (iv)
- Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tablet
- Farmacol 3 x 1 capsul
- Dextrometorphan 3 x 1 tablet
- Curcuma 3 x 1 tablet













Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam
%

18 September 2011 19 September 2011

S: masih batuk-batuk, mual () namun sudah tidak
muntah lagi, naIsu makan bertambah, sudah bisa
duduk dengan baik, dan sudah mulai bisa berdiri
dan berjalan ke kamar mandi dengan bantuan
orang lain.

O:
KU/Kes: tampak kurus/baik/agak pucat/CM/
kooperatiI
TD : 120/80 mmHg P : 24x/menit
N : 80x/menit S : 36,3
0
C
Mata:Konjungtiva Subanemis / Sklera ikterik -/-
Hidung : discharge (-)
Telinga : serumen di MAE (-)
Mulut : Oral Thrush ()
Leher : KGB teraba membesar (limIadenopati)
Thoraks: simetris kiri kanan dalam keadaan
dinamis dan statis
Cor : BJ I-II, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikuler /, Wh -/-, RBK /, RBH -/-
Abd : datar, turgor kulit 1 detik, bising usus ()
agak meningkat, supel, nyeri tekan di epigastrium,
nyeri tekan di suprapubis, hipertimpani
Eks : Akral hangat, sianosis -/-, edema -/-
Status Kulit : hiperhidrosis

A : Observasi Febris H-5, HIV, Faringitis Kronik

Th/:
- Diet Lunak TKTP
- IVFD RL : D5 1 : 1 20 tpm
- Injeksi CeItriaxone 1 gram 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Ozid 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Primperane 3 x 1 cc (iv)
- Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tablet
- Farmacol 3 x 1 capsul
- Dextrometorphan 3 x 1 tablet
- Curcuma 3 x 1 tablet
- NutriIlam 3 x 1 tablet


S: masih batuk tapi sudah berkurang Irekuensinya,
dahak mudah dikeluarkan dan encer, demam, BAB
() cair dan ada lendir darah, mual (), tidak ada
muntah, BAK lancar.

O :
KU/Kes: tampak kurus/sakit derajat sedang/agak
pucat/ lemas/CM/kooperatiI
TD : 110/70 mmHg P : 20x/menit
N : 72x/menit S : 37,8
0
C
Mata:Konjungtiva Subanemis / Sklera ikterik -/-
Hidung : discharge (-)
Telinga : serumen di MAE (-)
Mulut : Oral Thrush ()
Leher : KGB teraba membesar (limIadenopati)
Thoraks: simetris kiri kanan dalam keadaan
dinamis dan statis
Cor : BJ I-II, m (-), g (-)
Pulmo : Vesikuler /, Wh -/-, RBK /, RBH -/-
Abd : datar, turgor kulit 1 detik, bising usus ()
agak meningkat, supel, nyeri tekan di epigastrium,
nyeri tekan di suprapubis, hipertimpani
Eks : Akral hangat, sianosis -/-, edema -/-
Status Kulit : hiperhidrosis

A : Observasi Febris H-6, HIV, Faringitis Kronik

Th/:
- Diet Lunak TKTP
- IVFD RL : D5 1 : 1 20 tpm
- Injeksi Neurobion 5000 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Ozid 1 x 1 vial (iv)
- Injeksi Primperane 3 x 1 cc (iv)
- LevoIloxacin tablet 500 mg 1 x 1 tablet
- Ranitidine tablet 2 x 1 tablet
- Spasmeco 3 x 1 tablet
- Paracetamol tab 500 mg 3 x 1 tablet
- Farmacol 3 x 1 capsul
- OBH 3 X 1 C
- Cortisol
- Curcuma 3 x 1 tablet
- NutriIlam 3 x 1 tablet

P :
- Cek Darah Lengkap
- Cek Serologi CD4
- Pemeriksaan Feces



Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam




Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


BAB II
PEMBAHASAN

Penegakan diagnosa HIV pada pasien ini didasarkan pada keluhan utama pasien saat
pertama kali datang berobat ke rumah sakit, yakni batuk kronik yang telah terjadi sejak 1
bulan yang lalu dan tidak kesembuhan. Saat datang, postur tubuh pasien terlihat sangat kurus
dengan wajah yang pucat, kuyu dan tampak mata yang exophthalmus. Pasien juga sangat
lemah untuk duduk secara mandiri sehingga perlu bantuan orang lain saat sedang duduk,
berdiri dan berjalan. Pasien juga menolak makan karena tidak ada naIsu makan yang baik dan
pasien juga tidak BAB sejak hampir 20 hari yang lalu. Pasien sering demam dan dapat dilihat
pada pemeriksaan suhu tubuh yang selalu meningkat dan terkadang turun, sehingga tidak
stabil. Pasien juga sering berkeringat banyak sehingga menjadi mudah dehidrasi, dapat dilihat
pada kondisi mukosa bibirnya yang pucat dan pecah pecah.

Batuk yang dikeluhkan oleh pasien sejak 1 bulan yang lalu tanpa adanya kesembuhan
dapat dilihat pada kondisi mukosa Iaringnya yang kotor, kemerahan dan adanya stomatitis.
Kondisi mukosa mulut yang kotor berupa plak putih yang menempel di hampir seluruh
rongga mulut (oral thrush) dan terlihat seperti berambut (oral hairy leucoplakia). Dengan
kondisi kebersihan mulut yang sangat jelek ini sangat memungkinkan pasien sering batuk
batuk, sulit untuk makan dan minum dengan baik dan sulit berbicara dengan jelas.
Penyebaran kuman penyakit dari rongga mulut hingga ke rongga saluran naIas bagian atas
dapat terjadi sehingga semakin memperparah kondisi kesehatan pasien.

Pada hari terakhir perawatan, pasien mengeluhkan BAB cair yang disertai dengan
ampas, darah dan lendir. Ini adalah BAB pertama pasien semenjak BAB terakhirnya di 20
hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan perut yang terasa sakit melilit saat BAB.

Penegakan diagnosis semakin diperkuat dengan hasil seropositiI HIV pada
pemeriksaan laboratorium.

Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


BAB III
TIN1AUAN PUSTAKA
HUMAN IMMUNODEFIIEN VIRUS (HIV)

Definisi

Human ImmunodeIiciency Virus atau biasa disingkat dengan HIV adalah jenis virus
inIeksi yang dapat merusak daya tahan tubuh manusia secara ireversibel sehingga penderita
mudah terkena berbagai inIeksi bakteri, jamur, parasit dan virus tertentu yang bersiIat
oportunistik.

InIeksi HIV dalam diri seseorang dapat berkembang menjadi AIDS (Acquired
Immune DeIiciency Syndrome) atau Sindrom Kehilangan Kekebalan Tubuh yaitu
sekumpulan gejala penyakit yang menyerang tubuh manusia sesudah sistem kekebalannya
telah dirusak oleh virus HIV.

Epidemiologi

Kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan oleh Gottlieb dkk. pada musim semi tahun
1981 dan tercatat dalam laporan CDC antara 1 Juni 1981 hingga September 1982 ditemukan
laporan kasus sebanyak 593 kasus sarkoma Kaposi, pneumonia Pnumocystis carinii dan
inIeksi inIeksi oportunistik lainnya yang dapat membahayakan jiwa penderita HIV/AIDS
ini. Penderita penderita ini pada umumnya berumur antara 15 hingga 60 tahun tanpa
penyakit imunodeIisiensi lain maupun mendapatkan terapi obat imunosupresi. Sejumlah 41
atau 243 penderita dilaporkan meninggal dunia di dalam laporan tersebut. Jumlah penderita
meningkat dengan sangat cepat sehingga pada bulan Mei 1985 diperkirakan jumlah penderita
HIV/AIDS telah mencapai 12.000 kasus di Amerika Serikat.

Menurut laporan pada bulan September 1985 di Amerika Serikat tercatat sebanyak
13.000 kasus. Sementara di Eropa peningkatan kasus HIV/AIDS terjadi peningkatan luar
biasa. Pada akhir tahun 1984 tercatat 3 kasus baru per minggu di Perancis, disusul 2 kasus
baru per minggu di Jerman Barat dan Inggris, dan 1 kasus baru per minggu di Belanda dan
Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


Swiss. Pada umumnya penderita HIV/AIDS di negara negara Eropa dan Amerika Serikat
ditemukan dalam golongan masyarakat tertentu, yakni kelompok masyarakat homo/biseksual
dan heteroseksual, penderita yang menerima pengobatan transIusi darah rutin seperti
penderita hemoIilia, pengguna kontrasepsi IUD, dan sejumlah penyebab yang tidak diketahui
secara pasti.

Di beberapa negara AIrika Tengah, misalnya Zaire, Rwanda, dan Burundi, HIV/AIDS
merupakan penyakit yang disebabkan dari gaya heteroseksual. Jumlah penderita laki laki
dan perempuan adalah sama banyak.

Menurut WHO jumlah kasus AIDS jauh lebih banyak, namun tidak terdapat akurasi
data yang pasti. Tercatat jumlah AIDS di 31 Desember 1990 sebanyak 800.000 kasus dewasa
dan 400.000 kasus anak anak. Di samping ini masih terdapat 8 10 juta orang yang
seropositiI HIV tanpa gejala klinis yang khas. Menurut perkiraan para pakar epidemiologi
WHO, sebagian besar kasus seropositiI HIV terdapat di negara negara AIrika.

Di Indonesia, jumlah penderita AIDS dan seropositiI HIV hingga Agustus 1998
masing masing 207 sampai 537 kasus. Dan di waktu ini keadaan berubah cukup banyak
disebabkan oleh deteksi dini dengan peralatan diagnostik yang canggih dan diagnosis
laboratorik yang lebih mudah dilakukan di daerah daerah periIer, dan terutama adanya
kesadaran penderita dan para petugas medis.

Menurut catatan Departemen Kesehatan RI di 31 Maret 2006, tercatat jumlah
kumulatiI kasus HIV/AIDS di seluruh Indonesia ialah HIV 4332 kasus, AIDS 5822 kasus,
dan total keseluruhan 10.154 kasus. Kasus HIV/AIDS terbanyak di DKI Jakarta sebanyak
3601 kasus, peringkat II di Papua sebanyak 1633 kasus, dan peringkat III di Jawa Timur
sebanyak 1031 kasus. Sementara di dunia tercatat sebanyak 40 juta orang yang terkena AIDS.

Etiologi

HIV adalah retrovirus yang disebut Lymphadenopathy Associated Virus (LAV) atau Human
T-Cell Leukemia Virus III (HTLV-III) yang juga disebut dengan Human T-Cell
Lymphotrophic Virus (retrovirus). LAV pertama kali ditemukan oleh Montagnier dkk pada
Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


tahun 1983 di Perancis, sedangkan HTLV-III ditemukan oleh Gallo di Amerika Serikat apda
tahun berikutnya. Virus yang sama ini ternyata banyak ditemukan di AIrika Tengah di tahun
1983. Sebuah penelitian pada 200 monyet berbuluh hijau di AIrika, 70 dalam darahnya
mengandung virus tersebut tanpa menimbulkan penyakit. Nama lain virus tersebut adalah
HIV.
HIV terdiri atas HIV-1 dan HIV-2 terbanyak karena HIV-1. Partikel HIV-1 terdiri atas dua
untaian RNA dalam inti protein yang dilindungi oleh kapsul lipid sel hospes.

Patogenesis

Cara penularan inIeksi HIV/AIDS terutama melalui darah, cairan tubuh dan hubungan
seksual. Virus HIV ditemukan dalam jumlah besar dalam cairan sperma (semen) dan darah,
sedangkan dalam jumlah kecil ditemukan dalam air liur dan air mata.

HIV menginIeksi sistem imun terutama sel CD4 dan menimbulkan destruksi sel
tersebut. HIV dapat laten dalam sel imun dan dapat aktiI kembali yang menimbulkan inIeksi.
Ini disebut Ienomena window period. Produksi virus HIV menimbulkan kematian sel hospes
dan juga limIosit yang tidak terinIeksi sehingga menyebabkan deIisiensi imunitas dan
berprogresi menjadi AIDS. Sistem imun dalam tubuh penderita dikuasai oleh virus HIV yang
memiliki kemampuan berproliIerasi cepat ke seluruh tubuh. Bila didapatkan hasil jumlah
CD4 turun dibawah 100/nl, maka inIeksi penyakit oportunistik dan keganasan meningkat.
Terjadinya penyakit demensia akibat inIeksi HIV dapat terjadi akibat bertambahnya virus di
otak sehingga menyebabkan apatisme penderita.

Gejala Klinis dan Kriteria Diagnosis

Gejala penderita HIV/AIDS dapat dikategorikan dalam derajat ringan sampai derajat
berat. Di Amerika Serikta ditemukan ratusan ribu orang yang di dalam darahnya mengandung
virus HIV/AIDS tanpa disertai adanya gejala klinis (carrier). Pembagian tingkat klinis
penyakit inIeksi HIV dibagi sebagai berikut berdasarkan klasiIikasi atau stadium inIeksi
HIV/AIDS menurut WHO:


Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam




Stadium 1
O Asimtomatik
O LimIadenopati generalisata persisten

Stadium 2 (stadium dini)
O Penurunan berat badan kurang dari 10
O ManiIestasi mukokutan minor (dermatitis seboroik, prurigo, inIeksi jamur pada
kuku/onikomikosis, ulkus oral rekuren, cheilitis angularis).
O Herpes zoster yang timbul dalam 5 tahun terakhir.
O InIeksi saluran napas atas rekuren, misalnya sinusitis.
Pada tingkat ini penderita sudah menunjukkan gejala, tetapi aktivitas Iisik rutinnya masih
tetap normal.

Stadium 3 (stadium menengah)
O Penurunan berat badan lebihd dari 10
O Diare kronik lebih dari 1 bulan tanpa diketahui penyebabnya
O Demam yang berkepanjangan dan tidak diketahui penyebabnya, baik intermitten
maupun secara konstan selama ~ 1 bulan.
O Kandidiasis oral
O Oral hairy leukoplakia (bercak putih berambut di mulut)
O Tuberkulosis paru dalam waktu satu tahun terakhir
O InIeksi bakteri berat (pneumonia, piomiositis)

Stadium 4 (stadium lanjut)
O HIV wasting syndrome, yakni badan menjadi sangat kurus dengan berat badan turun
lebih dari 10 dan diare kronik tanpa diketahui sebabnya selama lebih dari 1 bulan
atau kelemahan kronik dan demam tanpa diketahui sebabnya lebih dari 1 bulan.
O Pneumonia pneumocystis carinii
O Toksoplasma cerebral
O Kriptosporidiosis dengan diare selama lebih dari 1 bulan
O Kriptokokosis extra-pulmoner
Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


O Sitomegalovirus pada organ selain di hati, limpa atau kelenjar getah bening (misalnya
retinitis CMV).
O InIeksi herpes simpleks di mukokutan selama lebih dari 1 bulan atau pada organ
visceral dengan batas waktu lama tidak dibatasi.
O Progressive multiIocal leucoencephalopathy
O Mikosis endemik diseminata, misalnya histoplasmosis dan koksidiomikosis yang
bersiIat endemik dan menyerang banyak organ tubuh.
O Kandidiasis esophagus, trachea, bronchus, dan paru
O Mikobakteriosis atipik diseminata atau paru
O Septikemia salmonella non-tiIosa
O Tuberkulosis ekstrapulmoner
O LimIoma
O Sarkoma Kaposi
O EnseIalopati HIV, sesuai dengan kriteria CDC, yaitu gangguan kognitiI atau disIungsi
motorik yang mengganggu aktivitas sehari hari, progresiI sudah beberapa minggu
atau beberapa bulan, tanpa dapat ditemukan penyebab lain kecuali HIV.

Setiap tingkat klinis kemudian dibagi lagi bergantung pada jumlah sel CD4 atau
jumlah limIosit total. Kelainan hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat membantu
diagnosis staging adalah sebagai berikut : jumlah penurunan CD4, penurunan rasio CD4/CD8
(nilai normal 1,1 : 1,8), anemia, leucopenia, trombositopenia atau limIositopenia,
hipergamaglobulinemia, penurunan respons limIosit terhadap mitogen dan antigen, anergi
terhadap uji kulit tipe lambat dan peningkatan kompleks imun dalam darah.

Amstong mengajukan kriteria HIV/AIDS berdasarkan Iaktor predisposisi dan
menderita salah satu penyakit inIeksi yang tercantum dalam table berikut ini atau lebih
penyakit yang sesua dan yang menderita salah satu keganasan.

Penyakit yang disebabkan salah satu organism tersebut di bawah ini memberikan petunjuk
kemungkinan HIV/AIDS
Bakteri : Mycobacterium intracellulare avium yang kompleks diseminata
Jamur : EsoIagitis oleh karena Candida spp
Parasit : Pneumonia oleh Pneumocystis carinii; EnseIalitis oleh Toxoplasma gondii
Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


Virus : bentuk diseminata oleh inIeksi Cytomegalo virus; Herpes simpleks yang progresiI dan
ulseratiI; LeukoenseIalopatia yang progresiI dan multi-Iokal

Penyakit yang disebabkan 2 atau lebih organism memberikan petunjuk kemungkinan
HIV/AIDS
Bakteri : Pneumonia berat oleh Legionalle spp; Mycobacterium tuberculosis yang berat;
Nocardiosis; Listeriosis; Brusselosis
Jamur : Crytococcus neoIarmans, Histoplasma capsulatum (diseminata); Coccidioides;
Blastomyces
Parasit : Cryptosporidium (diare ~ 1 bulan); Strongyloides
Virus : Varisela zoster (herpes zoster diseminata); Adenovirus; Virus Epstein-Barr

Neoplasma yang memberikan petunjuk kemungkinan HIV/AIDS:
Sarkoma Kaposi pada pria dibawah umur 60 tahun
LimIoma (non-hodgkin)
Karsinoma sel skuamosa pada mulut dan anus

Pembantu Diagnosis

Terdapat beberapa pemeriksaan laboratorium untuk mendeteksi HIV/AIDS, yang
rutin dikerjakan di Kelompok Studi Khusus AIDS (Pokdisus AIDS) RSCM adalah
pemeriksaan anti-HIV yang baru reaktiI setelah 12 minggu sejak inIeksi. Pemeriksaan
tersebut dilakukan dengan 3 jenis ELISA yang berbeda. Bila hasilnya non-reaktiI tetapi
secara klinis telah diduga adanya inIeksi HIV/AIDS, maka perlu pemeriksaan yang lebih
lanjut untuk konIirmasi dengan metode pemeriksaan Western Blot.

Pengobatan

Bila dahulu pengobatan HIV/AIDS sangat tidak memberikan banyak harapan, pada
waktu sekarang sudah dapat memberikan harapan khususnya pada penderita HIV dan awal
tingkat klinis AIDS. Semua inIeksi oportunistik pada penderita HIV/AIDS umumnya dapat
diobati bila dimulai sedini mungkin.

Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam
%

Mengenai Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sendiri, pengobatan kombinasi
penghambat reverse transcriptase dan penghambat protease. Beberapa penelitian terakhir
membuktikan bahwa obat obat antivirus yaitu indinavir, retrovir dan lamivudin yang
diberikan sebagai kombinasi dapat meningkatkan CD4 dan menghilangkan HIV pada 24/26
sampai di tingkat unmeasureable genes oI HIV. Namun, setelah pengobatan beberapa waktu,
adanya kemungkinan HIV akan bermutasi menjadi resisten dan toksisitas obat akan muncul
sehingga perlu obat baru. Obat obat yang sedang diteliti adalah antisense therapy, gene
therapy dengan penghambat HIV yang ditujukan ke CD4 dan sel induk (stem cell). Penelitian
lain tentang cara pengobatan dan obat baru anti HIV masih banyak dibutuhkan oleh karena
penyakit ini banyak menelan jiwa penderita dan sangat merugikan sosio-ekonomi masyarakat
luas terutama pada negara berkembang.

Di RSCM Jakarta, pengobatan HIV/AIDS dilakukan oleh Pokdisus RSCM dan obat yang
digunakan adalah kombinasi 3 obat antiretroviral, yaitu:
1. Zidovudin (AZT)
Dosis : 500 600 mg sehari per os.
2. Lamivudin
Dosis : 150 mg sehari dua kali.
3. Neviropin
Dosis : 200 mg sehari selama 14 hari, kemudian 200 mg sehari dua kali

Pencegahan

Berbagai cara yang dapat ditempuh untuk mengurangi penularan penyakit:
1. Kontak seksual harus dihindari dengan orang yang diketahui menderita HIV/AIDS
dan orang yang sering menggunakan obat bius secara intravena.
2. Mitra seksual multipel atau melakukan hubungan seksual dengan orang yang
mempunyai banyak teman kencan seksual, memberikan kemungkinan lebih besar
terinIeksi HIV/AIDS.
3. Cara hubungan seksual yang dapat merusak selaput lendir rektal, dapat memperbesar
kemungkinan mendapatkan HIV/AIDS. Sanggama anal pasiI yang pernah dilaporkan
pada beberapa penelitian menunjukkan korelasi tersebut. Walaupun belum terbukti,
Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam
%

kondom dianggap sebagai salah satu cara untuk menghindari penyakit kelamin dan
hingga saat ini cara tersebut masih merupakan anjuran.
4. Kasus HIV/AIDS pada orang yang menggunakan obat bius intravena dapat dikurangi
dengan cara memberantas kebiasaan buruk tersebut dan melarang penggunaan jarum
suntik bersama.
5. Semua orang yang tergolong beresiko tinggi HIV/AIDS seharusnya tidak menjadi
donor. Telah digunakan penentuan zat anti-AIDS dalam darah melalui cara Enzyme
Linked Immuno Sorbent Assay (ELISA).
6. Para dokter harus ketat melakukan pemantauan indikasi medis transIusi darah autolog
yang dianjurkan untuk dipakai

Prognosis

Sepuluh tahun setelah inIeksi HIV, 50 penderita akan mengalami AIDS. Prognosis
HIV/AIDS buruk karena HIV menginIeksi sistema imun terutama CD4 pada limIosit T dan
akan menimbulkan destruksi sel tersebut, akibatnya banyak sekali penyakit oportunistik dan
non-oportunistik yang dapat menyertainya.








Presentasi Kasus
Ilmu Penyakit Dalam


DAFTAR PUSTAKA

1. Budimulja, Unandar dan SjaiIul Fahmi Daili. 'Human ImmunodeIiciency Virus (HIV) dan
Acquired Immune DeIiciency Syndrome (AIDS). Buku Ajar Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Edisi Kelima. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2008

2. Merati, Tuti Parwati dan Samsuridjal Djauzi. 'Respons Imun InIeksi HIV. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi Kedua. Pusat Penerbitan Departeman Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2007