Anda di halaman 1dari 2

Pelajaran dari Perang Badar

Oleh : Adam Habibie (Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankanNya bagimu, Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. (QS Al Anfal 8 : 9)

Ramadhan, tahun kedua Hijriah. Sebuah kabar diterima Rasulullah SAW saat fajar mulai menampakkan wajahnya. Seseorang membawa berita bahwa ada sebuah kafilah yang berjumlah sekitar 40 orang, dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Makkah. Kafilah itu, kata si pembawa berita, dipimpin oleh Abu Sufyan, dengan membawa barang-barang dagangan, anatara lain palawija, anggur kering, pakaian, dan buah-buahan milik kaum Quraisy. Sekitar 1000 unta untuk membawa barang-barang tersebut. Berita ini langsung ditanggapi oleh Rasulullah SAW. Beliau memerintahkan kaum Muslim menghadang kafilah itu. (Muhajirin dan Anshor) untuk bersiap-siap siaga Setiap laki-laki yang tidak memiliki udzur

diperinytahkan untuk ikut serta. Sekitar 313 atau 317 prajurit ( 82 atau 86 dari Muhajirin, 61 dari Aus, dan 170 dari Khazraj) berkumpul dengan membawa perlengkapan perang seadanya. Perang Badar adalah perang pertama dalam sejarah Umat Islam. Perang ini juga merupakan perang terbesar Umat Islam dalam sepanjang sejarahnya. Perang ini terjadi di kawasan lembah Badar, terletak di antara madinah dan Mekkah. Perang ini memiliki banyak hikmah dan pelajaran yang sangat berarti bagi generasi islam saat itu dan saat ini. Kemenangan Perang Badar adalah murni karena pertolongan Allah SWT. Kemenangan ini menjadi pelajaran bagi kaum mukmin agar senantiasa

berpegang teguh dan menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah SWT. Hari Perang Badar disebut juga dengan Yaum al furqan ( hari pembeda), yakni hari pembeda yang benar dan yang bathil. Sayyid Qutbh berpendapat, Hari terjadinya Perang Badar dimuali, diakhiri, diatur, dituntun, dan dibantu oleh Allah SWT merupakan hari pembeda anatara hak Islam, dan batihil ( kafir), sebagaimana dikatakan secara umum oleh para ahli tafsir bahwa kata furqan mengandung makna yang sangat jelas dan lengkap, detail, luas, dan dalam. Kemenangan dalam perang Badar bukan karena kuantitas pasukan yang banyak dan senjata yang canggih, tetapi karena kekuatan jiwa dan mental. Dalam Perang ini, pasukan Muslim memegang teguh akidah yang benar, iman yang kukuh, keinginan yang kuat untuk meraih syahid, pahala, dan Syurga. Sebaliknya, orang-orang Quraisy memiliki akidah yang sesat, moral yang bobrok, dan interaksi sosial yang kurang harmonis. Menjelang perang, pasukan Quraisy tiga hari berpesta pora minuman keras, mendendangkan lagu-lagu, dan mulai menbunyikan rebana-rebana di sekitar api unggun. Sementara pasukan muslim memulai pertempurannya dengan menghadap Allah SWT, memohon pertolonganNya, serta mengharap syahid dan dapat mencium wangi Syurga.